Legend of Legends: Chapter XII – Past, Present, and Future

After quite a while, here goes Chapter XII!

Enjoy ^_^

———————————————————————————————————————————–

CHAPTER 12

PAST, PRESENT, AND FUTURE

                Kemanapun mata memandang, hanya kuburan saja yang tampak. Marino berada di kaki jurang yang amat dalam. Jauh depannya, di atas sebuah bukit nan jauh di sana, tampak ibukota Eleador. Langit senja yang mulai gelap menyelimuti angkasa. Akan tetapi cukup terang untuk memperlihatkan betapa kota tersebut sedang ditutupi awan hitam yang melayang amat rendah, hingga kota tersebut tampak seperti muffin rasa tinta. Marino, Eko, Adin, Daffy, dan Daisy terperanjat melihat kota itu. Mereka tahu bahwa Lucifer sudah menguasai kota tersebut, bahkan itulah awan hitam itu.

Kelimanya memakai armor yang amat aneh. Amat indah, sebetulnya. Terbuat dari platinum murni dan diukir dengan emas dan perak membentuk motif. Sekilas tampak berkilauan merah.

Meski mereka ingin sekali membebaskan kota itu, tapi mereka tahu bahwa di sekeliling kota tersebut telah dipasang jajaran iblis raksasa yang melingkari kota, dan tak terhitung jumlahnya. Kalaupun bisa melawan mereka semua, kota tersebut ditutupi semacam pelindung tak kelihatan yang mencegah mahluk hidup apapun masuk ke dalamnya dengan cara membakar dengan api langsung dari neraka yang paling dalam. Tapi entah dari mana, mereka sudah tahu cara mengatasinya.

Untuk membuat pelindung semacam itu, harus dibuat segel pada kuburan masal terdekat. Jika segel di hancurkan, segel tersebut punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, adalah segel tersebut akan bisa memulihkan diri selama satu kali lagi. Kekurangannya, segel itu akan menteleport semua mahluk hidup yang berada dalam radius tiga meter dari segel, langsung ke area dimana pelindung dipasang, atau dengan kata lain, tidak perlu melewati pelindung tersebut.

Kelimanya mendekati segel yang berbentuk seperti tiang setinggi empat meter dan selebar setengah meter itu. Sisi-sisinya diukir dengan gambar-gambar mengerikan. Sebelum kelimanya bisa mendekat, dari makam-makam sekitarnya, bangkit sekitar tujuh ekor iblis. Tanpa berhenti untuk wiro-wiri dulu, mereka langsung menerjang ke arah monster-monster tersebut. Marino, yang senjata kembarnya kini berwarna emas, dengan gerakan salto yang gesit nan indah, terbanglah kepala salah satu iblis tersebut. Daffy dengan mudah melucuti satu persatu alat gerak seekor iblis di hadapannya. Saat kedua tangan, kaki, dan sayap sang iblis telah rontok, ia langsung memenggal seekor lagi. Adin dengan kampaknya yang besar, membelah tubuh dua monster secara vertikal, dan masing-masing monster tersebut terbelah dua.

Percikan-percikan listrik mulai muncul di ujung tongkat Eko, dan terlontar mantap ke arah seekor iblis, membuatnya dibelit ratusan benang listrik hingga akhirnya terbakar. Ia tidak menyadari adanya seekor monster iblis lain yang mau menerjangnya dari belakang, tapi tidak sempat. Daisy melompat maju, dan dengan kecepatan tinggi, ia mengoyak-ngoyak tubuh sang iblis dengan tombaknya hingga hancur berantakan.

“Apakah kalian sudah siap?” tanya Marino, dan semuanya mengangguk. Mereka mendekati segel, dan mengelilinginya. “Kita lakukan,” kata Marino lagi, lalu entah dari mana, mereka telah tahu harus berbuat apa. Marino memegang tangan Eko di sampingnya, yang memegang tangan Adin, yang memegang tangan Daffy, yang memegang tangan Daisy, yang kemudian memegang tangan Marino, membentuk lingkaran mengelilingi segel iblis tersebut. “Demi cahaya yang menyinari kegelapan,” kata Marino yang tubuhnya mulai bersinar. Lagi. Entah dari mana, ia telah mengetahui apa yang harus ia katakan dan lakukan.

“Hilangkan kesengsaraan umat manusia,” kata Eko, lalu tubuhnya pun ikut bersinar.

“Demi tugas mulia ini, hendaknya kami ingin melalui segel iblis,” kata Adin, tubuhnya bersinar juga.

“Segel iblis perusak umat dan juga penyengsara umat,” kata Daffy, tubuhnya memancarkan sinar yang sama seperti temannya yang lain.

“Hancurlah segel gelap dan jahat. Segel iblis,” kata Daisy dan tubuhnya juga disinari cahaya mistik itu.

