Kenapa Saya Memilih IIUM (Part II of IV)

Naquib Al Attas

 

PERTANYAAN 2: LANTAS KEUNGGULAN APA YANG SEGITUNYA DIMILIKI IIUM SAMPAI KAMU MEMILIHNYA?

A Clash of Civilizations

Kebanyakan universitas di barat menggunakan hermeneutics dalam studi keagamaannya. Pada prinsipnya, teks agama dianggap sebagai sebuah dokumen sejarah yang memiliki keterbatasan sebagaimana karya manusia lainnya. Dulunya ini dipakai untuk mempelajari Alkitab (Nasrani). Dalam agama Nasrani, Alkitab itu adalah tulisan manusia yang terinspirasi oleh Tuhan (Divine Inspiration). Sehingga walaupun inspirasinya dari Tuhan, tapi kepala yang menuangkannya dalam teks Alkitab adalah manusia yang tidak bisa lepas dari bias konteks social budaya dan sejarahnya.

Masalahnya dalam Islam, posisi kitab suci Al Qur’an bukanlah Divine Inspiration melainkan The Literal Words of Allah. Sehingga teks Al Qur’an tidak akan memiliki bias social budaya dan sejarah sebagaimana jika teksnya dibuat oleh manusia. Keterikatan terhadap konteks social budaya dan sejarah tentu tidak dapat dikaji dengan cara yang sama dengan kita mengkaji alkitab.

Tulisan ini tidak dibuat untuk memperbandingkan agama, mana yang benar mana yang salah. Forumnya lain nanti. Tapi setidaknya, dengan landasan asumsi yang berbeda seperti ini, bukankah jadinya kedua agama ini tidak dapat dikaji dengan menggunakan alat yang sama?

Belum lagi kecenderungan metode ilmiah barat yang sarat materialisme yang hanya menerima objek kajian berupa apa-apa yang dapat diamati secara empiric alias 5 indera. Agama hanya dilihat sebagai sebuah kenyataan sosiologis yang ada di masyarakat. Bukannya saya mengatakan bahwa empirisme itu salah. Tergantung objek kajiannya, kita butuh pengkajian empirik. Yang salah adalah ketika kita mengkaji Islam secara empirik, padahal dalam hubungan manusia dengan Rabb-nya sarat dengan aspek aspek metafisis dan ghaib. Bukankah ciri pertama orang bertaqwa yang disebut dalam Al Qur’an adalah:

… ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib….”?

Doesn’t make sense?

Tidak bisa diamati? Betul demikian, jika kita menggunakan tools yang salah. Masa mau menggunakan metode empirik untuk mengamati perkara ghaib? Bahkan kita tidak bisa lho membuktikan bahwa 1 + 1 = 2 secara empirik, lah wong itu adalah berdasarkan konsensus. Orang hukum mengenal juga penelitian normative atau doctrinal yang mana alat analisisnya adalah deduksi, dan ini adalah salah satu bukti bahwa empirisme tidak bisa menjadi satu-satunya alat dalam mencari kebenaran.

Masalahnya, perbedaan dari kedua cara pandang ini begitu fundamental karena hidup akan dipandang dengan cara yang berbeda: scientification of Islam vs Islamization of science. Dan tolong jangan bilang “agama itu kan urusan masing-masing”, karena nyatanya bukannya tidak ada kajian-kajian agama yang secara ontologis dan epistemologis turut mempertimbangkan unsur-unsur metafisis dari ilmu. Jangan juga bilang “mengkaji agama harus objektif”, karena objektivitas macam apa namanya kalau agama punya unsur metafisis tapi ngotot maunya mengkaji secara empirik?

Lah wong di masa keemasan Islam yang banyak berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan, tidak sekuler kok nafas ilmu yang dikembangkan. Sayangnya dihancurkan secara fisik oleh pasukan Mongol, kemudian peradaban barat yang menjadi sekuler karena trauma dengan intervensi gereja yang mengembangkan ilmu.

Nah epistemology keilmuan Islam ini tidak mati, bahkan konsep Islamic World View makin berkembang pesat. Mungkin dia terasa sangat asing, barangkali karena kita yang terpuruk setelah ratusan tahun penjajahan yang mensekulerkan habis ilmu kita dan mereduksi agama menjadi sekedar ritual dan KTP saja. Mungkin juga karena kita begitu terpukau dengan “bule-isme” sehingga apapun yang berbau non-bule seakan kok lebih unggul, padahal kita nggak tau juga masalahnya apa.

Syed Naquib Al Attas

Tokoh besar abad ini untuk Islamic World View dan Islamization of Knowledge. Betapa besar karyanya dalam studi peradaban Islam, yang termaktub dalam banyak sekali buku dan bukan hanya itu.

Organisasi Kerjasama Islam pada tahun 1983 mendirikan sebuah universitas dengan tujuan Islamisasi ilmu sebagai penunjang peradaban Islam, dan Syed Naquib Al Attas langsung yang menginkorporasi konsep Islamisasi ilmu sekaligus menjadi direktur pusat studi peradaban Islam (ISTAC). Universitas ini adalah IIUM.

Ayah saya seorang peneliti senior di BPPT. Sudah banyak makan asam garam lah soal penelitian. Bukannya saya tidak tahu sebelumnya, tapi saat beliau yang mengatakannyalah yang membuat nempel di kepala. Beliau berkata pada saya bahwa dalam sebuah studi S3, yang penting adalah mengembangkan tools untuk kita meneliti.

Karena itulah. Jika saya ingin menggunakan Islamization of knowledge dan Islamic World View sebagai tools penelitian saya, tentu saya harus langsung mencari pusatnya di mana tools ini dikembangkan dan mengejarnya ke sana.

 

< Back to Part I ………………………….. Proceed to Part III>

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *