Category Archives: Legend of Legends

Legend of Legends: Table of Contents

Dear all,

Berikut daftar isi novel Legends of Legends, selamat membaca dan semoga suka ^_^

– Introduction and Chapter I: The Land of Zenton

– Chapter II: The Explossion

– Chapter III: The Scherduke

– Chapter IV: The Fire Spangled Banner

– Chapter V: New Lands

– Chapter VI: Old Friend

– Chapter VII: The Caliph

– Chapter VIII: Memory Revives

– Chapter IX: Devil Massacre

– Chapter X: Expedition

– Chapter XI: The Old Group

– Chapter XII: Past, Present, and Future

– Chapter XIII: INVADE! ATTACK!

– Chapter XIV: Road to Victory

– Chapter XV: Lethifold

– Chapter XVI: Fall of Devilmare

– Chapter XVII: Lucifer Arise

– Chapter XVIII – Oath or Prophecy?

– Chapter XIX : Finally Over

-Chapter XX Epilogue

Legend of Legends : Chapter XX – Epilogue

Dear all,

Enjoooy the last chapter ^_^

PS: for my brothers and sisters who dont speak Bahasa Indonesia, Im very sorry that I dont have an English version of it :p

——————————————————————————————————————————————————————————————————–

CHAPTER 20

EPILOGUE

                The Chain memang mengadakan kunjungan ke Zenton dan mengadakan pertemuan dengan para pemimpin negara-negara di sana. Pertemuan digelar di Gallowmere. Kesepakatan akhirnya terwujud, dan The Chain kini mencakup Dark Land dan Zenton. Pada pertemuan berikutnya, akhirnya mereka memulai pembuatan suatu perjanjian internasional yang akhirnya terselesaikan dan diberlakukan setelah setahun sejak mulai disusun.

Bagaimana nasib semuanya setelah itu?

Aisha Zuchry tetap bekerja sebagai strategis dan membuka pelatihan strategi yang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengikutinya. Bismah, anaknya, kelak menjadi seorang prajurit yang kemudian menjadi raja Crin’s Blade di usia empat puluh tiga.

Lothar Night tetap menjadi pemimpin di Roxis, tapi beliau wafat karena sakit tepatnya enam setengah tahun setelah jatuhnya Lucifer. Penggantinya yang bernama Haymuth, ternyata agak kurang cakap, sehingga terjadi pemberontakan besar yang juga didukung oleh pasukan Roxis, sehingga Haymuth tergulingkan cuma beberapa bulan setelah naik tahta.

Marissa dan Dalel menikah, mereka tetap pada jabatan mereka sebagai panglima perang. Mereka dikaruniai dua orang anak laki-laki kembar, bernama Abbas dan Dharma. Keduanya dilatih dengan keras oleh Marissa hingga menjadi ksatria andalan Crin’s Blade nantinya. Dalel adalah yang menggantikan Marino sebagai raja saat masa jabatannya telah habis.

Meissa dan Bathack memimpin Eleador hingga akhir hayat mereka. Meissa wafat duluan dalam usia lima puluh delapan. Pemerintahan dipindahkan ke tangan Bathack, yang memerintah dengan adil hingga berusia seratus tahun lebih. Mereka dikaruniai empat orang anak, yang dua diantaranya adalah laki-laki. Keempatnya menjadi pengembara dan berkelana mencari ilmu.

Ratu Darpy mendapatkan seorang anak saja, yang bernama Aaron, yang kelak menggantikannya sebagai pemimpin di Apocalypse. Darpy memerintah selama puluhan tahun.

Phalus dan Isabel memiliki tiga orang anak. Gallowmere akhirnya menjadi negara yang paling masyur dan bahkan melewati kemasyuran Grandminister. Di sela-sela waktunya, Phalus menulis kisah perjuangan revolusi Gallowmere lama dan perang melawan iblis, dan kedua kisah tersebut menjadi bacaan wajib bagi mereka yang ingin belajar sejarah serta peran kepemimpinan.

Saphirre, sang ninja, tiba-tiba menghilang begitu saja. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Gosip mengatakan bahwa sebetulnya dia pergi ke hutan Faticia dan terbunuh di sana dalam perkelahian dengan suku asli.

Kaine terus memimpin pasukan magic, dan memimpin pendidikan serta penelitian magic dengan menjalin hubungan khusus dengan Apocalypse. Entah kapan ia pernah lepas dari jabatan itu. Kaine selalu ada, bahkan hingga ratusan tahun kemudian.

Phaustine tetap saja pada posisinya sebagai ksatria. Saat ia berusia dua puluh, ia menikah dengan seorang komandan garnisun pasukan Eleador. Dia memiliki seorang anak bernama Rhaizzan. Anak ini mengembara ke Zenton, yang kelak menjadi seorang raja di Luminaire dalam sebuah revolusi.

Doughlas Puruhita terus menjadi komandan angkatan laut, amat bahagia dengan jabatannya. Dia menikah, punya anak, dan wafat di laut.

Ullyta mendapatkan dua anak hasil hubungannya dengan Aerio Brynn, namun wafat saat melahirkan anaknya yang kedua. Kematiannya sangat kontroversial, karena ada berbagai isu mengenainya, diantaranya ada yang mengejutkan bahwa ia wafat karena melahirkan, ada pula yang bilang bahwa dia diracuni.

Pavatov adalah satu-satunya panglima di Crin’s Blade yang tidak masuk agama Ibrahim. Dia mendapatkan tujuh orang anak dan hidup terus sebagai seorang panglima perang hingga masa pensiunnya.

Black, terus bekerja sebagaimana biasanya, terus memegang janjinya. Namun di akhir hidupnya, tidak ada yang tahu dia kemana. Menurut Marino, Black alias Marcia, pergi untuk mati sendiri dengan tenang.

Eko dan Jasmine menikah, dan mendapatkan tujuh orang anak pula, seperti Pavatov. Hanya satu yang perempuan yang kelak menikah dengan Abbas, anak Marissa dan Dalel.

Adin juga tetap pada posisinya sebagai komandan pasukan, ia menikah dengan seorang gadis desa, dan memiliki dua orang anak.

Daffy dan Yogin akhirnya memiliki enam belas orang anak. Yogin hanya hamil dalam waktu yang singkat, yaitu sekitar empat sampai enam bulan saja, dan semua anaknya yang lahir tumbuh dengan sehat. Mereka tetap pada jabatan mereka.

Adapun dengan Marino, hubungannya dengan Daisy menghasilkan delapan orang anak. Enam diantaranya laki-laki, dan salah satunya yang bernama Garret, kelak menjadi raja Crin’s Blade sebelum Bismah, anak Aisha Zuchry. Salah satu dari anak perempuannya, yaitu Si Bungsu yang bernama Rheinna, kelak menikah dengan Bismah dan menjadi permaisuri. Marino menjadi Caliph yang lebih tersohor bahkan dibandingkan Crin sendiri yang mendirikan Crin’s Blade. Ia tetap bersahabat dengan Eko, Daffy, Adin, serta Daisy yang telah menjadi istrinya, hingga akhir hayatnya pada usia tujuh puluh.

Tetapi ada sesuatu yang lolos dari pengetahuan orang. Buku iblis, pedang iblis, dan bandul iblis sesungguhnya akan mencari satu sama lain. Mungkin tidak secara fisik (ada yang hancur, ada yang masih utuh), tetapi jiwa ketiga benda tersebut mengalir di bawah tanah dan di udara. Lucifer itu memang raja iblis. Tetapi ‘Sang Iblis’ itu sendiri adalah sebuah sifat, sebuah kenyataan, yang akan terus abadi dalam sejarah manusia dan peradaban.

Walaupun Lucifer sudah dihancurkan, tapi sampai hari ini jiwa-jiwa iblis sesungguhnya terus hidup dan seringkali tersenyum kepada kita.

Jangan takut. Kekuatan Holy juga mengalami nasib yang sama. Kekuatan tersebut akan datang kepada siapa yang sungguh-sungguh mencari, dan kalau benar-benar memahaminya sesungguhnya dia ada di hati kita semua.

                Thus, the legend continues…

Daffy Amaros, Adin Cardalos, Marino Obelos, and Eko Lakasonos: Now and Then

Daffy Amaros, Adin Cardalos, Marino Obelos, and Eko Lakasonos: Now and Then

[ – fin – ]

Legend of Legends : Chapter XIX – Finally Over

Just the last chapter before the Epilogue 🙂

————————————————————————————————————————————-

CHAPTER 19

FINALLY OVER……

                Dari tubuh Rafdarov, mulai terpancar cahaya berwarna hitam. Luka-luka yang tergores pada tubuhnya juga memancarkan cahaya yang sama. Di tengah pancaran cahaya tersebut, tampak sesosok bayangan, bayangan Lucifer, sedang menguar ke atas, lalu menguap lenyap. Setelah itu, kini cahaya putih menyembur dari tiap luka tersebut dan pandangan semuanya menjadi silau.

Saat cahaya yang membutakan mata itu sudah hilang, semua terkejut melihat tubuh Rafdarov yang kini sudah menjadi mayat, tapi berupa manusia normal. Mayat itu tergenangi oleh sedikit cairan hitam. Ada sebuah bandul, yang beberapa tahun lalu pernah dilihat Marino berada di tangan Rafdarov, tapi sekarang telah pecah. Melayang sekitar sejengkal dari tanah, ada sebuah buku besar berwarna hitam dan dipenuhi ukiran-ukiran, yang Marino pernah lihat pada segel iblis.

Daffy mengambil buku itu dan membukanya. Setelah dibaca, ternyata itu ditulis dengan bahasa Devilmare kuno dan dengan huruf Mez-tulisan Devilmare kuno.

“Kita harus mengetahui isi buku itu. Mungkin penting,” kata Eko.

“Kalau begitu, kita harus mengirimnya ke Luminaire dengan mengalamatkannya pada ahlinya,” kata Meissa.

Langit pagi yang cerah untuk pertama kalinya, menembus kota dan menerangi semuanya. Daisy memeluk Marino dengan erat. “Kita bisa menikah sesegera mungkin.”

Semuanya bertepuk tangan. Bimo mendekat sambil membawa pedang yang tidak asing lagi. Pedang iblis. “Ini pedang Rafdarov. Kuserahkan padmu,” katanya.

“Nasib pedang ini akan kita bicarakan nanti. Untuk sementara letakkan di markas besar The Chain dan beri pengawalan ketat,” kata Ratu Darpy. Meissa mengangguk mengiyakan.

“Omong-omong tentang pedang,” Pavatov mendekat, “ini adalah pedang Rido Matius,” katanya sambil menyerahkan pedang yang tak salah lagi merupakan pedang besar milik Rido pada Marino.

“Di mana pemiliknya?” tanya Daffy. Pertanyaan jitu. Semua langsung melupakannya ketika dia menyelamatkan Marino dari serangan terakhir Rafdarov. Rido tidak pernah ditemukan lagi. Mayatnya pun tidak.

“Harus dibuat sebuah monumen penghargaan kepadanya. Letakkan pedang ini di sana,” kata Marino, sambil memandang berkeliling ke arah semuanya yang berada di situ. Ada ratusan ribu prajurit. “Juga untuk yang lainnya. Untuk semua yang gugur dalam perang kali ini, akan dibuat pemakaman khusus dengan monumen di tiap makamnya, yang akan ditulisi oleh pihak kerajaan Crin’s Blade dan keluarga yang ditinggalkan. Jika tidak ada keluarga, pihak kerajaan saja yang akan menuliskannya. Biaya ditanggung oleh kerajaan,” kata Marino.

“Untuk Eleador juga,” kata Meissa.

“Pasukanku belum sempat bertempur,” kata Ratu Darpy.

“Adapun dengan Rafdarov sendiri, kalau saranku, kita tidak usah pindahkan lagi mayatnya. Kita timbun saja, dan buat semacam tugu,” usul Meissa.

“Ya, dan anggarannya ditanggung oleh Crin’s Blade, Eleador, dan Apocalypse secara tanggung-renteng,” kata Marino, berhenti sejenak, lalu berbicara dengan lantang, “Untuk semua prajurit asal Crin’s Blade, silahkan kembali ke kastil, dan beristirahat.”

“Demikian juga pasukan dari Apocalypse. Para komandan bertanggung-jawab,” kata Darpy.

“Oke. Besok kita mengadakan pertemuan. Markas The Chain, siang,” kata Marino. Hanya beberapa prajurit saja yang tinggal untuk mengamankan lokasi mayat Rafdarov dan sisanya pulang ke asalnya masing-masing.

Sesampainya kembali di istana, Marino, para ksatria, para komandan, dan anggota-anggota parlemen mengadakan pertemuan santai (sambil makan). Bendahara istana, pejabat di bawah menteri ekonomi, dipanggil.

Setelah evaluasi, didapatkan bahwa pasukan gelombang pertama yang menyerang ibukota Eleador dari barat di bawah pimpinan Marissa, Jasmine, Dalel, Pavatov, dan Ullyta berangkat dengan total jumlah prajurit sebesar 97.450 personil, dan pulang dengan jumlah 47.200 personel. Berarti, mereka telah mengalami pertempuran yang teramat dasyat. Karena itu, Marino mengusulkan agar mereka mendapatkan penghargaan dari istana berupa medali militer, dan mendapatkan hadiah. Perundingan hanya berlangsung selama dua jam, parlemen setuju atas usul tersebut. Dari pasukan yang tadi disebutkan, tiap prajurit mendapatkan medali Zhalanx, medali emas dengan satu bintang (untuk tiap jenis medali militer, tiga bintang paling tinggi.

Urutan jenis medali militer dari yang terkecil adalah perunggu, perak, emas, dan platinum. Medali paling tinggi adalah Crin’s Crest. Medali platinum tanpa bintang, tapi ada ukiran dua buah pedang legendaris Crin yang saling menyilang pada medali itu), dan mendapatkan hadiah sebesar seribu uang emas.

Pasukan The White Garda, pasukan Rido Matius, pasukan Daffy, dan pasukan Adin yang turut serta menyerang dari selatan mendapatkan medali Vicez-perak dengan dua bintang, dan hadiah lima ratus uang emas. Marissa, Jasmine, Pavatov, Saphirre, Ullyta, Dalel, Phaustine, Yogin, Kaine, Phaustine, dan Black, sebagai ksatria dan komandan pasukan, mendapatkan Zhachant, medali platinum dengan satu bintang, dan hadiah seribu uang emas.

Marino terkejut sekali saat parlemen menganugerahi dirinya, Eko, Daisy, Adin, Daffy, dan Rido Matius dengan medali Crin’s Crest. Medali untuk Rido akan dikalungkan pada monumennya. Upacara pengalungan medali akan dilaksanakan tiga hari lagi. Untuk pengalungan Crin’s Crest, akan dilaksanakan oleh Ralph Gusrizant, anggota parlemen yang pernah menjabat sebagai pemimpin darurat waktu Marino melaksanakan misi ke Zenton.

Parlemen juga menyetujui pembangunan monumen-monumen dan pemakaman yang dijanjikan oleh Marino bagi yang gugur di ibukota Eleador.

Pertemuan telah usai, dan semua kembali ke kamarnya masing-masing. Semua yang tadi ikut penyerangan ke ibukota Eleador tertidur seketika. Marino saja tertidur di lantai kamarnya saking lelahnya. Armor saja belum ia lepas.

Menjelang sore hari, Marino terbangun dengan merasa sangat segar dan lapar. Ia mengganti armor dan melepas senjatanya. Dengan pakaian kebesaran istana, ia melangkah keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju singgasana. Sesampainya di sana, ia bertemu dengan Adin.

“Daisy mencarimu. Kurasa ia pergi ke kamarmu,” katanya. Tapi baru saja Marino melangkah menuju pintu keluar, Daisy masuk.

“Kau mencariku?” tanya Marino.

“Kau yang harusnya mencariku,” kata Daisy.

Marino paham. “Mengenai pernikahan kita, ya? Aku ingin melaksanakannya setelah pengalungan medali. Kau setuju?” tanyanya pada Daisy.

“Tentu saja aku setuju. Aku sangat mencintaimu. Nah, bagaimana kalau kita pergi makan?” Daisy menawarkan. “Aku punya ide. Rasanya enak kalau sekali-sekali kita makan di rumah makan milik rakyat. Kan lama sekali kita tidak berjalan-jalan di sini,” usul Marino.

“Kelihatannya enak juga. Daffy? Yang lainnya mau ikut, tidak?” tapi Marino menggeleng. “Kita berdua saja.”

Tanpa pengawal, mereka berdua pergi ke kota dengan berpakaian orang kota biasa. Saat berjalan, Daisy menggandeng tangannya, dan Marino tersenyum. Di kota, entah karena sibuk sendiri atau memang tidak tahu, tidak ada yang mengenali Marino, Caliph mereka. Tapi Marino tidak peduli. Keduanya masuk ke dalam sebuah rumah makan kecil yang bertuliskan ‘Raja Panci Crin’. Di dalam, nyaris tidak ada satupun pengunjung. Hanya sepasang suami istri dan tiga orang anaknya sedang menikmati roti dan gulai. Daisy tersenyum melihat keluarga itu yang tampak bahagia dan makan sambil bercanda.

“Nanti, kau mau punya berapa anak?” bisik Daisy, membuat Marino memerah. “Yah, bagaimana nanti sajalah….”

“Paduka Marino?” pekik seorang pria dari balik meja layan. Ia adalah pemilik rumah makan itu, tapi entah mengapa, wajahnya tidak begitu asing bagi Marino dan Daisy. “Apa yang membuat anda masuk ke restoran saya yang hina ini?” tanya sang pemilik yang masih muda dan kekar.

“Tidak ada restoran yang hina. Restoran ini bagus, kok. Eh, apakah kita pernah bertemu?” tanya Marino.

“Saya seorang prajurit dari pasukan Jendral Marissa. Kita bertemu waktu anda tiba-tiba muncul di tengah ibukota Eleador bersama dia,” dia menunjuk Daisy, “dan tiga orang lainnya. “ katanya.

“Oh, betul!” Daisy ingat. “Kau yang memberi tahu bahwa ada monster di tengah kota, bukan?” dan sang prajurit menangguk senang. Keluarga yang sedang makan tadi ternyata sedang melihat ke arah mereka.

“Kalian mau makan apa? Pesan saja. Gratis,” kata sang pemilik.

“Tidak. Hukum negara kita melarang seseorang yang membeli sesuatu tanpa dipungut biaya, hanya karena pangkat atau jabatannya,” Marino duduk di sebuah bangku.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kalian memesan menu istimewa kami, yaitu Gulai Asmara?” si pemilik menawarkan. Isinya adalah gulai kambing atau ayam, silahkan pilih, roti, dan porsinya untuk dua orang. Tapi kami hanya menghidangkannya dalam satu piring saja. Yah, ini biasa dipesan oleh orang yang sedang berkencan, dan kelihatannya anda berdua…,” Marino dan Daisy langsung memerah, “ Ah.. maaf atas kelancanganku. Mungkin anda mau pesan yang lain…,” sang pemilih mulai salah tingkah.

“Tidak, kok. Kami memang sedang berkencan…,” kata Daisy, Marino mencubit kakinya dari bawah meja.

“Iya, kami pesan yang itu saja,” kata Marino.

“Terima kasih. Sekali lagi terima kasih telah memilih tempat di restoranku,” oceh sang pemilik tanpa henti sambil masuk ke dapur.

“Apa-apaan, sih?” omel Daisy saat sang pemilik restoran telah pergi ke dapur.   “Malu, tahu. Kalau kau mau pesan, pesan saja. Jangan bilang itu segala,” bisik Marino.

“Ya sudah. Jangan diributkan. Tidak enak kencan sambil ribut…,” balas Daisy, dan Marino tertawa.

Beberapa saat kemudian, sepiring besar Gulai Asmara telah dihidangkan. Keduanya makan sambil mengobrol. Gulai itu rasanya enak, hingga tak terasa sudah habis. Marino memesan sepiring lagi larena keduanya masih lapar. Setelah menghabiskannya, Marino membayar delapan keping emas, lalu pergi. Keduanya berjalan-jalan di kota tersebut. Di jalan, Marino membelikan Daisy sebuah kalung yang terbuat dari kerang yang indah.

Malam sudah larut, barulah Marino dan Daisy kembali ke istana. Rupanya para aparat istana sedang ribut mencari keduanya. Mereka bernafas lega melihat Marino kembali.

“Lain kali tolong lapor. Kami sangat khawatir,” kata seorang prajurit.

“Mau kencan masa lapor?” bisik Marino sambil mencium pipi Daisy. “Eh, aku baru ingat. Kita harus siap-siap. Besok ada pertemuan di markas The Chain. Pastikan kita tidak lupa untuk datang. Kita harus berangkat pagi-pagi,” kata Marino, lalu mengantar Daisy ke kamarnya. “Sampai jumpa besok.” kata Daisy, lalu mereka berciuman.

Marino pergi ke kamarnya sendiri, lalu berbaring di kasurnya. Ia tidak bisa tidur, tapi terus berusaha tidur. Marino terus memikirkan apa yang dialaminya kemarin malam. Melawan Lucifer… membunuh Rafdarov… banyak sekali yang telah ia lalui. Kini ia bingung. Apa yang harus dia lakukan berikutnya? Menikah dengan Daisy. Tapi ia sedang memikirkan petualangan. Dulu, cita-citanya adalah mengalahkan Devilmare dan Rafdarov, dan itu sudah tercapai. Rasanya ia tidak akan merasakan petualangan lagi untuk selamanya.

Pikirannya beralih ke Daisy. Ia mencoba mempertimbangkan ulang pernikahannya itu. Ia memang sangat mencintai Daisy. Apa yang kurang darinya? Umurnya memang kurang akibat dikurung sekian lama. Dia sangat manis, ramah, selera humor tinggi, cerdas, lincah, kuat, ahli bela diri, apa lagi yang harus dimiliki oleh seorang istri? Rasanya Daisy sudah memilikinya. Dulu, sebelum ia merantau, yaitu waktu ia masih delapan tahun, Marino mengenal orang tuanya. Daisy juga berasal dari keluarga baik-baik.

Kini sebuah pertanyaan lain bangkit di dalam batinnya. Apakah dia sendiri pantas untuk menikah dengan Daisy? Tapi pantas atau tidak, setelah semua yang telah mereka lakukan bersama, setelah perjuangan yang mereka lakukan selama ini rasanya mereka memang harus, dan ingin menikah.

Setelah bertanya-tanya pada batinnya sendiri, lalu menjawabnya sendiri pula, akhirnya ia lelah, dan tidur. Ia bermimpi tentang kilas balik hidupnya selama ini. Terlintas di matanya kenangan waktu ia bermain pedang-pedangan bersama Eko, Daffy, Adin, dan Daisy, belajar bela diri bersama, Daisy memberikan senjata kembar padanya. Ia juga melihat waktu dia dan tiga temannya bertarung melawan sekitar seratus pasukan Devilmare sebelum rumahnya diledakkan… banyak sekali memori di dalam batinnya terbangkit kembali. Detik-detik terakhir bersama Gabriela, menjadi Caliph, semuanya.

 

Suara ribut di depan pintunya membuat dirinya terbangun. Saat ia keluar, Yogin dan Phaustine sedang berkelahi dengan pengawal di depan pintunya.

“Ada apa, sih, ribut sekali?” tanya Marino.

“Kami mau membangunkanmu. Kau harus ke markas The Chain hari ini,” kata Yogin, sambil menjitak seorang pengawal.

“Oh, kenapa kalian tidak bilang? Kalau kalian bilang dari tadi, aku kasih lewat,” omel seorang pengawal.

“Iya. Tadi mereka cuma nyelonong saja. Masa kami mau biarkan lewat? Meskipun dia Jendral Yogin…,” gumam pengawal yang satunya lagi.

“Iya, maaf,” celoteh Phaustine.

“Oke. Aku ganti baju dulu. Tunggulah di bawah,” gerutu Marino sambil masuk ke kamarnya.

Sepuluh menit kemudian, Marino telah siap dengan baju kebesaran istana, dan memulai perjalanan ke markas The Chain yang berada di Eleador. Seratus prajurit The White Garda ikut mengiringi kuda perang yang ia tunggangi. Anggota-anggota The Chain asal Crin’s Blade mengikutinya di belakang. Tentunya sekarang Fraksi peradilan Crin’s Blade sedang kosong, sebab Lothar, Isabel, dan Phalus sudah bukan aparat Crin’s Blade lagi karena telah kembali pada negara masing-masing, tapi berhubung mereka sudah ada di sini, maka mereka ikut pergi ke pertemuan ini.

Menjelang siang, akhirnya mereka tiba di depan markas yang besar tersebut. Gerbang dibuka begitu mereka sudah dekat.

Begitu memasuki pintu depan markas, yang mereka lihat adalah sebuah monumen kecil dengan pedang iblis di atasnya. Marino dan yang lainnya melewati lorong-lorong. Akhirnya mereka tiba di ruangan besar yang berisi sebuah meja raksasa yang berbentuk bundar. Anggota yang lain telah berada di sana, dan sedang mengobrol riuh. Ratu Darpy, yang masih menjabat sebagai ketua umum The Chain, segera mengembalikan keadaan menjadi tenang.

Saat Marino dan teman-temannya duduk, Ratu Darpy membuka rapat. “Yang perlu kita bahas sekarang, adalah mengenai fungsi The Chain. Seperti yang telah kita ketahui, tujuan khusus dibentuknya The Chain adalah untuk membasmi Devilmare dan membebaskan Zenton darinya. Kini, hal itu sudah kita capai. Sekarang apa yang akan dilakukan The Chain berikutnya? Kita belum pernah membahasnya. The Chain tidak mungkin bengong saja menunggu sebuah negara lain menjadi Devilmare kedua, menyerang negara lain, lalu kita damaikan. Adakah yang mempunyai usulan?” tanyanya.

Chezzy dari Eleador mengangkat tangan. “Kalau menurutku, kita bubarkan saja. Kan tujuan kita adalah menciptakan kedamaian, dan itu sudah tercapai,” katanya. “Tapi masih ada yang mengganjal hatiku. Kedamaian tidak akan berlangsung selamanya. Pasti akan ada-ada saja masalah nantinya,” katanya lagi.

“Masalahnya kita tidak bisa bengong saja sambil menunggu,” gerutu Aldyan dari Apocalypse. Suasana hening sejenak.

“Tapi tidak apa-apa. Ini kan tindakan preventif,” ujar Eko.

Marino yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara. “Kalau saranku, tidak apa-apa The Chain  tetap berdiri, tapi tidak bengong saja menunggu negara lain perang. Kitalah yang memulai perang!” Seluruh ruangan ribut.

“Maksudmu?” tanya Meissa.

“Aku bercanda. Begini. Kalian melupakan tujuan umum The Chain. Bersatu bahu membahu dalam mengentaskan kemungkaran dan menciptakan perdamaian,” katanya, membuat ruangan hening. “Kita masukkan negara-negara di Zenton menjadi anggota, lalu buat perserikatan bangsa-bangsa, dan membuat hukum internasional, yang mengatur mengenai hubungan antar negara, seperti perdagangan, perang dan yang lainnya.” Semuanya bertepuk tangan menyetujui.

“Gallowmere ikut,” kata Phalus.

“Roxis juga,” sahut Lothar Night.

“Usul yang bagus. Jadinya akan seperti begini. The Chain seolah olah menjadi ‘pemerintah pusat’, dan negara-negara anggotanya seolah menjadi ‘provinsi-provinsi’ dengan otonomi khusus. Begitukah?” tanya Meissa.

“Tentu tidak. Setiap negara tetap memiliki kedaulatan masing-masing. Perserikatan ini adalah tempat dimana kita semua bisa duduk sama tinggi dan sama rendah untuk menjaga perdamaian serta menjalin hubungan baik. Salah satunya, kita harus mengatur suatu hukum perang. Misalnya alasan-alasan yang memaksa perang, tata cara berperang yang untuk melindungi warga sipil, dan hukuman untuk pelanggar-pelanggarnya.” Marino menjelaskan. “Memangnya ada alasan yang tepat untuk melakukan perang?” tanya Tiza dari Apocalypse.

“Tentu,” jawab Marino. “Ambil contoh saja Devilmare. Apa itu tidak pantas diperangi?” lalu Phalus angkat suara juga “Melihat kisah Gallowmere dulu, rasanya sebuah pemerintahan yang menindas rakyatnya butuh campur tangan dari negara tetangganya, demi kebaikan.” Pandangan tersebut menuai ribut karena pro dan kontra, tetapi Marino menghentikan perdebatan tersebut.

“Sebaiknya kita membahas ini detail nanti saja kalau semua negara sudah terkumpul. Butuh forum khusus untuk itu. Bagaimana kalau kita sekarang membahas hal-hal yang lain, seperti misalnya pedang iblis?” usul Marino, mereka pun membahas hal tersebut. Akhirnya diputuskan bahwa pedang iblis itu akan disegel di ruang bawah tanah markas The Chain.

“Kalau begitu, kita harus mengadakan pertemuan dengan negara-negara di Zenton. Kalau saranku, kita sebaiknya mengadakannya di Zenton saja, agar bisa lebih mudah dan cepat. Kita akan ke sana minggu depan. Setelah pernikahan Marino,” kata Natasha dari fraksi politik Apocalypse, membuat Marino memerah.

“Ah, betul! Kapan kalian akan menikah?” tanya Ratu Darpy.

“Err… lusa, setelah acara pengalungan medali.” kata Marino.

“Medali?” tanya Meissa.

“Oh. Crin’s Blade menghadiahi semua yang berjasa dalam perang terakhir dengan Rafdarov, dengan medali. Prosesnya mungkin akan lama, jadi kurasa pernikahanku harus diundur sehari,” jawab Marino. “Dan tentu saja The Chain akan kuundang,” dia menambahkan.

Rapat akhirnya dibubarkan, kemudian semua makan siang di ruangan itu juga saat ada beberapa pelayan masuk dan mengantarkan berpiring-piring makanan yang lezat. Setelah makan dan istirahat sejenak, semuanya pulang ke negara masing-masing.

Di istana Crin’s Blade, para Blacksmith sudah lama bekerja keras membuat medali. Sebenarnya mudah sekali, yaitu tinggal mengambil seraup logam panasnya dengan sebuah alat cap yang sudah tersedia dan berjumlah puluhan, lalu diberi magic es dan dijatuhkan saja ke lantai menunggunya betul-betul padat. Tapi mereka harus membuat ribuan dan jenis medali tidak cuma satu. Untunglah ada yang berinisiatif membuat lebih banyak lagi alat cetak dan tenaga kerja yang turun mencapai ratusan orang.

Saat Marino dan yang lainnya tiba kembali, para Blacksmith telah menyelesaikan kira-kira sembilan puluh persen dari yang dibutuhkan. Diperkirakan bisa selesai besok malam, sehari sebelum acara, dan pendinginan medali sudah di hitung. Yang lama adalah pembuatan Crin’s Crest yang penempaannya memiliki cara khusus dan mempergunakan jenis magic unik yang macamnya lumayan bervariasi, untuk menyempurnakan medali tersebut.

Untuk persiapan acara tersebut, Marino mempercayakan penyusunannya pada kakaknya, Marissa. Kalau untuk acara pernikahannya, Daisy sendiri yang akan mengurusnya, karena dia begitu semangat. Karena acara masih lama, Marino memutuskan untuk mengecek data para pasukan yang akan diberi medali. Ia menghubungi jendral masing-masing pasukan untuk memastikan. Ia pun bertemu dengan Black.

“Kurasa… rahasiaku akan kubawa sampai kematianku nanti. Hanya kau yang tahu,” katanya pada Marino. Memang. Beberapa waktu yang lalu, Black menunjukkan identitas aslinya pada Marino. Dia ternyata kembaran kakaknya yang bernama Marcia Obelos. Black melakukan penyamaran ini sejak masih kecil, dan entah mengapa, ia terus saja menyimpan rahasia ini.

Acara pengalungan medali akhirnya tiba juga. Ia mengambil tempat di lapangan raksasa sebuah kota yang bernama Azaras untuk mengadakannya. Setelah pidato singkat dari Marino, akhirnya acara dimulai.  Pertama, dilakukan pengalungan medali Vicez-perak dengan dua bintang oleh Marino untuk pasukan Adin, Rido, dan The White Garda yang ikut dalam penyerangan ibukota Eleador dari selatan. Lalu dilanjutkan dengan pengalungan Zhalanx, medali emas satu bintang, untuk pasukan yang menyerang lewat barat. Setelah itu, Marino mengalungkan Zhachant, medali platinum dengan satu bintang, kepada Marissa, Jasmine, Pavatov, Saphirre, Ullyta, Dalel, Phaustine, Yogin, Kaine, Phaustine, dan Black.

Acara puncak akhirnya tiba. Pengalungan medali Crin’s Crest untuk Marino, Daisy, Eko, Adin, dan Daffy oleh Ralph Gusrizant. Kelimanya maju ke depan, lalu berlutut. Prosesi untuk menerima Crin’s Crest berbeda dengan penerimaan medali lainnya. Ralph memegang pedang legendaris Crin. Marino sendiri belum pernah melihatnya, meski tahu bahwa pedang itu terus berada di ruang singgasana raja di dalam sebuah kubah kaca.

Ia meletakkan pedang itu di bahu kanan mereka secara bergiliran dan pada tiap orang yang bahunya ia kenakan dengan ujung pedang, ia berkata “Dengan nama Godrin, Crin atas nama Ralph Gusrizant, menganugerahi Crin’s Crest pada Caliph Crin’s Blade Marino Obelos (Namanya berganti tiap ia meletakkan pedang pada orang yang berbeda.).” Setelah selesai mengalungkan medali pada kelimanya, ia mengambil sebuah medali, dan mendekati Daffy, yang berlutut di ujung paling kiri. Seorang prajurit mendekat dan membawa semangkuk air bening. Konon air itu diisi semacam magic yang tidak diketahui fungsinya. Ralph mencelupkan ujung medali tersebut di air tersebut, saat diangkat, medali itu mengeluarkan cahaya putih menyilaukan selama beberapa detik, lalu meredup, tapi cahaya tersebut masih ada sedikit. Medali Crin’s Crest tersebut dikalungkan ke Daffy. Kemudian, ia melakukan hal yang sama pada Eko, Adin, Daisy, dan akhirnya pada Marino. Pada saat medali untuk Marino tersebut dicelupkan ke air, lalu diangkat, cahaya menyilaukan muncul, dan tidak hilang dalam beberapa detik seperti yang lainnya, melainkan selama hampir lima menit. Barulah medali tersebut dikalungkan.

“Medali Crin’s Crest untuk Rido Matius akan dilaksanakan di istana negara Crin’s Blade, di monumen untuk dirinya berada. Hari ini juga,” Marino mengumumkan dalam pidato penutupnya. “dan kalian semua diundang ke istana negara besok siang untuk mengikuti upacara pernikahan saya. Semua akan dijamu, makanlah apa saja yang tersedia. Jangan berpikir bahwa ada jatah rakyat, jatah bangsawan, jatah prajurit, atau sebagainya. Semua boleh mengambil apa saja,” Marino menambahkan.

Saat Marino mengakhiri pidatonya, langit telah gelap, menandakan bahwa malam telah tiba. Semua kembali ke rumah masing-masing. Marino dan Daisy menemui semua panitia penyelenggara upacara dan perjamuan pernikahannya. Ternyata semua telah berjalan lancar dan acara siap dilaksanakan. Marino kembali ke kamarnya untuk beristirahat, dan Daisy mengikutinya.

“Besok adalah hari terbesar kita, ya?” kata Daisy yang berbaring di sebelah Marino.

“Betul. Aku tidak sabar menunggu besok. Sangat tidak sabar,” jawab Marino yang masih duduk di atas tempat tidur, sambil mengoret-oret di atas selembar perkamen, yang isinya rancangan undang-undang internasional The Chain yang akan ia usulkan pada sidang The Chain berikutnya.

“Tidurlah,” kata Daisy dengan penuh perhatian.

Marino mendekatinya, dan membelai pipinya. “Ini tidak akan merusak persahabatan kita semua, bukan?” tanya Marino. Daisy menggeleng. Marino tersenyum agak gugup. Hatinya berdebar-debar menanti besok.

Keesokan paginya, ia terbangun saat merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya dan sesuatu yang basah dan hangat menyentuh pipinya. Rupanya Daisy telah melompat ke atas tubuhnya dan mencium pipinya.

“Kita akan menikah hari ini. Bagaimana kalau kita turun sekarang?” tanya Daisy. Dan Marino mengangguk. Setelah berganti pakaian, keduanya turun. Sepanjang jalan, para pengawal dan seluruh aparat istana yang mereka jumpai bertepuk tangan saat mereka lewat.

Semuanya pergi makan di dapur istana. Seperti biasa, para koki menggeleng-geleng melihat tingkah pemimpin mereka, yang tidak mau makanannya diantar ke kamarnya. Para koki sedang sibuk memasak untuk sarapan, sekaligus mempersiapkan makanan untuk pesta pernikahan Marino. Karena ribuan porsi dibutuhkan, maka tidak cuma koki-koki istana ini saja yang bekerja, melainkan juga melibatkan ratusan koki lain di kastil-kastil lainnya.

Setelah dijamu dengan ayam panggang yang lezat, kelima bersahabat ini pergi mengecek ruangan tempat penyelenggaraah pesta, yaitu ruang singgasana, dan aula depan. Puluhan ahli dekorasi terkenal dikerahkan untuk menata ruangan-ruangan tersebut. Sebetulnya ruangan-ruangan itu diberi berbagai macam hiasan, termasuk renda-renda dan korden-korden emas, lalu banyak yang lain. Orang lain pasti menganggap hiasan ini luar biasa, bahkan orang yang berkelas sekalipun. Tapi Marino menanggapinya dengan kikuk. Dia menganggap hiasan-hiasan itu lucu dan berlebihan, tapi dia tidak mengemukakannya di depan para ahli dekorasi, karena pasti akan membuat mereka tersinggung.

Matahari mulai meninggi, menandakan bahwa upacara pernikahan akan dimulai sekitar dua jam lagi. Marino dan Daisy dipisah di sudut istana yang berbeda, lalu dipojokkan oleh ahli-ahli busana pernikahan yang mendandani mereka dengan berbagai macam dandanan. Pakaian yang mewah sekali, yang tentu saja aneh bagi Marino. Bentuknya seperti kimono berwarna putih, dan ada berbagai macam renda dan motifnya. Mahkotanya diambil, untuk kemudian dipoles dan dibuat lebih mengkilat. Pedang Legendaris Crin diambil, dan diselipkan ke ikat pinggangnya. Akhirnya ia disuruh memakai sepatu yang aneh sekali, sebab bagian depannya seperti lidah ular, bercabang dua. Daffy, Adin, dan Jasmine yang menungguinya tertawa melihat gaya jalan Marino yang ajaib setelah diberi berbagai macam dandanan dan aksesoris.

Marino disuruh menunggu di sebuah kamar, yang merupakan kamar Jasmine. Menurut tradisi, pengantin harus menunggu di sebuah kamar sebelum pernikahan dilangsungkan, dan kamar yang paling jauh dari ruang singasana adalah kamar Jasmine. Jasmine dan Eko mengunggu bersamanya saat Adin dan Daffy pergi untuk mengecek ruangan dan segala persiapan lainnya.

“Bagaimana perasaanmu, sobat?” tanya Eko.

“Aneh. Baju ini… gila….”

Jasmine tertawa. “Ini adalah baju pernikahan untuk Caliph Crin’s Blade. Ini ada nilai sejarahnya,” Jasmine menjelaskan, “sebab baju yang kau pakai adalah baju asli yang dipakai oleh Crin sendiri waktu menikah. Karena itu, penggantinya yang kebetulan merupakan anaknya, memutuskan agar baju itu dijadikan baju resmi untuk pernikahan istana.”

“Kalau untuk pengantin wanita?” tanya Marino.

“Oh, aku baru pernah melihatnya sekali waktu aku sedang memeriksa gudang istana beberapa tahun lalu, pernah dikabarkan bahwa ada penjahat menyelinap masuk. Indah, tapi aku tidak bisa mendeskripsikannya sekarang, sebab kau harus melihatnya sendiri nanti,” kata Jasmine.

“Eh, kalian sendiri kapan berencana untuk menikah?” tanya Marino, lalu Eko dan Jasmine saling berpandangan.

“Rasanya… entahlah.” Jasmine agak ragu.

“Aku sudah mengajaknya berulangkali. Bahkan aku sudah menemui orangtuanya di desa Chaanar, tapi menurutnya dia masih terlalu muda. Adatnya berbeda,” kata Eko. “Kalau begitu hanya tinggal tunggu waktu saja.” Balas Marino, dan mereka semua tersenyum.

 

Akhirnya tiba juga saatnya Marino pergi ke ruangan singgasana untuk melangsungkan upacara pernikahan. Beberapa pengawal datang untuk mengiringinya pergi.

Sepanjang perjalanannya menyusuri lorong-lorong kastil, di kiri-kanannya berbaris prajurit yang mengangkat senjata mereka begitu Marino melintas di depannya. Di belakang Marino, berbaris dua puluh prajurit The White Garda dengan armor, tapi dengan ditambah beberapa macam aksesoris lainnya pada senjata mereka.

Marino tiba juga di ruang singgasana. Di sana sudah ada seorang pendeta, Meissa, Ratu Darpy, Bimo, para ksatria, dan semua aparat istana beserta semua anggota parlemen. Duduk di singgasana, ada Daisy. Dia tampak sangat cantik. Sangat. Rambutnya yang sebahu diikat ke belakang dengan pita berwarna keperakan. Tapi Marino hampir tertawa melihat bajunya. Daisy mengenakan semacam gaun yang bagian atasnya cukup ketat, tapi roknya mengembang seperti payung. Apalagi baju itu tampak agak kebesaran untuknya. Tatapan keduanya saling bertemu, Marino dapat melihat ada tawa yang ditahan di sana.

“Calon pengantin wanita silahkan berdiri, dan maju ke depan. Calon pengantin pria, dekatilah calon pasanganmu,” kata sang pendeta.

Dia dan Daisy berdiri sejajar, memunggungi penonton, menghadap pendeta. Di sebelah pendeta itu, ada Meissa. Sang pendeta mengambil sejumput serbuk dari semacam vas di sebelahnya, lalu menaburkannya pada Marino, lalu pada Daisy. Perasaan sejuk menerpa keduanya saat serbuk itu menyentuh kulit mereka.

“Silahkan,” kata sang pendeta kepada Meissa.

Meissa berdehem, lalu berkata, “Marino Obelos. Caliph Crin’s Blade yang sah. Kau akan dinikahkan dengan Daisy Asalaz. Apakah kau keberatan?” Marino terdiam sejenak. Konyol sekali, pikirnya. Tentu saja tidak keberatan. Mau menikah masa keberatan? Kalau keberatan, untuk apa mereka menikah?

“Tidak. Saya tidak keberatan,” jawab Marino dengan suara pelan, namun jelas.

Meissa berdehem lagi. “Apakah kau sanggup dinikahkan dengan Daisy Asalaz? Siap menanggung segala resiko yang akan ditemui? Siap memperlakukannya dengan baik, mempertaruhkan nyawamu sendiri untuk melindunginya, dan membesarkan keturunan kalian dengan baik dan bertanggung jawab?” sekali lagi, Marino terkikik dalam hati. Tentu saja ia akan mempertaruhkan nyawanya. Tidak harus istrinya. Ia akan mempertaruhkan nyawanya untuk siapapun. Membesarkan keturunan dengan baik? Memangnya dia orang gila yang akan menelantarkan anaknya?

“Saya sanggup, dan akan melaksanakannya,” jawab Marino.

Meissa ganti menanyakan pertanyaan yang sama. Entah perasaan saja atau memang benar, Marino merasakan bahwa dalam hati Daisy, terbersit lelucon yang sama tiap kali dia ditanya.

“Mereka sanggup,” kata Meissa pada sang pendeta, yang kini mendekati keduanya. “Dengan nama Godrin dan dewa lainnya. Dengan nama cinta suci yang berada di lubuk hati kalian yang paling dalam. Saya nyatakan bahwa kalian berdua sebagai suami istri yang sah,” kata sang pendeta, semua penonton langsung bertepuk tangan. Seorang prajurit datang membawa sebuah bantal merah, yang diatasnya terdapat sebuah mahkota mengkilat. Persis punya Marino dari segi bentuk, tapi bahannya terbuat dari campuran emas dan platinum, sedangkan milik Marino terbuat dari seratus persen platinum. Itu membuat warnanya agak berbeda. Susunan permata di atasnya sama, tapi warnanya berbeda. Pada mahkota yang ini, warna permatanya sangat bervariasi namun teratur, mulai dari putih, biru, hingga merah. Permata pada mahkota Marino berwarna putih semua.

Bantal itu didekatkan pada Marino, dan Ralph Gusrizant maju ke depan. “Sekarang, kau akan meletakkan mahkota ratu kepada istrimu, menandakan bahwa kini ia berjabatan sebagai ratu,” kata sang pendeta, saat Ralph mengambil mahkota tersebut dari bantal, kemudian diserahkan pada Marino.  Marino agak terkejut saat Daisy membungkuk di depannya. Kenapa dia tidak diberi tahu skenario ini, sedangkan Daisy diberi tahu? Ah, ia sibuk mengobrol. Marino memakaikan mahkota itu pada kepala Daisy. Para penonton bertepuk tangan lagi.