“Dan hancurlah kau, segel Lucifer!” teriak semuanya bersamaan.

Sinar dari tubuh mereka naik ke atas, bergabung, dan menjadi bola cahaya yang sangat menyilaukan. Bola cahaya itu menukik turun dan menghantam segelnya, hingga sebuah lapisan perak luluh, dan menampakkan warna dalam segel itu, yaitu hitam.

“Sudah waktunya. Serang!” mereka mulai menerjang segel itu. Belum lama mereka menerjang segel itu, dan belum hancur sepersepuluhnya sekalipun, mereka terhenti. Di hadapan mereka kini berdiri sosok raksasa Rafdarov V.

“Tahukah kalian bahwa pedangku ini bisa membelah apapun yang berada sepuluh meter dalam radius tebasannya?” tanyanya dengan suara sok sopan.

“Dan tahukah kau bahwa jika kau membelah kami, kau akan hancurkan segelnya juga?” jawab Daisy dengan ketus.

“Ya, aku tahu. Jika aku membelah kalian, segelnya akan ikut hancur dan mayat kalian akan terkirim ke sana!” bentak Rafdarov, dan mengayunkan pedang raksasanya. Reflek membuat Marino memeluk Daisy dan ketiga temannya yang lain bergerak untuk saling melindungi, akan tetapi, semua itu tidak perlu.

Suara besi beradu yang amat nyaring bergema hebat ke seluruh area pemakaman, dan gaungnya tiba kembali pula. Ada sebuah pedang raksasa unik pula yang menangkis pedang iblis Rafdarov, dan kelihatannya sakti juga, sebab serangan Rafdarov terhenti. Tidak memancar hingga sepuluh meter ke depan. Pedang raksasa itu dimiliki oleh seorang raksasa pula.

“Bimo!” seru Adin.

“Hancurkan segelnya, dan akan kutahan dia di sini,” kata orang bertubuh raksasa tersebut.

“Sembarangan saja! Aku bisa membelah besi terkuat sekalipun! Dan…,” Rafdarov tidak melanjutkan kata-katanya. Pedangnya kini memancarkan cahaya hitam-hijau tua yang menyelimuti mata pedangnya, “…kekuatan iblis juga membantuku!” teriak Rafdarov, dan menebas Bimo.

“Rasakan kekuatan Fraternite!” Bimo menyambut pedang iblis tersebut. Kedua pedang tersebut beradu. “Hebat juga kau. Aku amat merindukan lawan yang seimbang,” kedua raksasa itu bertarung, menciptakan gempa kecil tiap kali mereka saling menerjang.

Marino dan yang lainnya kembali menerjang segel itu. “Keluarkan kekuatan maskimum elemental senjata kalian!” kata Daffy dan sinar biru muda membelit pedangnya. Mata kapak Adin mulai mengeluarkan api. Ujung tongkat Eko penuh dengan percikan-percikan listrik. Pada kedua ujung senjata Marino memancar sinar putih yang berpusar cepat. Elemen angin. Ujung tombak Daisy memancarkan cahaya yang sama dengan Marino. Setelah itu, kelimanya menyerang sekaligus. Segel itu langsung hancur berantakan. Sebuah bola cahaya terbentuk di tempat dimana tadi segelnya berdiri. Bola itu membesar hingga memiliki diameter enam meter. Semua yang masuk ke bola ini akan ikut ter teleport, tapi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

Rafdarov melemparkan pedangnya yang berubah menjadi sosok iblis bersinar pada Bimo, memaksanya untuk menangkis dengan pedangnya. Saat itulah, Rafdarov mengambil kesempatan untuk melompat ke dalam bola cahaya segel tersebut tepat saat teleport akan terjadi. Bimo meraung marah saat ia menghilang bersama area pemakaman. Marino sadar bahwa yang menghilang bukan Bimo, melainkan dirinya dan keempat temannya.

“Habisi dia! Setan itu meninggalkan pedangnya di sini!” teriakan Bimo masih terdengar, tapi serasa dari kejauhan. Mereka menemukan diri mereka berdiri di atas… tidak ada apa-apa. Yang mereka pijak adalah udara kosong, dan di sekeliling mereka cuma hitam, tapi mereka bisa saling melihat. Rafdarov berada di hadapan mereka.

“Kita bertarung sekarang…,” kata Rafdarov.

“Kau tidak punya senjata iblismu lagi sekarang. Ajalmu akan tiba sebentar lagi!” seru Marino.

