Legend of Legends: Chapter VII — The Caliph

I now publish the 7th chapter. Enjoy ^_^

____________________________________________________________________________

CHAPTER 7

THE CALIPH

                Ia kini sedang berdiri di atas sebuah podium. Meissa, Black, dan Phalus berada di sampingnya, di hadapannya telah duduk ratusan orang, yaitu para tokoh masyarakat. Ia akan diperkenalkan pada mereka. Entah karena begitu tegangnya atau apa, keringat membasahi wajahnya. Marino tak memperhatikan apapun, kecuali langit-langit ruang pertemuan istana itu, tapi ia tahu bahwa Meissa sedang membacakan biodatanya. Asal, tanggal lahir, silsilah pekerjaan yang pernah ia dapatkan hingga sekarang. Para tokoh menyimak dengan seksama.

Forum tanya jawab dibuka, dan penanya pertama langsung menanyakan sesuatu, yang sebetulnya harusnya jadi pertanyaan penentu. “Nama saya Zealan Zalean dari desa Rampsodia. Saya mau menanyakan pertanyaan yang sangat mendasar, dan saya harap saudara Marino Obelos sendiri yang menjawabnya. Pertanyaan saya : Apa sebetulnya tujuan anda mencalonkan diri jadi Caliph, dan apa kelebihan anda yang kiranya mendukung anda untuk jadi seorang Caliph?” lalu orang itu duduk. Meissa mempersilahkan Marino menjawab.

“Begini. Mengenai tujuan saya jadi calon Caliph, saya kira ini sebetulnya tidak perlu ditanyakan, sebab jelas tujuannya adalah untuk menjadi seorang Caliph, bukankah begitu?” dan tawa menggelak riuh, Ia melirik ke Meissa yang tersenyum damai padanya seolah mengatakan ‘jawaban yang bagus’. “Pertanyaan kedua tadi, mengenai kemampuan saya, akan saya jawab. Tapi, saya mau koreksi sedikit pertanyaan anda. Tadi anda menanyakan tujuan saya mencalonkan diri sebagai Caliph. Sebenarnya, saya tidak mencalonkan diri, tapi dicalonkan. Jadi, tadi saya dicalonkan dengan tujuan menjadi Caliph, dan mengenai alasan atau kemampuan saya hingga dicalonkan, rasanya ini pertanyaan yang seharusnya tidak ditujukan pada saya,  tapi untuk yang mencalonkan saya. Tanyakan saja padanya,” jawab Marino. Langsung saja orang tadi berdiri kembali dan bertanya lagi.

“Kalau anda tidak tahu kemampuan apa yang membuat anda punya nilai lebih ketimbang yang lain, sehingga dicalonkan, bagaimana mungkin anda mengetahui alasan anda dicalonkan? Ini kan sama saja dengan tunjuk paksa!”

Marino langsung menjawab, ”Alasan atau kemampuan saya yang menjadi pertimbangan untuk dicalonkan, itu sebenarnya sederhana. Semua orang tahu apa yang dilakukan oleh seorang Caliph, dan saya baru mendapatkan kuliah merinci tentangnya. Saya tidak perlu merincinya, karena anda semua tahu jauh lebih dulu daripada saya. Sederhana. Para panglima merasa saya mampu melakukannya. Saya juga yakin.”

Ruangan riuh sejenak. Phalus maju dan berseru pada seluruh hadirin,”Apa saya perlu menjelaskan apa pertimbangan pihak istana sehingga mencalonkan dia?”

Seseorang berdiri, “Sebetulnya tidak, sebab rasanya kami cukup yakin, dengan jawaban jitu atas pertanyaan jitu tadi, saya yakin akan kemampuannya.”

Para tokoh masyarakat yang lain bertepuk tangan riuh tanda setuju.

“Tapi boleh juga, supaya kami tahu saja.” katanya lagi. “Baiklah, akan saya jelaskan. Tapi sebelumnya saya tekankan bahwa semua yang akan saya sampaikan adalah benar berasal dari rapat luar biasa pihak istana,” kata Phalus.

“Boleh saya pergi dulu?” tanya Marino. “Ini penting. Kenapa kau begitu?” tanya Phalus. “Dia takut sombong, tuh!” celetuk seorang hadirin, dan seluruh ruangan tertawa keras, membuat wajah Marino memerah.

“Silahkan, kalau begitu,” kata Phalus, yang juga berusaha menahan tawa.

“Aku mau ikut dengannya,” kata Meissa, lalu keduanya meninggalkan ruang pertemuan diiringi gelak tawa.

“Menurutku kau luar biasa. Kau berhasil membawa suasana. Pasti kau dulu pelawak yang sukses.” puji Meissa. Sekitar satu jam kemudian, Black keluar dari ruangan pertemuan. “Anak suci, pujian untukmu telah usai. Acara perlu dilanjutkan,” gurau Black, dan ketiganya masuk. Perjalanan Marino ke podium hening, khidmat, dan penuh aura yang sangat pekat dan kuat. Forum tanya jawab dilanjutkan kembali, tapi pertanyaan yang dilontarkan rata-rata merupakan pertanyaan santai dan bukan dalam rangka pro-kontra. Sesekali tawa melanda ruangan, tetapi semua terpuaskan. Tiga jam kemudian, acara ditutup, dan penutupan acara disambut dengan tepuk tangan yang sangat riuh.

“Semua yang hadir tadi merupakan para tetua daerah.” kata Black. “Aku yakin, bahwa sainganmu tidak akan berat,” kata Meissa. “Waktunya makan siang. Ayo kita ke ruang depan,” kata Rido yang baru saja tiba.

Semua aparatur negara telah tiba di ruang depan, tempat jamuan makan raksasa telah disiapkan. Kini mereka tinggal menunggu para tokoh masyarakat yang tadi hadir di acara publikasi Marino. Dari tadi mereka belum keluar. Rasanya ada persoalan khusus yang mereka bahas. Setelah menunggu cukup lama, mereka datang membawa sebuah gulungan kertas yang sangat tebal.

“Marino, bacalah keras-keras,” kata seseorang yang menyerahkan gulungan kertas perkamen itu. Ia membuka gulungannya dari atas. Dengan tegang Marino mengintipnya, entah akan ada apa di situ. Hujatankah? Tampak ada tulisan tangan berbunyi :

“Kami mewakili daerah-daerah utama di Crin’s Blade, menyatakan bahwa kami mendukung pencalonan Marino Obelos sebagai calon Caliph. Kami telah memberikan kepercayaan pada anda, tapi kami akan memantau anda.”

Di bawah pernyataan singkat tersebut, tercantum ratusan tanda tangan para tokoh masyarakat tersebut. Ternyata inilah yang membuat gulungan perkamen itu sampai panjang sekali. “Terima kasih banyak…. Saya tidak tahu harus bilang apa…. Bagaimana ini?” Marino tampak kebingungan.

Acara makan sudah selesai, dan kini Marino sedang melamun di teras atas kastil. Tadi ia dikerubuti oleh orang-orang yang membuatnya stress. Untung saja Gabriela datang dan mengatakan pada mereka bahwa ia butuh istirahat. Di teras saat itu, ada Yogin, Eko, dan Daffy yang menemaninya.

“Kini, saatnya rakyat yang merasa punya kemampuan akan daftar untuk jadi calon Caliph. Lusa, semua calon akan berkampanye di ibukota. Kau harus mempersiapkan betul apa yang akan kau bicarakan nanti,” kata Yogin. Nah, ini dia yang sulit. Ia harus memberikan kalimat-kalimat maut untuk menarik simpati.

“Err, bisakah kalian membantuku untuk mencari topik untuk kampanye? Aku sedang blank…,” kata Marino, tepat saat Kaine datang.

“Ada masalah mengenai kemiskinan di Crin’s Blade. Bawa saja bahwa kau akan mengentaskannya,” usul Kaine.

“Ide bagus, tapi yang lain juga pasti membawa seputar itu. “Kalau begitu, bilang kau akan mengentaskan kemiskinan, dan juga membantu kemiskinan di negara lain, seperti Eleador,” kata Daffy. Usul itu lumayan, tapi ia masih bimbang.

