Legend of Legends : Chapter XVI – Fall of Devilmare

The next chapter is out!

Enjoooy ^_^

——————————————————————————————————

CHAPTER 16

FALL OF DEVILMARE

                Marino memerintahkan agar tempat kubah tadi muncul dipasangi perangkap dengan berbagai jenis yang tiap buahnya amat berbahaya. Selain itu, area itu dibuat terlarang bagi siapapun. Jadi jika Rafdarov muncul lagi di situ, yang pertama akan terjadi adalah dia akan jatuh ke parit berisi besi-besi tajam. Jika itupun bisa lolos, masih banyak perangkap lainnya. Marino tahu bahwa itu bukan masalah bagi Rafdarov, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan. Dia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Setahun telah berlalu sejak pertempuran New Belsampos, dan kini tinggal beberapa saja negara yang masih dikuasai oleh Devilmare, yaitu Lenny, Mortwood, Lovenia, dan Roxis. Tidak lupa kerajaan Devilmare sendiri. Pasukan Devilmare sedang hancur-hancuran, dan pasukan The Chain sedang di puncak kejayaan. Apalagi ditambah dengan sukarelawan-sukarelawan dari kerajaan-kerajaan yang baru bebas. Saat ini, pasukan Devilmare yang sedang kacau, dihadapkan pada kekuatan pasukan yang kira-kira sudah mencapai lebih dari satu juta prajurit, bervariasi dari pasukan infantri, kavileri, maupun rakyat jelata yang membawa perisai dan tombak buatan sendiri.

Menghadapi kenyataan ini, rakyat Lovenia dan Lenny merasa mendapat ‘back up’ dan memberontak. Pasukan Devilmare di negara-negara tersebut yang sibuk mempertahankan wilayah-wilayah perbatasan, direpotkan dengan serentetan serangan pemberontak. Di saat-saat kacau begitu, beberapa utusan dari pasukan Darpy dan Marino mendatangi kedua negara tersebut memberikan dua tawaran:

  1. Mundur dan bebaskan negara tersebut (yaitu Lovenia dan Lenny), atau
  2. Pasukan The Chain akan menyerbu secara militer

Pemerintahan penjajah di Lovenia menyerah dan mundur ke Roxis, tapi kekuatan Devilmare di Lenny tidak mau menyerah. Tentu saja ini berarti Lenny akan digempur. Namun saat Ratu Darpy memimpin pasukan untuk menyerbu, pasukan Devilmare sedang diobrak-abrik oleh pasukan rakyat dibawah pimpinan Heriawan, seorang mantan walikota pada rezim kerajaan sebelum dijajah. Jadi, saat Darpy tiba, pasukan Devilmare langsung menyerah.

Marino dan Darpy berunding. Apakah menguasai Roxis dulu, atau Devilmare dan Mortwood dulu. Tentu menguasai Roxis akan amat sulit, mengingat medannya yang sangat mendukung pihak yang berada di dalam Roxis.

Tersiar suatu kabar bahwa Devilmare memindahkan pemerintahannya ke Roxis. Ini strategi bagus bagi kedua belah pihak. Bagi Devilmare pertahanan terhadap ibukota pasti akan jauh lebih kuat, tapi Mortwood dan Devilmare lama akan mudah direbut sehingga Roxis bisa dikepung.

Tadinya Lothar Night mengusulkan untuk menyerang Roxis lewat terowongan-terowongan yang dibuat waktu pelarian dulu, tapi lorong-lorong itu ditutup waktu semua penduduk sudah lewat. Mahluk yang bisa membuat lorong tersebut sudah punah karena diburu serta dibantai, karena itu Marino dan Darpy memutuskan bahwa Roxis harus dikepung.

Daisy dan Daffy menyerang Devilmare lama, lalu Bathack, Hermady, dan Rido menyerang Mortwood. Penyerangan ke Mortwood sukses besar, tapi perlawanan yang tidak diduga didapatkan oleh Daisy dan Daffy. Ternyata masih ada puluhan ribu pasukan Devilmare di sana, sehingga pasukan dari The Chain tersebut kalah jumlah dan terdesak. Untung saja datang bantuan dari Mortwood dan Marino memerintahkan agar Black memberikan tambahan pasukan.

