Legend of Legends: Chapter XIV – Road to Victory

After quite a hiatus, here comes Chapter 14: The Road to Victory!

 

Enjoooy (^_^)

 

————————————————————————————————————–

CHAPTER 14

ROAD TO VICTORY

 

Marino memandang jauh ke depan dari geladak kapal. Dia tahu bahwa sebuah perang besar menantinya di sana. Tapi tiba-tiba sebuah keraguan muncul di benaknya. Apakah dia akan memenangkan perang ini? Ya. Sebelumnya dia selalu bisa membantai pasukan Devilmare manapun. Tapi bagaimana kalau dia nanti berhadapan dengan Rafdarov V langsung? Pedangnya saja, tanpa ‘kekuatan tambahan’ saja bisa menebas dalam radius sepuluh meter.

Serangan jarak jauh. Itu dia. Paling tidak harus ada hujan panah atau magic untuk melawan Rafdarov V langsung. Dan kenapa baru terpikir untuk membawa Ariel Cannon? Itu pasti bisa menghabisi Rafdarov V dalam sekejap. Tapi bukankah itu akan berat sekali?

Setelah menguasai Xenfod, dia akan menguasai Gallowmere. Setelah itu, dia akan bertemu dan bergabung dengan pasukan pengalih perhatian yang menguasai Grandminister, jika berhasil. Kalau tidak?

Di tengah hujan pikiran seperti itu, Marino merasa ada sebuah tangan di bahunya. Ternyata Jasmine. “Kau jangan terlalu banyak berpikir. Kau akan tua sebelum tiba di sana nanti. Makan siang akan dibagikan segera. Kau harus makan dulu,” katanya, Marino menurut saja.

Kotak-kotak kertas berisi makanan dibagikan pada semuanya. Makanan tersebut berupa potongan-potongan ikan panggang dimasak dengan saus putih yang sangat lezat. “Apa ini yang dinamakan ransum prajurit?” tanya Daisy.

“Memang kenapa?” seorang prajurit melirik padanya.

“Terlalu enak.”

Hari-hari di kapal berlalu biasa tanpa gangguan, bahkan cenderung membosankan. Aktivitas kapal berlangsung biasa saja dan gangguan baru muncul pada malam hari kedua belas. Kali ini ada sebuah konvoi besar kapal tempur Devilmare.

Sebetulnya masih amat jauh, tapi kapal-kapal perang Fraternite telah bisa melihatnya. Marino saja baru tahu saat ada seekor Haraak -capung raksasa- yang datang mengantarkan surat. Dalam surat itu, dikatakan oleh komandan konvoi kapal perang bahwa kapal-kapal tempur Fraternite telah kalah jumlah, namun ini dapat dengan mudah diantisipasi. Marino paham kenapa. Kapal perang Fraternite berada jauh di luar jangkauan tembak kapal Devilmare yang hanya dilengkapi oleh panah, ketapel raksasa, dan magic tingkat menengah itu.

Sebaliknya, kapal-kapal Fraternite dilengkapi oleh meriam-meriam Ariel yang amat dasyat, dan memiliki jarak tembak yang amat jauh.

Dalam waktu singkat, malam yang hening sunyi kini dipenuhi oleh raungan Ariel Cannon yang menggempur kapal-kapal Devilmare. Eko, Daisy, dan Yogin berebut untuk naik ke tiang kapal. Akhirnya ketiganya bisa naik, tapi Eko harus mengendong keduanya sekaligus.

Kata mereka, dari tiang itu tampak kapal-kapal Devilmare yang dihujani oleh tembakan dari Ariel Cannon. Tiap menit ada saja kapal Devilmare yang tenggelam, tapi ada kejutan.

Saat kapal perang Devilmare tinggal sembilan, dari salah satunya memancar sinar putih yang menyilaukan ke salah satu kapal Fraternite. Kapal Fraternite yang dikenai oleh sinar itu terbakar. Sinar tersebut pindah dan membakar empat kapal perang lainnya sekaligus. Segara saja kapal pembuat masalah itu dihancurkan. Kapal-kapal Fraternite yang terbakar itu segera mundur dan melakukan perbaikan. Sisanya, yang masih ada sekitar dua puluh delapan segera membantai sisa armada laut Devilmare.