“Bagaimana kalau kau berjanji untuk berusaha melepaskan pulau Zenton dari cengkraman Devilmare? Pulau ini juga terancam, lho, dengan keberadaan Devilmare,” usul Yogin. Ide ini sangat sempurna, dan semangat hidupnya bangkit kembali.

“Terima kasih banyak. Rupanya pipi lucumu itu sangat luar biasa! Kau penyelamat hidupku!” seru Marino, lalu dia memeluk erat dan mencium pipi Yogin dalam-dalam.

“Eh…,” Yogin agak kaget, dan Marino mencubit kedua pipinya seraya menggoyang-goyangkannya ke kiri dan ke kanan. Yogin yang bengong diperlakukan begitu bertambah menggemaskan saja, sehingga semua tertawa. “Aku harus membuat konsep. Sekali lagi… terima kasih,” Marino mencium pipi Yogin lagi, lalu melesat menuju kamarnya.

Pagi telah tiba. Singkat cerita, siangnya Marissa mengatakan padanya bahwa saingannya dalam kampanye nanti ada empat orang. Keempatnya itu bukan dari yang hadir kemarin. Ia berjalan menuju kamarnya lagi, mau mencek konsep yang telah ia buat. Di tengah jalan, ia bertemu Yogin. Kelihatannya dia mau mencoba memakai sebuah armor yang amat kebesaran untuknya. Yogin, yang menyadari kehadiran Marino, langsung menutupi kedua pipinya dengan tangannya, tapi kejadian sama, tingkahnya itu malah membuat lebih gemas lagi. Marino menjawil perut Yogin, dan saat ia berusaha melindungi perutnya agar tidak ditowel, Marino mengambil kesempatan dan mencubit pipi Yogin. Tentu, akibatnya ia dikejar-kejar ke seluruh pelosok kastil oleh Yogin. Untung saja Daffy muncul, dan menarik Yogin pergi. Ia sampai harus menggendong gadis lucu itu.

Kini ia sedang duduk di sebuah meja, tepatnya di ruang pertemuan, tapi lebih luas. Sebab sebetulnya ada dua ruang pertemuan dan kini sekat antar ruang itu di buka, dan para pengunjung yang mau menonton harus berdiri sehingga muat sekitar dua puluh ribu orang. Ada Aisha sebagai pendampingnya. Di sebelahnya berjajar empat meja lagi, dan di tiap meja ada satu calon Caliph dan satu pendamping. Di hadapannya ada sebuah podium, dan di hadapan podium itu, ada meja wartawan, yang tugasnya mempublikasikan hasil kampanye dan proporsal rencana kegiatan utama yang akan dilakukan oleh calon raja baru. Mengapa? Karena tak semua rakyat bisa melihat, sehingga janji-janji para calon raja harus disampaikan dengan media lain yaitu tertulis.

Seluruh ruangan telah terisi penuh dengan hadirin yang siap mendengarkan kampanye. Pertama, Rido maju ke podium, membuat semuanya diam tak bersuara. “Sesaat lagi,” katanya, “akan diadakan kampanye dari setiap calon Caliph. Mereka akan menyampaikan apa yang akan mereka lakukan untuk kita semua jika terpilih. Saya ingatkan bahwa janji mereka bukan sembarangan. Janji mereka yang akan terpilih nanti akan dimasukkan ke rencana tahunan Crin’s Blade, dan akan dimintai pertanggung jawaban jika janji tersebut tidak dapat dilaksanakan. Nah, pidato akan dimulai secara acak. Pertama…,” semua terdiam, dan para calon Caliph menjadi tegang sementara para pendamping berusaha menenangkan mereka.

Akhirnya Rido mengumumkannya, ”Jannet Collins.” Lalu seorang pria pendek setengah baya maju ke podium. Baju yang ia kenakan terbuat dari sutra biru murni dari ujung rambut ke ujung kaki, sehingga jelas bahwa ia dari keluarga seorang bangsawan. Pendampingnya, yaitu Douglas membisikkan sesuatu terlebih dahulu.