“Begitukah menurutmu? Kau yakin sekali. Tapi kukatakan saja. Aku selalu membawa senjata cadangan,” Rafdarov mencabut sebuah pedang yang tidak kalah besar dari pedang iblisnya. “Beruntunglah kalian, pedang ini tidak bisa menebas sepuluh meter ke depan, tapi aku akan tetap menghabisi kalian!” katanya senang. Tanpa aba-aba, kelima bersahabat ini menerjang maju, dan Rafdarov juga…

***

                Marino terbangun di lantai kamar Daffy, kaget. Tadi malam dia memang tidur di sana. Rupanya tadi itu mimpi, pikirnya. Daffy dan Daisy yang ada di situ juga kelihatan seperti baru bangun. Aneh. Mereka bermimpi hal yang sama.

Sinar matahari menerobos masuk lewat jendela, tanda tibanya pagi hari, hari yang baru. Eko masuk ke dalam. “Aku mimpi kita melawan Rafdarov,” katanya.

“Sama,” kata Marino, Daffy, dan Daisy bersamaan. “Taruhan. Pasti Adin juga,” dan memang benar. Kelimanya bermimpi hal yang sama.

“Tapi ini membuatku punya ide untuk memperkuat diri dan The Chain. Kita harus mengajak suku Fraternite untuk ikut menjadi anggota The Chain,” kata Marino.

“Kita perlu mengirim utusan untuk ke sana. Tetapi harus menggelar sidang dulu. Adin, kau ikut juga,” lalu Marino bergegas pergi menuju ke ruang pertemuan Crin’s Blade. Ia memerintahkan beberapa orang prajurit untuk mengirimkan surat pemberitahuan pengadaan rapat ke Eleador dan Crin’s Blade. Rapat akan diadakan besok.

Sementara itu, Marino pergi ke dapur untuk sarapan. Si koki bertanya padanya, mengapa tidak menunggu di kamar saja dan menunggu makanan diantarkan saja. Marino mengatakan bahwa ia lebih suka mencari makanan daripada makanan mencarinya. Toh ia tidak pernah bangun dari tidurnya untuk kemudian menguap-geliat dengan manja di kasur sambil menanti makanan datang padanya. Tidur di kamarnya sendiripun tidak begitu sering. Jarang, malahan. Ia lebih suka tidur di beranda, atau akhir-akhir ini dia selalu tidur di kamar salah satu teman baiknya. Entah itu Eko, Adin, Daffy, atau Daisy, dan mengundang yang lainnya untuk ikut, mengobrol lama hingga larut malam hingga akhirnya tidur. Para pejabat istana yang sudah berada di istana sejak sebelum Marino jadi Caliph sampai geleng-geleng melihat seorang Caliph yang begitu ugal-ugalan seperti ini. Tapi mereka tidak mampu bilang apa-apa. Toh Crin’s Blade berkembang pesat jauh sekali semenjak ia mulai memerintah.

Sembari kesibukannya di The Chain, Marino telah mengatur sistem negaranya menjadi lebih baik. Mulai dari perdagangan hingga sistem pertanian dia pantau, dan dioptimalkan. Contohnya saja, ia telah memerintahkan untuk dibuatnya penelitian penyilangan jenis ternak unggul dan hasil dari penyilangan itu ternyata jauh lebih baik dari yang diperkirakan. Dia juga merombak hukum pernikahan dan hukum mengenai kriminalitas. Salah satu yang ia lakukan di bidang hukum ialah meminta para ahli merumuskan dengan lebih jelas pengertian dan unsur-unsur setiap jenis kejahatan agar lebih pasti. Sejak ia berkuasa, angka kriminalitas di Crin’s Blade turun dari tiga kasus seminggu, menjadi tidak ada kasus sama sekali, setidaknya sejauh ini.

 

Saat untuk sidang The Chain telah tiba, dan semua fraksi telah berkumpul. Ratu Darpy yang kini adalah ketua umum The Chain membuka rapat, dan mempersilahkan Marino untuk memberikan masalah yang akan mereka bahas.

“Teman-teman, teman saya menemukan sesuatu. Sebuah negara yang selama ini tidak kita ketahui karena letaknya di pedalaman Dark Forest-hutan gelap, bahkan lebih dalam lagi. Negara ini bernama Fraternite. Menurut keterangan teman saya ini, negara ini begitu rapi dan memiliki sistem tata negara yang luar biasa. Rasanya, seperti yang saya katakan di awal pembentukan The Chain ini, semua negara berhak ikut dalam The Chain. Bagaimana menurut kalian mengenai hal ini?”

Lalu Tiza dari fraksi politik Apocalypse langsung mengangkat tangannya.

“Silahkan,” kata Marino.

“Tapi apakah ‘negara yang rapi’ dan ‘sistem tata negara yang luar biasa’ ini benar seperti yang dikatakan? Apa ini bukan melebihkan, atau setidaknya sesuai dengan standar yang bisa dikategorikan sebagai negara? Negara macam mana yang tinggal di pedalaman hutan yang luar biasa berbahaya dan tidak pernah berhubungan dengan negara-negara lain, dan selama berabad-abad tidak ada yang tahu?” tanyanya, yang langsung ditimpali oleh Argus dari Apocalypse juga.

