Pengalaman Beasiswa LPDP: Beberapa Catatan dan Tips

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

 

 

Alhamdulillah, saya adalah dua kali penerima beasiswa LPDP. Pertama kali saya dapat tahun 2013 untuk menempuh studi Master (S2) di University of Edinburgh (United Kingdom) di tahun itu juga, alhamdulillah saya termasuk di angkatan pertama yang diberangkatkan melalui beasiswa ini. Kedua kalinya adalah pada tahun 2016 saya menerima “beasiswa lanjutan” untuk menempuh studi Doktoral (S3) di International Islamic University of Malaysia, yang studinya dimulai Februari 2017 lalu dan sekarang masih saya tempuh.

 

Banyak pihak yang bertanya pada saya tentang proses serta tips and tricks untuk mendapatkan beasiswa LPDP. Saya pun menjelaskan sejauh yang saya ketahui (dan ingat), tapi kemudian ada yang menyebut “bermanfaat sekali ya yang membagi pengalaman dan tips beasiswa di blog mereka”. Saya sadari bahwa saya belum melakukannya. Maka semoga bisa saya lakukan dalam tulisan ini.

 

InshaaAllah tulisan ini akan dibagi menjadi dua bagian:

  1. Prosesnya secara umum dan beberapa catatan dari saya
  2. Memahami beasiswa LPDP, dan mempersiapkan diri terhadapnya dari jauh jauh hari tahun

 

Semoga bermanfaat!

 

  1. PROSESNYA SECARA UMUM, DAN BEBERAPA CATATAN DARI SAYA

 

Sebetulnya mudah saja digugel cari di website resmi LPDP, semua informasi ada di sana. Tapi ini ada catatan dari saya yang menjalani. Catatan: bisa jadi ada pengalaman berbeda dari orang lain, dan ada beberapa hal yang baru dan di zaman saya belum ada.

 

Ke-nol, jangan khawatir soal ‘beasiswa LPDP tidak halal’

 

Memang dana beasiswa LPDP yang digunakan sebagai pembiayaan beasiswa ini adalah dikelola secara konvensional, sehingga memang bisa jadi bercampur dengan riba atau laba investasi non-halal. Akan tetapi, ada dua catatan di sini.

 

Kesatu, sebagaimana seorang Ustadz menjelaskan pada saya, berlaku kaidah fiqih “suatu harta yang haram, bila ia berpindah melalui akad yang halal maka tidak berpindah keharamannya”. Dalilnya antara lain adalah karena Rasulullah s.a.w. pun berniaga dengan orang Yahudi yang sudah pasti hartanya bercampur riba. Perlu dicatat bahwa kaidah ini berlaku untuk harta yang haram karena cara memperolehnya, bukan karena zatnya (jadi hibah babi tetep haram ya mas mbak).

 

Kedua, kalaupun tidak bisa diterima argument di atas, ternyata LPDP membagi dua pengelolaan. Ada satu yang pendanaan konvensional dan ada yang pendanaan Syariah. Nanti setiap kali kita mengajukan pendanaan (setelah diterima nanti), kita bisa pilih di aplikasi online-nya, apakah mau pendanaan konvensional atau Syariah.

 

Untuk yang kedua ini, saya nggak paham model pengelolaan investasi Syariah itu seperti apa. Saya sih manut saja lah ulama-ulama yang expert dan sudah memberikan guidelines untuk melakukannya. Tapi jika anda memang nggak mau juga, dan terlalu khawatir akan keharamannya, maka mungkin beasiswa LPDP bukan untuk anda, dan saya doakan anda mendapat yang lebih baik. Karena Rasulullah s.a.w. bersabda:

 

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

 

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (Musnad Imam Ahmad)

 

 

Pertama, ketahuilah bahwa beasiswa LPDP ini adalah beasiswa FULL untuk S2 atau S3. Bisa dalam atau luar negeri. 

 

Ada list universitas yang dapat diterima oleh LPDP, daftar ini selalu di update setiap tahunnya dan dapat dicek di website. Untuk list universitas tahun 2017 silahkan klik link ini.

 

 

By the way bisa saja aplikasi universitas di luar list LPDP, jika memang kita bisa membuktikan ada sebuah keunggulan khusus di universitas tersebut walaupun secara umum mungkin universitasnya kurang bagus atau tidak masuk list LPDP. Contohnya saya sendiri, karena IIUM sampai dengan tahun 2016 hanya diterima untuk jurusan agama (dihapus total di list 2017). Padahal saya ambil jurusan hukum. Saya meyakinkan LPDP bahwa riset saya studi komparatif hukum sekaligus fiqih (sekarang malah jadi 90% fiqih setelah diskusi dengan pembimbing) sehingga masuk jurusan agama. Selain itu ada serangkaian dokumen yang harus saya submit, ini juga bisa dicari di website LPDP ya (antara lain surat rekomendasi dari KBRI setempat, lulusan program tersebut, asosiasi profesi, dlsb, di sini saya agak kreatif, kalau ada yang minat universitas di luar list LPDP mungkin kita bisa diskusi terpisah, monggo japri, email, atau komen).

 

Periksa dengan teliti apa saja yang dicover oleg LPDP. Tuition, health insurance, visa application, living allowance (termasuk akomodasi, arrange by yourself), book allowance, biaya seminar, biaya penelitian, tiket menuju tempat studi (di awal) dan tiket pulang (di akhir) etc. Juga kalau anda mau bawa anak/istri/suami, atau ketika studi menikah atau nambah anak, ada tambahan tunjangan, silahkan cek semuanya. Ada di website.

 

Periksa juga misalnya kalo anda sudah jadi dosen ber-NIDN maka tidak boleh daftar LPDP. Ada beasiswanya sendiri. Kalo belum jadi dosen bisa, atau dosen tapi belum ber-NIDN. Dan jika anda berasal dari daerah terpencil ada kelebihannya juga (saya lupa difabel ada atau tidak), silahkan cek di website.

 

FYI tidak harus jadi dosen atau PNS, yang penting anda dapat membuktikan profesi anda (atau cita cita anda) bermanfaat bagi Indonesia. Nanti akan dihajar waktu interview untuk membuktikan ini. Nanti akan kita bahas inshaaAllah.

 

Kedua, daftarlah online, kemudian aka nada seleksi berkas. 

 

Ada list berkas yang dibutuhkan, prinsipnya adalah iqra. BACA ya apa saja dokumennya, monggo dicek di website. Kapan ada bukaan pendaftaran online? Konon tahun ini (2017) Cuma buka sekali, tahun lalu bisa 4x, tapi kelihatannya kebijakan soal ini bisa berganti ganti.

 

 

Beberapa catatan khusus tentang tahap ini:

– LoA (surat penerimaan di universitas tujuan) itu tidak wajib, tetapi bisa mejadi nilai plus. Bukan nilai plus yang membuat otomatis diterima. Hanya satu saja dari sekian banyak kemungkinan plus lain yang bisa anda dapatkan. Jika sudah mendapatkan LoA, selamat! Pastikan tanggal masuk studinya adalah 6 bulan setelah waktu anda mendaftar LPDP. Kalau belum ada LoA, akan diberi waktu 1 tahun untuk mencari LoA.

 

– Surat rekomendasi: cari dari tokoh masyarakat (bisa tapi tidak harus dosen) yang sekeren dan sebeken mungkin. Kalau anda tidak mengenal tokoh masyarakat satupun, ya, piye jal

 

– Jika tujuan anda adalah universitas luar negeri, pastikan anda bisa berbahasa Inggris (atau Bahasa yang digunakan di negara dan program studi tujuan). Ingat bahwa ini bukan sekedar mendapatkan nilai IELTS/TOEFL yang jadi syarat, tapi juga apakah anda bisa survive belajar dan hidup di sana!

 

– Perhatikan syarat minimum IPK!

 

Ketiga, Interview, Essay On The Spot, and Group Discussion. 

 

Jika anda lolos seleksi berkas, akan lolos ke fase ini. Selamat!

 

Sayangnya di zaman saya tahun 2013 saya hanya mengalami interview (yang lain belum ada), sedangkan untuk “beasiswa lanjutan” itu Cuma seleksi berkas saja. Jadi untuk Essay On The Spot dan Group Discussion monggo tanya yang lain saja.

 

Tapi ada beberapa catatan penting tentang interview yang saya alami:

 

– Saya batch seleksi gelombang pertama, waktu itu bermasalah karena antar interviewer banyak yang standarnya tidak sama (karena ada buanyak interview dibagi di ruang ruang yang berbeda dengan interview yang beda beda). Misalnya, ada yang dites nyanyi Indonesia raya dan jika tidak hafal langsung digagalkan. Saya tidak mengalami ini.

 

– Salah satu pertanyaan pertama yang diajukan oleh salah satu interviewer adalah “Kenapa kamu gendut? Kamu tahu kan penyakitnya orang gendut?”. Yah, kadang-kadang agak random pertanyaannya.

 

– Mereka mempertanyakan pilihan negara dan universitas saya (khusus di kasus saya, “anda orang hukum biasanya daftar ke Belanda, kok ke Inggris)/

 

– Kadang mereka memberikan pertanyaan yang menguji sesuatu. Misalnya saya, ditanya “kenapa ‘Cuma’ apply University of Edinburgh? Kenapa nggak Oxford atau Cambridge?”. Di sini mereka ingin mengetahui mentalitas saya ini apakah orang pesimis atau bagaimana. Nasehat saya untuk anda, jika memilih sebuah universitas pastikan karena anda suka programnya atau karena itu yang terbaik. Jangan pesimis dan “realistis, saya ndak berani apply” (kecuali syarat formalnya memang anda tidak memenuhi, misal minimum IPK dll). Jangan sampai pesimisme anda menghalangi kesempatan anda!

 

PS: mahasiswa saya ada yang membuktikan ini. Dia mau daftar Oxford nggak berani, jadi apply yang lain dan sudah diterima. Saya nasehati dia. Kenapa nggak berani? Hal terburuk yang akan terjadi adalah ‘ditolak’. Akhirnya dia daftar dan diterima di Oxford University (so proud of you!!)

 

– Mereka menanyakan tentang kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler saya dan apa manfaatnya bagi saya, lalu program studi tujuan dan apa manfaatnya bagi Indonesia (inshaaAllah ini akan saya bahas lebih detail di bawah nanti ya. Ini adalah pertanyaan yang penting dan inti soalnya)

 

– INI SANGAT PENTING, SALAH JAWAB BISA LANGSUNG GAGAL: ini sebuah pertanyaan prinsip, tapi kadang –seperti yang saya alami—disembunyikan dalam bentuk pertanyaan yang lain. Intinya, mereka ingin tahu apakah saya akan betulan kontribusi ke Indonesia, bukannya nanti akan kabur kerja di luar negeri. Tapi mereka membungkusnya sebagai pertanyaan tantangan “apakah anda berani bekerja di lembaga internasional yang high profile dan sangat menantang?”.

 

Dua sub catatan saya tentang poin ini.

Sub-Pertama: konon lumayan banyak yang gagal di sini. Dikira ini beasiswa hadiah buat orang keren. Bukan, ini beasiswa investasi untuk Indonesia. Jangan sampai salah kira ya (ini juga inshaaAllah saya bahas di bawah nanti)

Sub-Kedua: tolong jujur ya, jangan Cuma gombal kepret doang. Ngomong mau berbakti ke negara, tapi kemudian banyak yang kabur. Konon ada awardee LPDP yang kabur, dan saya menyaksikan juga ada beberapa awardee yang bermental kampret seperti ini. Please, kalopun anda nggak beriman pada Allah ya tahu diri lah.

 

INTINYA. Ada tiga hal yang akan membantu anda dalam interview:

  1. Memahami tujuan beasiswa LPDP, dan mengetahui apa yang mereka cari
  2. Memiliki bukti bahwa anda bisa memberikan apa yang anda janjikan
  3. Tenang dan percaya diri saat interview.

 

Keempat, PK. 

Nah, PK ini sangat merepotkan. PK adalah “Persiapan Keberangkatan”, yang pada intinya adalah berisi banyak macam hal seperti seminar seminar atau pelatihan pelatihan. Semacam karantina lah begitu, lima hari. Model PK sekarang adalah bahwa anda yang sudah diterima beasiswa LPDP (melalui semua proses yang disebut di atas) akan dikelompok-kelompokkan, dan anda akan menjadi Event Organizer untuk PK anda sendiri. Dan sebelum hari H, akan buanyak sekali tugas tugas yang akan anda harus persiapkan.

 

Saya tidak mengalami PK yang seperti ini. Zaman saya 11 hari, tapi tidak serumit ini. Saya dulu hanya enjoy saja dan berusaha berpartisipasi dengan baik.

 

Anda juga, baiknya ikuti saja lah dengan baik PK ini dan dikerjakan semua tugasnya. Oke?

 

Kelima, persiapan sebelum berangkat. 

 

Intinya ya siap-siap mau ke luar negeri sih. Ada beberapa hal yang sangat penting yang ingin saya sampaikan di sini:

 

– Kuasai mekanisme mekanisme LPDP yang bersifat online, misanya simonev dan sipendob untuk pengajuan keuangan dan lain lainnya. Hidup anda akan bergantung pada ini!