Satu-satunya pasukan yang jumlahnya tidak bertambah, dan memang tidak mungkin ditambah pada saat ini adalah pasukan Jasmine. Pasukan gerilya butuh keterampilan dan pelatihan khusus. Pasukannya kini tinggal sekitar 7500 personil. Tapi, pasukan ini lumayan dibutuhkan untuk relief seperti Roxis.

Sebuah armada di bawah pimpinan Kaine tiba di pelabuhan Talmis. Ia membawa serta sekitar 3000 prajurit. Ini jelas merupakan bantuan yang lumayan.

Marino teringat sesuatu. Lucifer’s Den. Sarang iblis. Jika ia menghancurkannya, Lucifer tidak akan kembali. Ia membawa 1.500 prajurit menuju wilayah utara Devilmare. Di pantai utara, Marino melihat sebuah pulau di kejauhan. Di atas pulau itu berdiri sebuah kastil raksasa yang bentuknya amat mengerikan. Itulah Lucifer’s Den. Satu-satunya cara  untuk mencapainya adalah melalui laut.

Marino dan keempat sahabatnya menaiki salah satu kapal perang menuju Luicifer’s Den. Mereka berangkat dari pelabuhan Devilmare yang letaknya amat jauh dari situ. Aneh. Lewat mana Rafdarov mengirim tahanan ke penjara itu?

Sekitar empat puluh kapal tempur dikirim ke sana. Kira-kira dua ratus meter dari pantai pulau Lucifer’s Den, Marino melihat ada ribuan prajurit iblis yang mengelilingi Lucifer’s Den. Setelah konfirmasi dari Marino, kapal-kapal itu mulai menghujani iblis-iblis itu dengan ariel cannon dan meriam api, atau setidaknya begitulah niatnya, sebab seperti ada pelindung tak tampak yang menutupi seluruh pulau itu, sehingga peluru-peluru memantul begitu saja di udara kosong dan terpental kembali ke langit.

Marino memerintahkan agar pasukan lautnya mundur kembali. Kaine menawarkan diri untuk ikut membantu, lalu Yogin, Phaustine, dan Eko ikut menawarkan diri pula. Dengan kapal-kapal kecil, mereka bersama ratusan pasukan magic mendekat ke pulau.

Sia-sia. Kaine saja yang sudah mengeluarkan berbagai macam sihir seperti badai api yang kelihatan luar biasa dasyat dan mengakibatkan sederet ledakan super dasyat, tapi gagal. Perisai Lucifer’s Den itu sama sekali tidak bergeming.

Setelah melakukan rapat berkali-kali, Marino dan Darpy memutuskan untuk memfokuskan pada Roxis dulu. Ada beberapa cara untuk melakukannya dan yang paling banyak dibicarakan adalah penggempuran habis. Entah berapa banyak korban yang akan berjatuhan, tapi cara-cara yang lain lebih parah lagi.

Untuk menghindari medan berat, Marino memutuskan untuk menyerang lewat jalan terbuka saja. Dia tahu bahwa area-area tersebut cuma sedikit sekali dan pasti dijaga dengan sangat ketat. Jalan itu pasti akan menuju ke arah di mana pasukan besar Devilmare menanti, dan sepanjang jalan, akan pasti akan ada hujan-panah dari bukit-bukit di sisi jalan.

Daisy memberikan usul yang luar biasa cemerlang. Ia mengusulkan agar dibuat menara-menara berjalan. Untuk apa? Agar pasukan bisa naik ke atas bukit-bukit dimana pasukan pemanah Devilmare menunggu. Ini didukung oleh perbukitan itu, yang tidak terlalu tinggi, cuma sekitar dua puluh meter maksimal, dan ada beberapa titik yang cuma lima belas meter. Informasi ini didapat dari pengintai yang mengamati area di mana terdapat jalan besar menuju pusat Roxis.