“Apa itu barusan?” tanya Pandecca.

“Itu senjata baru Devilmare, pasti. Aku tidak pernah tahu kalau mereka punya senjata macam begitu,” kata Adin. “Sebaiknya pasukan konvoi kita bersiaga sajalah.”

Keesokan harinya, mereka melewati area di mana banyak pulau-pulau kecilnya. Karena itu, mereka berusaha menghindarinya. Mereka bertemu patroli Devilmare dan bisa mengatasinya dengan mudah, tapi mereka harus berhati-hati. Jika ada kapal patroli yang kena masalah, konvoi besar kapal tempur akan menyusulnya.

Sebuah surat dari kapten kapal perang Fraternite tiba lagi. Isi surat itu adalah bahwa mereka telah bisa mengenali kapal Devilmare mana yang bisa menembakkan sinar penghancur dan mana yang tidak. Mereka bisa membedakannya karena kapal sinar penghancur itu lebih besar dan layarnya jauh lebih banyak. Pasti itu kapal induk. Ini ditujukan agar kapal tersebut bisa dihancurkan lebih dulu sebelum membuat masalah.

Benar saja. Dari jauh tampak konvoi kapal perang Devilmare. Sementara Daisy dan Yogin sedang ribut menentukan siapa yang boleh naik ke tiang, Marino naik duluan. Dari atas, Marino melihat bahwa ada sekitar lima belas kapal tempur Devilmare, dan berdasarkan ciri yang diberikan oleh kapten kapal Fraternite, ada empat kapal yang bisa menembakkan sinar penghancur. Dua sudah ditenggelamkan oleh kedasyatan Ariel Cannon. Kedua kapal sisanya berusaha menembakkan sinar putih seperti semalam, tapi meleset dan malah mengenai air di sebelah salah satu kapal perang Fraternite. Sinar itu menembus ke dalam air begitu saja. Segera saja mereka dapat dibantai.

Dua bulan berlalu dengan pertempuran-pertempuran kecil melawan dua patroli Devilmare dan tiga armada laut, tapi semua dapat diatasi. Sayangnya, delapan kapal perang Fraternite berhasil ditenggelamkan oleh musuh, dan untungnya semua awaknya selamat dengan naik ke kapal tempur di sebelahnya.

Menurut perkiraan, mereka akan tiba di tujuan sekitar nanti malam. Karena itu, Marino memerintahkan agar semuanya bersiaga.

Detik-detik berlalu dengan menegangkan selama hari terus berubah. Matahari terus bergerak ke atas. Setelah tiba di atas, matahari kini mulai turun.

Petang, daratan sudah nampak, dan semuanya bersorak.

“Lebih cepat dari perkiraan. Kita harus siap di bawah,” kata Marino memberitahukan ini ke seorang awak kapal. Awak kapal tersebut mengambil sebuah suitan, lalu meniupnya dengan berbagai variasi ketinggian nada. Tak lama, kapal-kapal lain juga meniupkan suitan-suitan yang sama. “Sinyal untuk siap mendarat, ya?” tanya Marino, dan sang awak mengiyakan.

Daratan kian dekat, Marino berada di geladak bawah, di depan pintu. Di sebelahnya telah bersiap keempat sahabatnya, yaitu Daisy, Adin, Eko, dan Daffy. Di belakang mereka telah bersiap ksatria yang lain dan di belakangnya lagi telah berjejalan ratusan prajurit ganas siap tempur.

Bunyi ledakan memenuhi udara dan itu menandakan sedang dilakukannya bombardir untuk membersihkan area pendaratan. Pasti di sana telah ada banyak musuh. Terdengar suara seorang awak kapal dengan pengeras suara sihir.

“Perhatian! Perhatian! Kapal akan menabrak pantai sekitar lima menit lagi. Harap bersiap untuk guncangan. Begitu kapal menabrak pantai, pintu depan akan terbuka. Terima kasih.”

Marino tahu bahwa kapal-kapal transport yang membutuhkan sekoci, pasti kini telah meluncurkan sekoci-sekocinya.

