Category Archives: Islamic Teachings and Virtues

ASAL MENGKAFIRKAN VS ASAL MENUDUH ASAL MENGKAFIRKAN

 

Selama beberapa tahun ini saya mencoba mengamati di sekeliling saya, khususnya tentang fenomena takfir. Tidak sedikit yang pernah menyebut kafir pihak lain, dan tidak sedikit pula yang merespon dengan ‘jangan asal mengkafirkan’. Saya penasaran, siapa sih yang sebenarnya ngasal di sini?

read more »

The Student Who Got The “Highest Grades” for the HONESTY Exam!

University students are known to demand the integrity of others, be it that of their government, university, or their own student bodies. One question: can students themselves show integrity? Most especially in moments when honesty will give very realistic detriments, while at the same time dishonesty will not be caught. Can they?

The answer is: YES. Check out the story of one of my best students.

read more »

MASALAH ISLAM-SYIAH: MENJAWAB BEBERAPA KESALAHPAHAMAN

 

Daripada kita asal bunyi soal Syiah, bukankah kita lebih baik bertabayyun langsung pada Syiah? Yuk mari. Dalam post kali ini, inshaaAllah saya akan memaparkan beberapa kesalahpahaman soal Syiah Rafidhoh. Ini dikarenakan banyak sekali beredar informasi yang keliru di masyarakat, dan semuanya hanya mengandalkan “katanya katanya”. Tulisan kali ini akan menjawab dari sumber kitab-kitab Syiah sendiri sebagai bukti.

read more »

KARENA TUHAN TIDAK PERLU DIBELA

 

ANTARA FOTO/POOL/Irwan Rismawan/kye/17.

Tiga Kisah

Kisah pertama tentang seorang guru sekaligus kolega saya, seorang akademisi hukum yang sangat saya hormati dan kagumi keilmuannya. Suatu kali beliau menjadi pembimbing Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan saya tahu betul betapa beliau adalah seseorang yang sangat menyayangi murid-muridnya. Kali itu, salah seorang mahasiswi di bawah bimbingan beliau sedang mandi. Anak ini dibuat pingsan oleh seseorang, dan hanya si pelaku dan Allah saja yang tahu apa yang terjadi saat anak ini pingsan. Saat pelaku tersebut tertangkap, guru saya ini tidak menyia-nyiakan waktu untuk mendaratkan bogem mentah padanya, sejenak lupa atau melupakan apa kata ilmu hukum tentang eigenreichting.

Padahal, bogem tersebut tidak akan kembali kehormatan yang hilang. Trauma dan luka yang mungkin bisa sembuh pun, bukan akibat bogem itu. Apa manfaatnya bogem ini?

read more »

Why Do Bad Things Happen to Good People?

 

 

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

 

Introduction

Why do bad things happen to good people? This is a question asked by many people, often by those who question the existence of Allah. If He exists, they assume, of course He would prevent bad things, right? Or some even go as far as saying that if He exists and lets bad things happen, then He is EVIL. Astaghfirullah!

read more »

Fatwa MUI Tidak Salah: Menanggapi Tulisan Pak Rizal (Plus Bonus Di Akhir)

 

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim,

 

Tulisan ini dibuat sebagai tanggapan terhadap tulisan milik Bapak Rizal Panggabean, seorang rekan sejawat dari Fakultas ISIPOL UGM yang jauh lebih senior daripada saya. Kami rasanya belum pernah ketemu, tapi reputasi beliau sebagai akademisi yang luar biasa top sudah sampai ke saya bahkan sejak saya masih mahasiswa dulu. Kali ini beliau menulis sesuatu yang menarik soal fatwa MUI, yaitu “Fatwa MUI Yang Salah dan Tidak Perlu” (baiknya link tersebut dibaca dulu sebelum lanjut membaca tulisan ini).

Ada beberapa poin yang membuat saya tergelitik.

Pertama adalah apa yang barangkali merupakan perbedaan persepsi tentang “kapan Islam mulai ada”. Persepsi beliau adalah Islam dimulai dari Rasulullah s.a.w., maka dari itu apapun yang serupa dengan peradaban lain berarti adalah semacam ‘transplantasi’. Pemahaman saya adalah Islam diturunkan kepada dan didakwahkan oleh semua Nabi mulai dari Adam a.s., Ibrahim a.s., Musa a.s., dan Isa a.s. lalu kemudian disempurnakan oleh Rasulullah Muhammad bin Abdillah s.a.w. antara lain dengan Karena itu, jika menyetujui bahwa Islam baru dimulai dari Rasulullah s.a.w., ritual haji yang diawali dari Nabi Ibrahim a.s. tentu adalah “diambil dari praktik sebelum Islam”. Sedangkan jika setuju bahwa semua Nabi adalah dari Islam, maka tentu kita mafhum bahwa semua rangkaian haji adalah dari Islam.