“Tahu. Menurut sebuah buku di perpustakaan besar Apocalypse, pernah terjadi sebuah perang besar di Apocalypse antara dua kubu. Salah satunya sebetulnya lebih kuat, tapi akhirnya pemimpinnya bosan perang terus. Kubu ini mundur ke Dark Forest dan tidak pernah tampak lagi. Mungkin mereka mati di hutan ganas itu. Begitu menurut ceritanya.”

“Tapi kisah ini mengambil tempat dan waktu pasti ribuan tahun yang lalu. Sebab menurut penggambaran pada kisahnya, saat itu adalah zaman batu,” katanya.

“Kenapa aku tidak pernah membaca buku itu, ya?” tanya Ratu Darpy. “Tapi kini, pertanyaannya adalah apakah suku itu betul telah menjadi sebuah negara? Jelas kita perlu membuktikannya,” katanya lagi.

“Panggil teman Marino untuk menceritakannya,” kata Chezzy dari fraksi peradilan Eleador. Hampir semua orang bergumam setuju, tetapi ternyata Marino tidak setuju.

“Cerita orang itu agak kurang efektif. Alangkah baiknya jika kita mengirim sebuah tim ekspedisi untuk melihat kebenaran adanya negara semacam itu, dan sekaligus menginspeksinya. Layakkah disebut negara?” Ratu Darpy menyetujui, tapi ia berkata, “Apakah ada yang keberatan dengan usul ini?” dan semua menggeleng kecuali satu orang, Phalus.

“Rasanya itu tidak perlu, dan boros biaya. Masa kita tidak bisa mempercayai Adin? Dia jujur, dan kau tahu betul soal itu, Marino. Kau sahabatnya,” tak disangka, Marino tersenyum tenang.

“Hanya karena dia sahabat kita, apakah itu membuatnya serta merta dipercayai begitu saja tanpa bukti yang kongkrit? Dan kalau urusan biaya, sama saja. Toh jika kita mendengarkan Adin saja kita juga akan mengirim tim ekspedisi untuk mengajak pimpinan negara tersebut kemari. Apa kau mau bilang kita kirim seorang utusan saja? Untuk tawaran kerjasama ini masa kita cuma mengirim surat saja tanpa setidak-tidaknya salah seorang dari kita? Itu sama sekali tidak persuasif,” kata Marino dengan santai.

“Kita tentukan timnya dan pasukan pengawal dengan undian,” kata Meissa.

Setelah diundi, yang akan memimpin misi ini adalah Marino, dan yang akan ikut adalah Daffy, Hermady, Cremplin, dan Olivia. Kelompok ini akan dikawal oleh dua puluh prajurit pribadi Ratu Darpy. Misi akan dilaksanakan besok.

“Untuk masalah kedua, kita toh akan memanggil Adin juga, karena kita butuh pengganti Gabriela Diggory,” kata Marino.

Tetapi Darpy berkata, “Tidak usah.”

“Itu adalah fraksi militer negaramu, Marino. Kaulah yang berhak untuk memilih penggantinya. Kami merapatkan hal ini sewaktu kau pergi ke Zenton. Dia sudah bisa mengikuti rapat berikutnya,” kata Darpy.

“Baguslah,” kata Marino, “karena kita bisa bubar sekarang. Ingat. Besok, seluruh anggota tim yang ikut, kecuali yang berasal dari Apocalypse, akan berkumpul di sini untuk sarapan, lalu bergerak menuju Apocalypse untuk bertemu dengan konvoi dan istirahat, sebab akan dilakukan sebuah perjalanan yang berbahaya. Adin juga harus ikut sebagai penunjuk jalan.”

Setelah membubarkan rapat, Marino pulang ke istana ibukota Crin’s Blade, lalu pergi ke teras untuk bertemu Eko, Jasmine, dan Daisy di sana. Mereka sedang berbincang tentang ide-ide untuk menyerang Zenton saat Marino datang. Marino langsung menimbrung ngobrol. Hingga akhirnya larut malam, barulah mereka berhenti tidur. Jasmine kembali ke kamarnya, sementara Marino, Daisy, dan Eko tidur di teras.

Saat bangun keesokan paginya, Marino tersentak saat  menyadari bahwa ia belum memberi tahu Adin bahwa ia akan ikut misi untuk mencari suku Fraternite. Mumpung masih sangat pagi, ia langsung menjelajahi kastil untuk mencari Adin. Marino menemukannya dalam waktu singkat, karena Adin kebetulan berada di kamarnya. Segera saja ia menjelaskan mengenai misi tersebut dan Adin langsung bersiap-siap.

Tim yang terdiri dari Daffy dan Hermady, yang menginap di Crin’s Blade, telah siap menuju Apocalypse. Marino dan Adin akhirnya muncul juga. Setelah memilih kuda perang yang paling bagus, mereka melaju menuju Apocalypse.

Perjalanan yang seharusnya memakan waktu beberapa hari ini hanya ditempuh dalam waktu sehari berkat kuda-kuda yang mereka tunggangi yang telah dibiakkan dengan bibit sihir. Menjelang sore, mereka telah tiba di perbatasan Apocalypse.

Mereka sekarang bergerak lebih pelan karena kota-kota yang mereka lalui cukup padat. Mereka berhenti untuk makan dulu di sebuah pub. Keempatnya memesan makanan yang sama yaitu roti panggang dan keju cair panas. Marino sedang menikmati tegukan minumannya yang terakhir saat terdengar sebuah ledakan dan keributan dari luar.

Marino keluar dari pub dan mendapati sebuah bangunan yang terpisah dari bangunan lainnya, yang merupakan sebuah inn-penginapan, mulai terbakar. Orang-orang berkumpul di depan inn tersebut.

“Ada apa di dalam sana?” tanya Marino kepada seseorang yang berada di sebelahnya.

“Ada seorang anak kecil mengamuk di lantai dua. Dia penyihir! Tak ada yang bisa membujuknya. Api ini kelihatannya tidak bisa dipadamkan…,” Marino menyaksikan api yang menjilati inn tidak bisa tersentuh oleh air dari para penduduk, seakan-akan tidak disiram saja. Apinya memang kecil saat Marino datang, tapi perlahan-lahan mulai meningkat. Marino melesat masuk ke inn tersebut, diikuti oleh Daffy dan Adin.

Api di dalam tidak begitu besar, dan asap pun tidak banyak. Setelah berjuang melewati ruangan-ruangan yang kini terbakar, mereka tiba di depan sebuah pintu, dimana di baliknya terdengar suara tangis anak kecil. Pintu itu mulai terbakar, dan api di pintu itu berkobar dengan amat dasyat, kontras dengan dinding-dinding sekitarnya, yang hanya mengeluarkan sedikit lidah api. Marino mulai berusaha melakukan pendekatan pada si anak kecil di balik pintu itu.

“Hei, yang di dalam, namamu siapa?” Marino memulai.

“Huu… Namaku Phaustine…huuuuu… “ si anak kecil di dalam menyahut di sela-sela tangisnya.

“Kenapa kau menangis?”

“Aku diledek teman-temanku karena aku penyihir aneh. Tak ada yang tahu aku ini black mage elemen apa, makanya aku diledek. Aku tidak punya teman. Aku tidak punya keluarga… huuuu….”

“Memangnya seunik apa magic-mu itu?”

“Pokoknya aneh, deh. Semua penyihir di sini yang memeriksaku bilang kalau elemenku ini adalah penemuan baru.”

“Kau dapat dari mana?”

“Aku tidak tahu. Aku hanya ingat kalau aku terbangun di pinggir jalan dan tanganku bersinar biru. Mendadak aku tahu saja apa yang harus kulakukan. Aku bisa menyihir, deh. Tapi begitu aku tanya pada seorang mage, ia mengatakan bahwa elemenku ini belum pernah dimiliki siapapun sebelumku. Sejak itu, aku ditinggal teman-teman….”

“Kekuatan yang kau miliki… amat kuatkah?”

“Kalau menurutku sih kuat. Penyihir itu memintaku untuk melakukan sihir, apa saja, ke sebuah tembok di ruangan milik penyihir itu. Saat itu, dia memegangi kedua bahuku dari belakang. Setelah aku melakukan sihir terkuat yang aku bisa, dia bilang kalau itu lebih kuat dari sihir perpaduan tiga elemen sekalipun.”

“Kau mau jadi seorang jagoan tidak? Seperti Power Rangers?”

“Power Rangers belum ada.”

“Eh, maaf (J), maksudku, kau mau jadi pahlawan, seperti Pangeran Diponegoro, (JJJ) eh, maaf, errr.. maksudku… yah, aku ini dari kerajaan Crin’s Blade. Aku mau menjadikanmu seorang pendekar kehormatan istana. Kau mau?”

“Apa itu kehormatan istana?”

“Artinya, kau menjadi seorang pendekar yang terkenal dan dihormati oleh siapapun di kerajaan.”

“Mau, eh, nggak ah. Aku ini nggak punya teman…. nanti aku dibilang aneh lagi….”

“Nggak deh. Kamu akan terkenal hebat.”

“Bo’ong ah…”

“Bener kok.”

“Janji?”

“Janji.”