“Sekarang, selain suami istri, kalian juga CALIPH… dan… RATU. Paduka Marino Obelos, sekarang kau boleh mencium mempelaimu,” kata sang pendeta. Sebelum sang pendeta selesai bicara, Marino sudah memeluk Daisy dan menciumnya.

Pesta berlangsung hingga larut malam. Akhirnya saat pesta berakhir, ribuan orang memberi selamat, membuat tangan Marino dan Daisy pegal karena terus bersalaman. Sekitar pukul satu dini hari barulah hampir semua tamu pulang, kecuali para ksatria dan anggota The Chain. Yang terakhir memberi selamat pada mereka adalah Ratu Darpy. “Kalian memang masih muda sekali, tapi kalian sudah bisa mengemban tanggung jawab orang dewasa. Kalian memang pasangan yang luar biasa,” katanya.

“Aku sangat lelah, tapi aku sangat senang,” kata Daisy di kamar Marino begitu pesta sudah benar-benar usai. Marino memeluknya. Petualangan kita berakhir bahagia,” katanya.

“Sangat bahagia. Aku hanya takut ini akan berakhir,” Marino berbisik di telinga Daisy.

“Tapi tidak akan kubiarkan berakhir,” kata Daisy bersemangat. “Malahan,” Daisy tersenyum, lalu meletakkan tangannya di pinggang Marino, yang membelai pipinya dengan lembut. Daisy kemudian melanjutkan kalimatnya, setelah Marino mencium pipinya, dan memeluknya.

“Kebahagiaan ini baru saja akan kita mulai. Bukankah begitu, Marino Obelos, sayangku?”

 

 

 

 

[End of Chapter XIX]

[Coming up next, Chapter XX: Epilogue…]

 

Legend of Legends : Chapter XVIII – Oath of Prophecy?

Finally, here goes Chapter XVIII ! Witness the final battle! Enjooooy ^_^

 

 

——————————————————————————————————————————–

CHAPTER 18

OATH OR PROPHECY?

                Setelah memastikan bahwa tali-tali telah terikat dengan cukup kencang, mereka turun dengan perlahan-lahan. Entah mengapa, armor yang mereka pakai terasa begitu ringan, padahal terbuat dari bahan yang begitu kuat.

Lantai masih jauh. Kelimanya berusaha untuk tidak melihat ke bawah agar tidak jatuh, tapi sama saja hasilnya. Masih saja mereka terpancing untuk menoleh ke bawah beberapa kali. Untung mereka tidak sampai terjatuh ke bawah. Jika sampai terjatuh, tentu saja habislah mereka.

Mereka sudah setengah perjalanan ke bawah saat melihat kembali ke arah utara. Daffy mengeluarkan sebuah alat peneropong dan melihat ke ibukota Eleador. Ternyata kota tersebut dilindungi semacam pelindung transparan. Meski transparan, tapi masih samar-samar tampak. Kota tersebut kini dikelilingi oleh ribuan pasukan iblis. Ada yang di tanah, menanti dengan buas, dan ada pula yang beterbangan mengelilingi kota. Beruntung Marino tahu bahwa ia tidak perlu melawan mereka.

Berdasarkan mimpinya, ia akan menemukan sebuah segel yang jika dihancurkan, akan membawanya ke pusat kota.

Kelimanya telah turun. Begitu menyentuh tanah, mendadak langit menjadi mendung sehingga agak gelap bagaikan petang hari. Hamparan kuburan yang mengerikan terhampar luas. Entah di mana segelnya berada, tapi mereka harus mencarinya. Mereka menoleh lagi ke arah kota. Kini di atas kota tersebut muncul awan kelabu yang amat dekat dengan kota tersebut, tapi para iblis terbang kelihatannya tidak berhenti beterbangan, membentuk awan hitam sendiri.

“Teman-teman, tidak ada yang lupa, kan?” tanya Daisy.

Semuanya mengangguk. Kini mereka mulai mencari segel itu. Menurut mimpi dan kata Rido sebelum berangkat ke misi ini, sebuah segel akan muncul di kuburan masal dekat kota yang dikuasai sebagai syarat munculnya pelindung sihir tersebut. Jika ada yang berani menyentuh pelindung sihir itu, maka ia akan disengat api dari neraka yang paling dalam. Segel itu punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, adalah segel tersebut akan bisa memulihkan diri selama satu kali lagi jika dihancurkan. Kekurangannya, segel itu akan menteleport semua mahluk hidup yang berada dalam radius tiga meter dari segel, langsung ke area dimana pelindung dipasang.

Segel tersebut berbentuk tiang setinggi empat meter dan dipenuhi ukiran-ukiran iblis yang mengerikan, serta berwarna perak.

Tujuh ekor iblis muncul dari makam-makam yang ada di sekitar mereka, yang menyerang dengan ganas. Marino dan kawan-kawannya tidak terkejut lagi, dan membantai mereka dengan mudah.

Mereka melihat segel berada sekitar sepuluh meter dari situ. Ketika segel itu mendekat, mereka melakukan apa yang mereka lakukan di dalam mimpi mereka.

Setelah mereka mengelilingi segel tersebut, Marino memegang tangan Eko di sampingnya, yang memegang tangan Adin, Daffy, Daisy, lalu tangan Marino, dan membentuk lingkaran.

Menatap segel iblis itu, membuat semuanya makin bersemangat, dan menggenggam tangan teman di sebelahnya dengan makin erat. “Kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan. Ada pertanyaan?” tanya Marino, dan semua menggeleng. “Baiklah, kita mulai,”

“Demi cahaya yang menyinari kegelapan,” kata Marino, yang tubuhnya mulai bersinar. “Hilangkan kesengsaraan umat manusia,” lanjut seru Eko yang bersinar.

“Demi tugas mulia ini, hendaknya kami ingin melalui segel iblis,” kata Adin, “Segel iblis perusak umat dan juga penyengsara umat,” kata Daffy. “Hancurlah segel gelap dan jahat. Segel iblis,” seru Daisy, dan kelimanya bercahaya semakin terang.

“Dan hancurlah kau, segel Lucifer!” teriak semuanya bersamaan.

Bersamaan dengan bergaungnya kalimat itu, cahaya dari tubuh mereka melesat jauh ke atas, saling bergabung dan menjadi bola cahaya yang sangat menyilaukan. Setelah beberapa saat melayang-layang, bola cahaya itu menukik turun dan menghantam segelnya hingga lapisan perak yang tampak pada segel tersebut luluh, dan menampakkan warna dalam segel itu, hitam. Segel tersebut kini tampak lebih mengerikan, ditambah dengan suara hewan buas entah dimana.

Senjata kelimanya mulai bersinar lagi. Pedang Daffy menyala biru, tongkat Eko dikelilingi percikan-percikan listrik, mata kampak Adin dililit kobaran api, lalu senjata kembar Marino dan ujung tombak Daisy menyala dengan cahaya yang putih menyilaukan.

“Sekarang saatnya kita hancurkan segel ini. Serang!” seru Marino dan kelimanya bergantian mengeluarkan serangan-serangan terbaik mereka. Tiap serangan menghasilkan percikan api dasyat, tapi hanya menggores sedikit segel itu. Tapi lama-kelamaan segel tersebut mulai hancur, terkikis sedikit demi sedikit. Namun mereka tidak bisa senang dulu. Di hadapan mereka kini berdiri sesosok raksasa yang tidak asing lagi. Rafdarov V telah siap dengan pedang terhunus.

“Tahukah kalian, bahwa pedangku ini bisa membelah apapun dalam radius sepuluh meter?” Pedang itu diselimuti pancaran cahaya hitam saat Rafdarov berkata begitu dengan nada sok sopan.

Walau sudah tahu apa yang akan terjadi, tetap saja Marino memeluk Daisy, dan ia tahu bahwa semua temannya berharap bahwa memang semua bagian mimpinya akan terjadi.

“………..TAAAANNNNGGGG……!!!!!!!!” Bimo, seperti dalam mimpi, datang untuk membantu.

“Bimo!” seru Adin. “Hancurkan segelnya, dan akan kutahan dia di sini,” balas Bimo tanpa menoleh.

“Sembarangan saja! Aku mampu membelah besi terkuat sekalipun! Dan kekuatan iblis juga membantuku!” teriak Rafdarov, dan mulai menyerang. Tanpa ragu, Bimo menerjang juga

“Keluarkan kekuatan elemental kalian secara maksimum, dan kita serang bersama-sama!” kata Eko. Cahaya elemental pada senjata masing-masing semakin kuat menyala.

“SEKARANG!” teriak Marino, dan kelimanya menerjang segel tersebut bersamaan. Dengan sekali hantam, hancurlah segel itu. Sebuah bola cahaya terbentuk di tempat dimana tadi segelnya berdiri. Bola itu membesar dan meliputi semuanya, tapi seperti dalam mimpi Rafdarov ikut menerjang masuk.

“Habisi dia! Setan itu meninggalkan pedangnya di sini!” teriakan Bimo terdengar sesayup-sayup. Rafdarov berada di hadapan mereka.

“Kita bertarung sekarang….” kata Rafdarov.

Wajah Rafdarov yang dingin menunjukkan kerinduan yang amat mendalam, demikian juga Marino dan teman-temannya. Sayangnya kerinduan ini tidak romantis sama sekali (ya iyalaaaah).

Rafdarov mencabut sebuah pedang raksasa lain dari balik jubahnya, dan pertarungan pun pecah.

Begitu mereka sudah amat dekat, Adin menangkis dan mengaitkan pedang Rafdarov dengan kampaknya ke tanah. Di saat bersamaan, dengan kompak Daffy berkelit ke kiri, Eko ke kanan, lalu Marino dan Daisy melompat tinggi ke atas. Adin masih menahan pedang Rafdarov di bawah, saat empat temannya yang lain menerjang bersamaan. Rafdarov telah mengantisipasi ini. Dengan satu ayunan tangannya, yang dilapisi sarung tangan besi, ia menjatuhkan pedangnya dan menangkis semuanya. Tapi ia melupakan Adin yang kemudian menerjangnya dengan bahunya.

Tubuh raksasa Rafdarov terjungkal dan jatuh. Daisy melempar tombaknya lurus ke dada Rafdarov, tapi sekali kibas tombak tersebut terpental. Sambil melompat, Marino menangkap tombak yang terpental itu, dan masih melayang, ia melempar lagi tombak itu. Rafdarov yang sibuk menangkis serangan halilintar Eko tidak siap. Tombak itu menembus bahu Rafdarov. Dengan geram, Rafdarov mencabut saja tombak itu, dan menerjang maju. Tapi, bahunya yang luka membuat gerakannya terhenti. Kelimanya memanfaatkan saat ini untuk menerjangnya bersamaan.

Diterjang oleh lima serangan elemental sekaligus, Rafdarov terpental jauh, dan tubuhnya ditelan oleh lantai gelap tak berdasar di bawahnya.

“Sampai kapan kita akan terus berada di sini? Kapan kita akan tiba di Eleador?” gumam Eko. Tapi pertanyaannya segera terjawab. Tiba-tiba udara di sekitarnya berubah dari gelap, menjadi pemandangan sebuah kota. Mereka kini sudah berada di dalam ibukota Eleador.

Rumah-rumah terbakar, dan ada beberapa prajurit sedang bertempur dengan pasukan iblis. Marino dan teman-temannya membantu.

“Ada monster raksasa di pusat kota,” kata seorang prajurit ketika para iblis telah dihancurkan.

“Kalian cari saja tempat berlindung, biar kami yang mengatasinya,” kata Marino pada mereka.

Kelimanya terus berlari ke arah pusat kota. Beberapa kali mereka berpapasan dengan prajurit keok atau pasukan iblis dan harus bertarung. Di tengah kota, akhirnya Marino melihat sebuah area yang rumah-rumahnya sudah rata dengan tanah. Di situ ada sesosok monster raksasa yang wujudnya seperti ubur-ubur hitam terbuat dari kabut padat. Monster tersebut dikelilingi oleh para ksatria. Ada Marissa, Jasmine, Pavatov, Saphirre, Ullyta, Dalel, Meissa, Bathack, Yogin, Phalus, Isabel, Darpy, Kaine, Phaustine, dan lainnya.

Para prajurit tidak berani mendekat. Bahkan para ksatria juga tidak terlalu dekat. Hanya yang punya serangan jarak jauh, seperti Yogin, Jasmine, Phaustine dan Kaine saja yang menyerang, tapi tidak ada manfaatnya. Rido dan Black baru saja tiba.

“Pelindung dan pasukan iblis telah dikalahkan, lapor Black, tapi Rido terlihat berang yang berjalan mendekati monster tersebut dan merupakan Lucifer.

“Akhirnya kau datang juga. Sedikit saja kau terlambat, orang-orang ini akan kuhabisi dalam sekejap mata,” kata Lucifer dengan suara yang melengking tinggi dan amat mengerikan.

“Begitukah? Tapi sadarlah. ajalmu sudah dekat,” kata Rido. “Lima orang sesuai sumpahku telah datang. Kalau otak dungumu itu masih berfungsi, sudah tiga belas hari sejak kau bangkit.”

Marino dan yang lainnya baru sadar. Sebegitu lamakah sejak ia melihat kebangkitan Lucifer? Rasanya belum lama. Tapi itu tidak penting.

Lucifer bergerak. Warnanya bertambah hijau sedikit. “Sumpah sampahmu itu? Bagiku itu sama saja dengan ramalan orang bodoh,” kata Lucifer.

“Bukan ramalan. Sumpah. Dan aku bersumpah kalau kau akan hancur!” kata Rido, mengangkat pedangnya.

“Nah. Kalau begitu, cobalah hidangan pembuka ini. Ksatria yang lain tidak boleh ikut campur,” kata Lucifer dan dari tubuhnya melesat sebuah kilatan hitam ke arah Marissa.

“Tidak!” seru Marino, tapi Rido lebih sigap. Ia melompat, dan menangkis kilatan itu dengan pedangnya.

“Mau mencoba menangkisnya, ya? Bagaimana kalau begini?” cahaya tersebut bertambah besar sedikit. Rido terpaksa mundur. Bimo membantunya dengan cara menyilangkan pedangnya di belakang pedang Rido.

“Solidaritas… ini yang membuat manusia kadang-kadang menarik. Tapi manusia seperti kalian tidak berguna!” jerit Lucifer, kilatan hitam tadi bertambah besar. Dengan sigap, semuanya membantu menangkisnya. Bahkan Marino dan keempat kawannya pun ikut. “Luar biasa. tapi kalian akan mati saja sekaligus!” Sinar hitam tersebut bertambah lebih besar lagi.

“Menyingkirlah kalian!” teriak Rido, menghempaskan tubuh Marino beberapa meter ke belakang. Menyusul tubuh Daisy, Adin, Eko, dan Daffy terlempar.

Setelah itu, kilatan hitam tadi menimbulkan ledakan dasyat, dan asap menyelimuti seluruh kota. Saat asap mulai pudar, Marino melihat bahwa semua ksatria yang lain kecuali Rido, telah terkapar. Mereka semua kelihatan masih hidup, tapi semacam kekuatan gelap menahan agar mereka tidak bisa bergerak. Daffy membantunya berdiri, lalu ia membantu ketiga temannya yang lain untuk berdiri.

“Seranganmu tidak mempan padaku!” cemooh Rido.

“Tentu saja. Tanpamu, pertarungan tidak akan menarik sama sekali. Nah, aku mau melihat. Seperti apa kelima manusia yang katanya akan mengalahkanku,” geram Lucifer.

Rido tersenyum, “Kau tidak akan bisa menduganya.”

“Oh, dan kau, Rido Matius. Akan kubuat kau mati lagi. Tapi setelah aku mengurus kelima manusia itu!”dan monster itu meluncur ke arah Marino dan teman-temannya. Sosoknya yang seperti kabut berubah menjadi sisik. Menghadapi serangan seperti ini, Marino dan teman-temannya melakukan prosedur yang sama seperti melawan Rafdarov. Adin menangkis serangan, Eko mengelak ke kiri, Daffy ke kanan, dan Marino serta Daisy melompat ke atas, tapi wal hasil, kelimanya kena hantam sungut Lucifer.

“Segini sajakah? Rido, kuakui saja, teman-temanmu dulu lebih kuat daripada mereka. Huh, kuakhiri saja!” kata Lucifer sambil mengeluarkan serangan berputar. Tapi tiba-tiba senjata kelima bersahabat ini bercahaya putih, tapi putih ini lain dari yang biasa bersinar pada senjata Marino. Putih yang ini membuat hati mereka sangat sejuk….

“Apa itu?” geram Lucifer.

“Senjata kebenaran. Sumpahku telah menjadi kenyataan!!!” kata Rido sambil menerjang Lucifer.

Lucifer yang tidak siap terkena telak, sisi tubuhnya terbelah sedikit. Darah berwarna hijau mengalir keluar.

“Serangan yang sama sekali tidak ada artinya!” Luka itu lenyap, ia menyerang Rido secara bertubi-tubi dengan kilatan-kilatan cahaya dan hantaman sungut-sungutnya yang berjumlah tiga belas, tapi Rido mampu melindungi diri. Secara spontan, Marino dan teman-temannya ikut menyerangnya. Kerepotan karena dihujani serangan lincah Marino dan keempat sahabatnya, dan dari Rido juga, Lucifer benar-benar kesulitan.

Ada hujan panah mengguyur dari belakang Lucifer. Marino, keempat temannya, dan Rido melompat untuk menghindar. Ternyata ada kesatuan tempur dari benteng timur Eleador tiba. Panah-panah itu tidak melukai Lucifer sedikitpun. Dengan sekali tembak, Lucifer menghancurkan pasukan yang terdiri dari sekitar lima ratus orang itu.

“Kita lanjutkan pertarungan kita!” kata Lucifer dan ia menerjang lagi. Dalam pertarungan kali ini, Marino cuma berhasil menggores sedikit saja tubuh Lucifer, menyebabkannya meraung. Luka itu tidak sembuh. “Sial! Rupanya itu kekuatan Holy! Tapi kalian akan kubunuh!” Rido mundur, Marino beserta yang lainny menerjang.

Sementara itu, Rido mengangkat tangannya yang bersinar. “Gorulo!!!” teriaknya, seekor naga terbang melintas di atas mereka.

“Rupanya dia” batin Marino. Sang naga menembakkan semburan bola api yang sangat dasyat, menyebabkan Marino dan kawan-kawannya yang tidak dituju saja terpental karena radiasi kekuatannya. Lucifer menciptakan sebuah perisai hitam untuk menangkisnya.

“Arahkan senjata kalian pada naga itu!” seru Rido, dan mereka menurut. Seketika itu juga, cahaya memancar dari ujung senjata-senjata mereka dan melesat ke mulut sang naga. Bola-bola api yang keluar kini menjadi berwarna putih. Perisai sihir yang melindungi Lucifer hancur berantakan, tubuhnya dihujani bola-bola sinar putih. Saat ledakan sudah berhenti, Lucifer tidak tampak lagi, dan ada lubang yang sangat besar, dalam, dan gelap di tanah.

Saat sang naga raksasa terbang mendekat, sabuah pancaran cahaya hitam-hijau selang-seling meluncur ke arah si naga itu. Naga raksasa itu meledak dengan amat dasyat. Lucifer keluar lagi dari lubang itu dan melayang tinggi. Ia menembakkan sebongkah batu hitam yang tajam ke arah Rido. Rido menangkisnya, tapi disaat yang bersamaan, sebuah bongkahan yang serupa menembus tubuhnya dari belakang. Rido Matius langsung roboh.

“Boleh saja aku mati! Tapi sumpahku akan terlaksana!” teriaknya, lalu tidak bergerak lagi.

“Ya! Sumpahnya memang akan terlaksana!” teriak Marino, dan bersama keempat sahabatnya, ia menerjang ke arah Lucifer. Lucifer berusaha menangkis dengan sungut-sungutnya, tapi langsung putus terkena ujung-ujung senjata yang bercahaya putih ini.

Tak terelakkan lagi, lima senjata yang berbeda menebas Lucifer. Tubuh Lucifer yang penuh cahaya putih akhirnya hancur berkeping-keping, menyisakan semacam gumpalan hitam menjijikkan di tanah. “Apakah sudah selesai?” tanya Eko, tapi yang menjawab adalah orang lain.

 

 

“Kalian telah mengalahkan Lucifer, ya?” ternyata Rafdarov V.

“Kau masih hidup!” pekik Daisy yang terkejut, menyebabkan Rafdarov tertawa lagi. Ia berjalan mendekati gumpalan hitam yang ditinggalkan Lucifer. “Aku tidak akan mati semudah itu,” katanya, lalu mengangkat gumpalan itu. “Tapi kalianlah yang akan mati mudah! Kalian kira Lucifer sudah mati? Salah!” Gumpalan itu kini berubah jadi cairan hitam yang menyelimuti tubuh Rafdarov. Beberapa saat kemudian, Rafdarov telah berubah menjadi seekor monster mirip pasukan iblis.

Tubuhnya setinggi empat meter, kepalanya buruk sekali, seperti kepala ikan dicampur dengan singa dan kambing dicampur dengan jelek, badannya menjadi sangat kekar dan berbulu lebat seperti gorila. Tangannya ada enam, dan masing-masing memegang senjata yang berbeda.

Belum habis keterkejutan mereka, dari tanah muncul sepuluh ekor pasukan iblis, mirip seperti yang mereka temui di kuburan. Bedanya, mereka memegang senjata. Iblis-iblis itu maju, dua ekor melawan satu orang.

Marino berlari dan dua iblis mengejarnya. Ia berlari ke sebuah tembok, melompat ke tembok itu, lalu menggunakannya sebagai tumpuan untuk melompat dan menerjang salah seekor iblis itu. Iblis yang ditebas itu mengalami luka menganga yang besar di dadanya. Iblis yang kedua menerjang. Marino melompat untuk menghindarinya. Ia mengeluarkan serangan salto untuk membelah kepala iblis itu dan senjatanya membuat angin puyuh lagi yang melempar tubuh iblis tanpa kepala itu.

Iblis kedua diserangnya bertubi-tubi tanpa memberikan kesempatan membalas. Akhirnya ia berhasil menusuk iblis itu dengan senjatanya yang kanan dan saat itu ia mengeluarkan angin puyuh yang menjatuhkan tubuh iblis itu. Angin puyuh itu menghantam iblis yang tadi kepalanya ia penggal dan sedang berjalan-jalan tidak jelas (karena tidak ada otaknya lagi), membuatnya terpental lagi ke sebuah rumah yang terbakar.

Sementara Daisy, mengungguli kedua iblis itu benar-benar dengan kecepatan dan strategi yang luar biasa. Ia berkelit dan menghindar melalui sela-sela kaki kedua iblis sehingga kedua iblis itu saling bertabrakan terus dan akhirnya tangan dan kaki kedua iblis tersebut saling tersangkut. Langsung saja Daisy mengeluarkan serangkaian serangan angin dasyat untuk merobek-robek tubuh salah satu iblis dengan tombaknya. Iblis yang lain, begitu terbebas dari sangkutan dengan iblis yang satu lagi, segera menyerang Daisy. Sekali lagi, Daisy menunjukkan kemampuannya dalam melakukan gerak tipu, dengan cara mengelak, dan mengait kaki sang iblis dengan tombaknya. Begitu sang iblis terjungkal, Daisy dengan mudah mengoyaknya.

Daffy sedang melakukan pertarungan yang cukup adil. Ia menggunakan pedangnya untuk menangkis serangan-serangan dari kedua iblis itu. Ia sudah melucuti kedua iblis itu dan memotong salah satu tangan iblis yang menyerangnya itu.  Saat itulah Daffy membuat pagar es yang membuat tangan-tangan para iblis itu tersangkut. Langsung saja Daffy melompat dan menghajar kepala salah satu iblis sampai hancur. Iblis yang lain berhasil mengeluarkan tangannya dari jeratan es, tapi dia juga langsung dipenggal oleh Daffy.

Senjata-senjata dua ekor iblis langsung hancur ketika beradu dengan kampak Adin. Dalam waktu yang singkat, satu iblis telah dihancurkan olehnya. Iblis yang lainnya menyerangnya dengan bertubi-tubi dan tidak memberikannya ruang untuk mengayunkan kampaknya. Setelah beberapa kali berkelit, Adin berhasil menendang iblis itu sehingga jarak di antara keduanya cukup besar. Dengan dua ayunan kampak yang diselimuti api itu, sang iblis terbelah menjadi dua, dan terbakar.

Eko juga tidak tampak kesulitan menghadapi dua iblis itu. Dengan tongkatnya yang bertaburan percikan listrik, ia menghajar habis kedua iblis itu dengan kecepatan tinggi, memaksa mereka menjatuhkan senjata mereka. Sambil melompat, ia meledakkan kepala salah satu iblis, dan membakar yang lainnya. Saat ia kembali mendarat di tanah, tubuh iblis yang terbakar diterjangnya dengan sihir halilintar yang dasyat tingga hancur.

“Tidak kuduga kalian bisa mengalahkan pasukanku itu. Tapi tidak apa-apa. Aku sendiri bisa mengalahkan kalian. Rasakan ini!” Rafdarov menerjang maju ke arah Marino, yang dengan lincah berkelit tajam ke kiri, dan di tempat ia tadi berdiri kini ditempati oleh Daisy yang menghantam Rafdarov dengan tombaknya.

“Kau mudah sekali dikalahkan! Kukira jika kalian bergabung, akan lebih kuat,” kata Adin yang berjalan mendekatinya.

“Tidak! A… aku lebih kuat dari Lucifer sendiri!” geram Rafdarov tergagap. Jelas ia pasti berbohong.

“Kau membantai jutaan orang yang tidak bersalah demi membangkitkan sampah yang namanya Lucifer itu, yang kini bersatu dengan tubuhmu yang kotor itu! Kau tidak bisa dimaafkan!” bentak Marino yang mendekat.

“Dengan sombong kau katakan bahwa dengan summon iblis, kau akan bisa menguasai dunia! Tapi… kau akan mati sebentar lagi. Sumpah Rido Matius akan terwujud!” kata Daisy. Rafdarov mundur sedikit. Meski wajahnya nyaris tidak bisa disebut wajah lagi, tapi jelas tampak ketakutan.

“Bertahun-tahun kau buat orang menderita demi kepuasanmu seorang. Tapi lihatlah sekarang! Devilmare sudah binasa! Tidak ada lagi! Bahkan pasukan iblis dan Lucifer yang selama ini kau bangga-banggakan, sudah hancur!” kata Daffy.

“Tidak! Aku belum kalah! Lucifer masih bersamaku dan pasukan iblis yang lebih besar sedang menuju kemari!” sembur Rafdarov sambil terus mundur.

“Tidak ada. Yang kau katakan itu tidak ada. Mungkin Lucifer yang busuk itu masih melekat pada tubuhmu, tapi kalian sudah sangat lemah! Kalian cuma sampah!” kata Eko.

“T… tu… tunggu saja! Pasukan iblis yang besar akan tiba di sini sebentar lagi! HA HA HA HA HA HA HA!!!” tawa Rafdarov menggema di seluruh angkasa. Memang benar ada pasukan besar datang, tapi bukan pasukan iblis, melainkan pasukan gabungan Crin’s Blade di bawah pimpinan Aisha Zuchry dan Doughlas Puruhita, pasukan Eleador dari benteng timur, selatan, dan barat, serta pasukan Apocalypse-Fraternite dibawah pimpinan Pasha. Ada juga pasukan The White Garda.

Kekuatan yang membuat ksatria-ksatria tadi tdiak bisa bergerak kini telah hilang. Marissa, Jasmine, Pavatov, Saphirre, Ullyta, Dalel,  Phaustine, Yogin, Phalus, Isabel, Kaine, Phaustine, dan Black telah mampu berdiri lagi. Meissa, Darpy, dan Bathack juga sudah bisa berdiri.

“Wah wah… ini dia makhluk yang selama ini selalu membuat onar. Takut, ya?” cemooh Marissa dengan nada sinis.

“Tak kusangka akan berakhir begini. Si pembuat onar dikelilingi musuh-musuhnya. Hah, mati saja kau,” gerutu Phalus.

“Benar-benar sampah. Kau sudah sendirian sekarang,” kata Isabel. Rafdarov sama sekali tidak mampu berbicara.

“Bisanya kok diam saja? Katanya kalau ada Lucifer kau bisa berani, ya? Sayang sekali,” ledek Yogin.

“Betul. Dasar iblis…,” oceh Phaustine. “Tapi Oom ini siapa, sih?” tanyanya polos. Pavatov maju, lalu membelai kepalanya. “Seperti yang kau bilang. Dia adalah iblis, yang membuat sengsara seluruh orang di tanah Zenton menjadi amat menderita.”

“Coba kau katakan. Apakah ada sesuatu yang bisa menyelamatkanmu?” tanya Kaine.

“Tidak ada. Kau sudah tamat,” kata Saphirre.

“Akhirnya cerita juga bisa berakhir bahagia,” kata Ullyta dengan penuh harap.

“Kemungkaran bisa juga dikalahkan, pada akhirnya,” gumam Dalel dengan nafas lega.

“Memang brengsek sekali orang ini,” kata Jasmine dengan sengit.

“Bunuh saja dia. Rasanya semua sudah muak dengannya,” kata Black.

“Orang ini yang menyebabkan kematian suamiku,” kata Aisha.

Suasana menjadi agak bising saat para prajurit saling berbisik, dan akhirnya bersorak, “BUNUH DIA!!!!!” Rafdarov terlompat dan menjadi semakin gemetaran dari sebelumnya.

“Baiklah. Kita harus membawanya ke pengadilan antar negara,” kata Darpy.

“Lho, kenapa tidak dibunuh saja di sini?” tanya Bathack.

“Meskipun begitu banyak yang telah ia perbuat, tapi ia berhak mendapatkan keadilan hukum. Secara pribadi, sih, aku ingin memotong kepalanya sekarang juga,” kata Meissa.

“Baiklah,” kata Marino, “kita akan…” tapi tiba-tiba Rafdarov mengeluarkan sebilah pisau yang menyala dengan cahaya hitam. “MATILAH KAU DASAR KEPARAAAAAAT!!!!!!”

Pisau tersebut berubah menjadi bola api hitam saat ia melemparnya ke arah Marino. Sebelum ada satupun yang sempat bereaksi, sebuah pedang melesat dan menghantam bola api itu. Bola api itu terlempar ke arah pasukan Eleador, dan meledak. Ada dua orang yang tewas dan beberapa lainnya terluka ringan. Ternyata Rido masih hidup dan telah melemparkan pedangnya untuk melindungi Marino.

“Bunuh saja dia!” teriak Rido.

“Takkan kumaafkan!” geram Marino. Daisy, Eko, Adin, dan Daffy mengangkat senjata bersamaan dengan Marino, lalu bersama-sama pula menerjang….

Rafdarov kini telah terkapar. Tidak bernyawa lagi.

 

 

 

[End of Chapter XVIII]

[Coming up next, Chapter XIX: Finally Over…]

 

Legend of Legends : Chapter XVII – Lucifer Arise

Here goes Chapter 17!

—————————————————————————-

CHAPTER 17

LUCIFER ARISE

                Mortwood telah membentuk pemerintahan baru dan mengubah sistemnya menjadi republik. Devilmare yang baru saja dihancurkan, telah menjadi kerajaan baru, dengan nama baru, dan berdiri sebagai jajahan Eleador. Michael Rafdarov menjadi raja baru di kerajaan yang kini bernama Luminaire dan hubungannya sebagai jajahan Eleador hanya sebatas pembayaran pajak ringan saja, serta aksi militer apapun harus dilaporkan. Sebagai gantinya, Eleador memberikan kekuatan militer yang lumayan pada Luminaire.

Pengangkatan Michael sebagai raja adalah salah satu bentuk pengawasan pada sisa-sisa kekuatan Devilmare lama. Toh rakyat juga setuju, saat diadakan perundingan antara The Chain dan Dewan Rakyat.

Lothar juga kembali ke Roxis dan mulai membangunnya kembali. Selain itu meski ia kembali pula pada jabatannya, tapi ia sesegera mungkin akan mencari penggantinya sebagai ksatria pemimpin.

Tanah Zenton telah terbebas dari penjajahan (kecuali Devilmare, yang sekarang bernama ‘Luminaire’, tentunya) dan kini dipenuhi kedamaian lagi. Semua negara yang kini telah merdeka, membayarkan upeti pada semua negara yang tergabung dalam The Chain, berhubung kini hubungan Zenton dengan Dark Land telah terbuka.

Meski Devilmare sudah hancur, tapi Marino, Meissa, dan Darpy tetap menghimbau untuk siaga sebab Rafdarov masih ada entah di mana, tapi dia akan kembali sekitar tiga bulan lagi. New Belsampos dan Lovenia mengirimkan pasukan gabungan yang berisi 2000 prajurit khusus untuk mengamankan wilayah tepat di mana Rafdarov akan kembali.

Rido Matius mengatakan bahwa sihir yang melindungi Lucifer’s Den hanya akan punah jika Lucifer telah dibangkitkan. Menurutnya, Lucifer’s Den sudah berhasil dipenuhi, dilihat dari pasukan iblis yang telah mengelilinginya. Tapi kata seorang mantan pejabat Devilmare, masih ada satu syarat yang belum dipenuhi oleh Rafdarov, yaitu memasukkan pedangnya ke ruangan utama Lucifer’s Den. Ia belum melakukannya karena saat baru mengetahui syarat tersebut, ia baru mau menghadapi pasukan Marino. Ia memilih untuk sekalian menghabisi pasukan Marino sebelum membangkitkan Lucifer dan ternyata malah menghilang.

Berbagai alternatif cara telah dipergunakan untuk mencoba membobol perisai sihir tersebut, tapi semuanya gagal.

Marino mengumpulkan semua panglimanya yang ikut ke misi pembebasan Zenton, juga Bimo. Pertama, ia meminta, agar beberapa ariel cannon dipasang mengelilingi area di mana Rafdarov V menghilang, berapa lamapun waktu yang dibutuhkan. Kedua, ia memerintahkan agar pasukan asal Crin’s Blade dipulangkan ke Crin’s Blade kecuali pasukan Jasmine, Black, dan Daffy. Ketiga, selain ariel cannon, ia memerintahkan dipasangnya meriam-meriam api, tapi berisi pecahan-pecahan besi dan mata panah seperti yang pernah dilakukan oleh Daisy, mengelilingi area tadi.

Beberapa hari kemudian, Marissa melapor pada Marino bahwa Meissa telah tiba di pelabuhan Gallowmere untuk berkunjung. Marino dan seluruh pasukan yang masih ada di Devilmare langsung bermigrasi ke Gallowmere untuk berkunjung pula.

Setibanya di sana, Marino mendapati bahwa ternyata Ratu Darpy telah tiba terlebih dahulu. Mereka mengobrol panjang lebar tentang apa yang telah mereka raih, dan berhasil didapatkan dengan, sayangnya, kurang sempurna.

“Bagaimana kalau Rafdarov kembali?” tanya Meissa yang menggendong anaknya.

“Kita bisa menggempurnya. Toh yang terbawa olehnya cuma beberapa prajurit saja. Betul, Marino?” tanya Darpy.

Marino menggeleng. “Memang, tapi yang kita perlu khawatirkan bukanlah pasukannya, melainkan Rafdarov sendiri. Pedangnya dapat menyerang dalam radius sepuluh meter, itu tidak ada kontak. Tapi tenaga yang terpancar… pedang iblis. Makanya itu, aku memasang senjata jarak jauh di sekeliling areanya dan jaraknya lebih dari sepuluh meter. Meski begitu, aku yakin dia tidak mungkin dihentikan dengan semudah itu. Setidaknya, kita harus memperlambatnya,” kata Marino. Semua terdiam sejenak.

“Marino… eh… bisakah para pengawal keluar sebentar saja?” minta Meissa, lalu Phalus memberi isyarat agar para penjaga keluar dari ruang pertemuan tersebut.

“Kapankah kau akan menikah?” tanya Meissa, membuat wajah Marino memerah, juga Daisy yang duduk persis di sebelahnya. “Eh, belum tahu. Yang jelas, aku ingin agar dilaksanakan setelah semua telah berakhir,” ungkapnya.

Makan malam telah usai, lalu semua tamu dipersilahkan ke kamarnya masing-masing. Marino terlebih dahulu pergi ke pandai besi untuk sedikit mengasah senjatanya. Setelah selesai, ia bergegas ke kamarnya yang terletak di lantai empat. Sesampainya ia di sana, ia melihat bahwa telah ada orang di situ. Eko dan Daisy.

“Hai. Kupikir kita bisa mengobrol di sini untuk beberapa saat saja,” kata Marino, tepat saat Daffy, Jasmine, dan Adin masuk ke dalam ruangan. “Wah, ramai sekali.”

Semalaman penuh mereka tidak tidur. Mereka mengobrol dan cekikikan sampai pagi, membuat beberapa prajurit di luar protes karena berisik. Baru paginya mereka dilanda kantuk yang luar biasa. Karena mengantuk, semuanya pergi ke kamarnya masing-masing, kecuali Daisy.

“Bagaimana menurutmu jika pernikahan kita dipercepat saja? Seperti… besok, misalnya?” pinta Daisy, membuat Marino melotot.

“Besok? Yang benar saja! Tapi aku setuju jika dipercepat. Mana bisa kita menunggu saja si iblis itu bangkit dulu? Bisa saja kita mati….”

Daisy memotong kalimat Marino, “…dan tidak sempat menikah. Kan sayang, Sayang.”

“Benar, sayang. Eh, bagaimana kalau dua minggu lagi? Kita pulang dulu ke Crin’s Blade,” Marino menawarkan, luluh begitu melihat tatapan mata Daisy yang dalam.

“Kalau minggu depan, bagaimana? Hei, jangan melihatku seperti itu…,” Daisy masih menatap Marino yang kini membalas dengan tatapan yang sama. Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.

Sudah menjelang siang, melihat matahari yang mulai tinggi. Keduanya segera bergegas bangun. Sepuluh menit kemudian telah siap dengan pakaian kerajaan yang mereka bawa. Marino merogoh sakunya, menemukan mahkotanya di situ, tapi ia tidak mau memakainya. Ia memakaikannya di kepala Daisy.

“Eh, apa-apaan?” Daisy amat terkejut. “Aku ini bukan siapa-siapa. Mahkota ini kan diharamkan jika dipakai oleh…,” Marino tersenyum, membuat Daisy berhenti. “Kau adalah ratu. Ratuku.”

Tapi toh Daisy tidak memakainya. Mereka pergi ke ruang pertemuan, mendapati semuanya telah hadir… kecuali yang semalam ikut mengobrol.

Rombongan Daffy, Jasmine dan yang lainnya tiba beberapa saat kemudian. “Kami tidak tidur semalaman…,” gerutu Eko yang masih setengah bangun.

 

Sementara itu, Luminaire sedang dilanda teror, sebab timbul gerombolan pemberontakan yang berisi sisa-sisa prajurit Devilmare lama. Mereka menamakan dirinya Devil Rebellions. Kekuatannya lumayan besar, sekitar 300 orang dan beroperasi secara rahasia. Michael pernah mengirimkan pasukan ke daerah-daerah yang diperkirakan dihuni oleh mereka, tapi mereka tidak ditemukan. Gerakan tersebut jelas sangat profesional. Karena masalah ini, Michael memilih untuk menyebarkan mata-mata ke masyarakat untuk mencari informasi, dan memperkuat benteng-benteng.

Black melaporkan bahwa pasukan The White Garda membutuhkan dana untuk mengganti armor dengan yang baru, sebab blacksmith Gallowmere telah menemukan armor jenis baru yang dirancang khusus untuk penunggang kuda berikut kudanya sekalian. Kekuatannya pun lebih besar dalam menahan serangan.  Pihak istana mengatakan bahwa produksi armor ini sangat terbatas, dan sebetulnya hanya diproduksi untuk pasukan Scherduke Gallowmere, tapi mereka memberikan penawaran khusus untuk pasukan The White Garda dan dengan harga yang murah pula. Marino menyetujuinya.

Khusus untuk pasukan The White Garda, armor-armor tersebut dibuat berwarna perak-putih dan ada emasnya juga agar cocok dengan nama pasukannya, sebab yang asli berwarna hitam abu-abu dan emas. Sekitar tiga minggu baru armor-armor tersebut selesai dibuat. Memang, bentuknya saja sangat artistik , Marino pun mengakuinya.

Ternyata Marino dan keempat kawannya, yaitu Eko, Adin, Daffy dan Daisy, juga diberikan armor secara cuma-cuma. Desainnya beda dari yang diberikan untuk The White Garda. Kata Phalus, cuma dibuat sepuluh buah armor semacam ini, tujuh armor pria dan tiga armor wanita. Armor-armor ini dibuat dari platinum murni dan dilapisi dengan sedikit emas dan perak untuk memberikan ukiran yang indah. Armor yang didapatkan oleh Daisy berbeda sendiri dari empat lainnya, karena dia wanita, dan motifnya paling indah. Selain besi, armor-armor tersebut dilapisi magic api tipis sehingga dari kejauhan tampak merah mengkilat.

Sebagai balasannya, Marino mengirim surat dengan Amber untuk memerintahkan pengiriman upeti berupa meriam-meriam api sejumlah dua ratus kepada Gallowmere. Selain itu, Marino membeli tiga ratus kapal kecil dari Fraternite, yang memilliki Ariel cannon, dan seratus diberikan pada Gallowmere.

Marino menghabiskan waktunya di Zenton untuk mengadakan beberapa pertemuan antar pemimpin negara untuk membangun hubungan diplomatik. Setelah itu, ia kembali ke Crin’s Blade. Rakyat menyambutnya dengan penuh sorak sorai. Meissa dan Ratu Darpy, yang telah tiba lebih dulu, juga berada di situ. Semua mendesaknya untuk melakukan pidato akbar di istana ibukota mengenai keberhasilannya. Marino tiba-tiba menjadi tegang. Ia belum pernah melakukan pidato di depan seluruh rakyat seperti ini.

Perjalanannya menuju istana ibukota diiringi oleh berbagai macam pawai dan hiburan, dan kiri-kanannya dipenuhi oleh rakyat yang ingin melihatnya dari jarak yang lebih dekat. Daisy berjalan dengan bangga di belakangnya bersama Eko, Adin, dan Daffy. Di belakangnya lagi ada Kaine, Black, Yogin, Aisha, Marissa, beberapa ksatria kehormatan lainnya lalu diikuti dengan pasukan The White Garda dengan armor baru.

Akhirnya ia berhasil tiba di podium halaman depan istana. Di atas podium itu ada sebuah alat pengeras suara.

“Ayo, rakyat menunggumu,” kata Marissa, mendorongnya ke podium. Marino mendekat ke podium, dan mengecek dulu alat pengeras suaranya, yang ternyata tidak bermasalah. Ia pun mulai berbicara.

“Semua sahabat yang hadir di sini. Ibu-ibuku, Ayah-ayahku, saudara-saudariku, serta anak-anakku” ia memulai, tanpa mengucapkan ‘rakyatku’. “Dengan bangga saya umumkan bahwa hal yang saya kampanyekan telah berhasil saya capai. Zenton telah merdeka!” rakyat pun bersorak riuh. Marino mengangkat tangannya dan rakyat pun diam. “Tentu, ini tidak akan tercapai tanpa bantuan negara-negara sahabat kita, Apocalypse,” ia melirik Ratu Darpy dan suaminya, “dan tentu saja, Eleador.” Rakyat bertepuk tangan saat ia melirik ke Meissa. “Tak lupa saya ucapkan terima kasih pula pada Fraternite, suku fantastis yang kini menjadi persemakmuran dengan Apocalypse. Semuanya telah memberikan berbagai macam dukungan yang membuat misi ini menjadi mungkin, dan yang paling penting, membuat misi ini berhasil!” rakyat bersorak lagi. “Tapi,” Marino memelankan suaranya. “sangat banyak korban yang jatuh dalam pelaksanaan misi ini, dan diantaranya adalah strategis kita yaitu Feizal Zuchry,” rakyat berbisik ribut. “Wafatnya beliau tidak sia-sia, dan pasti akan dikenang dalam sejarah Crin’s Blade. Jenasah beliau telah dimakamkan di Zenton, tepatnya di Gallowmere, tapi saya berencana memindahkannya kemari dengan izin istrinya, yaitu Aisha. Atas nama Crin’s Blade kami mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya.” keadaan menjadi hening. “Feizal hanya salah satu dari puluhann ribu orang yang menjadi korban dalam misi ini, jadi hendaknya kita tidak usah terlalu senang,” Marino terus berbicara selama sekitar setengah jam mengenai berbagai hal yang terjadi di Zenton, apa yang terjadi pada Devilmare, dan juga bahwa Rafdarov V belum mati.

Selesai pidato, ia pergi ke markas The Chain untuk mengadakan rapat evaluasi dengan seluruh anggota lainnya.

Beberapa hari kemudian, Marino sedang berbaring di taman bunga bersama Adin, Eko, Daffy, Daisy, dan Jasmine, saat Marino tiba-tiba terpikir sesuatu.

“Tidak lama lagi Rafdarov akan kembali. Sepertinya tidak baik jika kita hanya bengong saja di sini dan menanti. Kalian tahu hanya kita yang bisa menghentikan semua ini,” kata Marino.

“Kalau menurutku, kita harus kembali ke sana. Kita harus mencegah kebangkitan Lucifer. Kan lebih bagus kalau dia tidak perlu bangkit sekalian,” Adin bergumam.

Marino mengangguk. “Besok. Kita akan berangkat besok pagi dengan The White Garda.”

Keesokan paginya, mereka sarapan bersama-sama, dan mengadakan rapat. “Dalam misi ini, saya akan membawa keempat sahabatku, Black dan Rido Matius,” kata Marino.

Rido angkat bicara, “Tapi aku tidak setuju jika pasukanku ikut juga.”

“Tidak apa-apa. Cukup The White Garda saja. Akan kubawa lima ratus personil. Memangnya kenapa pasukanmu?” tanya Marino. “Aku ingin agar pertahanan dalam negeri ditingkatkan. Kalau kita gagal….”

Marino mengggeleng, “Kita tidak akan gagal, tapi boleh juga untuk mengantisipasi kemungkinan. Nah, kita berangkat satu jam lagi. Rapat selesai.”

Saat semua telah keluar dari ruangan, Rido bergumam sesuatu tapi tidak ada yang mendengarnya. Ia berkata, “Sumpah abadi itu ada untuk dilaksanakan. Bukan untuk dicegah.”

 

Kapal-kapal tempur telah berangkat. Marino berencana untuk melakukan pendaratan perang saja di wilayah New Belsampos agar lebih cepat. Ia mengirimkan Amber untuk menyampaikan berita bahwa ia akan mendarat secara langsung kepada raja New Belsampos.

Setelah ia mendarat di Zenton dengan kekhawatiran yang semakin meningkat, tanpa menunggu disambut pihak kerajaan, ia memerintahkan agar pasukannya segera melesat ke area kebangkitan Rafdarov V. Dia dan pasukannya memacu kuda masing-masing dengan kecepatan maksimum.

Saat mereka telah tiba di lokasi, mereka terkejut melihat keadaan. yang telah porak poranda. Mayat bergelimpangan di mana-mana dan meriam-meriam telah hancur. Langsung Marino memacu kudanya lebih cepat dan melesat menuju Lovenia. Marino menduga bahwa Rafdarov pasti melewati Lovenia untuk mencapai Lucifer’s Den.

Setibanya mereka di sana, ternyata tidak ada apa-apa. Setelah minta izin lewat pada pasukan penjaga perbatasan, Marino melesat lagi menuju Luminaire. Dari pantai timur laut Luminaire, Lucifer’s Den bisa tampak,. Marino amat yakin bahwa pasti akan ada sesuatu.

Benar saja. Begitu Marino tiba di salah satu benteng Luminaire, ada pasukan yang siap diberangkatkan. “Pasukan iblis dari Lucifer’s Den keluar dan menyerang kami,” kata komandan pasukan tersebut.

“Kami akan membantu kalian,” kata Marino, ia segera bergegas.

Begitu tiba di wilayah utara dekat pantai, Marino menyaksikan pertempuran yang dasyat. Pasukan iblis yang ini bisa terbang rendah, sekitar empat meter dari permukaan tanah. Panah-panah dan tombak beterbangan kesana-kemari. Mayat-mayat berserakan, baik mayat iblis maupun manusia.

Tiba-tiba armor yang ia pakai, yang ia dapatkan dari Gallowmere, terasa hangat di tengah musim dingin yang terjadi di Luminaire. Keempat kawannya merasakan hal yang sama. Ini pasti akibat magic apinya. Segera saja Marino memberikan perintah menyerang.

Akan tetapi dia sadar bahwa ada yang lebih penting daripada membantu Luminaire bertahan. Ia memanggil keempat temannya, lalu terus menderu ke arah utara. Sekitar dua puluh ksatria mengikutinya. Saat ia tiba di pantai, ia melihat dengan alat pembesar bahwa ratusan pasukan iblis kini sedang beterbangan keluar dari Lucifer’s Den, bukan ke arah Luminaire, melainkan ke arah Dark Land.

Di sekitar lucifer’s Den, tampak ada puluhan kapal perang mencoba menembaki pasukan iblis tersebut. Lumayan juga yang tertembak jatuh, tapi hanya satu banding seribu yang berhasil lolos terus. Ada pula beberapa kapal yang mencoba menembaki Lucifer’s Den. Rido Matius mendekat. “Kalian tidak bisa mencegah takdir kalian! Sumpah abadiku akan terwujud!” katanya sambil melihat ke arah Lucifer’s Den. “Lucifer belum bangkit,” bisiknya. Beberapa pasukan iblis menghantam Daffy dari belakang,  mengalihkan perhatian semuanya dan mereka bertempur sejenak dengan beberapa iblis.

Setelah berhasil mengalahkan mereka, Marino menoleh lagi ke arah Lucifer’s Den, dan melihat bahwa sudah tidak ada pasukan Iblis yang keluar dari sana. Ada beberapa kapal tempur Luminaire yang tampak berusaha mengejar para iblis tersebut. Tapi puluhan kapal lainnya mulai membombardir habis Lucifer’s Den. Marino melirik ke arah Rido. “Kalau hancur lebur sebelum prosesnya selesai?” tapi Rido hanya diam.

Lucifer’s Den hancur menjadi berkeping-keping. “Nah, Lucifer tidak akan bang…” Daisy tidak menyelesaikan kalimat itu dengan semestinya, “…sat…” sebuah bayangan yang amat besar melesat dari reruntuhan Lucifer’s Den dan melayang-layang di langit. Rupanya tidak jelas, hanya seperti gumpalan awan hitam raksasa.

Rido mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan berteriak, “Kemari kau!!!!!” tapi bayangan tersebut langsung meluncur ke arah Dark Land. “Marino,” geram Rido, “kita harus kembali sekarang. Lucifer sedang menuju ke Dark Land. Mungkin ke Crin’s Blade.”

Rido terbang ke salah satu kapal tempur. Setelah beberapa menit, sebuah suitan panjang terdengar. Kapal-kapal tersebut langsung mendekat ke pantai, dan sekoci-sekoci diturunkan. Marino menoleh ke belakang, dan melihat bahwa pasukannya telah kembali.

Pasukannya langsung menaiki kapal-kapal tempur tersebut dan mulai berlayar menuju Dark Land. Marino menyadari bahwa negaranya kini berada dakam bahaya. Bahkan, seluruh pulau juga berada dalam bahaya. Marino dan kawan-kawannya yang lain adalah yang pasti paling dibenci oleh Rafdarov V dan Lucifer. Karena itu, kelihatannya sudah pasti bahwa Crin’s Blade-lah yang akan diserang Lucifer.

Sudah berjam-jam sejak ia berangkat dengan kapal-kapal ini. Beberapa kapal lain ikut bergabung, yang ternyata berasal dari Gallowmere dan Grandminister. Kapal-kapal itu juga berisi pasukan untuk membantu Marino.

Tiba-tiba ada gumpalan awan hitam tampak dan kian mendekat. Mario menyuruh semua kapal siap tembak. Awan tersebut ternyata sebenarnya merupakan kawanan pasukan iblis terbang yang berjumlah ratusan. Berbeda dari yang dihadapi Marino di utara Luminaire, mereka bisa terbang tinggi.

Seiring dengan perintah Marino, isyarat peluit panjang dan nyaring terdengar, dan kapal-kapal serentak menembakkan meriam-meriam api ke udara. Banyak sekali iblis yang berjatuhan dari langit terkena meriam dan jatuh ke air dalam keadaan hangus terbakar. Puluhan dari mereka berhasil lolos dan mencoba menaiki kapal-kapal, tapi langsung disambut oleh pedang-pedang dan tombak para prajurit.

Dalam keadaan hiruk pikuk seperti itu, datang lagi awan yang terdiri dari ratusan pasukan iblis terbang. Beruntung, datanglah konvoi besar armada laut gabungan Apocalypse dan Fraternite. Langit yang mulai gelap kini dipenuhi percikan-percikan api dan kilatan cahaya. Malam membuat pasukan iblis makin sulit dilihat, tapi lumayan bisa diatasi.

Menjelang pagi, pasukan iblis telah dapat dikalahkan, dan diperkirakan secara total sekitar seratus lima puluh prajurit terbunuh dan ratusan lainnya terluka.

Perjalanan menuju The Dark Land yang lama membuat kesabaran Marino habis. Akhirnya setelah mereka tiba Marino dan pasukannya bergegas menuju ibukota. Ternyata ibukota aman-aman saja. Marino dan keempat kawannya berlari ke dalam istana dan bertemu beberapa orang prajurit Eleador.

“Ibukota Eleador dikuasai oleh iblis,” kata komandan regu prajurit tersebut.

Eko berpikir sejenak, dan akhirnya berkata, “Kusarankan agar kita menyerangnya dengan kekuatan yang besar,” ia melirik Rido, yang mengangguk setuju.

“Baiklah. Marissa, Jasmine, Dalel, Pavatov, dan Ullyta serang langsung dari arah barat. Masing masing kekuatan lima puluh persen. Ksatria yang lainnya juga ikut. The White Garda kekuatan penuh, Rido, Daffy, dan Adin, serang dari selatan untuk kejutan. Pasukan ini menyerang belakangan. Bergerak SEKARANG!” perintah Marino dan semuanya bubar.

Pasukan kini telah diberangkatkan. Pasukan pertama yang secara umum dipimpin oleh Dalel kini mendekat ke ibukota Eleador. Kota tersebut terlihat sangat gelap, padahal masih siang. Tanpa ragu, semuanya menderap maju ke kota. Segerombolan iblis menghadang mereka, tapi dapat diatasi dalam waktu yang relatif singkat. Akhirnya mereka berhasil juga memasuki kota yang kelam dan sepi itu. Begitu seluruh pasukan telah memasuki kota, sesuatu terjadi….

Untuk menyerang ibukota Eleador dari arah selatan, rintangan yang dilewati lebih banyak. Marino memimpin pasukannya, pertama ke sebuah kota kecil bernama Kerbon. Di sana, ada pasukan iblis yang jumlahnya sedikit sedang bertempur dengan prajurit-prajurit Eleador dan tentara rakyat. Segera saja Marino membantu. Pertempuran berlangsung tidak singkat, tapi selama sekitar dua hari, karena begitu sengitnya. Saat Marino sudah bersiap untuk ke kota berikutnya, pasukan Eleador yang berjumlah sekitar dua ratus orang itu menawarkan diri untuk ikut, tapi Marino meminta agar mereka tetap di situ untuk melindungi kota itu.

Berikutnya, Marino melewati sebuah benteng Eleador yang juga sedang diserang oleh pasukan iblis. Tapi berbahaya jika Marino mendekat, sebab pasukan iblis sendiri sedang susah payah mendekati kastil yang menghujani mereka dengan semburan panah dan magic. Karena itu, Marino memerintahkan agar pasukan magicnya maju dan membantu benteng tersebut. Sisanya melanjutkan perjalanan, dan melewati sebuah benteng yang lebih kecil. Di sekitarnya, banyak berserakan potongan-potongan tubuh manusia dan iblis. Sebuah pasukan yang terdiri dari sekitar enam ratus orang sedang berbaris bersiap untuk menolong benteng yang satu lagi.

Melihat bahwa tidak ada masalah, Marino lewat saja. Kini Marino dan pasukannya harus melewati hutan belantara yang juga dihuni oleh iblis. Pasukan Marino sering sekali berpapasan dengan pasukan penjaga hutan yang sedang bertempur dengan iblis. Marino menyarankan agar mereka meninggalkan saja hutan itu dan melindungi kota-kota dan desa sekitar.

Setelah keluar dari hutan, mereka kini berhadapan dengan benteng terbesar Eleador, yaitu Gryffin. Benteng yang berkapasitas lebih dari 100.000 prajurit ini baru beberapa bulan yang lalu selesai dibangun. Marino dan yang lainnya memutuskan untuk masuk dulu ke benteng itu. Ternyata, pasukan di dalam juga sedang kacau. Marino melihat dari menara utara kastil (tadi mereka masuk lewat selatan) ke arah hamparan padang rumput di utara kastil. Tampak dari kejauhan, ada ribuan, mungkin puluhan ribu pasukan iblis pejalan kaki dan penerbang rendah sedang melesat menuju ke kastil.

“Kami mengirim 20.000 prajurit ke ibukota, tapi mereka tidak kembali. Mereka cepat sekali, entah dari mana,” kata komandan benteng ini.

“Kita harus cepat,” kata Rido.

Setelah berunding beberapa saat, akhirnya diputuskan bahwa pasukan Marino dan pasukan benteng itu akan memimpin pasukan lurus ke arah para iblis itu, dan menahan mereka untuk sementara. Saat itu, Marino, keempat sahabatnya, dan sekitar lima puluh prajurit The White Garda akan menyelinap di pertempuran itu menuju utara.

Gerbang-gerbang raksasa dibuka dan ribuan prajurit menghambur keluar dan menerjang lurus ke arah para iblis. Pertempuran dasyat langsung terjadi. Walau kalah jumlah, tapi pihak iblis lebih terdesak, karena semenjak serangan iblis yang lampau, pasukan Crin’s Blade telah dibekali banyak ilmu tambahan.

Marino, Adin, Eko, Daisy, Daffy, dan lima puluh prajurit lainnya melesat dengan kuda-kuda mereka ke tengah kancah pertempuran. Tapi mereka berusaha mencari jalan di mana kontak banyak terjadi agar semua iblis sedang sibuk bertempur. Setelah beberapa kali terpaksa dihadang iblis, semuanya berhasil mencapai tepi padang rumput di utara. Kini mereka melintasi gunung-gunung tinggi.

Tiba-tiba datang segerombolan iblis menyerang mereka. “Kami tangani. Kalian terus saja!” kata para prajurit The White Garda. Tanpa menanggapi, Marino dan keempat sahabatnya terus memacu kuda mereka secepat mungkin.

Agak lama, tiba-tiba kuda mereka tidak mau berjalan lagi. Mereka berada di tepi sebuah jurang. Di bawah sana adalah sebuah kuburan yang amat luas. Itu adalah makam pahlawan dan prajurit Eleador yang gugur dalam pertempuran atau berjasa besar bagi negara.

Saat Marino memandang lebih jauh lagi, yaitu ke arah bukit lain di utara kuburan tersebut, tampak ibukota Eleador yang ditutupi awan hitam pekat. Sangat kecil, karena sangat jauh, tapi cukup untuk memberi tahu mereka ada apa di situ.

Adin mengeluarkan beberapa gulungan tali, lalu membagi-bagikannya pada teman-temannya. Mereka mengikatkan tali-tali itu pada batu-batu yang kelihatannya mampu menopang.

“Apakah kalian siap?” tanya Eko. “Kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan.” kata Daisy, menggenggam lengan Marino. “Benar, dan segel tersebut pasti telah menunggu di bawah sana. Ayo kita turun,” kata Daffy.

“Kita selesaikan semuanya. Sekarang.”

 

 

[End of Chapter XVII]

[Coming up next, Chapter XVIII: Oath of Prophecy?]

Legend of Legends : Chapter XVI – Fall of Devilmare

The next chapter is out!

Enjoooy ^_^

——————————————————————————————————

CHAPTER 16

FALL OF DEVILMARE

                Marino memerintahkan agar tempat kubah tadi muncul dipasangi perangkap dengan berbagai jenis yang tiap buahnya amat berbahaya. Selain itu, area itu dibuat terlarang bagi siapapun. Jadi jika Rafdarov muncul lagi di situ, yang pertama akan terjadi adalah dia akan jatuh ke parit berisi besi-besi tajam. Jika itupun bisa lolos, masih banyak perangkap lainnya. Marino tahu bahwa itu bukan masalah bagi Rafdarov, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan. Dia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Setahun telah berlalu sejak pertempuran New Belsampos, dan kini tinggal beberapa saja negara yang masih dikuasai oleh Devilmare, yaitu Lenny, Mortwood, Lovenia, dan Roxis. Tidak lupa kerajaan Devilmare sendiri. Pasukan Devilmare sedang hancur-hancuran, dan pasukan The Chain sedang di puncak kejayaan. Apalagi ditambah dengan sukarelawan-sukarelawan dari kerajaan-kerajaan yang baru bebas. Saat ini, pasukan Devilmare yang sedang kacau, dihadapkan pada kekuatan pasukan yang kira-kira sudah mencapai lebih dari satu juta prajurit, bervariasi dari pasukan infantri, kavileri, maupun rakyat jelata yang membawa perisai dan tombak buatan sendiri.

Menghadapi kenyataan ini, rakyat Lovenia dan Lenny merasa mendapat ‘back up’ dan memberontak. Pasukan Devilmare di negara-negara tersebut yang sibuk mempertahankan wilayah-wilayah perbatasan, direpotkan dengan serentetan serangan pemberontak. Di saat-saat kacau begitu, beberapa utusan dari pasukan Darpy dan Marino mendatangi kedua negara tersebut memberikan dua tawaran:

  1. Mundur dan bebaskan negara tersebut (yaitu Lovenia dan Lenny), atau
  2. Pasukan The Chain akan menyerbu secara militer

Pemerintahan penjajah di Lovenia menyerah dan mundur ke Roxis, tapi kekuatan Devilmare di Lenny tidak mau menyerah. Tentu saja ini berarti Lenny akan digempur. Namun saat Ratu Darpy memimpin pasukan untuk menyerbu, pasukan Devilmare sedang diobrak-abrik oleh pasukan rakyat dibawah pimpinan Heriawan, seorang mantan walikota pada rezim kerajaan sebelum dijajah. Jadi, saat Darpy tiba, pasukan Devilmare langsung menyerah.

Marino dan Darpy berunding. Apakah menguasai Roxis dulu, atau Devilmare dan Mortwood dulu. Tentu menguasai Roxis akan amat sulit, mengingat medannya yang sangat mendukung pihak yang berada di dalam Roxis.

Tersiar suatu kabar bahwa Devilmare memindahkan pemerintahannya ke Roxis. Ini strategi bagus bagi kedua belah pihak. Bagi Devilmare pertahanan terhadap ibukota pasti akan jauh lebih kuat, tapi Mortwood dan Devilmare lama akan mudah direbut sehingga Roxis bisa dikepung.

Tadinya Lothar Night mengusulkan untuk menyerang Roxis lewat terowongan-terowongan yang dibuat waktu pelarian dulu, tapi lorong-lorong itu ditutup waktu semua penduduk sudah lewat. Mahluk yang bisa membuat lorong tersebut sudah punah karena diburu serta dibantai, karena itu Marino dan Darpy memutuskan bahwa Roxis harus dikepung.

Daisy dan Daffy menyerang Devilmare lama, lalu Bathack, Hermady, dan Rido menyerang Mortwood. Penyerangan ke Mortwood sukses besar, tapi perlawanan yang tidak diduga didapatkan oleh Daisy dan Daffy. Ternyata masih ada puluhan ribu pasukan Devilmare di sana, sehingga pasukan dari The Chain tersebut kalah jumlah dan terdesak. Untung saja datang bantuan dari Mortwood dan Marino memerintahkan agar Black memberikan tambahan pasukan.

Satu-satunya pasukan yang jumlahnya tidak bertambah, dan memang tidak mungkin ditambah pada saat ini adalah pasukan Jasmine. Pasukan gerilya butuh keterampilan dan pelatihan khusus. Pasukannya kini tinggal sekitar 7500 personil. Tapi, pasukan ini lumayan dibutuhkan untuk relief seperti Roxis.

Sebuah armada di bawah pimpinan Kaine tiba di pelabuhan Talmis. Ia membawa serta sekitar 3000 prajurit. Ini jelas merupakan bantuan yang lumayan.

Marino teringat sesuatu. Lucifer’s Den. Sarang iblis. Jika ia menghancurkannya, Lucifer tidak akan kembali. Ia membawa 1.500 prajurit menuju wilayah utara Devilmare. Di pantai utara, Marino melihat sebuah pulau di kejauhan. Di atas pulau itu berdiri sebuah kastil raksasa yang bentuknya amat mengerikan. Itulah Lucifer’s Den. Satu-satunya cara  untuk mencapainya adalah melalui laut.

Marino dan keempat sahabatnya menaiki salah satu kapal perang menuju Luicifer’s Den. Mereka berangkat dari pelabuhan Devilmare yang letaknya amat jauh dari situ. Aneh. Lewat mana Rafdarov mengirim tahanan ke penjara itu?

Sekitar empat puluh kapal tempur dikirim ke sana. Kira-kira dua ratus meter dari pantai pulau Lucifer’s Den, Marino melihat ada ribuan prajurit iblis yang mengelilingi Lucifer’s Den. Setelah konfirmasi dari Marino, kapal-kapal itu mulai menghujani iblis-iblis itu dengan ariel cannon dan meriam api, atau setidaknya begitulah niatnya, sebab seperti ada pelindung tak tampak yang menutupi seluruh pulau itu, sehingga peluru-peluru memantul begitu saja di udara kosong dan terpental kembali ke langit.

Marino memerintahkan agar pasukan lautnya mundur kembali. Kaine menawarkan diri untuk ikut membantu, lalu Yogin, Phaustine, dan Eko ikut menawarkan diri pula. Dengan kapal-kapal kecil, mereka bersama ratusan pasukan magic mendekat ke pulau.

Sia-sia. Kaine saja yang sudah mengeluarkan berbagai macam sihir seperti badai api yang kelihatan luar biasa dasyat dan mengakibatkan sederet ledakan super dasyat, tapi gagal. Perisai Lucifer’s Den itu sama sekali tidak bergeming.

Setelah melakukan rapat berkali-kali, Marino dan Darpy memutuskan untuk memfokuskan pada Roxis dulu. Ada beberapa cara untuk melakukannya dan yang paling banyak dibicarakan adalah penggempuran habis. Entah berapa banyak korban yang akan berjatuhan, tapi cara-cara yang lain lebih parah lagi.

Untuk menghindari medan berat, Marino memutuskan untuk menyerang lewat jalan terbuka saja. Dia tahu bahwa area-area tersebut cuma sedikit sekali dan pasti dijaga dengan sangat ketat. Jalan itu pasti akan menuju ke arah di mana pasukan besar Devilmare menanti, dan sepanjang jalan, akan pasti akan ada hujan-panah dari bukit-bukit di sisi jalan.

Daisy memberikan usul yang luar biasa cemerlang. Ia mengusulkan agar dibuat menara-menara berjalan. Untuk apa? Agar pasukan bisa naik ke atas bukit-bukit dimana pasukan pemanah Devilmare menunggu. Ini didukung oleh perbukitan itu, yang tidak terlalu tinggi, cuma sekitar dua puluh meter maksimal, dan ada beberapa titik yang cuma lima belas meter. Informasi ini didapat dari pengintai yang mengamati area di mana terdapat jalan besar menuju pusat Roxis.

Dalam waktu dua minggu, delapan buah menara berjalan telah dibuat. Menara itu didesain dengan tangga agar bisa memanjat dan dari atas akan dijaga oleh pemanah. Untuk melindungi pasukan yang akan memanjat, tangga tersebut di dalam sebuah terowongan kayu dan besi. Agar bisa jalan, tentu dipasangi roda.

Dengan ini, mereka akan lebih mudah menghadapi pasukan pemanah musuh dari atas bukit. Jadi strategi yang akan dilaksanakan adalah : Marino akan memimpin gelombang pertama sejumlah 20.000 lewat jalan timur, di mana ada jalan besar menuju sebuah kota bernama Gareosoda, membawa empat menara berjalan. Sementara itu Rido meimpin 25.000 prajurit masuk lewat jalan raya besar di utara dan membawa empat menara berjalan pula. Di saat yang bersamaan Jasmine akan membawa pasukannya melewati medan berat Roxis sebelah timur sekaligus membersihkan jalan, lalu pasukan Pandecca dan Cremplin akan masuk.

Marino dan pasukannya sudah memulai perjalanan menuju jalan timur, setelah melakukan persiapan selama sekitar sebulan. Dari kejauhan, tampak jalan yang akan mereka lewati, dan perbukitan di mana pemanah-pemanah pasti telah menanti. Pasukannya yang terdiri dari 10.000 kavileri dan 10.000 infantri telah gatal ingin menebas sesuatu. Empat menara berjalan bergerak dengan didorong oleh delapan orang per menaranya. Di dalam masing-masingnya, telah menanti dua puluh lima prajurit yang sudah bergelantungan di tangga, siap memanjat, dan empat pemanah di puncak siap melindungi. Daisy menunggang kuda dan menggenggam tombak persis di sebelah Marino.

Seratus meter dari ujung jalan, Marino menyerukan perintah maju, seketika seluruh pasukannya menderu maju. Saat makin mendekat, hujan panah datang, tapi tidak sedasyat yang diperkirakan. Semua pasukan Marino mengangkat perisai dan berlindung di baliknya. Dari sudut matanya, Marino melihat beberapa orang pasukannya jatuh kena panah. “Tinggalkan yang gugur! Kita angkut setelah pemanah di bukit diatasi!” teriak Marino.

Menara-menara mendekat ke bukit. Satu orang pemanah dari atas salah satu menara terjatuh saat dihantam panah dari bukit, tapi itu bukan masalah. Dengan cepat, para prajurit yang sudah bersiap, memanjat menara tersebut dan naik ke atas bukit. Pasukan yang ada di tiap bukit (kiri dan kanan jalan) berhenti menghujani jalan, karena sibuk menghalau pasukan The Chain yang melewati menara. Pasukan infantri terus memanjat dan menghancurkan pasukan musuh yang berada di sana.

Di sini, Marino kehilangan seratus lebih prajuritnya, tapi berhasil membantai lebih dari tiga ratus musuh, dan menawan beberapa puluh lainnya. Ia memerintahkan agar ada pasukan yang bergerak melewati bukit juga. Dia senang sekali dengan kesuksesan menara berjalan, kemudian mencium pipi Daisy yang mengusulkannya.

Pasukannya bergerak lagi. Mereka terus waspada karena yakin bahwa setiap saat bisa saja ada pasukan Devilmare yang besar muncul. Jalan tersebut berakhir di sebuah kota. Dengan was-was, Marino dan pasukannya memasuki kota tersebut. Di belakang kota tersebut terhampar padang rumput yang amat luas.

Aneh. Kota tersebut kosong. Ini sama sekali tidak beres. Marino cepat sekali tanggap, ia yakin bahwa akan ada serangan besar-besaran dari padang rumput sana jika pasukan Marino bergerak ke sana, mengingat padang rumput itu berbatasan dengan hutan yang melingkarinya. Segera saja Marino memerintahkan pasukannya untuk membangun pertahanan di kota tersebut. Ia mengirim surat dengan Amber. Lewat surat itu, ia meminta bantuan pasukan dalam jumlah besar untuknya, dan juga untuk Rido Matius. Selain itu, ia meminta bantuan logistik.

Marino memperkirakan pasukan bantuan itu akan tiba paling lambat besok malam. Ia juga memperkirakan bahwa pasukan Devilmare tidak akan menyerang untuk sementara waktu karena mereka pasti menginginkan agar pasukan Marino melewati padang rumput dan disergap. Mungkin butuh sedikit waktu lebih lama agar pasukan Devilmare tanggap bahwa Marino tidak akan masuk perangkap semacam itu.

Giliran jaga malam dibagikan, menandakan bahwa malam telah tiba (Lho, kok?). Marino menumpang beristirahat di sebuah rumah kecil dekat pinggir kota bersama Daisy. Rumah itu kelihatan sangat sederhana dari luar, kecil, tapi begitu Marino masuk, perabotnya bagus-bagus, dan kelihatan mewah.

“Kita hampir menang. Kita pasti menang,” kata Daisy. “Dan kita akan segera menikah,” keadaan hening untuk sementara. Daisy mencium pipi Marino dan tersenyum. “Tapi Rafdarov baru akan muncul beberapa bulan lagi. Yah, itu bukan masalah. Kita habisi dia nanti….”

Pintu terbuka, lalu Eko dan Daffy menghambur masuk, disusul Adin. “Wah, kami salah waktu, ya? Kalau begitu kami tinggal dulu,” kata Eko sambil berjalan keluar.

“Jangan. Kita perlu bicara,” kata Marino.

“Tidak. Kalianlah yang harus saling bicara, kami tidak mau mengganggu,” potong Adin. Ketiganya melangkah keluar.

“Akan kugantikan giliran jaga kalian,” kata Eko.

“Kita memang harus banyak mengobrol,” kata Marino.

“Tapi kita tidak harus ngobrol dengan kata-kata,” Daisy menghentikan pembicaraannya sejenak saat membelai lengan Marino, kemudian berkata lagi, “banyak sekali cara mengobrol….”

“Ada serangaaaaaaaaan!” teriak seorang prajurit dari luar rumah. Segera saja Marino dan Daisy menyambar senjata dan armor, lalu melesat ke luar. Dari jauh tampak puluhan ribu, mungkin pasukan Devilmare melintasi padang rumput dengan perlahan menuju kota dan berhenti sekitar dua ratus meter dari kota. Pasukan Marino telah bersiaga.

Setelah hening beberapa saat, musuh menerjang maju. Marino memerintahkan pasukannya mundur agar perang terjadi di dalam kota. Saat melesat menuju kota, beberapa pasukan Devilmare jatuh di perangkap yang dipasang pasukan Marino. Saat mereka mendekat dari tiap rumah melayang panah-panah api menuju musuh. Saat musuh sudah terlalu dekat untuk para pemanah, pasukan Marino maju.

Pertempuran sengit kini terjadi. Pedang dan tombak berkelebat di sana-sini. Pasukan Marino yang kuat tampak lebih unggul, apalagi kelihatannya pasukan Devilmare berjumlah lebih sedikit. Setelah lama berperang, pasukan Marino menang, dan berhasil menawan 3.000 lebih prajurit Devilmare. Ia sendiri telah kehilangan 6.000 orang, tapi ia telah membantai lebih dari 10.000 musuh dan 5000 lainnya melarikan diri.

Tidak ada serangan lain pada hari itu dan Marino memutuskan untuk menunggu pasukan bantuan untuk tiba. Pada pertempuran tadi, lengan kiri Daisy terkena pedang dan terluka. Untungnya luka tersebut ringan dan cukup dibalut saja. Tentu jadinya ia akan kesulitan nantinya.

Menjelang sore hari, pasukan bala bantuan di bawah pimpinan Black telah tiba. Ia membawa 40.000 prajurit serta puluhan kereta kuda berisi logistik. Selain itu ada sekitar dua puluh meriam api beroda yang biasa Marino lihat di kapal-kapal perang Crin’s Blade.

“Mengapa tidak Ariel cannon sekalian?” tanya Marino.

“Maunya sih begitu. Tapi Ariel cannon tidak bisa dilepas dari kapalnya dengan mudah. Butuh waktu lama. Karena menurutku ini darurat, aku bawa ini saja,” kata Black sambil menunjuk pada meriam-meriam api tersebut.

Tiba-tiba Daisy berlari pergi ke arah bukit tempat mereka datang. “Mau ke mana kau?” teriak Marino.

“Nanti saja! Jika mau bergerak, duluan saja. Aku akan menyusul,” teriak Daisy tanpa menoleh.

Kota yang mereka tempati tidak mungkin bisa menampung jumlah prajurit yang begitu banyak. Marino memutuskan untuk bergerak menuju padang rumput.

“Semua waspada. Kita mungkin akan menghadapi perang gerilya,” kata Marino pada pasukannya. Pasukan yang dibawa Marino berjumlah sangat banyak, hal ini membuatnya agak percaya diri. Tapi ada satu hal yang mengganjal hatinya. Kemanakah Daisy? Apakah dia punya ide lain? Entahlah.

Saat mereka memasuki hutan, rasanya aman-aman saja melihat bahwa hutan tersebut sangat sunyi. Tapi setelah masuk jauh ke dalam, ternyata mereka telah terkepung oleh pasukan gerilya Devilmare. Pertempuran sengit terjadi lagi. Gerilya asal Devilmare kelihatannya tidak begitu profesional. Mereka memang jago bersembunyi, tapi saat Marino dan pasukannya lewat, mereka langsung saja keluar dari tempat persembunyian dan menyerbu. Dengan jumlah yang lebih banyak, Marino berhasil mengatasi serangan gerilya tersebut dengan baik.

Tepi hutan telah tampak, di hadapan mereka  kini terhampar padang rumput yang luas sekali, sama seperti yang ada di tepi hutan di mana mereka masuk. Namun dari kejauhan tampak ada banyak sekali prajurit Devilmare. Mungkin ada puluhan ribu.

“Formasi!” Black berteriak, dan pasukannya bergerak.

Meriam api berderet paling depan, pemanah berjajar di belakang meriam bersama magic, lalu pasukan lainnya menunggu di belakangnya. Pasukan Devilmare membanjir ke arah mereka.

“Sisanya buat pagar tombak bertahan!” perintah Marino. Saat-saat seperti itu, Daisy datang dengan sebuah gerobak berisi mata-mata panah.

“Kalau sudah dekat, isi meriam kalian dengan ini sampai penuh, lalu tembak,” kata Daisy pada empat pemegang meriam.

“Kau cerdik sekali, Daisy,” puji Marino.

Meriam-meriam api melontarkan bola-bola merah ke arah musuh, membuat dua atau tiga musuh terpental lalu terkapar tak bergerak karena ledakannya. Panah-panah api beterbangan menciptakan hujan panah bercampur magic yang cukup efektif memperlambat musuh sekaligus membantai.

“Kalian,” kata Daisy mengambil sekop-sekop dari dalam kereta yang ia bawa, lalu menyodorkannya pada empat pemegang meriam tadi, “isi sampai penuh, dan tembak Hanya jika mereka sudah terlalu dekat, sekitar enam meter,” kata Daisy dengan serius.

Pasukan Devilmare terus mendekat, lalu empat penjaga meriam yang tadi diberi peluru khusus oleh Daisy langsung menembak ke arah yang berbeda. Dari tiap larasnya, bola api yang telah diisi meledak lebih hebat, sayangnya meledak di larasnya, membuat meriamnya terdorong mundur beberapa meter, tapi mata-mata panah yang di isi ke dalamnya menyembur ke depan, dan mengenai belasan musuh sekaligus.

“Bagus! Tapi kita akan kehabisan, dan… mereka sudah terlalu dekat, dan…..  SERAAAANG!!!” seru Marino dan semua pasukannya menyambut pasukan Devilmare. Untuk ketiga kalinya, perang besar terjadi. Udara dipenuhi dentingan-dentingan besi yang beradu. Jumlah mereka seimbang tadinya, sampai bantuan Devilmare tiba.

Dari kejauhan tampak ada ribuan prajurit melesat ke arah kancah pertempuran. Marino tahu bahwa pasukannya telah kalah jumlah, tapi ia tidak akan menyerah. Ia menebas terus tanpa kenal lelah, dan menghabisi banyak musuh. Bantuan datang lagi, tapi kini untuk Marino. Dari arah samping, sebuah pasukan yang berzirah hitam, seperti pasukannya, menderu ke arahnya. Ternyata pasukan Cremplin.

Dalam seketika, keadaan berbalik drastis, dan pasukan Devilmare kalah. Sebagian besar melarikan diri, dan sisanya terbunuh atau ditawan.

“Pasukan kita sedang dialirkan dalam jumlah yang amat banyak. Perintah mendadak dari Ratu Darpy. Entah apa yang dia pikirkan, tapi rasanya itu solusi yang tepat. Mari kita terus bergerak. Pasukan-pasukan kita yang lain sedang bertempur di jantung Roxis,” lapor Cremplin.

“Lho, mereka bisa sudah sejauh itu?” Marino terheran-heran. Untuk mencapai segini saja ia dan pasukannya sudah terpontang-panting.

“Eh, bala bantuan sebagian besar kebetulan bertemu dengan pasukan Rido atau Jasmine, jadi mereka dapat bantuan duluan,” kata Cremplin.

Pertempuran berlanjut terus selama berbulan bulan karena pertahanan berlapis yang ditinggalkan oleh Roxis ternyata berhasil difortifikasi ulang dengan baik sehingga menghambat invasi The Chain di berbagai sektor. Tapi akhirnya pasukan The Chain bertemu di jantung Roxis dan lapis pertahanan terakhir, yaitu Istana Besar.

Sudah sekitar 275.500 prajurit bersenjata lengkap yang mengepungnya, tapi belum bisa tertembus. Ada semacam sihir misterius yang melindunginya, berbentuk bola yang menutupi istana raksasa itu. Di balik pelindung itu, tampak ribuan prajurit Devilmare yang menunggu. Andaikata perisai sihir itu bisa dihilangkan, pasukan di dalamnya yang jelas lebih sedikit dari pasukan The Chain bisa di bantai. Marino tahu bahwa itu saja yang tersisa dari Devilmare. Cuma itu.

Dari langit, sebuah meteor raksasa menghunjam perisai sihir itu, dan membuatnya retak. Semua mata tertuju pada asalnya meteor itu. Ada Kaine melayang sepuluh meter dari permukaan tanah yang sedang meluncur mendekat ke istana tersebut.

Bola api tadi berhasil membuat bola perisai tadi kelihatan retak. Saat meteor kedua menghantamnya, perisai tersebut pecah dan lenyap. Pasukan The Chain langsung menyerbu masuk, tapi sebelum mereka mendekat, sebuah bola cahaya meluncur dan meledak dan membunuh puluhan prajurit The Chain. Sesosok pria botak melayang tinggi, memegang sebuah tongkat panjang yang ujung bandulnya menyala putih. Orang itu adalah Morris Boyne.

“Lama sekali tidak berjumpa. Tapi kali ini kau akan kalah, sebab cara yang sama tidak akan mempan lagi!” teriak Morris.

“Untuk apa aku memakai cara lama? Aku punya banyak cara baru…dan teman baru,” kata Kaine tenang, saat dua sosok melayang juga yaitu Yogin dan Phaustine.

“Huh, mau curang rupanya?” kata Morris dengan nada sopan tapi berbahaya.

“Curang?” Kaine melayang sedikit lebih tinggi. “Jangan pura-pura. Kau kira aku tidak tahu?” ledek Kaine. Morris tersenyum.

“Kau tahu juga,” Morris pun meledak…..

Lalu muncul sebagai tiga orang Morris. Satu berbaju merah, satu berbaju biru, dan yang lain berbaju hijau. “Kita bertarung, Kaine!” teriak Morris berbaju merah. Yogin mendekati yang biru, dan Phaustine melesat ke arah yang hijau.

“SEMUANYA MENYINGKIR JAUH-JAUH!!!” teriak Kaine sambil menyambut bola-bola cahaya dengan kilatan-kilatan api yang dasyat.

Semua otomatis menyingkir begitu udara dipenuhi ledakan-ledakan dasyat, yang impulsnya terasa hingga berkilo-kilo jauhnya. Kaine dan Morris merah tampak seimbang, demikian pula Yogin dan yang biru, tapi Phaustine agak kewalahan. Memang sihirnya kelihatan jauh lebih kuat, tapi dalam sebuah duel sihir yang dibutuhkan bukan cuma sihir yang kuat, melainkan keterampilan yang tinggi.

Saat pertarungan Phaustine dan Morris hijau mendekat ke tanah sedikit, seorang prajurit menarik busurnya, membidik, lalu iseng saja memanah ke arah Morris berbaju hijau, dan kena.

Memang cuma kena lengannya saja, tapi kesempatan itu diambil Phaustine untuk menghajarnya habis-habisan dengan kilatan-kilatan cahaya biru. Morris yang itu terkapar di lantai dan tidak bergerak lagi.

“Kurang ajar! Kau curang!” geram Morris berbaju merah. “Curang? Siapa suruh tubuhmu yang pakai baju hijau itu melawan anak kecil begitu? Karena tidak adil, makanya butuh ‘sedikit’ bantuan. Tapi aku heran. Kenapa tubuhmu yang itu mudah sekali dikalahkan begitu?” gumam Kaine tenang. “Dia yang paling lemah soalnya,” pertarungan pun berlangsung lagi.

Phaustine kini ikut bertarung bersama Yogin melawan Morris berbaju biru. Sementara itu, Kaine sedang menembakkan ratusan naga api ke arah Morris. Morris dengan cerdik menangkis naga-naga api itu, kemudian membalikkannya ke arah para prajurit. Tapi kebetulan Morris berbaju biru sedang mengelak dari serangan Yogin, melesat tepat ke jalur di mana naga api akan lewat. Walhasil, ledakan dasyat terjadi, lalu Morris berbaju biru itu jatuh ke tanah. Dengan sigap, para pemanah menghujaninya dengan panah. Morris berbaju biru itu masih sanggup menahan panah-panah tersebut, tapi ia melupakan Yogin dan Phaustine yang menembakkan bola sihir besar ke bawah dan meledakkan Morris seketika.

“Kini kau sendirian,” kata Kaine.

“Tidak apa-apa. Aku sendiri puluhan kali lebih kuat dari belahan tubuhku yang tadi! “ teriak Morris sambil tertawa, tapi dari ekspresinya jelas ia juga ketakutan. Kaine menyadari ini dan langsung tersenyum. “Kapan sih, kau akan kapok?” tanyanya saat Yogin dan Phaustine melesat ke arah Morris yang tersisa. Tapi sekali ia mengayunkan tangan, terjadi ledakan hebat, dan kedua perempuan itu terpental ke arah kerumunan prajurit yang langsung menangkap mereka.

“Terima kasih! Ukh, Morris yang itu luar biasa kuat, ya?” gerutu Yogin, mengelap bibirnya yang sedikit berdarah. Kaine membombardir Morris dengan ratusan bola api, lalu mengeluarkan serentetan sihir super dasyat yang dibalas lagi oleh Morris dengan sihir yang tidak kalah dasyat.

Yogin mengangkat kedua tangannya, demikian juga Phaustine. Eko yang berada tidak jauh dari situ ikut mengangkat tongkatnya. Semua prajurit magic yang berada di situ juga mengangkat tangan. Tanpa diberi komando, semuanya mengeluarkan sihir terbaik mereka. Kaine mengibaskan tangannya, mengakibatkan semua sihir itu tidak jadi mengenai Morris, tapi saling bertabrakan sepuluh meter di bawah tempat Morris melayang. “Apa yang kau…..” tapi Kaine bukan menolongnya.

Sebuah bola api muncul di tempat sihir-sihir tadi bertabrakan. Semua sihir itu berbelok dan memasuki bola api tersebut dari satu sisi, lalu muncul lagi di sisi yang lain sebagai satu sihir yang berupa kesatuan dari semua sihir yang ada. Sihir itu mengejar Morris yang berusaha terbang menjauh sambil menembakkan sihir-sihir kuat untuk menghalaunya. Tapi begitu sihir-sihir yang ia keluarkan mengenai sihir dari semua mage, sihirnya sendiri berbalik dan ikut menyerangnya.

Morris terus terbang menghindari sihir gabungan itu, yang terus mengejarnya. Kaine menembakkan bola sihir lagi yang berhasil menghantam wajah Morris dengan telak. Saat itulah terbangnya melambat dan sihir tadi menghantamnya. Sebuah ledakan yang sangat dasyat terjadi. Langit menjadi hitam sejenak waktu ledakan tadi terjadi dan potongan-potongan tubuh Morris terpencar ke mana-mana.

Semua prajurit di dalam istana tersebut menyerah dan keluar dengan damai. Aparatur negara Devilmare yang berada di dalam kastil juga ditangkap dan ditawan.

Marino menemukan sesuatu saat ia dan Daisy sedang memeriksa kebun belakang istana. Ada tongkat sihir Morris menancap di tanah. Tongkat sepanjang dua setengah meter itu masih bercahaya, terutama di bandul besar pada ujungnya. Cahaya putih menguar darinya. Marino mendekatinya, tapi Daisy memeluk lengannya. “Jangan, bisa jadi berbahaya,” katanya.

“Entahlah. tapi kita tidak akan tahu jika tidak mencoba,” lalu dengan tangannya yang tidak dipeluk Daisy, ia mencoba menyentuh bandulnya. Marino belum melepas senjatanya dan secara tidak sengaja ujung senjata di punggung tangannya menyentuh bandul itu.

Cahaya putih di bandul itu bertambah menyilaukan. Kini cahaya tersebut juga menyala di kedua senjata Marino. Tubuhnya sendiri mulai bercahaya, Daisy yang sedang memeluknya juga ikut bercahaya, lalu cahaya yang menyilaukan juga bersinar di mata tombak milik Daisy.

“Elemental,” kata Daffy yang baru datang sambil merangkul Yogin. “Senjata kalian kini memiliki elemen angin, karena tongkat Morris juga berelemen angin,” katanya. “Adin sudah punya api, Eko punya halilintar, kalian punya angin, dan si lucu ini memberikan elemen air padaku. Betul?” ia bertanya sambil mencubit pipi Yogin, yang mengangguk.

“Kalau begitu, kita berlima sudah punya elemen pada senjata kita,” kata Daisy.

“Tunggu.” Marino bergumam, saat Eko dan Adin baru saja muncul. “Devilmare sudah tidak ada lagi. Musnah,” dia berhenti sejenak saat beberapa panglima lain seperti Jasmine, Black, dan Rido mendekat. “Tapi, masih ada yang lebih buruk menanti kita,” Marino menegakkan punggungnya sedikit.

“Rafdarov,” gumam yang lainnya bersamaan. Marino mengangguk kecil.

“Betul, tapi ada yang lebih merisaukanku. Jauh lebih jahat daripada Rafdarov,” gumamnya, sambil menatap teman-temannya satu persatu. Akhirnya Rido mengatakan sesuatu, yaitu jawaban dari pertanyaan mereka, yang tersimpan saja di dalam batin mereka. “Lucifer”

 

[End of Chapter XVI]

[Coming up next, Chapter XVII: Rise of Lucifer]

Legend of Legends: Chapter XV – Lethifold

Finally, Chapter 15 is out!

