Macam-Macam Jawaban Mahasiswa (Illustrated)

Selama beberapa tahun saya mengajar, ada beberapa spesies jawaban mahasiswa yang biasa saya temukan. Berikut adalah beberapa jenis yang paling sering saya temukan. Kalau ada, saya foto contoh-contohnya, inshaaAllah anonymous.

PS: Kalau kalian ada yang saya kutip jawabannya, moga jangan tersinggung ya bukan bermaksud menghina kok :3

.

Jenis Pertama: Mahasiswa Teladan

Mahasiswa yang ini menjawab pertanyaan sesuai dengan yang diminta, tanpa bertele-tele, dan akurat. Yang begini yang saya suka

(Contoh jawaban yang bukan hanya singkat dan padat, tapi lengkap)

Dosen paling senang kalau bisa kasih nilai seperti ini <3

.

Jenis Kedua: Mahasiswa Typo Fatal

Apalagi kalau ujian bersifat online, seringkali terjadi typo (salah ketik). Biasanya typo ini kecil saja, misalnya “Inodnesia”. Tapi kadang fatal dan bikin garuk kepala.

Jadi masalah kesulitan pengakuan dalam hukum internasional adalah karena tidak adanya kekuatan ghaib.

Tentu kita sama-sama tidak menyetujui kelompok teroris ISIS. Tapi, apakah perlu kita menyebut mereka dengan anggota tubuh ‘itu’ di lembar jawaban?

(however, it is true that they are such an a**!)

.

Jenis Ketiga: Mahasiswa ‘Zaman Now’

Mahasiswa yang ini kesulitan membedakan antara ngobrol dengan kawan sebaya dengan menulis ujian ilmiah.

(ternyata jidat itu enak)

Dan kadang, ya, mahasiswa memilih teori bukan hanya karena keunggulan atau keakuratan teori tersebut, tapi juga karena:

Cuma ‘doang’, nggak pake ‘banget’?

.

Jenis Keempat: Mahasiswa Ekspresif

Mahasiswa yang ini merasa tidak cukup mengekspresikan jawabannya dengan tulisan, melainkan harus menggambar juga.

(yang tinta merah itu dosennya ga tahan ikut-ikutan gambar)

.

Jenis Kelima: Mahasiswa “Mujtahid

Mahasiswa jenis ini dapat menciptakan ilmu baru yang tidak pernah diajarkan di kelas, atau bahkan di manapun.

.

Ilustrasi yang tidak verbatim, tapi nyata pernah terjadi:

Soal: Jelaskan perbedaan antara teori deklaratif dan konstitutif terkait fungsi pengakuan sebagai syarat berdirinya suatu negara!

Jawaban Mahasiswa Mujtahid: Teori konstitutif maksudnya pengakuan berada di konstitusi negara tersebut, sedangkan teori deklaratif maksudnya negara mendeklarasikan pengakuannya.

Catatan Pak Dosen: tidak satu pun bagian dari jawaban di atas benar.

.

Jenis Keenam: Mahasiswa ‘Paling Teliti’

Mahasiswa ini biasanya sering luput pada salah satu kunci penting pada soal. Misalnya kata “kecuali” tidak terbaca.

(ini betul-betul pernah terjadi!)

.

Jenis Ketujuh: Mahasiswa Pengantar

Mahasiswa ini akan menghabiskan banyak waktu dan kata untuk menjelaskan latar-belakang dari jawabannya dengan panjang sekali, sampai terkadang ujung-ujungnya …. mana ya kesimpulannya?

Jadi… Intinya dapat atau tidak dapat ya?

.

Jenis Kedelapan: Mahasiswa Pemohon Ampunan

Mahasiswa tipe seperti ini seringkali menuliskan ‘surat cinta’ untuk dosennya.

.

Ilustrasi yang tidak verbatim, tapi nyata pernah terjadi:

Soal: Berdasarkan kasus di atas, berikanlah argument-argumen untuk mendukung negara A!

Jawaban Mahasiswa Pemohon Ampun: Mohon maaf mas saya tidak bisa menjawabnya. Tapi saya mahasiswa semester 12, sudah mengulang mata kuliah ini beberapa kali tapi masih belum lulus juga. Mohon kebijaksanaannya mas, karena saya betul-betul sudah mentok

.

Jenis Kesembilan: Mahasiswa Mengutip Dosennya

“Jawaban saya benar, karena bapak sendiri yang bilang begitu”

Makasi sudah baca blog saya dan mengutip pendapat saya.. sayangya saya tidak menerima rujukan dari blog ya maap :3

.

Jenis Kesepuluh: Apa isi otak anda?

Jawaban salah satu mahasiswa

silahkan ditafsirkan sendiri

.

Jenis Kesebelas: Mahasiswa Peng-Empus

Silahkan anda nilai sendiri ya:

Ini saya benar-benar berjihad untuk melawan hawa nafsu untuk memberi nilai bonus sekedar karena mPusnya, tapi nanti kena kemplang sama boss.

.

Jenis Keduabelas: Lost In Translation

Hati-hati kalau menerjemahkan bahasa Inggris ke Indonesia, atau sebaliknya Indonesia ke Inggris.

Memang betul dalam hukum internasional dikenal “monisme PRIMAT hukum nasional” dan “monisme PRIMAT hukum internasional”. Tapi tidak bisa diterjemahkan sebagai “primate” ya. 

Science Daily mendefinisikan “Primate” sebagai: A primate is any member of the biological order Primates, the group that contains all the species commonly related to the lemurs, monkeys, and apes, with the latter category including humans.

.

Kemudian, asas “rebus sic stantibus” adalah salah satu pengecualian dari asas “pacta sunt servanda”. Asas ini berbahasa Latin, bukan Indonesia. Maka jangan diterjemahkan jadi seperti ini ya:

.

Jenis Ketigabelas: Mahasiswa Peminta Maaf

Saya heran, kalau mahasiswa menjawab di kelas itu sering sekali memulai dengan “Mohon maaf kalau jawaban saya salah, tapi menurut saya…” padahal jawabannya seringkali betul. Sedangkan kalau ujian, yang jawabannya ngawur malah jarang ada yang minta maaf sebelum menjawab. 

Tapi sesekali ada mahasiswa yang meminta maaf atas kekurangannya. 

Tentu kita maafkan, tapi bukan melupakan. 

#WargaSleman

Nilai tetap objektif.

.

BONUS BONUS

Ini bukan jawaban ujian, tapi percakapan via WhatsApp dengan Mahasiswa pasca ujian

 

ini kata dasarnya ketek (-an) atau (ke-) tekan ya? :v

.

Juga bukan jawaban ujian, tapi ini baru banget kejadian, ketika typo autocorrect bisa menjerumuskan:

Katanya sih typo (atau autocorrect?) maksudnya ‘SIAP’, tapi kalaupun ternyata ‘written Freudian slip’ pun bisa saya maklumi hahaha

.

Juga bukan insiden ujian, tapi sebuah peristiwa bersejarah yang terjadi saat sedang kuliah online.

Sebenarnya insiden tersebut sangat mengharukan, dan bahkan berpotensi menginspirasi insiden-insiden yang berpotensi lebih brutal tapi juga lebih mengharukan:

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *