Legend of Legends: Chapter XI – The Old Group

ENJOOOOOOOOOOOOOOOOY ^_^

————————————————————————————————————————————————

CHAPTER 11

THE OLD GROUP

                Kapal-kapal telah diberangkatkan tanpa ritual khusus. Marino berdiri di tempat pengintaian, yaitu di atas layar. Ullyta juga ada diatas. Keduanya sedang bercerita tentang masa lalu masing-masing. Tak lama kemudian, daratan Crin’s Blade menghilang dari pandangan. Yang tampak hanyalah biru, biru, dan biru. Dari atas, Marino melihat seekor ular raksasa berenang di samping kapal. Tadinya ia terkejut dan mau memberi peringatan darurat, tapi ia baru ingat bahwa itu adalah Morded, ular teman Adin. Ia melihat Adin berjalan mendekati tepi kapal. Kelihatannya mau muntah, tapi ternyata ia mau berbicara dengan Morded. Morded mengangkat lehernya setinggi geladak kapal. Adin sama sekali tidak menggerakkan mulutnya, tapi kemudian Morded masuk lagi.

“Ooooeeeiii, Adin! Kau tanya apa?” tanya Marino dari atas.

“Aku tanya apakah ia bisa meminta monster laut lainnya untuk ikut mengawal kapal-kapal kita,” sahut Adin dari bawah. Dan di samping kapal, muncul beberapa monster raksasa yang bentuknya unik. Ada yang seperti ikan hiu tapi amat besar dan bersisik, ada yang seperti naga yang bisa berenang, dan ada pula yang seperti buaya. Tiba-tiba Ullyta melompat ke bawah. Marino mengikutinya.

“Kau bisa berbicara dengan hewan?” tanya Ullyta pada Adin.

“Kelihatannya,” jawabnya.

“Coba kau pakai bahasa binatang padaku,” pinta Ullyta, dan keduanya saling bertatapan sejenak. Beberapa prajurit mendekat karena penasaran.

“Hei, aku bisa bicara denganmu juga!” kata Adin setelah beberapa saat.

“Berarti kau bukannya bisa bicara dengan hewan,” kata Ullyta. Semua agak terkejut. “Kau bisa berbicara melalui pikiran pada mahluk hidup lain. Bagimu itu bahasamu, dan bagi mahluk yang kau ajak bicara, itu bahasanya.”

“Tetapi tidak semua mahluk hidup bisa melakukan telepati semacam itu, untuk menjawabku.,” protes Adin.

“Nah. Keahlianmu itu bukan sekedar telepati satu arah. Saat kau mengirimkan pikiran ke mahluk yang kau tuju, kau kelihatannya juga membuka sebuah jalur, sehingga saat kau mengirimkan pikiran, dia bisa mengirim kembali pikiran itu jika menghendaki,” kata Ullyta.

“Tapi aku pernah dipanggil duluan oleh hewan. Apa kau mau bilang hewan itu juga bisa ‘membuka jalur pikiran’?” tanya Adin lagi.

“Bukan. Tunggu… biar aku berpikir dulu….”

Suasana hening sejenak. Tiba-tiba Ullyta menatap Adin sebentar.

“Ya. Namanya Amber,” kata Adin.

“Berarti jika ada yang mengajakmu berbicara lewat pikiran, kau bia mendengarnya. Kalau hewan, mereka tidak pakai bahasa. Mereka menggunakan isyarat naluriah mereka, sambil memikirkannya dalam hati. Wajar saja kalau kau bisa dengar. Terpecahkan juga misterimu,” kata Ullyta.

Marino kembali ke tempat pengintaian dan menunggu. “Oi, kapten! Kapan kita tiba?” teriaknya pada kapten kapal.

“Besok malam!” balas sang kapten. Wah, kalau begitu masih lama. Waktu itu kapal dari Crin’s Blade menjemputnya dari Gallowmere di saat yang tepat. Apakah kebetulan, atau memang kapal asli Crin’s Blade yang bisa secepat kilat? Tapi tidak. Cuma kebetulan. Pada pertempuran kemarin, waktu kapal-kapal Crin’s Blade sadar bahwa kapal-kapal Devilmare telah lolos, mereka gagal mengejar tepat waktu.

Malam tiba dan ransum malam dibagikan. Saat seperti itu, ada isyarat dari salah satu skuadron kapal yang melakukan konvoi berupa kilatan api hijau yang melambung tinggi. Ada serangan, tapi mereka tak perlu terlalu khawatir, sebab ada dua skuadron yang mengawal mereka. Apalagi ada beberapa monster raksasa yang ikut mengawal. Kilatan-kilatan cahaya memercik ke udara dan dari tempat pengintaian, Marino akhirnya melihat siapa yang mereka hadapi. Ada satu konvoi besar kapal Devilmare. Tapi kapal perangnya hanya sembilan yang terdepan saja. Sisanya merupakan kapal transport. Rupanya Devilmare mau mengadakan serangan kejutan lagi, tapi kali ini lebih kecil. Jauh lebih kecil. Mungkin ada sekitar dua puluh kapal transport. Kebetulan sekali bisa berpapasan dengan mereka.

Empat kapal perang telah berhasil dilumpuhkan oleh armada Doughlas, tapi skuadron pertama kelihatannya kehabisan peluru magic api yang biasa mereka pakai, dan musuh belum masuk jarak tembak skuadron dua. Jarak tembak kapal itu sekitar seratus meter. Dari kapal-kapal skuadron satu, meluncur sekoci-sekoci berisi marinir yang telah bersiap dengan senjata masing-masing. Para monster yang dipimpin oleh Morded mulai meluncur ke arah konvoi kapal transport musuh.

Rupanya saat mau menyerang, monster air bisa meluncur dengan sangat cepat di air. Tampak Amber melayang menuju konvoi musuh sambil mencurahkan hujan api. Skuadron dua akhirnya telah cukup dekat dan menghujani kapal musuh yang tidak dipenuhi marinir Crin’s Blade, ditandai dengan kapal yang telah mulai terbakar dan sekoci di sekitarnya, dan juga tidak menyerang kapal yang sedang dihancurkan oleh monster.

Skuadron dua juga kehabisan peluru magic api dan mulai meluncurkan sekoci. Tapi rasanya tidak perlu. Satu persatu kapal musuh tenggelam, paling banyak oleh para monster dan Amber, yang dengan mudah bisa membuat lubang yang sangat besar di dasar kapal. Api pada tubuh Amber tidak padam walau menyelam ke air. Sudah hampir matahari terbit dan kapal terakhir dari konvoi Devilmare akhirnya tenggelam. Mereka berhasil menawan sekitar seribu lima ratus prajurit Devilmare dan menahan mereka di kapal-kapal skuadron tempur. Marino bertanya mengenai peluru magic api dan bagaimana mengisinya lagi. Menurut seorang awak kapal, ada seorang mage yang bisa mengisinya dengan melakukan magic api yang kuat ke laras-laras meriam. Tapi prosesnya lama, dan meriamnya lumayan banyak. Jadinya sangat lama, tapi ampuh.

Sarapan berupa sepotong roti dan ayam dibagikan. Semuanya makan tanpa gangguan. Marino menulis surat untuk Doughlas di kapal Juggernaught yang paling depan. Ia memerintahkan agar satu kapal atau sekoci pulang, untuk memperingatkan The Chain, karena kapan saja bisa ada serangan dari Devilmare, agar mereka melakukan siaga tempur dan patroli ekstra. Ia menambatkan suratnya di kaki Amber, lalu seolah mengerti maksudnya, ia langsung melayang pergi menuju Juggernaught yang ada Doughlas-nya. Sekitar setengah jam kemudian, tampak tiga buah sekoci meluncur ke arah sebaliknya, menandakan bahwa Doughlas telah menerima surat tersebut.

Perjalanan terasa sangat lama, hingga malam tiba dan daratan mulai tampak. Hutan belantara tampak di daratan tersebut. Makin lama mereka makin dekat… makin dekat, dan terdengar sebuah siulan yang sangat nyaring, namun dari kejauhan. Mendengar siulan itu, kapal-kapal yang mendengarnya juga mengeluarkan siulan. Sekoci-sekoci mulai meluncur.

