Ayo Mahasiswa, Tingkatkan Publikasi Ilmiah! Jurnal Ilmiah + Paper Conference, dan Tips!

Image may contain: 7 people, including Upi Rachminawati, people smiling, people standing and indoor

InshaaAllah tulisan ini akan menjelaskan secara umum tujuan dan manfaat melakukan publikasi ilmiah, menjelaskan selintas tentang publikasi di jurnal ilmiah dan paper conference, lalu ada juga tips-tips umum serta hambatan+jawaban. Semoga bermanfaat!

Publikasi Ilmiah ini beda dengan publikasi di media massa. Saya bukan mengatakan bahwa publikasi di media massa itu tidak penting, malah justru sebaliknya. Hanya saja tujuan dan audience-nya lain:

  1. Publikasi Ilmiah itu audiencenya adalah experts dan pelajar untuk bidang ilmu tertentu, sedangkan media massa itu audiencenya adalah publik awam.
  2. Publikasi ilmiah adalah bertujuan utama untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, menyambung estafet keilmuan dari satu progress ke progress yang lebih progress (apasih gue). Media massa bertujuan untuk memberi informasi atau menggulirkan wacana kepada masyarakat luas. Walaupun tentu kadang ada irisan di antara fungsi-fungsi ini antara satu sama lain.
  3. Publikasi ilmiah lebih strict dalam metode ilmiah dalam penulisannya. Bukan berarti tulisan di media massa tidak bisa ilmiah, tapi harus di down-tone supaya ramah dibaca oleh orang awam.
  4. Publikasi ilmiah gaya bahasanya formal, sedangkan di media massa kecenderungannya lebih informal (walaupun tergantung media masing-masing juga. Gaya bahasa di Jakarta Post tentu beda dengan Majalah Bobo atau Kawanku atau Lampu Merah).
  5. Dan lain sebagainya.

Apa manfaat publikasi ilmiah? Ada beberapa manfaat mulai dari yang ideal sampai pragmatis:

  1. Berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan
  2. Bagi yang Muslim, inshaaAllah bisa jadi amal jariyah yang pahalanya tidak putus setelah kematian (inshaaAllah, asalkan ente nulis yang manfaat buat Islam ya hehe)
  3. Kolom “Daftar Publikasi Ilmiah” di Curriculum Vitae sangat sangat sangat membantu dalam pendaftaran studi lanjut dan/atau beasiswa dan/atau kalau mau menjadi akademisi. Serius, kalo kalian sudah punya publikasi ilmiah di CV kalian, itu akan sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat SANGAT jadi bonus ketika daftar S2, S3, dan/atau beasiswa!
  4. Publikasi ilmiah, terutama yang melalui Conference (inshaaAllah nanti dijelaskan), bisa membantu menambah jaringan keilmuan.
  5. Bisa jadi alat modus untuk nempel dengan dosen, dan ini manfaatnya banyak inshaaAllah.
  6. Di beberapa universitas, tanpa publikasi ilmiah nggak bisa lulus.

 

Publikasi ilmiah ini sebenarnya intinya adalah karya ilmiah yang dipublikasikan. Jadi, kunci utamanya ada dua: (1) membuat karya ilmiah, lalu (2) mempublikasikannya. Saya akan focus pada publikasinya, walaupun nanti di bawah ada tips umum + hambatan dan jawaban, isinya campur antara pembuatan karya ilmiah maupun dalam publikasi.

 

Publikasi Karya Ilmiah

Ada beberapa sarana untuk mempublikasikan karya ilmiah kita. Yang ingin saya fokuskan ada dua: jurnal dan paper conference.

Jurnal Ilmiah

Jurnal ilmiah merupakan publikasi ilmiah yang modelnya adalah kumpulan artikel yang diterbitkan dalam satu kompilasi secara periodik dengan tema tertentu. Misalnya, IIUM Law Journal adalah jurnal yang menerbitkan artikel-artikel terkait hukum, dan ia terbit dua kali setahun. Desember lalu, IIUM Law Journal terbit Vol 25(2) dengan berisi 5 artikel. Kadang mungkin kita mendengar orang mengatakan “menulis jurnal”, tapi yang dimaksud adalah “menuliskan artikel untuk sebuah jurnal”.

Sebuah jurnal akan memiliki sebuah tema dan cakupan serta ketentuan penulisan yang informasinya bisa didapatkan di website jurnal tersebut. Prosedur untuk melakukan publikasi di jurnal biasanya adalah sebagai berikut:

Submit naskah (petunjuknya ada di web jurnal masing-masing)

à Pre-Review, dengan umumnya dua kemungkinan: (a) ditolak, atau (b) lanjut ke tahap ‘review’ (sebagian jurnal tidak ada step ini)

à Review, dengan tiga kemungkinan hasil: (a) ditolak, (b) diterima dengan syarat revisi, dan (c) diterima tanpa revisi (proses ini bisa memakan waktu beberapa bulan. Inn Allaaha ma’ash shaabiriin harus benar-benar dipraktekkan di sini!)

à Revisi, tentunya kalau lolos. Dan, jarang sekali yang tidak meminta revisi sama sekali. Manusia itu tidak sempurna. Kalau sampai dibilang tidak perlu revisi, ingat bahwa yang tidak sempurna bukan Cuma penulis melainkan juga reviewernya. Pengelola jurnal akan menyampaikan masukan-masukan dari reviewer kepada kita.

à Compliance check. Hasil revisi kita akan dicek lagi. Kadang oleh pengelola jurnal, kadang dengan Review Round 2 (dikembalikan kepada reviewer). Poinnya adalah apakah kita sudah merevisi dengan baik. FYI, tidak semua masukan reviewer harus kita patuhi kalau memang kita tidak sepakat dengan mereka dan kita punya hujjah. Saya beberapa kali menolak beberapa poin revisi dari reviewer, tapi saya punya alasan kuat (dan saya harus menyampaikan alasan tersebut ketika mengembalikan hasil revisi).

FYI kadang di sini bisa bolak balik naskah kita dari kita ke pengelola bila mereka belum puas. Kalau sampai seperti itu, nikmati saja prosesnya, its okay.

à Processing and Publishing. Ini sudah kerjaan internal pengelola jurnal, kita menunggu saja kalau di tahap ini. Kadang kita diminta menandatangani form, atau membayar biaya publikasi (sebagian jurnal ada biayanya, semua ada di web masing-masing jurnal), silahkan ikuti saja prosesnya.

 

Paper Conference

Paper conference ini biasanya semodel event ilmiah yang bertujuan mengumpulkan akademisi dan peneliti dalam satu forum untuk saling berbagi hasil penelitiannya. Ia biasa memiliki satu tema umum, lalu dibagi menjadi sub-sub tema yang banyak. Misalnya International Conference on Law and Society yang diadakan oleh IIUM dan Universiti Malaysia Sabah, tema umumnya adalah “Integration and Diversity of Approaches in Law, Humanities, and Business Practices”. Lalu sub-temanya banyak seperti Economy, Business and Finance, Politics, Tourism, dan banyak lagi.

Biasanya paper conference dibuka dengan keynote speaker yang pakar di bidangnya, lalu kemudian para peserta yang merupakan ‘paper presenter’ akan dibagi-bagi dalam panel-panel. Dalam panel-panel tersebut, masing-masing paper presenter akan mempresentasikan karya ilmiahnya (dengan ada sesi Tanya jawabnya). Di sini bisa terjadi diskusi antara presenter yang sebidang maupun tidak sebidang untuk mendapatkan feedback atau bahkan potensi kolaborasi riset ke depan atau jaringan kerjasama lainnya.