Detik-detik berlalu dengan sangat menegangkan. Akhirnya terdengar juga suara kapal mendarat di pantai dengan mulus dan tabrakan yang dikatakan kelihatannya tidak separah itu, tapi guncangannya lumayan. Pintu langsung terbuka, dan Marino menghambur keluar, diikuti oleh yang lainnya. Di luar, Marino melihat juga kapal-kapal lainnya sedang menerjunkan pasukan sementara sekoci-sekoci yang jumlahnya ratusan sedang merapat.

Seluruh pasukan telah tiba dan pantai telah bersih dari musuh. Marino mengirimkan beberapa regu untuk membuat pertahanan sekaligus pengintaian. Beberapa orang ditugaskan untuk menyambut kapal-kapal logistik berisi makanan dan kuda. Setelah itu tiba juga, pasukan yang merupakan kavileri sekarang menaiki kuda. Tak lama kemudian tiba pula serombongan hewan ganas dari sebuah kapal yang terakhir. Ini jelas ulah Adin, tapi akan sangat membantu.

“Kota tujuan ada di depan kita! Bergerak dengan formasi menyebar, dan perlahan! Siaga terhadap hujan panah!” teriak Marino kepada para komandan. “Adin, Daffy! Pasukan kalian lewat jalan utama, dan sisanya kepung kota dari hutan! Jalan!”

Marino, Daisy, dan Eko ikut di pasukan Daffy dan Adin, tapi terdengar protes dari Feizal. “Paduka! Jangan ikut pasukan itu! Bahaya,” tapi Marino tidak memerdulikannya. Aisha dan Feizal yang tadinya mau bergabung ke pasukan yang mengepung lewat hutan kini malah ikut di pasukan Daffy.

Perjalanan berlangsung cukup lama. Hingga larut malam barulah kota tersebut tampak. Entah mengapa, kota tersebut dikelilingi pagar tembok yang tinggi. Mungkin ada sekitar lima meter.

“Siaga penuh! Semuanya!” perintah Marino yang mulai khawatir. Mengapa? Karena baru saja dilakukan bombardir ke wilayah pantai, tapi tidak ada reaksi sama sekali dari kota. Seharusnya minimal mereka memberikan bantuan ke pantai.

Akhirnya Marino tahu juga kenapa. Begitu Marino tiba di depan gerbang besar belakang kota itu, gerbang itu langsung dibuka. Ternyata pasukan yang tadi ditugaskan untuk mengepung lewat hutan telah tiba lebih dulu. Mereka telah, tanpa perlawanan, menguasai kota.

Bahkan mereka juga telah menguasai sebuah kota yang letaknya tidak jauh dari situ, kondisinya sama seperti kota ini, yaitu dikelilingi hutan belantara dan tembok besar dan akan difungsikan untuk menampung tentara. Begitu Marino memasuki kota, penduduk menyambut dengan sorakan. Di hadapan Marino, banyak sekali pemuda yang berbaris. “Mereka sedang apa?” tanya Marino pada Jasmine.

“Mereka yang sukarela untuk bergabung dengan kita. Sepuluh menit yang lalu ada lima ratus. Dan kau lihat? Mereka masih bertambah,” kata Jasmine, menunjuk gerombolan pemuda yang datang dari rumah-rumah dari segala penjuru.

“Tak kusangka kota yang disebut ‘besar’ ini ternyata memang ‘besar’ begini. Berapa populasinya?” tanya Marino.

“Kota ini, populasinya 30.000 orang, dan 8000 dari jumlah itu adalah pria dewasa yang belum manula. Lima ratus pria bergabung dengan kita. Tadinya kota ini berisi jauh lebih banyak, ada 400.000 orang, tapi habis dibantai, dan banyak yang lari. Menurut kabar, yang lari ini membentuk pasukan kecil untuk memberontak. Kota sebelah berisi cuma tujuh ribu orang dan seribu pria dewasa. Makanya kami tidak merekrut,” lapor seorang tentara.