“Apa maksudnya? Tanya Marino pada Jasmine sambil membantunya memyiapkan sekoci. “Artinya, waktunya kita naik sekoci. Kapal tidak bisa lebih dekat lagi. Ayo,” puluhan sekoci meluncur di kiri dan kanannya membuat semuanya kelihatan sangat seru bagi Marino. Apalagi sekarang sudah malam.

Setibanya di pesisir, semua pasukan memisahkan diri dan bergabung ke pasukannya sendiri, menunggu perintah. Adin sedang mengatakan sesuatu pada Morded sang ular raksasa. Ternyata dia menyuruhnya untuk ikut pasukan Gerilya. Jasmine mendengus agak kurang suka.

“Dia agak takut ular,” bisik Eko.

“Payah. Dia kan gerilya,” bisik Daffy pada Eko. Setelah menerima tanda dari Marino, seluruh pasukan bergerak ke hutan dan mendirikan kemah.

“Besok pagi, kau akan ke sana, Herz,” perintah Marino.

Keesokan paginya, Herz, dan Jasmine bergerak menuju puri itu. Entah apa yang akan mereka lakukan agar tidak dicurigai. Sementara itu, Marino menegaskan kembali strateginya kepada yang lain. Beberapa saat kemudian, Jasmine kembali.

“Mana Herz?” tanya Marino.

“Dia memintaku kembali untuk memberitahukan padamu. Seorang petinggi Devilmare sedang berkunjung ke sana, jadi sebaiknya kita menunggunya pulang sebelum nanti bergerak,” jawabnya.

Saat itu semua sedang bersiap-siap. Kelihatannya bagi para prajurit misi ini terlalu mudah. Entah mereka cuma omong kosong atau memang hebat. Matahari sedang terik-teriknya waktu Herz kembali dari sana. Ia membawa bungkusan besar.

“Si Pejabat sudah pulang dari tadi, tapi aku kebanyakan ngobrol dengan Jernandez. Maaf. Tapi ia memberikan ini,” kata Herz senang, dan menunjukkan isi bingkisan yang diperolehnya, yang ternyata dua buah gelas perak.

“Katanya ini untuk suami dan anakku. Baik sekali. Kumohon, tawan saja dia,” dan Marino malah agak sinis.

“Informasinya?” tanyanya.

“Oh, ya. Katanya, jika mau mengeluarkan orang dari tabung dengan benar, harus Rafdarov V sendiri yang menempelkan telapak tangannya di salah satu tabung, dan tabung itu akan terbuka. Tapi jika orang lain, harus dibelah. Sekali tebas tabung itu harus hancur. Jika tidak, orang di dalamnya akan tewas. Untuk menyadarkannya, baringkan lalu tunggu saja. Katanya orang di dalam tabung akan sadar sekitar lima menit setelah mendapat udara bebas lagi,” kata Herz.

“Oke, semua bergerak sekarang juga,” kata Marino. Pasukan The White Garda bersiap di atas kuda masing-masing, demikian juga Marino, Ullyta, Saphirre, Adin, Eko, Daffy, dan Herz. Pasukan gerilya juga mulai bergerak. Jasmine agak bergidik begitu menyadari Modred yang bergerak tepat di sebelahnya. “Maju perlahan,” perintah Marino, lalu seluruh kavileri bergerak perlahan, hingga akhirnya mereka sudah dekat dengan tepi hutan yang lain.

Bukan tepi hutan, sebetulnya, tapi bagian hutan yang membuka sedikit, tempat dibangunnya puri itu. Cukup banyak prajurit yang menjaganya. Tapi mereka menumpuk di bagian depan puri. Ada sekitar lima ratus. Bagus, ini tidak seimbang dan menguntungkan kita, pikir Marino. Marino mengirim seorang pasukannya untuk memeriksa semua sektor pasukan gerilya, dan kembali lima belas menit kemudian. “Semua siap,” katanya. “Baiklah. Semuanya maju!”seru Marino dan pasukan kavileri the White Garda menerjang maju, untuk membuktikan kekuatan pasukan penjaga khusus kerajaan.

Para prajurit Devilmare yang sama sekali tidak pernah bermimpi akan mendapat serangan sedikitpun, di siang bolong, apalagi oleh sepasukan besar kavileri yang tangguh, apalagi pula di tengah-tengah daerah kekuasaan Devilmare. Sebagian dengan sigap menyambut serangan, sebagian kabur tepat ke arah di mana para gerilyawan menunggu, dan mereka dihujani dengan panah dan tombak oleh para gerilyawan. Sebagian kabur ke dalam. Dalam waktu yang sangat singkat, mereka telah menguasai area puri. Tim Marino dan tiga puluh prajurit the White Garda turun dari kuda masing-masing, dan melesat masuk ke puri. Di dalam, langsung terjadi pertarungan singkat, yang menyebabkan banyak musuh tewas, dan banyak yang di sandera.

Jernandez tidak mau menyerah. Saat seorang prajurit mau menebasnya, Herz menyambar Jernandez agar tidak terkena. Akibatnya, lengannya terluka. Karena didorong Herz, Jernandez jatuh dan sebuah mahkota kecil terlepas dari kepalanya.

“Aku… aku dipaksa. Jangan sakiti aku.. aku akan ikut kalian. Aku.. pikiranku dikuasai…,” pinta Jernandez. “Kalau begitu tunjukkan di mana Daisy Asalaz disimpan,” perintah Marino padanya.  “Aku tidak tahu. Ada ribuan orang di sana, dan aku tidak ada daftarnya. Percayalah,” kata Jernandez.

“Kalau begitu, ikut kami ke bawah,” kata Marino, dan ia setuju. Ia mengambil sebilah tombak, dan Adin menodongnya dengan kapak algojonya.

“Ada beberapa monster yang menjaga di bawah. Percayalah padaku. Aku sejak semula tidak pernah mau ikut Devilmare,” bujuk Jernandez.

“Herz, kau ingat arahnya?” tanya Marissa.

“Errr… tidak. Jalannya sering bercabang-cabang, dan aku sulit untuk mengingat jalan. Kalau waktu itu tidak ada yang menjemputku di dalam, aku tidak bisa keluar lagi.”

Mereka ada sembilan orang, yaitu Marino, Eko, Adin, Daffy, Herz, Saphirre, Ullyta, Marissa, dan Jernandez. Setelah memerika papan di sepan lorong menuju bawah tanah (tepatnya ada ‘0’ manusia) dan segera bergegas ke bawah. Baru saja mereka menemukan sebuah ruangan yang agak terbuka, seekor monster kepiting muncul dan menusuk perut Jernandez.

“Aku lupa. Harusnya kita tadi menekan tombol tersembunyi,” katanya lemah. Eko menghantam monster itu dengan sebuah magic petir yang kuat, sehingga sang monster terbanting keras dan tubuhnya terlilit pancaran listrik yang terus mengecil. Tak lama akhirnya monster itu terbelah oleh pancaran itu.

“Saphirre, tolong bawa Jernandez naik dan obati dia,” kata Marino.

“Tentu saja..,” kata Saphirre dan pergi memapah Jernandez.

Ruangan itu bercabang dua. “Herz, ke kiri atau kanan?” tanya Marino, dan Herz menggeleng. Dia sudah lupa.

“Oke. Ada yang tidak bisa menghancurkan dengan sekali tebas?” tanya Marino dan Herz mengangkat tangan.

“Nah. Kita bagi dua regu. Aku, Daffy, dan Marissa, kita ke kiri. Adin, Eko, dan Ullyta, ke kanan. Herz, kau harus selalu bersama yang ke kanan, dan terus bersama paling tidak salah satunya. Ini, kubagikan alat siul, tiup keras jika dari kalian ada yang menemukannya, lalu bawa dia kemari. Jangan lupa. Daisy Asalaz. Bergerak,” lalu mereka pergi ke arah masing-masing.

Mereka tidak bisa bergerak cepat karena harus mengamati nama satu persatu orang di dalam tabung, dan ada ribuan di sini. Dengan sabar dan berusaha cepat, mereka terus mencari. Grup Marino mencari terus hingga akhirnya bertemu jalan yang bercabang dua.

“Daffy, kau ikut Marissa ke kanan, dan aku ke kiri,” perintah Marino. Tanpa menunggu disuruh dua kali, mereka bergerak. Marino menemukan sebuah pintu. Begitu ia membuka pintu itu, ia bertemu seekor iblis yang pernah ia lihat di pertempuran beberapa hari silam. Hanya saja, yang ini agak lebih kecil, dan punya sayap. Kedua tangannya memegang pedang yang ukurannya mengerikan.

Marino menerjang monster tersebut, tapi monster itu juga pintar. Mereka bertarung sejenak, hingga akhirnya Marino berhasil memenggal kepalanya. Tubuhnya berhenti bergerak, dan jatuh sendiri. Ada dua buah pintu lagi. Dipilihnya pintu sebelah kiri untuk ditelusurinya lebih dahulu. Ia terus menyusuri ruangan tabung berikutnya sambil melihat wajah wajah di dalam tabung-tabung, tapi tak ada Daisy Asalaz. Terus menerus mencari dan ternyata ia menemukan dirinya kembali ada di ruangan dimana ia bertemu iblis.

Tadinya ia mau menyusul rombongan Marissa, tapi menurutnya itu akan merepotkan dan membuatnya bisa tersasar dan malah membuat semuanya lebih ruwet. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruangan dimana pertama ia bertemu monster dan Jernandez terluka. Di sana sudah ada monster lagi, yang berupa musang raksasa, namun mudah dikalahkan. Setelah berhasil, ia duduk di atas bangkai monster itu. Ia menanti. Pasti ada yang akhirnya akan menemukannya.

Tapi… bagaimana jika ternyata waktu itu Herz salah lihat? Maka semuanya… semua misi ini… sia-sia… tapi setidaknya ia mendapati sebuah konvoi tempur Devilmare menuju Dark Land yang sama sekali tidak diperkirakan. Ah, tidak mungkin salah, pikir Marino. Herz mengetahui namanya secara detail, dan juga rupanya. Jangan berprasangka buruk. Dan ia terus menanti… menanti…

Sementara itu, rombongan Eko, Adin, Ullyta, dan Herz juga menemui jalan bercabang dua. “Aku dan Adin ke kiri, kalian berdua ke kanan. Ayo,” kata Eko, dan mereka bergerak menuju arahnya masing-masing.

Herz dan Ullyta, dua wanita yang usianya selisih hampir dua puluh tahun ini, terus mengobrol sambil mencari. Akibatnya, pencarian mereka berlangsung lambat. Ullyta bercerita mengenai pacarnya yang bernama Aerio Brynn. Juga mengenai silsilah Aerio. Herz merupakan seorang pendengar yang baik, sehingga ia hanya mendengarkan saja kisah dari Ullyta sambil terus mencari.. dan mencari…. hingga akhirnya Ullyta menceritakan saat ia berkenalan dengan keluarga Aerio. Di sana, ia berkenalan dengan ibunya, yaitu Amarent Brynn, ayahnya, Collin Brynn, dan tunangan pamannya, yaitu Lucy Gells. Paman Aerio sendiri tidak ada. Mendengar nama tunangan paman Aerio, Herz terhenti.

“Lucy menikah dengan Crestino Brynn dua bulan yang lalu…,” kata Herz.

“Ha!” Ullyta terkejut, “Kau tahu dari mana?” tanyanya.

“Marcus Gells, kakak dari Lucy Gells… adalah suamiku. Jika kau menikah dengan Aerio, kita akan jadi keluarga, Nak,” kata Herz. Sejak itu, mereka bertambah seru mengobrol dan pencarian bertambah lama.

Bertolak belakang dengan kelompok Adin dan Eko. Keduanya tak berkata apa-apa. Eko mengamati tabung-tabung di sebelah kirinya dan Adin mengamati sebelah kanan. Keduanya berjalan dengan cepat sekali. Mereka tidak mengamati label nama orang yang di dalam tabung, melainkan orang di dalam tabung itu sendiri.

Mereka menemukan pintu yang besar. Di balik pintu itu, ada seekor monster besar. Mereka menyerang monster itu. Monster itu mudah sekali dikalahkan, tapi mereka baru sadar. Monster itu akan meledak. Eko masih sempat melompat ke pintu berikutnya. Adin melompat pula, ia terlalu jauh. Tapi ia masih sempat menutup pintu di mana Eko menunggu. Eko terjatuh ke belakang karena pintu ditutup keras, tapi ia segera bangkit lagi untuk membukakan pintu untuk Adin, tapi dari balik pintu terdengar ledakan keras.

Menolak membuang waktu untuk memeriksa apakah Adin selamat, yang jelas mustahil, ia mencari ke ruangan berikutnya. Dengan semangat baru, ia dengan cepat meneliti kiri dan kanannya. Selang beberapa ruangan, impiannya tercapai. Kini di depannya ada sebuah tabung yang isinya seorang wanita yang berwajah manis, berambut cokelat lurus sepanjang bahu, dan melayang ganjil di dalam tabung berisi cairan aneh itu. Matanya terpejam. Di bawah tabung itu, tertera nama Daisy Asalaz.

Eko mengarahkan tongkatnya ke arah tabung itu, dan terhenti sejenak. Bagaimana cara menghancurkan tabung itu tanpa menghancurkan isinya? Dan Eko mendapat cara. Ia menyihir lima bola listrik kecil dan melayangkan mereka. Satu sejajar dan lurus mengarah ke sekitar satu jengkal di samping telinga kiri Daisy, satu lagi di sebelah telinga kanan, satu di sebelah kaki kanan, satu di samping kaki kiri, dan yang terakhir tepat di antara kedua paha Daisy. Yang ini harus ekstra hati-hati kalau tidak mau kena paha Daisy. Eko sadar bahwa kelima bola itu harus meluncur cepat, dan bersamaan. Ia berkonsentrasi, dan kelima bola listrik itu mulai mengeluarkan beberapa percikan api. Eko tidak boleh melakukan kesalahan. Tidak boleh. Ia menajamkan matanya… ia mengerahkan semua partikel otaknya untuk membantunya… dan…

WHHUUUUUUSSSSSSS… PRANG!!! Tabung itu pecah berantakan, dan tubuh Daisy terjatuh ke depan. Dengan sigap, Eko menangkapnya. Aneh. Setelah sekian lama terendam cairan, tubuhnya sama sekali kering. Eko mengangkatnya dan membaringkannya di lantai yang tidak ada pecahan kaca dan tumpahan airnya. Ia meniup keras alat yang diberikan oleh Marino tadi dan menunggu Daisy tersadar. Dibelainya wajah yang bertahun-tahun tidak ia lihat itu. Sama sekali tidak berubah sejak terakhir ia lihat beberapa tahun silam. Adin menghambur masuk.

“Kau menemukannya.”

“Apakah kau tak apa-apa?” Eko kaget, menyangkanya sudah tewas terkena ledakan. “Aku tidak akan mati semudah itu, sobat. Daisy… dia belum berubah. Semoga dia mau memaafkan kita.”

Daisy membuka matanya. “Kalian… kalian akhirnya datang juga…. aku lama sekali menanti kalian.. dan…. tolong… dingin sekali,” kemudian Eko baru sadar. Dirinya yang berbadan besar dan memakai jubah perang dilapis jubah kain saja masih dingin. Eko melepas jubah kainnya, dan menyelimuti Daisy, dan Adin melakukan hal yang sama.

“Bagaimana rasanya di dalam tabung itu?” tanya Eko.

“Tidak ada rasanya. Rasanya aku baru memejamkan mata lima menit yang lalu waktu mereka memasukkanku di sini. Tapi… kalian sudah berubah… kalian besar sekali… apa yang terjadi?” tanya Daisy, membuat Eko dan Adin saling berpandangan.

“Hampir enam bulan penuh aku berada di penjara sebelum aku masuk kemari. Marino dan Daffy mana? Eh, aku heran sekali. Ceritakan. Kenapa kalian tampak lebih tua dari terakhir aku ingat?” di hadapan Eko dan Adin sekarang ini secara fisik, yah, menurut perkiraan memang seorang Daisy Asalaz yang berusia tiga atau empat belas tahun.

“Eh, kau ingat kapan kau tertangkap oleh mereka?” tanya Adin, mulai curiga. “Yah, tentu saja. Sudah lama sekali. Mungkin kira-kira enam bulan lalu. Lebih dua atau tiga minggu, barangkali. Salahkah aku?” tanya Daisy, tapi mulai curiga ada sesuatu yang tidak beres. Agak lama Adin dan Eko membisu, sebelum akhirnya Eko angkat bicara. “Daisy… itu… terjadi hampir tiga tahun yang lalu….”

Ketiganya berjalan menuju ruang dimana semua berjanji untuk bertemu. Daisy tampak lucu sekali dengan memakai jubah yang luar biasa terlalu besar untuknya. “Kalian betul-betul tumbuh, ya?” tanyanya dan merangkul kedua temannya itu, yang sekitar tiga puluh senti lebih tinggi darinya.

Saat Daffy melihatnya, ia langsung memeluk dan mencium pipinya. “Lama sekali…,” katanya sambil membelai kepalanya.

“Baginya baru beberapa bulan. Dia akan menjelaskannya nanti,” kata Adin. Marino juga langsung memeluknya. Daisy cuma setinggi bahunya sekarang.

“Kau bertambah mungil atau aku yang bertambah tinggi?” tanya Marino. “Kami tunggu di atas.” kata Marissa, lalu semua meninggalkan mereka berdua di sana. “Kau yang bertambah tinggi, dan aku tidak tumbuh sama sekali,” kata Daisy tersenyum.

“Maksudmu?” Marino keheranan.

“Aku serius. Sangat serius,” mereka pun berciuman.

Mereka telah membereskan tenda dan telah siap untuk kembali ke kapal. Agak lama baru Marino dan Daisy kembali. Setelah semua siap, mereka kembali ke pesisir dimana sekoci-sekoci mereka masih ada belum tersentuh. Modred kembali ke air untuk menyusul skuadron-skuadron laut milik Doughlas. Sekoci-sekoci kini sedang kembali ke kapalnya masing-masing.

“Jangan sampai salah kapal,” Daffy memperingatkan semuanya. Sesampainya di kapal, Marino membantu Daisy naik.

“Ceritakan kisahmu,” kata Daisy setelah mereka duduk di salah satu kabin kapal. Marino menceritakan bagaimana ia bekerja pada Devilmare, ia terpisah dari teman-temannya dalam sebuah pertempuran yang diikuti oleh sebuah ledakan besar. Ia kemudian berlanjut ke kisahnya yang bekerja pada El-Peso, lalu pindah ke Gallowmere dan bertemu Daffy. Setelah itu ia ceritakan pula kisahnya di Dark Land dan sampailah ke saat akhirnya ia menjadi Caliph lalu ia mendapat kabar mengenai keberadaan Daisy.

“Kebetulan sekali. Sangat-sangat kebetulan. Kalau saja orang yang bernama Herz itu tidak melihat aku di tabung, aku tidak akan bersamamu lagi,” katanya.

“Kalau kau?” tanya Marino.

“Yah, aku dimasukkan ke penjara lokal karena mengacaukan keamanan. Beberapa bulan setelah itu, Rafdarov V sendiri melakukan inspeksi. Ia melihatku dan berniat memasukkanku ke dalam Lucifer’s Den. Tapi ada yang mengusulkan agar aku masuk ke puri Jernandez saja. Dia setuju. Aku dibawa ke sana, lalu Jernandez menyihirku dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Yang aku tahu adalah tiba-tiba aku terbangun di lantai dan ada Eko di sebelahku. Dari ceritanya, aku telah tidak sadar selama hampir tiga tahun. Tapi, aku masih tiga belas. Kau lihat. Aku mungil sekali,” katanya agak kecewa.

“Tapi kau sangat cantik. Aku menyukaimu,” Marino mencium pipinya. “Oh, berhentilah menjilat,” ledek Daisy, dan keduanya tertawa dan berpelukan. Marino sadar, bahwa ramalan Gabriela benar. Ia sangat mencintai Daisy. Bahkan, rasanya ia terlalu mencintainya, dan ia baru merasakannya saat ia melihatnya untuk pertama kalinya waktu Eko dan Adin membawanya keluar. “Omong-omong, waktu aku di dalam tabung, ada saat-saat dimana aku sadar. Seperti mimpi. Dua kali. Pertama aku merasa seperti berada di waktu kita berlima tidur di hutan karena Daffy dihukum. Lalu, aku bermimpi lagi, seolah kita berlima berada di dekat Rafdarov. Itu saja,” kata Daisy.

“Aku tidak heran. Kita berlima memang bermimpi tentang hal yang sama,” jawab Marino.

“Aku tak bisa banyak membantu,” kata Kaine di ruang pertemuan Crin’s Blade setelah Marino dan yang lainnya tiba dua hari kemudian, “Hanya sedikit. Dia tiga tahun lebih muda dari sebelumnya. Aku cuma bisa menuakannya sedikit, satu setengah tahun itu maksimal, tapi cuma fisiknya saja. Kalau cara dan pola fikirnya, rasanya akan tetap seper….”

Daisy langsung memotong pedas, “Jadi kau mau bilang kalau aku anak-anak? Apa begitu?” Kaine tertawa.

“Dengan tingkahmu seperti itu aku makin berpendapat demikian,” katanya sambil membelai kepala Daisy dengan tangannya yang berjari kurus panjang, dan agak bersisik, tapi Daisy tidak tampak keberatan.

“Nah, kalau begitu, gantilah pakaianmu dengan yang agak lebih besar. Tubuhmu akan membesar sedikit, kalau memang kau bisa tumbuh lagi…,” Daisy melotot tajam padanya.

Ia pergi ke kamar Marissa dimana Marissa berjanji akan memberinya baju. Dia kembali tak lama kemudian dan Kaine telah memegang segelas cairan bening. “Minumlah ini. Takaran dan dosisnya sudah aku ukur supaya kau, secara fisik, satu setengah tahun lebih tua,” katanya.

“Tambahkan lagi, supaya aku bisa lebih besar lagi,” pinta Daisy.

“Tidak bisa. Jika aku tambahkan lebih dari satu tahun tujuh bulan, akan menjadi racun yang amat kuat. Makanya, aku buat satu tahun enam bulan supaya aman. Dan… kau cuma boleh minum ini sekali dalam seumur hidupmu kalau kau masih mau hidup. Langsung habiskan. Jangan berhenti meneguk kalau belum habis,” kata Kaine.

Dengan wajah cemberut, Daisy mengambil cangkir itu. Marino, Eko, Daffy, Adin, Marissa, dan beberapa orang lain datang untuk menyaksikan. Daisy langsung meminumnya sampai habis. “Rasanya hambar,” katanya.

Mereka menunggu beberapa saat, dan terjadilah. Tubuh Daisy agak membesar, kemudian tingginya pun agak bertambah. Kini ia setinggi telinga Marino, seperti dulu lagi.

“Umurku lima belas sekarang,” katanya senang. “Terima kasih banyak, Kaine. Nah, Paduka Marino, bisakah kau usahakan agar aku masuk ke militer?” tanyanya manja.

“Akan kuusahakan,” kata Marino, yang mencubit pipinya dengan gemas melihat tingkah dan gaya bicaranya itu. “Dan, ada tempat kosong di fraksi politik The Chain. Mungkin kau bisa mengisinya.”

Daisy diam sejenak, lalu memeluk Marino. “Aku tidak berharap banyak. Aku cuma sangat senang bisa kembali dengan kalian seperti dulu,” kata Daisy. Marino juga sangat senang. Marino membelai kepalanya, dan terjadilah suatu keajaiban. Daisy memegang kedua pergelangan tangan Marino.

“Senjata dariku ini kenapa?” tanyanya.

“Hancur, kena sihir Jester. Tapi aku selalu memakainya,” Daisy tersenyum, lalu mencium Marino tanpa melepas kedua pergelangan tangannya. Tiba-tiba saja senjata pada kedua tangan Marino memanjang lagi dan utuh seperti semula. Hanya saja warnanya menjadi emas. “Kau tahu, aku tidak membuatnya dari logam saja?” bisik Daisy, dan memeluk Marino lagi dengan sangat erat. Daffy, Eko, dan Adin masuk.

“Berlima, “kata Eko,” kita akan habisi Devilmare.”

Kini dia sangat percaya bahwa Rafdarov akan hancur. Dia tidak akan bisa bertahan melawan Marino, karena kelompoknya telah utuh kembali. Empat kuat, lima sempurna. Marino, Eko, Daffy, Adin, dan Daisy. Kelompok yang dulu.