 

– Pastikan anda punya paspor yang sisa masa berlakunya cukup.

 

– Dapatkanlah Visa Studi secepat mungkin. Pahamilah apa saja yang dibutuhkan, selidiki juga jangka waktu aplikasinya dan lain sebagainya.

 

– Carilah sumber yang otoritatif, yaitu website kedutaan besar negara tujuan atau semisalnya. Jangan ‘katanya si A, B, C’ kecuali dia memang petugas kedutaan, jangan ngarang aturan sendiri jangan bikin pengecualian sendiri, prinsipnya satu saja: sami’na wa atho’na oke? Nurut saja. Jangan bikin masalah, jangan sok kritis dan analitis atau berijtihad di sini.

 

– Ada kasus orang-orang yang waktu bawa dokumen ke kedutaan ternyata ada yang ketinggalan atau apa lah, sekali lagi jangan sok-sok-an bikin aturan sendiri jangan sok-sokan nego, jangan sok-sokan “aduh masa balik lagi sih”, dan jangan “coba coba aja siapa tau”. Daftar visa itu nggak kayak daftar KTP yang kalo nggak lengkap ya bisa dilengkapi nanti. Anda akan ditolak, dan penolakan terhadap visa akan jadi catatan gelap di pendaftaran-pendaftaran visa anda untuk masa mendatang!

 

– Jika anda berkunjung pada negara-negara non-Muslim, riset dulu tentang lokasi masjid dan tempat-tempat makanan halal.

 

– Ada baiknya juga riset tentang jam shalat, karena kalau di UK bisa sangat fluktuatif nggak kayak di Indonesia (misalnya di musim dingin subuhnya bisa jam 9 pagi, di musim panas subuhnya bisa jam 2.45 pagi). Di sana biasanya masjid memberikan print out jadwal shalat sebulan, kantongi dan sering dicek tiap harinya ya.

 

– Cek juga tentang praktek ibadah setempat, siapa tahu ada sedikit perbedaan. Bagi yang Muslim, khususnya yang hobi teriak “WAHABI” dan pergi kalau imamnya tidak menjahrkan bismillah dalam shalat jahriyah, berlapang dadalah ketika anda nanti mengetahui bahwa Cuma mazhab anda sendiri yang menjahrkan bismillah (3 mazhab lain sedunia: Hanafi, Hanbali, Maliki) justru tidak. Atau, hati-hati jangan duduk tawarruk kalau jamaah dengan orang mazhab Hanafi dan Maliki, karena mereka tidak duduk tawarruk dan mereka bisa kesodok dan marah. Masa nanya mazhab tiap ketemu orang? Tentu tidak, tapi (a) sadari bahwa perbedaan-perbedaan ini ada dan peka-lah terhadap sekitar, (b) belajarlah bertoleransi dan menyesuaikan di hal-hal khilafiyah kecil seperti ini.

 

– Risetlah tentang sistem kesehatan di negara tujuan. Selain untuk administrasi aplikasi asuransi (yang dicover oleh LPDP), ketahuilah cara-caranya. Belajar sistem bisa juga dilakukan kalau sudah sampai sih tapi ya kalau bisa sejak awal, mungkin akan bagus.

 

Keenam, selama dan ketika selesai studi. 

 

Pertama di sini, tolong jaga nama baik Indonesia. Negara kita punya banyak PR, jelas. Kekurangan, banyak sekali. Tapi negara kita punya banyak keindahan dan kelebihan untuk kita syukuri. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, belalah reputasi Indonesia tanpa berbohong.

 

PS: saya mengalami tuh kuliah International Criminal Law, dan ditanya “itu Prabowo katanya mau jadi calon presiden?” saya njawabnya agak susah. hahaha

 

Kedua, jangan kerja sampingan kecuali jadi asisten dosen (ini aturan LPDP yang kayaknya relative baru). Dan, walaupun jadi asisten dosen, sadar kapasitas juga jangan sampai nilainya drop.

 

Ketiga, aktiflah dalam kegiatan-kegiatan ilmiyah dan non-ilmiyah di kampus. Tunjukkan bahwa anda orang bermanfaat, dan inshaaAllah ketika anda pulang banyak yang akan kehilangan anda. Tapi juga sadari kapasitas, jangan sampai terlalu sibuk berkegiatan sampai nilai jeblok.

 

PS: ada mahasiswa asal Korea di-DROP OUT karena absensinya jebol (kalau di UK seperti ini aturannya). Kenapa absensinya jebol? Keasikan main online game. Tolonglah, jangan bikin malu Indonesia.

 

Keempat, baca kontrak baik baik. Pulanglah setelah selesai, tunaikanlah janji anda saat interview dan PK dulu. Mungkin anda bisa menemukan prospek yang agak berbeda (misalnya anda tadinya berjanji meneliti X, tapi kemudian malah meneliti Y), itu nggak apa apa asalkan masih untuk Indonesia lah. “Melanggar janji” adalah salah satu ciri orang munafik, dan saya berharap anda tidak menjadi begitu. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, saya sudah menyaksikan orang-orang yang bermental munafik seperti ini. Sedih jika kalangan munafik ini juga ada di kalangan intelektual. Yang saya pahami adalah tidak mungkin Indonesia dulu dijajah begitu lama oleh Belanda, kalau bukan karena adanya orang-orang munafik!

 

 

 

  1. MEMAHAMI BEASISWA LPDP, DAN MEMPERSIAPKAN DIRI TERHADAPNYA DARI JAUH JAUH HARI TAHUN

 

Untuk mengetahui bagaimana “menjual diri” untuk LPDP, bagi saya sangat penting sekali memahami sifat beasiswa LPDP. Maka hal ini bukan hanya penting untuk anda yang baru saja atau sebentar lagi lulus, melainkan juga untuk anda yang masih lama lulusnya.

Nah, saya sudah pernah mengetik di sumber lain nih. Daripada mengetik ulang, bolehlah saya kasih link saja ya?

 

Ada lima jawaban di selasar.com terhadap pertanyaan “apakah tips dan triks untuk mendapatkan beasiswa LPDP”, tapi rekomendasi saya adalah wajib baca adalah setidaknya dua jawaban (silahkan klik saja di namanya) yaitu:

  1. oleh Hana Fitriani (baca ini pertama ya), lalu:
  1. oleh saya sendiri i.e. Fajri M. Muhammadin (jangan baca kalau belum baca tulisan Hana).

 

 

Untuk melihat kelima jawaban, bisa klik di sini.

 

 

Demikian, semoga bermanfaat ya.. Kalau ada yang mau ditanyakan lebih lanjut, monggo via komentar, email, atau cara-cara lain.

 

PS: mau dikasi foto tapi nanti ya nyusul haha

SEDIKIT (TAPI PANJANG) TENTANG PLAGIARISME

 

Ada seorang Professor yang mengatakan bahwa jika bukan konteks akademik maka bukan plagiarisme.
Ini masalah pelik, karena kadang pemahaman formil atau strict akan beda dengan makna di fikiran awam. Misalnya apakah betul koruptor itu adalah mencuri uang rakyat? Jawabannya adalah TIDAK jika kita memakai definisi pencurian di KUHP. Tindak Pidana Korupsi lebih serupa dengan pidana penggelapan. Tapi, saya yakin ya intinya dengan melabeli “mencuri” itu maksudnya telah menikmati sesuatu yang bukan haknya, dan intinya jahat. Itu toh maksudnya?

 

Oke, mungkin “plagiarisme” di media sosial bukanlah “plagiarisme” strictly speaking sebagaimana dipahami di dunia akademis. Sebetulnya yang dikatakan sang Professor itu betul sekali kok.

 

Ketika seorang Presiden dalam pidatonya menggunakan data, tentu sudah mafhum bahwa ndak mungkin Presiden yang sesibuk itu bakal research sendiri khusus hanya untuk satu pidato itu, melainkan pasti dari timnya. Dan dalam pidatonya tidak harus pake footnote segala, dan tidak perlu beliau mengatakan di pidatonya “sebelumnya saya berterima kasih pada tim saya yang sudah mencarikan data”. Tapi saya yakin kalo beliau ditanya, pasti ya beliau akan bilang bahwa itu dari timnya. Apa lagi fungsi staff ahli dan speechwriter kalau bukan untuk ini?

 

Koran, sebagai forum non-akademis, pun aturannya beda. Misalnya, tulisan terakhir saya di republika berusaha mengutip beberapa pakar dengan menyebut nama mereka, tapi tidak mungkin setiap kutipan saya kasih footnote. Tulisan yang sebelumnya lagi malah lebih sedikit lagi menyebutkan nama orang yang teorinya saya pake. Sudah mafhum bahwa bisa jadi tulisan opini di koran pastilah menggunakan teori-teori orang lain, walaupun belum tentu menyebutkan sumbernya.

 

Apa spiritnya semangat anti-plagiarisme, sih? Idenya adalah -antara lain- untuk mengkredit seseorang atas opininya, dan tidak mengkredit seseorang atas sesuatu yang bukan opininya. Ketika saya menulis di koran, walaupun saya memakai teori-teori orang, tapi yang dikreditkan kepada saya adalah bagaimana saya mengolah dan menerapkan teori-teori itu untuk mendekati dan menganalisis sebuah masalah. Inilah yang menjadi poin originalitas, walaupun belum tentu sumber-sumber teori disebutkan, jika menulis opini di forum non-akademis. Tapi kalau kemudian saya ditanya, pasti saya bilang dari mana saja sumbernya.

 

Makanya seseorang yang menulis di koran dengan menggunakan teori-teori tanpa menyebut sumber, tidak sama dengan seseorang yang mengkopas tulisan orang lain dari atas sampai bawah (atau mungkin menambahkan dan memparafrase) sedikit, walaupun keduanya sama-sama mengandung unsur “mengambil karya orang tanpa menyebut sumber”.

 

Beda dengan tulisan saya di jurnal ilmiyah, yang tentunya menggunakan footnote yang banyak demi kejujuran akademis, yang lengkap sekali sampai judul buku, penerbit, kota terbit, tahun terbit, halaman, semua disebut. Silahkan anda cek profil saya, di situ contohnya ada semua. Bahkan, kadang kalau ada tiga kalimat saya ambil (paraphrase) dari sebuah sumber, di akhir ketiga-tiga kalimat tersebut semuanya ada footnotenya. Kalau tidak dilakukan, bisa disebut plagiat!

 

Nah, gimana kalo sosial media? Ini memang salah satu fitnah zaman sekarang, dan sangat membingungkan ya. Ada sebuah adat yang berkembang, yaitu ‘share’. Dengan ‘share’, kelihatan sumber aslinya. Atau, kadang modelnya adalah kopas lalu menyebut “diambil dari statusnya XYZ” begitu, lalu ditambahkan komentar dengan dipisahkan antara mana status yang di-share dengan komentarnya. Nah, adat itu agak sulit kalau misalnya adat jawa dipaksakan ke adat sunda. Beda yurisdiksi kalo istilah hukum lucu-lucuannya. Seberapa jauh dan meluasnyakah adat ini, sehingga semua orang dapat dikatakan harus mengikutinya?

 

 

Nyatanya ada X yang menulis status “siapa memilih pemimpin kafir adalah MUNAFIK”, lalu si Y berkomentar “siapa sih X ini, sok-sok memfatwa munafik”. Apakah X memparafrase saja isi Surah An-Nisa ayat 138-139? Kalau iya, si Y salah dong mengatakan bahwa X sok berfatwa, karena ini bukan fatwa X melainkan kutipan. Lah, tapi apa Y salah, sebab X tidak menyebutkan kutipan sehingga dikira itu ide murni milik X? Eh, jangan salah lho, kalo secara ilmiyah kutipan bisa berbentuk kutipan langsung (kopas) maupun tidak langsung (paraphrase, atau intinya saja), tapi intinya ketika ambil ide dari sebuah sumber maka secara ilmiyah ya harus disebutkan sumbernya.

 

Tapi kalau si X ditanya dari mana sumbernya, dia tidak sungkan menyebutnya ketika berbantah-bantahan dengan Y di kolom komentar.

 

Lalu ada lagi yang mengatakan di statusnya “Ah*k ini koruptor!” tapi nggak bilang dia dapet informasi dari mana. Padahal ide tersebut bukan dari dia. Tapi sudah mafhum bahwa dia pastilah mendapatkan informasi dari sebuah tempat lain, hanya saja bukan merupakan adatnya untuk kita selalu mencantumkan sumber. Di kolom komentar pun dalam perdebatan, sohibul status memberikan beberapa link ketika berdiskusi dengan beberapa pihak.

 

 

Hati ini pun merenung. Beberapa yang saya sebut di atas ini tidak menjadi viral. Lalu suatu ketika, sesorang menjadi begitu terkenal karena sesuatu yang ia tulis. Sebagian menghujat dan sebagian menyukainya, dan ia pun menjadi symbol atas apa yang ia tulis tersebut. Kemudian ternyata diketahui bahwa apa yang ia tulis, baik ide maupun pengolahannya bukan miliknya sendiri melainkan hanya sedikit saja yang merupakan parafrase. Begitu banyak kredit yang ia dapatkan atas sesuatu yang disangka dari pemikirannya padahal ternyata bukan.

 

Terlepas dari kekesalan kita, aturan ‘etika’ mana yang harus dipakai?

 

Sedikit mengenang zaman saya belum cuti untuk lanjut kuliah S3. Suatu hari saya sedang menguji skripsi, dan saya menemukan bahwa skripsi ini adalah plagiat total. Skripsi ini adalah tambal sulam dari karya beberapa orang, dan saya menemukan sumbernya dari mana saja tiap bagian diplagiasi. Tentulah saya klarifikasi pada saat sidang, dengan menghadapkan semua bukti-bukti di hadapannya.

 

Memang plagiarisme adalah sebuah masalah yang sangat besar dalam dunia akademik, bahkan bisa dibilang masalah paling besar. Akan tetapi yang paling PALING menyebalkan adalah ketika diklarifikasi ternyata dia keukeh TIDAK MENGAKU kecuali pada sebagian kecil saja. Padahal hampir 100%nya adalah plagiat dengan minim paraphrase!

 

Konon di antara keanekaragaman standar atau aturan yang bisa dipakai, tetap kita dapat menemukan sebuah nilai yang universal. Konon sih

Pengalaman Ajaib Saat Umrah (2014)

 

Assalaamu’alaykum!

 

Pengalaman umrah pertama saya begitu indah, dan saya berdoa ini bukanlah pengalaman yang terakhir berkunjung ke Haramain. Jika anda menanyakan apa saja yang saya lakukan di sana, apa yang saya lihat, mudah sekali anda google dan anda akan menemukannya. Prosedur umrah tidak pernah berubah sejak dahulu, mungkin hanya khilaf dalam beberapa detail saja. Kemegahan arsitekturnya yang ada perubahan (saat saya ke sana masih dibangun) tapi itu pun dapat digoogle saja.

 

Indahnya perjalanan ini adalah pengalamannya, dan tidak dapat dideksripsikan dengan kata kata. Anda mungkin telah membaca apa saja lokasi-lokasi penting dan bagian bagian ritual umrah beserta sejarahnya, mungkin juga pernah melihat fotonya beserta perubahannya dari masa ke masa. Akan tetapi jika anda belum pernah ke sana, anda tidak akan memahami sepenuhnya keindahan ini. Mengingat bahwa jalan yang kita tapaki juga pernah ditapaki oleh Rasulullah, menyentuh Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Adam a.s. dan dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim a.s., dan melihat makam Rasulullah beserta dua sahabat yang paling utama, r.a.

 

Akan tetapi, ada beberapa insiden kecil yang mungkin tampak seperti kebetulan kebetulan yang sangat menarik. Saya tidak percaya pada adanya kebetulan yang betul betul tanpa makna. Bagi saya, kadang ada kebetulan yang tidak tampak maknanya pada kita, tapi terkadang ada pula kebetulan yang betul-betul mencengangkan sehingga sulit untuk melupakan bahwa Allah-lah yang mengatur semuanya.

Berikut kisah-kisahnya

  1. Royal Bank of Scotland dan Online Customer Service

Saya menjalani umrah semasa studi saya di Edinburgh, United Kingdom (Britania Raya). Dan di sana, pelayanan perbankan banyak perbedaannya dengan di Indonesia. Antara lain, di sana begitu mudahnya kita mengakses Customer Service. Tidak perlu datang ke cabang, bisa buka website bank tersebut dan chatting saja (atau jangan-jangan saya tidak tahu saja kalau di Indonesia bisa hehehe). Jadi, tinggal log in ke akun kita, lalu klik opsi bantuan, dan klik opsi untuk Online Chat dengan Customer Service Officer (CSO), lalu ditunggu saja.

 

Nah. Saat itu saya ingin tahu apakah kartu debit saya bisa digunakan selama saya umrah. Atau, siapa tahu bisa digunakan tapi ada prosedur apa gitu lah, saya tidak tahu makanya saya mau tanya. Karena itulah saya menghubungi CSO secara online Chat untuk menanyakan.

 

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya saya tersambung. Kemudian muncullah nama English yang sangat umum dan saya tidak ingat namanya siapa (barangkali Thomas, James, John, entahlah), dan memulai dengan SOP biasa:

CSO: “Hello, this is [Nama Inggris Random] speaking, how may I assist you today?

Lalu saya menjelaskan kebutuhan saya. Nah, saat itu ghiroh saya sedang tinggi-tingginya, sangat excited mau berangkat umrah. Saya membatin “duh, coba tadi CSO-nya Muslim. Kan kalo dia bantu melancarkan umrah saya, inshaaAllah dia dapat barakah juga.” Demi Allah baru saja saya membatin seperti itu, langsung semua chat dan koneksi (dan window) tertutup semua.

 

Saya tidak tahu apa masalahnya. Mungkin koneksi internet (di UK wifi-nya nggak alay btw), atau computer saya, tapi belum pernah terjadi, entahlah saya ndak terlalu banyak mikir. Karena masalah saya (soal kartu debit) belum terjawab, langsung saya coba nyalakan lagi Google Chrome dan akses web Royal Bank of Scotland, login, lalu mencoba chat lagi.

 

MashaaAllah, begitu tersambung lagi dengan CSO, ini yang terjadi:

CSO: “Hello, this is Muhammad speaking, how may I assist you today?

Saya : !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

 

 

  1. “Anda Tidak Ada Dalam Daftar Penerbangan”

Dasar Fajri luar biasa bodohnya. Waktu saya menerima tiket sehari sebelum berangkat umrah melalui London Heathrow Airport, saya tidak memeriksa tiketnya. Saya tidak tahu apa yang merasuki saya sampai saya bisa sebodoh itu. Tidak pernah saya absen mengecek nama dan detail penerbangan, dan tidak pernah ada masalah juga tapi tidak pernah absen, kecuali pada saat itu saja.

 

Sehingga pada saat kami satu rombongan 12 orang sudah ada di kaunter Check In, saya baru sadar bahwa di tiket saya tertulis nama penumpang adalah MUHSIN KHAN. Who the bloody hell is this??? Lalu di counter, si petugas memeriksa nama asli saya (dicoba berbagai variasi) ternyata nama saya TIDAK ADA DI JADWAL PENERBANGAN. Bolak balik dicoba dicari utak atik, TETAP TIDAK ADA. Ya Allaaaah…..

 

Di rombongan kami yang bermasalah bukan cuma saya. Ada satu orang lagi namanya Umar Farooq (orang Pakistan), malah tiketnya tertulis Umar Khan. Akhirnya kami diarahkan ke loket khusus, yang dijaga oleh seorang Muslim. Yang diurus adalah si Umar duluan, karena menurut ketua rombongan kami (dan petugas bandara) masalah dia lebih mudah diurus. Ternyata definisi “lebih mudah diurus” adalah menghabiskan lebih satu jam lebih untuk mengurusnya. Ketika sudah hampir satu jam Umar diurus masalahnya, saya menyadari bahwa jadwal boarding adalah sekitar 40 menitan lagi.

 

Waduh, yang “lebih mudah” segini lamanya, saya bagaimana ini?

 

Saya berusaha untuk meneguhkan hati. Saya berusaha mengingat bahwa Umrah (dan Haji) adalah undangan dari Allah, karena itulah kita berkata “Labbayk Allaah!” (kami memenuhi undangan-Mu ya Allah). Jika Allah memang mengundang saya, tiada suatu apapun di bumi dan langit yang akan menghalangi saya. Jika Allah tidak mengundang saya, maka Dia mengetahui niat dan ikhtiar saya.

 

Ikhtiar saya saat itu termasuk mengirim pesan ke berbagai orang, memohon mereka mendoakan saya supaya bisa dimudahkan dalam situasi ini. Salah satu yang pertama membalas begitu melegakan hati saya. Seorang sahabat saya di Islamic Society Edinburgh University bernama Mariam, kebetulan sedang berdua dengan kawannya, dan mereka sedang puasa. Saat itu sudah nyaris masuk Maghrib, dan ia mengatakan akan bersama kawannya itu mendoakan saya. Alhamdulillah, doa orang buka puasa sangat kuat. Pernah ada insiden lain tentang Mariam ini yang mengingatkan saya tentang keajaiban sebuah doa (lihat link ini à kisah luar biasa ajaib). Kali ini pula Mariam mengingatkan saya kembali tentang keutamaan sebuah doa.

 

Akhirnya setelah lewat satu jam, masalah si Umar beres. Apakah masalah saya bisa beres dalam waktu kurang dari 40 menit?

 

Masalah apa ya? Begitu si petugas mencoba mencari nama saya, mashaaAllah langsung ketemu. Tidak ada masalah sama sekali. Semua orang geleng-geleng kepala karena nama saya hilang sama ajaibnya dengan muncul kembalinya. Tidak ada masalah, kami pun berangkat dengan biasa saja.

 

 

  1. Mencium Hajar Aswad

Saat di Mekkah, semua orang tentu mendambakan menyentuh dan mencium Hajar Aswad. Batu hitam dari surga! Masalahnya, ‘semua’ ini adalah ratusan atau bahkan ribuan orang sekaligus di waktu yang bersamaan. Hajar Aswad itu pun kecil, dan letaknya di salah satu sudut Ka’bah. Bagi yang sudah pernah melaksanakan Haji atau Umrah pasti tahu betapa gilanya manusia di sana. Ratusan atau ribuan orang dorong dorongan dari segala arah berebut untuk mencium Hajar Aswad. Mendekati saja sangat sulit, dan saya banyak dapat cerita tentang orang yang sudah umrah atau bahkan haji berulang kali dan tidak pernah berhasil mencium Hajar Aswad, bahkan mendekatinya pun belum tentu berhasil.

Dan, dalam keadaan seperti itu, kalaupun berhasil mencium. Apa dikira mudah untuk keluar? Dikira orang akan buka jalan? Tidak. Benar benar dari segala arah semua orang mendorong ke arah Hajar Aswad tersebut. Sulit sekali masuk maupun keluarnya.

Semoga Allah merahmati kedua orangtua saya, jasa-jasa mereka begitu banyak bagi saya dan itu termasuk mengajarkan cara yang paling baik dan mudah untuk menyentuh dan mencium Hajar Aswad.

 

Saat itu saya dan beberapa anggota rombongan saya yang pemuda pemuda (satu orang Pakistan, satu Bangladesh, satu Kurdi) sudah merencanakan ba’da Shalat subuh mau mencoba menyentuh Hajar Aswad. Kami fikir akan lebih sepi, karena di waktu waktu lain selalu ramai (bahkan dari lewat tengah malam hingga sebelum subuh).

Entah dari mana datangnya fikiran begitu, karena ba’da Shalat Subuh ternyata ramainya ya sama saja. Kawan-kawan saya berkata “ah, ramai begitu, tidak mungkin ah. Kita coba lain waktu saja.” Saya protes lah, saya memohon pad mereka “ayo kita coba. Kita coba 15 menit saja, kalau gagal Allah tahu niat kita kok, tapi dicoba dulu.” Mereka mengetawai saya, dibilang “apalagi 15 menit”. Saya bilang “Apa kurang keajaiban yang terjadi di rombongan kita?” tapi mereka tidak mau mendengar.

Mereka memutuskan kembali ke hotel untuk istirahat, sedangkan saya menolak untuk menyerah.

Saya pun mulai masuk ke barisan orang-orang yang mau menyentuh Hajar Aswad. Banyak sekali orang yang main dorong, menyalip antrian, tapi saya ingat nasehat orangtua saya. Mereka mengatakan percaya saja pada Allah, nanti kalau memang Allah berkehendak maka nanti lama-lama mereka akan mendorong saya ke arah Hajar Aswad. Kalau saya ikut main kasar, bukan hanya saya belum tentu berhasil juga –kalaupun berhasil, apa yang saya akan capai dengan itu?

Memang benar, alhamdulillah saya terdorong-dorong sampai mepet ke Ka’bah, lalu terdorong-dorong terus, sampai akhirnya sampailah saya ke Hajar Aswad. Allaahu Akbar saya menyentuhnya, menciumnya, dan saya berhenti bukan karena ditarik-tarik atau didorong orang melainkan saya sadar diri karena orang lain antri dan saya tidak mau mendzalimi mereka. Saya bisa lebih lama kalau saya mau. Tapi tidak, saya pun minggir. Dan, entah kenapa, tiba-tiba jalan dibukakan untuk saya. Begitu mudahnya saya keluar!

Saya tidak tahu persisnya berapa lama prosesnya. Akan tetapi mungkin ini adalah acuan yang bisa dipakai. Ketika saya mulai masuk ke barisan untuk menyentuh Hajar Aswad, saya berusaha mengalihkan perhatian supaya tidak emosi didorong-dorong orang. Entah kenapa saya bukannya berdzikir, tapi malah memilih muraja’ah hafalan Surah Ar-Rahman yang sedang saya coba hafalkan.

Nah, saya saat berusaha menyentuh Hajar Aswad, saya hanya sempat murajaah tidak sampai satu kali. Saya belum sampai ke ayat terakhir yang saya hafal (tidak ingat persisnya, tapi yang jelas saat itu saya belum hafal sampai 1/3 Surah), harus berhenti murajaah karena sudah sampai ke Hajar Aswad. Coba anda baca Surah Ar-Rahman sampai ayat kullu man ‘alayha faan, wayabqaa wajhu rabbika dzul jalaali wal ikraam dengan tempo agak lambat tapi tidak terlalu lambat. Nah, kurang dari itu.

PS: Saya memang payah dalam menghafal jadi butuh waktu lama. Saya ingat bahwa saya menghafal 1/3 Surah Ar-Rahman pada bulan Ramadhan tahun 2014, yaitu sekitar 1-2 bulan setelah pulang umrah. Jadi murajaah saya di Masjidil Haram tidak sampai 1/3 Surah tersebut.

 

Ketika melihat saya memasuki hotel, kawan-kawan saya bertanya “apakah kamu berha….” Tapi mereka tidak menyelesaikan pertanyaan mereka. Senyum saya yang benar-benar bahagia telah menjawabnya. “…tapi kami belum lama sampai hotel.”

PS: penginapan kami Cuma sekitar 5-10 menit jalan kaki dari masjidil haram.

Saya mengarahkan telunjuk saya pada mereka, masih senyum seperti mabuk, saya bilang “Kenapa sih kalian sulit mempercayai saya?”

 

 

Sebetulnya masih ada cerita-cerita lain, tapi mungkin yang paling ‘ajaib’ adalah ini (dan capek menerjemahkan). Semoga bermanfaat, atau setidaknya menghibur.. hehehe

 

Wassalaamu’alaykum warahmatullaah

 

Versi asli ditulis tahun 2014, ditulis ulang dalam Bahasa Indonesia tahun 2017

KARENA TUHAN TIDAK PERLU DIBELA

 

                                                       ANTARA FOTO/POOL/Irwan Rismawan/kye/17.

Tiga Kisah

Kisah pertama tentang seorang guru sekaligus kolega saya, seorang akademisi hukum yang sangat saya hormati dan kagumi keilmuannya. Suatu kali beliau menjadi pembimbing Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan saya tahu betul betapa beliau adalah seseorang yang sangat menyayangi murid-muridnya. Kali itu, salah seorang mahasiswi di bawah bimbingan beliau sedang mandi. Anak ini dibuat pingsan oleh seseorang, dan hanya si pelaku dan Allah saja yang tahu apa yang terjadi saat anak ini pingsan. Saat pelaku tersebut tertangkap, guru saya ini tidak menyia-nyiakan waktu untuk mendaratkan bogem mentah padanya, sejenak lupa atau melupakan apa kata ilmu hukum tentang eigenreichting.

Padahal, bogem tersebut tidak akan kembali kehormatan yang hilang. Trauma dan luka yang mungkin bisa sembuh pun, bukan akibat bogem itu. Apa manfaatnya bogem ini?

Kisah kedua tentang seorang tokoh ormas mengatasnamakan Islam, dengan nama samaran Nosrun Wihad. Beliau ini terkenal sangat menggebu gebu mendukung seorang calon gubernur dengan sorot matanya yang … aduhai … Suatu kali di sebuah stasiun televisi, beliau diundang untuk diskusi panel. Saat diskusi, seorang panelis lain menyebut namanya bukan Nosrun Wihad melainkan Nosrun Pornumu. Begitu marahnya Nosrun, sampai dengan nada keras memperingatkan si panelis lain itu sampai bahkan mengancam mau melaporkan.

Padahal, tidak akan berubah KTP beliau dengan marahnya. Semua yang telah mengenalnya pun tidak akan lupa dengan nama aslinya. Apa manfaatnya marah ini?

Kisah ketiga adalah umat Islam di Indonesia yang turun ke jalan menuntut agar seorang gubernur yang menista agama Islam, Sebel karena pemerintah dan kepolisian kok tampaknya merangkap kuasa hukum sang gubernur. Mereka datang dari berbagai kelompok dan harokah, sebagiannya biasa ribut dengan yang lainnya, tapi aksi ini menyatukan mereka semua untuk melupakan sejenak perbedaan mereka. Mungkin ada yang turut serta dengan motif politik, tapi dari sekian juta orang mayoritas tidak akan mendapat apapun dari terpenjaranya si gubernur –sebagian bahkan datang dari provinsi lain.

Padahal, tidak akan luntur Kuasa Allah atas penistaan itu. Tidak pula Allah bertambah kemuliaan-Nya dengan dihukumnya sang gubernur, mati sekalipun. Apa manfaatnya aksi ini?

Tentu nama Nosrun tidak setitikpun semulia Nama Allah, dan Allah pun tidak akan menderita akibat pelecehan seperti sang mahasiswi. Akan tetapi, di samping semua perbedaannya, ketiga kisah ini punya kesamaan: perbuatan si kolega saya, Nosrun, dan Umat Islam Indonesia, tidak kelihatan manfaatnya.

 

Hati, Ghirah, dan Cinta

Menarik bagaimana ada sebuah kecenderungan kalangan ‘terpelajar’ untuk seolah menuhankan rasionalitas. Terkadang bingung antara rasionalitas dan scientific (beda lho), tapi intinya ini pertanyaan tentang ‘what is truth’ dan ‘where do we find it’. Apakah rasionalitas dan sains saja sumber kebenaran? Di manakah tempatnya hati, ketika perasaan juga merupakan sesuatu yang merupakan fitur yang membuat manusia menjadi manusia?

Apakah fungsi hati hanya untuk ditekan dan dibatasi oleh rasionalitas dan sains? Atau, semua ada tempatnya masing-masing? Atau, saling melengkapi dan saling membatasi?

Ada satu kesamaan lain antara tiga kisah di awal tadi. Pertimbangan manfaat dari sebuah keputusan adalah sesuatu yang sudah masyur tergolong sebagai pertimbangan rasional. Maka yang menjadi pertanyaan adalah kenapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan?

Jawabannya adalah karena ada perasaan marah, benci, menolak, can cemburu, ketika sesuatu yang begitu mereka cintai dilecehkan. Tidak ada urusan apakah pelecehan itu membuat sesuatu itu rusak atau tidak, atau ternyata malah sebetulnya menguntungkan. Ada perasaan yang tidak terima atas suatu perlakuan yang begitu buruknya, terlepas dari dampak konkritnya ada atau tidak. Ada cinta yang rasanya begitu terkhianati jika tidak melakukan sesuatu, walaupun sesuatu itu tidak berguna. Dalam Bahasa Arab dikenal juga dengan nama GHIRAH.

Akan tetapi, sebagaimana ketika seseorang keslomot minyak panas ia akan reflek menarik tangannya dan bukannya menyelupkan tangannya ke minyak. Sebagaimana juga ketika ada seseorang –terutama yang amat kita cintai—tersenyum manis pada kita, bisakah tidak ikut tersenyum? Atau apakah anda malah ragu, sehingga malah memalingkan wajah menghindari kontak mata?

Ini semua adalah naluri dan alamiah ada pada manusia. Dan, dari semua naluri alamiah pada manusia, tidak ada yang lebih dari iman dan cinta, sedangkan bentuk tertinggi dari yang satu adalah sama dengan bentuk tertinggi yang lainnya.

Dalam keadaan ekstrim, hukum pidana Indonesia dan Belanda pun dikenal noodweer exces alias pembelaan terpaksa yang melampaui batas. Agak berbeda tapi punya persamaan dalam konsep, di hukum pidana USA ada juga temporary insanity. Konsepnya serupa, yaitu ketika sebuah kejahatan dilakukan karena guncangan jiwa yang begitu hebatnya sehingga unsur mens rea atau ‘niat jahat’ tidak terpenuhi. Contoh klasik di ruang kuliah hukum pidana adalah ketika melihat istri atau ibu kita diperkosa, kita begitu marahnya sampai kita banting banting orang itu hingga tewas. Padahal konsep ‘pembelaan diri’ itu harus proporsional. Padahal si pemerkosa tadi bisa jadi melihat kita langsung menyerah.

Ketika hati kita secara naluriah dan tanpa bisa dikendalikan membuat kita melakukan hal yang salah, itu menjadi alasan penghapus pidana. Apakah bisa disalahkan ketika hati itu menuntun kita melakukan hal yang benar?

Karena tidak ada ghirah tanpa cinta, dan tidak ada ghirah tanpa cinta.

 

Kisah Kelima, Keenam, dan Ketujuh

Kisah kelima adalah The Mummy Returns (bukan ‘Mbok e Muleh’ ya), sebuah film Box Office yang seru sekali. Singkat cerita, Rick (tokoh utama) dan Imhotep (si Mummy) hampir jatuh ke jurang kematian, sedangkan gua tempat mereka bernaung hampir runtuh dan banyak batu runtuh dari atas. Evelyn (kekasih Rick) lari, tak memperdulikan nyawanya, untuk menolong Rick. Sedangkan Anck-Su-Namun (kekasih Imhotep) memilih kabur dan tidak menolong Imhotep. Putus harapan karena cintanya malah kabur, dan mungkin iri juga pada Rick karena Evelyn mau meresikokan nyawanya, Imhotep menjatuhkan diri ke jurang kematian.

Evelyn sempat melirik ke arah Imhotep, tak berkata apapun. Tapi rasanya tatapan itu seolah berkata “Cinta Anck-Su-Namun padamu tidak sebesar cintaku pada Rick.”

Kisah keenam adalah kisah sahabat saya, sebut saja namanya Shinta. Ia adalah tipe perempuan yang berbunga bunga, suka film drama korea, orangnya pun dramatis luar biasa. Ia pun punya sahabat bernama Shanti, yang baru saja menikah. Ia heran kenapa kalau mereka sedang doube date, mereka seperti bumi dan langit. Shinta hobinya glendotan dan bermanja manja berisik tapi bahagia dengan suaminya, sedangkan Shanti dan suaminya hening saja dan bergandengan tangan saja.

Shanti pun penasaran dan bertanya pada Shinta. Shinta berkata, “Aku mencintainya dengan caraku sendiri, mungkin kamu tidak paham karena suamimu bukan dia.”

Kisah ketujuh adalah kisah saya mengamati timeline media sosial. Ada yang mengatakan ‘Saya muslim, tapi saya tidak harus tersinggung kok. Saya tidak bersumbu pendek’. Ada lagi tulisan konon dari musisi Bali yang mengatakan intinya ‘kalau tuhan saya dihina, saya akan diam saja’.

Saya hanya tersenyum saja, lalu membaca kisah kelima dan kisah keenam.

 

==========================================

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادً۬ا يُحِبُّونَہُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِ‌ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبًّ۬ا لِّلَّهِ‌ۗ

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah” (Al Baqarah ayat 165)

 

TULISAN SAYA DI REPUBLIKA: KISAH DI BALIK FOTO SAYA

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

 

Alhamdulillah, tanggal 24 April lalu artikel saya berjudul “Ekstremisme Islam pada Pilkada DKI” dimuat di Republika Online (tulisan dapat diakses dengan klik link ini). Alhamdulillah juga, saya mendapatkan banyak sekali feedback positif yang sebagian berbentuk penyemangat dan sebagian lainnya berupa kritik yang sangat membangun untuk saya perhatikan pada tulisan-tulisan mendatang.

Akan tetapi, ada satu aspek pada artikel ini yang ternyata dikomentari:

Nada (di Facebook) : “Mukamu itu loh bang mengalihkan beranda facebooku..”

Ayin (di Facebook) : “Wajahmu mengalihkan duniaku”

Prof Sigit (di grup WA) : “Fajri, tampak* ganteng di Media…..”

* saya pernah mengomentari iklan produk pemutih wajah dan gigi, yang biasanya memakai redaksi ‘tampak lebih putih’ karena ternyata putihnya itu artificial a.k.a. nggak beneran. Jadi saya ketawa sendiri begitu lihat pesan Prof Sigit (padahal barangkali yang mengomentari iklan pemutih dengan cara itu mungkin cuma saya saja yang suudzon haha)

Dan sebenarnya banyak lagi yang agak kepanjangan kalau saya tulis semua. Bagi anda yang belum lihat, beginilah penampakannya:

JENG JEEENG

 

Yang banyak tidak diketahui adalah latar belakang pemilihan foto ini. Ada kisah yang bagi saya agak lucu.

Jadi, ketika artikel sudah akan dimuat, saya diminta untuk memberikan foto close up wajah atau foto setengah badan. Sayang sekali saat itu saya tidak pegang komputer. Yang ada hanya di ponsel. Bisa buka galeri ponsel, atau bisa juga buka di Facebook tapi signalnya sedang lambat sekali.

Setelah saya gali gali, saya memilih satu pasfoto yang saya pakai untuk apply Visa Malaysia, lalu saya crop foto saya dengan bimbingan skripsi saya (bahunya masih keliatan dikit hahaha maaf ya nduk) untuk foto setengah badan. Tapi saya beri catatan, barangkali lebih bagus yang setengah badan karena pasfoto saya ekspresinya agak galak. Padahal saya nulis tentang ekstremisme: bukan kombinasi yang bagus.

