Legend of Legend: Chapter III – The Scherduke

Finally, here goes the new chapter of Legend of Legend! I hope you like it ^_^

———————————————-

CHAPTER 3

THE SCHERDUKE

Setelah cukup lama menempuh perjalanan di atas kereta kuda bersama Pangeran Andry, menembus hutan-hutan, menaiki bukit dan menuruni banyak lembah, melewati padang rumput, berpapasan dengan beberapa orang atau hewan liar, mereka tiba dekat perbatasan El-Peso. Matahari tampak sudah akan terbit, ditandai oleh mulai terangnya ufuk timur, sehingga cakrawala tampak indah dan romantis. Sebetulnya bisa jadi mahakarya fotografi yang amat fantastis, tapi sayangnya kamera belum ditemukan pada zaman ini (J).

Perbatasan sebetulnya hanya berupa patok-patok tipis yang berderet rapi, tapi tampak jelas sebab ratusan prajurit berzirah kuning berjajar di depannya. Begitu sudah berjarak sekitar lima meter dari perbatasan, seorang pemuda dengan zirah yang lain sendiri, hitam, mendekat ke kereta kuda yang berhenti. Pemuda ini sebetulnya tampak lugu dan kekanak-kanakan, tapi dari ekspresinya, jelas ia sangat khawatir. Ia memandangi Andry dan Marino secara bergantian selama beberapa saat, lalu menatap dengan ngeri isi kereta kuda.

“Anda dari mana saja? Seluruh istana kalang kabut mencari Anda sampai surat anda ditemukan. Pasti Anda bermaksud menaruhnya di atas meja ruang tengah, tapi jatuh ke kolong sehingga sulit ditemukan. Oh, apa yang terjadi pada mereka? Apa yang terjadi pada keempat Scherduke ini? Dan…siapa pemuda ini?” si pemuda tadi berkata dengan nada panik.

“Sudahlah, saya tak apa-apa, terima kasih pada pemuda ini. Dia baru mengalahkan empat ninja, lho. Ayo ke istana. Akan kuceritakan di sana,” kata Andry, tapi ia baru ingat untuk memperkenalkan Marino pada pemuda itu. “Oh, ya. Kalian berdua harus kenalan dulu. Marino, ini Jendral Mouschelle Pavatov, komandan Shark Batallion. Mouschelle, ini Marino Obelos,” lalu Marino menjabat tangan Pavatov dengan ceria meski wajah Pavatov tampak agak ragu. Mereka mulai berjalan melewati kota dan perumahan El-Peso. Setelah sekitar satu jam berjalan, mereka tiba di istana. Kereta kuda diambil alih oleh beberapa prajurit. “ Tolong makamkan mereka sebagai pahlawan, di Albertomb,” kata Andry.

“Apa itu?” tanya Marino.

“Pemakaman pahlawan. Nah, itu ayahku.” lalu dari gerbang istana keluar seorang pria yang amat mirip dengan Andry, hanya saja sudah sangat tua dan jenggotnya mulai berwarna keputihan. Dari raut wajahnya terpancar kebijaksanaan.

“ Darimana saja? Aku tak peduli kau ke mana tapi kau harusnya lapor SECARA LISAN. Jangan cuma meninggalkan surat begitu saja. Ayo ke dalam, ceritakan semuanya padaku dan perkenalkan pemuda ini padaku. Jarang kau ajak seseorang ke istana tanpa undangan resmi. Pasti dia istimewa. Ayo.” Walau jelas marah, nada bicaranya begitu tenang dan bijak. Setelah melewati gerbang istana, Marino melewati lorong besar yang tiap lima meter dijaga sepasang prajurit berzirah kuning. Dindingnya dari keramik bermotif bebatuan, sedangkan lantainya dari marmer dan berwarna putih indah, hingga tampak seperti ada air di bawahnya.

Akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan besar yang berpintu tujuh. Di sini tiap pintu dijaga satu prajurit dengan zirah sama, namun warnanya beda, yaitu hijau terang. Jelas mereka merupakan anggota pasukan Scherduke. Ini pasti ruang pertemuan raja. Marino dipersilahkan duduk di sebelah Andry. Sang pria tua tadi duduk di hadapan mereka. Seorang wanita bergaun putih dari atas ke bawah mengantarkan tiga cangkir dan satu poci besar berisi teh manis berkualitas tinggi. “Nah, aku ini adalah Gelardi Kaperpasky,” dia melirik Marino sebentar lalu melanjutkan bicaranya, “dan sekarang kau cerita apa yang kau lakukan,” lalu Andry menceritakannya. Mulai dari idenya untuk memata-matai pasukan Devilmare yang mengepung Roxis, serangan para ninja, kematian pasukannya, dan hingga akhirnya bagaimana Marino menyelamatkannya, dan mengalahkan empat ninja.

“Anak ini mengalahkan empat ninja? Dan dari semua yang kau ceritakan, anak ini memang pantas untuk mendapatkan Hak Posting. Namanya siapa sih?” tanya Gelardi.