Kedua adalah mungkin asumsi bahwa keserupaan satu dengan lainnya adalah berarti mengadopsi dari satu ke yang lainnya. Pandangan saya adalah belum tentu. Misalnya sumber hukum Islam utama yaitu Al Qur’an dan Sunnah sebagai primer dan ijtihad ulama sebagai sekunder (termasuk ijma dan qiyaas) adalah diambil dari Kaisar Justin (Nasrani) yang mengambil dari Yahudi. Agak sulit membayangkan bahwa Rasulullah s.a.w. belajar dari kitab-kitab Yahudi dan Nasrani, mengingat beliau adalah seorang ummi dan tidak ada riwayat yang menunjukkan beliau belajar dari mereka. Kemudian, posisi Qur’an dan Sunnah sebagai sumber hukum primer di atas ijtihad adalah berdasarkan Surah An Nisa ayat 59 yang merupakan firman Allah SWT, sehingga jadi muncul pertanyaan bagi saya: apakah maksudnya adalah Allah mencontek dari Yahudi atau Nasrani? Ataukah, sebagaimana paragraph sebelumnya, bisa jadi memang ini adalah salah satu ajaran kerangka hukum dari Allah yang diturunkan kepada Musa a.s.?

Barangkali butuh pengkajian khusus untuk sumber hukum ini, karena sejujurnya penarikan kesimpulan yang dibuat oleh B. Jokisch sebagaimana dikutip oleh Robert G. Hoyland ini menimbulkan banyak pertanyan. Salah satunya adalah analogi sunnah dengan mores et consuetudinis (hukum kebiasaan). Memang ada yang mengartikan sunnah dengan tradition, tetapi maksud dari tradition dalam konteks sunnah tidak sama dengan tradition dalam konteks hukum kebiasaan. Sunnah ini adalah apa yang dikatakan, dilakukan, atau dibenarkan oleh Rasulullah s.a.w., sedangkan hukum kebiasaan ini adalah apa yang oleh masyarakat dianggap sebagai hukum melalui kebiasaan praktek di masyarakat itu.

Belum lagi bahwa Sunnah bukanlah berposisi di bawah Al Qur’an dengan cara yang sama seperti hubungan scripti leges terhadap mores et consuetudinis. Al Qur’an dan Sunnah saling menjelaskan dan dapat saling takshish-‘aam dan (menurut sebagian ulama) nasikh-mansukh dan lain sebagainya. Asumsi dasarnya adalah bahwa Rasulullah s.a.w. adalah ma’sum. Beda dengan hubungan hierarkial yang mana lex specialis derogat legi generalis serta lex posteriori derogat legi apriori (bahasa latin untuk takshish-‘aam dan nasikh-mansukh) tidak bisa dilakukan oleh sebuah lex inferiori kepada lex superiori. Banyak lagi yang bisa dikaji lebih lanjut.

Ketiga, mungkin ini yang menggelitik saya sebagai orang hukum yaitu bahwa ketika sebuah fatwa adalah setara dengan legal opinion, justru tidak ada sama sekali dalil hukum MUI yang dibahas dalam tulisan ini. Yang ada justru adalah praktek praktek masyarakat atau kerajaan Islam yang disoroti lalu disimpulkan sebagai “inilah Islam”. Jika memang demikian mari kita ambil juga praktek yang dilakukan oleh the Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) sebagai sumber, karena klaimnya sebagai Khilafah Umat Islam dan berlandaskan Islam. Tapi, ketika itu saya usulkan, tentu segala kalangan mulai dari liberal sampai konservatif akan berkata “mereka tidak sejalan dengan ajaran Islam!”. Lantas kenapa kadang kita melihat praktek masyarakat Islam dan mengesampingkan dalil, dan kadang kita mengesampingkan praktek masyarakat Islam karena dalil?

Ukuran kebenaran dalam Islam bukan apa yang kebetulan dipraktekkan oleh masyarakat Islam, melainkan oleh dalil. Fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia ini sudah rinci sekali dalil dalil hukumnya dari Al Qur’an dan Sunnah serta menghadirkan juga kaidah kaidah fiqih serta qaul ulama. Barangkali di sinilah tempat terbaik untuk memulai jika ingin mengatakan bahwa Fatwa MUI adalah salah, dan kalau dalilnya belum ditebang ya fatwa-nya masih bertahan. Rasanya tidak perlu saya jabarkan, karena linknya sudah ada di atas. Justru bisa saya tambah lagi tentang kewajiban menyelisihi umat agama lain dalam hal peribadatan, yaitu hadits riwayat Abdullah ibn Umar dalam Sahih Bukhari terkait sejarah adzan. Menggunakan lonceng dan terompet dilarang karena menyerupai Nasrani dan Yahudi.