Pintu berdebam terbuka, dan api ayang menyelimuti inn langsung padam dan seolah-olah tidak pernah ada api. Di balik pintu yang sudah ambruk itu, berdiri seorang anak perempuan kecil, mungkin berusia sekitar enam atau tujuh tahun, yang amat mungil tapi matanya merah karena habis menangis. Ia menyeka matanya, yang langsung tidak merah lagi. “Ayo.”

Sambil keluar, Phaustine menjulur-julurkan lidahnya pada anak-anak dan orang-orang yang menonton, dan membuat mereka heran.

“Umurmu berapa tahun?” tanya Daffy saat mereka melakukan perjalanan menuju istana ibukota Apocalypse.

“Tujuh. Masih sebulan lagi, sih. Kalian mau ke mana?” Phaustine balik bertanya.

“Kami mau pergi ke istana besar Apocalypse, lalu ke Dark Forest. Kita akan mencari suku pedalaman,” kata Adin. “Seru sekali.”

Mereka tiba di istana besar Apocalypse keesokan paginya, dan tim dari Apocalypse sudah siap di depan gerbang bersama pasukan pengawal. “Istirahat dulu?” Darpy menawarkan, tapi Marino menolaknya.

“Sudah, kok,” lalu ia melirik ke arah Cremplin dan Olivia.

“Kami juga siap. Ayo kita berangkat… dan… anak kecil ini…?” Olivia memandang Phaustine dengan heran.

“Dia akan membantu, kok,” kata Marino, dan mereka mulai bergerak ke arah hutan gelap dan misterius. Dark Forest.

Mereka tiba di tepi hutan misterius itu yang dipagari dengan pagar tembok raksasa.

“Hutan ini memang sangat berbahaya,” kata seorang prajurit yang mengawal sambil membuka gerbang raksasa yang amat besar dengan sebuah kunci yang besar pula. Akhirnya mereka memasuki hutan. Memang saat itu pagi menjelang siang, tetapi begitu masuk ke hutan, cahaya matahari langsung lenyap.

“Kenapa tidak ada yang mengingatkanku untuk membawa obor?” tanya seorang prajurit pada prajurit lainnya.

“Tidak perlu. Amber!” teriak Adin, dan seberkas cahaya merah tampak dari kejauhan, yang kian mendekat dan kian terang.

“Apa itu?” tanya seorang prajurit, dan setelah mendekat, barulah semuanya tahu bahwa itu adalah seekor burung yang tubuhnya terselimut api yang sangat cantik.

“Tolong terangi jalan kami,” kata Adin, lalu Amber terbang rendah di paling depan, di depan Adin, dan pandangan mereka bertambah jauh, dan apapun yang berada sampai sepuluh meter di depan akan tampak, walau cahaya yang dipancarkan oleh Amber agak kemerah-merahan. Dengan hati-hati, semuanya melangkah ke dalam hutan, dan lebih dalam lagi, karena sewaktu-waktu bisa ada monster. sesekali terdengar suara Phaustine yang kelihatannya amat senang dan penasaran. Marino pernah kemari waktu pernikahan Meissa, tapi waktu itu belum ada pagarnya.

“Pagar ini baru, ya?” tanya Marino pada Cremplin.

“Betul. Minggu lalu ada delapan ekor gaaspirn keluar dari hutan, entah kenapa, tapi mereka menyerang desa-desa. Para prajurit berhasil membunuh sebagian, dan menggiring sisanya kembali ke hutan. Untung saja tidak sampai jatuh korban jiwa, tapi yang terluka cukup banyak. Maka dari itu, Ratu Darpy memerintahkan dibuatnya tembok ini. Memang aneh. Tidak pernah ada gaaspirn yang keluar hutan.”

Agak lama mereka berjalan tanpa hambatan yang berat, yaitu hanya serangan dari beberapa lebah raksasa. Kini di depan mereka tampak sebuah kuil yang sudah amat tua dan berlumut. Sesuatu membuat Marino ingin masuk, dan semuanya setuju. Di depan pintu masuk yang amat besar pada kuil itu, terpampang tahun pembuatan kuil tersebut, yang menunjukkan bahwa kuil itu dibuat sekitar seribu lima ratus tahun yang lalu. Mereka masuk, dan mendapati semacam museum kecil, yang terdapat empat monumen, tiga diantaranya berbentuk ksatria yang ukurannya kelihatan dibuat sekitar dua atau tiga kali lipat aslinya, dan satu lagi, tidak ada ksatrianya, tapi sesuatu memberitahu Marino bahwa harusnya ada sebuah patung ksatria juga di sana.

Di depan Marino ada sebuah monumen kecil, yang berisi tulisan yang berbunyi :

“Empat ksatria kegelapan(di sana tertulisnya: The Dark Knights) yang telah berjasa memusnahkan teror iblis di tanah Figgerwitz tercinta ini pada tahun rune ke-335, dan berhasil menang pada tahun rune ke-339. Summon iblis memang sebuah sumber kejahatan yang menjadi sumber kejahatan-kejahatan lainnya. Walaupun keempat ksatria terhormat ini berhasil menumpas pasukan iblis yang pernah merajalela, tapi summon iblis sendiri tidak pernah ditemukan. Meski berhasil mendamaikan Figgerwitz, tapi keempatnya gugur pada pertempuran terakhir saat memperebutkan bandul summon iblis di tangan Lucifer. Akan tetapi, sebelum gugur, keempatnya bersumpah dan mengaktifkan mantera, bahwa Lucifer tidak akan selamat lebih dari tiga belas hari jika berani keluar lagi. Dan Lucifer memang ketakutan dan menyegel dirinya sendiri dalam pedang dan summon iblis, lalu menghilang. Monumen ini didirikan untuk mengenang jasa keempat ksatria kegelapan ini. Terlaknat summon iblis dan Lucifer.”

Begitulah bunyinya. Di setiap monumen berisi patung pun tampak monumen kecil yang juga berisi tulisan. Marino mendekati monumen pertama yang patungnya berupa manusia setengah kuda dan setengah manusia, atau lebih dikenal sebagai centaurus. Centaurus itu berwajah brewokan dan memakai armor. Di tangannya memegang busur panah yang siap dilepaskan dan panahnya berbentuk aneh. Tulisan di depannya berbunyi:

“Choirnaghmoth (250-339 tahun rune)

Tiap kali panahnya menembus tubuh iblis, tamatlah iblis itu. Gugur pada tahun 339 rune di tangan Lucifer. Jasa-jasanya akan terus dikenang.”

Monumen kedua berbentuk manusia dengan jubah dan tudung hingga wajahnya tidak tampak. Persis seperti Kaine, hanya saja patung ini memegang senjata sabit jenis scythe mirip dewa kematian. Tulisannya berbunyi :

“Peshmaergha (125-339 tahun rune)

Killer scythe (scythe pembunuh) yang amat ampuh membantai iblis. Paling pertama dibunuh oleh Lucifer, tapi bukan berarti dia yang paling lemah. Dialah yang paling banyak membantai iblis pada masa kegelapan umat manusia itu. Gugur pada tahun 339 rune. Jasa-jasanya akan terus dikenang.”

                Marino lalu berlanjut ke monumen berikutnya. Bentuknya mirip ksatria berzirah dan brewokan pula. Tangannya meng-genggam tombak, dan di kepalanya ada sebuah mahkota.

“Raphaeleazar Morrainez (286-339 tahun rune)

Paling sulit dan paling terakhir dibunuh oleh Lucifer. Raja mulia dari kerajaan Morraine. Dialah yang pertama memulai pemberantasan iblis pada tahun 335 rune. Pada masa-masa kegelapan manusia itu, dia terobsesi sekali pada pembantaian iblis. Gugur pada tahun 339 rune di tangan Lucifer. Jasa-jasanya akan selalu dikenang.”

Begitu bunyi tulisannya. terakhir, Marino mendekati monumen yang tidak ada patungnya. Begitu melihat tulisannya, Marino tahu bahwa pendapatnya, bahwa seharusnya ada patung di situ, ternyata benar dan Marino tahu mengapa. Begini tulisannya:

“Rido Matius (302-339 rune)

Termuda diantara keempatnya, berasal dari kalangan ksatria Rhode Warriors. Keganasan pedangnya tidak akan pernah terlupakan. Paling terkenal dengan ‘Sumpah Abadi Rido Matius’-nya, yang diucapkan sedetik sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir di hadapan Lucifer. Gugur pada tahun 339 rune di tangan Lucifer. Jasa-jasanya akan selalu dikenang.”

Dari mana Marino tahu bahwa seharusnya di situ ada patung, dan tadinya memang ada? Ternyata di bawah tulisan tersebut ada tulisan lagi, yang berbunyi :

‘Sumpah Abadi Rido Matius’ (339 rune)

Amat terkenal pada akhir masa kegelapan, karena dia mengucapkannya tepat setelah memberikan mantera dan sumpahnya yang pertama, yaitu bahwa jika Lucifer sampai kembali, tidak akan bertahan lebih dari tiga belas hari, dan yang mendengar ‘Sumpah Abadi Rido Matius’ hanya tiga belas orang. Tiga orang diantaranya adalah dari pihak kerajaan, lima dari rakyat, dan lima dari prajurit. Kata mereka, sumpah itu menggema dengan amat dasyat, tapi tidak ada satu orang lain pun yang mendengarnya. Beberapa dari ketiga belas orang ini berada di daerah yang berjauhan, dan sumpah yang mereka dengar sama persis bunyinya, maka oleh raja Apocalypse Frederich Glarion XX, yang juga termasuk tiga belas orang yang mendengar sumpah itu, sumpah itu dinyatakan sah dan di rahasiakan untuk umum.

Sumpah Abadi Rido Matius berbunyi sebagai berikut:

“Aku bersumpah akan kembali jika ada yang memakai kekuatanmu, walau sedikit saja. Dan kau akan mati tiga belas hari jika kau bangkit. Sumpahku ini hanya untuk tiga belas orang dan itu termasuk Paduka Glarion, dan satu garis keturunannya. Lalu, hanya lima orang saja, yang mengetahui sumpahku ini,  yang merasakan masa lalu, masa kini, dan masa depan, bersama, yang akan menghabisimu, Lucifer.”

dan Rido Matius gugur seketika setelah mengucapkan sumpah itu.

Marino, Eko, Daffy, Adin, dan Daisy-lah kelima orang yang merasakan masa lalu, masa kini, dan masa depan tersebut. Atau mungkin kelihatannya begitu.

Marino memanggil yang lainnya untuk melihat monumen Rido Matius tersebut. “Wajar saja ia bisa memotong tangannya waktu itu.” kata Cremplin. Tapi keterkejutan Marino belum berakhir. Ternyata, yang bisa melihat ‘Sumpah Abadi Rido Matius’ hanya dirinya, Daffy, dan Adin. Memang, menurut sumpahnya, sumpah itu hanya bisa diketahui oleh tiga belas orang dulu dan satu garis keturunannya, dan lima orang yang merasakan masa lalu, masa kini, dan masa depan bersama. Yang lain melihatnya hanya sebagai batu kosong saja. Tapi mereka semua kini mengetahui asal Rido Matius yang kini bekerja di Crin’s Blade itu.

“Rido Matius memang aneh. Aku tahu saat ia pertama muncul di Crin’s Blade. Ia datang begitu saja ke Crin’s Blade. Dan kami terus mendapatkan informasi mengenai keadaan tanah Zenton. Kalau tidak salah, kemunculan Rido Matius itu sekitar masa pemerintahan Rafdarov IV, dan saat anaknya, Ludovic, terkenal sebagai pembantai manusia,” kata Hermady.

“Nah, menurut informasi dan kabar-kabar yang kudapat, itu adalah saat-saat dimana Ludovic Rafdarov, kini Rafdarov V, pertama mendapatkan kekuatan summon iblis, kekuatan Lucifer. Ayahnya, Rafdarov IV, tidak mengetahui hal ini. Meski haus darah, Rafdarov IV tidak menyukai pembantaian, dan membantah semua tuduhan pada anaknya itu. Saat Rafdarov V naik tahta, ia mengakui perbuatannya. Dan waktu aku dan ketiga temanku mengobrol dengannya secara langsung, ia menyatakan bahwa ia melakukan pembantaian itu untuk sesuatu yang amat jahat, dan aku tahu bahwa itu adalah salah satu syarat untuk membangkitkan Lucifer. Dan pastilah saat itu Rido Matius akan bangkit,” kata Adin.

Lengkaplah informasi. Berarti Rafdarov V dan Lucifer akan mati di tangan kelimanya. Masa lalu, masa kini, dan masa depan, bersama. Mengapa harus masa lalu, masa kini, dan masa depan? Apakah artinya?

Tapi satu hal yang jelas. Petualangan ini akan berakhir di tangannya. Dia, Eko, Daffy, Adin, dan juga Daisy. Marino semakin yakin bahwa ia akan mampu, dan ia akan berhasil menghabisi Rafdarov V dan summon iblisnya.

Rido Matius, yang ia ketahui sangat kuat, bahkan luar biasa kuat, tidak mampu melawannya, dan pernah dibunuh olehnya. Tapi para ksatria kegelapan yang berempat saja kalah, dan kelima anak muda ini mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemampuan dua diantara ksatria kegelapan itu. Ah, tidak. Ia tidak akan berjuang sendirian. Tidak sendiri, dan tidak pula berlima. Ia akan berjuang dengan ratusan bahkan ribuan. Ia tidak hanya punya empat orang teman. Semua pasti akan membantunya. Tidak ada satupun prajuritnya, prajurit Meissa, dan prajurit Darpy yang akan membiarkan iblis macam Lucifer muncul ke muka bumi ini.

Lucifer jelas akan menjadi musuh besarnya, tapi kini ia juga punya seorang musuh yang perlu dibantai. Musuh yang ia lihat di dalam mimpinya. Lethifold.

[End of Chapter XII]

[Coming up next, Chapter XIII: Invade! Attack!]

One Trackback

  1. […] – Chapter XII: Past, Present, and Future […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*