Dalam waktu dua minggu, delapan buah menara berjalan telah dibuat. Menara itu didesain dengan tangga agar bisa memanjat dan dari atas akan dijaga oleh pemanah. Untuk melindungi pasukan yang akan memanjat, tangga tersebut di dalam sebuah terowongan kayu dan besi. Agar bisa jalan, tentu dipasangi roda.

Dengan ini, mereka akan lebih mudah menghadapi pasukan pemanah musuh dari atas bukit. Jadi strategi yang akan dilaksanakan adalah : Marino akan memimpin gelombang pertama sejumlah 20.000 lewat jalan timur, di mana ada jalan besar menuju sebuah kota bernama Gareosoda, membawa empat menara berjalan. Sementara itu Rido meimpin 25.000 prajurit masuk lewat jalan raya besar di utara dan membawa empat menara berjalan pula. Di saat yang bersamaan Jasmine akan membawa pasukannya melewati medan berat Roxis sebelah timur sekaligus membersihkan jalan, lalu pasukan Pandecca dan Cremplin akan masuk.

Marino dan pasukannya sudah memulai perjalanan menuju jalan timur, setelah melakukan persiapan selama sekitar sebulan. Dari kejauhan, tampak jalan yang akan mereka lewati, dan perbukitan di mana pemanah-pemanah pasti telah menanti. Pasukannya yang terdiri dari 10.000 kavileri dan 10.000 infantri telah gatal ingin menebas sesuatu. Empat menara berjalan bergerak dengan didorong oleh delapan orang per menaranya. Di dalam masing-masingnya, telah menanti dua puluh lima prajurit yang sudah bergelantungan di tangga, siap memanjat, dan empat pemanah di puncak siap melindungi. Daisy menunggang kuda dan menggenggam tombak persis di sebelah Marino.

Seratus meter dari ujung jalan, Marino menyerukan perintah maju, seketika seluruh pasukannya menderu maju. Saat makin mendekat, hujan panah datang, tapi tidak sedasyat yang diperkirakan. Semua pasukan Marino mengangkat perisai dan berlindung di baliknya. Dari sudut matanya, Marino melihat beberapa orang pasukannya jatuh kena panah. “Tinggalkan yang gugur! Kita angkut setelah pemanah di bukit diatasi!” teriak Marino.

Menara-menara mendekat ke bukit. Satu orang pemanah dari atas salah satu menara terjatuh saat dihantam panah dari bukit, tapi itu bukan masalah. Dengan cepat, para prajurit yang sudah bersiap, memanjat menara tersebut dan naik ke atas bukit. Pasukan yang ada di tiap bukit (kiri dan kanan jalan) berhenti menghujani jalan, karena sibuk menghalau pasukan The Chain yang melewati menara. Pasukan infantri terus memanjat dan menghancurkan pasukan musuh yang berada di sana.

Di sini, Marino kehilangan seratus lebih prajuritnya, tapi berhasil membantai lebih dari tiga ratus musuh, dan menawan beberapa puluh lainnya. Ia memerintahkan agar ada pasukan yang bergerak melewati bukit juga. Dia senang sekali dengan kesuksesan menara berjalan, kemudian mencium pipi Daisy yang mengusulkannya.

Pasukannya bergerak lagi. Mereka terus waspada karena yakin bahwa setiap saat bisa saja ada pasukan Devilmare yang besar muncul. Jalan tersebut berakhir di sebuah kota. Dengan was-was, Marino dan pasukannya memasuki kota tersebut. Di belakang kota tersebut terhampar padang rumput yang amat luas.

Aneh. Kota tersebut kosong. Ini sama sekali tidak beres. Marino cepat sekali tanggap, ia yakin bahwa akan ada serangan besar-besaran dari padang rumput sana jika pasukan Marino bergerak ke sana, mengingat padang rumput itu berbatasan dengan hutan yang melingkarinya. Segera saja Marino memerintahkan pasukannya untuk membangun pertahanan di kota tersebut. Ia mengirim surat dengan Amber. Lewat surat itu, ia meminta bantuan pasukan dalam jumlah besar untuknya, dan juga untuk Rido Matius. Selain itu, ia meminta bantuan logistik.