Output dari sebuah paper conference biasanya adalah sebuah Proceeding, yaitu sebuah buku berisi kompilasi karya ilmiah dari seluruh paper presenter. Para paper presenter bisa saja mempublikasikan ulang papernya itu di jurnal ilmiah, dengan catatan (a) menyesuaikan format papernya dengan ketentuan jurnal yang dituju, (b) memastikan dulu apakah jurnal tersebut mau menerima tulisan yang sudah pernah dipresentasikan dalam paper conference, karena dalam hal ini tidak ada keseragaman praktek, (c) menegaskan dari awal [dalam catatan kaki] bahwa paper tersebut pernah dipresentasikan dalam conference.

Perlu dicatat bahwa ada paper conference yang tidak ada proceedingnya, melainkan papernya diarahkan untuk dipublikasi di jurnal ilmiah.

Berikut prosedurnya:

Submisi Abstrak, petunjuknya ada di web masing-masing.

à seleksi abstrak. Ada kecenderungan bahwa seleksi lolosnya abstrak pada paper conference lebih mudah daripada seleksi paper untuk masuk jurnal. Walaupun tidak selalu demikian, hanya kecenderungan saja.

à Submisi full paper, bila abstrak dinyatakan lolos

à Seleksi full paper. Sepengalaman saya, tidak begitu banyak paper conference yang melakukan seleksi paper. Yang saya temukan biasanya kalau lolos seleksi abstrak berarti ya sudah lolos untuk paper conference tersebut, mungkin Cuma dicek saja jangan sampai ada perbedaan yang signifikan antara abstrak dengan full-papernya. Misalnya, abstraknya waktu seleksi adalah tentang kebidanan. Tiba-tiba waktu submit kok tentang teori relativitas, kan jangan.  (Perlu dicatat bahwa terkadang ada paper conference yang tidak ada seleksi abstrak melainkan langsung seleksi full paper)

à Pelaksanaan paper conference. Di sinilah paper yang lolos akan dipresentasi sebagaimana dijelaskan tadi.

 

Catatan tambahan: umumnya, pembayaran untuk conference dilakukan setelah lolos seleksi. Jadi hanya yang sudah lolos seleksi sajalah yang bayar. Biasanya deadline pembayaran adalah di hari yang sama dengan deadline submisi full paper. Nanti dicek ya rincian pembayarannya, karena student biasanya ada diskon sendiri. lalu kalau kita bayar awal, juga kadang ada diskon lagi. Lalu, kalau kita mahasiswa Indonesia tapi kuliah di Malaysia lalu conference-nya di Malaysia, kita terhitung “local student” dan biasanya bayarnya itu lebih murah daripada “international student”. Kalau ragu, hubungi CP panitia, ceritakan kamu posisinya gimana, nanti mereka akan bantu menginformasikan berapa yang kamu harus bayar (terima kasih untuk Fahri yang menanyakan ini, this is important!).

 

Beberapa Tips Umum 

(inshaaAllah akan ditambah kalau kepikiran lagi)

Tentang Publikasi

Pertama, pilihlah jurnal atau conference yang tidak abal-abal. Indikator yang paling mudah adalah lihat lembaga apa yang menaungi jurnal tersebut atau mengadakan conference tersebut. Jika universitas, maka inshaaAllah bukan abal-abal. Bisa juga pusat studi, lembaga pemerintah, asosiasi profesi, dll, yang sudah terkenal kredibilitas dan kiprahnya. Kalau penyelenggara conference atau pengelola jurnalnya adalah organisasi (non-universitas) yang namanya adalah singkatan singkatan yang tidak jelas, itu kemungkinan indikator conference abal-abal. Tidak pasti sih, tapi banyak yang demikian.

Selain itu, lembaga pengindeks juga menjadi tambahan yang sunnah mu’akkad (atau dalam sebagian konteks, fardhu ‘ain). Lembaga pengindeks itu semacam lembaga peng-akreditasi lah. Mereka akan mengindeks sebuah jurnal atau conference dengan syarat-syarat tertentu: ada yang syaratnya gampang, ada yang menengah, ada yang sulit. Biasanya, semakin sulit syaratnya maka makin kredibel lembaga indeksnya dan juga jurnal yang terindeks di lembaga tersebut. Yang terkenal sebagai lembaga indeks yang kredibilitasnya tinggi adalah antara lain SCOPUS dan Thomson Reuters. Yang agak menengah misalnya Directory of Open Access Journals. Yang bawah misalnya adalah Google Scholar.