Ia menyibakkan rambut pendeknya yang hitam sebelum berbicara. Inti pembicaraannya, seperti yang diduga oleh Marino, tentunya ia berjanji akan menuntaskan kemiskinan. Berbagai hal ia bicarakan, tapi intinya berputar-putar di situ saja. Setelah setengah jam, dia akhirnya menyudahi pembicaraannya. Ia turun podium diiringi oleh gemuruh tepuk tangan dan pergi keluar ruangan bersama pendampingnya, yaitu Douglas.

“Berikutnya…” Rido bersiap mengumumkan yang berikutnya, “Gaffell Wairen.” Seorang pria maju. Bajunya mirip dengan calon Caliph sebelumnya dilihat dari warna dan bahannya, tapi pada bajunya, ada motif-motif bunga dan pepohonan. Orang ini, berbeda dari yang sebelumnya, tampak berusia sangat muda. Mungkin tak sampai tiga puluh. Tapi jelas Marino yang termuda.

Pertama, ia mengucapkan berbagai janji-janji tentang kemiskinan, dan betul-betul di bahas, tapi penonton mulai ribut. “Ikut-ikutaaan,” kata mereka. Mendengar ini, Gaffel tersenyum. Kemudian ia mengumbar janji yang lain. Ia akan meningkatkan kerja sama ekspor dan impor komoditas dagangan ke negara negara lain. Ini mengundang gemuruh tepuk tangan dari penonton saat ia turun podium dan pergi keluar ruangan bersama pendampingnya, Jasmine.

Pembicara berikutnya yaitu Elliote Masbur dari golongan pedagang, membawa bahan yang sama, yaitu mengentaskan kemiskinan dan kerja sama internasional yang ditingkatkan. Tentu penonton mulai bereaksi lagi dengan teriakan “Ikut-ikutaaan.”-nya. Tapi ia tak kalah pintar. Ia mulai membawa janji baru, yaitu akan merubah kembali harga-harga sehingga pedagang tidak rugi dan pembeli tidak kesulitan. Ia memaparkan ini dengan cara yang amat jelas dan membuat semuanya paham. Saat ia turun podium, gemuruh tepuk tangan terjadi lagi. Pembicara ke empat, Jekloran dari keluarga pedagang juga, berusia setengah baya. Sekali lagi, ia mengulang janji mengentaskan kemiskinan, kerjasama internasional, penetapan harga-harga baru, dan sekali lagi penonton mengeluarkan reaksi sama hingga ia mengeluarkan janji baru.

Ia akan lebih mengoptimalkan sarana-sarana pendidikan dan pemanfaatan sumber daya alam. Para penonton sangat menyukai ini. Tapi jelas bagi Marino, bahwa sebetulnya tiap kontestan hanya punya satu program, dan sisanya hanya ikut-ikutan pembicara sebelumnya. Tapi Marino punya rencana lain. Elliote pergi keluar ruangan bersama pendampingnya, Black. Sekarang giliran Marino. Sebelum ia berdiri, Aisha meninju pundaknya untuk menyemangatinya. Ia kini telah menyandarkan lengannya ke podium dan bersiap melancarkan pidatonya.

“Tentu, saya akan berusaha mengentaskan kemiskinan,” dan penonton berteriak yang sama dengan sebelumnya sementara Marino melanjutkan, “juga akan meningkatkan kerja sama internasional.” teriakan ‘ikut ikutan’ tambah gencar akibat penonton yang sudah bosan dengan janji-janji yang sama, “juga akan merubah harga, meningkatkan sarana pendidikan, dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam.” Penonton makin riuh lagi. “Tapi, itu bukan janji saya,” ucapan ini membuat semua penonton diam dengan serempak. “Ini bukan sebuah janji yang seharusnya diucapkan oleh seorang calon Caliph. Mengapa? Karena itulah tugas Crin’s Blade yang memang wajib dilakukan. Apa janji khusus dari diri saya sendiri? Hanya satu, dan intinya sebetulnya berhubungan dengan kerjasama internasional,” ruangan kini telah sepenuhnya hening.