[End of Chapter XI]

[Coming up next, Chapter XII: Past, Present, and Future]

One Trackback

  1. […] – Chapter XI: The Old Group […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Legend of Legends: Chapter XI – The Old Group

ENJOOOOOOOOOOOOOOOOY ^_^

————————————————————————————————————————————————

CHAPTER 11

THE OLD GROUP

                Kapal-kapal telah diberangkatkan tanpa ritual khusus. Marino berdiri di tempat pengintaian, yaitu di atas layar. Ullyta juga ada diatas. Keduanya sedang bercerita tentang masa lalu masing-masing. Tak lama kemudian, daratan Crin’s Blade menghilang dari pandangan. Yang tampak hanyalah biru, biru, dan biru. Dari atas, Marino melihat seekor ular raksasa berenang di samping kapal. Tadinya ia terkejut dan mau memberi peringatan darurat, tapi ia baru ingat bahwa itu adalah Morded, ular teman Adin. Ia melihat Adin berjalan mendekati tepi kapal. Kelihatannya mau muntah, tapi ternyata ia mau berbicara dengan Morded. Morded mengangkat lehernya setinggi geladak kapal. Adin sama sekali tidak menggerakkan mulutnya, tapi kemudian Morded masuk lagi.

“Ooooeeeiii, Adin! Kau tanya apa?” tanya Marino dari atas.

“Aku tanya apakah ia bisa meminta monster laut lainnya untuk ikut mengawal kapal-kapal kita,” sahut Adin dari bawah. Dan di samping kapal, muncul beberapa monster raksasa yang bentuknya unik. Ada yang seperti ikan hiu tapi amat besar dan bersisik, ada yang seperti naga yang bisa berenang, dan ada pula yang seperti buaya. Tiba-tiba Ullyta melompat ke bawah. Marino mengikutinya.

“Kau bisa berbicara dengan hewan?” tanya Ullyta pada Adin.

“Kelihatannya,” jawabnya.

“Coba kau pakai bahasa binatang padaku,” pinta Ullyta, dan keduanya saling bertatapan sejenak. Beberapa prajurit mendekat karena penasaran.

“Hei, aku bisa bicara denganmu juga!” kata Adin setelah beberapa saat.

“Berarti kau bukannya bisa bicara dengan hewan,” kata Ullyta. Semua agak terkejut. “Kau bisa berbicara melalui pikiran pada mahluk hidup lain. Bagimu itu bahasamu, dan bagi mahluk yang kau ajak bicara, itu bahasanya.”

“Tetapi tidak semua mahluk hidup bisa melakukan telepati semacam itu, untuk menjawabku.,” protes Adin.

“Nah. Keahlianmu itu bukan sekedar telepati satu arah. Saat kau mengirimkan pikiran ke mahluk yang kau tuju, kau kelihatannya juga membuka sebuah jalur, sehingga saat kau mengirimkan pikiran, dia bisa mengirim kembali pikiran itu jika menghendaki,” kata Ullyta.

“Tapi aku pernah dipanggil duluan oleh hewan. Apa kau mau bilang hewan itu juga bisa ‘membuka jalur pikiran’?” tanya Adin lagi.

“Bukan. Tunggu… biar aku berpikir dulu….”

Suasana hening sejenak. Tiba-tiba Ullyta menatap Adin sebentar.

“Ya. Namanya Amber,” kata Adin.

“Berarti jika ada yang mengajakmu berbicara lewat pikiran, kau bia mendengarnya. Kalau hewan, mereka tidak pakai bahasa. Mereka menggunakan isyarat naluriah mereka, sambil memikirkannya dalam hati. Wajar saja kalau kau bisa dengar. Terpecahkan juga misterimu,” kata Ullyta.

Marino kembali ke tempat pengintaian dan menunggu. “Oi, kapten! Kapan kita tiba?” teriaknya pada kapten kapal.

“Besok malam!” balas sang kapten. Wah, kalau begitu masih lama. Waktu itu kapal dari Crin’s Blade menjemputnya dari Gallowmere di saat yang tepat. Apakah kebetulan, atau memang kapal asli Crin’s Blade yang bisa secepat kilat? Tapi tidak. Cuma kebetulan. Pada pertempuran kemarin, waktu kapal-kapal Crin’s Blade sadar bahwa kapal-kapal Devilmare telah lolos, mereka gagal mengejar tepat waktu.

Malam tiba dan ransum malam dibagikan. Saat seperti itu, ada isyarat dari salah satu skuadron kapal yang melakukan konvoi berupa kilatan api hijau yang melambung tinggi. Ada serangan, tapi mereka tak perlu terlalu khawatir, sebab ada dua skuadron yang mengawal mereka. Apalagi ada beberapa monster raksasa yang ikut mengawal. Kilatan-kilatan cahaya memercik ke udara dan dari tempat pengintaian, Marino akhirnya melihat siapa yang mereka hadapi. Ada satu konvoi besar kapal Devilmare. Tapi kapal perangnya hanya sembilan yang terdepan saja. Sisanya merupakan kapal transport. Rupanya Devilmare mau mengadakan serangan kejutan lagi, tapi kali ini lebih kecil. Jauh lebih kecil. Mungkin ada sekitar dua puluh kapal transport. Kebetulan sekali bisa berpapasan dengan mereka.

Empat kapal perang telah berhasil dilumpuhkan oleh armada Doughlas, tapi skuadron pertama kelihatannya kehabisan peluru magic api yang biasa mereka pakai, dan musuh belum masuk jarak tembak skuadron dua. Jarak tembak kapal itu sekitar seratus meter. Dari kapal-kapal skuadron satu, meluncur sekoci-sekoci berisi marinir yang telah bersiap dengan senjata masing-masing. Para monster yang dipimpin oleh Morded mulai meluncur ke arah konvoi kapal transport musuh.

Rupanya saat mau menyerang, monster air bisa meluncur dengan sangat cepat di air. Tampak Amber melayang menuju konvoi musuh sambil mencurahkan hujan api. Skuadron dua akhirnya telah cukup dekat dan menghujani kapal musuh yang tidak dipenuhi marinir Crin’s Blade, ditandai dengan kapal yang telah mulai terbakar dan sekoci di sekitarnya, dan juga tidak menyerang kapal yang sedang dihancurkan oleh monster.

Skuadron dua juga kehabisan peluru magic api dan mulai meluncurkan sekoci. Tapi rasanya tidak perlu. Satu persatu kapal musuh tenggelam, paling banyak oleh para monster dan Amber, yang dengan mudah bisa membuat lubang yang sangat besar di dasar kapal. Api pada tubuh Amber tidak padam walau menyelam ke air. Sudah hampir matahari terbit dan kapal terakhir dari konvoi Devilmare akhirnya tenggelam. Mereka berhasil menawan sekitar seribu lima ratus prajurit Devilmare dan menahan mereka di kapal-kapal skuadron tempur. Marino bertanya mengenai peluru magic api dan bagaimana mengisinya lagi. Menurut seorang awak kapal, ada seorang mage yang bisa mengisinya dengan melakukan magic api yang kuat ke laras-laras meriam. Tapi prosesnya lama, dan meriamnya lumayan banyak. Jadinya sangat lama, tapi ampuh.

Sarapan berupa sepotong roti dan ayam dibagikan. Semuanya makan tanpa gangguan. Marino menulis surat untuk Doughlas di kapal Juggernaught yang paling depan. Ia memerintahkan agar satu kapal atau sekoci pulang, untuk memperingatkan The Chain, karena kapan saja bisa ada serangan dari Devilmare, agar mereka melakukan siaga tempur dan patroli ekstra. Ia menambatkan suratnya di kaki Amber, lalu seolah mengerti maksudnya, ia langsung melayang pergi menuju Juggernaught yang ada Doughlas-nya. Sekitar setengah jam kemudian, tampak tiga buah sekoci meluncur ke arah sebaliknya, menandakan bahwa Doughlas telah menerima surat tersebut.

Perjalanan terasa sangat lama, hingga malam tiba dan daratan mulai tampak. Hutan belantara tampak di daratan tersebut. Makin lama mereka makin dekat… makin dekat, dan terdengar sebuah siulan yang sangat nyaring, namun dari kejauhan. Mendengar siulan itu, kapal-kapal yang mendengarnya juga mengeluarkan siulan. Sekoci-sekoci mulai meluncur.