Untuk mengeceknya bisa tiga cara: (a) cek website jurnal atau conference, kalau dia terindeks pada sebuah lembaga maka biasanya akan disebut di websitenya. Kalau ndak ada, atau sulit ketemu, boleh pake cara b atau email saja pengelola jurnal/conferencenya. (b) cek website lembaga indeksnya, dan cari jurnal apa saja yang terindeks di sana. (c) Tanya teman, tapi mereka pun biasanya akan pake cara a-b. Dan, ayolah, usaha dikit hehe

Kedua, untuk conference, beware of deadlines! Di sana biasa ada deadline submisi abstrak dan submisi full paper, jangan sampai kelupaan dan terlewat!

Ketiga, ketika conference, buatlah jaringan! Jangan keasikan main sendiri dengan teman-teman sendiri ya. Kenalanlah dengan peserta lain. Kamu akan ketemu bukan hanya sesame pelajar, melainkan juga professor-professor dan peneliti-peneliti yang beken!

Keempat, olahlah paper-paper kuliah atau bahkan thesis/disertasi jadi publikasi! Di satu sisi, jadi ndak perlu kerja dobel kan. Mungkin hanya perlu menyesuaikan format saja, atau revisi revisi dan permak permak supaya lebih bagus. Di sisi lain, paper tugas kuliah adalah buah intelektual kita. Tentu sayang kalau hanya mangkrak di meja dosen dan folder laptop kita.

Saat saya kuliah S2, saya total mengambil 4 mata kuliah + menulis disertasi. Alhamdulillah, saya berhasil mempublikasikan tugas-tugas kuliah saya plus disertasi di lima jurnal ilmiah (salah satunya akan terbit di bulan April 2018 ini inshaaAllah). Bisa kok!

Jangan takut karena tugasnya jelek atau semi-ngasal karena kejar deadline. Biasa kok itu hehe.. Makanya, bagus mendisiplinkan diri kita supaya tugas-tugas kita bisa lebih baik. Selain itu, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bisa kita permak permak setelah tugasnya disubmit. Bisa juga minta masukan dari dosen atau senior.

Kelima, ajaklah senior atau dosen untuk menulis bersama! Kenali dosen-dosen atau senior mana yang kira-kira asik untuk diajak kerjasama, dan bidangnya cocok dengan apa yang kamu kepingin coba menulis. Mereka inshaaAllah bisa membantu membimbingmu, dan kelak bisa jadi bonus jika kamu memerlukan surat rekomendasi lho!

Keenam, hindari -kalau bisa- transfer internasional! Untuk conference atau jurnal berbayar yang ada di negara lain, hati-hati kalau transfer internasional biasanya kena biaya tambahan kalau dari bank. Ini bisa disiasati dengan menghubungi PPI setempat, dan minta bantuan untuk dibayarkan oleh mereka, lalu kita bayar ke anak PPI tersebut ke rekening Indonesia. Lumayan, hemat biaya transfer! Bisa sampai US$ 25 toh?

 

Tentang Karya Ilmiah

Pertama, jangan berorientasi “mau menulis tentang apa” (contoh: saya pengen nulis tentang Islamisasi Ilmu). Arahkanlah dirimu untuk berorientasi “masalah apa yang ingin saya cari penyelesaiannya”. Baik itu dalam soalan praktis (contoh: Bagaimana pemerintah harus menyikapi trend otomatisasi dan digitalisasi supaya tidak meningkatkan pengangguran? Dan lain sebagainya) maupun teoritis (contoh: bagaimanakah cara menyusun konsep Hak Asasi Manusia yang berbasis Islamic World View?).

Dengan demikian, inshaaAllah lebih jelas desain dan arah penelitiannya.

Kedua, judul dipikir belakangan. Inti dari sebuah judul adalah untuk memberi tahu orang lain intinya masalah apa yang kamu bahas. Jadi yang pertama harus dipikir adalah mau bahas masalah apa toh? Rumuskan dulu masalahnya, nanti judul itu diambil dari situ (boleh dipercantik tapi please jangan alay).

Ketiga, ingatlah bahwa sebuah karya ilmiah itu harus sinkron dari awal sampai akhir sebagai satu tubuh. Dari perumusan masalah, kesimpulannya ya jawaban dari rumusan masalah tersebut. Bab-bab isi adalah bagaimana menjawab perumusan masalah sehingga mendapatkan kesimpulan. Jadi setiap kamu memasukkan sesuatu ke dalam isi, ask yourself: apakah hal ini membantuku menjawab rumusan masalah? Kalau tidak, artinya ya tidak membantu.

Keempat, lakukanlah literature review untuk mengidentifikasi ‘gap of literature’. Ini kita bicara originalitas dan menghindari redundancy (kesia-siaan). Bisa jadi ada orang lain yang sudah berbicara tentang masalah yang sudah kita bahas, tapi ada perpektif dari masalah tersebut yang tidak ia bahas. Atau, ia salah (menurut kita). Atau, masalahnya agak berbeda dengan punya kita tapi solusi yang ia ajukan bisa kita manfaatkan untuk masalah yang akan kita kaji.

Misalnya, pada disertasi saya yang membahas taktik dan persenjataan perang modern dari perspektif fiqih jihad. Bagaimana hukumnya menggunakan bom (tapi bukan yang pemusnah masal)? Semua karya ulama jihad kontemporer sudah membahas hukumnya. Sebagian membolehkan mutlak, sebagian membolehkan bersyarat (misal: lawan pake duluan, atau hanya pada perang defensif saja), sebagian melarang. Kalau di hukum internasional, pembahasan tidak berhenti pada boleh/tidaknya, tapi pada “boleh asalkan…” yaitu “harus berhati-hati untuk menghindari korban sipil” dan ada rincian SoP untuk tujuan tersebut. Nah, hal ini absen dari pembahasan para ulama jihad tersebut. Apakah luput, atau memang tidak penting? Inilah yang jadi kajian saya.

Tapi poinnya, kita terhadap suatu masalah kita harus mencari tahu lalu mengidentifikasi dua hal: (A) apa yang sudah diteliti tentang masalah ini, dan (B) apa yang belum diteliti tentang masalah ini. Dan yang (B) itulah yang harus kita isi, tapi kan kita tidak bisa mengetahuinya tanpa sebelumnya mencari tahu dengan literature review.

Kelima, kreatif dalam mencari literature review. Ketika mencari literature tentang masalah yang mau kita teliti, kita harus pintar dan kreatif dalam memilih kata kunci yang kita input di Google Scholar atau search engine lainnya. Salah satu kunci awal adalah mengetahui masalah yang kita cari adalah jatuh dalam tema ilmu apa, sub tema apa, dan lain sebagainya. Ini mungkin masih membingungkan, bagusnya ada contoh ya?

Ada sebuah Peraturan Mahkamah Agung yang keluar tahun 2016 tentang korporasi dan pidana korupsi (thanks Hamka atas koreksi typo fatal haha). Lalu masalah yang ingin diteliti adalah ingin melihat apakah cocok antara isi PERMA tersebut dibandingkan konteks historisnya. Jangan saerch dengan kata kunci “konteks historis PERMA No. 1 tahun 2016” (angkanya ngasal ini btw, contoh saja). Bisa jadi dapat, tapi belum tentu. Cobalah kata kunci “korupsi korporasi” lalu Google Scholar disetting untuk menampilkan results tahun 2016 atau yang lebih baru. Nah, di sana bisa dapat. Ini susah saya menjelaskannya, tapi ya harus kreatif dan berawal dari coba coba lalu jadi pengalaman.

