Prinsip Prinsip Saya Dalam Menilai Ujian

Banyak mitos bahwa saya sangat sulit dalam memberi nilai. Saya tidak tahu, apakah memang betul mitos tersebut, ataukah ini hanya self defense mahasiswa yang nilainya jelek untuk menjustifikasi nilai jeleknya itu? Mungkin saya tidak akan pernah tahu. Yang jelas, saya selalu terbuka dengan Mahasiswa yang ingin menanyakan dasar saya memberikan nilai dan inshaaAllah saya selalu mempunyai dasar.

Bagi mahasiswa yang kepingin tahu bagaimana cara saya menilai, berikut prinsip-prinsip yang saya pegang jika wewenang memberikan nilai akhir jatuh ke tangan saya:

  1. Wewenang untuk menentukan nilai bukanlah hak saya, melainkan amanah.
    • Menilai rendah performance yang tinggi adalah kedzaliman
    • Menilai tinggi performance yang rendah adalah memberi yang bukan haknya
  2. Memberi nilai yang baik adalah sebuah kesenangan, sedangkan memberi nilai yang buruk tidaklah menyenangkan.
  3. Sebagai kaidah umum, nilai harus merefleksikan apa yang dzahir dari pemahaman mahasiswa terhadap materi.
    • Bukan jawabanlah yang akan saya cari melainkan penjelasan menuju jawaban tersebut yang menunjukkan pemahaman terhadap materi terkait.
    • Jika saya meminta menjelaskan satu hal, menjelaskan dua hal tidak akan menambah nilai walaupun keduanya baik.
    • Jika saya meminta menjelaskan satu hal, lalu dijelaskan dua hal sedang salah satunya salah, akan menjadi tidak sempurna nilai untuk soalan itu karena merefleksikan kesalahan dalam pemahaman materi.
    • Dalam pertanyaan yang mengandung unsur opini, tidak disyaratkan mahsiswa menjawab sesuai opini yang saya ajukan. Yang akan dinilai adalah hujjahnya dari sudut pandang akademis, yang merefleksikan pemahamannya terhadap materi terkait.
  4. Saya berusaha menghargai apa yang bermanfaat saja.
    • Saya tidak memberi ongkos menulis, yang saya maknai sebagai tulisan yang tidak relevan sama sekali dalam jawaban seberapa panjangpun itu.
    • Saya berusaha memberi kredit untuk langkah-langkah yang relevan untuk mencapai jawaban, walaupun pada akhirnya hasilnya belum mencapai jawaban yang benar.
  5. Saya berusaha menjunjung tinggi kejujuran.
    • Sekedar tidak berbuat ketidakjujuran dihadiahi hasil yang sepadan dengan usaha, dan saya berdoa sikap tersebut jika konsisten akan membawa kebaikan di masa depan dan di hari akhir.
    • Saya akan berusaha memberi penghargaan secara adil terhadap sikap kejujuran yang istimewa, misalnya sedemikian rupa yang meresikokan nilainya sendiri demi tindakan jujur itu [kisah lengkapnya dapat di klik di sini – link diedit pada 17012015].
    • Perbuatan curang termasuk plagiarism akan ditindak tegas sesuai derajat kesalahan dan mempertimbangkan udzur.
  6. Saya berusaha sedapat mungkin untuk menyesuaikan terhadap mahasiswa yang berkebutuhan khusus.
  7. Saya akan berusaha memberi penghargaan khusus dan proporsional untuk mahasiswa yang berprestasi atau melakukan publikasi ilmiah di bidang yang relevan dengan mata kuliah yang saya ampu.
  8. Saya akan berusaha memberi penghargaan khusus bagi mahasiswa yang: aktif secara substansial dalam mata kuliah terkait baik di dalam maupun luar kelas, berhasil mendapatkan nilai ujian akhir yang drastis meningkat dibandingkan ujian tengah semester, apabila tingkat kesulitan ujian akhir tersebut adalah sama atau lebih sulit dibandingkan ujian tengah semester.
  9. Saya tidak menerima sogokan dalam bentuk apapun yang ditujukan untuk mengubah keputusan saya dalam hal apapun terkait mata kuliah yang saya ampu atau nilai yang saya keluarkan [ditambahkan 17012016]
  10. Saya tidak dapat menerima hadiah dalam bentuk apapun dari mahasiswa atau orang tua mahasiswa saya. Hal ini bukan karena saya menuduh ini usaha menyogok, melainkan kehati-hatian saya dalam menjalankan agama saya. Penjelasan lebih rinci dapat dibaca di sini —> klik di sini dan di sini, dan ini saya sebutkan sebagai prinsip pribadi tanpa diniatkan untuk memberi penilaian apalagi mengurangi rasa hormat saya sedikitpun kepada rekan-rekan dosen lain. [ditambahkan 17012016]

Demikian prinsip-prinsip ini saya susun, dapat sewaktu-waktu berubah jika saya mendapatkan ilham baru.

Yogyakarta, 11 Januari 2016

 

Tapi mohon diingat bahwa nilai ini cuma sekedar konsekuensi dan bahan evaluasi dari proses yang dilalui. Yang dicari dari proses pembelajaran ini adalah ilmu yang didapat, dan bagaimana kelak ilmu itu bisa bermanfaat untuk ummat dengan niat yang tentunya adalah kepada Allah dan hanya kepada Allah (atau bagi yang agamanya lain ya monggo saja).

Demikian, semoga bermanfaat.

 

………………………………………………………………………………….

 

يَعۡلَمُونَ ظَـٰهِرً۬ا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأَخِرَةِ هُمۡ غَـٰفِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir [saja] dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang [kehidupan] akhirat adalah lalai. (Surah Ar Rum ayat 7)

 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” (Sahih Bukhari, Hadith no. 6369 dari Anas bin Malik r.a.)

 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ

“Ya Allah, sungguh aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat” (Sahih Muslim, Hadith No. 2722 dari Zaid bin Alqam r.a.)

 

 

Senangnyaa

Salah satu kebahagiaan terbesar bagi seorang guru

2 Comments

  1. Posted March 3, 2016 at 6:41 pm | Permalink

    Tapi sebagus-bagusnya nilai, maka lebih bagus lagi kalau diterapkan dikehidupannya 😉

  2. Fajri Matahati Muhammadin
    Posted March 4, 2016 at 12:35 am | Permalink

    setujuu!

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*