“Besar juga,” gumam Marino, “aku tidak menyangka ada kota sepadat ini, yang letaknya dikelilingi hutan seperti ini. Ini pasti ulah pembangunan yang tidak merata. Payah, tapi tidak apa-apa. Pasukan! Cari tempat tinggal di mana tidak merepotkan. Maksimal dua prajurit tempati satu rumah. Sisanya buat tenda. Jasmine, pasukanmu akan mengamankan keliling kota ini untuk mengantisipasi bala bantuan. Adin, kau minta juga pasukan hewan milikmu itu agar menjaga wilayah ini,” perintah Marino.

Tenda-tenda telah didirikan dan penduduk dengan sukarela mengantarkan makanan pada para prajurit. Sebetulnya tidak cukup, tapi logistik yang dibawa oleh kapal-kapal logistik tadi sangat membantu, dan akan datang lagi pada gelombang kedua. Tapi Marino tidak mengkhawatirkan itu terlalu banyak, tapi ia lebih mengkhawatirkan tempat. Kota ini mulai sangat penuh dengan prajurit dan sebentar lagi akan ada 100.000 orang lagi tiba di sini.

Untuk mendiskusikan masalah itu, Marino langsung bertemu dengan walikota. Meski sudah tengah malam lewat, tapi mereka tidak perduli.

Akhirnya Marino tahu bahwa ada beberapa kota lagi yang dekat dengan kota yang kini mereka tempati. Bahkan, ibukota Xenfod, yaitu Vatabia, letaknya cuma sekitar tiga belas kilometer dari situ. Kota yang amat besar tersebut memiliki kini populasinya sekitar 800.000. Sebelum Devilmare datang dan melakukan pembantaian, kota tersebut sangat padat dan memiliki populasi hingga empat juta jiwa. Menurut walikota, Vatabia itu tidak dijaga ketat. Sudah dua bulan berlalu sejak Rafdarov V meninggalkan Xenfod yang hanya menyisakan sedikit sekali pasukan karena menurutnya Xenfod itu tidak penting.

Kalau soal pembantaian, Xenfod sudah kehilangan berjuta-juta penduduk akibat ulah Rafdarov V. Karena itu Marino yakin ada banyak sekali orang yang akan mau bergabung dengannya, tapi harus bijak karena harus ada yang tetap di sana untuk bekerja dan mempertahankan daerah.

Untuk menguasai kota-kota tetangga, Marino memilih untuk merencanakannya besok. Dia butuh istirahat. Di dalam tendanya, Marino malah tidak bisa tidur. Dia memandang berkeliling dan tiga sahabatnya sudah tidur. Hanya Daisy yang belum, tapi dia tidak ada di situ. Memang Marino sengaja membuat tenda yang agak besar agar cukup untuk mereka berlima.

Di tengah gelapnya malam, Marino berjalan-jalan. Hanya beberapa prajurit saja yang masih bangun, walau Marino tahu bahwa Jasmine dan pasukannya sedang tidak tidur di luar sana. Seorang penduduk menghampirinya. “Anda tidak bisa tidur? Cobalah berjalan-jalan di tepi kota sebelah utara. Pemandangannya sangat indah.”

Marino mengikuti rekomendasi tersebut, dan selagi berjalan bertemu dengan Daisy yang ternyata mengikutinya. Mereka mengobrol sebentar, tetapi tiba-tiba menjadi senyap saat mulai menyinggung pernikahan Meissa Apilla.

Setelah beberapa saat terdiam, Daisy akhirnya tidak tahan juga dengan suasana yang ‘terlalu sepi’ seperti itu. Dia mendekati Marino. “Marino…” dan ia memeluknya. Marino membelai kepalanya.

“Tahukah kau mengapa aku belum mau menerima lamaranmu?” tanya Daisy. “Rasanya aku tahu. Kalau menurutku, kau takut punya anak di saat kita harus berjuang, karena itu akan menghambat,” dan Daisy tersenyum.

“Kau tepat. Kita memang cocok. Sebetulnya aku sudah ingin sekali menikah denganmu.”

Paginya, Marino dan Daisy buru-buru kembali ke tenda, dan menemukan bahwa Adin, Eko, dan Daffy sudah tidak ada. Mereka pergi ke kantor walikota, dan bertemu dengan para komandan.