Keenam, banyak membaca dan belajar dari jurnal-jurnal ilmiah. Ketika membaca jurnal ilmiah, ada baiknya kita bukan hanya mempelajari substansinya. Amati juga gaya penulisan, konstruksi dan flow dari argument dan penalarannya dan lain sebagainya.

Kelima, kenalilah Begawan-begawan keilmuan anda. Kalau belajar psikologi Islam tapi tidak kenal Prof Malik Badri, atau belajar Islamisasi ilmu tapi tidak tahu Naquib Al-Attas, atau belajar hukum tapi tidak tahu John Austin, berarti ada yang salah dengan anda. Hehe. Setiap bidang ilmu (bukan hanya bidang umum melainkan bidang-bidang yang sangat sub spesifik) pasti punya Begawan-begawannya. Cara mengenali mereka adalah: (a) kuliah yang betul, pasti nama-namanya sering disebut, dan (b) banyak-banyak baca jurnal, lalu lihat pendapat-pendapat siapa yang sering dikutip. Nah, cari tuh karya-karya mereka.

Keenam, dokumentasikan poin-poin menarik dalam bacaan anda! (Kudos to Siti Kholifatul Rizkiah for this tip!!). Ketika anda sedang baca-baca literatur, bukalah microsoft word untuk standby. lalu ketemu poin menarik, langsung (a) kopas poin tsb di microsoft word tadi, (b) tulis pula dari mana anda dapatkan poin tsb: nama penulis, judul artikel/buku, (jika artikel jurnal, nama artikel dan nama jurnal keduanya tulis), lalu halamannya. Nanti akan berguna inshaaAllah daripada cari cari laginya susah “tadi poin bagus tapi lupa baca di mana).

Tips ini bisa dikombinasikan misalnya untuk tema tertentu dipisah supaya efisien dlsb.

 

Beberapa Hambatan Beserta Jawabannya

(inshaaAllah akan ditambah kalau ada lagi, monggo saya dijapri atau komentar di post ini kalau ada hambatan-hambatan lain)

Hambatan 1: Saya nggak tau mau nulis tentang apa.

Jawaban baik: coba dibuka-buka kembali catatan-catatan di kelas dan pelajaran-pelajaran. Juga coba lihat kejadian-kejadian di sekitar kita, nasional atau internasional, pasti ketemu banyak masalah yang perlu diselesaikan. Nanti inshaaAllah masalahnya berubah dari “nggak tau mau nulis tentang apa” jadi “bingung pilih yang mana”. Nanti pilih berdasarkan mana yang paling minat, paling realistis untuk diteliti, dan shalat istikharah bagi yang Muslim.

Jawaban jahat: ente kuliah niat ga sih, atau nyimeng doang di kelas? Kalo ente udah kuliah dan nggak bisa nemu masalah di bidang ente yang perlu dicari jawabannya, ga guna ente kuliah.

 

Hambatan 2: Saya belum pernah bikin karya ilmiah

Ketika Prof Mahfud MD ditunjuk jadi Menko Polkam (ktsi) oleh Gus Dur, beliau protes. Katanya (bil ma’na) “saya belum pernah ada pengalaman untuk ini.” Lalu dijawab oleh Gus Dur (bil ma’na juga) “saya pun belum pernah pengalaman jadi Presiden.”

Kalau belum pernah, ya buatlah langkah supaya jadi pernah. Kalau masih ragu, mintalah bimbingan dari yang sudah berpengalaman. InshaaAllah akan sangat bermanfaat.

Ingat nasehat yang penting ini, 3KTM : “Kalau ‘impossible’, berarti kamu nggak butuh. Kalau memang butuh, ‘sulit’ itu harus diterjang. Kalau nggak butuh, ‘mudah’ pun ngapain juga dikerjakan?”