Memang soal pluralitas ini sangat popular di Indonesia. Beranekaragam suku, agama, ras, campur jadi satu. Betapa manisnya ketika ada aksi-aksi sosial lintas batas suku agama dan ras. Tapi selayaknya hampir semua hal di muka bumi ini, tidak ada yang tidak memiliki batasan. Tidak ada larangan berbuat baik dan adil kepada umat agama lain, sebagaimana dalam firman Allah di Al Mumtahanah ayat 8, dan banyak sekali dalil lain tentang hal ini. Akan tetapi, sesuai yang difatwakan oleh MUI, batasnya adalah bahwa tidak boleh menyerupai umat agama lain dalam perkara ritual keagamaan. Sedangkan untuk hal-hal yang bersifat muamalah jelas tidak ada masalah, secara ‘hukum asal’ semuanya boleh sampai dengan ditemukannya dalil yang melarangnya.

Setiap hukum punya batasan masing-masing, dan ini termasuk norma sosial yang juga memiliki batasan-batasan tertentu. Inilah batasan dalam Islam yang difatwakan oleh MUI yang bukan ‘mewakili umat Islam Indonesia’ selayaknya ‘DPR mewakili aspirasi rakyat Indonesia’ melainkan merupakan ahli ahli fiqih yang mengeluarkan fatwa berdasarkan dalil-dalil yang baik. InshaaAllah fatwa ini tidak salah.

 

AL BONUS AL TAMBAHAN

Pertama, saya sudah pernah membuat dua tulisan tentang ucapan selamat natal dalam kaitannya dengan toleransi, silahkan lihat Pesan Damai dan Toleransi Jelang Natal dan juga Ucapan Selamat Natal: Sebuah Sanggahan.

Kedua, salah satu sahabat saya Syaikh Khairul Amin Al Mualimini Al Buruuj Al Trenggiling (mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga) juga memberikan tanggapan tapi ybs masih sok sibuk jadi saya kopaskan saja di sini:

Simbol memang masalah yang cukup pelik. Sy melihat falacy yang dibangun oleh penulis. Setidaknya menurut pandangan saya.

1. Ad beberapa Watak Islam sebagai diin. Prof Din Syamsuddin menyebutkan beberapa, Diantaranya Din Al tauhid, Din Al adalah, Din Al rahmah, Din Al hadharah. Saya melihat penulis berangkat dari basis watak Islam sebagai din Al rahmah semata. Produk pemahaman nya snagat tidak holistik akhirnya.

2. Dalam kajian studi agama, dikenal doktrin dan dogma kebenaran, dan merupakan konsekuensi untuk meyakininya adalah kebenaran. Yang menarik adalah mencoba melihat identitas hanya sebagai ritus peralihan saja. Sebagai sekedar simbol identitas. Padahal pemilihan terhadap sesuatu simbol atau atribut sarat dengan nilai. Dan ia tak melihat proses islamisasi yang terkandung di dalamny purifikasi.

3. Ungkapan, : tetapi MUI dapat mengeluarkan hikmah agar mencintai sesama menunjukkan posisinya dan bagaimana org ini melihat MUI. Fatwa yang tak perlu dan salah adalah hasil produk pemikiran dari posisi ini. Posisi MUI sebagai otoritas diragukan, snagat kental nuansa posmo nya.

4. Istilah humanisme islam menjadi titik kontroversi. Bagaimana humanisme ala Islam. The human as measure all things ala Islam. Rancu bagi saya. Padahal watak dasar Islam adalah humanis-religius itu sejalan.

6. Ungkapan : “iman Islam tdk seremeh itu” adalah diantara yang paling menarik. Logika ini dipakai oleh beberapa pemikir Islam kontemporer dalam Amatan saya. keyakinan teologis ini, seakan akan sangat memperlihatkan ghirah keislaman dan memperlihatkan defense terhadap serangan keimanan islam. Namun pada hakikatnya bangunan ungkapan ini rapuh sekali. Seakan terdapat nilai kesombongan. Para ulama dahulu saja bersyahadat berkali2 mengulang zikir dan tahlil. Dalam kajian aqidah, ulama sepakat iman itu Yazid dan yanqus. Ini tdk bisa diksempingkan. Saya melihat penulis kurang memperhatikan hal itu (konsep iman Yazid wa yanqus).

7. Apakah tegas itu tdk toleran? Dalam suatu kesempatan di seminar, saya melihat dua tokoh agama yang luarbiasa. pertama prof ust Yunahar Ilyas yg kedua prof Romo Franz Magnis Suseno. Keduanya sepakat dan sama sama menyatakan bahwa kebenaran fundamental dalam agama harus ditegaskan. Agama harus punya truth claim dan mempertegasnya. Konsekuensiny, kalau atribut agama adalah bagian dari khazanah agama yg sarat nilai, maka harus dipertegas. Dan ini yg sedang dilakukan oleh MUI saya kira. Lanjut beliau berdua, justru toleran itu mempertegas rambu antara kedua agama ini, dan saling menghargai rambu2 itu. Toh, kekuatan fatwa otoritas agama mengikat pemeluk agama tertentu saja.

8. Dan yang terakhir kalau Hans Kung bilang tiada perdamaian dunia tanpa perdamaian agama2, maka berasumsi bagaimana perdamaian agama2 dapat terjadi kalau internal agama saja konflik.😅😅. Fakta lapangan menyatakan bahwa ngasih kue ke orang lain seakan lebih baik dari ke saudara sendiri. Padahal idealnya kasih saudara dahulu, baru deh kasih yang lain.

9. Akhirnya saya hanya ingin mengatakan bahwa fatwa MUI perlu dan nggak salah kok. Yang salah adalah terlalu sombong untuk mengatakan iman kita kuat. Islam itu kuat, tapi iman pemeluk agama Islam mengalami fluktuasi, Yazid dan yanqus. So, fatwa MUI sebagai otoritas, ingin merevitalisasi konstuk keimanan. Mengingatkan umat agar tak yanqus.

Mohon dikoreksi jika ada kesalahan. Allahu ‘alaam. Tabik 🙏🙏

BEBERAPA CATATAN TERHADAP KHOTBAH JUMAT HARI INI (Mushala Al Hikmah, Fakultas Filsafat UGM)

 

Khotibnya tidak saya ingat namanya tapi beliau sudah Ph.D. Pake gamis hitam dan sorban hijau unyu. Secara umum saya suka mendengarnya, walaupun panjangnyaaa mashaaAllaah mengalahkan masjid kampus UGM! Barangkali ini khutbah paling menarik yang saya pernah dengar di Filsafat UGM.

 

Secara konten, sepemahaman saya beliau banyak kurang tepat. Misalnya beliau cara beliau mengatakan bahwa syariat tidaklah cukup, butuh thoriqoh dan ma’rifat. Misalnya dengan mengatakan bahwa “banyak kok orang shalat tapi ternyata masih cinta dunia”. Bukannya itu salah, tapi CARANYA itu seakan-akan merendahkan syariat. Shalat itu menjaga dari perbuatan keji (Surah Al Ankabut ayat 45), tapi rasanya tidak ada ulama tafsir yang berbeda pendapat dalam menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah shalat yang sempurna beserta khusyuk. Ulama berbeda pendapat tentang apakah khusyuk adalah syarat sah shalat, tapi rasanya tidak ada perbedan pendapat bahwa khusyuk adalah syarat dari fadhilah shalat. Demikian pula, ulama berijma bahwa shalat tidak boleh dikurang kurangkan rakaatnya karena itu bagian dari syariat. Karena, demi Allah, ma’rifat tidak mungkin menentang syariat. Ketika beliau mengatakan ciri orang beriman sesungguhnya adalah yang MENCINTAI ALLAH (Al Baqarah ayat 165), saya ingatkan juga bahwa ciri lain orang yang beriman adalah yang kalau dikasi aturan itu SAMI’NA WA ATHO’NA (An Nur ayat 51, An Nisa ayat 59, dlsb).

Juga terlalu banyak melakukan penggeseran makna, misalnya merapatkan shalat bukan berarti literal merapatkan kaki tapi merapatkan hati (sambil meledek ‘aliran lain yang menyuruh rapatkan kaki’). Soal kewajiban kakinya mah ranah fiqih, tapi masalah serampangan menolak zohir dalil adalah masalah aqidah. Mencari hikmah itu boleh Pak, tapi menegasikan zohir teks secara serampangan itu saya khawatirkan mirip mirip cara kafir ahli kitab.

Seperti kebanyakan Sufi yang saya temui, dikiranya kalangan tekstualis akan lupa urusan hati sama sekali. Beliau salah. Buktinya, antara lain, ulama mazhab Hanbali yang terkenal yaitu ibn Qudamah Al Maqdisi begitu menyukai Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali walaupun banyak penyimpangannya, sehingga beliau mengeluarkan hal hal menyimpangnya, menyortir hadits haditsnya, dan mengeluarkannya dalam Kitab Minhajul Qasidin. Shaykh Nassirudin Albani juga sama, salah satu ulama besar Salafi, tapi khatam Ihya Ulumuddin. Ini salah satu kurang tabayyun, yang barangkali adalah salah satu kekurangan dari hampir semua firqoh yang ada.

 

Tapi pada sebahagian yang lain sangat baik dan menusuk hati dan pikiran. Tipikal tasawwuf yang banyak bicara tentang olah hati yang penting dijadikan catatan. Antara lain tentang pentingnya cinta kepada Allah dan bukan pada dunia, bahwa tidak ada penderitaan akibat musibah melainkan akibat respon kita terhadapnya. Hal ini yang menjadi banyak permasalahan berat pada umat Islam. Pola pikir materialisme sudah meracuni aqidah umat Islam, padahal pertama kali “orang orang yang bertaqwa” disebut dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa ciri pertama mereka adalah yang beriman kepada perkara ghaib (Surah Al Baqarah ayat 2-3). Tentu beda sekali cara berfikir dan cara mengambil keputusan antara orang yang beriman pada hari akhir dan mencintai Allah dengan orang yang mencintai dunia dan tidak sungguh-sungguh beriman pada hari akhir. Beliau berkata bahwa orang yang cinta Allah akan melihat kematian sebagai gerbang perjumpaan dengan kekasih, sedangkan yang cinta dunia akan tersiksa karena kematian adalah gerbang pemisah dengan kekasih.

Selain itu, dua hal luar biasa yang saya tangkap pada beliau. Beberapa pengalaman pribadi beliau sampaikan tentang masalah hati manusia yang menjadi pangkal masalah. Pertama, jadinya bagi saya lebih ‘relatable’ dengan diri saya. Saya jadi evaluasi diri, sampai sedikit ‘absen pikiran’ dari khutbahnya sebentar. Tapi kedua, yang tersirat dari cerita tersebut, dalam kedua kisah tersebut beliau bukanlah sebagai pengamat saja yang mengambil hikmah (dan ini saja sudah sebuah kebijaksanaan menurut saya), melainkan secara aktif mengambil peran pada kejadian di sekitarnya. Misalnya, dalam salah satu ceritanya, beliau inisiatif mendekati dan mengajak bicara seseorang yang begitu kesal dan tegang dalam perjalanan kereta. Dalam cerita lain, ketika beliau melihat ada orang yang meninggalkan masjid dengan marah marah lalu kemudian kembali justru untuk sujud syukur, beliau menghampiri orang tersebut untuk menanyainya.

Banyak yang mengatakan bahwa kepekaan terhadap sekitar kita adalah sesuatu yang sudah mulai menjadi langka. Setidaknya dengan melihat pada diri saya sendiri, saya khawatir bahwa hal tersebut memang betul. Akan tetapi ada level lebih tinggi daripada sekedar peka yaitu INISIATIF untuk melakukan perubahan. Sudah masyur hadits sahih riwayat Nu’man bin Bashir r.a., bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (Sahih Muslim). Semoga tidak salah saya memahami bahwa jika sudah merasakan ada bagian tubuh yang sakit, adalah alamiah untuk mengobatinya.

Sebetulnya selaras sekali budaya yang dibawa oleh Islam ini dengan budaya tradisional Indonesia yang komunal dan paguyuban. Saling menasehati, saling menolong, adalah bagian yang integral dalam struktur social dari keduanya. Tidak bisa kita hanya “elu elu gue gue”. Dari mana datangnya budaya individualism yang membuat saling menasehati dianggap ‘mencampuri urusan orang’, dan inisiatif menolong belum tentu disambut baik sampai akhirnya kita jadi ragu untuk melakukannya?

 

Entahlah, banyak sekali PR yang ada pada diri kita baik secara individu maupun secara umat yang makin saya sadari ketika mendengar khutbah tersebut. Mungkin ada yang mengatakan “tidak harus dari Islam untuk melakukan perbuatan baik”. Jawaban saya adalah (1) tapi justru karena sudah Muslim maka harus melakukannya, dan (2) perbuatan baik harus sejalan dengan syariat dan diniatkan karena Allah, karena Rasulullah s.a.w. sebagaimana diriwayatkan oleh Umar bin Khattab r.a. bersabda إنما الأعمال بالنيات atau “sesungguhnya amal dinilai dari niatnya” (Sahih Bukhari dan Muslim).

Allah bersabda dalam Surah Al Imran ayat 110 كنتم خير أمة “kalian adalah ummat yang terbaik”, akan tetapi banyak syarat syarat untuk kita memenuhi kriteria ummat yang disebut di ayat tersebut. Sejauh mana kita sebagai individu dan ummat sudah memenuhinya? Usaha apa yang sudah kita lakukan untuk ke arah sana?

Drama kata “Pakai”: Apakah Umat Islam Berlebihan?

 

nyapu

 

Perdebatan Penggunaan Kata

Walaupun bukan ahli bahasa, tapi sebagai seseorang yang berpengalaman dalam berbicara dalam bahasa Indonesia sejak tahun 1994 ketika ada yang mengatakan:

Ente ga tau perbedaan ‘Dikejar kuda’ dan ‘Dikejar pake kuda’?