“Dari mana saja? Kami mencari-carimu, Marino. Dasar panglima tidak bertanggung jawab,” gurau Jasmine.

“Melihat keadaan kota. Jadi begini. Pasukan Jasmine menemukan ada pasukan yang datang, tapi semuanya mengangkat tangan, sehingga dia tidak menyerang mereka. Ternyata mereka adalah pasukan pemberontak yang ingin bergabung. Ini komandannya,” kata Adin, menunjuk seorang pria brewokan yang kelihatan sangat tidak terawat.

“Selama perang, kami sudah kehilangan 6000 orang, dan tinggal 2000 saja. Kami bodoh. Kami kira pasukan Devilmare akan tinggal sedikit. Info yang kami dapat, adalah bahwa untuk seluruh Xenfod yang luas ini, mereka cuma menyisakan dua juta prajurit saja, dan tersebar.”

“Ternyata, tersebarnya sangat tidak rata. Ada yang dijaga amat ketat, dan ada yang dijaga sangat longgar. Karena salah info mengenai itu, kami malah menyerang kota yang dijaga oleh 15000 pasukan Devilmare. Kami habis dibantai. Maka dari itu, kami cuma segini, dan untungnya kalian datang. Kami ingin bergabung dengan kalian,” katanya.

“Bagaimana dengan kota-kota yang dekat dengan sini? Menurut Walikota, kota-kota tersebut tidak dijaga ketat?” tanya Marino.

“Memang. Bahkan Vatabia tidak dijaga ketat. Tapi kami trauma dengan pembantaian 6000 orang pasukan kami, jadi kami hindari saja kota-kota itu. Kami angkat tangan begitu mendekati kota ini. Kami tahu bahwa kota ini telah kalian kuasai dari seorang informan, dan kami yakin bahwa ada pasukan kalian yang menjaga di luar kota, makanya kami siap-siap saja angkat tangan agar tidak kalian serang.”

“Nah, kalau begitu, kita rencanakan untuk merebut kota-kota sekitar. Tepatnya ada berapa kota yang terdekat, dan apa saja?” tanya Marino pada Walikota.

“Ada empat kota. Lima kalau dihitung dengan Vatabia. Empat kota itu berada dalam satu garis lurus, kira-kira, jika kita menghadap tenggara. Dari yang paling kiri, ada Dambung, Gobor, Kebasi, dan Rubasaya. Vatabia terletak empat kilometer dari Kebasi.”

“Baiklah. Kalau menurutku, cukup satu pasukan ke tiap kota. Langsung kubagi saja. Adin, kau kuasai Dambung, Cremplin ke Gobor, Phalus ke Kebasi, dan Pandecca ke kota yang satu lagi. Jasmine, pasukanmu harus memberikan support gerilya. Ini akan langsung kita lakukan nanti siang. Sisanya, istirahat di sini. Aku sendiri akan ikut pasukan Phalus. Rapat bubar.”

“Daisy, apakah kau mau ikut?” tanya Marino. “Ya. Aku ikut denganmu. Ke Kebasi, bukan?” Daisy sedang mengasah tombaknya. Marino sendiri melirik senjatanya yang berkilauan emas. Pasukan Phalus telah siap, dan demikian pula dengan pasukan lainnya. Marino melakukan briefing dengan Phalus, Cremplin, Adin, dan Pandecca. “Ingat. Begitu kalian berhasil masuk, segera umumkan siapa kalian, dan buka perekrutan. Setelah selesai pendaftaran, lapor padaku. Aku akan berada di Kebasi,” mereka mengangguk paham.

Ketika Marino naik ke atas kudanya, Daisy memanggilnya. “Aku tidak dapat kuda. Bolehkah aku naik kudamu?”

Marino membantunya naik. Akhirnya, Daisy-lah yang mengemudi, dan Marino memeluknya dari belakang.

“Awas, nanti kau kena senjataku.” kata Marino, karena salah pegang sedikit saja, senjata Marino yang ada ditangannya, yang memeluk pinggang Daisy, bisa melukainya.

“Aku percaya padamu,” kata Daisy dan Marino tersenyum.