Marino memperkirakan pasukan bantuan itu akan tiba paling lambat besok malam. Ia juga memperkirakan bahwa pasukan Devilmare tidak akan menyerang untuk sementara waktu karena mereka pasti menginginkan agar pasukan Marino melewati padang rumput dan disergap. Mungkin butuh sedikit waktu lebih lama agar pasukan Devilmare tanggap bahwa Marino tidak akan masuk perangkap semacam itu.

Giliran jaga malam dibagikan, menandakan bahwa malam telah tiba (Lho, kok?). Marino menumpang beristirahat di sebuah rumah kecil dekat pinggir kota bersama Daisy. Rumah itu kelihatan sangat sederhana dari luar, kecil, tapi begitu Marino masuk, perabotnya bagus-bagus, dan kelihatan mewah.

“Kita hampir menang. Kita pasti menang,” kata Daisy. “Dan kita akan segera menikah,” keadaan hening untuk sementara. Daisy mencium pipi Marino dan tersenyum. “Tapi Rafdarov baru akan muncul beberapa bulan lagi. Yah, itu bukan masalah. Kita habisi dia nanti….”

Pintu terbuka, lalu Eko dan Daffy menghambur masuk, disusul Adin. “Wah, kami salah waktu, ya? Kalau begitu kami tinggal dulu,” kata Eko sambil berjalan keluar.

“Jangan. Kita perlu bicara,” kata Marino.

“Tidak. Kalianlah yang harus saling bicara, kami tidak mau mengganggu,” potong Adin. Ketiganya melangkah keluar.

“Akan kugantikan giliran jaga kalian,” kata Eko.

“Kita memang harus banyak mengobrol,” kata Marino.

“Tapi kita tidak harus ngobrol dengan kata-kata,” Daisy menghentikan pembicaraannya sejenak saat membelai lengan Marino, kemudian berkata lagi, “banyak sekali cara mengobrol….”

“Ada serangaaaaaaaaan!” teriak seorang prajurit dari luar rumah. Segera saja Marino dan Daisy menyambar senjata dan armor, lalu melesat ke luar. Dari jauh tampak puluhan ribu, mungkin pasukan Devilmare melintasi padang rumput dengan perlahan menuju kota dan berhenti sekitar dua ratus meter dari kota. Pasukan Marino telah bersiaga.

Setelah hening beberapa saat, musuh menerjang maju. Marino memerintahkan pasukannya mundur agar perang terjadi di dalam kota. Saat melesat menuju kota, beberapa pasukan Devilmare jatuh di perangkap yang dipasang pasukan Marino. Saat mereka mendekat dari tiap rumah melayang panah-panah api menuju musuh. Saat musuh sudah terlalu dekat untuk para pemanah, pasukan Marino maju.

Pertempuran sengit kini terjadi. Pedang dan tombak berkelebat di sana-sini. Pasukan Marino yang kuat tampak lebih unggul, apalagi kelihatannya pasukan Devilmare berjumlah lebih sedikit. Setelah lama berperang, pasukan Marino menang, dan berhasil menawan 3.000 lebih prajurit Devilmare. Ia sendiri telah kehilangan 6.000 orang, tapi ia telah membantai lebih dari 10.000 musuh dan 5000 lainnya melarikan diri.

Tidak ada serangan lain pada hari itu dan Marino memutuskan untuk menunggu pasukan bantuan untuk tiba. Pada pertempuran tadi, lengan kiri Daisy terkena pedang dan terluka. Untungnya luka tersebut ringan dan cukup dibalut saja. Tentu jadinya ia akan kesulitan nantinya.

Menjelang sore hari, pasukan bala bantuan di bawah pimpinan Black telah tiba. Ia membawa 40.000 prajurit serta puluhan kereta kuda berisi logistik. Selain itu ada sekitar dua puluh meriam api beroda yang biasa Marino lihat di kapal-kapal perang Crin’s Blade.