Jawaban saya adalah:

Kalau ‘dikejar kuda’, yang mengejar adalah kuda. Kalau ‘dikejar pake kuda’, yang mengejar adalah kuda dan pengendaranya.”

Tapi ‘syubhat’ bisa diputar dengan makna tersembunyi, misalnya “dibohongi pake cinta“. Dengan asumsi “Cinta nggak akan bohong“, maka makna kata “cinta” tadi maksudnya adalah “dengan berkedok cinta” atau sejenisnya. Syubhat serupa dalam kasus Ahok ini adalah “itu penafsirannya maksudnya, bukan Al Qur’annya.”

Tapi ini tidak pas.

Pertama, saya ingin mengajak pembaca merenungkan beda makna antara “menafsirkan begitu adalah keliru” dengan  “menafsirkan begitu adalah bohong“. Kekeliruan bukanlah sesuatu yang hakikatnya jahat, tetapi kebohongan hakikatnya adalah jahat.

Kedua, kalimat “dibohongin pake Al Maidah ayat 51” menuduh bohong (bukan keliru) pada seluruh ulama –yang menurut hadits sahih adalah penerus Rasulullah—dari zaman Sahabat hingga sekarang, dan juga Allah karena penafsiran yang digunakan banyak ulama (lihat status FB Ust. Hasan Al Jaizy membandingkan 20 kitab tafsir sepanjang masa) menggunakan analisis linguistik alias kata-kata yang ada dalam Al Qur’an.

Ketiga, yang bagi saya adalah terutama, yang dikatakan sebagai bohong adalah perkara syariat yaitu “larangan mengangkat pemimpin kafir”. Kan dengan bahasa apapun, kan aturan syariat itu yang intinya dibilang merupakan kebohongan. Padahal ini adalah salah satu bagian Syariat yang mencakup masalah fiqih (pengangkatan pemimpin) hingga perkara aqidah (tawali dengan orang kafir).

 

Kelebay-an Respon Umat?

Sebagian membawa soal “ini khilafiyah ijtihadiyah”, tapi kalangan HAM paling fanatik pun tidak akan menerima HAM ala Rusia atau Korea Utara sebagai “khilafiyah ijtihadiyah”. Jangan bilang ini tidak apple to apple sebab “Korut dan Rusia kan melakukan kedzoliman yang konkrit”, karena HAM ini hanya bicara masalah muamalah saja sedangkan Islam mencakup aqidah juga. Hanya Ulama Suu yang mengatakan ini khilafiyah ijtihadiyah. Terlebih lagi, kalaupun ini khilafiyah, ya harusnya yang berkata demikian justru bertoleransi kepada umat Islam yang tersinggung.

Tapi ada yang berkata “Yang demo berlebihan, memang Ahok agak kurang pantas ucapannya tapi merespon dengan demonstrasi adalah overreacting.” Apakah demikian?

Saya katakan tidak.

Pertama, ada sebuah alasan penting kenapa hanya korban yang boleh lapor pada pasal pasal penghinaan atau pencemaran nama baik adalah bersifat delik aduan i.e. Pasal 310-321 KUHP dan Pasal 27[3] UU ITE sebagaimana dijelaskan oleh MK. Korbanlah yang lebih berhak menilai apakah sesuatu itu menghina atau tidak, terlepas dari penilaian orang lain.

Penghinaan bukanlah perkara empiris layaknya laba-rugi atau hidup mati atau lapar haus melainkan soalan imateril yang merupakan salah satu ciri khas manusia yang memiliki hati. Ingatlah “jika aku ada di posisimu” tidak dapat digunakan di semua situasi karena seringkali “…tapi aku bukan kamu dan kamu bukan aku”.

Karena itu, relativisme dalam hal ini bisa jadi adalah hal yang sewajarnya terjadi. Bukan pada tempatnya orang menyalahkan ketersinggungan orang lain dan hukum mengakomodasi itu.

Kedua, juga ada perbedaan titik toleransi. Bayangkan jika anda melihat seorang perempuan diteriaki “dasar!”. Bagaimana reaksi anda? Tentu agak sulit menjawab pertanyaan ini tanpa penjelasan lebih lanjut. Bagaimana kalau ditambah “Dasar perempuan!”? Atau mungkin “Dasar jelek!”? Atau “Dasar wanita rendah!” Atau mungkin “dasar pelacur!”?

Kalau perempuan tersebut tidak anda kenal, dan berpakaian biasa saja, bagaimana? Kalau perempuan tersebut memang pelacur, bagaimana? Kalau perempuan tersebut teman anda tapi tidak terlalu kenal, bagaimana? Kalau perempuan tersebut adalah sahabat anda, bagaimana? Kalau perempuan tersebut adalah istri anda, bagaimana? Kalau perempuan tersebut adalah ibu anda, bagaimana?

Mungkin orang yang berbeda akan mulai merasa ikut tersinggung pada kombinasi titik yang berbeda beda, betul?

Okelah, saya terima bahwa hinaan Ahok mungkin tidak separah hinaan Syiah kepada Ummul Mu’miniin. Tapi bagaimana kalau anda saya tampar lalu saya bilang “jangan marah, daripada saya pukul 10x lho ini kan cuma sekali”? Selalu ada hinaan yang lebih parah dari yang lainnya. prinsipnya adalah hinaan.

Makin parah hinaannya makin besar kemungkinan tersinggungnya, dan makin tinggi ghirah dan kecintaan kita pada sesuatu makin besar juga kemungkinan tersinggungnya. Jadi kalau ada sampai tidak tersinggung dengan statement Ahok, simpel saja bahwa ghirah dan kecintaan anda pada Islam lebih rendah dibandingkan para demonstran.

Bisa saja ada yang tersinggung malah dengan kesimpulan saya barusan. Maknanya simpel saja, berarti dia mencintai dirinya lebih daripada Islam. Macam Nusron Wahid yang terus membela Ahok, tapi ketika disebut Nusron Purnomo langsung marah. Biasa kok, orang kan bisa punya kecintaan pada hal yang beda-beda. Ada yang punya kecintaan pada tim sepakbola, ada yang pada negara, ada yang pada dirinya, dan lain sebagainya dan bisa saja lebih dari satu. Tulisan ini tidak bertujuan menghina orang yang “mencintai Islam lebih rendah daripada para demonstran”, hanya menunjukkan saja bahwa ini fenomenanya.

Jangan salahkan kami kalau kami mencintai deen kami.

Penutup

Jika ada seseorang yang mengaku merasa seseorang harusnya tidak perlu tersinggung (dengan alasan apapun) dan tidak bisa menyebutkan 10000 saja orang yang ia ketahui juga tidak tersinggung. Dia tidak boleh lupa bahwa ada massa yang turun ke jalan diperkirakan sampai dua juta dan belum lagi sekian juta atau bahkan puluhan juta yang tidak ikut turun ke jalan tapi memberikan doa dan dukungan. Ini termasuk sebagian kalangan yang mengharamkan demonstrasi, tapi mereka pun menganggap hal ini adalah penistaan. Siapa dia merasa bisa menilai bahwa yang berjuta-juta ini adalah salah?

Tidak bisa argumen “kebenaran adalah kebenaran, walaupun semua orang menolaknya” dipakai, karena perkara ketersinggungan bukanlah soal benar-salah melainkan soal rasa.

Syariat Islam menetapkan bahwa pengolok-olok agama adalah murtad (jika dia Muslim) dan hukumannya adalah mati. Sadar kok bahwa Indonesia bukan negara Islam makanya yang dituntut demonstran bukan bunuh melainkan proses hukum sesuai hukum apa yang berlaku di Indonesia. Terlebih lagi, pengajuan tuntutan ini adalah dengan demonstrasi yang sudah terlebih dahulu dimintakan izin kepada aparat yang berwenang, dan berjalan dengan damai dan tertib.

Masa iya berlebihan?

 

Mimpi Indah: Sebuah Perenungan Syair “Sebenarnya Cinta” karya Letto

 

Letto mengawali syairnya:
Satu detik lalu
Dua hati terbang tinggi
Lihat indahnya dunia
Membuat hati terbawa

Lebih enak hidup dalam mimpi, memang. Semua diciptakan olehku, seindah mata dan seindah rasa, tanpa kenal realita. Tanpa ingat apa kebenaran, hingga hati pun terbawa jauh.

Firman Allah:
أَلۡهَٮٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ
(Perlomba-lombaan dalam keduniawian telah melalaikan kamu [QS 102:1])

 
Letto lanjut bersyair:
Dan bawa ku kesana
Dunia fatamorgana
Termanja-manja oleh, rasa
Dan ku terbawa terbang tinggi oleh suasana

Hidup yang hambar tersiksa, diisi hanya dengan ketidaksabaran untuk kembali pada mimpi.

Oh, andaikan bisa kutukar yang nyata dan mimpi itu! Kutukar melalui sosial media, harta, pergaulan, atau bahkan lamunan jelang tidur. Kutukar!

Karena ketika aku terbangun dengan sebenar-benarnya bangun, ia akan menanyakan padaku:
من ربّك?
(Siapa Rabb-Mu?)

 
Letto bersyair lagi:
Dan bangunkanlah aku
Dari mimpi-mimpi ku
Sesaat ku di sudut maya
Dan tersingkir dari dunia nyata

Apakah aku akan ada di antara mereka yang berkata:
يَـٰلَيۡتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِـَٔايَـٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
(Kiranya kami dikembalikan [ke dunia] dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman [QS 6:27)

padahal saat itu tidak ada lagi mimpi tempatku untuk berlari?

Ternyata aku telah terlalaikan..
 حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ
(Hingga sampai ke liang kubur [QS 102:2])

 
Letto pun bersyair lagi:
Dan bangunkanlah aku
Dari, buta mata ku
Jangan pernah lepaskan aku
Untuk tenggelam di dalam mimpi ku

Open Letter to Prof Tariq Ramadhan

Responding to Prof. Tariq Ramadan’s Open Letter to President Joko Widodo

 

Dear Mr Tariq Ramadan.
Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh

I have a great deal of respect to you both as a Muslim and as a scholar of Islam. You have done a great deal of work for Islam, and may Allah reward you for it. And it is an honor that a scholar of your caliber paid special attention to my country. There are a few points I wish to say not to question your credentials as a scholar: I myself am not a scholar of Islam, just another Indonesian Muslim. Rather, it is just a product of the curious mind of a worried Muslim wishing to learn more as well as seeking counsel from a scholar of high esteem like you.

1. You may have already observed that we are not an Islamic state, so I am not sure really to what extent would Islamic laws such as hudud would be applicable. Yet it intrigues me to inquire further, what you think of Surah Al Maidah ayat 33, specifically on the following part?
إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ …. وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَاداً أَنْ يُقَتَّلُوا ….
(Indeed, the penalty for those who … and strive upon earth [to cause] corruption is none but that they be killed …)

To be really honest, seeing the problem of drugs and what it causes to the youth which is increasing by the year as you have observed, it does make me think of fasaad fil ardh as the aforementioned ayat mentions.

Not to mention, some scholars do opine that death penalty may be given not just through huduud but also by ta’zir (albeit some differences of opinion). Can you enlighten me on this subject?

2. You have reminded us a very great value of rahmah in Islam. After all, did Allah not Say إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى (My Rahmah prevails over My Wrath, hadith Qudsi in Sahih Bukhari and Muslim)? Yet we are faced with a grave problem.

You have observed that not only the the drug problem has increased yearly, but also this being despite the executions.

You have correctly observed that we do have problems in our judicial system. Yet at least one of the ones executed lived a very lavish and extravagant life, controlled massive rings of drug dealing even from behind bars (although it seems he entered Islam and repented near execution).

What advise do you have for us? If death penalty and violations of fair trial and very tight (or impossible) room for pardon is not enough to scare them, how can we not fear the repercussions that may follow either revoking death penalty or being more generous in giving pardon?

This is because Surah Al Maidah ayat 34 rings in my mind:
إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ مِن قَبۡلِ أَن تَقۡدِرُواْ عَلَيۡہِمۡ‌ۖ ….
(Except for those who return [repenting] BEFORE you apprehend them….)

Which I realize is only applicable, of course, if Surah Al Maidah ayat 33 applies first as per my earlier question.

Although I am unsure if you will receive this letter, but I really hope that these matters can be addressed and clarified. This is because I am sure that at least some Indonesians have similar concerns.

Jazakallaahu khayran kathiira

Akhukum fillaah

(Fajri M. Muhammadin)

 Interesting Note:
Jeni Wardin wrote:
My main objection on this Bro, is exactly as pointed out in the letter: death penalty don’t seem to deter further violation as the number of drugs abuse did rise in 2015. And I calculated once, if those 5.9 million people consume at least 10 grams of heroin, we have 59 million grams (59 tons) of heroin in circulation. How many have confiscated during that year? 100kg? Not sure if it’s that much. In the end I conclude, the ones bringing destruction on earth are not the dealer, but those who use the product. I may oversimplify things, but that’s how I see things.
Fajri replied:
 Yet, my concern with that lies in the possible repercussions of actually revoking it.

Further, I am not sure whether the problem is that death penalty does not deter enough, or rather it actually does deter but such a deterrence is insignificant compared to the fact that our law enforcement is so corrupt that they do not fear the law. Such seems to be the case of corruption as well.

I do agree with you that the ones who use the product are those who end up using the drugs, but I disagree that the drug dealers are not responsible. It is my position that all from the top producer to the low users should be responsible.

My position is that the users shall be punished proportionate to their crime, i.e. whatever punishment applies to consumers of intoxicants. Excluding, of course, those who may have been trapped or you know the stuff like that. However, while collectively they may be the corruption on the earth, yet they are also part of the earth corrupted. Not to mention, such a corruption is collective but a man bears his own burden, and he cannot be responsible for the collectivity of drug use.

The drug producers and dealers, on the other hand, are. No substance are declared illegal in itself while its producers and distributors can go free. Unlike the individual users, they do take role in perpetuating the abuse of drugs collectively. This makes individual acts of self destruction become widespread. So it is my position that they deserve death penalty..