“Dia bernama Marino. Marino Obelos. Jadi, kurasa ada baiknya kita panggilkan…,” Andry mengedipkan sebelah matanya. Marino mulai paham, tapi belum tahu tepatnya. Gelardi mengangguk. Ia membisiki sesuatu pada seorang pengawal yang duduk di sebelahnya yang kemudian pergi. Setelah beberapa saat, Gelardi menyuruhnya menghadap ke belakang.

Ada seorang wanita di sana. Marino, seperti kebiasaannya, selalu menatapnya dari bawah sebelum melihat wajahnya. Dia memakai celana panjang hitam, di perutnya ada ikat pinggang lebar berwarna merah, memakai semacam jaket. Di tengah dadanya tergantung sebuah kalung panjang yang ada bandulnya. Akhirnya ia melihat wajah wanita ini. Dia cantik sekali, namun yang membuat Marino senang adalah… rambutnya merah, persis seperti rambutnya sendiri. Panjang rambut wanita itu sebahu.

“ Marissa!!!” seru Marino lalu berlari memeluk kakaknya itu. Marissa tak berkata apa-apa tapi air mata mengalir dari matanya. “Kau darimana saja?” tanya Marissa di sela tangisnya. Mereka terakhir bertemu saat Marino dan ketiga temannya berusia sembilan dan pergi merantau. Yang ia sesali adalah, bahwa ada sesosok orang yang tidak bisa diingat olehnya. Entah siapa itu. “Aku kangen sekali padamu, Dik,” Marissa memeluknya begitu erat.

“ Kau bisa mengajaknya tidur di kamarmu dulu. Nanti akan dicarikan satu kamar untuknya. Ia perlu banyak istirahat, sebab ia akan di-Posting,” kata Gelardi. “ Jangan cari kamar untuknya, paduka, biar dia di kamarku saja.” lalu Marissa menarik lengan Marino keluar dari ruangan itu, melewati lorong-lorong, dan akhirnya tiba di depan sebuah pintu bertuliskan “0007”. Selain angka tersebut, ada tulisan berbentuk norak, yang bacaannya ‘Marissa’. Dengan penuh gaya, Marissa membuka gagang pintunya, dan Marino tertegun melihat isinya. Semua sangat rapi dan berwarna serba biru.

“Kakak belum banyak berubah,” puji Marino saat masuk ke dalam. Marissa hanya tersenyum, dan dengan kekanak-kanakan ia melompat ke atas kasurnya.

Kakaknya ini hanya berusia setahun lebih tua darinya, yaitu enam belas. Tempat tidur itu cukup luas untuk tiga orang, sebetulnya, dan Marino duduk di sebelah Marissa yang sedang merapikan kembali jasnya. “Aku pindah kemari dan cari kerjaan di istana dua tahun setelah kau pergi. Ternyata aku dapat Posting, dan berhasil mencapai Letnan saat itu. Dan karena memenangkan berbagai pertempuran penting, aku sering naik pangkat mendadak. Kau bagaimana?” lalu Marino menceritakan kisahnya. Mulai dari saat ia kerja pada Rafdarov hingga ledakan itu. “Bagaimana kau bisa sampai kerja pada Rafdarov?” tanya Marissa. Nah, ini dia. Marino sama sekali tidak ingat bagaimana ia bisa sampai ke Devilmare. Entah. Yang ada hanya sedikit kilasan-kilasan klise yang tak jelas maupun beraturan. Hanya ada bayangan dia dan empat orang temannya, yaitu Daffy, Adin, Eko, dan…

“Tidak ingat. Sama sekali tidak ingat.” gumam Marino dengan menyesal. Rasanya memori itu sudah ada di ambang otaknya, tapi tetap saja ia tidak ingat. Ah, sudahlah, pikirnya. Pikirkan yang lebih penting saja dulu. Posting, kedengarannya sangat berat. “Kau di sini saja, aku masih banyak tugas. Kalau mau makan kau ke dapur saja dan katakan siapa kau. Aku akan bilang ke Koki bahwa kau akan ke sana supaya urusannya mudah,” kata Marissa.

Setelah itu, Marino tidur, merebahkan diri di kasur yang sangat empuk itu. Enak sekali, pikirnya, sebab kantuk dan lelahnya terpuaskan. Seketika itu juga dia tertidur, dan ia terbawa ke alam mimpi. Ia mimpi yang amat indah. Ada seorang wanita yang amat sangat cantik. Rambutnya keperakan, lurus sepanjang punggung, hanya setinggi hidung Marino.

Dia sangat cantik, sepintas Marino berpikir begitu, tetapi tiba-tiba pikiran lain terlintas di benaknya. Apakah betul pernah ada dan diciptakan seorang wanita manusia yang secantik dan sesempurna ini? Betulkah ini manusia. Wanita itu memakai armor dada yang tampak seperti bikini. Di kaki dan tangannya terdapat beberapa pelindung besinya.

Tangannya mendekati pipi Marino. Marino ikut mengangkat tengannya, ingin menyentuh tangan wanita itu, ia mau membuktikan bahwa ia tidak bermimpi, sementara tangan wanita itu makin mendekati pipi Marino dengan perlahan, lalu wanita itu…

Mencubitnya. “Hoeeee, bangun!” Marissa-lah yang mencubit pipinya. “Kok belum makan? Cepat kau ganti baju. Ini aku bawakan. Eh, aku juga masih ada tugas. Sampai nanti,” kata Marissa lalu pergi. Marino duduk sejenak, berusaha, antara berusaha bangun sepenuhnya, dan berusaha berpikir. Mimpinya itu, siapa wanita itu? Mengapa rasanya penting sekali mengingat rupa wanita itu. Tapi tak perlu berusaha, wanita itu tampak jelas sekali di benaknya. Setelah agak lama, ia berdiri dan berganti pakaian. Kini ia memakai baju berwarna putih dan celana panjang hitam. Sekarang ia baru merasa lapar. Segera saja ia keluar dan mencari arah dapur. Beberapa orang ia tanyai untuk menemukan dapur.

Ternyata dapur terletak cukup jauh di sayap barat kastil. Di sana tak tampak banyak orang, sebab sudah sore. Jarang ada orang yang makan sore hari. Baru tiba di dapur, ia disambut oleh seorang koki, jelas karena bajunya yang khas dan di suruh duduk. Tak lama ada orang yang membawa dua porsi makanan. Sang koki duduk di depan Marino, makanya ada dua porsi di situ. “Apa kau tak keberatan?” tanya si koki. “Oh, silahkan.” Marino mempersilahkan. Sambil makan, mereka mengobrol. “Aku ini Schwartzegan, kepala koki. Enak sekali lho, kerja di sini. Kau adiknya Marissa, bukan? Banyak yang mau memilikinya. Ia cantik sekali. Tapi yang beruntung cuma Vargas. Ada gosip yang sedang beredar. Kau tahu?” tanya Schwartzegan.

“Tidak. Aku baru tiba. Gosip apa itu? Baikkah?” tanya Marino penasaran. Si koki mendekatkan wajahnya dan memelankan suaranya. “Katanya Marissa pernah tidur dengan Vargas. Seorang penjaga pernah melihat Vargas masuk ke kamar Marissa suatu malam dan baru keluar lagi keesokan harinya, tapi kabar ini belum jelas kebenarannya. Tapi ada satu yang jelas dan banyak yang melihat. Di sini, tepatnya, mereka sedang makan berdua, dan Vargas menciumnya,” dia tak meneruskan bicaranya. Seorang pria berbadan besar dan tegap duduk tidak jauh dari tempat Marino. Rambutnya pirang sepanjang leher, dan dibelah tengah. Ia berkumis dan berjanggut tipis. Ia memesan segelas teh dan kue. “Itulah Peter Vargas. Komandan Scherduke El-Peso,” bisik Schwartzegan.

Setelah makan, Marino kembali ke kamar. Di sana ia berbaring lagi. Saat itulah Marissa masuk. “Postingnya besok. Tidurlah lagi,” katanya lalu Marino berusaha tidur lagi, tapi tak bisa. Marissa yang sedang berganti baju dengan gaun tidur menanyakan sesuatu. “Kau mau jadi pangkat apa?” Marino berpikir sejenak. “Kau harus bilang mau jadi apa, lalu kau akan di tes untuk jadi itu, dan kalau gagal, kau tak boleh beralih ke pangkat yang lebih rendah, tapi harus ikut dari pangkat terendah. Ayo katakan, sebab harus kulaporkan sekarang.” lalu Marino memutar otak lagi. Kalau ia minta yang tertinggi, akan bangga kalau lulus, tapi… apa tidak terlalu nekat? Kalau ia minta yang agak rendah saja, pasti tak terlalu sulit, tapi apa tidak agak memalukan. Hanya satu ide yang didapatkannya, yaitu perwira scherduke.

“Betulkah? Wah, kau berani juga. Baiklah, akan kulaporkan,” kata Marissa yang sudah memakai gaun tidur. Ia pergi lagi. Dan tak kembali hingga larut malam, bahkan sampai pagi. Marino pergi menuju aula besar, dan melihat Marissa dan Vargas sedang bersembunyi di sudut salah satu lorong, dan di balik sebuah pot yang berisi tanaman yang sangat lebat. Entah apa yang mereka lakukan. Di aula, Andry sudah menanti. “Sebentar lagi, kau akan di posting. Prajurit khusus? Baiklah, berarti jendral Vargaslah yang harus mengujimu. Katanya dia disiplin sekali. Jaga sikap ya,” kata Andry. Saat itu Vargas dan Marissa datang. “Marino, ini Peter Vargas, Jendral Komandan Scherduke El-Peso. Karena kau mau jadi pasukannya, maka dialah yang akan mengujimu. Aku sudah cerita banyak tentangmu padanya semalam, dan…,” tapi Marino menyelanya.

“Semalam?” tanyanya, dan Vargas melotot pada Marissa. “Eh, pokoknya kau harus berusaha sangat keras. Seleksi tidak mudah sama sekali, apalagi posting. Jarang yang nekat posting dan memilih tes pasukan khusus. Ia tak akan melonggarkan sedikitpun tesnya walau kau adikku dan aku sudah memintanya dengan berbagai cara,” kata Marissa buru-buru. “Tak apa apa. Toh aku tak mau lulus seperti itu,” sahut Marino, dan Vargas tersenyum. “Katamu barusan akan menjadi salah satu bahan pertimbanganku. Sekarang kau ke lapangan belakang sayap barat, dan tunggu aku di sana. Aku mau… bicara dulu dengan Marissa. Bawa juga senjatamu,” lalu segera saja Marino pergi ke kamar dan mengambil senjata kembarnya yang ia namakan twin blade.

Setelah itu, langsung ia pergi ke lapangan. Vargas sudah di sana. Marissa duduk di pinggir. “Maaf, agak tersesat tadi,” kata Marino. “Tak apa. Nah, pertama kau harus tahu salam Scherduke. Letakkan senjatamu di tanah, dan mendekatlah,” dengan santai Marino menjatuhkan kedua senjatanya dan mendekat ke Vargas, yang tiba-tiba meninju perutnya. Rasanya sangat pedih, apalagi Marino belum siap. Tapi ini baru salam. Setelah berpikir sejenak, ia juga memukul perut Vargas, yang ternyata sekeras besi, padahal ia tak memakai Armor, melainkan baju dinas seperti milik Marissa. “Kau cepat paham. Jarang-jarang ada yang paham, tapi kau harus bisa menerima salam ini. Nah, yang kedua…,” ada tiga prajurit berzirah hijau datang. ”Posting?” tanya salah satunya. “Ya,” jawab Vargas. “Aku mau nonton,” mereka duduk di sebelah Marissa. “Kau lihat bak pasir itu?” tanya Vargas menunjuk sebuah tempat yang isinya pasir semua, seperti jalur lari. “Aku lihat,” jawab Marino.

“ Alton, tunjukkan,” kata Vargas dan salah satu prajurit zirah hijau tadi berdiri, lalu berjalan menuju jalur lari berisi pasir itu. Panjangnya sekitar lima puluh meter. Setelah prajurit itu masuk, kakinya terbenam pasir hampir setinggi lutut. Wah, pikir Marino, pasti berat sekali. Tapi rasanya tak masalah, sebab stamina Marino begitu jauh di atas rata-rata. Prajurit tadi berlari dari ujung ke ujung jalur lari itu. Dia berlari dengan kecepatan yang tinggi, dan pasir yang tinggi tak begitu menghalanginya. “Satu kali bolak balik dihitung satu,” kata Vargas pada Marino. Prajurit tadi sudah melakukan lima kali bolak balik dan belum tampak lelah. Marino sampai geleng-geleng. Tapi, Marino sampai menganga saat melihat prajurit itu sudah empat puluh kali bolak-balik, dan masih belum tampak lelah, bahkan kecepatannya belum berubah.

“Cukup,” kata Vargas lalu prajurit itu duduk kembali di sebelah Marissa. “Nah, setidaknya kau harus melakukannya sama dengan jumlah yang ia lakukan tadi,” kata Vargas. Marino berpikir dulu, dan akhirnya bertanya. “Kalau aku mulai dari luar bak tidak apa apa, kan? Aku tetap akan melewati jalur pasir,” Vargas mengangguk, ”Boleh, malah bagus, kalau dihitung-hitung lebih jauh, tapi rasanya aku tahu apa yang mau kau lakukan. Tapi tak apa apa.”

Marino mengambil ancang ancang dua meter dari ujung jalur pasir, di mana lantainya batu, lalu berlari cepat. Karena kecepatan dan tekniknya, saat ia melewati pasir, kakinya hanya sedikit sekali terbenam ke dalam pasir. Karena tubuhnya ringan ini tak terlalu sulit, tapi resiko terjatuh karena hilang keseimbangan sangat besar. Sepuluh kali, dua puluh, tiga puluh, ia mulai lelah, dan kakinya mulai terbenam di pasir kalau melewati jalur, tapi ia memasang strategi yang bagus. Setelah melewati jalur, ia berlari terus ke tanah berbatu, sekitar sepuluh meter dan menurunkan kecepatan larinya. Ini untuk menghemat tenaganya, lalu kembali sprint ke arah jalur lari dengan cara semula, hingga akhirnya dia berhasil melakukan empat puluh tiga kali. Setelah itu, ia berhenti. Ia sangat lelah.

“Cerdik sekali. Sangat cerdik. Itu jelas akan kupertimbangkan. Anggota Scherduke tak boleh cuma punya otot. Nah, sekarang kau harus lari keliling lapangan ini sebanyak dua puluh kali,” kata Vargas. Marino terkejut. Ia sudah sangat lelah, tapi ia harus terus. Dengan kecepatan rendah namun konstan, ia mengelilingi lapangan yang kelilingnya hampir delapan ratus meter itu. Akhirnya ia berhasil. “Bagus, kini kau boleh istirahat setengah jam,” kata Vargas. Langsung saat itu juga Marino menjatuhkan diri ke rerumputan di dekatnya.

Setelah setengah jam, Vargas memanggilnya. Di tangannya ada sebuah keranjang besar. Isinya dua potong roti besar, kira kira sebesar betis orang dewasa, sepotong daging panggang yang besar pula, dan seteko air. “Kalau di medan perang, makan tidak boleh lama. Kau punya sepuluh menit untuk menghabiskan semuanya. Mulai sekarang.” kata Vargas, lalu Marino mulai makan. Ia tentu sangat lapar, selain karena ujiannya, ia juga belum makan pagi. Awalnya ia makan dengan cepat. Dalam lima menit roti pertama habis dan roti kedua sudah dimakan seperempatnya. Dagingnya juga tinggal setengah. Tapi, setelah itu, ia mulai kenyang dan mual. Tapi ia terus memaksakan diri. Ia memakan sisa roti dan daging sedikit-sedikit tapi cepat. Daging sudah habis, roti tinggal seperempat, dan waktu tidak sampai dua menit. Marino dapat ide. Ia membasahi rotinya dengan air sehingga tak perlu dikunyah lama, bahkan bisa ditelan langsung. Ia berhasil menghabiskannya sekitar lima detik sebelum waktu habis. “Bagus, kini kau istirahat lagi lima belas menit,” kata Vargas.

Setelah istirahat, Vargas meletakkan sesuatu di ujung lapangan, dan Marino disuruh menunggu di ujung satunya.  Setelah itu, muncul puluhan prajurit bertongkat dan lima orang menempati tiap lima meter dari ujung ke ujung. “Ambil pedang di ujung sana dan jangan sampai di dadamu ada noda merah. Ujung tongkat mereka berisi cat merah. Kau tak boleh menyerang mereka. Nah, mulai,” lalu Marino berlari kencang. Ada dua puluh lapis pertahanan yang harus ia lewati. Ia amat mahir berlari dengan kecepatan maksimal dan tiba-tiba belok dengan sangat tajam tanpa mengurangi kecepatan, dan ini membantunya untuk melewati banyak prajurit. Terkadang ia melompat tinggi sambil salto untuk melewati mereka dari atas. Karena begitu gesit, para prajurit tak berhasil mengenainya. Akhirnya ia berhasil. “Sekarang ujian yang terakhir. Lihat ke seberang,” kata Vargas. Di ujung lapangan yang lain, puluhan pemanah berjajar. “Tak perlu khawatir, panah mereka juga berujung balon cat. Tugasmu cuma seberangi lapangan tanpa kena cat. Cat di kaki tak apa-apa asal cuma cipratan dari panah yang kena lantai. Tujuh meter dari ujung sana sudah jarak aman dan mereka tidak akan memanah lagi. Mulai!”

Marino berlari sekuat tenaga menyebrangi lapangan. Semua panah mengarah padanya, tapi Marino seperti sebelumnya berlari cepat dan sering tiba-tiba berbelok dengan tajam. Berkali-kali ia hampir kena, tapi selalu saja ia bisa menghindarinya. Ia terus berlari hingga akhirnya ia mencapai zona aman. Ia berhasil.

Ujian-ujian berikutnya adalah permainan catur (dia berhasil mengalahkan seorang kapten Scherduke), pelatihan sekaligus uji strategi mikro (taktis lapangan) dan makro (organisasi perang), dan lain sebagainya hingga seminggu lamanya. Setelah ia selesai menempuh semuanya, Vargas mendekatinya. ”Kau telah berhasil menempuh semua ujian, tapi berhasil melaksanakan bukan selalu berarti lulus. Kau gagal semua pun belum tentu kau tak lulus dan berhasil semua juga tak jaminan lulus. Yang ku nilai adalah proses. Nah, kau boleh pergi sekarang dan nanti setelah makan malam pergilah ke aula depan. Akan ku umumkan hasilnya,” lalu ia pergi begitu saja diikuti ketiga prajurit tadi. “Kau luar biasa. Kalau menurutku kau akan lulus. Nah, apa rencanamu?” tanya Marissa yang datang. “Aku mau lihat-lihat,” kata Marino.

Ia pun berjalan-jalan mengelilingi istana. Setelah lama berjalan-jalan, ia akhirnya tahu letak gudang, ruang-ruang raja, blacksmith – bagian persenjataan, dan area-area baru yang penting lainnya. Penjelajahannya berakhir dengan mampirnya dia di dapur. Di sana ia disuguhi makanan yang lezat, yaitu roti, sup ayam, dan anggur. Setelah tegukan anggur yang terakhir, ia mengucapkan terima kasih pada koki lalu pergi ke aula. Di sana, ia amat terkejut. Seluruh pasukan Scherduke El-Peso telah berbaris rapi di sana. Paling depan, Vargas tentu, pasukan terbagi tiga, dan di depan dua bagian, ada satu orang yang di depan, yaitu Kolonel. Tapi pertiga pasukan yang terakhir tak memiliki Kolonel…

“Kau lulus. Selamat bergabung.” kata Vargas dan meninju perut Marino. Marino sudah siap kali ini, dan membalasnya. Tapi, dia tetap belum siap untuk yang ini. Seluruh pasukan kini berbaris untuk memberikan salam padanya. BAK! BUK! BAK! Setelah semua selesai menyalaminya, mereka pergi semua lalu Vargas mendekati Marino. “Kau ke ruang strategi sekarang juga. Ada sesuatu yang perlu dibicarakan denganmu,” dan saat itu juga mereka berjalan menuju ruang strategi. Dengan tegang Marino berjalan mengimbangi langkah Vargas yang cepat. Ruang strategi memiliki pintu besar merah, dan dijaga oleh Scherduke. Di dalam telah menunggu semua jendral, Andry, dan Gelardy.

“Pertama-tama saya harus sampaikan padamu sesuatu yang penting. Jangan sombong karena ini, tapi kukatakan saja padamu bahwa dalam ujian posting kemarin kau berhasil dengan begitu luar biasa. Nilaimu jauh di atas standar. Keadaan ini ditambah dengan situasi membuat kami memutuskan sesuatu. Situasinya begini,” Vargas menjelaskan, “tahukah kau bahwa aku ini baru saja naik jadi komandan?” Marino menggeleng.

“Nah, itu masih sangat baru, yaitu beberapa hari sebelum kau datang. Itu disebabkan karena kematian sang komandan yang lama yang tiba-tiba. Jantungnya tiba-tiba berhenti. Oleh sebab itu aku naik. Masalahnya, regimenku juga masih belum lama dan semua kaptennya juga masih belum begitu lama dengan kemampuan yang dibawahmu, walaupun mereka sudah ada hampir setahun pengalaman. Dengan itu, kami bermaksud untuk memberikan jabatan itu kepadamu,” kata Vargas yang membuat Marino kaget.

“Semua anggota pasukan dan aparatur kerajaan telah membahasnya, dengan nilai posting dan pengalamanmu sebagai pertimbangan utama. Hasil postingmu cocok untuk seorang Kapten, tapi keadaan membutuhkan promosi pada Kolonel. Semua setuju, tapi tak mungkin dengan begini saja kau jadi Kolonel Scherduke El-Peso? Maka dari itu, kami mau mengujimu lebih lanjut sebagai seorang pemimpin. Situasi juga mendukung. Sebuah desa petani di perbatasan Lenny-El-Peso akan di serang pasukan Devilmare. Mereka sudah bergerak dengan pasukan gelombang pertama sejumlah sekitar lima ratus orang dan kita sudah tak mungkin tiba tepat waktu. Namun mereka hanya mau merebut desa itu. Tugasmu adalah merebutnya kembali. Kau boleh memimpin tiga ratus prajurit dari Shark Batallion,” kata Vargas.

“Cuma tiga ratus? Yang benar saja!” Marino tersentak. “Maka dari itu, kami mau menguji strategimu. Untuk jaga-jaga, Shark Batallion akan bersiaga di desa Vittonity, yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari sana, untuk jaga-jaga kalau kau dilibas. Jika berhasil, jagalah desa itu dari serangan gelombang kedua, mungkin ada, dan kita belum tahu. Nah, sekarang kau ke ruang Blacksmith untuk mengambil armormu, dan juga senjata. Kau boleh memakai armor Scherduke. Setelah itu, langsung ke lapangan untuk temui pasukanmu. Aku tak mau kasih tahu, tapi kau harus tahu apa yang mau dilakukan dengan mereka. Jadi, kau tunggu apa lagi?” lalu Marino segera pergi ke blacksmith.

Ruangannya cukup besar, penuh senjata, armour, dan sangat panas sebab ada tungku dan peralatan pahat besi yang besar dan banyak. Tak ada siapapun di sana. “Halo? Ada orang di sini?” gumam Marino, dan sebuah wajah besar muncul dari balik tungku. Lalu dia berdiri. Badan orang itu besar sekali, dan sangat kekar. “Kau yang posting itu, ya? Berarti kau butuh zirah hijau. Kau harusnya bangga dapat zirah ini. Mau senjata apa?” tanya si pandai besi setelah menurunkan sebuah set zirah hijau. “Tak usah. Sudah punya. Tolong asah dan perkuat saja. Sebentar,” lalu Marino lari ke kamarnya untuk mengambil senjatanya. “Unik sekali. Di mana kau dapat? Oh, ya. Namaku Ogg. Kau pasti Marino, adiknya Jendral Marissa. Eh, dia cantik sekali lho. Tapi dia sudah punya Vargas. Eh, omong-omong…,” dia memeriksa senjata Marino dengan amat teliti, “Ini sudah ketajaman maksimal. Dapat dari mana? Ini sudah luar biasa! Sebaiknya dilapisi, supaya lebih putih. Jatahmu kalau mau lapis cuma titanium, baja, dan tembaga. Yang terkuat adalah titanium, padahal ini sudah titanium. Wah, pasti tambah kuat nih,” gumam Ogg.