 

Enjoooy!!!! ^_^ ^_^

 

—————————————————————————————————————————————————————–

CHAPTER 15

LETHIFOLD

                Marino membagi pasukannya menjadi empat bagian. Dari 400.000 prajurit, dia memisahkan 100.000 untuk menyerang Gallowmere dari utara, yaitu dari Grandminister, yang akan bertanggung jawab adalah Pandecca. 100.000 lain akan lakukan serangan dari wilayah Xenfod yaitu dari arah barat. Phalus yang bertanggung jawab di sini. 100.000 lagi akan didaratkan lewat laut di timur Gallowmere, mengingat saat Xenfod dikuasai, mereka berhasil mendapatkan banyak kapal perang, termasuk kapal transport. Black akan memimpin ini. Sedangkan sisanya, yang berjumlah 100.000 prajurit, akan menyerang dari arah selatan, yaitu hutan legendaris Faticia. Marino akan bertanggung jawab untuk area ini. Marino berencana menggempur dari empat arah.

Marino melakukan sebuah briefing singkat dengan Phalus dan Pandecca. Ia hanya mengingatkan kemungkinan akan serangan dari dalam Gallowmere. Menurut perkiraan, pasukan yang akan didaratkan dari laut diperkirakan akan tiba dalam dua hari (mengingat buruknya teknologi perkapalan Xenfod), maka dua hari lagi pula akan diadakan serangan dari arah barat, utara, dan selatan. Tapi Marino harus cepat berangkat ke hutan Faticia, sebab sebelumnya, belum pernah ada orang yang pernah masuk, lalu keluar lagi.

Meski begitu, tapi Marino telah mengetahui apa yang akan mereka hadapi. Saat rombongan pasukannya memasuki hutan Faticia, mereka sudah disambut oleh segerombolan pasukan wanita, yang… kau tahu lah. Tapi Marino langsung menyuruh konvoinya berhenti, lalu ia sendiri meminta menemui pemimpin Fatician. Setelah sedikit berdebat, akhirnya para Fatician itu mau mengantarnya. Jasmine pun ikut menemaninya.

Setelah lama melewati pepohonan, akhirnya mereka tiba di sebuah area yang mirip perkemahan, tapi amat sangat luas. “Inilah tempat tinggal kami. Pemimpin kami ada di tenda paling besar,” kata sang Fatician. Marino dan Jasmine berjalan dengan cepat menuju tenda yang dimaksud.

Marino kini paham mengapa tidak ada yang pernah keluar dari hutan ini. Mereka pasti tergoda oleh para pasukan wanita di sini. Saat Marino berjalan melewati mereka, memang mereka ‘meminta’. Dan kalau yang masuk adalah wanita? Kan mereka tidak tertarik pada wanita juga. Tapi Marino tahu. Para Fatician menatap Jasmine dengan tatapan tajam dan sangat tidak suka, tak sedikit yang menggenggam senjata mereka sedikit lebih erat. Jasmine sampai agak risih. Ia lebih mendekat dan menggenggam erat tangan Marino.

Mereka akhirnya tiba di tenda yang dimaksud. Di dalam, ada seorang wanita yang luar biasa cantik, dan, tidak memakai apapun selain rumbai. Tapi rumbainya memiliki bagian-bagian yang terbuat dari besi. Dia juga memakai helm dari besi hingga dahinya tidak kelihatan, tapi bagian belakang kepalanya terbuka. Ada sebuah tongkat besar yang ujungnya adalah sebuah bola hijau yang agak menyala.

“Ada apa sampai datang kemari?” tanya si pemimpin Fatician. “Kami dalam misi, dan membawa 100.000 prajurit untuk menyerang Gallowmere. Misinya adalah membebaskan Gallowmere,” kata Marino.

“Jadi kalian yang telah membebaskan Xenfod? Aku telah dengar tentang kalian,” kata si pemimpin yang bernama Azarep itu.

“Betul sekali. Dan kami ingin…,” tapi Azarep langsung memotong kata-kata Marino itu.

“Kalian mau agar pasukan kami tidak mengganggu kalian. Agar tidak menggoda kalian, bukan?” Marino mengangguk.

“Begitulah. Demi kelancaran misi kami,” Azarep diam sebentar.

“Kuizinkan. Akan kuperintahkan agar tidak mengganggu kalian. Dan akan kukirimkan bantuan. Pasukanku cuma sekitar 6.000 orang, tapi aku yakin akan sangat membantu misi kalian,” kata Azarep kemudian.

“Bagaimana kalau mereka menggoda kami di jalan nanti?” tanya Marino.

“Akan kularang mereka,” kata Azarep.

“Apakah itu tidak akan mereka langgar?” tanya Marino lagi.

“Faticia. Faticia adalah suku yang komitmen. Jika aku bisa membuat mereka berjanji, mereka akan menepatinya. Apakah kau meragukan itu?” Marino menggeleng.

“Aku tidak akan mengirimnya sekarang, tapi akan menyusul dalam beberapa hari,” kata Azarep.

“Bisakah kuminta agar bala bantuan dari kalian agar memakai sesuatu? Pakaian?” Marino ragu Azarep akan menyetujuinya.

“Jika begitu, aku tidak bisa. Pasukanku tidak akan kuizinkan bertempur bila mereka merasa tidak nyaman,” kata Azarep.

“Kalau begitu saya berharap agar Faticia tidak usah mengirimkan bantuan, tapi penuhilah permintaan saya yang pertama.”

“Saya mengerti. Silahkan pergi, tapi saya pesan satu hal. Jika kau pergi dari tenda ini, jaga teman wanitamu ini baik-baik. Pasukanku sama sekali tidak menyukai wanita selain dari suku kami,” gumam Azarep pelan.

Marino meninggalkan tenda dan bergegas pergi. Saat menoleh ke belakang, Marino melihat bahwa Azarep keluar dari tendanya dan mengangkat tinggi tongkatnya. Saat tongkat itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan selama beberapa saat, pasukannya yang berada di area itu langsung berkumpul. Meski tidak dengar apa yang dikatakan, tapi Marino tahu bahwa Azarep sedang memerintahkan pasukannya untuk tidak mengganggu pasukan Marino.

Keduanya bertemu kembali dengan pasukannya di tepi hutan. “Bagaimana?” tanya Aisha Zuchry. “Apa mereka mau membantu?” Feizal menimpali. “Mereka tidak akan mengganggu kita. Ayo bergerak.” kata Marino. “Kita akan membuat kemah dekat tepi hutan. Semua yang merasa wanita, sampaikan juga pada wanita yang tidak mendengarkanku karena alasan apapun, kalian harus hati-hati, dan sebisa mungkin jangan sampai berkomunikasi dalam bentuk apapun dengan anggota suku Fatician. Bahaya.” Marino memperingatkan.

Akhirnya mereka tiba di dekat tepi hutan. Jika mereka keluar, mereka akan berhadapan dengan wilayah Gallowmere. Besok, mereka akan ke sana. Malam, tentunya. Beberapa mata-mata telah dikirim untuk meneliti kondisi area-area yang berbatasan dengan hutan Fatician tersebut.

Wal hasil, dari lima belas mata-mata, hanya enam yang berhasil kembali. Ternyata, jika mereka keluar dari hutan, mereka akan menemui dua alternatif kota. Salah satunya, dijaga dengan sangat ketat, dan bahkan ada sebuah pasukan besar di situ. Kota berikutnya, juga ditempati oleh sebuah pasukan besar Devilmare. Selain dua kota itu, ada juga beberapa desa kecil yang tidak dijaga terlalu ketat. Sembilan mata-mata yang tdiak kembali, ternyata tewas di dua kota tersebut. Malah, menurut mata-mata, sebuah pasukan sebesar 25.000 personil akan menyerang ke arah mereka dari salah satu kota itu, dan akan datang bala bantuan.

Untuk menghadapi serangan ini, Marino akan siap, sebab mereka akan kalah jumlah. Benar saja. Begitu mereka tampak di area terbuka luas yang memisahkan hutan dan wilayah Gallowmere, dan Marino memajukan semua pasukannya, pasukan Devilmare kabur lagi karena takut.

Beberapa mata-mata dikirim lagi, termasuk Eko. Saat sudah menjelang sore, semua mata-mata kembali dalam keadaan hidup, untuk melapor. Kota yang paling barat kini di perkuat oleh 40.000 prajurit. Desa-desa di timur kota tadi juga di isi prajurit yang total berjumlah 25.000 orang. Kota yang paling timur, yaitu yang tadi mengirimkan pasukan untuk kemudian kabur lagi, mendapatkan bala bantuan sejumlah 15.000 orang, dan kini telah mendapat kiriman lagi sebanyak 10.000, jadi di kota itu ada 50.000 prajurit. Marino kalah jumlah.

Walau begitu, Marino tetap konsisten dan tidak berniat untuk meminta bantuan dari Fatician. Ia memecah pasukannya menjadi tiga bagian. 35.000 prajurit akan menyerang kota paling barat, 45.000 ke kota paling timur, dan sisanya, yang berjumlah 20.000 personil akan menggempur desa-desa kecil di antara kedua kota tersebut. Tiap sektor mereka memang kalah jumlah 5000 orang, tapi Marino merasa bahwa ini cukup adil.

Malam telah tiba, dan Marino memerintahkan pasukannya agar bergerak dan menyerang area yang telah ditentukan. Marino sendiri ikut menyerang kota yang terletak di sebelah timur. Kuda yang ditunggangi Marino melaju paling depan. Dekat di belakangnya ada Daisy, Feizal, dan Aisha Zuchry.

Kota tujuan mereka kian dekat dan mereka melaju di tengah area terbuka yang sangat luas yang amat cocok untuk area pembantaian. Dari jauh, tampak kalau kota tersebut dikelilingi tembok batu yang tinggi, sekitar tujuh meter.

“Penghancur gerbang siap!” teriak Marino, kira-kira seratus meter dari kota tersebut, dan ada sahutan semangat dari belakang yang diteriakkan oleh beberapa prajurit yang memiliki magic khusus untuk mendobrak batu. Tapi““` saat mereka berjarak sekitar tiga puluh meter dari kota, menyemburlah hujan panah dari balik tembok kota tersebut. Segera Marino mengangkat tangannya dan memberikan isyarat untuk berhenti, lalu keluar dari daerah jangkauan panah. Dia juga teriak, tapi tenggelam oleh seruan-seruan pasukannya.

Pasukannya memang melihat isyarat itu, lalu berhenti dan keluar dari jangkauan panah, tapi ada seseorang yang tidak melihatnya. Daisy.

Dengan lincah, ia mengendalikan kudanya, berkelit-kelit menghindari panah. “Daisy! Kembali! INI PERINTAH!!!” teriak Marino. Daisy menoleh dan terkejut bahwa ternyata dia seorang saja yang maju.  Saat itu, sebuah panah melesat dan menancap pada kaki kuda yang ia tunggangi. Kuda tersebut terguling jatuh. Kalau begitu, Daisy kini dalam bahaya besar. Tanpa pikir panjang, Marino melesat maju, dan dari belakang, Feizal Zuchry mengikuti juga.

Tiba-tiba sebuah panah melesat lurus ke arah Marino dan membuatnya terpaksa berkelit. Jalan Feizal lebih mulus, ia pun tiba lebih dulu. Tanpa mengurangi kecepatan kudanya, diraup saja tubuh mungil Daisy ke atas kudanya, dan Daisy duduk di belakangnya.

“Maaf, aku tidak lihat isyaratnya,” kata Daisy.

Feizal melakukan putar balik tajam dengan kudanya, yang tadi mengarah ke kota, untuk keluar lagi dari jangkauan panah. Tapi terjadi sesuatu yang sangat tidak diinginkan.

Saat melakukan putar balik tajam itu, sebuah panah menancap di perut Feizal. Segera saja Daisy mengambil alih kendali kudanya, lalu melaju keluar dari daerah jangkauan panah. Setelah tiba di luar jangkauan panah, Daisy segera membaringkan Feizal di rumput. Aisha langsung mendekatinya dan menangis. Perut Feizal mengeluarkan darah yang sangat banyak.

“Bisakah disembuhkan?” tanya Marino.

“Sulit. Ini adalah panah racun, tapi akan kuusahakan,” kata seorang prajurit.

Sementara sang prajurit mencoba mengutak-utik luka Feizal dan panahnya, Aisha terus menangis sambil mencium pipi suaminya itu.

Feizal membelai wajah Aisha dan berkata, “Sampaikan salamku pada Bismah… katakan bahwa aku sudah berjuang…. Maaf…aku belum bisa memberikan adik untuknya…selama ini…padahal…carilah orang yang lebih baik dariku…lalu berilah adik untuk Bismah…tolonglah…,” lalu Feizal tersedak.

“Tidak…kau katakan sendiri padanya! Dan…Bismah akan punya adik…dia sudah ada di sini…,” Aisha memegang perutnya sendiri. “Belum kelihatan…tapi dia akan punya adik,” kata Aisha, setetes air mata bergulir di pipinya.

Feizal membelai perut Aisha. “Betulkah? Akhirnya… Ceritakan kisahku padanya…katakan aku mencintainya, meski aku tidak akan bisa menunjukkannya….”

“Tidaaaaak! Kau akan mengatakannya sendiri! Kau akan menggendongnya…!” jerit Aisha, di saat yang bersamaan, sang prajurit yang berusaha menyembuhkan Feizal, menggeleng. Pandangan mata Feizal meredup.

“Aisha? Aku punya dua permintaan terakhir. Pertama, aku sudah bilang, ceritakan kisahku pada anakku, baik Bismah, maupun yang masih dalam kandunganmu. Kedua, aku ingin menciummu untuk terakhir kalinya…,” Aisha tidak protes lagi, mereka berciuman. Begitu Aisha melepaskannya, tubuh Feizal sudah tidak bernyawa lagi.

“Maaf… itu salahku. Andai saja…,” sesal Daisy, tapi Aisha memotongnya.

“Tidak. Kau memang tidak lihat isyaratnya. Kalau ada yang salah Devilmare. Aku bersumpah akan menghabisi mereka!” geram Aisha dan menatap tajam ke arah kota.

“Maaf, aku bukannya mau membuatmu tersinggung…tapi kau tidak akan ikut perang ini lagi. Sampai kandunganmu sudah lahir. Dengan ikut dari awal sudah bahaya. Mengapa kau ikut misi ini padahal kau sedang hamil?” tanya Marino. Aisha langsung menunduk.

“Feizal… Aku ingin berperang bersamanya….dan aku baru menyadari kehamilanku saat di hutan…kumohon… izinkan aku membalaskan dendamku!” pinta Aisha, tapi Marino tetap menggeleng.

“Aku tidak mau meresikokan dirimu. Kau harus menceritakan kisah Feizal pada anakmu.”

“Tapi…” Aisha tidak bisa membalasnya. Daisy menepuk bahunya dengan perlahan. “Aku bersumpah akan membalaskannya untukmu. Salahku juga dia tewas. Ini…,” Daisy mengambil sebilah belati, lalu ia akan menusuk lengannya sendiri. Dia akan melakukan ‘Sumpah Darah’.

Sumpah Darah adalah sebuah sumpah yang dilakukan dengan cara sang penyumpah melukai dirinya sendiri. Setelah itu, ia akan merapalkan sebuah mantera. Jika mantera tersebut selesai dirapalkan, luka tersebut tidak akan hilang, tapi darahnya berhenti. Jika ia gagal melaksanakan sumpah itu dengan tangannya sendiri, darah akan mengalir lagi. Tapi tidak cuma dari luka itu, melainkan dari seluruh tubuhnya, lalu ia akan mati. Jika ia berhasil, luka itu akan hilang. Dalam melaksanakannya, kadang-kadang ada yang akan mendapat kekuatan ajaib untuk mendukung sumpahnya, tapi ini sangat jarang terjadi.

Sedetik sebelum Daisy sempat menusukkan belati itu ke lengannya, Aisha menggenggam mata belati itu, dan tangannya berdarah. “Aku bersumpah akan memotong kepala pemanah yang membunuh suamiku itu. Hidup atau mati,” kata Aisha. Lalu merapalkan sebuah mantera yang panjang, tapi tidak terlalu sulit. Seketika darahnya langsung hilang, tapi meninggalkan sebuah bekas sayatan pada telapak tangannya. Setetes air mata bergulir lagi dari matanya.

Aldyan, dari fraksi militer Apocalypse, merangkulnya, dan membelai kepalanya. “Kita memang akan sangat kehilangan dia, akan tetapi perang akan terus berlanjut,” katanya.

“Sekarang…bagaimana caranya kita masuk ke kota itu dan melewati hujan panah?” tanya Marino pada seluruh komandan pasukan. Saat itu ada seseorang yang menarik-narik lengan Marino. Ternyata Yogin. Marino paham.

“Kita akan membuat benteng magic. Pasukan magic akan baris menyebar di sela-sela kita, lalu akan memberikan perlindungan untuk kita. Harus cepat. Begitu mendekat, mereka akan menghujani tembok dengan magic, lalu penghancur gerbang beraksi. Mengerti? Ayo laksanakan. Buat formasi rapat dan persiapkan perisai kalian untuk jaga-jaga.”

Saat para pasukan langsung maju, semburan panah kembali menghujani mereka. Tapi kali ini mereka lebih siap. Susul menyusul, meluncur kilatan-kilatan magic yang melesat dan meledak menjadi perisai-perisai kecil, yang menghanguskan panah-panah yang mau lewat. Kecil, hanya bertahan beberapa detik, tapi sangat banyak.

Phaustine menembakkan sinar putih raksasa yang bentuknya mirip naga. Naga cahaya itu melayang mondar-mandir menghancurkan panah-panah yang disentuhnya. Yogin dan Eko membalas semburan panah itu dengan semburan kilatan. Karena pagar perlindungan magic, tidak satupun panah yang berhasil lolos.

Gerbang sudah dekat. Sesuai rencana, pasukan magic menghunjam tembok dengan magic-magic halilintar dasyat untuk melumpuhkan pemanah untuk sesaat, dan pasukan penghancur gerbang beraksi.

Kilatan-kilatan biru menghantam gerbang, lima detik kemudian, gerbang itu sudah roboh. Di balik gerbang itu, telah menanti ribuan prajurit Devilmare, yang langsung membanjir keluar. Jarak antara kedua kubu itu ada sekitar sepuluh meter.

“Formasi menyebar agresif!” teriak Marino yang juga memberi isyarat tangan. Sebelum musuh terlalu dekat, pasukan magic melakukan semburan magic dasyat, dan menghabisi musuh dalam jumlah yang sangat banyak sehingga kelihatannya perang ini akan seimbang.

Pertempuran dasyat terjadi. Memang jumlah mereka kini kurang lebih seimbang, tapi pasukan Devilmare terlihat jauh lebih kesulitan. Mengapa? Karena armor pasukan Devilmare tidak sekuat dan sebanyak pasukan asal Dark Land. Dari segi teknik Devilmare juga kalah.

Hingga sebelum fajar, semua masih bertarung dengan semangat. Tapi begitu matahari mulai terbit, pasukan Devilmare mundur. Komandannya meneriakkan panggilan untuk mundur, mereka pun lari ke luar gerbang yang lain. Marino berhasil menawan 15.000 lebih prajurit Devilmare.

Entah dari mana, tiba-tiba Aisha tahu siapa prajurit yang memanah suaminya. Prajurit itu termasuk yang ikut bergabung dengan Marino. Aisha menyambar pedang peninggalan suaminya dan langsung saja menebas putus kepala sang prajurit. Luka pada tangan Aisha langsung hilang.

Kemenangan demi kemenangan dicapai. Keempat pasukan akhirnya bertemu di jantung Gallowmere, Greliord, setelah lebih dua ratus hari bertemur sengit sejak setelah pertama Marino tiba di Gallowmere. Gallowmere telah berhasil direbut lagi. Rakyat melalui sejumlah tokoh meminta Phalus untuk memimpin lagi dan ia pun setuju. Pemerintahan Gallowmere dibentuk lagi. Kini kembali ke bentuk kerajaan. Tapi setelah Phalus selesai membangun kembali angkatan perangnya, dia tetap ikut menuntaskan misi The Chain. Pasukan yang tadinya ia pimpin sejumlah 12.000 orang. Tapi setelah ia menjadi raja Gallowmere, ia memiliki 137.500 prajurit. Dia mengikutkan 50.000 pasukannya untuk kembali bertempur dan ia sendiri ikut berperang.

Pasukan Marino kini sejumlah 449.000 personil. Pasukan ini bergerak ke Grandminister. Mereka bergabung dengan pasukan Darpy untuk melakukan penyusunan strategi. Jika ditotal, mereka semua memiliki 73 komandan pasukan yang masing-masingnya mewakili satu pasukan, dan mereka disebar di sepanjang wilayah perbatasan Grandminister dan negara-negara tetangganya yang masih dikuasai oleh Devilmare; Talmis dan El-Peso.

Tak lama setelah pasukan disebar sepanjang perbatasan, tersiar kabar bahwa Armis dan Talmis telah bisa membebaskan diri dari Devilmare. Langsung saja Marino memimpin 400.000 prajuritnya untuk menuju ke Armis dan Talmis.

Ternyata kemenangan kedua negara itu dipicu oleh amuk rakyat saat Stuart Aross dibunuh oleh Devilmare dalam sebuah perundingan tipuan. Segera saja Donald Aross memimpin sisa-sisa pasukan pemberontak beserta rakyat yang marah, kemudian menghabisi Devilmare di wilayah mereka. Tapi mereka tidak akan bisa bertahan jika Devilmare melakukan serangan balik dan mencoba merebut kembali. Maka dari itu, Donald Aross menyambut baik pasukan Marino.

Pasukan Marino bersama pasukan kerajaan Armis dan Talmis ditempatkan di perbatasan wilayah Armis dan Talmis dengan wilayah negara-negara sekitar, yaitu El-Peso dan Lovenia. Seperti biasa, Marino menyebar sepasukan mata-mata ke El-Peso dan Lovenia.

Sementara itu, akhirnya diadakan perundingan antara tokoh-tokoh Armis dan Talmis. Tadinya Marino diundang, tapi Marino tidak dapat hadir karena sakit, dan sebagai gantinya, Black dan Aisha yang hadir. Saat perundingan usai, diputuskan bahwa Armis dan Talmis akan digabung menjadi New Belsampos dan Donald Aross sebagai rajanya yang baru.

Dua minggu telah lewat, musim salju tiba, dan Marino telah sembuh dari sakitnya. Saat seperti itulah para mata-mata memberikan laporan. Mata-mata dari El-Peso membawa kabar baik, yaitu bahwa Darpy sudah menguasai hampir setengah wilayah El-Peso. Kalau mata-mata dari Lovenia membawa kabar yang mengerikan. Pasukan iblis.