“Mengapa tidak Ariel cannon sekalian?” tanya Marino.

“Maunya sih begitu. Tapi Ariel cannon tidak bisa dilepas dari kapalnya dengan mudah. Butuh waktu lama. Karena menurutku ini darurat, aku bawa ini saja,” kata Black sambil menunjuk pada meriam-meriam api tersebut.

Tiba-tiba Daisy berlari pergi ke arah bukit tempat mereka datang. “Mau ke mana kau?” teriak Marino.

“Nanti saja! Jika mau bergerak, duluan saja. Aku akan menyusul,” teriak Daisy tanpa menoleh.

Kota yang mereka tempati tidak mungkin bisa menampung jumlah prajurit yang begitu banyak. Marino memutuskan untuk bergerak menuju padang rumput.

“Semua waspada. Kita mungkin akan menghadapi perang gerilya,” kata Marino pada pasukannya. Pasukan yang dibawa Marino berjumlah sangat banyak, hal ini membuatnya agak percaya diri. Tapi ada satu hal yang mengganjal hatinya. Kemanakah Daisy? Apakah dia punya ide lain? Entahlah.

Saat mereka memasuki hutan, rasanya aman-aman saja melihat bahwa hutan tersebut sangat sunyi. Tapi setelah masuk jauh ke dalam, ternyata mereka telah terkepung oleh pasukan gerilya Devilmare. Pertempuran sengit terjadi lagi. Gerilya asal Devilmare kelihatannya tidak begitu profesional. Mereka memang jago bersembunyi, tapi saat Marino dan pasukannya lewat, mereka langsung saja keluar dari tempat persembunyian dan menyerbu. Dengan jumlah yang lebih banyak, Marino berhasil mengatasi serangan gerilya tersebut dengan baik.

Tepi hutan telah tampak, di hadapan mereka  kini terhampar padang rumput yang luas sekali, sama seperti yang ada di tepi hutan di mana mereka masuk. Namun dari kejauhan tampak ada banyak sekali prajurit Devilmare. Mungkin ada puluhan ribu.

“Formasi!” Black berteriak, dan pasukannya bergerak.

Meriam api berderet paling depan, pemanah berjajar di belakang meriam bersama magic, lalu pasukan lainnya menunggu di belakangnya. Pasukan Devilmare membanjir ke arah mereka.

“Sisanya buat pagar tombak bertahan!” perintah Marino. Saat-saat seperti itu, Daisy datang dengan sebuah gerobak berisi mata-mata panah.

“Kalau sudah dekat, isi meriam kalian dengan ini sampai penuh, lalu tembak,” kata Daisy pada empat pemegang meriam.

“Kau cerdik sekali, Daisy,” puji Marino.

Meriam-meriam api melontarkan bola-bola merah ke arah musuh, membuat dua atau tiga musuh terpental lalu terkapar tak bergerak karena ledakannya. Panah-panah api beterbangan menciptakan hujan panah bercampur magic yang cukup efektif memperlambat musuh sekaligus membantai.

“Kalian,” kata Daisy mengambil sekop-sekop dari dalam kereta yang ia bawa, lalu menyodorkannya pada empat pemegang meriam tadi, “isi sampai penuh, dan tembak Hanya jika mereka sudah terlalu dekat, sekitar enam meter,” kata Daisy dengan serius.

Pasukan Devilmare terus mendekat, lalu empat penjaga meriam yang tadi diberi peluru khusus oleh Daisy langsung menembak ke arah yang berbeda. Dari tiap larasnya, bola api yang telah diisi meledak lebih hebat, sayangnya meledak di larasnya, membuat meriamnya terdorong mundur beberapa meter, tapi mata-mata panah yang di isi ke dalamnya menyembur ke depan, dan mengenai belasan musuh sekaligus.