 

Hambatan 3: Saya Takut Tulisan Saya Jelek

Apalagi jika belum pernah menulis ilmiah sebelumnya (atau mungkin sebatas tugas kelas saja), jangan pernah takut tulisanmu jelek. Kenapa? Karena kemungkinan besar memang jelek. Ya gimana kalau memang belum punya skill? Itu bukan hal yang buruk.

Mau sebagus atau sejelek apapun tulisan kita, di titik manapun dalam pengalaman kita kelak, pasti ada orang lain yang lebih jelek dan lebih bagus. Yang penting adalah bagaimana kita berusaha untuk selalu lebih baik dari sebelumnya. Kalau kita coba publikasi tulisan yang jelek (misalnya dicoba kirim ke jurnal), palingan ya ditolak. Nothing bad will happen to you inshaaAllah. Dan,justru, akan dikasih tahu apa yang kurang di tulisan kita jadi bisa memperbaiki. Kalau tulisan kita bagus, nggak mungkin sempurna juga kok. Hampir pasti akan disuruh perbaiki juga, dengan dikasih tau poin-poin apa yang harus kita revisi.

Tinggal kita yang harus bisa menerima kritik dari orang lain, khususnya ketika kadang-kadang kritik dari orang lain itu pahit. Dengan demikian, sesungguhnya kita tidak akan rugi. Pasti ada perbaikan yang harus dilakukan. Mari kita mulai berorientasi proses dan progress!

 

Hambatan 4: Bahasa Inggris Saya Jelek

Pertama, tidak semua sarana publikasi adalah berbahasa Inggris. Ada juga jurnal-jurnal dengan bahasa lokal, misalnya di Indonesia ya banyak jurnal berbahasa Indonesia. Ada juga jurnal yang punya kebijakan multi bahasa, misalnya Jurnal Mimbar Hukum (Fakultas Hukum UGM) kebijakannya adalah setiap edisi 50-50 bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Kedua, bisa juga menggunakan jasa terjemahan.

Tapi, ketiga, belajarlah. Tidak harus bahasa Inggris, tapi ya disesuaikan dengan kebutuhan saja. Misalnya bagi yang bidangnya Ilmu Diniyah, bahasa Arab juga oke karena ada juga jurnal yang berbahasa Arab. Pentingnya belajar dan menguasai bahasa asing ini membantu membuka cakrawala keilmuan lho. Jika kita tidak menguasai bahasa asing, maka akan ada sekian banyak literature yang jadinya tidak bisa kita akses.

 

Hambatan 5: Mahal

Biaya itu sulit memang. Conference pasti punya biaya registrasi yang lumayan. Biasanya untuk student ada diskon, tapi ditambah dengan biaya transport dan akomodasi dll untuk pergi ke conference tersebut ya lumayan mahal. Jurnal pun terkadang ada biaya publikasi yang tidak sedikit (sebagian jurnal gratis sih).

Kadang kita bisa mencari sponsor, baik parsial maupun seluruhnya. Misalnya di IIUM untuk mahasiswa S2 dan S3 bisa minta dana RM 500/conference (tapi dijatah 1x saja selama masa studi). Atau, bisa coba diajukan ke kampus masing-masing sebagai ‘kegiatan kemahasiswaan’. Kalau untuk jurnal, ya, gimana ya, agak susah sih.

Memang ini perlu mempertimbangkan situasi masing-masing. Barangkali ada dua konteks dalam mengatakan ‘mahal’ ini. Ada yang memang tidak mampu, dan ini termasuk mereka yang mungkin memiliki dana yang cukup tapi biaya conference/jurnal fee jika dibayarkan maka akan merusak kebutuhan-kebutuhan pribadi lain yang lebih primer atau urgent. Mohon maaf saya tidak punya jawaban untuk masalah ini.

Tapi kalau ‘mahal’ ini konteksnya adalah sebenarnya punya dana yang cukup untuk membiayainya tanpa membahayakan terpenuhinya kebutuhan lain yang lebih primer atau urgent, tapi ini bukan prioritas, ya itu monggo saja prioritas masing-masing saja.

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
22 × 13 =