“Saya juga berencana akan meningkatkan hubungan kerajaan kita dengan negara-negara lain, seperti usul seorang calon sebelum saya. Mungkin juga ada usulan untuk kerja sama dengan Zenton. Saya akui itu bagus, sebab berteman dengan negara-negara di sana berarti berteman dengan negara yang sama sekali baru. Ini sangat bagus. Tapi, kita mendapatkan sebuah kendala. Negara-negara tersebut tidak akan bisa bekerja sama dengan kita. Kenapa? Sebab ada sebuah kerajaan iblis. Kerajaan ini menjajah semua negara lain di pulau itu dengan seenaknya, hanya demi kekuatan iblis yang hingga kini masih misterius. Kerajaan itu adalah Devilmare,” itulah kata saktinya. Penonton mulai berbisik ribut.

“Tentunya negara-negara jajahannya itu menderita. Bukan hanya karena sumber daya mereka yang di eksploitasi. Tapi, karena rakyat mereka menjadi tumbal untuk sesaji iblis, yang tiap hari tiada habisnya. Saya pernah hidup di sana dan tahu betul bagaimana rasanya. Kita harus membebaskan mereka demi dua hal. Bebaskan penderitaan, dan mewujudkan kerjasama internasional. Bagaimana? Rafdarov V, raja Devilmare telah menguasai seluruh Zenton. Tapi dia ini orang yang sangat haus darah. Ia pasti tidak akan pernah puas. Pulau Dark Land ini juga terancam! Karena dua alasan tersebut, yaitu demi menyelamatkan Zenton, dan diri kita sendiri, inilah janji saya. Saya akan mempelopori dibentuknya suatu liga antar negara di pulau ini, dimana ketiga negara di pulau ini akan bersatu, bahu membahu membuat sebuah pertahanan terhadap gangguan apapun. Liga ini bukan sembarang liga, dan akan dinamakan The Chain. Rantai dimana kita akan saling mendukung, saling membantu dan dengan persatuan yang terkandung dalam makna rantai, kita akan melenyapkan kemungkaran dari muka bumi ini! Terima kasih!” seru Marino dan ia turun podium diiringi tepuk tangan yang amat gemuruh.

Aisha Zuchry yang mengantarnya keluar ruangan sangat kagum dan memeluk Marino setibanya di ruang tunggu. Para calon raja lain dan pendamping menyalaminya. “Kau sangat luar biasa. Sungguh. Kami tidak ada apa-apanya,” kata Elliote. Marino tersipu malu. Saat itu ia dihujani berbagai pujian yang hampir saja mengembangkan lubang hidungnya.

Setelah rapat singkat, ia pergi ke taman bunga untuk istirahat sambil menanti waktu makan. Daffy, Eko, dan Gabriela telah menanti di sana. “Kau akan terpilih. Aku yakin itu. Serius,” kata Daffy. Gabriela tersenyum dengan sangat cantik, membuat Marino terpaksa ikut tersenyum.

Eko membuyarkan lamunannya, “Hei, kau tadi betul-betul berhasil membawa suasana untuk memihakmu. Aku memperhatikan raut wajah semua penontan. Kau menggugah hati mereka. Terlihat sekali. Aku bukan mau menghibur atau apa, tapi betul,” katanya.

“Lupakanlah. Aku capek,” kata Marino.

Ternyata saat bangun dari tidurnya di taman bunga, ia merasa amat lemas. Daffy dan Eko membawanya ke kamar untuk beristirahat. Kelihatannya ia terlalu tegang dan kelelahan. Karena ia sakit dan lama baru sembuh, ia tidak menghadiri pemungutan suara di ibukota. Penghitungan suara pun tidak ia hadiri. Sakitnya bertambah parah saja. Seluruh tubuhnya amat lemas dan panas sekali. Gabriela dan Yogin terus merawatnya dengan telaten, sementara Eko dan Daffy yang kurang mengerti cara merawat orang hanya memberikan semangat saja.

Tiga hari setelah kampanye, yaitu hari terakhir penghitungan suara, Marino memaksa Gabriela untuk mengangkatnya untuk ke ruang pertemuan, tapi tabib istana tidak mengizinkannya. Bicaranya saja tidak lancar dan bergerak saja sulit. Semua keperluannya seperti makan, Gabriela dan Yogin yang mengurusnya. Malam hampir larut ketika Daffy dan Eko datang.

“Kami membawa hasil pengumumannya,” kata Eko.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Gabriela.

“Apa dia menang?” Yogin juga bertanya. Saat malam tiba itu, Marino bertambah parah saja. Ia bahkan sudah tidak bisa bicara lagi. Ia hanya menatap lurus ke Daffy, yang artinya jelas bertanya. Daffy tidak menjawab, tapi Black masuk ruangan.

Diikuti Rido, Phalus, Isabela, Marissa, Jasmine, Doughlas, Ullyta, Meissa, dan  semua masuk ke kamar Marino. “Keputusan delpan puluh persen lebih. Kau menang, sobat,” kata Phalus seraya menjabat tangannnya yang lemas. Marino hanya bisa tersenyum samar.

Gabriela mencium pipinya, “Aku sudah tahu kau akan menang,” katanya dan Yogin mencubit pipinya sebagaimana yang Marino pernah lakukan.

“Kamu lucu juga, dan tambah lucu karena kau kini Caliph,” Marissa juga mengecup pipinya keras keras dan berteriak-teriak karena bangganya. Setelah itu, semua bergantian menjabat tangannya.

“Sembuhlah, Paduka,” kata Rido sebelum pergi.

Lusanya, ia akhirnya sembuh total dan dilantik. Pertama, ia diselubungi dengan jubah merah Crin’s Blade. Lalu ia dipakaikan mahkota oleh Rido sebagai seorang ksatria. Setelah memakai mahkota, ia disumpah sebagai Caliph disaksikan dan dinobatkan oleh Meissa. akhirnya, untuk pertama kalinya, ia kini duduk di kursi besar singgasana yang letaknya di ruang kebesaran. Kamarnya pun dipindah ke kamar bekas Gusrizant yang jauh lebih besar dan mewah. Kini, ia harus memeriksa dan menata ulang aparatur dan kekuatan perangnya. Inilah hasilnya.

Kekuatan tertinggi berada di tangan dewan militer dan wakil rakyat. Ketuanya adalah Caliph. Terpisah dari badan lainnya, ada pasukan tempur kavileri khusus the white garda, di bawah pimpinan Black, dan pasukan ini bertanggung jawab langsung kepada Calioh. Di bawah Caliph, dibagi menjadi tiga bagian. Pertama adalah kementrian. Ada enam mentri. Pertama, mentri ekonomi. Kedua, mentri urusan pendidikan. Ketiga, mentri luar negri. Keempat, mentri dalam negri. Kelima, mentri pemanfaatan sumber daya. Keenam, mentri penerangan dan informasi. Para penjabat jabatan-jabatan ini masih sama seperti masa pemerintahan Gusrizant. Setelah kementrian, ada Angkatan Tempur Negara (ATN). Panglima besarnya adalah Rido Matius dengan kekuatan 9000 personil prajurit kavileri yang bernama Crin’s Stallions. Di bawahnya, kekuatan ATN terbagi tiga, yaitu kavileri, Infantri, dan laut.

Kavileri. Ada empat jendral kavileri. Pertama, Gabriela dengan 17.720 personil kavileri dengan nama Crucifier Batalion. Kedua, Daffy dengan kekuatan delapan ribu kavileri dengan nama Eliminater Batalion. Michael, dengan kekuatan 7.750 kavileri dengan nama Destroyer Scherduke. Terakhir ada Lothar dengan kekuatan 6.500 kavileri dengan nama Red Scherduke.

Infantri. Ada tujuh jendral infantri. Pertama, ada Yogin dengan 2.000 prajurit magic dengan nama Star Batalion. Pavatov dengan 12.000 prajurit infantri bertombak dan pemanah, bernama Tiger Batalion. Marissa dengan 8.500 prajurit infantri tombak dan pemanah juga, bernama Shark Batalion. Selain itu, ada Saphirre dengan 9.000 prajurit infantri tombak dan pemanah. Pasukannya dinamakan Jade Batalion. Dalel memiliki 70.000 infantri, dan isinya juga tombak dan pemanah, yang dinamakan Crin’s Army. Ia juga mempunyai pasukan muslim di desa asalnya yang masih setia padanya, sejumlah 2500 campuran infantri dan kavileri. Ullyta punya 40.000 prajurit infantri, bernama Crin’s Shield. Terakhir, ada Jasmine dengan kekuatan 40.000 geriliawan. Pasukannya dinamai Shadow Batalion.

Angkatan laut hanya memiliki satu jendral saja, yaitu Doughlas. Ia memiliki 50.000 marinir, 20.000 kru laut non tempur, 500 kapal Juggernaught dan 1.500 destroyer galeon. Pasukannya ini dinamai Crin’s Boats.

Modal ini sangat cukup untuk persiapan membangun The Chain. Setelah membenahi susunan aparatur negara, Marino mengundang Meissa Apilla sebagai pemimpin di Eleador dan Darpy sebagai ratu Apocalypse untuk menggelar sebuah pertemuan dalam pembentukan The Chain. Mereka setuju dan hasilnya sebagai berikut.

The Chain terbagi dalam empat bagian yaitu ketua, fraksi politik, fraksi militer, dan fraksi peradilan. Masing-masing memiliki tugas sendiri-sendiri.

Ketua, tentu para raja dan ratu, berfungsi untuk memimpin. Ada tiga ketua, yaitu Marino, raja dari Crin’s Blade, Meissa Apilla, ratu dari Eleador, dan Darpy, ratu dari Apocalypse. Salah satu akan jadi ketua umum dan sisanya menjadi wakil ketua. Ketuanya akan digilir tiap tahunnya. Ketuanya sekarang adalah Marino karena dialah yang mendirikannya.

Fraksi politik, tentu adalah para politisi yang akan paling utama menganalisa masalah-masalah yang muncul. Tiap negara berhak mengirimkan empat anggota untuk fraksi ini. Dari Crin’s Blade hanya mengirim tiga. Mereka adalah Black, Eko, dan Aisha Zuchry. Dari Eleador ada Lovez, Ali, Krishna, dan Dessyra. Dari Apocalypse ada Tiza, Bona, Natasha, dan Dania.

Fraksi militer, tentu adalah para jendral yang akan menyediakan pasukan demi keamanan seluruh pulau. Tiap negara berhak mengirim empat orang sebagai anggota fraksi ini. Dari Crin’s Blade, anggotanya adalah Rido Matius, Daffy, Marissa, dan Gabriela. Dari Eleador, ada Bathack, Hermady, Rozman, dan Arg. Dari Apocalypse ada Reza, Pandecca, Cremplin dan Aldyan.

Fraksi peradilan mengawasi sidang-sidang The Chain. Apakah keputusan dapat diterima atau tidak, adil atau tidak, merekalah yang mengawasi. Tiap negara punya jatah tiga orang untuk menempati fraksi ini. Dari Crin’s Blade ada Isabela, Lothar, dan Phalus. Dari Eleador ada Ekalaya, Arjuan, dan Chezzy. Dari Apocalypse ada Olivia, Argus, dan Levino.

Para anggota merupakan anggota tetap, yang bilamana ingin diganti harus melalui proses yang panjang sekali. (Untuk memperlancar cerita, sebaiknya bookmark saja halaman ini, supaya saat anda menemukan nama anggota The Chain di halaman-halaman berikutnya, anda telah dengan mudah bisa tahu dari fraksi dan negara manakah dia.)

Setelah rapat yang pertama mereka memutuskan untuk mengirim sebuah pasukan mata-mata untuk melakukan pengintaian ke Zenton. Untuk tiap negara di Zenton dikirimkan tiga ratus orang. Semuanya tidak bersenjata dan akan menyusup ke wilayah Zenton dengan diam-diam. Mereka akan berbaur dengan penduduk sipil. Menurut rencana, pasukan mata-mata akan diangkut dengan kapal-kapal perang menuju seribu meter dari sektor-sektor yang berbeda tergantung dimana penempatan pasukan tersebut. Setelah itu, mereka akan berenang menuju pantai dan masuk ke wilayah Zenton.

Rencana untuk membebaskan Zenton dari Devilmare telah dimulai. Walau belum ada apa-apanya, tapi inilah awal dari perang yang baru.

[End of Chapter VII]

[Coming up next, Chapter VIII: Memory Revives]

One Trackback

  1. […] – Chapter VII: The Caliph […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*