Setelah setengah hari perjalanan, kota tersebut telah tampak. Tim pengintai memberikan laporan bahwa Devilmare telah melarikan diri dari kota, lalu Marino tanpa buang waktu lagi melesat ke sana dengan pasukannya di belakangnya. Di sana, penduduk telah menunggu dan menyambut dengan sejuta sorakan.

“Mereka lihat kalian datang, lalu kabur!” teriak seorang penduduk. “Kau umumkan,” kata Marino pada Phalus.

“Perhatian! Tolong semuanya tenang! Kami datang dari Dark Land untuk membebaskan Zenton dari Devilmare!” teriak Phalus, tapi terdengar gumaman ribut dari penduduk.

“Dia adalah Phalus Light, yang mantan pemimpin Gallowmere.” bisik seseorang. “Iya, memang mirip. Aku pernah lihat.” bisik yang lain. “Masa? Kau salah lihat. Jelas-jelas dia dari Dark Land.” protes yang lain. “Semuanya tenang!” teriak Phalus lebih keras. “Saya memang Phalus Light! Mantan pemimpin Gallowmere yang kalian ketahui!” dan rakyat bersorak seru.

“Kami butuh tempat untuk menampung tentara kami karena tentara kami sangat banyak!” para penduduk ribut menawarkan rumah mereka. “Tidak hanya itu. Kami menawarkan kerja sama. Kami membuka perekrutan untuk siapa saja yang ingin berperang bersama kami, dan menghabisi iblis Devilmare! Semuanya pindah ke sisi kiri saya. Bagi yang mau ikut berperang, pindah ke sisi kanan saya!” seru Phalus, dan sorakan bertambah ramai. Hampir semua penduduk pindah ke sisi kanan Phalus. “Saya membatasi dari usia lima belas hingga lima puluh! Yang usianya tidak termasuk, kembali ke sisi kiri Phalus! Jujur! Wanita juga tidak boleh ikut!” teriak Marino. Banyak orang yang pindah lagi ke sisi kiri Phalus. Kini, yang berdiri di sisi kanan, meski berkurang, tapi ada cukup banyak. Ada sekitar 6000 orang.

“Dari semuanya. Siapa yang sudah punya keahlian bela diri?” tanya Marino, semuanya mengangkat tangan.

“Seni bela diri adalah tradisi Xenfod selama berabad abad!” seru seseorang, semuanya bersorak riuh.

“Kenapa aku bisa lupa, ya?” pikir Marino.  “Baiklah, semuanya! Bagi kalian yang sudah memenuhi kualifikasi umur, daftarkan diri kalian padaku nanti sore!” seru Phalus.

Kota Kebasi lumayan besar, dan bisa menampung sekitar 200.000 orang walaupun penduduknya kini tinggal lima puluh ribuan. Saat pendaftaran usai pada keesokan siangnya, telah terdaftar sukarelawan yang tepatnya sejumlah 6770 orang. Lebih banyak dari yang diperkirakan. Sorenya, ada laporan dari kota-kota sekitar. Dari kota Dambung, berhasil merekrut 5030 orang. Rubasaya, 6200 orang, dan dari Gobor ada lima ribu orang sehingga total perekrutan dari perebutan empat kota ini ada 23.000 orang. Dengan demikian, berarti selama mereka telah tiba di Zenton, mereka telah berhasil merekrut 25.500 orang. Pasukan rekrutan baru itu dipecah dua, dan dipimpin oleh Eko dan Daisy. Daisy memimpin 12.000 orang, Eko memimpin sisanya.

Marino langsung merebut Vatabia dan mendapat perlawanan, yang sangat tidak berarti, dari pasukan Devilmare, dan berhasil merekrut banyak sekali orang di sana, yaitu sejumlah 40.000 orang penduduk, dan ada tambahan lagi dari pasukan negara Xenfod hingga jumlahnya secara total menjadi 55.000 personil.

Dengan kekuatan sebesar 180.500 orang, Marino akan menguasai seluruh Xenfod. Menurut perkiraannya, dia bisa menguasai Xenfod dalam waktu sebulan.