“Bagus! Tapi kita akan kehabisan, dan… mereka sudah terlalu dekat, dan…..  SERAAAANG!!!” seru Marino dan semua pasukannya menyambut pasukan Devilmare. Untuk ketiga kalinya, perang besar terjadi. Udara dipenuhi dentingan-dentingan besi yang beradu. Jumlah mereka seimbang tadinya, sampai bantuan Devilmare tiba.

Dari kejauhan tampak ada ribuan prajurit melesat ke arah kancah pertempuran. Marino tahu bahwa pasukannya telah kalah jumlah, tapi ia tidak akan menyerah. Ia menebas terus tanpa kenal lelah, dan menghabisi banyak musuh. Bantuan datang lagi, tapi kini untuk Marino. Dari arah samping, sebuah pasukan yang berzirah hitam, seperti pasukannya, menderu ke arahnya. Ternyata pasukan Cremplin.

Dalam seketika, keadaan berbalik drastis, dan pasukan Devilmare kalah. Sebagian besar melarikan diri, dan sisanya terbunuh atau ditawan.

“Pasukan kita sedang dialirkan dalam jumlah yang amat banyak. Perintah mendadak dari Ratu Darpy. Entah apa yang dia pikirkan, tapi rasanya itu solusi yang tepat. Mari kita terus bergerak. Pasukan-pasukan kita yang lain sedang bertempur di jantung Roxis,” lapor Cremplin.

“Lho, mereka bisa sudah sejauh itu?” Marino terheran-heran. Untuk mencapai segini saja ia dan pasukannya sudah terpontang-panting.

“Eh, bala bantuan sebagian besar kebetulan bertemu dengan pasukan Rido atau Jasmine, jadi mereka dapat bantuan duluan,” kata Cremplin.

Pertempuran berlanjut terus selama berbulan bulan karena pertahanan berlapis yang ditinggalkan oleh Roxis ternyata berhasil difortifikasi ulang dengan baik sehingga menghambat invasi The Chain di berbagai sektor. Tapi akhirnya pasukan The Chain bertemu di jantung Roxis dan lapis pertahanan terakhir, yaitu Istana Besar.

Sudah sekitar 275.500 prajurit bersenjata lengkap yang mengepungnya, tapi belum bisa tertembus. Ada semacam sihir misterius yang melindunginya, berbentuk bola yang menutupi istana raksasa itu. Di balik pelindung itu, tampak ribuan prajurit Devilmare yang menunggu. Andaikata perisai sihir itu bisa dihilangkan, pasukan di dalamnya yang jelas lebih sedikit dari pasukan The Chain bisa di bantai. Marino tahu bahwa itu saja yang tersisa dari Devilmare. Cuma itu.

Dari langit, sebuah meteor raksasa menghunjam perisai sihir itu, dan membuatnya retak. Semua mata tertuju pada asalnya meteor itu. Ada Kaine melayang sepuluh meter dari permukaan tanah yang sedang meluncur mendekat ke istana tersebut.

Bola api tadi berhasil membuat bola perisai tadi kelihatan retak. Saat meteor kedua menghantamnya, perisai tersebut pecah dan lenyap. Pasukan The Chain langsung menyerbu masuk, tapi sebelum mereka mendekat, sebuah bola cahaya meluncur dan meledak dan membunuh puluhan prajurit The Chain. Sesosok pria botak melayang tinggi, memegang sebuah tongkat panjang yang ujung bandulnya menyala putih. Orang itu adalah Morris Boyne.

“Lama sekali tidak berjumpa. Tapi kali ini kau akan kalah, sebab cara yang sama tidak akan mempan lagi!” teriak Morris.

“Untuk apa aku memakai cara lama? Aku punya banyak cara baru…dan teman baru,” kata Kaine tenang, saat dua sosok melayang juga yaitu Yogin dan Phaustine.

“Huh, mau curang rupanya?” kata Morris dengan nada sopan tapi berbahaya.

“Curang?” Kaine melayang sedikit lebih tinggi. “Jangan pura-pura. Kau kira aku tidak tahu?” ledek Kaine. Morris tersenyum.

