Category Archives: Islamic Teachings and Virtues

Terima Kasih Atas Ilmunya Pak Liberal

Gambar ini tidak relevan

Gambar ini tidak relevan tapi gemes

 

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabaraatuh,

 

Pengantar

Saya sebagai seorang Muslim banyak sekali butuh belajar. Mungkin baru agak serius sejak tiga tahun belakangan ini, itupun masih banyak ngawur dan serabutan sambil juga sering sok tau soal agama dalam banyak hal. Dalam keadaan seperti ini, saya menemukan artikel menarik yang ditulis oleh Pak Ade Armando ini yang berjudul Mengapa Sunnah dan Hadits Tidak Perlu Dipatuhi Sebagai Hukum?’ (silahkan klik untuk membaca tulisannya, supaya nyambung ke bawahnya hehehe). Beliau ini adalah seorang rekan seprofesi akademisi tapi dari jurusan dan universitas lain. Saya belajar banyak sekali dari tulisan ini, karena itu saya berterima kasih kepada beliau.

Di satu sisi, kalau kita berbicara sumber hukum Indonesia, mungkin agak sulit mengatakan bahwa Al Qur’an dan Hadist adalah sumber hukum. Masa mau sidang pembunuhan pake ayat Qishash? Ya pake KUHP Pasal 338 lah (ini orang HTI akan teriak TUH SISTEM KUFUR KITA BUTUH KHILAFAH, dan takfiri akan teriak KAFIR SEMUA KALIAAAN YEAY). Kecuali dalam hal tertentu, di mana memang hukum Islam ini tegas dipositifkan misalnya dalam Kompilasi Hukum Islam.

Akan tetapi, di sisi lain, apapun sistem pemerintahnya, saya adalah seorang Muslim. Dari kecil kalau di pelajaran Agama Islam saya sudah diajari untuk patuh pada Al Qur’an dan Hadist. Tapi kemudian datanglah tulisan yang begitu mencerahkan.

Sebagai seorang yang sudah bertemu beraneka ragam guru (jangan disamakan dengan ulama ya, misalnya Imam Bukhari punya 1000 guru), saya menyimpulkan bahwa guru yang baik bukanlah yang mencekoki ilmu melainkan antara lain menstimulasi adanya transfer of value. Bukan sekedar memberi ilmu, tetapi menggelitik rasa penasaran yang kemudian menjadi gerbang bagi kami para murid untuk mencari ilmu dan mendapatkan ilham. Dan inilah yang saya rasakan dari tulisan Pak Ade.

 

Berikut ini pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan dari tulisan beliau.

 

  1. Hadist membawa kerusakan di bumi

Beliau mengatakan bahwa banyak hadist yang menyebabkan bisa menyebabkan kerusakan di muka bumi. Tentu saya penasaran maksudnya apa, karena dalam Al Qur’an disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. diutus sebagai Rahmatan lil ‘Aalamiin. Banyak orang mengartikan ayat ini bahwa artinya islam harus bisa disesuaikan dengan kearifan lokal, padahal logika sederhana pun cukup untuk memahami bahwa apa yang dibawa Islam pasti cocok dengan semuanya kecuali hal-hal di mana urf bisa dipertimbangkan dalam ajaran Islam (atau kalo orang ngeyel, tentunya).

Aliran hermeneutika dalam Islam ini memang agak kacau, melihat bahwa Islam turun sesuai jamannya sehingga harus dipahami sesuai zaman. Mereka berkata “ajaran islam cocok untuk zaman itu yaitu untuk membenarkan apa yang salah. Sekarang sudah beda zaman”. Tanpa menafikkan bahwa ada ruang-ruang ijtihad untuk beraneka (dan mayoritas) perkara, tapi ini semua sesuai dengan koridor dalil yang ada.

Sepemahaman saya, kita harus melihat bagaimana Islam justru datang untuk mereformasi kebiasaan yang ada. Dari dulu argument orang kafir adalah “itu bukan hal yang biasa kami lakukan atau percayai atau sepakati”, dan sekarang pun tidak berubah argument mereka.

Tapi intinya, saya jadi penasaran. Apa standar kebenaran dari HAM ini? Kita memahami bahwa landasan dari kebenaran HAM ini adalah sesuai dengan consensus bersama, yang tentu dalam hukum internasional dapat dikatakan sebagai sebuah revolusi dalam peradaban dunia. Tapi kalau kita melihat landasan kebenaran ini, maka dengan alasan yang sama maka semua masalah rasisme dan diskriminasi yang ada di masa lampau pun juga benar menurut masanya sebagaimana HAM benar di masa ini.

Jadi atas standar apakah saat itu dikatakan bahwa Islam membawa kebaikan? Menurut standar zaman itu, awalnya, Islam jelas salah besar. Dan Islam hanya berubah jadi benar ketika standar ini diterima oleh banyak orang saat itu. Standar ganda deh.

Jadi, bukankah hakikatnya Islam memang mendobrak konstruksi kebiasaan yang sudah ada bukannya malah ditundukkan oleh hal itu?

Metode hermeneutika ini lebih panjang dan komprehensif dibahas oleh Fahmi Salim, M.A., Dr. Adian Husaini, dan lainnya. Kajian tentang konsep HAM dan Islam secara ontologis dan epistemologis juga bisa panjang lebar dan bukan di sini tempatnya lah.

Saya jadi belajar banyak, bagaimana berbedanya memandang sesuatu yang didasari otoritas pewahyuan dan tidak. Secara ontology dan epistemology tentunya berbeda. Mari berfikir logis saja. Apakah mungkin Allah, Al-‘Ilm, bisa salah dan dikoreksi oleh manusia yang fakir? Bukankah berbeda perdebatan tentang orang yang percaya dan tidak percaya adanya Yawmid Diin? Maka di sini kita memasuki perdebatan aqidah: apakah betul Islam datang dari Allah?

Nah lho jadi beda deh perdebatannya kan dan jadi tidak apple to apple diskusinya. Dan tulisan beliau ini saya jadi makin paham, kesulitan dari diskusi ini dan bahwa tidak dapat dilakukan perbandingan seperti ini.

 

  1. Pelecehan Ilmu Pengetahuan

Menarik statement Pak Ade bahwa Rasulullah s.a.w. makan dengan tangan kanan adalah karena biasa, dan bukan karena jin. Padahal jelas redaksi hadistnya jelas seperti kata Pak Ade. Riwayat Jabir:

لا تأكلوا بالشِّمالِ ، فإنَّ الشَّيطانَ يأكلُ بالشِّمالِ

janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena setan makan dengan tangan kiri” (Sahih Muslim, Hadist No. 2019, dan Sunan ibn Majah Hadist No. 3392)

Jelas Rasulullah s.a.w. menyebut jin sebagai alasannya, atau mungkin Pak Ade ingin menyiratkan bahwa Rasulullah s.a.w. berdusta? Ya betul sekali memang kata Pak Ade yaitu bahwa bukan cuma jin yang makan pakai tangan kiri. Siapa? Kita dengarkan kata Imam ibn al-Qayyim dalam Zaadul Ma’ad: “yang makan dengan tangan kiri, kalau ia bukan setan maka ia menyerupai setan.” Atau tambahan dari Shaykh Shalih al-Uthaymeen, orang-orang yang diberi udzur (udzur ini bisa akibat kondisi fisik, atau ketidaktahuan, atau.. yah.. udzur gila). Atau tambahan dari saya, saya pernah lihat monyet makan pakai tangan kiri.

Tapi mari kita kesampingkan dulu lah itu. Lebih menarik membahas komentar beliau bahwa hadist-hadist semacam ini adalah pelecehan terhadap ilmu pengetahuan.

Saya sangat terarik pada statement ini karena ilmu pengetahuan justru tidak bisa mengatakan bahwa jin tidak ada setidaknya karena dua alasan.

Pertama, ilmu pengetahuan, dengan metode penelitian empiris, hanya bisa mengatakan “tidak ditemukan jin” dan bukannya “jin tidak ada”. Silahkan lihat semua laporan penelitian ilmiah yang nggenah, semua akan berbahasa seperti itu. Tes TBC saya sebelum sekolah di UK dulu pun bukan mengatakan “tidak ada TBC” tapi “tidak ditemukan indikasi TBC”. Sifat dan karakter penelitian empiris atau lanjut ke masalah positivism yah panjang lah penjelasannya tapi singkatnya begitu.

Kedua, ilmu pengetahuan ini dilandasi oleh metode penelitian empiric yang berupa pengamatan panca indera. Terlepas dari cerita cerita horror. Menggunakan metode panca indera untuk mencari jin itu seperti mencari beruang kutub di dasar laut Jawa.

Banyak hal yang tidak bisa diteliti dengan metode empiric. Misalnya moralitas dan nilai. Kita bisa sih meneliti empiris tentang persebaran orang yang mengikuti nilai tertentu, tapi nilai dan moralitas itu sendiri tidak bisa diteliti secara empiris. Atau bahkan MATEMATIKA. Tidak ada bukti ilmiah bahwa 1 + 1 = 2. Kenapa 2 itu 2? Kenapa angka harus seperti itu? Itu kesepakatan saja. Bukan suatu kebenaran ilmiah.

Tidak bisa kita gunakan prinsip bahwa “semua hal bisa dibuktikan dengan ilmiah”, karena dengan kaidah ilmiah pun hal ini tidak bisa kita buktikan toh? Karena itu, saya pun jadi bertanya-tanya kenapa ya Pak Ade ini melakukan analisis seperti ini?

Akhirnya saya memahami. Beliau memberi contoh praktek langsung bagaimana melakukan pelecehan terhadap ilmu pengetahuan.

 

  1. Hadist itu belum tentu Sahih

Betul sekali yang disampaikan beliau. Apa yang dikatakan Rasulullah s.a.w. sudah di’back up’ langsung oleh Allah. Tapi manusia-manusia yang mengumpulkan hadist bukannya tidak mungkin berbuat salah. Mereka tidak maksum, dengan beraneka alasan yang barangkali sesuai dengan apa yang Pak Ade sampaikan.

Akan tetapi, itulah manusia. Kita banyak keterbatasan, dan karena itulah metode ilmiah berkembang pesat untuk sedapat mungkin mengurangi resiko tersebut. Walaupun banyak ulama Islam abad pertengahan tentu sangat mengimani dan mengamini hadist-hadist tentang khasiat madu (saya tambah lagi yuk, khasiat rukyah dan surah Al Faatihah sebagai pengobatan dll) ternyata bukannya jadi menolak ilmu pengetahuan tapi justru berkontribusi besar pada perkembangan ilmu pengetahuan serta metodologi ilmiah.

Akhirnya beraneka metode penelitian ditemukan untuk sedapat mungkin memperkuat akurasi hasil penelitian. Dalam penelitian empiris tidak bisa 100% benar, tapi bisa dibuat sedekat mungkin dengan itu, dan metode-metode ini pun terus dikembangkan.

Karena itulah, secara ilmiah yang tidak bisa benar 100% pun, sangat konyol sekali jika kita menemukan sebuah penemuan ilmiah yang ditemukan dengan metode ilmiah terbaik oleh ahli terbaik, lalu sekonyong-konyong ditolak karena “bisa saja salah”. Lah wong bisa saja 95% betul, kok malah 5% mungkin salahnya yang dipakai? Dalam kerangka ini, konyol orang yang misalnya meragukan bahwa sebuah obat bisa bekerja karena “itu ilmiah, belum tentu benar dan bisa saja salah” padahal konon obat itu baru bisa dapat izin jual kalau sudah efektif 95%. Masa iya sebuah metode ilmiah yang diaplikasi dalam riset berdana milyaran dollar, sekonyong-konyong ditolak karena “yah bisa aja salah” segitu saja.

Tidak cukup menyanggah sebuah penelitian dengan menunjukkan beberapa kekurangan umum dari metode ilmiah, melainkan juga bagaimana metode ilmiah spesifik tersebut tidak bisa secara signifikan (yang diterima secara ilmiah) untuk memitigasi kekurangan-kekurangan tersebut.

Ilmu hadist pun demikian. Dari sekian kemungkinan kesalahan yang mungkin terjadi, dibuatlah ilmu hadist yang sangat komprehensif. Kajian sanad, mattan, dan lain sebagainya, dan ilmu ini terus berkembang bahkan hingga sekarang. Dengan logika ilmiah yang sama, bukankah konyol jika kita menolak hadist dengan alasan sekedar “yah bisa aja salah”?