“Apa maksudnya? Tanya Marino pada Jasmine sambil membantunya memyiapkan sekoci. “Artinya, waktunya kita naik sekoci. Kapal tidak bisa lebih dekat lagi. Ayo,” puluhan sekoci meluncur di kiri dan kanannya membuat semuanya kelihatan sangat seru bagi Marino. Apalagi sekarang sudah malam.

Setibanya di pesisir, semua pasukan memisahkan diri dan bergabung ke pasukannya sendiri, menunggu perintah. Adin sedang mengatakan sesuatu pada Morded sang ular raksasa. Ternyata dia menyuruhnya untuk ikut pasukan Gerilya. Jasmine mendengus agak kurang suka.

“Dia agak takut ular,” bisik Eko.

“Payah. Dia kan gerilya,” bisik Daffy pada Eko. Setelah menerima tanda dari Marino, seluruh pasukan bergerak ke hutan dan mendirikan kemah.

“Besok pagi, kau akan ke sana, Herz,” perintah Marino.

Keesokan paginya, Herz, dan Jasmine bergerak menuju puri itu. Entah apa yang akan mereka lakukan agar tidak dicurigai. Sementara itu, Marino menegaskan kembali strateginya kepada yang lain. Beberapa saat kemudian, Jasmine kembali.

“Mana Herz?” tanya Marino.

“Dia memintaku kembali untuk memberitahukan padamu. Seorang petinggi Devilmare sedang berkunjung ke sana, jadi sebaiknya kita menunggunya pulang sebelum nanti bergerak,” jawabnya.

Saat itu semua sedang bersiap-siap. Kelihatannya bagi para prajurit misi ini terlalu mudah. Entah mereka cuma omong kosong atau memang hebat. Matahari sedang terik-teriknya waktu Herz kembali dari sana. Ia membawa bungkusan besar.

“Si Pejabat sudah pulang dari tadi, tapi aku kebanyakan ngobrol dengan Jernandez. Maaf. Tapi ia memberikan ini,” kata Herz senang, dan menunjukkan isi bingkisan yang diperolehnya, yang ternyata dua buah gelas perak.

“Katanya ini untuk suami dan anakku. Baik sekali. Kumohon, tawan saja dia,” dan Marino malah agak sinis.

“Informasinya?” tanyanya.

“Oh, ya. Katanya, jika mau mengeluarkan orang dari tabung dengan benar, harus Rafdarov V sendiri yang menempelkan telapak tangannya di salah satu tabung, dan tabung itu akan terbuka. Tapi jika orang lain, harus dibelah. Sekali tebas tabung itu harus hancur. Jika tidak, orang di dalamnya akan tewas. Untuk menyadarkannya, baringkan lalu tunggu saja. Katanya orang di dalam tabung akan sadar sekitar lima menit setelah mendapat udara bebas lagi,” kata Herz.

“Oke, semua bergerak sekarang juga,” kata Marino. Pasukan The White Garda bersiap di atas kuda masing-masing, demikian juga Marino, Ullyta, Saphirre, Adin, Eko, Daffy, dan Herz. Pasukan gerilya juga mulai bergerak. Jasmine agak bergidik begitu menyadari Modred yang bergerak tepat di sebelahnya. “Maju perlahan,” perintah Marino, lalu seluruh kavileri bergerak perlahan, hingga akhirnya mereka sudah dekat dengan tepi hutan yang lain.

Bukan tepi hutan, sebetulnya, tapi bagian hutan yang membuka sedikit, tempat dibangunnya puri itu. Cukup banyak prajurit yang menjaganya. Tapi mereka menumpuk di bagian depan puri. Ada sekitar lima ratus. Bagus, ini tidak seimbang dan menguntungkan kita, pikir Marino. Marino mengirim seorang pasukannya untuk memeriksa semua sektor pasukan gerilya, dan kembali lima belas menit kemudian. “Semua siap,” katanya. “Baiklah. Semuanya maju!”seru Marino dan pasukan kavileri the White Garda menerjang maju, untuk membuktikan kekuatan pasukan penjaga khusus kerajaan.

Para prajurit Devilmare yang sama sekali tidak pernah bermimpi akan mendapat serangan sedikitpun, di siang bolong, apalagi oleh sepasukan besar kavileri yang tangguh, apalagi pula di tengah-tengah daerah kekuasaan Devilmare. Sebagian dengan sigap menyambut serangan, sebagian kabur tepat ke arah di mana para gerilyawan menunggu, dan mereka dihujani dengan panah dan tombak oleh para gerilyawan. Sebagian kabur ke dalam. Dalam waktu yang sangat singkat, mereka telah menguasai area puri. Tim Marino dan tiga puluh prajurit the White Garda turun dari kuda masing-masing, dan melesat masuk ke puri. Di dalam, langsung terjadi pertarungan singkat, yang menyebabkan banyak musuh tewas, dan banyak yang di sandera.

Jernandez tidak mau menyerah. Saat seorang prajurit mau menebasnya, Herz menyambar Jernandez agar tidak terkena. Akibatnya, lengannya terluka. Karena didorong Herz, Jernandez jatuh dan sebuah mahkota kecil terlepas dari kepalanya.

“Aku… aku dipaksa. Jangan sakiti aku.. aku akan ikut kalian. Aku.. pikiranku dikuasai…,” pinta Jernandez. “Kalau begitu tunjukkan di mana Daisy Asalaz disimpan,” perintah Marino padanya.  “Aku tidak tahu. Ada ribuan orang di sana, dan aku tidak ada daftarnya. Percayalah,” kata Jernandez.

“Kalau begitu, ikut kami ke bawah,” kata Marino, dan ia setuju. Ia mengambil sebilah tombak, dan Adin menodongnya dengan kapak algojonya.

“Ada beberapa monster yang menjaga di bawah. Percayalah padaku. Aku sejak semula tidak pernah mau ikut Devilmare,” bujuk Jernandez.

“Herz, kau ingat arahnya?” tanya Marissa.

“Errr… tidak. Jalannya sering bercabang-cabang, dan aku sulit untuk mengingat jalan. Kalau waktu itu tidak ada yang menjemputku di dalam, aku tidak bisa keluar lagi.”

Mereka ada sembilan orang, yaitu Marino, Eko, Adin, Daffy, Herz, Saphirre, Ullyta, Marissa, dan Jernandez. Setelah memerika papan di sepan lorong menuju bawah tanah (tepatnya ada ‘0’ manusia) dan segera bergegas ke bawah. Baru saja mereka menemukan sebuah ruangan yang agak terbuka, seekor monster kepiting muncul dan menusuk perut Jernandez.

“Aku lupa. Harusnya kita tadi menekan tombol tersembunyi,” katanya lemah. Eko menghantam monster itu dengan sebuah magic petir yang kuat, sehingga sang monster terbanting keras dan tubuhnya terlilit pancaran listrik yang terus mengecil. Tak lama akhirnya monster itu terbelah oleh pancaran itu.

“Saphirre, tolong bawa Jernandez naik dan obati dia,” kata Marino.

“Tentu saja..,” kata Saphirre dan pergi memapah Jernandez.

Ruangan itu bercabang dua. “Herz, ke kiri atau kanan?” tanya Marino, dan Herz menggeleng. Dia sudah lupa.

“Oke. Ada yang tidak bisa menghancurkan dengan sekali tebas?” tanya Marino dan Herz mengangkat tangan.

“Nah. Kita bagi dua regu. Aku, Daffy, dan Marissa, kita ke kiri. Adin, Eko, dan Ullyta, ke kanan. Herz, kau harus selalu bersama yang ke kanan, dan terus bersama paling tidak salah satunya. Ini, kubagikan alat siul, tiup keras jika dari kalian ada yang menemukannya, lalu bawa dia kemari. Jangan lupa. Daisy Asalaz. Bergerak,” lalu mereka pergi ke arah masing-masing.

Mereka tidak bisa bergerak cepat karena harus mengamati nama satu persatu orang di dalam tabung, dan ada ribuan di sini. Dengan sabar dan berusaha cepat, mereka terus mencari. Grup Marino mencari terus hingga akhirnya bertemu jalan yang bercabang dua.

“Daffy, kau ikut Marissa ke kanan, dan aku ke kiri,” perintah Marino. Tanpa menunggu disuruh dua kali, mereka bergerak. Marino menemukan sebuah pintu. Begitu ia membuka pintu itu, ia bertemu seekor iblis yang pernah ia lihat di pertempuran beberapa hari silam. Hanya saja, yang ini agak lebih kecil, dan punya sayap. Kedua tangannya memegang pedang yang ukurannya mengerikan.