Tapi kemudian saya diminta untuk mencari foto yang bukan portrait melainkan landscape. Sedangkan foto di atas adalah portrait. Oke, saya gali lagi foto-foto saya. Dan di sini saya sadari bahwa saya jarang sekali foto sendirian. Banyaknya foto dengan orang lain, yang mana kalau di crop akan jadi portrait.

Saat itu yang saya temukan berbentuk landscape dan tidak bersama orang lain ada sih. Tapi walau bukan sama orang lain, foto-foto tersebut adalah bersama dengan KUCING.

Saya sampaikan apa adanya kepada editor: yang landscape dan tidak dengan orang lain, adanya dengan kucing. Boleh atau tidak. Beliau berkata boleh.

Akhirnya tiga foto ini yang saya kirim ke beliau:

 

 

 

Walaupun foto yang bawah itu ternyata ada adek saya juga, jadi sebetulnya nggak cocok. Tapi waktu memilih kok lolos dari pengamatan saya.

Ternyata setelah artikel saya dipublikasikan, telah kita ketahui semua bahwa akhirnya sang Editor memilih foto saya yang awal yaitu yang Portrait.

Yah, saya cuma menulis ini karena nggak terbayang saja bagaimana komentar orang kalau ternyata salah satu foto saya dengan kucing itu yang akhirnya dipakai dan terpublikasikan hahahaa

 

 

Why Do Bad Things Happen to Good People?

 

 

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

 

Introduction

Why do bad things happen to good people? This is a question asked by many people, often by those who question the existence of Allah. If He exists, they assume, of course He would prevent bad things, right? Or some even go as far as saying that if He exists and lets bad things happen, then He is EVIL. Astaghfirullah!

Some answer this question by saying that ‘there is always hikmah (wisdom) behind everything, good or bad’. This is not wrong, in fact this is very true. Yet the problem is that on many occasions people just cannot accept this answer. Sometimes it is because they just cannot find what wisdom is behind the misfortunes that befell them, or that the wisdom that they can think of was -according to them- not good enough compared to what calamities they suffered.

What seems to be the real problem is that we dont really understand the concept of life and reality in Islam. Some think it as if life just happens, and the job of Allah is like our protector. They think Islam is just one of the things we find among so many other things to help us through our life, which we choose which one is most beneficial, and that Islam is just the most beneficial among the other choices. This is not true, and actually is an insult.

The truth is that Islam is our way to clarify reality. For more explanation on this, please look at this link. This life is just a test, and the true reality is the hereafter. Most of us Muslims know this, but on many occasions it takes a lot for us to really ponder on what it means. There are profound implications to this, and it really should affect the way we see and understand life. It would affect the way we make decisions and appreciate things.

Maybe this is why the Qur’an, when mentioning the characteristics of the muttaqiin, the first character mentioned in the Quran (in Surah Al Baqarah ayat 3) is “Those who believe in the ghaib [unseen]…”

 

Do Bad Things Really Happen to Good People?

It does seem like a common expectation that good things should happen to good people and bad things happen to bad people. And, Allah is Fair, right? However, there are some things we need to ponder on. We can start by asking ourselves: what does ‘good’ really mean? What does ‘bad’ really mean? When plainly understood, I guess it is easy to imagine. Good things are like love and help from other people, ease in our affairs, wealth, health, happiness in general, absence of pain and suffering, and so many other things. Bad things are like the exact opposite to the aforementioned.

But lets consider some things that usually escape our mind. Abdullah ibn Mas’uud narrated that the Prophet (ﷺ) said:

نَعَمْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Yes. No Muslim is afflicted with hurt caused by disease or some other inconvenience, but that Allah will remove his sins as a tree sheds its leaves” (Sahih Bukhari and Muslim)

It is easy for the tongue of a Muslim to say that we want our sins to be erased, but how many of us can really ponder and fathom the aforementioned hadeeth? Can we, Muslims, still say that illnesses or other conveniences are really classified as ‘bad things’ now?

Even great calamities and disasters. Look at the following narration

عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “إذا ظهرت المعاصي في أمتي، عَمَّهم الله بعذاب من عنده” . فقلت: يا رسول الله، أما فيهم أناس صالحون؟ قال: “بلى”، قالت: فكيف يصنع أولئك؟ قال: “يصيبهم ما أصاب الناس، ثم يصيرون إلى مغفرة من الله ورضوان

From Umm Salamah, wife of the Prophet (ﷺ), she said: ‘I heard Rasulullah ﷺ say: if mischief has spread from my ummah, Allah will befall azhab upon them generally”. Umm Salamah asked: ‘O Rasulullah, arent there pious persons among them?’ Rasulullah answered: ‘yes’. Umm Salamah said: ‘why are they [the pious] inflicted too?’ Rasulullah answered: ‘The azhab will befall them as it does the others, but they will receive the forgiveness and ridha of Allah” (Musnad Imam Ahmad)

Of course massive earthquakes and tsunamis with hundreds of thousands of victims does seem very terrible. If this is the gate that Allah gives to the good people to be forgiven and sent to heaven, is this still really that bad?

This is why Rasulullah (ﷺ), as reported by Shuhaib bin Sinan, said the following:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Strange are the ways of a believer for there is good in every affair of his and this is not the case with anyone else except in the case of a believer for if he has an occasion to feel delight, he thanks (God), thus there is a good for him in it, and if he gets into trouble and shows resignation (and endures it patiently), there is a good for him in it.” (Sahih Muslim)

 

Do Good Things Really Happen to Bad People?

Allah does say in the Quran that azhab will be cast upon people when they are committing mischief and corruption in the lands. Numerous ayats explain this, but one among them is Surah Ash Shura ayat 30:

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

So We punished each (of them) for his sins, of them were some on whom We sent Hâsib (a violent wind with shower of stones) [as on the people of Lut (Lot)], and of them were some who were overtaken by As¬Saihah [torment – awful cry, (as Thamûd or Shu’aib’s people)], and of them were some whom We caused the earth to swallow [as Qârûn (Korah)], and of them were some whom We drowned [as the people of Nûh (Noah), or Fir’aun (Pharaoh) and his people]. It was not Allâh Who wronged them, but they wronged themselves.

This is not to mention what misfortune they will receive in hell afterwards.

 

But very often we see people who are committing mischief, corruption, so many sins, including the worst which is shirk. Yet they live happy lives, rich with all their wealth, laughing and enjoying what they have. Where is the azhab for them?

Allah says in Surah Al Imran ayat 178:

وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّمَا نُمۡلِى لَهُمۡ خَيۡرٌ۬ لِّأَنفُسِہِمۡ‌ۚ إِنَّمَا نُمۡلِى لَهُمۡ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِثۡمً۬ا‌ۚ وَلَهُمۡ عَذَابٌ۬ مُّهِينٌ۬

And let not the disbelievers think that Our postponing of their punishment is good for them. We postpone the punishment only so that they may increase in sinfulness. And for them is a disgracing torment.

Uqbah bin Amir reported that Rasulullah (ﷺ) said:

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

When you see Allah gives good fortunes to His slaves who are always committing sins (disobedient), know that the person is being given istidraj by Allah” (Then Rasulullah [ﷺ] recited Surah Al An’am ayat 44, check it out! This hadeeth is from Musnad Imam Ahmad)

Good things happening to bad people is called istidraj, where essentially punishment is simply delayed and they commit more and more sins, and suddenly they are put in hell.

خَـٰلِدِينَ فِيہَآ أَبَدً۬…..

wherein they will abide forever..” (Surah An Nisa ayat 78)

Is there, truly, any good in this?

 

To what extent does ‘good’ or ‘bad’ things (in this world) matter anyway?

There is a very beautiful hadeeth which we really should ponder on. Narrated by Anas bin Malik, Rasulullah (ﷺ) said:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ ‏.‏

وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤُسٌ قَطُّ وَلاَ رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

One amongst the people of Hell who had led a life of ease and plenty amongst the people of the world would be made to dip in Fire only once on the Day of Resurrection and then it would be said to him: ‘O, son of Adam, did you find any comfort, did you happen to get any goodness in the world?’ He would say: ‘By Allah, no, my Lord.‘”

And then that person from amongst the persons of the world be brought who had led the most miserable life (in the world) from amongst the inmates of Paradise. and he would be made to dip once in Paradise and it would be said to him. ‘0, son of Adam, did you face, any hardship? Or had any distress fallen to your lot?’ And he would say: ‘By Allah, no,0 my Lord, never did I face any hardship or experience any distress.'” (Sahih Muslim, emphasis given and hadeeth split in two for tadabbur purposes)

Re-read this hadeeth until you fully understand what happened. See how the person who enjoyed his life in the world said that he never enjoyed anything. See also how the person who suffered in the world said he never faced any problems. Certainly they did not lie. This is a perfect example on how whatever we may have experienced in the world (good or bad) no matter how extreme we think they are: they are really nothing, and will disappear into insignificance when faced with what we get in the hereafter.

 

In The End

Of course it is not that Muslims should only suffer. As the previously mentioned hadeeth of Shuhaib bin Sinan stated, our test is not only to be patient during hardship but also to be grateful in times of ease.

The point here is that it is true that good things happen to good people, and bad things happen to bad people. Yet the nature of this truth can only be understood by those who truly understand an important message that Islam brings, i.e. this world is temporary, it is not permanent. There is a hereafter which is the true reality which we must prepare ourselves for. We need to really ponder on this because this fact really should change the way we see things.

The good that will come to good people and the bad that will come to bad people are very often not understandable for those who do not believe or do not really understand the hereafter. Therefore, to answer the question “Why does bad thing happen to good people?” is actually a question of mindset and worldview.

If we do not yet fully understand this, then it shows how we will really need to seek more knowledge of the foundations of Islamic aqeeda and really ponder on it into our hearts so that we truly understand it. It is important as aqeeda is the basic of everything.

If we already understand this, then we should know more how much we must strive to strengthen our imaan even more. We should seek more and more knowledge of the deen so that we can do as much good deeds as possible, of course with intentions only to Allah, and so that we can avoid the bad deeds and seek forgiveness for what we have already done.

To end, let us read Surah Al Hadeed ayat 20 and ponder on its meanings and reflect on how it should affect our life.

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٌ۬ وَلَهۡوٌ۬ وَزِينَةٌ۬ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٌ۬ فِى ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَوۡلَـٰدِ‌ۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُ ۥ ثُمَّ يَہِيجُ فَتَرَٮٰهُ مُصۡفَرًّ۬ا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـٰمً۬ا‌ۖ وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ عَذَابٌ۬ شَدِيدٌ۬ وَمَغۡفِرَةٌ۬ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٲنٌ۬‌ۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلۡغُرُورِ

“Know that the life of this world is but amusement and diversion and adornment and boasting to one another and competition in increase of wealth and children – like the example of a rain whose [resulting] plant growth pleases the tillers; then it dries and you see it turned yellow; then it becomes [scattered] debris. And in the Hereafter is severe punishment and forgiveness from Allah and approval. And what is the worldly life except the enjoyment of delusion.” 

 

“KAMI BAWA KE PENGADILAN INTERNASIONAL!” Memangnya Bisa?

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

 

Ucapan tanpa dasar sudah biasa muncul di media, apalagi social media. Menariknya ini kadang muncul dari orang yang mestinya kompeten di bidangnya. Yang ingin saya soroti adalah soal ancaman/usulan/klaim/sejenisnya untuk membawa sebuah masalah ke pengadilan internasional. Seringkali klaim ini adalah justru tidak ada dasarnya. Mulai dari kasus Manohara, lalu kasus Siyono, kemudian tuduhan terhadap IHH, dan baru baru ini soal tuduhan Makar.

Tanpa mengurangi rasa simpati terhadap substansi kasus-kasus tersebut. Tanpa pula memaklumi keinginan semua orang agar keadilan bisa ditegakkan, dan “pengadilan Internasional” tampak seperti sesuatu yang sangat wah bling bling untuk digadang sebagai ksatria berzirah putih untuk menyelamatkan sang korban pendzaliman. Sayangnya, ada beberapa kompleksitas hukum yang mungkin orang awam sulit memahaminya.

InshaaAllah tulisan ini akan melakukan survei singkat kepada dua pengadilan yang dapat disebut sebagai “pengadilan internasional”.

Catatan: kalau ada yang di bold dan bukan judul bab/sub-bab, itu bisa diklik karena merupakan hyperlink, untuk informasi tambahan.

SURVEI PENGADILAN INTERNASIONAL

Ada dua pengadilan yang biasa disebut dengan “Pengadilan Internasional”, yaitu the International Court of Justice (ICJ) atau Mahkamah Internasional, dan the International Criminal Court (ICC) atau Mahkamah Pidana Internasional. Mari kita bertamasya ke masing-masingnya!