“Tapi tak akan tumpul, kan?” tanya Marino pada Ogg yang mulai memahat dan melapisi senjata Marino dengan cairan kental keperakan. “Tentu tidak. Percaya saja pada kemampuanku. Ketajaman takkan berubah sedikitpun… Nah, ini sudah. Selamat berjuang, ya!” kata Ogg. Setelah itu, Marino mengucapkan terima kasih dan pergi menuju lapangan. Tapi sebelumnya dia memakai zirahnya. Rasanya ada yang salah dengan zirah kakinya.

Di lapangan, ada tiga ratus orang berzirah kuning dan sedang kacau. Ada yang mengobrol, ada yang jalan-jalan, tapi Marino tahu apa yang harus dilakukan… Mungkin… Tapi harus dicoba. Marino berjalan ke hadapan mereka semua. “ SIAAAP!!!” teriaknya dengan suara lantang dan berhasil. Pasukan yang sedang kacau dan hiruk-pikuk itu sedetik kemudian sudah dalam barisan yang amat rapi. Marino tak tahu bahwa Gelardy mengawasi dari kejauhan. “Sudah ada yang kenal saya? Satu maju sebagai perwakilan,” perintah Marino dan seseorang maju. “Marino Obelos, lima belas tahun, lulus Posting untuk jadi perwira Scherduke,” kata prajurit yang maju itu. “ Tahu dari mana?” dan dijawab oleh orang yang tadi, “Kami sudah diberi tahu.”

“Baiklah, kalau begitu kita langsung saja ke misi kita. Saya jelaskan situasinya. Sebuah desa petani di perbatasan Lenny-El-Peso akan di serang pasukan Devilmare. Mereka sudah bergerak dengan pasukan gelombang pertama sejumlah sekitar lima ratus orang dan kita sudah tak mungkin tiba tepat waktu. Tugas kita adalah merebutnya kembali. Tapi, kita kalah jumlah dengan mereka. Jadi ada strategi khusus yang harus kita lakukan. Ada yang tahu desa itu menghasilkan apa? Kan desa petani?”

Seorang prajurit yang jangkung maju, “Mereka menghasilkan gandum dan anggur.”

Mendengar ini, Marino dapat ide. “Anggur, ya? Devilmare dan pasukan manapun punya kebiasaan meminta paksa dan menghabiskan apa saja yang ada. Kalau anggur, jelas mereka suka, dan… akan membuat mereka mabuk. Kita menyerang saat mereka mabuk!” serunya disambut para prajurit. “Tapi supaya efektif, kita harus pasang taktik lain. Nah… desa ini ada di utara El-Peso. Begini. Kalian akan di bagi tiga, jadi pasukan A, B, dan C. Pasukan B bersiaga di timur desa, dan C bersiaga di arah sebaliknya. Jangan terlalu jauh dan jangan terlalu dekat. Asal masih jarak pandang saja. Pasukan A, serang dari selatan. Mereka hanya akan terfokus pada pasukan A dan saat itulah pasukan B dan C menyerbu bersamaan menunggu isyaratku. Aku sendiri akan ikut pasukan A. Mengerti? Kita akan melakukannya malam ini. Ada yang tahu kenapa?” pancing Marino.

“Karena menurut perkiraan, sore ini mereka tiba, dan malam ini, jelas mereka sedang besar-besarnya merayakan kemenangan mereka atas desa itu, dengan minum anggur dan… dan seks. Wanita setempat pasti akan diperkosa. Itulah ciri pasukan Devilmare yang tak banyak dimiliki oleh pasukan lainnya. Saat itulah sebaiknya kita lakukan. Berhubung sekarang sudah malam, kita lakukan sekarang. Istirahat setengah jam, lalu berangkat. Ada pertanyaan atau keberatan?” tapi semuanya hening. “Kalau begitu, kalian laksanakan!” lalu semua bubar dan mempersiapkan diri.

Setengah jam berlalu, dan mereka semua sudah berbaris rapi di gerbang istana. “Berangkat! Sambil jalan, kita bagi tiga semuanya seperti rencana kita,” kata Marino. Lama sekali mereka berjalan. Setelah sekitar tiga jam, akhirnya mereka sudah bisa melihat desa sasaran mereka dari kejauhan. “Ingat, jangan lukai penduduk sipil. Berpencar dan tunggu isyarat,” perintah Marino, dan seketika itu semua mematuhinya. Marino dan pasukan A merayap perlahan menuju pintu selatan desa. “Bagus, mereka sedang mabuk dan tidur. Kita ini pengalih perhatian, jadi buatlah kegaduhan selama kita menyerang. Serbu!” dan pasukan A menyerbu ke depan dengan pekikan semangat yang membelah keheningan malam yang sedang di puncak kesunyiannya. Pasukan Devilmare terkejut sekali, bangun dan berlari menyongsong serangan Marino. Saat itulah Marino agak bergidik, sebab musuh kini lima kali lipat lebih banyak. Tapi Marino mengambil sebuah mercon kecil, menyalakannya, lalu menerbangkannya. Sebuah kilatan indah melintas di langit. Seketika itu juga pasukan B dan C menyerbu masuk. Betul betul cepat, sebab tak sampai satu jam, sebagian pasukan Devilmare telah habis, terkapar tak bernyawa, dan sisanya menyerah dan jadi tawanan. Bahkan tak satupun pasukan Marino tewas. Ini disebabkan oleh serangan yang begitu jitu dan mendadak, dan pasukan Devilmare belum betul-betul bangun. “Kau luar biasa. Kami semua mendambakan komandan sepertimu,” kata seorang prajurit, dan yang lainnya mengiyakan.