Padahal para Imam hadist (yang tentu tidak maksum) sudah mempelajari siapa saja perawi hadistnya, melihat biografi mereka yang juga bersanad lho btw, yang berisi bukan hanya siapa nama dan pekerjaan tapi juga kekuatan hafalan, testimony tentang kejujuran dan kesholehan mereka, juga riwayat hidup dan perjalanan mereka sehingga bisa dikroscek apakah masuk akal satu sanad dan sanad lainnya. Dan ternyata terkadang hadist itu diriwayatkan lebih dari satu jalur, terkadang kesemuanya ada kecacatan terkadang sebagian cacat sebagian bagus, terkadang semuanya bagus atau bahkan banyak yang bagus sampai akhirnya derajad hadist tersebut adalah muttawatir. Ini belum lagi kita berbicara tentang pengkajian mattannya yang ada ilmunya sendiri juga dan lain sebagainya.

Lalu dengan segala jerih payah bertahun-tahun meneliti suatu hadist dan membuang ratusan ribu hadist dan sekelompok kecil saja yang hasan dan lebih sedikit lagi yang sahih dan leeeebih sedikit lagi yang sampai sahih muttawatir, ditolak dengan: “yah bisa aja salah. Kan mereka manusia.”

Sekali lagi saya mendapat pelajaran berharga, yaitu contoh lain dari pelecehan ilmu pengetahuan.

 

  1. Al Qur’an dan Sunnah jangan dijadikan hukum mengikat, Rasulullah s.a.w. tidak pernah mengatakan demikian.

Mungkin ini adalah poin utama, makanya saya simpan sampai akhir.

Walaupun judulnya dan banyak analisisnya tentang Sunnah dan Hadist saja, tapi sempat disinggung juga Al-Qur’an. Apakah memang demikian halnya? Saya jadi mencari-cari, dan menemukan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurayra r.a.

مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى ‏

Barangsiapa yang mentaatiku pasti masuk Surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sungguh ia telah enggan.” (Sahih Al-Bukhari, Hadith No.7280)

Jika ada yang mengatakan bahwa “perintah itu kan kepada orang di zaman beliau saja”, maka jawabannya adalah itu palsu. Karena Irbad bin Sariyah r.a. meriwayatkan bahwa Beliau s.a.w. pernah bersabda:

مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Sesungguhnya siapa saja yang nanti hidup setelahku maka dia akan melihat terjadinya perselisihan yang banyak; oleh karena itu, berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk (al-Mahdiyyin), gigitlah ia(sunnahku tersebut) dengan gigi geraham.” (Sunan Abu Dawud, Hadist No. 4607)

Diriwayatkan juga ada wasiat beliau saaat khutbah wada (perpisahan):

فَاعْقِلُوْا أَيُّهَا النَّاسُ قَوْلِي، فَإِنِّي قَدْ بَلَّغْتُ، وَقَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَاإِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تُضِلُّوْا أَبَدًا، أَمْرًا بَيِّنَتًا : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Perhatikanlah kata-kataku ini, saudara-saudara! Aku sudah menyampaikan ini. Ada masalah yang sudah jelas kutinggalkan ditangan kamu, yang jika kamu pegang teguh kamu tidak akan sesat selama-lamanya; Kitabullah dan sunnah rasul.” (Sirah ibn Hishaam)

Bahkan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an Allah secara tegas telah berfirman berulangkali tentang ini, saya kutipkan sebagian saja:

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ۬ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُ ۥۤ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak [pula] bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan [yang lain] tentang urusan mereka…” (Surah Al Azhab ayat 36)

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَا‌ۚ

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, maka mereka berkata: ‘Kami mendengar, dan kami patuh….” (Surah An-Nur ayat 51)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِى ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡ‌ۖ فَإِن تَنَـٰزَعۡتُمۡ فِى شَىۡءٍ۬ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ‌ۚ

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul [Nya], dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah [Al Qur’an] dan Rasul [sunnahnya], jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian…” (Surah An-Nisa ayat 59)

Saya jadi tahu bahwa Pak Ade memang betul. Di sana memang bahasa yang digunakan untuk taat pada perintah Rasul-Nya (yang terrekam dalam hadist) adalah bahasa yang imperatif. Tapi semua ini, paling tidak sekilas menurut saya yang fakir ilmu ini, jelas tidak bisa diberlakukan sebagai wajib mutlak. Mungkin memang tepat Pak Ade mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut harus dipahami dengan lebih jeli.

Ayat-ayat tersebut hanya berlaku untuk orang yang beriman saja, bukan untuk kalangan kafir dan murtad.

MEMANGNYA KAMU ALLAH?

Kelihatannya banyak orang yang gagal paham beda antara (a) sok menempatkan diri sebagai Allah, dan (b) beriman pada sebuah kitab yang dipercaya turun dari Allah dan berusaha untuk sekedar menyampaikan isinya.

Mudah sekali ketika seseorang mengatakan “perbuatan X adalah perbuatan dosa!” atau “ajaran Y ini adalah ajaran kafir”, asal saja ada pihak lain yang bilang “kamu siapa, kok sok main Tuhan?”. Padahal seseorang itu sekedar menyampaikan apa yang eksplisit tertera dalam kitab suci, atau merupakan penafsiran yang mengikuti kaidah-kaidah yang dikenal dan diterima dalam kerangka agama tersebut. Bukan berarti penafsiran itu pasti benar. Tapi penafsiran (sesuai kaidah) bukan berarti main Tuhan, sebagaimana seorang hakim ketika menafsirkan hukum dia tidak dianggap sok menjadi legislatif. Orang hukum mestinya paling paham akan hal ini.

Masalahnya kita dihadapi dengan pendidikan campur campur antara lain kuliah Pengantar Ilmu Hukum yang menyebut Norma Agama dan Norma Hukum sebagai dua norma yang terpisah. Padahal ada beberapa agama yang menerapkan aturan hukum sebagai bagian integral dalam agamanya, antara lain Islam dan Yahudi. Apalagi, kita memahami teori-teori hukum tergeneralisir sebagai fenomena sosial yang berubah seiring zaman sehingga untuk memahami teori hukum harus mengamati juga keadaan si pembuat teori vs perkembangan zaman.

Bukannya hukum agama sekaku itu. Dalam Islam, tentu saja ada ruang ijtihad berdasarkan maslahat. After all, dalil dalil ahkam sebetulnya tidak mendominasi keseluruhan materi Al Qur’an dan As-Sunnah, dan sebagiannya pun ada yang terbuka untuk ijtihad sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Tapi jika kemudian jika pihak lain ini ketika mengaku Muslim lalu mendapati sebuah aturan yang dianggap bertentangan dengan norma dan keadaan yang ada sekarang, ini sangat menarik.

Saya kesampingkan dulu pertanyaan apakah si pihak lain ini betul-betul paham mana ranah yang terbuka untuk ijtihad, atau apakah mereka merasa bahwa Allah itu tidak mengetahui apa yang akan terjadi sekarang. Karena intinya, mau dibahasakan apapun, sebuah vonis umum “ajaran Islam yang nggak sesuai zaman harus direvisi” secara logis hanya dapat bermuara kepada satu pertanyaan dari saya:

MEMANGNYA KAMU ALLAH?

Yang Dikira “Bapak Bapak Random Disuruh Khutbah” Ternyata…

Suatu hari di kota Edinburgh, Scotland (UK).

Hari itu adalah tanggal 27 Desember 2013 yang bertepatan dengan hari Jumat yang sangat mulia, di pertengahan musim dingin yang sangat janggal. Sedikit membekas di ingatan saya, kilasan-kilasan kota Edinburgh sekitar 20 tahun sebelumnya. Saat saya masih kecil sekali ikut ayah saya kuliah Ph.D di Inggris (tepatnya di Salford, tapi kami tinggal Manchester. Jakarta-Bekasi lah kira-kira bandingannya), kami pernah main ke Edinburgh. Dulu, salju sangat tebal dan saya bermain-main mengejar-ngejar burung Robin. Tapi pada musim dingin tahun 2013 itu, memang sangat dingin tapi tidak tampak salju. Malah kami mendengar salju turun di Mesir dan jazirah Arab.

Seperti biasa, menjelang siang saya bergegas menuju Edinburgh Central Mosque untuk shalat Jumat. Sulit masuk ke tempat wudhu yang letaknya di basement, tanpa bersalam-salaman dulu dengan banyak sekali orang. Ini adalah satu hal yang rasanya tidak banyak saya temukan di Indonesia. Bagi kami yang biasa ke Masjid (banyak sekali, Alhamdulillah), makin lama makin kenal siapa saja yang biasa ke sana. Walaupun belum tentu kenal nama, tapi kalau berpapasan pasti tahu ‘oh itu sering ke masjid’ dan pasti saling menegur dengan sapaan tertinggi yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w.: Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh!

Bahkan setelah saya pulang ke Indonesia di minggu pertama bulan Agustus 2014, ketika saya kembali ke sana untuk wisuda pada November 2014, banyak sekali jamaah yang bergegas menghampiri saya saat saya mendekati masjid (diantaranya banyak yang belum pernah ngobrol, Cuma mengucapkan salam saja), mengerubuti saya, lalu bertanya saya kemana saja kok tiba-tiba hilang. MashaaAllah. Kalau di sini bagaimana?

Awal-awal saya di Edinburgh (September 2013), biasanya sang Imam asal Mesir bernama Shaykh Usama Zaki yang memberi khutbah. Lalu tidak lama kemudian setelah beliau selesai jabatannya dan (kelihatannya) pulang ke negaranya, sempat ada kekosongan. Akhirnya yang memimpin shalat serta khutbah bergantian antara:

  • Shaykh Adel Bawazeer, asal Saudi Arabia
  • Imam Yahya Barry, asal Gambia tapi besar di London, lulusan Madinah
  • Akh Majd, mahasiswa Ph.D teknik asal Suriah tapi ilmu dan shalehnya mashaaAllaah, dan
  • Akh Akh Abdul’adzim, bocah 19 tahun asal Libya yang hafidzul Qur’an, saya belum pernah melihat beliau khutbah tapi bacaan Qur’annya yang menggunakan qiraat qaaluun saaaangat indah.

Biasanya ya dua yang teratas saja yang mengisi khutbah, dan sesekali Akh Majd yang mengisi. Eh, kali ini ternyata kami kedatangan khatib tamu yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Dan memang hati yang lengah akan mudah mengirim signal kepada alis untuk mengerenyit melihat orang ini. Bentuknya sama sekali tidak representatif sebagai seorang yang hendak mengisi ceramah.

Imam yang lain biasanya akan menggunakan gamis terbaiknya yang diberi ornament yang tampak megah, atau setidaknya gamis polos yang –kalau dari perspektif saya—sudah memberi kesan yang wow. Bukannya saya fashion-minded, tapi sepemahaman saya biasanya seorang yang akan berkhutbah (atau Imam masjid yang memimpin shalat) akan mengenakan pakaian yang bagus dan Islami. Kalau di UK, biasanya ya pake gamis. Misalnya, silahkan lihat foto-foto di bawah ini. Saya Cuma berhasil menemukan foto-foto ini saja, yaitu Imam Yahya (tidak ada sudut yang oke tapi kelihatan lah ya), lalu Akh Majd dan Akh Abdul’adzim yang keduanya sedang memimpin shalat, tapi ini kalau tidak salah memang sengaja difoto untuk keperluan tertentu, jadi siapa tahu anda ada yang bertanya siapa yang memfoto orang shalat dari depan.

 

Imam Yahya siap berkhutbah

Imam Yahya siap berkhutbah

 

ini Akhi Majd

ini Akhi Majd

 

ini Akhi Abdul'adzim. Shaykh Adel Bawazeer kalau khutbah juga pakai baju begini, tapi ditambah pake tudung Saudi yang merah kotak-kotak itu mbuh apa namanya

ini Akhi Abdul’adzim. Shaykh Adel Bawazeer kalau khutbah juga pakai baju begini, tapi ditambah pake tudung Saudi yang merah kotak-kotak itu mbuh apa namanya

 

Jadi mohon dimaklumi kalau saya terkejut melihat ada bapak-bapak menduduki mimbar di depan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, lalu tampak dia berpakaian yang kelihatan seadanya. Badan beliau tegap, dengan rambut yang lurus belah pinggir berwarna agak kecokelatan. Pakaian beliau, kalau tidak salah waktu itu polo shirt dengan celana jins dan jaket yang tampak sangat biasa saja. Maaf saya tidak ada dokumentasi waktu khutbah. Saya ingat saya duduk lumayan dekat ke mimbar jadi posisinya sangat bagus, tapi ya masa saya poto poto orang waktu khutbah.

Apalagi, ternyata, khutbahnya itu….