Mahkamah Internasional

Mahkamah Internasional alias ICJ adalah salah satu organ utama PBB, sebagaimana disebut di Pasal 7(1) pada Charter of the United Nations alias Piagam PBB. Pengaturan lebih rinci ada di Pasal 92-96 (Bab 16) Piagam PBB, dan leeeeebih detailnya ada di Statute of the International Court of Justice atau Statuta ICJ.

Dalam Statuta ICJ ini, ada beberapa pengaturan yang harus saya soroti.

Pertama, hanya negara yang boleh berperkara di ICJ. Ini sudah jelas disebut di Pasal 34(1) Statuta ICJ. Karena itu, tidak bisa seorang individu atau sebuah ormas mengajukan perkara ke ICJ.

Kedua, harus ada kesepakatan dulu antara negara yang bersengketa. Sebagaimana tersebut di Pasal 36(1) dan 40(1) Statuta ICJ, kecuali jika sebuah negara telah melakukan deklarasi khusus untuk “menerima kewenangan ICJ untuk sebagian/seluruh kasus” sesuai Pasal 36(2)-(5) yang mana minim sekali negara yang melakukan deklarasi ini. Jadi tidak bisa semudah itu sebuah pihak, walaupun itu negara, mengadu pada ICJ untuk menyeret negara lain ke ICJ.

Jadi secara formil banyak sekali halangan dan batasan untuk bisa membawa kasus ke ICJ. Mungkin bisa dibayangkan sendiri kenapa kasus Manohara dan Siyono tidak bisa masuk ke ICJ?

Mahkamah Pidana Internasional

Yang ini mungkin yang agak hangat saat tulisan ini dibuat. Sebuah situs yang mengutip akun twitter mengklaim bahwa kasus tuduhan makar oleh Tito Karnavian bisa dibawa ke Mahkamah Pidana Internasional alias ICC. Mari kita bertamasya sejenak ke instrument hukum primer ICC yaitu Rome Statute atau Statuta Roma. Tamasya kali ini akan lebih panjang dari ICJ karena pengaturannya lebih komprehensif, dan lebih banyak poin yang perlu saya singgung.

Pertama, siapakah yang bisa dilaporkan? Menurut Pasal 12(2) Statuta Roma, ICC hanya boleh melaksanakan kewenangannya jika (a) dugaan kejahatan terjadi di wilayah negara anggota, atau jika (b) terduga pelaku adalah warga negara anggota. Maksudnya negara anggota ini adalah negara yang telah meratifikasi Statuta Roma. Sayangnya, negara tempat kejadian dan kewarganegaraan Pak Tito Karnavian adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tidak meratifikasi Statuta Roma.

Eh, tapi ada pengecualian dari Pasal 12(2) lho, yaitu di Pasal 13(b). Jika Dewan Keamanan PBB sudah berfatwa dengan berdasarkan Bab VII Piagam PBB untuk menyuruh ICC memeriksa sebuah perkara, sudah harus dilaksanakan. Hanya saja, DK PBB tidak bisa pilih pilih tersangka karena hanya “situations” (ICC memaknai terminology ini adalah tempat kejadian perkara, misalnya situation in Darfur Sudan, atau situation in Libya, etc) yang dapat mereka perintahkan untuk diperiksa. Penetapan tersangka dlsb tetap oleh Prosecutor/Penuntut Umum (bukan pelapor!).

Lalu lalu, DK PBB dalam Bab VII Piagam PBB pun, sesuai Pasal 39 (pasal pertama di Bab VII), hanya akan bertindak dalam hal ancaman atau gangguan terhadap perdamaian atau keamanan dunia, atau agresi militer. Adakah kasus imbas tuduhan makar ini masuk dalam kategori ini? Penahanan orang yang, yah, maaf saja, apakah sampai 2 orang? 3? 4? Sulit ya.

Apalagi, perlu kita diskusikan proses politik di DK PBB dan beberapa negara dengan hak veto yang siap memblokir resolusi apapun yang mengganggu Indonesia? Kira-kira yang duluan akan veto adalah siapa ya?

Belum lagi kalau kita bicara soal kewenangan materil. Perkara seperti apa yang bisa dibawa ke ICC? Pasal 5 menyebutkan ada 4 kejahatan internasional yang masuk kewenangan materil ICC, yaitu Genosida, Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, Kejahatan Perang, dan Agresi. Apakah kasus tuduhan makar ini bisa masuk ke salah satunya? Mungkin sekilas iya, tapi sayangnya kita tidak bisa memahami istilah hukum sesuai ndas kita masing-masing. Karena itu, keempat kejahatan tersebut dirinci lebih detail lagi di pasal 6 (Genosida), Pasal 7 (KTK), Pasal 8 (Kejahatan Perang), dan Pasal 8bis (Agresi). Sekilas saja yuk survei.

Genosida liat sini aja ya –> klik klik klik 

Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, menurut Pasal 7(1) : salah satu dari tindakan berikut jika dilakukan sebagai bagian serangan meluas atau sistematik terhadap penduduk sipil, dan dengan mengetahui: pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, aduh dibaca sendiri saja ya. Penahanan juga ada sih di Pasal 7(1)(e). Bisakah kasus tuduhan makar masuk? Nanti kita bahas dikit lagi ya.

Kejahatan Perang adalah intinya kejahatan yang dilakukan terkait dan dalam konteks konflik bersenjata. Pasal 8 adalah pasal yang pualing panjang, maaf ya, dibaca sendiri, banyak banget.

Kejahatan Agresi oleh Pasal 8bis didefinisikan sebagai perencanaan, persiapan, permulaan, atau eksekusi, oleh seseorang yang memiliki posisi efektif untuk mengendalikan atau mengarahkan tindakan politik atau militer di sebuah negara, sebuah tindakan agresi yang, melihat karakter, berat, dan skalanya, adalah pelanggaran jelas dari Piagam PBB. Nah, kalau ‘tindakan agresi’nya apa? Aduh baca sendiri saja ya, soalnya Pasal 8bis ini baru ditambahkan tahun 2010 melalui sebuah amandemen yang bisa didownload di link ini

Nah, sulit sekali kan. Apalagi Pasal 9 Statuta Roma mengarahkan juga untuk menggunakan sebuah dokumen lain untuk menafsirkan lebih lanjut Pasal-Pasal 6-8bis, yaitu ICC Elements of Crime. Di sini akan tampak kesulitan yang lebih besar lagi untuk memasukkan tuduhan makar ke Pasal 7(1)(e). Karena bukan hanya Kejahatan Terhadap Kemanusiaan mensyaratkan bahwa tindakan harus merupakan bagian dari serangan yang ‘meluas atau sistematik’. Tapi ICC Elements of Crime untuk Pasal 7(1)(e) menyebutkan bahwa salah satu unsur lain yang harus dibuktikan adalah “beratnya tindakan adalah sedemikian rupa sampai merupakan pelanggaran fundamental hukum terhadap internasional”. Seberapa jauh dan beratnyakah dilanggarnya hak para korban ini dalam penahanannya? Tanpa mengurangi rasa simpati, tapi rasanya sulit terpenuhi unsur satu ini. Belum lagi ditimbang dari unsur unsur lainnya.

Belum lagi ketika kita menimbang juga Pasal 17(1)(d) dan 53(1)(c), yaitu bahwa sebuah kasus tidak dapat dibawa ke ICC jika dianggap kurang berat. The Office of the Prosecutor (OTP), ICC, pernah merilis sebuah surat terbuka terkait perang Irak pada tahun 2006. Terlepas dari kesetujuan atau ketidak setujuan pada sebagian atau keseluruhan konten surat itu, terdapat penafsiran penting terhadap konsep ‘kejahatan yang dinilai kurang berat’ yang antara lain ditafsirkan sebagai ‘banyaknya jumlah korban’. Bukannya tidak ada nilai pada manusia walaupun cuma satu orang. Hanya saja, sebagaimana OTP menjelaskan, sulit sekali untuk ICC menghabiskan sumberdaya untuk menindak kejahatan yang korbannya ‘hanya’ sedikit (dalam surat tersebut, disebut sebuah kejahatan yang korbannya mungkin 4-12 orang). Padahal di sisi lain, ICC juga menangani kasus-kasus dengan korban tewas beribu-ribu dan mengakibatkan gelombang pengungsi sampai berjuta orang. Makanya dalam mukadimahnya, ICC mengatakan bahwa ia akan menindak bukan kejahatan kejahatan serius, melainkan yang paling serius alias “… the most serious crimes…”.

 

KESIMPULAN

Dengan demikian, walaupun kita gemas sekali terhadap kelakuan oknum oknum tertentu, sayang sekali Pengadilan Internasional bukanlah solusi. Tidak bisa membawa ke sana. Bisa jadi kasusnya betul pidana internasional, misalnya kasus Siyono yang bisa jadi masuk Pasal 7(1)(a) Statuta Roma. Bukan hanya pembunuhan, tapi mungkin bisa merupakan tindakan sistematik atau meluas sebagaimana disyaratkan untuk Kejahatan Terhadap Kemanusiaan? Mungkin saja. Tapi kemudian terbentur pada beraneka syarat lain.

Silahkan mengumpat sumpah serapah kepada hukum internasional, kami pun yang paham hukum internasional juga mengumpat sumpah serapah kepada hukum internasional dengan memberikan juga dasar hukum dan kajian teori yang mungkin lebih kuat daripada orang awam. Hukum internasional memiliki banyak kelemahan, bahkan jauh lebih banyak daripada hukum nasional. Jadi bayangkan kalau anda melihat hukum nasional itu lemah sekali, fikirkan saja: hukum internasional lebih parah bro. Jangan kira cuma Amerika saja yang bisa lolos. Nyatanya negara seperti Sudan saja sudah kena sanksi dari DK PBB dan dipanggil-panggil oleh ICC saja sudah berapa tahun santai-santai saja kok.

Ada yang mengusulkan “barangkali ini retorika saja”. Tapi mbok ya kalo retorika yang betul. Jangan berikan informasi salah.

Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat. Kalau ada yang kurang jelas atau kurang tepat, silahkan disampaikan di komentar.

 

BEBERAPA CATATAN TERHADAP TWEET @AlmaghribiS

Saya sangat simpati terhadap apa yang diperjuangkan oleh akun ini. Demi Allah, iya. Tapi saya ingin meluruskan beberapa hal terkait hukum internasional yang di-tweet-kan. Untuk setiap tweet yang saya komentari, itu saya kasih hyperlink langsung ke tweet ybs sebelum selanjutnya saya komentari.

  1. Tweet: sejak diterbitkannya statuta roma tshun 1998. Setiap individu merupakan subyek dr hukum internasional.

Komentar: Individu tampaknya telah lama menjadi subjek hukum internasional sebetulnya, antara lain sejak pengakuan HAM di Piagam PBB tahun 1945, lalu Deklarasi Universal HAM tahun 1948, lalu konvensi-konvensi lainnya di tahun tahun berikutnya. Semua sebelum tahun 1998. TApi substansinya, oke. Individu adalah subjek hukum internasional. Tapi sejauh mana?

2. Tweet: berarti setiap individu dimanapun berada,dapat menuntut maupun dituntut dedepan meja peradilan internasional.

Komentar: Eit, dasar hukumnya apa? Kata siapa? Karena orang mau cerai pun nggak bisa di TIPIKOR, dan mau sesadis apapun pembunuhan tidak bisa diadili di pengadilan agama. Setiap pengadilan punya batasan dalam kompetensinya. Pertanyaan saya, pengadilan mana yang bisa menerima tuntutan dan melakukan tuntutan pada individu? Jawaban: tidak ada. Di ICC pun, konteksnya adalah Prosecutor mendakwa individu.

3. Tweet: contoh subyek hukum ini adalah diadilinya RADOVAN KARADZIC (mantan pemimpin serbia bosnia) yg diadili atas tindakan kejahatan kemanusiaan.

Komentar: kritik kecil adalah bahwa Karadzic bukanlah pemimpin Serbia Bosnia, melainkan jendral militer. Tapi ya sudahlah. Tapi, apakah ini adalah contoh bagus untuk argumen sebelumnya? Sayangnya tidak. Memang yang dituntut adalah individu, tapi yang menuntut bukan individu. Radovan Karadzic beserta banyak terdakwa dan terpidana lain diadili di the International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia, yaitu sebuah pengadilan pidana internasional Ad-Hoc bentukan Dewan Keamanan PBB. Tidak ada proses pelaporan oleh individu, sayangnya.

4. Tweet: berangkat dari kasus pegawai kereta danzig ini, Mahkamah internasional mengeluarkan keputusan bahwa apabila suatu perjanjian internasional memberikan hak tertentu kepada orang perorangan maka hak itu hrs diakui dan mempunyai daya laku dlm hukum internasional. Artinya diakui oleh suatu badan peradilan internasional.

Komentar: Betul memiliki daya hukum dalam hukum internasional, dan ini diakui oleh peradilan internasional yaitu dalam kasus ini Mahkamah Internasional Permanen atau Permanent Court of International Justice (PCIJ) yang merupakan semodel ICJ tapi untuk Liga Bangsa Bangsa (sebelum ada PBB). Tapi apa serta merta berarti individu bisa menuntut ke pengadilan internasional? Karena kasus pegawai kereta Danzig di muka PCIJ yang dimaksud justru menyebutkan bahwa para pegawai kereta Danzig tersebut boleh mengajukan klaim ke Pengadilan DanzigTidak menyebut bolehnya membawa ke pengadilan internasional.