“Jangan senang dulu,” kata Marino, tapi akhirnya ia terpaksa senyum juga.

Seorang prajurit Scherduke baru saja tiba. “Semua anggota pasukan Shark Batallion pulang, dan Marino, pasukanmu yang sebenarnya telah tiba,” kata orang itu, dan dari kejauhan, tampak banyak prajurit berzirah hijau, ada sekitar seribu orang. Cuma segitu, tapi ini Scherduke. Senilai seratus ribu prajurit biasa, mungkin (^_^). “Kau lulus, dan kau kini jadi Kolonel III Scherduke El-Peso. Selamat menjalani misi pertamamu. Jaga desa ini,” kata sang Scherduke itu, dan memberikan sebuah armor tambahan untuk bahu yang berwarna perak, yaitu tanda Kolonel Scherduke. Pasukannya itu tiba juga, dan pasukan dari Shark Batallion tadi sudah pulang. Untuk pertama kalinya, dia mengadakan pertemuan dengan para Kapten di bawahnya. Fajar menyingsing menyambut kemenangannya… yang tak akan bisa semudah itu dipertahankan….

Matahari mulai sedikit mengintip dari ufuk timur, dengan sorot mata yang kemerah-merahan. Walau dengan sinar agak temaram, tapi cukup untuk menerpa pepohonan di balik perbatasan. Di sana berjajar tonggak-tonggak kayu, pohon-pohon yang lebat, tombak…

“Semua pasukan siaga!” teriak Marino, lalu segera saja semua prajurit Scherduke berbaris rapi menghadap arah datangnya musuh, membentuk formasi pagar tombak di satu-satunya jalan masuk ke desa. “Tinggalkan kota, dan kita maju setelah aba-abaku!” perintah Marino. “Tinggalkan kota? Tapi…,” seorang prajurit bertanya, dan Marino menatapnya tajam, membuatnya diam. Dari hutan perbatasan, berlarian ratusan prajurit Devilmare ke arah desa di mana Marino dan pasukannya berada. Mereka ada berkali-kali lipat lebih banyak. “Apa ini sudah kalian ketahui sebelumnya dan jadi bagian ujian?” tanyanya.

Marino, dan semua yang mendengarkannya menggeleng. “Baiklah… SERBU!!!” seluruh pasukan Scherduke yang ada di bawah pimpinan Marino ini maju. Mereka cuma ada sekitar seperempat atau sepertiga dari musuh mereka, tapi mereka tetap tidak gentar. Marino sendiri dengan senjata kembarnya dengan cepat telah berhasil menghabisi banyak musuh. Pasukan Scherdukenya mulai ada yang gugur. Saat melihat seorang gugur, sadarlah Marino bahwa ini bukan ujian dan ada yang aneh. Musuh yang sudah ada begitu banyak dan tiba-tiba datang lagi gelombang kedua, yang sekitar empat ratus orang.

Akhirnya perang dapat dimenangkan setelah dua ribu lebih prajurit Devilmare terbunuh dan dari pihak El-Peso kehilangan sembilan ratus orang secara keseluruhan. Tapi pasukan Marino cuma kehilangan sekitar seratus orang. Sisanya adalah rakyat desa yang mencoba membantu dan memang sangat membantu. Sisa musuh ada yang melarikan diri dan ada yang ditawan. Lima puluh lebih pasukan Marino mendapatkan senjata pemanah. Lumayan, sebab mendapat senjata jarak jauh. Saat itulah seorang prajurit tiba.

“Berita gawat. Istana dikepung dari selatan, barat, dan timur. Semua pasukan lain sedang sibuk bertempur di daerah-daerah tersebut. Anda diminta membantu Tiger batallion untuk menjaga daerah utara istana,” katanya.

“Tapi ini sudah di utara, dan serangan sudah di atasi,” protes Marino.

“Ini perintah raja, jadi… tolonglah,” kata si prajurit.

“Baiklah. Kita mundur ke ibukota dan jaga istana,” kata Marino.

Di perjalanan pulang, konvoi Marino berkali-kali mendapat serangan, walau ringan, dari pasukan Devilmare di desa-desa yang dilalui. Entah darimana mereka muncul. Mungkin diteleport oleh Jester. Menjelang sore, tibalah mereka di istana dan… mimpi buruk terjadi…

[End of Chapter III]

[Coming up next, Chapter IV: The Fire Spangled Banner]

One Trackback

  1. […] – Chapter III: The Scherduke […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*