Saya sudah berkecimpung di dunia public speaking lebih dari 10 tahun, dan saya paham betul bagaimana pentingnya kefasihan dalam menguasai sebuah bahasa untuk bisa menyentuh hati orang lain dengan medium bahasa tersebut. Bahasa Inggris beliau sangat baik untuk ukuran seseorang dengan bahasa Inggris bukan sebagai bahasa utamanya tapi jelas tidak sempurna. Akan tetapi, tapi setiap kata yang keluar dari beliau begitu mengguncangkan dan menggetarkan hati kami yang mendengarkannya. Di sekeliling saya tidak sedikit yang sampai meneteskan air mata.

Beliau mengawali khutbahnya dengan bercerita tentang keutamaan-keutamaan Masjid Al-Aqsha dalam Al Qur’an, terutama melalui Surah Al Isra ayat 1 dan kaitannya dengan ayat-ayat selanjutnya. Kemudian beliau melanjutkan dengan menceritakan bagaimana kaum muslimin Palestina harus berjuang untuk mempertahankan Masjid Al Aqsha tersebut, dengan harta dan nyawa. Di situlah saya baru ketahui bahwa ada pungutan-pungutan liar yang dikenakan pada kaum Muslimin sekitar Masjid Al Aqsha (beliau hanya menyebutkannya sekilas saja).

Khutbah beliau betul betul mengobok-obok hati kami. Terkadang beliau membuat kami terpesona saat menceritakan keutamaan-keutamaan Al Aqsha, di lain waktu kami jadi merasa begitu marah mendengar apa yang dilakukan oleh kalangan Zionis terhadap Al Aqsha, lalu kami menjadi sangat sedih saat diceritakan penderitaan kaum Muslimin di sana, lalu menjadi begitu malu saat menyadari betapa sedikit sekali kami bisa berbuat.

Beliau mengatakan bahwa urusan perjuangan fisik, biarlah sementara waktu pejuang-pejuang Palestina yang berusaha menjaga Masjid al-Aqsha. Sulit dan dikhawatirkan malah lebih banyak mudharatnya jika dari Negara-negara lain secara sporadis berdatangan untuk membantu dengan cara itu, sedangkan kelak ada saatnya di mana itu akan terjadi yaitu di bawah panji Imam al-Mahdi. Biarlah sementara pejuang-pejuang Palestina yang mempertahankan Masjid Al Aqsha dengan harta, walaupun tentu di sini kita juga bisa bantu walaupun harus membagi juga untuk bersedekah dengan rakyat sana yang miskin.

Utamanya, beliau memohon sekali agar kami tidak melupakan Masjid Al Aqsha dalam doa. Saya pikir-pikir saya sendiri kalau berdoa setelah shalat atau dalam keadaan-keadaan lain, jarang sekali mendoakan Masjid Al Aqsha. Nggak jauh doa saya dari hal-hal yang untuk diri saya sendiri saja. Tapi di sini lah justru saya (dan barangkali banyak jamaah lain juga) merasa sangat malu. Begitu sedikit sekali bahkan mendekati nol yang bisa kami lakukan, baik secara harta apalagi secara fisik. Giliran kekuatan terbesar umat Islam yaitu doa, yang mana secara konkrit hanya membutuhkan usaha yang sangat sedikit, ternyata malah sering sekali lupa. Padahal di sana begitu berat kaum Muslim Palestina berjuang dengan fisik, harta, nyawa, apalagi doa.

Sekarang saat saya merenungkan kembali khutbah beliau (setiap kali saya teringat khutbah beliau, saya agak merinding. Bahkan sampai sekarang), fikiran saya dicampur sedikit dengan apa yang dikatakan Cak Ihsanul Faruqi (Abu Zubair) saat kopdar di Jogja, yaitu kira-kira begini: “kalau akhir zaman itu, Muslim yang teguh berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah itu seakan memegang bara api. Kalau kita masih hidup enak, paling Cuma dicela-cela sedikit saja, apa sudah merasa seperti pemegang bara api yang dimaksud pada hadist itu?”

Malu rasanya, begitu banyak berkoar-koar tapi faktanya begitu sedikit berkontribusi.

“Please, I beg you. Remember Masjid Al-Aqsha in your du’as. Never forget Masjid Al-Aqsha.”

Siapa sih orang ini?

Ketika khutbah sudah selesai, iqamat dikumandangkan dan kami langsung berdiri untuk menunaikan shalat Jumat. Setelah selesai membaca Surah Al Faatihah, beliau melanjutkan dengan membaca Surah Al Isra yang tadi ayat 1-nya baru saja dibahas. Biasanya saya pribadi kalau shalat agak susah sekali focus dan khusyuk, sampai khawatir juga saya karena kalau dalam Tafsirnya Imam Al-Qurthubi katanya kalau shalat tidak khusyuk maka tidak sah karena khusyuk adalah rukun shalat (ini pendapat mazhab Maliki, yang merupakan mazhabnya Imam Al-Qurthubi). Kali ini berbeda sekali.

MashaaAllah, bukan hanya bacaan beliau yang saaangat merdu, melainkan juga hati kami masih terdampak oleh khutbah tadi dan ditambah ayat-ayat ini tadi sempat dibahas jadi kami (saya) paham arti dan maknanya –setidaknya sejauh yang tadi dibahas di khutbah. Betapa istimewa shalat Jumat saat itu. Siapa sih orang ini???

Sayang sekali saya buru-buru harus pergi setelah selesai shalat Jumat karena mau pergi ke Glasgow (kota sebelah) bersama teman-teman Indonesia yang main dari kota Birmingham, jadi saya tidak sempat investigasi siapakah sang Imam. Di jalan keluar ada beberapa orang saya tanya dan semuanya tidak tahu.

Agak malam, saya menerima email dari Muslim Association of Britain – Edinburgh. Mereka adalah organisasi yang kelihatannya sedikit mengadopsi model ikhwani, dan mengadakan Brothers Circle (liqo) setiap minggunya. Biasanya email yang mereka kirim adalah mengingatkan kami untuk hadir di sesi berikutnya sekaligus mengingatkan pembicara, karena pembicaranya bergantian tiap minggunya dan kami-kami juga yang mengisi (di sini saya mendapat amanah mewakili Islamic Society di Edinburgh University untuk membedah buku In The Early Hours karya Ustadz Khuram Murad). Kali ini email berisi hal yang lain, yaitu  bahwa yang tadi mengisi khutbah akan mengisi sebuah kuliah umum pada keesokan harinya. Di situlah tercantum identitas Sang Khatib yang sebelumnya masih misterius.

Beliau, hafidzahullah, ternyata adalah Shaykh Dr. Raed Fathi dari Masjid Al-Aqsha.

raed fathi

Sayang sekali saya tidak bisa menghadiri kuliah umum beliau karena ada di luar kota. Tapi saya tidak akan bisa dan inshaaAllah tidak akan mau melupakan nasehat dan permintaan beliau dalam khutbahnya itu.

 

 

PS: masih ada yang bertanya-tanya kenapa beliau harus berpakaian seperti itu, padahal bukannya beliau tidak punya pakaian bagus. Jawaban saya sama: Saya nggak tau dan saya nggak peduli.

SERANGAN DARI SESAMA MUSLIM: JAWABAN SAYA (PART 1)

  1. Itu Kan Budaya Arab

Ada banyak hal yang termasuk dalam topik ini, misalnya soal jilbab atau makan menggunakan tangan. Bukan menutup kemungkinan bahwa beberapa hal memang bisa jadi terkait budaya, tapi dari sekian tuduhan yang saya dengar itu sangat salah.

Soal hijab à Justru saat ayat hijab diturunkan (Surah An Nur ayat 31), para wanita Muslim baru memakai jilbab setelah sebelumnya tidak memakainya. Kisah ini diriwayatkan di Sahih Al Bukhari, Hadist No. 4758-4759. Ini bukti bahwa jilbab bukan budaya Arab.

Soal makan dengan tangan à memang betul, tidak ada larangan menggunakan sendok atau alat makan lainnya. Tapi kalau dibilang “tidak ada sunnahnya, karena Nabi Cuma melakukan itu karena zaman itu tidak ada sendok”. Ini adalah dusta. Sendok sudah ada dari zaman Mesir kuno, dan jazirah Arab bolehlah tandus tapi bukannya terkucilkan dari perdagangan dunia. Ditambah lagi, James E. Lindsay menulis dalam bukunya berjudul “Daily Life in the Medieval Islamic World” yang diterbitkan tahun 2005 terbitan Greenwood Publishing Group, pada halaman 128 menjelaskan bahwa masyarakat Muslim awal sudah mengenal sendok.

Belum lagi saya lihat orang-orang yang dengan asal sekali menghina orang yang menggunakan gamis Arab atau menggunakan istilah-istilah bahasa Arab, tapi sendirinya begitu bangga menggunakan pakaian atau istilah-istilah barat. Mungkin mereka lupa sejarah kita dengan barat jauh lebih berdarah daripada sejarah kita dengan Arab.

Lagipula, kalangan hukum Indonesia berbangga sekali dengan “Hukum Adat” dan menolak dibilang sama dengan “Hukum Kebiasaan”, dan lebih suka diterjemahkan menjadi “Adat Law” jika membicarakan hukum adat di Indonesia daripada mengatakan “Indonesian Customary Law”. Saya tidak menyalahkan hal ini. Monggo saja, saya juga senang ada keunikan Indonesia. Tapi, just for your information, kata ADAT ini adalah dari BAHASA ARAB.

Tanggapan saya pada yang mengatakan “itu kan budaya Arab”: ELU SOK TAU APA GIMANA?

Dusta kok atas nama Nabi.

 

  1. Sekarang Sudah Beda Zaman

Dalam Islam, setiap hukum memiliki illat. Ketika illat berubah, hukum pun berubah. Bukan tidak dikenal dalam hukum Islam, dalam aliran paling konservatif dan ekstrim pun, perubahan beberapa hukum karena maqasid shari’ah. Tapi, yang saya kesal adalah banyak sekali hal yang diserang oleh kalangan liberal dan fasiq ini yang berbasiskan sok tahu. Apapun yang tidak disukai oleh mereka, dibilang “kini sudah beda zaman”. Ini adalah hermeneutika digunakan tidak pada tempatnya.

Wajarlah kalau sebuah teks buatan manusia hanya akan cocok dengan kenyataan sosio-historis sekitar si penulis. Namanya manusia kan terbatas. Lah ini Allah lho chuy, dan Rasul-Nya yang dijamin oleh Allah lisannya (lihat Surah Al Haqqah ayat 44-47). Jika sampeyan memang nggak percaya sama Islam ya monggo. Tapi kalo Muslim ya percayalah pada Allah yang memiliki Asma antara lain Al-‘Ilm (Maha Tahu). Masa iya Dia memiliki keterbatasan selayaknya manusia? Belum dengarkah tepatnya ramalan di balik Surah Ar-Rum ayat 1-5? Headset saja sudah diramalkan sejak dulu (lihat hadist di Sunan ibn Majah No. 4020).

Ruang-ruang perubahan penafsiran melalui maqasid shari’ah adalah Rahmat Allah. Ada hal-hal yang sudah tegas tanpa celah, dan ada hal-hal yang memang dibukakan ruang untuk penyesuaian. Dan ini justru bukti lagi bahwa Allah Maha Tahu, karena Mengetahui urusan apa saja yang harus dibuat agak renggang supaya manusia bisa menyesuaikan dengan zaman.

Pertanyaannya adalah tentang “perubahan zaman” ini, apa yang berubah? Misalnya soal hukum waris Islam yang konon diskriminatif terhadap perempuan? Pertama, ini ucapan sok tahu. Perempuan jauh lebih dilindungi dalam hukum waris Islam daripada laki-laki. Kedua, ada klaim bahwa hukum waris seperti ini dan juga hukum lain terkait keluarga adalah berillatkan nafkah –karena perempuan tidak bekerja. Ini nonsense, karena dari zaman Rasulullah s.a.w. pun bukan tidak ada perempuan yang bekerja dan bahkan kaya, tapi hukumnya sama saja.

Lalu, perkembangan soal Hak Asasi Manusia. Pertama, dari kacamata hukum internasional, beberapa asas dasar HAM memang bolehlah diklaim universal. Tapi banyak aspeknya yang tidak universal, misalnya apakah perbedaan hukum yang berlaku antara laki dan perempuan adalah serta merta merupakan diskriminasi? Menurut the Convention on the Elimination of all forms of Discrimination Against Women (CEDAW), ya. Akan tetapi, mayoritas Negara Islam dan non Islam (misalnya Israel, Singapore, dll) yang mengecualikan pasal-pasal khusus ini saat meratifikasi CEDAW, artinya norma ini tidak bisa dianggap universal. Lagipula, sejak kapan suara manusia itu mengalahkan Suara Allah? Memangnya kalau seluruh manusia di muka bumi ini menentang Allah, maka Allah bisa salah?

Ini mencampur antara dua standar kebenaran yang terpisah. Yang satu adalah kebenaran diukur dari consensus, yang satu adalah kebenaran diukur dari divine authority. Nggak masuk akal kalau dua standar ini dicampur. Kalaupun mau dipaksa campur, maka hanya akan masuk akal jika “divine authority” berada di atas “consensus”. Kalau tidak, maka sudah bukan “divine authority” lagi. Makanya, pertanyaannya adalah: ente percaya dengan Allah atau tidak? Jangan maunya ngaku Islam, maunya mati dikafanin dan disholati, tapi pada kenyataannya malah melakukan hal-hal yang hanya masuk akal bagi orang yang tidak percaya dengan Allah.

Prinsipnya, peluang untuk berubah hanya ada pada hal-hal yang oleh Shari’ah diberi kelonggaran atau sengaja didiamkan (tidak ada “tidak sengaja didiamkan”, karena Allah Maha Tahu)

Jadi tanggapan saya pada yang mengatakan “sekarang beda zaman” adalah: SAMPEYAN KALO DI ALAM KUBUR DITANYA “MAA RABBUKA” DAN NJAWAB “UNIVERSAL DECLARATION OF HUMAN RIGHTS”, KIRA-KIRA NASIB ANDA GIMANA?

 

  1. Salafi Itu Suka Mengkafirkan

Saya mulai dengan tanggapan saya: SIAPA MEMANG YANG DIKAFIRKAN OLEH SALAFI?

Memangnya siapa yang dikafirkan, sampai berani bilang “suka mengkafirkan”? Maksudnya orang agama lain misalnya Nasrani? Allah sendiri yang mengkafirkan mereka dalam Surah Maryam ayat 17.

Justru kalau ada Muslim yang tidak mengkafirkan mereka maka bisa jadi dihukumi murtad Muslim tersebut, karena ada kaidah “barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir sesusah hujjah tegak atas diri orang kafir tersebut, maka ia kafir”. Walaupun tentu tidak semudah itu juga mengaplikasikan kaidah ini (lengkapnya baca di sini), tapi intinya seserius itulah jika tidak mengkafirkan orang yang telah jelas kafir.

Apakah maksudnya adalah Syiah? For your information, Syiah Rafidhah ini sudah dikafirkan oleh sekian banyak ulama zaman dahulu, antara lain: Imam Malik, Imam Shawkani, Imam Shafi’i, Imam Ahmad, Imam ibn Hazm, Imam ibn Kathir, Imam Ar-Razi, Imam Al Qurthubi, Imam ibn Taymiyyah, dll. Semua Imam ini adalah panutan dari beraneka mazhab di seluruh dunia sekarang. Bagaimana tidak? Antara lain, mereka menisbatkan Nama dan Sifat Allah pada para Imam mereka yang mana hal tersebut adalah syirik al akbar. Belum lagi masalah penghinaan kepada Sahabat Rasulullah s.a.w. yang, antara lain, merupakan hujjah Imam Malik  atas kekafiran Syiah (dan diamini oleh Imam ibn Kathir dan Imam al Qurthubi). Banyak lagi hujjahnya.

Okelah, sekarang zaman sudah berubah. Syiah sudah berevolusi menjadi beraneka sekte dan tentu itu harus dipertimbangkan lagi. Akan tetapi, apa illat kekafiran syiah? Jika melihat syirik al-akbar mereka, untuk sekte Imamiyah dan yang lainnya, ya masih. Jika melihat penghinaan dan pengkafiran sahabat, ya masih juga. Bukankah ini mudah sekali artinya dijadikan hujjah untuk para salafi wahabi untuk mengkafirkan syiah?

Ternyata tidak.

Jangankan Salafi Saudi yang menurut banyak orang sudah sangat konservatif. Al Qaeda pun tidak berpendapat demikian! Fatwa ulama-ulama Saudi dan Al Qaeda mengatakan bahwa aqidah syiah Imamiyah jelas adalah akidah kafir, tapi untuk para pemeluknya yang awam dan masih mengaku Muslim secara hukum tetap dianggap Muslim sampai secara masing-masingnya secara individu terbukti sebaliknya secara case per case. Makanya, antara lain, ini sebab orang Syiah masih dibolehkan masuk Mekkah dan Madinah.

Inikah “asal mengkafirkan” ala Salafi?

Justru banyak awam dan liberal yang mudah sekali mengkafirkan dari lisannya. Contoh saja, saat mendengar serangan-serangan teroris yang konon dilakukan oleh kelompok ekstrimis Al Qaeda atau ISIS. Mudah sekali mengatakan “mereka bukan Islam”. Saya tidak tahu apa yang ada di balik pikiran orang-orang yang mengatakan hal ini, maka saya berpegang pada apa yang dzahir yaitu kata-kata yang terlontar: “bukan Islam” ini ya artinya kafir.

Kalau Salafi akan bilang bahwa aksi ekstrimis ini “tidak sesuai dengan ajaran Islam”, dan para pelakunya “Muslim, tapi melakukan kesalahan-kesalahan yang sangat besar”. Tapi sampai mengkafirkan? TIDAK.

Belum lagi, kata “SUKA mengkafirkan” ini adalah dusta yang sangat berlebihan. Lihatlah, Salafi pun sama seperti kelompok lain yang sangat bersyukur jika ada orang masuk Islam. Senangnya juga luar biasa kok. Dikira enak mengkafirkan orang? Enggak bro!

 

(….. bersambung ke Part 2)

Is There Only One Way?

 

The title is a question of “whether”, but numerous people ask a similar question in form of a “why”: why should there only be one way? Why should there be a ‘right way’ and a ‘wrong way’? Why cant it be up to us to choose our way? Don’t “all roads lead to Rome”?[1]

Let us reflect and reflect on this.

Imagine both of us are in Hamburg, Germany, on a car. We are going to Rome, with me on the wheel and you sitting by my side. We start from Kalckreuthweg, and I drove West. Realizing that a trip West will not get us to Rome even after circling the Earth 300 times, you reminded me: “we should be heading South! Rome is South!

How would you feel if reply this: “It is my rights to choose my own way, and you have no rights to judge me. Don’t all roads lead to Rome?

Depending on what kind of person you are, you may either: laugh, be mad, cry, or at least roll your eyes at my stupidity. Certainly that proverb isn’t to be taken literally. Many roads may indeed all lead to Rome, but of course there are roads that will not get you there![2]

So is the same for life. Isn’t it not part of an undisputed part of nature that, when one’s goal has been set clear, there is consequently a ‘right way’ and a ‘wrong way’? Despite the trend of human rights and postmodernism today, the so-called human rights will not change the state reality. Just like how Rome will not change its position to West of Hamburg just because it is what I wish to believe.

The choice is only on what to do with the reality.

With its proper non-literal understanding, all (many) roads indeed lead to Rome. It is equally true that, for example, Allah has given us many different ways to achieve forgiveness. The faraid shalats, good deeds, and so many other ways including ‘asking for forgiveness’: each and every single one of these acts would erase your past sins.

But, there are guidelines you have to follow if you really want to reach Rome. It is not up to you to make it up yourself at your convenience, rather you should see the fact of where Rome is and what are your options and only then can you choose which of those is the best. This is true also to this life.

There is one particular and exact prayer we recite seventeen times per day,[3] taught directly by Allah in the first Surah of the Qur’an:

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٲطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ (٦) صِرَٲطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ (٧)

Guide us to the straight path. The path of those upon whom You have bestowed favor, not of those who have evoked [Your] anger or of those who are astray.” (Surah Al-Faatiha ayat 6-7)

 

The first thing to note from the above ayat is that there is a path that is straight (the right path) and there is another that is not (the wrong path). Very similar to our situation in Hamburg, you do not want to be astray and lost on the wrong path by going with me West. You wish to be on the right path if you still want to go to Rome. But how did you even know that Rome was supposed to be South (and not West) in the first place? You had guidance.

The second thing to note is that through the above prayer we beg ٱهۡدِنَا which means “guide us”. Now take a copy of the Qur’an, and read Surah Al-Faatiha. You know that the above prayer is the last part of the Surah. Then continue reading to the next Surah, just two ayats. Did you realize that Allah directly answers the previous prayer He taught you?

That is Surah Al Baqarah ayat 1-2:

الٓمٓ (١) ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ (٢)

“This (The Qur’an) is the Book about which there is no doubt, a guidance for those conscious of Allah”

 

Right after we ask Him to guide us (ٱهۡدِنَا), He then says how He gave the Qur’an as guidance (هُدً). Now that we have the guidance to the straight path, not a guidance we made up or anything, but straight from The Owner and The Creator of those paths, does it make any sense to not follow this path?

An example would be the previously mentioned ways to achieve Allah’s forgiveness. It is not up to us to make up our own way, but rather we have to see what Allah says are the ways to achieve His forgiveness and only then we can choose. The examples mentioned earlier were said directly by Allah through the Qur’an or through Rasulullah s.a.w., such as the one where good deeds erase sins. We know this not because ‘it would be nice’ or ‘that’s what I think is fair’ or worse ‘its my rights to think so’, but its because Allah said so.[4]

I understand that the idea of “just follow” may sound at least foreign if not outrageously unacceptable. However, if we were to be really honest, this concept is not so foreign or outrageous after all.

Maybe at some point of your life you have sought a doctor to tend to an illness you unfortunately had. If you are not someone learned in medicine, how critical will –or can—you be to that doctor? A person with a long history with illness like myself may generally be more critical, ask more questions, probably seek second opinions. However, there will always be that line where we just have to trust the doctor’s medical education and experience. So, in this case, ‘just follow’ makes perfect sense.

Well, how can it not? Try arguing against your doctor, probably say “I know best of my own body!” just to add to a very typical (uneducated) argument.

A medical doctor is not immune from mistakes, since they are humans. But they typically have almost 10 years of education and training where only the best may pass through so many layers of tests and requirements, and in addition to that they may have pursued further education and training or at least years of experience as a doctor.

This is while you probably don’t know what Metoprolol Tartate is and let alone its side effects,[5] or and you might not now either what an alveolus is despite it being in your own body.[6]

While it makes perfect sense to ‘just follow’ a not-perfect-albeit-very-knowledgeable doctor, certainly it makes more sense to ‘just follow’ the guidance given by Allah who knows everything.[7] When The Lord of The Universe says that you should do something while you (the person who didn’t know what Metoprolol Tartate is) think you shouldn’t, is it possible that He is wrong and you are right?

Allah says:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـًٔ۬ا وَهُوَ خَيۡرٌ۬ لَّڪُمۡ‌ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـًٔ۬ا وَهُوَ شَرٌّ۬ لَّكُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not.” (Surah Al Baqarah ayat 216)

 

Does it make any sense that we may have a better idea of proper guidance than He does? If anyone says ‘yes’, then this is pride or arrogance.[8] The hadith mention how pride and arrogance has such serious consequences, and this is despite being ‘only’ being arrogant towards fellow flawed humans. Imagine how illogical, nonsensical, and how severe the consequences may be, if this arrogance is targeted to The Almighty Allah?

Allah says:

وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَـٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُواْ عَنۡہَآ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ

But the ones who deny Our verses and are arrogant toward them – those are the companions of the Fire; they will abide therein eternally.” (Surah Al A’raf ayat 36)

 

So by now we should already understand that although many roads may lead to Rome, but not all do. And here we are in Hamburg, Germany, on a car, moving West, but this time you are on the wheel and I remind you that Rome is South and not West.

Would you not turn South?

[1] This is an old proverb, which is used to express that there could be more than one different ways to achieve a goal.

[2] This proverb uses the word ‘all’, but it is commonly understood to mean ‘there are many’ and used that way. People generally know that ‘all’ isn’t to be taken literally.

[3] Counting only the faraaidh (compulsory) shalaats five times a day, not including the sunnah shalats

[4] Allah says: “Indeed, good deeds do away with misdeeds.” (Surah Huud ayat 114). A summary of more ways to seek repentance together with the basis from the Qur’an or Hadith can be found in the works of the great scholar Ibn Taymiyya, in his Majmu’ al-Fatawa 7/487-501

 

[5] Metoprolol Tartate is a medication for high blood pressure, side effects may include constipation, headaches, etc

[6] Alveolus, in the body, is “a small air-containing compartment of the lungs in which the bronchioles terminate and from which respiratory gases are exchanged with the pulmonary capillaries” (Merriam-Webster Dictonary).

[7] Allah says:“He knows that which is in the heavens and that which is on the earth” (Surah Al-Imran ayat 29)

[8] Rasulullah s.a.w. said: “He who has in his heart the weight of a mustard seed of pride shall not enter Paradise. A person (amongst his hearers) said: Verily a person loves that his dress should be fine, and his shoes should be fine. He (the Holy Prophet) remarked: Verily, Allah is Graceful and He loves Grace. Pride is disdaining the truth (out of self-conceit) and contempt for the people.” (Sahih Muslim Hadith No. 91a narrated by Abdullah ibn Mas’uud r.a.)

Thariqus Shalihin – Entering Heaven By Fearing Allah (Part 2 of 6)

Entering Heaven by Fearing Allah (Part 2 of 6)

Translated from: Thariqus Shaliheen by Ust. Anshari Taslim (may Allah preserve him), Chapter I: Iman and Aqeedah

Translator: Fajri Matahati Muhammadin

11214087_10207135748702812_8492173964859654057_n

 

A Few Virtues and Wisdoms Behind the Fear of Allah

  1. Allah forgives those who fear him

Allah Ta’ala says:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ لَهُم مَّغۡفِرَةٌ۬ وَأَجۡرٌ۬ كَبِيرٌ۬

Lo! those who fear their Lord in secret, theirs will be forgiveness and a great reward.” (Surah Al-Mulk, ayat 12)

There is a story narrated from an authentic hadeeth reported by Al-Bukhari and others with a few different version of narrations, but there are some differences in the texts as it was narrated from a number of companions r.a., i.e. Abu Sa’id Al Khudri, Abu Hurayrah, and Hudzayfah – may Allah be pleased with them. I shall therefore share the story in these ahadeeth in a free narration based on all versions.

Here goes the story:

Before the time of Islam, lived a man who thinks he has never done any good in his life. Even, it was said that he used to be a tomb raider.

After he has attained an old age, he owns a large sum of wealth and children to inherit them. One day, he felt that he is about to meet his Maker (i.e. die). He then gathered his children and asks them “My children, what do you say about your father?” they answered, “To us, you are the best of fathers.” He continues, “Upon my death, burn my body to ashes, then spread it to the air during a hot and windy day.”

(other versions say that his ashes were to be spread to the ocean or to the lands)

He continued, “if Allah finds my body, oh boy! He will torment me with such a torment He never gives to any other.”

Unsatisfied with the message, he even asked his children to swear that they will commit the deed he has instructed. If they fail to do so, he will be neither happy nor willing to inherit his wealth to them.

He hoped that through such an action, Allah cannot obtain his body, because if he could be resurrected and accounted for on judgment day, he can already imagine all the punishments Allah will impose to him.

He did not know that Allah is The Most Powerful. Allah can very easily command the oceans and lands to reassemble the remains of this man as it were before. His body was very easily resurrected before Allah. One can only imagine how terrified he was, facing Allah who will certainly ask him of his deeds in the world.

Allah asked him “Why did you do so (i.e. asking for his remains to be burned –ed)?” He can do nothing but reply honestly, “For fear of You.” Hearing this, Allah forgave him.[1]

This hadeeth was narrated from various chains from Abu Hurayrah Abu Sa’id al-Khudri, and Hudzaifah – may Allah be pleased with them. There are numerous virtues which we can learn from this story, but the main focus which we shall emphasize for this topic is the man’s fear for Allah. All versions of this story agree that the reason why the man asked for his remains to be burned was his immense fear for Allah. Therefore, Allah forgave him despite all versions mentioning that this man is a sinner and has never committed any good in this world.

Therefore, the fear of Allah can be a cause for a person to receive the mercy of Allah, so that his sins are forgiven and that she/he can enter jannah.

 

[1] Sahih Al Bukhari, No. 3452, 3479, 6481, 7506, Sahih Muslim, No. 2756, 2757, Al Muwaththa’, No. 568, and Sunan ibn Majah, No. 4255

 

—————————————————-

Notes From the Translator

General Notes:

Probably I shall just repeat the general note in the previous Thariqus Shalihin translation:

Translations for texts of hadeeth and Qur’an are taken from credible English translations (M. Marmaduke Pickthall for the Qur’an, and www.sunnah.com for hadeeth from the as-Sittah).

The other notes I make below (and for future translations of Thariqus Shalihin) is not intended to be some sort of academic commentary, as I am no scholar and definitely not in the position to make such commentary. However, these are just some thoughts that came to my mind when reading the text so I just thought I should share them (since its my blog anyway)

A physical copy of this book (in Bahasa Indonesia) can be purchased for Rp. 80.000,- (excluding delivery costs). Kindly contact Ust. Anshari Taslim directly through his facebook account to place your order.

Note 1:

I understand how many people may wonder why is it such a great deal to fear Allah. Some may say that it is not good to rule by fear. But consider this: if we are really honest, there is no proper order without some level of fear. Why else would we avoid danger? There just has to be a good balance between fear and hope, between love and hate. Yes, hate. There are things that you must hate such as sins and evil. To change them you may require compassion, but towards the act of sin and evil itself there must be hate. This is for another topic inshaaAllah.

Remember, the fear of Allah’s wrath is one aspect of this religion. But dont forget how He is also The Compassionate, The Merciful, and The Oft Loving.

As narrated by Abu Hurayra r.a., Rasulullah s.a.w. said:

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

“When Allah completed the creation, He wrote in His Book which is with Him on His Throne, “My Mercy overpowers My Wrath“.” (Sahih Al Bukhari, No. 3194, Sahih Muslim, No. 2751a, with additional emphasis)

Probably you can see the truth of this hadeeth qudsi in the story narrated in the main article above.

Note 2:

In the story, when Allah asks the man why he did what he did, do not understand this as Allah did not know. Of course Allah knows because He is the Al-knowing. This conversation was revealed to us through the hadeeth so that we can learn from it. And Allah Knows Best.

OTHER PARTS OF THARIQUS SHALIHIN

Chapter I : Imaan and Aqeedah

1. Iman and Islam: The Main Road to Jannah

2. The Believing Sinner can Enter Jannah?

3. Entering Heaven By Fearing Allah (Part 1), (Part 2), (Part 3), (Part 4), (Part 5), (Part 6),

Pesan Damai dan Toleransi Jelang Natal

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Post ini saya buat ditujukan untuk kawan-kawan saya terutama yang Non-Muslim (khususnya Nasrani, karena mau natalan) dan Muslim tapi mengucapkan selamat natal.

Kepada teman-teman Non-Muslim

Saya termasuk di antara mereka yang tidak mengucapkan selamat hari raya untuk agama lain. Agama saya mengajarkan untuk berbuat adil dan baik kepada non-Muslim, bahkan saya diharamkan untuk menghina sesembahan anda ataupun memaksakan agama saya pada anda. Jika anda mengenal saya, maka anda pasti mengetahui bahwa itu bukan karena saya tidak toleran. Saya sudah sangat biasa bekerja sama dan berteman dengan pemeluk agama lain dengan seru dan inshaaAllah tanpa mengkompromikan aqidah. Saat kuliah S2 lalu, saya juga sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan dialog persahabatan lintas agama, dan hubungan saya sangat baik dengan para pendeta yang menjabat sebagai “University Chaplain”.

Terutama sekali, saya ingin berterima kasih kepada kawan-kawan Nasrani atau beragama lainnya yang sudah menghormati dan memaklumi kenapa saya tidak mengucapkan selamat atau hadir pada acara natal atau hari raya lainnya, walaupun anda hadir dan memberi selamat pada acara-acara hari raya kami. Antara lain kawan-kawan dari Chaplaincy of the University of Edinburgh, kawan-kawan Edinburgh Interfaith Association, rekan-rekan di kantor sekarang, dan juga teman-teman saya yang sulit saya sebut satu persatu. Alhamdulillah, hal ini tidak dilarang dalam agama anda sehingga kami bisa pamer beraneka ragam masakan yang bisa kami hidangkan, hehehe.

Inilah toleransi, bagaimana anda tetap menyelamati dan menghadiri acara hari raya Islam walaupun kami tidak melakukan hal yang sama, karena kita saling menghargai batas-batas yang ada pada agama kita masing-masing. Kalau waktu di Scotland, toleransinya gantian kalau ada acara antar umat, biasanya makanannya vegetarian untuk menghargai yang Hindu. Kami yang Muslim kan senang sekali makan kambing, dan selain Muslim dan Yahudi senang sekali makan bacon! Tapi Alhamdulillah, kalau bukan karena itu, saya tidak akan tahu bahwa Dhal dan Chickpea Curry ternyata enak sekali!

Bagi kawan-kawan non-Muslim yang belum memahami kenapa saya melakukan ini, saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya tapi saya tidak menyesal atas perbuatan saya. Ini bukan tentang saya tidak ingin bertoleransi, melainkan saya menjalankan apa yang diajarkan agama saya. Penjelasannya panjang, tapi intinya kerangka berfikir agama anda dan agama kami berbeda, dan sangat sulit menilai pertandingan bola basket dengan aturan sepak bola. Terlepas dari itu, bukankah jika menuntut saya untuk tidak melaksanakan ajaran agama saya (baik sebagian maupun seluruhnya), justru itulah yang merupakan bentuk intoleransi?

Untuk Kawan Muslim Yang Ikut Mengucapkan Selamat Natal

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan untuk teman-teman yang ada di golongan ini.

Pertama, posisi saya jelas: anda salah. Kalau dalam konteks HAM, anda memang berhak sekali untuk kukuh dengan pendapat anda. Demikian pula saya, yang punya hak untuk kukuh dengan pendapat saya. Mau adu hujjah, ayo.

Kedua, saya mendoakan ketulusan niat bagi anda dan pada diri saya. Jika kita tulus, inshaaAllah akan diberikan jalan pada pemahaman yang betul. Atau kalaupun Allah menakdirkan kita terus dalam keadaan tidak tahu bahwa hal ini salah, saya berdoa kita diberikan udzur jahil dan diberi pahala karena niat kita. Tapi jika kita ngeyel dan tidak mau diberi tahu, walaupun ternyata pendapat kita betul tapi bisa jadi justru tetap kita dianggap berdosa. Shalat saja yang dalam hadist Musnad Ahmad saja merupakan hal pertama yang dihisab, rukun Islam kedua, yang mengerjakannya sampai dilaknat oleh Allah dalam Surah Al Ma’un jika –antara lain—dilakukan dengan niat yang salah (yaitu riya’).

Ketiga, sebagai perpanjangan dari poin sebelumnya, semoga kita lebih giat dalam mencari ilmu agama. Selain karena itu adalah kewajiban bagi kita untuk paham ilmu agama dan jangan Cuma ilmu dunia. Allah mengutuk orang-orang seperti itu dalam Surah Ar-Ruum ayat 7. Dengan demikian, inshaaAllah keputusan-keputusan yang kita ambil akan lebih berkualitas. Selain itu, orang yang memiliki semangat belajar tinggi akan merespon kritik dengan cara yang berbeda. Alih-alih langsung defensif, dia akan memperhatikan hujjah si pengkritiknya itu. Walaupun pada akhirnya dia tidak teryakinkan, tetapi inshaaAllah tetap ada faedah yang dapat diambil.

Apalagi kalau misalnya yang mengkritik anda (atau menyampaikan pendapat bersebrangan dengan anda) adalah ulama yang sudah makan asam garam hafal Qur’an hafal ribuan hadist dan lain sebagainya. Apa kita tidak malu, dikritik dengan beraneka ragam ayat hadist kitab tafsir dan fiqih dan lain sebagainya, dan kita mementahkannya hanya dengan satu statement ambigu “tapi kan tergantung niatnya”. Si ulama tadi bukan tidak mungkin salah. Tapi mbok sadar diri lah dan tahu tempat. Minimal, kalaupun anda tidak teryakinkan oleh si ulama tadi, ambillah faedah ilmunya dan jangan juga dibilang bodoh. Nanti anda ditanya balik “bahasa Arabnya ‘bodoh’ apa?” belum tentu tahu juga.

Keempat, mari jaga akhlaq dan adab kita. Simpan perbedaan pendapat kita untuk diskusi-diskusi sehat yang sangat bisa dilakukan dengan damai, lalu selain selebihnya ya kita adalah saudara. Jangan sampai karena ketidaksetujuan kita dalam satu hal, lalu kemudian berlepas diri sepenuhnya apalagi mengkafirkan. Ketidaksetujuan ada tempat dan adabnya, selain dan selebihnya ya ada kesetujuan yang dapat disyukuri.

Seperti yang saya pernah cerita dalam salah satu status Facebook saya, saya punya kawan yang Salafi tukang tahdzir luar biasa. Dia sangat keras mentahdzir Ulama salafi sekalipun jika Ulama rujukannya sudah mentahdzir. Apalagi kalau mentahdzir sufi dan penganut aqidah ash’ariyah. Luar biasa kalau berdiskusi agama bisa panas. Akan tetapi, diskusi tersebut panas dalam substansi tapi sangat lembut dalam tutur kata. Lebih lagi, mereka ternyata tidak ada ikhtilaf dalam menikmati biryani atau bermain sepakbola! Shalat jamaah bareng pun tidak apa-apa, padahal si sufi ini sering menjadi Imam di masjid.

 

Demikan pesan damai saya, untuk segala kekurangan saya mohon maaf.

Wassalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh

Thariqus Shalihin – Entering Heaven By Fearing Allah (Part 1 of 6)

Entering Heaven By Fearing Allah (Part 1 of 6)

Translated from: Thariqus Shaliheen by Ust. Anshari Taslim (may Allah preserve him), Chapter I: Iman and Aqeedah

Translator: Fajri Matahati Muhammadin

11214087_10207135748702812_8492173964859654057_n

Picture yourself on a small boat, paddling through a deep river at night in the middle of a forest. There is no light, and you know the river has tons of crocodiles. Then, your boat sunk. Very tall trees stand on your right, and an even taller and un-climbable cliff stands on your left. You have neither friends nor tools to help you, except your very self desperately trying to reach the shores and you can hear the movements of more than one crocodiles closing in around you.

That, my brothers and sisters, is just in the world. Imagine facing the afterlife, where ahead of you lies the deepest pits of hell fire because of all your sins! Nobody stands in your defense, and no lawyer could help you here. No kind of wordplay or bribery can do you any good. There are no NGO where you can seek for assistance to, and no social media where you can complain at.

Hasan Al-Bashri (rahimahullah) was once asked, “How are you today?”

He answered, “You ask how I am?! What do you say of a group of people sailing in the middle of the ocean in a ship, then the ship was torn apart, and each of the people had to hang on a mere piece of wood. Can you imagine how scared they would be?”

The questioner replied, “Yes, they must be terrified!”

Hasan continued, “I am in a graver state than them!”[1]

Hasan Al-Bashri’s fear is towards Allah’s azhab or punishment, and how he fears death because he feels that he has prepared so little for the afterlife. He feels that the fate of the people hanging on the piece of wood in the ocean is less terrifying than his own state.

Astaghfirullah, why is it so easy for us to commit sin and how sloppy and lazy we are in good deeds and worship? Will we not realize our mistake until we share the fate of the man who’s ship sunk in the middle of the ocean and that there is no hope to be rescued?

[1] This story was narrated by Al-Ghazali in Ihya’ Ulum Ad-Din, Juz IV, p.128

—————————————————-

Notes From the Translator

General Notes:

Probably I shall just repeat the general note in the previous Thariqus Shalihin translation:

Translations for texts of hadeeth and Qur’an are taken from credible English translations (M. Marmaduke Pickthall for the Qur’an, and www.sunnah.com forhadeeth from the as-Sittah).

The other notes I make below (and for future translations of Thariqus Shalihin) is not intended to be some sort of academic commentary, as I am no scholar and definitely not in the position to make such commentary. However, these are just some thoughts that came to my mind when reading the text so I just thought I should share them (since its my blog anyway)

A physical copy of this book (in Bahasa Indonesia) can be purchased for Rp. 80.000,- (excluding delivery costs). Kindly contact Ust. Anshari Taslim directly through his facebook account to place your order.

Note 1:

Some arrogant atheists think that when they die and face Allah (although not directly, because we know that only the best of people will be able to see Allah in the afterlife. I mean facing His wrath), they will start blaming Allah for all the calamities in the world.

Look at Stephen Fry. When asked “what will you say to God if you die and you find out that He exists?”, he replied “Bone cancer in children? Whats that about?” and continues to ‘judge’ Allah for all the suffering in the world, seemingly and arrogantly without any fear. Check the full interview here.

Check all the verses that describe what hell fire is like. If Stephen Fry actually dies as a kaafir, he will be too busy begging Allah for a second chance (see Surah Al An’am ayat 27). But will he get this second chance? No.

Spend all your arrogance in this world, and lets see what happens.

Note 2:

Just an additional point I wish to make. When you are actually facing The Judgment, not only that you cannot bribe or find a lawyer. You cant even blame Iblees! Allah says in Surah Ibrahim ayat 22:

وَقَالَ ٱلشَّيۡطَـٰنُ لَمَّا قُضِىَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَڪُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُڪُمۡ‌ۖ وَمَا كَانَ لِىَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَـٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِى‌ۖ فَلَا تَلُومُونِى وَلُومُوٓاْ أَنفُسَڪُم‌ۖ مَّآ أَنَا۟ بِمُصۡرِخِڪُمۡ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِىَّ‌ۖ إِنِّى ڪَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَڪۡتُمُونِ مِن قَبۡلُ‌ۗ إِنَّ ٱلظَّـٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ۬

“And Satan saith, when the matter hath been decided: Lo! Allah promised you a promise of truth; and I promised you, then failed you. And I had no power over you save that I called unto you and ye obeyed me. So blame me not, but blame yourselves. I cannot help you, nor can ye help me, Lo! I disbelieved in that which ye before ascribed to me. Lo! for wrong-doers is a painful doom.”

You’re on your own, mate!!

Note 3:

Look at how Hasan al-Bashri (rahimahullah) really fears the punishment of Allah, and how much he feels unprepared for the afterlife. This is THE Hasan Al-Bashri, one of the very well renowned scholars of the tabi’een, yet he fears so much! Think about ourselves. It may seem that we are soooooo far below these people. I have cited in a the previous part of Thariqus Shalihin, another statement of Hasan Al-Bashri about hypocrisy. Do we feel safe despite doing so little?

Ibn Abi Mulaykah (rahimahullah) mentioned that he has met THIRTY SAHABAH (including ‘Aaisha, Umm Salamah, Ali bin Abi Thalib, Sa’d bin Abi Waqqaas, Abdullah ibn Mas’uud, Abdullah ibn ‘Abbas, Abdullah ibn Umar, Abu Hurayrah, and also others, radhiAllaahu ‘anhuma!). They are among the most pious people after the Prophets, yet they still fear of hypocrisy! How about us?

Note 4:

Please make du’a for me so I can settle my (tedious amount of) affairs and find time to translate the next parts

OTHER PARTS OF THARIQUS SHALIHIN

Chapter I : Imaan and Aqeedah

1. Iman and Islam: The Main Road to Jannah

2. The Believing Sinner can Enter Jannah?

3. Entering Heaven By Fearing Allah (Part 1), (Part 2), (Part 3), (Part 4), (Part 5), (Part 6),

This Is My Manhaj

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

InshaaAllah, I am a Muslim. One of the ahlus sunnah wal jama’ah. I believe in Allah ‘Azza wa Jal as the Only One worthy of worship, one who revealed the Tawrah, Zaboor, and the Injeel. I believe that Adam ‘alayhis salaam, Ibrahim ‘alayhis salaam, Musa (Moses) ‘alayhis salaam Dawuud (David) ‘alayhis salaam, Sulayman (Solomon) ‘alayhis salaam, and ‘Isa (Jesus, putting aside the controversies in the translation of Aramaic) ‘alayhis salaam, are His messengers. And I believe that Muhammad bin Abdullah salallaahu ‘alayhi wa sallam is His final messenger, the one whom Allah revealed the Qur’an to.

I put the salaafus shaaleh as the next best persons after the anbiya. They are Abu Bakar ash-Shiddiq, ‘Aisha binti Abi Bakr, Umar ibn al-Khattab, Uthman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Fathima binti Muhammad, Abdullah ibn ‘Abbas, Bilal bin Rabbah, Mu’awiyah ibn Abi Sufyaan, and so many others who are too many to mention, radhiallaahu anhuma.

But what does this mean? What kind of ‘creed’ or ‘madzhab’ or ‘ideology’ do I follow? How do I see my religion? InshaaAllah these are a few pointers of how I understand my religion. I am still and will always be learning, so this may be updated throughout time.

Here goes.

Contents:

  1. Tawheed
  2. The Qur’an and Sunnah
  3. Marriage
  4. Frequently Asked Questions

=====TAWHEED=====

Allah is One in Creation (Rububiyah)

I believe that Allah is the One and Only who created and sustains his creation. All depend on Him and He depends on none. Nothing can come out of nothing, which is true both in Islam as Allah says in Surah at-Thuur, as well as in Greek philosophy of logic. When one reproduces or manufactures, usually the term ‘created’ is used. When one feeds the other, usually the term ‘sustain’ is used. However, these are socially meant to refer to utilizing what Allah has provided and even then is by permission of Allah.

Many atheists or other kafiruun are deluded. Many claim that there is no need to have a God or a religion. Such a statement implies that the existence of God and religion is subject to human necessity. The truth is that Allah exists and He has shown the rightful religion. The question is whether or not we want to accept this reality. Similar logic is used by atheists on the matter of hell and heaven. Is it good to use a concept of reward and punishment? Some criticize the concept of heaven and hell because it is not good to direct people to commit good deeds due to personal interests like this. However, the truth is that heaven and hell exist wherever you like it or not.

Allah is One in Deserving Worship (Uluhiyah)

This is a refutation towards the mushrikeen, and probably the main message of all the Messengers of Allah. We shall not worship anything other than Allah. However, sometime the problem of shirk (ascribing partners to Allah) is more subtle. It can be as obvious as worshiping a potato, it can also be in a very subtle way such as committing good deeds but as a ‘show-off’ to other people ‘mankind’. Therefore it is very essential for us to know Who to worship as well as to purify our intentions. We need to understand what ‘worship’ means in our religion, and how to do it.

Then there is this question of tawassul or using intermediaries in seeking prayers. Is this an act of shirk? Using living and pious persons as waseela is permissible, I have not found difference opinion on this. But how about making tawassul to Prophet Muhammad s.a.w. after he died? There does seem to be a difference of opinion on this matter. I incline more to follow the opinion that prohibits it, but I have hard time to believe that it is a blanket act of shirk because so many great scholars of Islam say that it is permissible. Some use Az-Zumar ayat 3 to convincingly argue that tawasul is an act of shirk, it is just too obvious to miss if this ayat is really meant to refer so.

 

Allah is One in His Names and Attributes (Asma wa Sifaat)

-Understanding the Names-

It is very important for us to understand Allah’s Names and Attributes. Rasulullah s.a.w. said that those who have memorized Allah’s Good Names (Asmaaul Husna) and lives by them will enter jannah. It is imperative that we do our best to learn them, and more than just knowing them and how they translate in our native language. We need to understand them deeper to fully understand it’s meaning. Because Ar-Rahman is not simply “The Most Merciful” (like, if that is how we translate Ar-Rahman, what is the difference with Al-Ghaffar then?) etc. There are deeper understandings of these Names and Attributes, and if we truly understand them then it would change the way we see life.

-Literalism and Metaphorism-

The Salafi and the Ash’ari scholars differ in understanding certain things attributed to Allah. When Allah says that He sits (istiwa) on The Throne, does it literally mean that He is sitting on a Throne? It is a long standing debate between the ‘Salafis’ and ‘Ash’aris’, and there are very strong arguments and great scholars on both sides.

I personally incline to follow the stance of the Salafis, as it seems closest to the proper understanding of the Salafush Shaaleh. In ayats pertaining to Allah’ attributes, I take them literal but in a way that is not similar to that of the creation. Like how Allah is Sitting on the Throne. I leave the word ‘istiwa’ as it is, because Allah chose that word. How? We dont know how exactly, but we know that it is in a way not similar to how the creation sits, and in a way that befits His Majesty. And, as Imam Malik r.a. says, to ask about it to others (to test them) is bid’ah.

Despite so, I simply cannot say that this makes the Ash’aris deviant. There are very great scholars on their side. I believe that this difference is just a small one in the very vast body of Islamic aqeedah, which should not make them break brotherhood. And, certainly, one cannot put the Ash’aris as “ahlul bid’ah” in the same way as we do the Shi’a, Khawarij, and the likes.

 

=====THE QUR’AN AND THE SUNNAH=====

Understanding the Message

It is my belief that the Qur’an is Allah’s Words, and that the authentic narrations from Rasulullah s.a.w. should be followed as it is Allah’s command that we should follow His Messenger’s words. How do we understand them, though?

I reject the hermeneutic method, which assumes that texts are tied to their historical context and may need to be reformed to adjust to modern needs. Hermeneutics is used in Christianity, for obvious reasons: Christians believe that the bible is written under divine inspiration. This means that the writer was inspired by God (according to their belief), but they write as a human being. Therefore the writings are to be analyzed like any other texts: cannot be free from the socio-historical context, therefore hermeneutics would fit them.

However, the Qur’an is a divine revelation. This is Allah’s Words, down to the letter. Allah, unlike a human, is not tied to socio-historical contexts. Hermeneutics would therefore strip the divine authority of the Qur’an and Sunnah, which are fundamental and paramount to the Islamic belief. This is not just wrong, it is also an insult to Allah!

It is my belief that whatever Allah and Rasulullah s.a.w. commands, we should follow to the letter. It does not make sense that we interpret in such a way that it (a) contradicts the apparent meaning of the text, or (b) defeats the general purpose of the texts. There is nothing wrong with literalism (this is a Christian problem, not Muslims’). What is wrong is when one does not understand the text holistically and with other sources.

It does not make sense that we infer meanings from any irrelevant sources. This is the mistake of people saying that, for example, Muslims can say merry christmas because “Islam teaches tolerance.” Or, as another example, “no need to keep the beard and avoid isbal” (putting aside the khilaf in fiqh), because “Islam should be taken moderately”. Yes Islam teaches “tolerance” and “moderation”, but of course those words are to be understood in Islamic terms. Not our own, which are imported from non-Islamic sources.

This is why the first thing we should look at would be text themselves. The Qur’an and Sunnah contains words, which in themselves have meanings. This is also why the Arabic language is essential because translations never do justice to any word. On many occasions, the Qur’an and Sunnah explain themselves in different parts, or also explain each other. We need to see them as one package. These are the primary tools to understand the Qur’an and Sunnah.

In their absence, we should resort to the understanding of the Salaafus Shaaleh. In the first place in this group are certainly the Sahabah. They understand the Qur’an and Sunnah from the Master himself, i.e. Rasulullah s.a.w.. Sometimes we know that some Sahabah rank higher than others in understanding, such as how we prefer Abdullah ibn Abbas r.a. than Abdullah ibn Umar r.a. when they differ in opinion. Then we go to the next generation, then the next. Yet, we know that it is not impossible that they make mistakes. The only human free from fault is Rasulullah s.a.w., so others may be very very competent but we must bear in mind that they are never perfect while we give our utmost regard and respect to them.

Only then, in absence of all the above, we move to the scholars that come after.

The Question on Madzhab of Fiqh

For many years of my life, I was educated with the basic fiqh of the Shafi’i madzhab. Indonesia, where I live, mostly (except for some cases) applies the Shafi’i madzhab. Therefore, by default I follow the teachings of the Shafi’i madzhab. Not necessarily following the rulings of Imam Shafi’i himself, but also rulings of medieval and contemporary scholars who follow the method of uhul al-fiqh developed by Imam Shafi’i.

However, I try my best to learn fiqh and ushul al-fiqh. So whenever I find another opinion which is stronger in its basis, I would try my best to leave the ruling I previously followed and prefer that stronger one. This is without any disrespect to the scholars who’s opinions I choose to not follow.

This is not to suggest that everyone should become a mujtahid, but it is to say that it is the duty of a Muslim to learn about her/his religion and act upon what has been learned. While nobody (except the Prophet s.a.w.) is free from flaw, but one must not speak beyond their knowledge. It is utterly stupid when some Muslims only learn Islam from their average school (1x a week, 90 minutes tops), then suddenly they criticize the great scholars because “as far as I know, that is not what Islam teaches”.

It is understood that although the Shari’ah is forever valid and not changeable, there are many parts of the Shari’ah that is not set in stone. Rather, there is room for masalahat (public necessity) consideration where only general guidelines are set so that mankind can adjust to their needs. This does not justify hermeneutics, or any interpretation that defeats the plain meaning of the text, except if there is another understanding that is very well justified also by the text.

 

The Question of Reduction and Innovation from the Sunnah

-Reducing the Sunnah-

In this sub-subsection this I speak of the ‘liberal muslims’. They claim to be Muslims but whatever they dislike from Islam they say “it’s a different time now, so this rule is irrelevant”. I have briefly mentioned the flaws of the hermeneutic method, but this part is about something else. Some people just have a thing using personal comfort and preferences to select what is right and wrong. Something that is unfamiliar to them is, by default, wrong, and no argument (despite correct) could deter them from it.

For example, the matter of jilbab for women. Many claim that “this is Arabic culture, and we are not Arabs. There is no need to adopt Arabic culture.” First of all, this is not true. When the ayat that commands women to use hijab was revealed, we find authentic hadeeth showing that immediately Muslim women find something to cover their heads. This means that women previously did not wear the jilbab. But second of all, its not about whether this is true or not. Very often I find that those who say “this is Arabic culture!” actually do not know! They just make a random assumption from thin air.

Rasulullah s.a.w. said that whoever dislikes the sunnah is not part of the ummah. Also, those who lie in his name will find a seat in hellfire.

I am strongly against this kind of mindset.

-Innovation of the Sunnah-

The question of bid’ah is a very difficult one. It is clear that Rasulullah s.a.w. mentions that all acts of innovation (for matters of worship) are prohibited. Therefore, for me, when someone tells me something about an act of worship, it is their burden to prove that it has authentic basis (so a dha’if hadeeth cannot be a good basis). Or at least, for starters, if there is a major scholar who says it (not that they are certainly correct, but they are more likely to have a basis or at least we know where to look).

All scholars agree that there are acts of bid’ah in worship that are prohibited, however they differ in the scope of ‘worship’ from which bid’ah may not be done. This is beyond my knowledge and understanding. I personally avoid acts of bid’ah as salafi scholars note (mawleed celebrations, ‘sayyidina’ in shalawat, etc) but I realize also that the debates are not as simple as it seems so these are different opinions that I will have to tolerate.

An important aspect to remember is that I cannot treat bid’ah in fiqh the same way as bid’ah in aqeedah. The “ahlul bid’ah” which must be avoided are those who are extremely deviant in their bid’ah in aqeedah, such as the Shi’ah and Khawarij. Bid’ah in fiqh is easier to tolerate in my eyes.

 

Culture and Nationalism

-Culture and the Sunnah-

Bearing in mind that culture is a reality in the society, and also that the Quraish worshiped statues also because of culture.

The maxim ‘al ‘adaatu muhakkamah‘ shows that customs can and must be respected, to the extent that it is not against the Shari’ah. It therefore makes no sense to say “I am a Muslim, but I am an Indonesian”, rather “I am an Indonesian, but I am a Muslim”. I hope the meaning of this is understood.

 

-Nationalism and Identity-

I cant help but wonder: what has a country given to us, that is not merely part of what the world as a whole has given us? What has a world given to us, that is not merely a fraction of what the galaxy has given us? What has a galaxy given to us, that is not merely a fraction of what The Creator of the galaxy has given us?

Who is most deserving of our gratitude?

Almost all nations in the world try to build unity and love for the nation by building nationalism. This is either a manifestation of real love of a people towards their identity as countrymen of that nation, or merely propaganda to support governance and social order.

Is this acceptable in Islam?

What I know is that Rasulullah s.a.w. says that a person dying fighting with ‘ash-habiyah’ will go to hell. Ash-habiyah is basically tribalism, culturalism, or identitygroup-ism. The qur’an also demands that we all stand united as Muslims, and that we should not be disunited.

Do we love our country more than our religion? Does the difference of nation interest make us dis-unite or even go in conflict with another Muslim state? When we see our Muslim brother/sister from Sudan, Saudi, Britain, Canada, or China, do you see more differences between you and them or more similarities?

I cannot say that nationalism is per se forbidden in Islam. However, I just see that it can potentially become something forbidden in Islam at a certain level.

One thing for sure, I am not a believer of “NKRI Harga Mati”. I do not condone rebellions, or anything. Its just that I believe that a State cannot be a purpose. A State is a tool from which to serve humanity under it. If the state system, at some point in time, proves incompatible with the society beliefs and/or needs, I see no reasons to keep such a system. Indonesia itself has changed systems a number of times. If NKRI seems to be the best option at the time, then fine. But to assume that it will forever be so is stretching things too far. After all, when I die, it is the Qur’an -not UUD 1945- that will be shafa’at for me!

=====MARRIAGE=====

Marriage, Family, and What it Means to Me

 A family is a safe zone. It is not a must that our work place is comfortable (although one that is would be very much preferable), but a family must be a comfort zone. A family member must be an eye soother for the other. Qurrata a’yun. However, I also believe that an Islamic family cannot only be a safe escape from life outside. There is so much more to a family than this.

Marriage, i.e. the start of a family, is an act of worship. Ibadat. The question is: what kind of ibadat is marriage? I am not speaking from a fiqh perspective at this point. Rather, I see it from an Islamic civilization perspective. After all, ‘religion’ in Arabic is Ad-Deen. Ad-Deen is a much more complex and holitic concept (way of life) compared to a mere ‘religion’ (i.e. theology). From the word Ad-Deen we can derive the word Madeenah (city) as well as Tamaddun (civilization). The Ummah is a global society of Muslims, and the smallest social unit is the family. This is where the strength of the Ummah is built from the bottom up, and it is more important than ever since we no longer have a strong leader from above.

Therefore, a Muslim family should aspire to strengthen the Ummah to the furthest extent within their abilities. It should be so much more than simply being a good career man/woman, working in their respective fieldss, with nothing Islamic except that they observe the daily rituals and have halal earnings. Not that this is wrong, but this is the lowest level possible for an Islamic family to be. I have greater dreams.

I believe an ideal family must always direct their conduct in a way that it directly contributes to the development of the Ummah of the Islamic civilization. This should be done in at least two levels. First, the husband and wife must make a good team in making their contributions in their respective areas or responsibilities. I myself, for example, in my duties as a lecturer and researcher, am trying to develop the knowledge of fiqh al jihad as well as reconstruction of thought (aqeedah) and educate people with it.

Second, it is important for a family to contribute a strong next generation whom will continue the struggle. A marriage should come with children, educated with a strong Islamic aqeedah and willpower to contribute to the Ummah.

 

Who Am I Looking For

Bearing in mind what I want for my marriage, I want wives who are strong and resilient in their aqeedah. To believe in Allah, observe the daily rituals and have at least some knowledge in the deen, is the very absolute minimum. But I want mine to also feel strongly about the deen at least as much as I do, making it the breath and blood of her actions. I do not require her to have the exact same understandings of Islam as I do but she must agree to most of it and have strong aqeedah of Al Walaa Wal Baraa and is not a follower of deviant sects (Shi’a, khawarij, etc).

I don’t want a person who merely does halal things, and “oh by the way Im a Muslim”, rather someone who is proud of being a Muslim and does things as and in the name of Islam. I want someone who proactively does things for the Ummah and exclusively so.

I would generally not prefer to have a housewife, but I am not having a wife who works just to explore things or enrich other people (in exchange for some salary). I want one who has passion to develop (not just obtaining) knowledge, especially in the Islamization of non-deeniyah sciences or the intersection between deeniyah and non-deeniyah ones. Is it possible to have a wife doing all this while also having enough time to educate my children? This is one to think later on. But at the very least, to have such a spirit is essential in educating children.

As the majority rules, I believe that the niqab is sunnah. But this is a sunnah that I want my wife to practice since before marriage. Some families are difficult, and I would understand this. So I would accept a compromise for her to only start wearing it after the akaad.

It is my requirement also that my wife would not rule out the possibility of ta’adud. To begin with, it is my understanding that there is absolutely no problem for ta’adud (even marriage in general) for sake of lust, as long as the marriage is done to avoid zina due to taqwa, and that all rights and obligations are fulfilled. But I see that there are many strategic purposes of marriage and ta’adud, other than a typical Disney-type celebration of true love.

===== FREQUENTLY ASKED QUESTIONS=====

  1. Question 1: Do Your Support ISIS?

Answer: Mas Rangga is joking. No I do not support ISIS. I believe that their aqeedah is that of the khawarij and I do not condone them.

  1. Question 2: Are You Hizbut Tahrir Indonesia? Or do you agree with them?

Answer: I am not a member of HTI, but I support a lot of things they believe. For example, that there are 5 times faraaidh shalats in a day according to them and I agree that, as any Muslims should.

As for khilafah and Islamic Shari’ah? I believe that a type of governance is something subject to ijtihad (with so much terms and conditions). As for the Islamic Shari’ah, only a kafir would say that there is any better system (this is mentioned in the Qur’an).

However, to apply the Shari’ah is not simple and there are steps, requirements, and priorities.

  1. Question 3: What do you think about the Shi’a and Ahmadiyah?

Answer: Before anything else, I must clarify first that in Islam there is no such thing as “my religion is personal business, so it is up to me”. Islam is a deen revealed by Allah, and it is He who determines its boundaries of what is in and out of that religion. It is not by hatred or imagination that we make these boundaries, but by what is revealed in the Qur’an and Sunnah.

Also, there is a difference between takfeer mu’ayyin and takfeer mutlaq which is very complex. Essentially, there is no problem to say that Christianity is a kaafir belief and that a Christian is a kaafir, because they are obviously non-Muslims (kafir means non-Muslim) according to the Qur’an in blanket takfeer.

However, it is possible that there is a group of people calling themselves Muslims but they believe in such a way that makes them out of the fold of Islam like a person who claims to be a vegetarian but eats beef. The Shi’ah and Ahmadiyah are examples. Their aqeedah is that of riddah (apostates) therefore are kaafirs, but the persons –while they still claim to be Muslims—are by default Muslims until proven otherwise. This ‘proven otherwise’ is takfeer mu’ayyin, which applies individually, can only be done by the most knowledgeable people, and after a long procedure of investigation.

Although there are cases where some sub-sects of the Shi’ah are deviant but not kaafirs, such as the Zaidiyah.

  1. Question 4: What Do you think of “Islam Nusantara”?

Answer: “Islam Nusantara” is an idea of Indonesian-version of Islam that some are very anxious to promote. Here is a loose translation of the definition of Islam Nusantara by the Ministry of Religion:

Islam Nusantara is a model of Islamic teaching which suits a plural nation. Islam Nusantara is an Islamic teaching that puts emphasis on principles of moderation (wasatiyah), inclusive, tolerant (mutual respect), not claiming that only one’s own religion is correct, “Unity in Diversity”, based on the 1945 Constitution and Pancasila ideology…”

In general, I reject the idea of “Islam Nusantara”. I reject the idea of Islam Nusantara as an idea that constructs a separate identity of Islam in the world, because Islam should be united. This strengthens the ‘I am a Muslim, but…” as explained before.

However, I must further comment on the definition

  1. “…model of Islamic teaching which suits a plural nation.” And “…inclusive…” dan “…unity in diversity…”

Does this imply that Islam generally does not suit a plural society, or that only Islam Nusantara suits a plural society?

IF the answer is yes, then this is wrong. The message of Rasulullah s.a.w. is rahmah for all the worlds (Surah Anbiya ayat 107). After the death of Rasulullah s.a.w., Islam spread really fast to Persia, Sham, South Asia, China, and all that before the first century of Rasulullah’s death. Today, 5-10 thousands of people enter Islam in the UK per year.

IF the answer is no, then why claim this as a characteristic of Islam Nusantara?

Not to mention, I think this is hypocrisy. I do not find that this Islam Nusantara proponents are tolerant to plurality at all. For example, they easily reject the alleged ‘Arab culture’ (e.g. the jilbaab and gamees). Did they not know that we have quite a number of Arab descents, or people who traditionally wear these clothes? See Pangeran Diponegoro and Tuanku Imam Bonjol (they are our national heroes who used to fight in our wars against our colonizers). Check their pics, they wear gamises.

Did they not make an anti-salafi parade as well? Such hypocrites!

  1. “…emphasis on principles of moderation (wasatiyah)

First of all, is wasatiyah a principle only known to Islam Nusantara? Because it is not. Rasulullah s.a.w. in some hadeeth prohibit us to be excessive in worship, and in other hadeeth mention that Islam is a religion of the middle way (moderation). Since it is not, why is wasatiyah claimed to be a characteristic of Islam Nusantara?

Second of all is the most important issue. What is meant by ‘moderate’?

If moderate is understood as not making additions or reductions to the sunnah, then it is correct. If it is understood as to rejecting any part of the sunnah because ‘that’s Arab culture’ then no it is not correct.

 

  1. “…tolerant…”

This also depends on what it means.

If it means: being fair and kind to kafirs, not insulting their deities, not harming them, not forcing Islam to them, then this is correct. These are clear instructions from the Qur’an and Sunnah.

But if ‘tolerant’ means choosing kafirs as public leaders, assisting (or even joining) them in committing shirk, imitating their acts of worship and customs, then this is clearly wrong.

 

  1. “…not claiming that only one’s own religion is correct,…”

This is a statement that does not befit any Muslim. This statement, if said with knowledge, can make a person become an apostate.

This is a clear and direct breach of Surah Al Imran ayats 19 and 85.

Do not understand Surah Al Baqarah ayat 62 incorrectly. It does say that Christians, Jews, and Sabians, can go to heaven too. However, there are a few notes.

First, as explained by Abdullah ibn ‘Abbas as cited in Tafseer ibn Katheer, this refers to those who came before the message of Rasulullah s.a.w.

Second, not to mention that there are requirements for the Jews and Christians and Sabians in the above point to enter heaven. They must believe in Allah without associating partners to Him, making shalat, do good, and believe in judgment day. Don’t forget this one!

Third, see Surah Al Maidah ayat 82-84 to see what kind of Christian that could enter heaven at (and after) the time of Rasulullah s.a.w.

 

  1. “…based on the 1945 Constitution and Pancasila ideology …”

This also depends on what it means.

If it means literally ‘..Islamic teachings.. based on the 1945 constitution..” then this is also literally kufr. What freaky kind of person would replace the Qur’an and Sunnah with a constitution?

Surah An Nisa ayat 59 basically shows how the role of people in making laws is only when not contradictory to the Qur’an and Sunnah. And various ayats also mention how only Allah can make laws, so rulings by men may only be at least based on the understanding of the Qur’an and Sunnah.

What happens if we take a law other than from what Allah has revealed? It makes you either kafir (Surah Al Maidah ayat 44), dzalim (Surah Al Maidah ayat 45), or fasiq (Surah Al Maidah ayat 47). Make your choice.

But of course that’s not what it means. Hopefully not!

Rather, it might mean that the Constitution and Pancasila is a way of interpreting the Qur’an and Sunnah? If that is so, then, it will depend on every single article in the constitution.

 

Happy Birthday ^_^ (Renungan Surah An-Nasr)

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

 

Mungkin Fathul Makkah (pembebasan Mekkah oleh Rasulullah s.a.w.) yang terbayang saat membaca Firman Allah Ta’ala:

إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (Surah An-Nasr ayat 1)

Apalagi saat berlanjut dengan ayat berikutnya:

وَرَأَيۡتَ ٱلنَّاسَ يَدۡخُلُونَ فِى دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجً۬ا

Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,” (Surah An-Nasr ayat 2)

Memang, tafsir Jalalayn menyebutkan bahwa Surah ini menggambarkan Fathul Makkah.

MashaaAllaah, betapa indah rasanya membayangkan seluruh Jazirah Arab berbondong-bondong masuk Islam. Tahukah anda betapa gemetarnya rasa haru dalam hati saya pada tahun 2013 saat saya membaca ada 5-10 ribu orang masuk Islam setiap tahunnya di United Kingdom, dan bahwa saya akan berangkat ke sana untuk studi? Demi Allah, saya lebih antusias bertemu dengan kawan-kawan yang belum lama mendapatkan hidayah Islam daripada antusias kuliah.

Tapi kemudian ada sesuatu yang agak mengganjal. Surah tersebut diakhiri begini:

فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَٱسۡتَغۡفِرۡهُ‌ۚ إِنَّهُ ۥ ڪَانَ تَوَّابَۢا

maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (Surah An-Nasr ayat 3)

Ayat ini dimulai dengan فَ yang mengindikasikan bahwa selanjutnya adalah konsekuensi dari yang sebelumnya, atau dengan kata lain semacam “…karena itulah, maka…”. Ayat 1-2 memberikan penekanan yang besar sekali pada kemenangan. Oke, makanya bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu, sebagaimana biasa kita lakukan jika amat bersyukur! Alhamdulillah!

…dan mohon ampun…? Lalu.. Allah Maha Penerima Taubat? Kok ini cara yang agak.. unik.. untuk mengakhiri perayaan indahnya suatu kemenangan?

Lalu saya baca Tafsir Al-Adzeem karya Imam Ismail ibn Kathir r.a. tentang Surah ini, dan saya terkejut dan merasa terpukul sekali.

Saat Umar ibn Al-Khattab r.a. menanyai para veteran perang Badr mengatakan bahwa إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ maksudnya adalah Fathul Makkah, dan perintah untuk bersyukur dan memohon ampunan pada Allah karena kemenangan tersebut. Sahabat Rasulullah s.a.w. yang dikenal paling memahami Al Qur’an yaitu Abdullah ibn ‘Abbas r.a. saat ditanya Umar r.a. “apakah kamu akan mengatakan hal yang sama?”, beliau menjawab “tidak”

Saat Umar r.a. bertanya lagi “lalu apa jawabanmu?”, ibn ‘Abbas r.a. menjawab: Allah mengabarkan bahwa hidup Rasulullah s.a.w. akan segera habis. (diriwayatkan dari Sahih al-Bukhari, Hadist No. 4970)

Bagi saya sekarang baru masuk akal semuanya.

Imam ibn Katheer r.a. lebih lanjut menceritakan bahwa ‘Aaisha r.a. meriwayatkan bahwa menjelang wafatnya (maksudnya wafatnya Rasulullah s.a.w.), Rasulullah s.a.w. sering membaca:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Mahasuci Allah dan dengan memujiNya, saya memohon ampunan kepada Allah dan saya bertaubat kepadaNya” (Sahih al-Bukhari, Hadist No.4968, dan Sahih Muslim, Hadist No. 484)

.

Saya jadi berfikir. Allah selalu memberi tanda bahwa kematian kita sudah dekat. Mungkin bukan berupa wahyu seperti halnya kepada Rasulullah s.a.w., melainkan dengan tanda-tanda lain. Di antaranya:

– dulu ditanya orang ‘gimana raportnya’, lalu ganti ditanya ‘kapan nikah’, dan sekarang mulai ditanya ‘kapan mantu?’

– dulu putih-putih yang di kepala cuma ketombe, sekarang putih-putih yang di kepala adalah uban

– dulu kulit semulus pantat bayi, lalu sekarang semulus pantat bayi (gorila), eh, kok keriput?

Atau, sebenarnya ada reminder yang paling ramai dan datang selalu setiap tahun selama kita masih hidup: ucapan selamat ulang tahun.

Mari kita kesampingkan dulu hukum ucapan selamat ulang tahun, karena intinya adalah bahwa ternyata orang beramai-ramai mengingatkan (secara tidak langsung, tentunya) bahwa kematian sudah dekat.

Bagaimanakah selayaknya sikap orang yang sudah tahu bahwa kematiannya akan datang, dan bisa jadi datangnya itu sangat cepat? Banyak orang yang takut mati, padahal maut pasti cepat atau lambat akan mendatangi kita, dan saat waktunya tiba ya akan tiba tanpa bisa kita berbuat apapun untuk mencegahnya. Allah berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).

Apa sebutan kita untuk orang yang sudah tahu akan mengalami sebuah kejadian yang akan berdampak besar padanya, tapi dia tidak berbuat apapun? Itu namanya orang bodoh. Bagaimana sikap layaknya orang yang cerdas?

Saat ditanya oleh seorang Ansar tentang siapa Mukmin yang paling cerdas, Rasulullah s.a.w. menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas” (Sunan ibn Majah, Hadist No. 4259, Shaykh Albani menghasankannya)

InshaaAllah tidak lama lagi akan ramai orang mengingatkan makin dekatnya kematian. Apakah saya siap menerima peringatan-peringatan tersebut? Apakah saya siap menghadapi apa yang diperingatkan tersebut?

 

***

Kerap kusebut Kaulah Kekasihku

Kerap kusebut Kaulah Kecintaanku

Kenapa kutakut ketemu Kau?

Kenapa kutakut kematian kunjungiku?

*

Abaikan abaiku, Allahku

Ampuni alpaku, Allahku

Abrasikan aibku, Allahku

Akui amalanku, Allahku

*

Kumohon, Allahku

Kupinta, Allahku

Kirimlah kematian, ambillah aku

Ketika kudapat anugerah ampunanMu

***

from pinterest.com

from pinterest.com