5. Tweet: sri bintang pamungkas baru2 ini mengajukan peradilan kpd tito k arnavian diperadilan internasional jenewa (switzerland)

Komentar: Kecil saja. Pengadilan internasional apa ya yang ada di Switzerland? ICJ berada di The Hague, Belanda. ICC juga berada di The Hague. Tapi kalau saya kulik kulik, di Geneva ada Swiss Arbitration Association. Arbitrase bisa saja menangani sengketa internasional. Tapi kita ketahui bahwa Arbitrase itu (a) untuk sengketa komersil, dan (b) bukan pengadilan, walaupun ada kemiripan. Atau ada juga International Commission of Jurists, yang merupakan komite pakar hukum internasional dan kantornya juga di Geneva. Bukan pengadilan, tapi singkatannya ICJ juga jadi barangkali tertukar. Mohon pencerahannya.

————————————–

Barangkali itu saja yang perlu saya komentari. Intinya sederhana: sayang sekali saya belum menemukan pengadilan internasional yang bisa mengurus masalah ini. Mari kita sama sama fikirkan bagaimana bisa menuntut keadilan dengan cara yang sebaik-baiknya, karena sesungguhnya kita memiliki kerisauan yang sama kok. Dalih penangkapannya lebih ajaib dari David Coperfield. Tapi ya kok mau diurus lewat pengadilan nasional, takut nggak beres. Kalau lewat pengadilan internasional, kok nggak ada yang bisa. Kalo di Uni Eropa bisa lho di pengadilan HAM-nya sana. Sayangnya kita nggak punya. Adanya melalui ASEAN yang itu nggak jelas juntrunganya.

Kadang-kadang untuk hal seperti ini saya cuma berfikir nunggu Yaumid Din saja, karena Yang Maha Adil memang cuma Allah. Dan Allah itu harusnya lebih ditakuti daripada pengadilan.

wallaahu’alam

Demonstrasi 411 dan 212 dalam Tinjauan Maqashid Shari’ah

 

 

Pengantar

Kasus gubernur incumbent DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias BTP yang “diduga” (sesuai terminologi hukum) menista agama telah menunjukkan reaksi yang sangat besar dari beraneka pihak. Antara lain, yang sangat epic adalah demonstrasi besar besaran tanggal 411 dan 212 menuntut Polisi memproses hukum kasus BTP.

Kontroversi bertebaran dari kalangan sekuler maupun agamis yang menentang demonstrasi tersebut. Tulisan ini akan fokus kepada kontroversi dari kalangan agamis. Kontroversi pertama adalah bahwa demonstrasi, oleh sebagian kalangan, dianggap merupakan tindakan bermental khawarij. Hal ini membutuhkan analisis nash, dan tidak termasuk dalam cakupan tulisan ini. Kontroversi kedua adalah berdasarkan klaim beberapa kalangan bahwa demonstrasi akan menimbulkan kekacauan lebih besar seperti di Suriah. Seperti kata seorang Ulama besar dari Madinah, kekacauan Suriah adalah bukti nyata kebenaran ‘Manhaj Salafi’ yang ingin menghindarkan mudharat yang besar: demonstrasi adalah awal dari kekacauan. Dari kalangan yang lain, ada kekhawatiran bahwa demonstrasi akan ditunggangi pihak-pihak tertentu untuk makar antara lain PBNU –dan inipun merupakan analisis berdasarkan maslahat.

Yang kedua inilah yang akan dianalisis dalam tulisan ini, apakah betul memang demonstrasi tersebut bertentangan dengan maslahat dan membawa mudharat. Yang akan dilakukan adalah analisis berdasarkan Maqashid Shari’ah. Utamanya sebagai latihan dari kelas Ushul Fiqih yang sedang saya ikuti.

 

Tentang Maqashid Shari’ah

Singkatnya, Maqasid Shari’ah adalah tujuan-tujuan Shari’ah Islam. Jika sesuatu memenuhinya, maka ia merupakan maslahat. Jika tidak memenuhinya, maka ia adalah mudharat. Imran Ahsan Nyazee Khan menyebutkan bahwa para ulama mengklasifikasikan adanya lima tujuan Shari’ah Islam, yaitu:

  • Menjaga Agama,
  • Menjaga Nyawa,
  • Menjaga Keturunan,
  • Menjaga Akal,
  • Menjaga Harta,

Dan demikian pula urutan prioritasnya, walaupun Imam Al Ghazali mengatakan bahwa bisa saja ada pendapat bahwa Menjaga Nyawa adalah lebih utama dari Agama karena tanpa Nyawa tidak ada Agama. Akan tetapi beliau juga mengakui bahwa banyak sekali hukum yang menunjukkan lebih utamanya menjaga Agama daripada menjaga Nyawa. Beliau menyatakan bahwa empat Maqashid Shari’ah yang No. 2-5 itu bertujuan untuk mendukung Menjaga Agama sebagai tujuan utama.

Ada perdebatan mengenai apakah ada lebih dari lima Maqashid Shari’ah, tapi kalau dalam diskusi kelas Ushul Fiqih minggu lalu, tampaknya lebih kuat yang mengatakan bahwa bisa ada lebih.

 

Tentang Demonstrasi 411 dan 212: Menjaga Agama

Satu hal yang sangat jelas adalah bahwa aksi demonstrasi tersebut adalah dalam rangka Menjaga Agama (Maqashid Shari’ah No.1). Bukannya agama ini akan rusak kalau tidak dibela, tapi ketersinggungan akibat dihinanya agama adalah ghiroh sedangkan ghiroh adalah tidak bisa lepas dari cinta, dan cinta adalah tanda Iman. Para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. pun, yang paling paham soal agama Islam karena belajar dari Sang Nabi sendiri, pun siap cabut pedang ketika ada yang menghina agama –bukan karena takut agamanya lemah (lengkapnya lihat tulisan Kang Abu Aishah ). Islam akan bertahan, dan ia akan bertahan antara lain melalui wasilah para pemeluknya yang berjuang dan berdakwah: pertanyaannya tinggal apakah kita termasuk yang diam atau ikut bergerak. Setahu saya tidak ada perbedaan pendapat di kalangan fuqaha bahwa penista Nabi Muhammad s.a.w. dihukum mati, dan jika Muslim maka dihukumi murtad. Bukannya sedikit orang yang menghina Islam. Tapi jika seorang Public Figure melakukannya, lalu lolos tanpa tindakan, tentunya dampaknya besar.

Sebetulnya koridor pertama yang ada dalam sistem hukum Indonesia adalah memproses melalui hukum pidana sebab ada pasal 156a KUHP terkait penistaan agama. Para ulama dan ormas Islam pun menyampaikan laporan sesuai prosedur. Hanya saja tampak sekali prosesnya akan mandeg, mengingat kepolisian terlihat sangat membela BTP. Akhirnya para ulama dan ormas Islam melakukan aksi unjuk rasa yang merupakan cara sah juga untuk melaksanakan kebebasan berekspresi. Yang dituntutkan tidak neko neko, bukan sesuatu yang di luar kebiasaan. Yang diminta hanya supaya kepolisian menjalankan tugasnya saja. Ini adalah tahap yang diperlukan ketika cara pertama (pelaporan) sudah gagal atau tampak gagal.

Belum lagi, ternyata 411 dan 212 dapat menjadi momentum besar untuk menyatukan umat dari berbagai firqoh (kecuali sebagian kecil saja), serta secara umum meningkatkan ghiroh keislaman bagi mereka yang ikut demonstrasi maupun yang mendukung secara moril. Karena itu, sulit dibantah bahwa demonstrasi ini adalah memenuhi Maqashid Shari’ah pertama yaitu menjaga Agama.

Menjaga Nyawa

Yang menjadi kekhawatiran adalah terpenuhinya Maqashid Shari’ah kedua ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa demonstrasi memang dapat menjadi sangat sangat alot. Ribuan terbunuh dan lebih banyak lagi yang terluka pada revousi di Mesir tahun 2011 dan 2013. Apalagi Suriah, berawal dari demonstrasi kini menjadi luar biasa parah. Korban tewas hampir 500.000 dan puluhan juta menjadi pengungsi atau internally displaced persons. Tidak jarang pula terjadi bentrok di berbagai demonstrasi, apapun motivasinya (demo soal kenaikan harga bahan pokok kah, atau yang lainnya). Belum lagi ada dugaan bahwa akan terjadi makar untuk menggulingkan pemerintahan.

Jika urusan nyawa ini dipandang remeh, apalagi jika terjadi betul makar besar-besaran, revolusi yang terjadi bisa meluas seperti di Mesir atau bahkan Suriah. Dan jika itu memang betul terjadi, luar biasa berabe sekali. Konon di Suriah, ada laporan menyatakan bahwa Masjid-pun dibom oleh pasukan Amerika Serikat, yang terjadi baru baru ini (sebelumnya banyak laporan serupa akibat bombardir Pemerintah Suriah). Akhirnya Maqashid Shari’ah yang utama, Menjaga Agama, pun jadi terkompromikan.

Memilih Prioritas: Sulit Mencari Alat?

Ketika tampaknya dua Maqashid Shari’ah bertemu seperti ini, ada beberapa cara memilih yang dapat dilakukan.

Pertama, adalah Maslahah yang diterima vs ditolak, antara lain bisa ditolak karena bertentangan dengan nash. Ini perdebatan lain yang tidak saya bahas, sebagaimana dijelaskan di awal.

Kedua, Maslahat Daruriyah vs Hajiyah vs Tahsiniyah, dan semakin ke kiri akan semakin utama. Daruriyah adalah ketika tidak terpenuhi maka akan mengancam stabilitas sosial sedemikian rupa sehingga akan kacau luar biasa. Sudah dijelaskan tadi, dampak kedua poin di atas sama-sama seperti itu: direndahkannya agama dalam skala lebih luas atau makar yang bisa memakan korban lebih. Jelas bukan Hajiyah (penting tapi tidak urgent) atau Tahsiniyah (pelengkap saja).

Ketiga, Maslahat Umum vs Maslahat Pribadi. Sekali lagi keduanya pun sama saja di Maslahat Umum, sehingga situasi kita tidak terbantu di sini.

Keempat, prioritas urutan antara jenis Maqashid Shari’ah. Di satu sisi, mungkin sekilas akan tampak bahwa mendukung demonstrasi 411 dan 212 akan menang karena dia tergolong pada Menjaga Agama yang tingkatnya lebih tinggi daripada Menjaga Nyawa. Hanya saja, di sisi lain, argument bahwa tidak terpenuhinya tujuan Menjaga Nyawa dapat berimbas pada tujuan Menjaga Agama. Jika revolusi terjadi maka ada kemungkinan tidak terpenuhinya tujuan Menjaga Nyawa juga, sehingga langsung kena dua maqashid sekaligus? Akhirnya poinnya jadi seri pula di sini.

Solusi Dalam Memilih: Perbandingan Hujjah

Akhirnya saya pribadi menyelesaikan pertentangan ini dengan membandingkan hujjah dari masing-masing pihaknya. Sejauh apa kuatnya para pihak memiliki argument untuk mendukung klaim Maqashid Shari’ah-nya?

Bagi yang mengatakan bahwa demonstrasi itu penting untuk Menjaga Agama, secara kasat mata akan tampak bahwa tidak ada kelemahannya. Sudah mafhum bahwa kelakuan seorang public figure, yang didukung banyak sekali orang, akan berdampak sangat luas. Inilah sebabnya banyak ulama mensyaratkan akhlaq pada seorang pemimpin, dan saya yakin ‘bermulut comberan’ jelas akhlaq yang buruk. Maka sangat logis jika perilaku buruk seorang public figure –apalagi terhadap Agama Islam—lolos saja, dampaknya pun akan luas.

Dugaan tersebut pun terbukti benar. Jelas sebelum demonstrasi, tidak diprosesnya kasus BTP ini adalah pengelakan tanpa dasar. Tidak butuh bukti konkrit untuk penetapan tersangka, melainkan bukti permulaan saja. Yang dituntut oleh demonstran hanya proses hukum sebagaimana mestinya kok, dan akhirnya tercapai setelah adanya demonstrasi. Baru penetapan tersangka dan sekarang sidang, perjuangan belum selesai, akan kita kawal prosesnya.

Kita bandingkan dengan hujjah pihak yang mengkhawatirkan terjadinya makar dan kekacauan yang dapat menghambat terpenuhinya tujuan Menjaga Nyawa.

Pertama, sekuat apakah bukti pendukung dugaan akan adanya makar? Dan, ketika ada bukti kuat, sedasyat apakah kemungkinan makar tersebut? Sejauh yang saya telusuri, informasi yang ada hanyalah bahwa ada dugaan pihak-pihak yang akan melakukan makar. Saya tidak menemukan adanya informasi atau spekulasi mengenai kemungkinan kedasyatan apapun. Misalnya, aliran senjata? Atau, ormas-ormas besar tertentu?