Begitu Marino selesai melakukan inspeksi kondisi dan jumlah pasukan, gelombang pasukan ke-dua tiba. Kini, Marino telah berada di Xenfod dengan kekuatan pasukan raksasa sebesar 280.500 personil. Seketika Marino langsung memberi perintah pada seseorang untuk membuat peta detail wilayah Xenfod, lengkap dengan kota-kotanya. Setelah itu, tiap komando pasukan diberi tanggung jawab untuk menguasai kota yang telah diperintahkan, dan memerintahkan diadakannya penyerangan akbar serentak.

Operasi ini memang berlangsung selama satu bulan penuh dan berjalan sangat mulus, mengingat di satu pihak ada Devilmare dengan pasukan yang sedikit, dan dihadapkan dengan Marino yang memiliki jumlah pasukan yang melimpah. Apalagi penduduk kota selalu memberikan dukungan. Dalam operasi ini, Marino dapat merekrut 350.000 prajurit yang berasal dari penduduk. Marino kehilangan pasukan juga, tapi tidak mengkhawatirkan sehingga jumlah bala tentaranya menjadi 575.000 orang.

Akhirnya seluruh Xenfod berhasil dikuasai oleh Marino dan bertemu kembali dengan pasukan Ratu Darpy yang menguasai Grandminister karena Xenfod dan Grandminister berbatasan.

Adapun mengenai kondisi Ratu Darpy, ia hampir menguasai Grandminister sepenuhnya. Belum semuanya, tapi sebuah pemerintahan independen Grandminister sudah dibentuk dan Republik Grandminister sudah berdiri lagi. Darpy juga kehilangan banyak sekali prajuritnya, tapi merekrut banyak pula, hingga berjumlah 650.000.

Ini pasti akan terjadi. Sekitar 150.000 orang prajurit mengundurkan diri dari komando Darpy untuk menjadi pasukan pemerintah Grandminister sehingga tinggal 400.000 personil. Karena mengetahui ini, Marino jadi tahu bahwa pasukannya akan berkurang kira-kira sejumlah itu.

Pemerintahan Xenfod dibangun lagi, dan Xalivander, seorang jendral, diangkat menjadi raja Xenfod yang baru. Saat itu, Marino menawarkan pada pasukan rekrutannya untuk pergi dan mengabdi di Xenfod. Akhirnya sekitar 120.000 prajurit mundur, sebagian pulang, dan sebagian mengabdi pada raja.

Awalnya Marino terkejut. Mengapa sedikit yang pulang untuk mengabdi pada negaranya? Ternyata karena kondisi negara. Jika mereka terus tinggal, mereka akan kelaparan. Toh jika mereka pergi, akan meringankan beban. Dengan demikian, maka Marino memiliki 260.000 personil prajurit asal Xenfod.

Dengan kekuatan 455.000 personil, Marino akan mencoba menguasai Gallowmere. Menurut beberapa informan, Gallowmere dijaga cukup ketat oleh Devilmare. Tadinya Ratu Darpy ingin ikut membantu menguasai Gallowmere, tapi dilarang oleh Marino. Mempertahankan Grandminister itu tidak mudah, meski pasukan dari pemerintah Grandminister ikut membantunya sekalipun. Apalagi Grandminister berbatasan dengan banyak negara jajahan Devilmare yang lain. Malahan Marino mengirimkan 55.000 prajurit tanpa komandan untuk membantu Darpy.

Sudah lebih dari sebulan mereka berada di Zenton dan belum mengalami pertempuran dasyat seperti yang dialami Ratu Darpy. Tapi kini Marino akan memasuki Gallowmere, di mana pertempuran besar yang dinanti-nanti akan dijumpai. Gallowmere. Tanah para ksatria.

 

 

[End of Chapter XIV]

[Coming up next, Chapter XV: Lethifold]

2 Comments

  1. Posted October 23, 2012 at 12:14 pm | Permalink

    awesome blog! i liked your way of description. lista de email lista de email lista de email lista de email lista de email

  2. Posted October 23, 2012 at 2:52 pm | Permalink

    could you tell me when you’re going to update your posts? lista de email lista de email lista de email lista de email lista de email

One Trackback

  1. […] – Chapter XIV: Road to Victory […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*