“Kau tahu juga,” Morris pun meledak…..

Lalu muncul sebagai tiga orang Morris. Satu berbaju merah, satu berbaju biru, dan yang lain berbaju hijau. “Kita bertarung, Kaine!” teriak Morris berbaju merah. Yogin mendekati yang biru, dan Phaustine melesat ke arah yang hijau.

“SEMUANYA MENYINGKIR JAUH-JAUH!!!” teriak Kaine sambil menyambut bola-bola cahaya dengan kilatan-kilatan api yang dasyat.

Semua otomatis menyingkir begitu udara dipenuhi ledakan-ledakan dasyat, yang impulsnya terasa hingga berkilo-kilo jauhnya. Kaine dan Morris merah tampak seimbang, demikian pula Yogin dan yang biru, tapi Phaustine agak kewalahan. Memang sihirnya kelihatan jauh lebih kuat, tapi dalam sebuah duel sihir yang dibutuhkan bukan cuma sihir yang kuat, melainkan keterampilan yang tinggi.

Saat pertarungan Phaustine dan Morris hijau mendekat ke tanah sedikit, seorang prajurit menarik busurnya, membidik, lalu iseng saja memanah ke arah Morris berbaju hijau, dan kena.

Memang cuma kena lengannya saja, tapi kesempatan itu diambil Phaustine untuk menghajarnya habis-habisan dengan kilatan-kilatan cahaya biru. Morris yang itu terkapar di lantai dan tidak bergerak lagi.

“Kurang ajar! Kau curang!” geram Morris berbaju merah. “Curang? Siapa suruh tubuhmu yang pakai baju hijau itu melawan anak kecil begitu? Karena tidak adil, makanya butuh ‘sedikit’ bantuan. Tapi aku heran. Kenapa tubuhmu yang itu mudah sekali dikalahkan begitu?” gumam Kaine tenang. “Dia yang paling lemah soalnya,” pertarungan pun berlangsung lagi.

Phaustine kini ikut bertarung bersama Yogin melawan Morris berbaju biru. Sementara itu, Kaine sedang menembakkan ratusan naga api ke arah Morris. Morris dengan cerdik menangkis naga-naga api itu, kemudian membalikkannya ke arah para prajurit. Tapi kebetulan Morris berbaju biru sedang mengelak dari serangan Yogin, melesat tepat ke jalur di mana naga api akan lewat. Walhasil, ledakan dasyat terjadi, lalu Morris berbaju biru itu jatuh ke tanah. Dengan sigap, para pemanah menghujaninya dengan panah. Morris berbaju biru itu masih sanggup menahan panah-panah tersebut, tapi ia melupakan Yogin dan Phaustine yang menembakkan bola sihir besar ke bawah dan meledakkan Morris seketika.

“Kini kau sendirian,” kata Kaine.

“Tidak apa-apa. Aku sendiri puluhan kali lebih kuat dari belahan tubuhku yang tadi! “ teriak Morris sambil tertawa, tapi dari ekspresinya jelas ia juga ketakutan. Kaine menyadari ini dan langsung tersenyum. “Kapan sih, kau akan kapok?” tanyanya saat Yogin dan Phaustine melesat ke arah Morris yang tersisa. Tapi sekali ia mengayunkan tangan, terjadi ledakan hebat, dan kedua perempuan itu terpental ke arah kerumunan prajurit yang langsung menangkap mereka.

“Terima kasih! Ukh, Morris yang itu luar biasa kuat, ya?” gerutu Yogin, mengelap bibirnya yang sedikit berdarah. Kaine membombardir Morris dengan ratusan bola api, lalu mengeluarkan serentetan sihir super dasyat yang dibalas lagi oleh Morris dengan sihir yang tidak kalah dasyat.

Yogin mengangkat kedua tangannya, demikian juga Phaustine. Eko yang berada tidak jauh dari situ ikut mengangkat tongkatnya. Semua prajurit magic yang berada di situ juga mengangkat tangan. Tanpa diberi komando, semuanya mengeluarkan sihir terbaik mereka. Kaine mengibaskan tangannya, mengakibatkan semua sihir itu tidak jadi mengenai Morris, tapi saling bertabrakan sepuluh meter di bawah tempat Morris melayang. “Apa yang kau…..” tapi Kaine bukan menolongnya.

Sebuah bola api muncul di tempat sihir-sihir tadi bertabrakan. Semua sihir itu berbelok dan memasuki bola api tersebut dari satu sisi, lalu muncul lagi di sisi yang lain sebagai satu sihir yang berupa kesatuan dari semua sihir yang ada. Sihir itu mengejar Morris yang berusaha terbang menjauh sambil menembakkan sihir-sihir kuat untuk menghalaunya. Tapi begitu sihir-sihir yang ia keluarkan mengenai sihir dari semua mage, sihirnya sendiri berbalik dan ikut menyerangnya.

Morris terus terbang menghindari sihir gabungan itu, yang terus mengejarnya. Kaine menembakkan bola sihir lagi yang berhasil menghantam wajah Morris dengan telak. Saat itulah terbangnya melambat dan sihir tadi menghantamnya. Sebuah ledakan yang sangat dasyat terjadi. Langit menjadi hitam sejenak waktu ledakan tadi terjadi dan potongan-potongan tubuh Morris terpencar ke mana-mana.

Semua prajurit di dalam istana tersebut menyerah dan keluar dengan damai. Aparatur negara Devilmare yang berada di dalam kastil juga ditangkap dan ditawan.

Marino menemukan sesuatu saat ia dan Daisy sedang memeriksa kebun belakang istana. Ada tongkat sihir Morris menancap di tanah. Tongkat sepanjang dua setengah meter itu masih bercahaya, terutama di bandul besar pada ujungnya. Cahaya putih menguar darinya. Marino mendekatinya, tapi Daisy memeluk lengannya. “Jangan, bisa jadi berbahaya,” katanya.

“Entahlah. tapi kita tidak akan tahu jika tidak mencoba,” lalu dengan tangannya yang tidak dipeluk Daisy, ia mencoba menyentuh bandulnya. Marino belum melepas senjatanya dan secara tidak sengaja ujung senjata di punggung tangannya menyentuh bandul itu.

Cahaya putih di bandul itu bertambah menyilaukan. Kini cahaya tersebut juga menyala di kedua senjata Marino. Tubuhnya sendiri mulai bercahaya, Daisy yang sedang memeluknya juga ikut bercahaya, lalu cahaya yang menyilaukan juga bersinar di mata tombak milik Daisy.

“Elemental,” kata Daffy yang baru datang sambil merangkul Yogin. “Senjata kalian kini memiliki elemen angin, karena tongkat Morris juga berelemen angin,” katanya. “Adin sudah punya api, Eko punya halilintar, kalian punya angin, dan si lucu ini memberikan elemen air padaku. Betul?” ia bertanya sambil mencubit pipi Yogin, yang mengangguk.

“Kalau begitu, kita berlima sudah punya elemen pada senjata kita,” kata Daisy.

“Tunggu.” Marino bergumam, saat Eko dan Adin baru saja muncul. “Devilmare sudah tidak ada lagi. Musnah,” dia berhenti sejenak saat beberapa panglima lain seperti Jasmine, Black, dan Rido mendekat. “Tapi, masih ada yang lebih buruk menanti kita,” Marino menegakkan punggungnya sedikit.

“Rafdarov,” gumam yang lainnya bersamaan. Marino mengangguk kecil.

“Betul, tapi ada yang lebih merisaukanku. Jauh lebih jahat daripada Rafdarov,” gumamnya, sambil menatap teman-temannya satu persatu. Akhirnya Rido mengatakan sesuatu, yaitu jawaban dari pertanyaan mereka, yang tersimpan saja di dalam batin mereka. “Lucifer”

 

[End of Chapter XVI]

[Coming up next, Chapter XVII: Rise of Lucifer]

One Trackback

  1. […] – Chapter XVI: Fall of Devilmare […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*