Kedua, seberapa besarkah kemungkinan rusuh yang mengeskalasi menjadi runyam seperti di Suriah atau Mesir? Penting dilakukan perbandingan situasi politik. Di satu sisi, ada gelombang Arab Spring yang sedang menghantam negara-negara Timur Tengah sehingga memang secara umum keadaan sedang panas luar biasa dengan semangat revolusi. Di sisi lain, terutama sekali soal Suriah, mereka adalah sebuah tipikal rezim militer diktator yang sudah punya track record pembantaian masal . Di Mesir pun, tahun 2011 pemerintahnya terkenal diktator (tapi tidak terkenal pembatasan beragama, hanya politik saja). Apakah pemerintah Indonesia terkenal dengan diktatorismenya? Mungkin dulu. Okelah, sedikit. Tapi apakah bisa dibandingkan? Memang betul gara-gara kasus BTP ini jadi ada pergolakan di Indonesia apalagi di tengah aura pemilihan gubernur DKI Jakarta. Tapi apakah bisa dibandingkan? Apalagi tidak ada kompleksitas pemerintah yang berbeda agama dengan mayoritas rakyat, sebagaimana di Suriah, yang dapat menggelinding menjadi konflik Agama.

Ketiga, seberapa besarkah biasanya demonstrasi menghasilkan korban? Oke memang Mesir dan Suriah adalah contoh yang sangat ekstrim. Tapi dibandingkan seluruh trend demonstrasi lain yang terjadi di dunia atau malah di Indonesia? Tidak ada satupun statistic penyebab kematian di seluruh dunia yang menyebut demonstrasi sebagai salah satu penyebab kematian. Justru yang ada adalah kematian sebagai akibat kecelakaan. Padahal, biasanya orang berkendara untuk mencari nafkah (Menjaga Harta) atau Sekolah (Menjaga Akal), keduanya lebih rendah daripada  tujuan Menjaga Nyawa, atau bahkan untuk hiburan saja (Maslahat Tahsiniyah). Tidak ada fatwa ulama yang melarangnya atau bahkan menghimbau untuk tidak melakukan perjalanan. Yang ada hanya menghimbau untuk berhati-hati saja selama berkendara, karena jika berhati-hati akan mengurangi (tidak mengeliminasi 100%) angka kecelakaan.

Maka keempat pun, dapat dilihat bahwa kemungkinan adanya makar yang akan meluas dengan jalan provokasi pun dapat dikurangi sedapat mungkin dengan persiapan dan disiplin yang tinggi. Dan hal ini pun dilakukan dengan koordinasi yang sangat baik dari berbagai elemen yang terlibat demonstrasi. Akhirnya semuanya sangat tertib sekali. Kerusuhan sempat terjadi di demonstrasi 411 tapi itu sebentar saja dan terlokalisir dan itupun jauh setelah mayoritas peserta demonstrasi telah pulang. Pada demonstrasi 212 pun juga berjalan dengan luar biasa damai sekali, beda dengan aksi tandingannya.

Kelima, ketika dikhawatirkan ada pihak yang menunggangi aksi demonstrasi (yang mana dampaknya pun tidak jelas, sebagaimana dijelaskan sebelumnya). Apakah tidak dikhawatirkan adanya pihak pihak lain yang akan menunggangi tidak ditindaknya BTP atas penistaan agama yang dilakukannya, yang kemudian dikhawatirkan akan meluas jika lolos tanpa hukuman?

Kesimpulan

Dengan demikian, tampak jelas bahwa menjalankan aksi demonstrasi 411 dan 212 adalah pemenuhan Maqashid Shari’ah yang utama yaitu Menjaga Agama. Ia bersifat Maslahat Umum, Daruriyat, dan berada pada tingkat tertinggi di antara kelima maqashid lainnya. Sulit ditemukan kelemahan pada hujjahnya sebagai pemenuh tujuan Menjaga Agama tersebut.

Bandingkanlah dengan tidak dianjurkannya demonstrasi tersebut karena alasan Menjaga Nyawa (dan bisa jadi meningkat jadi Menjaga Agama). Belum konkrit bahwa makar tersebut akan terjadi, terlebih lagi tidak ditemukan bukti penyokong kekhawatiran berskala besar sehingga dapat menimbulkan kekacauan dan pembunuhan besar-besaran. Kaidah fiqih “ragu tidak bisa mengalahkan yakin” pun berlaku di sini. Terlebih lagi, kemungkinan mudharat demonstrasi pun sangat bisa diminimalisir (walaupun tidak bisa 100%) dengan disiplin dan perencanaan dan koordinasi yang baik. Dan hal tersebut pun terwujud.

Dengan demikian, tampak bahwa argument para pendukung demonstrasi 411 dan 212 adalah lebih kuat daripada yang tidak mendukung demonstrasi tersebut, jika ditinjau dari Maqashid Shari’ah. Walaupun demikian, sekali lagi ini bergantung pada kuatnya bukti-bukti yang dimiliki oleh kalangan yang tidak mendukung demonstrasi. Jika ternyata ada bukti-bukti yang menunjukkan indikasi kuat akan terjadinya makar besar-besaran dan revolusi, kesimpulan ini dapat berubah.

Wallaahu’alam

Rujukan utama:

Imran Ahsan Nyazee Khan, 2000, Islamic Jurisprudence, The International Institute of Islamic Thought, Islamabad

My Ex (Student) vs Petugas Bandara: So Proud of You Hahahaha

Baru pagi ini dapet info dari mantan saya. Bukan mantan pacar tapi mantan bimbingan skripsi. Untuk kepentingan keselamatan, kita samarkan saja namanya jadi Sherin Pakpahan. Ada peristiwa menarik di bandara Adisutjipto.

Nah nih anak saya juara banget menghadapi orang Bandara yang (menurutnya) mempersulit.

Jadi ceritanya dia mau bawa barbell 1 kg ke kabin. Nah, waktu discan kena lah sama petugas. Katanya si petugas itu barang berbahaya, dipake nonjok orang sakit. Well, gimana ya. Ini baru aja Kim Jong Nam dibunuh di Malaysia (diduga) oleh orang Indonesia. Dan si Sherin ini juga besarnya di Malaysia, minggu lalu baru aja ke Malaysia dan ketemuan kita. Mungkin ekstra hati hati?

Dan katanya harusnya dimasukkan ke bagasi barbell ini, dan ya kalo enggak ya disita.

Eh tapi si Sherin langsung full anak-hukum-nyolot-mode. Langsung dihajar pake yang aneh aneh:

bedanya nonjok pake barbel 1kg ama lempar rendang dibekuin 1kg ke muka orang kenapa rendang gak disita

Lalu

“kalau kamus gimana mas? 1 kamus nabok orang sakit loh. Heels saya? Enggak diambil sekalian mas? Pecah kepala orang saya lempar.

Dan katanya orangnya diem aja.

Katanya dia juga sempat bilang “yaaaa saya anak fakultas hukum mas, miris kalo diluar gak ada dipajang ketentuan di UU ttg barbel terus harta saya dirampas kayak gitu. Sedih ama kelemahan UU di indo

Agak protes sih saya, kok anak fakultas hukum mbok ngaku aja gue sarjana woy, dan dosen pembimbing skripsi gue keren banget lho (oke yang ini ga penting <3 ) but yeah, oke juga lah ya bawa kritik hukum ke petugas scan barang di bandara. hahaha

Akhirnya berhasil Barbelnya dikembalikan dan boleh dibawa. Tapi kemudian si petugasnya nekat betul bilang “jangan ngulangin lagi ya“. Eh nantangin dia. Dan kelihatannya Sherin ini pegang prinsip ‘loe minta, gue beri’.

Langsung dibales “saya mah ikut UU yang berlaku di indo aja mas. Kalo dilarang ya baru saya gak ngelakuin. Mas mungkin bisa jadi pelopornya di kantor mas buat bikin UU melarang barbel berlaku

Darrrrrr

Mungkin kita bisa dapatkan beberapa faedah di sini.

Pertama, inilah pentingnya kekuatan hujjah. Dan kekuatan hujjah yang baik akan sulit datang tanpa memiliki ilmunya.

Kedua, yah, sebenarnya saya kasihan juga kepada si petugas. Saya yakin ketika beliau masih kecil dan ditanya “apa cita citamu, nak?” bukan “mau nge-scan barang di bandara” jawabannya. Tapi kalau mempertahankan barang, mau gimana lagi?

Ketiga, di sinilah kita harus bijaksana. Okelah sang petugas belum tentu jago menafsirkan hukum. Emangnya anak sarjana hukum udah pasti jago juga? Diskursus lah. Kalo saya pribadi akan memilih ke bagasi saja, karena kasihanlah. Tapi setiap orang bisa punya prioritas masing-masing. Sherin sendiri malas ngantri dan malas menunggu bagasi, which is legitimate untuk convenience. Ini toh bukan perjuangan keadilan tentang hajat hidup orang banyak juga.

Tapi bijaksana di sini adalah bagaimana kita menyikapi konflik. Terlepas dari kita setuju atau tidak dengan Sherin atau si petugas bandara, kita harus menyikapi konflik dengan arif dan mengambil hikmah darinya. Karena kalau hikmah yang didapat oleh Sherin cuma nggak jadi barbellnya disita, atau bagi saya cuma ketawa karena lucu, atau bagi si petugas bandara yang jadi kesal, kan sayang sekali.

Banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari peristiwa peristiwa kecil sekalipun. Minimal saya jadi tahu bahwa baiknya jangan bawa barbell ke bandara. Atau kalau misalnya sudah mentok, kita harus terus percaya diri dengan ilmu yang kita miliki untuk menyelesaikan masalah kita. Dan, mungkin penting juga untuk menjaga adab saat terjadinya konflik tersebut. Sherin, dalam ceritanya, mengatakan bahwa ia telah berbahasa dengan ramah dan tidak berteriak teriak (walaupun substansinya tajam sekali)

Atau bahwa Sherin dan si petugas bandara pun bisa meninjau lagi kebijakannya atau hujjahnya, karena ketika hampir semua benda bisa dikatakan berbahaya kalau dipaksakan, konsekuensi a contrario-nya adalah bahwa semua benda bisa dikatakan tidak berbahaya kalau dipaksakan. Di mana batasnya? Di sini memang sulit, dan terkadang memang harus sami’na wa atha’na kalau dengan petugas Negara. Kita tidak selalu setuju dengan hukum penguasa, tapi jika semua argument didengar dan setiap kasus terbuka untuk perdebatan langsung di tempat tanpa mekanisme review, akan terjadi disorder yang bertentangan dengan tujuan hukum yaitu membuat ketertiban. Semua orang hukum paham ini.

 

Conference Paper: Hukum Cambuk Aceh vs Convention Against Torture

 

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Alhamdulillah paper saya berjudul “Lashing in Qanun Aceh and the Prohibition Against Torture and Cruel Treatment in the Convention Against Torture” diterima dan siap dipresentasikan di Aceh Development International Conference 2017 (IIUM, 24-26 Maret 2017).

Paper ini adalah sepotong dari penelitian yang didanai oleh Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (PPM FH UGM), yang mana ini adalah penelitian tim. Saya bertindak sebagai ketua tim, lalu ada Dian Agung Wicaksono (Departmen Hukum Tata Negara), Ola Anisa Ayutama (Mahasiswa S2), dan Almonika Cindy Fatikasari (Mahasiswa S1) sebagai peneliti anggota, dengan judul asli penelitian: “Hukuman Cambuk Sebagai Implementasi Syariat Islam pada Qanun Aceh dalam Perspektif Konstitusi dan Convention Against Torture”

Berikut saya upload versi final dari paper tersebut, silahkan diklik di sini untuk versi bahasa Inggrisnya.

Alhamdulillah telah tersedia versi terjemahan bahasa Indonesia dari paper tersebut, silahkan klik di sini untuk versi bahasa Indonesianya.

[NEW EDIT !!!] Mohon juga mendownload ini : ‘Klarifikasi Catatan Tambahan Terhadap Paper Ini!’ (dokumen ini bahasa Inggris dan Indonesia), amat sangat penting sekali untuk dibaca setelah membaca papernya.

Di bawah ini saya cantumkan abstraknya :

ABSTRACT

While considered archaic to some, the Islamic Sharia applies lashing as punishment for a number of penal offences. Aceh is a special province in Indonesia with the privilege to apply some level of Islamic Sharia. Among them is to apply lashing as punishment for crimes such as fornication, gambling, consuming alcoholic beverages, and many others. Some have criticized this punishment as a violation of the prohibition against torture and cruel treatment. This article will explore the relevant sources of international law and examine whether or not such a claim is true. It will be found that the Islamic Sharia version of lashing as applied in Aceh does not violate this prohibition, except in a very narrow minded view of international law.

————————————–

Catatan: saya ucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan peneliti saya, juga reviewer Dr Jaka Triyana beserta Ketua dan Sekretaris Unit PPM yang menjabat saat itu, yaitu Bapak Pitaya (almarhum) dan Ibu Agustina Merdekawati.