Marino menerjang monster tersebut, tapi monster itu juga pintar. Mereka bertarung sejenak, hingga akhirnya Marino berhasil memenggal kepalanya. Tubuhnya berhenti bergerak, dan jatuh sendiri. Ada dua buah pintu lagi. Dipilihnya pintu sebelah kiri untuk ditelusurinya lebih dahulu. Ia terus menyusuri ruangan tabung berikutnya sambil melihat wajah wajah di dalam tabung-tabung, tapi tak ada Daisy Asalaz. Terus menerus mencari dan ternyata ia menemukan dirinya kembali ada di ruangan dimana ia bertemu iblis.

Tadinya ia mau menyusul rombongan Marissa, tapi menurutnya itu akan merepotkan dan membuatnya bisa tersasar dan malah membuat semuanya lebih ruwet. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruangan dimana pertama ia bertemu monster dan Jernandez terluka. Di sana sudah ada monster lagi, yang berupa musang raksasa, namun mudah dikalahkan. Setelah berhasil, ia duduk di atas bangkai monster itu. Ia menanti. Pasti ada yang akhirnya akan menemukannya.

Tapi… bagaimana jika ternyata waktu itu Herz salah lihat? Maka semuanya… semua misi ini… sia-sia… tapi setidaknya ia mendapati sebuah konvoi tempur Devilmare menuju Dark Land yang sama sekali tidak diperkirakan. Ah, tidak mungkin salah, pikir Marino. Herz mengetahui namanya secara detail, dan juga rupanya. Jangan berprasangka buruk. Dan ia terus menanti… menanti…

Sementara itu, rombongan Eko, Adin, Ullyta, dan Herz juga menemui jalan bercabang dua. “Aku dan Adin ke kiri, kalian berdua ke kanan. Ayo,” kata Eko, dan mereka bergerak menuju arahnya masing-masing.

Herz dan Ullyta, dua wanita yang usianya selisih hampir dua puluh tahun ini, terus mengobrol sambil mencari. Akibatnya, pencarian mereka berlangsung lambat. Ullyta bercerita mengenai pacarnya yang bernama Aerio Brynn. Juga mengenai silsilah Aerio. Herz merupakan seorang pendengar yang baik, sehingga ia hanya mendengarkan saja kisah dari Ullyta sambil terus mencari.. dan mencari…. hingga akhirnya Ullyta menceritakan saat ia berkenalan dengan keluarga Aerio. Di sana, ia berkenalan dengan ibunya, yaitu Amarent Brynn, ayahnya, Collin Brynn, dan tunangan pamannya, yaitu Lucy Gells. Paman Aerio sendiri tidak ada. Mendengar nama tunangan paman Aerio, Herz terhenti.

“Lucy menikah dengan Crestino Brynn dua bulan yang lalu…,” kata Herz.

“Ha!” Ullyta terkejut, “Kau tahu dari mana?” tanyanya.

“Marcus Gells, kakak dari Lucy Gells… adalah suamiku. Jika kau menikah dengan Aerio, kita akan jadi keluarga, Nak,” kata Herz. Sejak itu, mereka bertambah seru mengobrol dan pencarian bertambah lama.

Bertolak belakang dengan kelompok Adin dan Eko. Keduanya tak berkata apa-apa. Eko mengamati tabung-tabung di sebelah kirinya dan Adin mengamati sebelah kanan. Keduanya berjalan dengan cepat sekali. Mereka tidak mengamati label nama orang yang di dalam tabung, melainkan orang di dalam tabung itu sendiri.

Mereka menemukan pintu yang besar. Di balik pintu itu, ada seekor monster besar. Mereka menyerang monster itu. Monster itu mudah sekali dikalahkan, tapi mereka baru sadar. Monster itu akan meledak. Eko masih sempat melompat ke pintu berikutnya. Adin melompat pula, ia terlalu jauh. Tapi ia masih sempat menutup pintu di mana Eko menunggu. Eko terjatuh ke belakang karena pintu ditutup keras, tapi ia segera bangkit lagi untuk membukakan pintu untuk Adin, tapi dari balik pintu terdengar ledakan keras.

Menolak membuang waktu untuk memeriksa apakah Adin selamat, yang jelas mustahil, ia mencari ke ruangan berikutnya. Dengan semangat baru, ia dengan cepat meneliti kiri dan kanannya. Selang beberapa ruangan, impiannya tercapai. Kini di depannya ada sebuah tabung yang isinya seorang wanita yang berwajah manis, berambut cokelat lurus sepanjang bahu, dan melayang ganjil di dalam tabung berisi cairan aneh itu. Matanya terpejam. Di bawah tabung itu, tertera nama Daisy Asalaz.

Eko mengarahkan tongkatnya ke arah tabung itu, dan terhenti sejenak. Bagaimana cara menghancurkan tabung itu tanpa menghancurkan isinya? Dan Eko mendapat cara. Ia menyihir lima bola listrik kecil dan melayangkan mereka. Satu sejajar dan lurus mengarah ke sekitar satu jengkal di samping telinga kiri Daisy, satu lagi di sebelah telinga kanan, satu di sebelah kaki kanan, satu di samping kaki kiri, dan yang terakhir tepat di antara kedua paha Daisy. Yang ini harus ekstra hati-hati kalau tidak mau kena paha Daisy. Eko sadar bahwa kelima bola itu harus meluncur cepat, dan bersamaan. Ia berkonsentrasi, dan kelima bola listrik itu mulai mengeluarkan beberapa percikan api. Eko tidak boleh melakukan kesalahan. Tidak boleh. Ia menajamkan matanya… ia mengerahkan semua partikel otaknya untuk membantunya… dan…

WHHUUUUUUSSSSSSS… PRANG!!! Tabung itu pecah berantakan, dan tubuh Daisy terjatuh ke depan. Dengan sigap, Eko menangkapnya. Aneh. Setelah sekian lama terendam cairan, tubuhnya sama sekali kering. Eko mengangkatnya dan membaringkannya di lantai yang tidak ada pecahan kaca dan tumpahan airnya. Ia meniup keras alat yang diberikan oleh Marino tadi dan menunggu Daisy tersadar. Dibelainya wajah yang bertahun-tahun tidak ia lihat itu. Sama sekali tidak berubah sejak terakhir ia lihat beberapa tahun silam. Adin menghambur masuk.

“Kau menemukannya.”

“Apakah kau tak apa-apa?” Eko kaget, menyangkanya sudah tewas terkena ledakan. “Aku tidak akan mati semudah itu, sobat. Daisy… dia belum berubah. Semoga dia mau memaafkan kita.”

Daisy membuka matanya. “Kalian… kalian akhirnya datang juga…. aku lama sekali menanti kalian.. dan…. tolong… dingin sekali,” kemudian Eko baru sadar. Dirinya yang berbadan besar dan memakai jubah perang dilapis jubah kain saja masih dingin. Eko melepas jubah kainnya, dan menyelimuti Daisy, dan Adin melakukan hal yang sama.

“Bagaimana rasanya di dalam tabung itu?” tanya Eko.

“Tidak ada rasanya. Rasanya aku baru memejamkan mata lima menit yang lalu waktu mereka memasukkanku di sini. Tapi… kalian sudah berubah… kalian besar sekali… apa yang terjadi?” tanya Daisy, membuat Eko dan Adin saling berpandangan.

“Hampir enam bulan penuh aku berada di penjara sebelum aku masuk kemari. Marino dan Daffy mana? Eh, aku heran sekali. Ceritakan. Kenapa kalian tampak lebih tua dari terakhir aku ingat?” di hadapan Eko dan Adin sekarang ini secara fisik, yah, menurut perkiraan memang seorang Daisy Asalaz yang berusia tiga atau empat belas tahun.

“Eh, kau ingat kapan kau tertangkap oleh mereka?” tanya Adin, mulai curiga. “Yah, tentu saja. Sudah lama sekali. Mungkin kira-kira enam bulan lalu. Lebih dua atau tiga minggu, barangkali. Salahkah aku?” tanya Daisy, tapi mulai curiga ada sesuatu yang tidak beres. Agak lama Adin dan Eko membisu, sebelum akhirnya Eko angkat bicara. “Daisy… itu… terjadi hampir tiga tahun yang lalu….”

Ketiganya berjalan menuju ruang dimana semua berjanji untuk bertemu. Daisy tampak lucu sekali dengan memakai jubah yang luar biasa terlalu besar untuknya. “Kalian betul-betul tumbuh, ya?” tanyanya dan merangkul kedua temannya itu, yang sekitar tiga puluh senti lebih tinggi darinya.

Saat Daffy melihatnya, ia langsung memeluk dan mencium pipinya. “Lama sekali…,” katanya sambil membelai kepalanya.

“Baginya baru beberapa bulan. Dia akan menjelaskannya nanti,” kata Adin. Marino juga langsung memeluknya. Daisy cuma setinggi bahunya sekarang.

“Kau bertambah mungil atau aku yang bertambah tinggi?” tanya Marino. “Kami tunggu di atas.” kata Marissa, lalu semua meninggalkan mereka berdua di sana. “Kau yang bertambah tinggi, dan aku tidak tumbuh sama sekali,” kata Daisy tersenyum.

“Maksudmu?” Marino keheranan.

“Aku serius. Sangat serius,” mereka pun berciuman.

Mereka telah membereskan tenda dan telah siap untuk kembali ke kapal. Agak lama baru Marino dan Daisy kembali. Setelah semua siap, mereka kembali ke pesisir dimana sekoci-sekoci mereka masih ada belum tersentuh. Modred kembali ke air untuk menyusul skuadron-skuadron laut milik Doughlas. Sekoci-sekoci kini sedang kembali ke kapalnya masing-masing.

“Jangan sampai salah kapal,” Daffy memperingatkan semuanya. Sesampainya di kapal, Marino membantu Daisy naik.

“Ceritakan kisahmu,” kata Daisy setelah mereka duduk di salah satu kabin kapal. Marino menceritakan bagaimana ia bekerja pada Devilmare, ia terpisah dari teman-temannya dalam sebuah pertempuran yang diikuti oleh sebuah ledakan besar. Ia kemudian berlanjut ke kisahnya yang bekerja pada El-Peso, lalu pindah ke Gallowmere dan bertemu Daffy. Setelah itu ia ceritakan pula kisahnya di Dark Land dan sampailah ke saat akhirnya ia menjadi Caliph lalu ia mendapat kabar mengenai keberadaan Daisy.

“Kebetulan sekali. Sangat-sangat kebetulan. Kalau saja orang yang bernama Herz itu tidak melihat aku di tabung, aku tidak akan bersamamu lagi,” katanya.

“Kalau kau?” tanya Marino.

“Yah, aku dimasukkan ke penjara lokal karena mengacaukan keamanan. Beberapa bulan setelah itu, Rafdarov V sendiri melakukan inspeksi. Ia melihatku dan berniat memasukkanku ke dalam Lucifer’s Den. Tapi ada yang mengusulkan agar aku masuk ke puri Jernandez saja. Dia setuju. Aku dibawa ke sana, lalu Jernandez menyihirku dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Yang aku tahu adalah tiba-tiba aku terbangun di lantai dan ada Eko di sebelahku. Dari ceritanya, aku telah tidak sadar selama hampir tiga tahun. Tapi, aku masih tiga belas. Kau lihat. Aku mungil sekali,” katanya agak kecewa.

“Tapi kau sangat cantik. Aku menyukaimu,” Marino mencium pipinya. “Oh, berhentilah menjilat,” ledek Daisy, dan keduanya tertawa dan berpelukan. Marino sadar, bahwa ramalan Gabriela benar. Ia sangat mencintai Daisy. Bahkan, rasanya ia terlalu mencintainya, dan ia baru merasakannya saat ia melihatnya untuk pertama kalinya waktu Eko dan Adin membawanya keluar. “Omong-omong, waktu aku di dalam tabung, ada saat-saat dimana aku sadar. Seperti mimpi. Dua kali. Pertama aku merasa seperti berada di waktu kita berlima tidur di hutan karena Daffy dihukum. Lalu, aku bermimpi lagi, seolah kita berlima berada di dekat Rafdarov. Itu saja,” kata Daisy.

“Aku tidak heran. Kita berlima memang bermimpi tentang hal yang sama,” jawab Marino.

“Aku tak bisa banyak membantu,” kata Kaine di ruang pertemuan Crin’s Blade setelah Marino dan yang lainnya tiba dua hari kemudian, “Hanya sedikit. Dia tiga tahun lebih muda dari sebelumnya. Aku cuma bisa menuakannya sedikit, satu setengah tahun itu maksimal, tapi cuma fisiknya saja. Kalau cara dan pola fikirnya, rasanya akan tetap seper….”

Daisy langsung memotong pedas, “Jadi kau mau bilang kalau aku anak-anak? Apa begitu?” Kaine tertawa.

“Dengan tingkahmu seperti itu aku makin berpendapat demikian,” katanya sambil membelai kepala Daisy dengan tangannya yang berjari kurus panjang, dan agak bersisik, tapi Daisy tidak tampak keberatan.

“Nah, kalau begitu, gantilah pakaianmu dengan yang agak lebih besar. Tubuhmu akan membesar sedikit, kalau memang kau bisa tumbuh lagi…,” Daisy melotot tajam padanya.

Ia pergi ke kamar Marissa dimana Marissa berjanji akan memberinya baju. Dia kembali tak lama kemudian dan Kaine telah memegang segelas cairan bening. “Minumlah ini. Takaran dan dosisnya sudah aku ukur supaya kau, secara fisik, satu setengah tahun lebih tua,” katanya.

“Tambahkan lagi, supaya aku bisa lebih besar lagi,” pinta Daisy.

“Tidak bisa. Jika aku tambahkan lebih dari satu tahun tujuh bulan, akan menjadi racun yang amat kuat. Makanya, aku buat satu tahun enam bulan supaya aman. Dan… kau cuma boleh minum ini sekali dalam seumur hidupmu kalau kau masih mau hidup. Langsung habiskan. Jangan berhenti meneguk kalau belum habis,” kata Kaine.

Dengan wajah cemberut, Daisy mengambil cangkir itu. Marino, Eko, Daffy, Adin, Marissa, dan beberapa orang lain datang untuk menyaksikan. Daisy langsung meminumnya sampai habis. “Rasanya hambar,” katanya.

Mereka menunggu beberapa saat, dan terjadilah. Tubuh Daisy agak membesar, kemudian tingginya pun agak bertambah. Kini ia setinggi telinga Marino, seperti dulu lagi.

“Umurku lima belas sekarang,” katanya senang. “Terima kasih banyak, Kaine. Nah, Paduka Marino, bisakah kau usahakan agar aku masuk ke militer?” tanyanya manja.

“Akan kuusahakan,” kata Marino, yang mencubit pipinya dengan gemas melihat tingkah dan gaya bicaranya itu. “Dan, ada tempat kosong di fraksi politik The Chain. Mungkin kau bisa mengisinya.”

Daisy diam sejenak, lalu memeluk Marino. “Aku tidak berharap banyak. Aku cuma sangat senang bisa kembali dengan kalian seperti dulu,” kata Daisy. Marino juga sangat senang. Marino membelai kepalanya, dan terjadilah suatu keajaiban. Daisy memegang kedua pergelangan tangan Marino.

“Senjata dariku ini kenapa?” tanyanya.

“Hancur, kena sihir Jester. Tapi aku selalu memakainya,” Daisy tersenyum, lalu mencium Marino tanpa melepas kedua pergelangan tangannya. Tiba-tiba saja senjata pada kedua tangan Marino memanjang lagi dan utuh seperti semula. Hanya saja warnanya menjadi emas. “Kau tahu, aku tidak membuatnya dari logam saja?” bisik Daisy, dan memeluk Marino lagi dengan sangat erat. Daffy, Eko, dan Adin masuk.

“Berlima, “kata Eko,” kita akan habisi Devilmare.”

Kini dia sangat percaya bahwa Rafdarov akan hancur. Dia tidak akan bisa bertahan melawan Marino, karena kelompoknya telah utuh kembali. Empat kuat, lima sempurna. Marino, Eko, Daffy, Adin, dan Daisy. Kelompok yang dulu.

[End of Chapter XI]

[Coming up next, Chapter XII: Past, Present, and Future]

One Trackback

  1. […] – Chapter XI: The Old Group […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*