Pasukan iblis yang akan dipimpin oleh Lethifold akan tiba empat hari lagi. Mereka akan menyerang lewat area pegunungan salju, yang merupakan perbatasan Armis-Lovenia. Menurut mata-mata, pasukan iblis tersebut kira-kira sebanyak 75.000 iblis. Ini jelas malapetaka. Mungkin butuh pasukan lima kali lipatnya untuk mengalahkannya, mengingat pasukan ini bukan pasukan iblis biasa, dan dipimpin oleh iblis yang sangat kuat. Marino belum lupa mimpi yang dialaminya bersama teman-temannya, yaitu Rafdarov V memanggil Lethifold dan pasukannya. Marino tahu bahwa Lethifold sendiri mungkin bisa mewakili seratus ribu iblis biasa.

Tadinya Aisha berpendapat bahwa bertahan di dalam kota lebih baik, tapi Daisy tidak setuju. Karena jika mereka sampai kalah, hancurlah New Belsampos. Jadi Daisy mengusulkan agar pasukan Marino juga pergi ke pegunungan salju dan menghadapi pasukan Lethifold di sana.

Menurut mata-mata, pasukan iblis akan melewati rute perdagangan untuk tiba di Belsampos, yaitu sebuah jalan terbuka yang sangat sangat luas dan pegunungan tinggi di kiri dan kanannya. Menurut Phalus, area itu adalah area sempurna untuk bertempur dengan iblis. Pasukan magic akan disebar di pegunungan di kiri dan kanan area terbuka tersebut, dan dari situ, mereka bisa menghancurkan iblis dari jauh. Marino juga merencanakan sesuatu. Ia ingin menempatkan 50.000 prajurit di sisi kiri area terbuka (pasukan A), dan 50.000 lagi di sisi kanan (pasukan B), dan 50.000 akan berhadapan face to face dengan para iblis dengan formasi bertahan (pasukan C)

Bila pasukan iblis tiba, pasukan magic akan menghujani dengan magic, lalu begitu sudah dekat dengan pasukan C, maka pasukan A dan B akan menggempur dari kedua sisi. Mendengar strategi ini, semuanya sepakat, dan mereka akan berangkat sekarang.

Pasukan magic di bawah pimpinan Yogin dan Phaustine telah mengambil posisi di puncak-puncak pegunungan. Pasukan A dan B juga telah bersiap di kedua sisi area terbuka. Area terbuka yang dimaksud memang sangat luas dan dilapisi hamparan salju. Yang paling tegang adalah pasukan C. Marino dan Daisy ikut di pasukan ini. Adin bertanggung jawab atas pasukan A dan Cremplin di pasukan B.

Agak lebih cepat dari yang di duga. Saat pagi terakhir sebelum perkiraan serangan iblis, ternyata ada isyarat dari pasukan magic bahwa para iblis telah tiba. Dari kejauhan, memang tampak seperti ada sekawanan besar semut hitam, yang merupakan pasukan iblis. Mereka memang luar biasa banyak. Tampak bahwa pasukan iblis sedang bergerak di bawah bombardir pasukan magic. Sambaran-sambaran kilat dari puncak-puncak gunung tinggi menyambar-nyambar ke bawah menimbulkan ledakan-ledakan dasyat. Amber juga terbang mondar-mandir dan menyemburkan hujan api dasyat.

Kelihatannya memang mereka berkurang, tapi sangat sedikit. Pasukan iblis yang ini sangat tangguh. Marino menjadi semakin tegang. Menghadapi bombardir magic saja mereka hanya sedikit bergeming saja. Apalagi menghadapi pasukan manusia yang cuma dua kali lipat mereka? Mereka semakin dekat dan jika sampai mereka tiba, Marino dan pasukannya akan dibantai. Untuk menghabisi seekor iblis biasa saja, butuh sekitar lima prajurit. Dan kalau dihitung dari jumlah sekarang, tiap iblis akan dihadapi oleh hanya dua atau tiga orang saja. Apalagi kini iblis yang mereka hadapi adalah pasukan Lethifold, yang Marino tahu lebih kuat.

Tiba-tiba seekor naga raksasa lewat. Naga itu masih awet di ingatan Marino. Naga itulah yang dulu menghancurkan Gallowmere. Tapi naga itu bukan mau menghancurkan Marino lagi, tapi membantunya. Naga itu melintas sekali di atas pasukan iblis dan menjatuhkan sederet bola api raksasa dasyat, yang kemudian menimbulkan ledakan-ledakan dasyat. Pasukan iblis jauh berkurang sekarang. Serangan naga itu mungkin telah menghabisi beberapa ribu ekor, dan naga tersebut berbalik dan menjatuhkan sederet bola api lagi.

Kini pasukan iblis itu sudah terlalu dekat, dan si naga tahu itu maka ia tidak menyerang lagi, melainkan mendarat di belakang pasukan iblis untuk membakar dua atau tiga iblis sekaligus. Langsung saja pasukan A dan B menyerbu. Pasukan C juga melaju kencang dan membabat tiap iblis yang ditemui. Bantuan lain datang. Seberkas cahaya ungu terang berbentuk elang melesat dari arah pegunungan. Marino sadar bahwa itu adalah hasil sihir Phaustine.

Elang cahaya itu melesat cepat, dan terbang menembus ilis-iblis dengan amat gesit. Tiap menembus iblis, iblis itu terbelah dua. Tapi lama kelamaan elang itu meredup dan akhirnya hilang. Amber juga terbang zig-zag di area pertempuran dan membakar iblis satu persatu dalam waktu yang relatif singkat.

Akhirnya Marino melihatnya. Lethifold sedang dikerumuni oleh delapan atau sembilan prajurit. Setelah menjatuhkan seekor iblis dengan ratusan luka, Marino melesat menuju Lethifold. Di sekelilingnya banyak mayat prajurit. Bahkan, saat Marino mendekat, lima dari delapan prajurit yang mengepungnya hancur kena cakar raksasanya. Marino kini bersama tiga prajurit lainnya berusaha menghadapinya.

Marino melompat tinggi dan melakukan jurus salto yang pernah ia pakai dulu, tapi Lethifold berhasil menangkisnya. Di tengah udara begitu, Lethifold menghantamkan cakarnya yang amat berbahaya, lurus ke arah Marino. Karena tidak bisa berkelit di tengah udara, Marino menangkisnya. Akibatnya ia terlempar sekitar lima meter ke belakang.

Segera saja ia bangun kembali dan menyerang Lethifold lagi. Dengan adanya Marino, Lethifold cukup kerepotan. Ia harus menangkis serangan-serangan Marino yang sangat lincah dan itu sangat merepotkan jika ditambah dengan tiga prajurit lain. “Lethifold! Kau tidak akan bertahan jika memaksa melawanku!” teriak Marino setelah berhasil menyayat sedikit tubuh Lethifold.

“Kaulah yang akan mati! Yang Mulia Lucifer telah memberikan banyak ilmunya padaku, dan kau tidak akan bisa menandingi itu,” balas Lethifold dengan suara serak dan amat berat. Pertarungan dilanjutkan lagi dengan amat dasyat.

Tiba-tiba Lethifold mengerang. Tubuhnya terhuyung, dan menunjukkan punggungnya. Ada sebuah luka besar yang menganga di sana. “Dasar iblis kelas tengik!” ternyata Adin baru saja bergabung dalam pertempuran ini.

“Aku ini adalah seorang jendral pasukan khusus Lucifer! Aku tidak akan kalah hanya oleh luka macam begini saja!” teriak Lethifold dengan sebuah erangan yang mengerikan, lalu menerjang ke arah Adin, yang menangkis serangan cakar Lethifold itu dengan kapaknya yang besar.

“Kau itu cuma pelayan! Dan kau berani mengaku sebagai jendral Lucifer?” tanya Marino. “Aku adalah salah satu panglimanya!” bantah Lethifold.

“Kau pelayan. Aku mendengar itu setelah kau dipanggil oleh Rafdarov,” kata Adin sambil menyengir dan menatap tajam.

“Bohong! Lucifer bilang sendiri bahwa aku adalah seorang jendral! Dan waktu aku dipanggil untuk membantu Rafdarov, Lucifer tidak bilang apa-apa padanya!” geram Lethifold.

“Kami tidak bohong. Lucifer mengatakan ‘Inilah Lethifold, dia adalah pelayanku. Yang paling lemah, sebetulnya, tapi dia sepuluh kali lebih kuat dari pasukanku yang biasa’. Dia bilang begitu. Apakah kau terlalu tolol untuk mendengar bahasa seperti itu?” tanya Marino.

“Aku tidak bisa mendengar bahasa raja iblis jika aku sudah turun ke bumi. Tapi aku tahu kalian cuma mempermainkanku!” kemudian Lethifold menyerang salah satu prajurit yang mengepungnya, namun prajurit itu berhasil menghindar.

“Terserah kau saja. Kau memang terlalu bodoh untuk menerima kenyataan,” celetuk Marino, lalu ia berhasil melukai lengan Lethifold.

“Akan kubuktikan,” kata Lethifold, lalu matanya bersinar biru.

Tiba-tiba Marino tidak bisa berpikir. Ia lupa ia siapa, di mana, dan sedang apa. Yang ia rasakan cuma satu. Hampa. Ia bingung. Tidak tahu membingungkan apa, dan tidak tahu harus apa. Ia dalam keadaan begitu selama sekitar sepuluh detik, lalu akhirnya tersadar lagi.

“Kau tidak bohong. Aku dikhianati! Kau, hancurkan aku! Sekarang!” Tanpa perlu disuruh dua kali, Marino, Adin, dan ketiga prajurit lainnya menerjang Lethifold dan menyerangnya secara bersamaan. Begitu tubuh Lethifold jatuh ke tanah dalam keadaan hancur tersayat-sayat, tubuh itu menyala, dan meledak. Seketika itu, Marino memperhatikan sekitar. Ia menyadari sebuah perubahan. Semua pasukan iblis melambat.

Setelah gerakan mereka melambat, pasukan iblis dengan mudah dibantai habis. Habis tidak bersisa. Marino menang, tapi kerugiannya cukup banyak. Pihaknya kehilangan 55000 prajurit setia. Marino berusaha mencari tahu siapa yang telah memanggil naga raksasa itu, namun tidak berhasil menemukannya.

Pasukan telah memulai perjalanan pulang. Meski para pasukan sudah memulai perjalanan menuju pulang, tapi Marino dan Daisy tinggal di belakang, memastikan tidak ada jenasah pasukan Marino yang tertinggal. Saat itu, sesuatu membuat Marino ingin memandang ke arah di mana pasukan iblis tadi datang. Ternyata….

Puluhan ribu prajurit kavileri tak dikenal sedang menderu ke arahnya. Masih sekitar ratusan meter, hanya tampak samar dari kejauhan. Pasukan Marino segera mendekat kembali dan siap tempur, membuat formasi pagar tombak bertahan. Tapi Marino melihat sesuatu yang membuatnya tahu bahwa ia pasti akan mati. Kuda musuh yang paling depan ditunggangi oleh Rafdarov yang telah menghunus pedang raksasanya.

Aku pasti mati, pikir Marino. Tapi ia tidak ingin mati melarikan diri. Ia bersiap untuk bertarung. Ia mengangkat senjata kembarnya, serta menatap tajam ke arah Rafdarov.

Akhirnya bantuan datang lagi. Langit menjadi gelap, sesuatu yang kelihatan seperti kubah cahaya raksasa muncul dan mengurung Rafdarov V dan sebagian pasukannya. Tiba-tiba kubah itu menghilang beserta isinya. Sebuah raungan yang tidak asing bagi Marino menggema di udara. Raungan Lethifold.

“Hanya ini yang bisa aku lakukan. Mereka akan muncul lagi di sini dalam waktu 666 hari lagi. Selamat tinggal, dan semoga kau berhasil membantai Lucifer,” begitu suara itu berhenti, langit cerah lagi. Seketika itu, pasukan Marino menyerbu lurus ke arah pasukan Devilmare yang panik karena rajanya hilang. Tanpa ampun, hampir semua prajurit Devilmare dibantai, dan sisanya ditawan. Tidak sampai dua ratus prajurit dari pihak Marino yang tewas.

Ramalan telah terpenuhi. Marino adalah yang memberikan debu Crin ke jenasah Gabriela. Ia baru saja nyaris mati, namun ditolong oleh musuhnya sendiri. Lethifold.

Tapi, lupakan saja ramalan tersebut. Ramalan itu tidak penting sama sekali. Ada ramalan yang jauh lebih penting lagi. Ramalan itu terkandung dalam Sumpah Abadi Rido Matius.

“………masa lalu, masa kini, dan masa depan………”

“…………bersama…………..”

[End of Chapter XV]

[Coming up next, Chapter XVI: Fall of Devilmare]

Legend of Legends: Chapter XIV – Road to Victory

After quite a hiatus, here comes Chapter 14: The Road to Victory!

 

Enjoooy (^_^)

 

————————————————————————————————————–

CHAPTER 14

ROAD TO VICTORY

 

Marino memandang jauh ke depan dari geladak kapal. Dia tahu bahwa sebuah perang besar menantinya di sana. Tapi tiba-tiba sebuah keraguan muncul di benaknya. Apakah dia akan memenangkan perang ini? Ya. Sebelumnya dia selalu bisa membantai pasukan Devilmare manapun. Tapi bagaimana kalau dia nanti berhadapan dengan Rafdarov V langsung? Pedangnya saja, tanpa ‘kekuatan tambahan’ saja bisa menebas dalam radius sepuluh meter.

Serangan jarak jauh. Itu dia. Paling tidak harus ada hujan panah atau magic untuk melawan Rafdarov V langsung. Dan kenapa baru terpikir untuk membawa Ariel Cannon? Itu pasti bisa menghabisi Rafdarov V dalam sekejap. Tapi bukankah itu akan berat sekali?

Setelah menguasai Xenfod, dia akan menguasai Gallowmere. Setelah itu, dia akan bertemu dan bergabung dengan pasukan pengalih perhatian yang menguasai Grandminister, jika berhasil. Kalau tidak?

Di tengah hujan pikiran seperti itu, Marino merasa ada sebuah tangan di bahunya. Ternyata Jasmine. “Kau jangan terlalu banyak berpikir. Kau akan tua sebelum tiba di sana nanti. Makan siang akan dibagikan segera. Kau harus makan dulu,” katanya, Marino menurut saja.

Kotak-kotak kertas berisi makanan dibagikan pada semuanya. Makanan tersebut berupa potongan-potongan ikan panggang dimasak dengan saus putih yang sangat lezat. “Apa ini yang dinamakan ransum prajurit?” tanya Daisy.

“Memang kenapa?” seorang prajurit melirik padanya.

“Terlalu enak.”

Hari-hari di kapal berlalu biasa tanpa gangguan, bahkan cenderung membosankan. Aktivitas kapal berlangsung biasa saja dan gangguan baru muncul pada malam hari kedua belas. Kali ini ada sebuah konvoi besar kapal tempur Devilmare.

Sebetulnya masih amat jauh, tapi kapal-kapal perang Fraternite telah bisa melihatnya. Marino saja baru tahu saat ada seekor Haraak -capung raksasa- yang datang mengantarkan surat. Dalam surat itu, dikatakan oleh komandan konvoi kapal perang bahwa kapal-kapal tempur Fraternite telah kalah jumlah, namun ini dapat dengan mudah diantisipasi. Marino paham kenapa. Kapal perang Fraternite berada jauh di luar jangkauan tembak kapal Devilmare yang hanya dilengkapi oleh panah, ketapel raksasa, dan magic tingkat menengah itu.

Sebaliknya, kapal-kapal Fraternite dilengkapi oleh meriam-meriam Ariel yang amat dasyat, dan memiliki jarak tembak yang amat jauh.

Dalam waktu singkat, malam yang hening sunyi kini dipenuhi oleh raungan Ariel Cannon yang menggempur kapal-kapal Devilmare. Eko, Daisy, dan Yogin berebut untuk naik ke tiang kapal. Akhirnya ketiganya bisa naik, tapi Eko harus mengendong keduanya sekaligus.

Kata mereka, dari tiang itu tampak kapal-kapal Devilmare yang dihujani oleh tembakan dari Ariel Cannon. Tiap menit ada saja kapal Devilmare yang tenggelam, tapi ada kejutan.

Saat kapal perang Devilmare tinggal sembilan, dari salah satunya memancar sinar putih yang menyilaukan ke salah satu kapal Fraternite. Kapal Fraternite yang dikenai oleh sinar itu terbakar. Sinar tersebut pindah dan membakar empat kapal perang lainnya sekaligus. Segara saja kapal pembuat masalah itu dihancurkan. Kapal-kapal Fraternite yang terbakar itu segera mundur dan melakukan perbaikan. Sisanya, yang masih ada sekitar dua puluh delapan segera membantai sisa armada laut Devilmare.

“Apa itu barusan?” tanya Pandecca.

“Itu senjata baru Devilmare, pasti. Aku tidak pernah tahu kalau mereka punya senjata macam begitu,” kata Adin. “Sebaiknya pasukan konvoi kita bersiaga sajalah.”

Keesokan harinya, mereka melewati area di mana banyak pulau-pulau kecilnya. Karena itu, mereka berusaha menghindarinya. Mereka bertemu patroli Devilmare dan bisa mengatasinya dengan mudah, tapi mereka harus berhati-hati. Jika ada kapal patroli yang kena masalah, konvoi besar kapal tempur akan menyusulnya.

Sebuah surat dari kapten kapal perang Fraternite tiba lagi. Isi surat itu adalah bahwa mereka telah bisa mengenali kapal Devilmare mana yang bisa menembakkan sinar penghancur dan mana yang tidak. Mereka bisa membedakannya karena kapal sinar penghancur itu lebih besar dan layarnya jauh lebih banyak. Pasti itu kapal induk. Ini ditujukan agar kapal tersebut bisa dihancurkan lebih dulu sebelum membuat masalah.

Benar saja. Dari jauh tampak konvoi kapal perang Devilmare. Sementara Daisy dan Yogin sedang ribut menentukan siapa yang boleh naik ke tiang, Marino naik duluan. Dari atas, Marino melihat bahwa ada sekitar lima belas kapal tempur Devilmare, dan berdasarkan ciri yang diberikan oleh kapten kapal Fraternite, ada empat kapal yang bisa menembakkan sinar penghancur. Dua sudah ditenggelamkan oleh kedasyatan Ariel Cannon. Kedua kapal sisanya berusaha menembakkan sinar putih seperti semalam, tapi meleset dan malah mengenai air di sebelah salah satu kapal perang Fraternite. Sinar itu menembus ke dalam air begitu saja. Segera saja mereka dapat dibantai.

Dua bulan berlalu dengan pertempuran-pertempuran kecil melawan dua patroli Devilmare dan tiga armada laut, tapi semua dapat diatasi. Sayangnya, delapan kapal perang Fraternite berhasil ditenggelamkan oleh musuh, dan untungnya semua awaknya selamat dengan naik ke kapal tempur di sebelahnya.

Menurut perkiraan, mereka akan tiba di tujuan sekitar nanti malam. Karena itu, Marino memerintahkan agar semuanya bersiaga.

Detik-detik berlalu dengan menegangkan selama hari terus berubah. Matahari terus bergerak ke atas. Setelah tiba di atas, matahari kini mulai turun.

Petang, daratan sudah nampak, dan semuanya bersorak.

“Lebih cepat dari perkiraan. Kita harus siap di bawah,” kata Marino memberitahukan ini ke seorang awak kapal. Awak kapal tersebut mengambil sebuah suitan, lalu meniupnya dengan berbagai variasi ketinggian nada. Tak lama, kapal-kapal lain juga meniupkan suitan-suitan yang sama. “Sinyal untuk siap mendarat, ya?” tanya Marino, dan sang awak mengiyakan.

Daratan kian dekat, Marino berada di geladak bawah, di depan pintu. Di sebelahnya telah bersiap keempat sahabatnya, yaitu Daisy, Adin, Eko, dan Daffy. Di belakang mereka telah bersiap ksatria yang lain dan di belakangnya lagi telah berjejalan ratusan prajurit ganas siap tempur.

Bunyi ledakan memenuhi udara dan itu menandakan sedang dilakukannya bombardir untuk membersihkan area pendaratan. Pasti di sana telah ada banyak musuh. Terdengar suara seorang awak kapal dengan pengeras suara sihir.

“Perhatian! Perhatian! Kapal akan menabrak pantai sekitar lima menit lagi. Harap bersiap untuk guncangan. Begitu kapal menabrak pantai, pintu depan akan terbuka. Terima kasih.”

Marino tahu bahwa kapal-kapal transport yang membutuhkan sekoci, pasti kini telah meluncurkan sekoci-sekocinya.

Detik-detik berlalu dengan sangat menegangkan. Akhirnya terdengar juga suara kapal mendarat di pantai dengan mulus dan tabrakan yang dikatakan kelihatannya tidak separah itu, tapi guncangannya lumayan. Pintu langsung terbuka, dan Marino menghambur keluar, diikuti oleh yang lainnya. Di luar, Marino melihat juga kapal-kapal lainnya sedang menerjunkan pasukan sementara sekoci-sekoci yang jumlahnya ratusan sedang merapat.

Seluruh pasukan telah tiba dan pantai telah bersih dari musuh. Marino mengirimkan beberapa regu untuk membuat pertahanan sekaligus pengintaian. Beberapa orang ditugaskan untuk menyambut kapal-kapal logistik berisi makanan dan kuda. Setelah itu tiba juga, pasukan yang merupakan kavileri sekarang menaiki kuda. Tak lama kemudian tiba pula serombongan hewan ganas dari sebuah kapal yang terakhir. Ini jelas ulah Adin, tapi akan sangat membantu.

“Kota tujuan ada di depan kita! Bergerak dengan formasi menyebar, dan perlahan! Siaga terhadap hujan panah!” teriak Marino kepada para komandan. “Adin, Daffy! Pasukan kalian lewat jalan utama, dan sisanya kepung kota dari hutan! Jalan!”

Marino, Daisy, dan Eko ikut di pasukan Daffy dan Adin, tapi terdengar protes dari Feizal. “Paduka! Jangan ikut pasukan itu! Bahaya,” tapi Marino tidak memerdulikannya. Aisha dan Feizal yang tadinya mau bergabung ke pasukan yang mengepung lewat hutan kini malah ikut di pasukan Daffy.

Perjalanan berlangsung cukup lama. Hingga larut malam barulah kota tersebut tampak. Entah mengapa, kota tersebut dikelilingi pagar tembok yang tinggi. Mungkin ada sekitar lima meter.

“Siaga penuh! Semuanya!” perintah Marino yang mulai khawatir. Mengapa? Karena baru saja dilakukan bombardir ke wilayah pantai, tapi tidak ada reaksi sama sekali dari kota. Seharusnya minimal mereka memberikan bantuan ke pantai.

Akhirnya Marino tahu juga kenapa. Begitu Marino tiba di depan gerbang besar belakang kota itu, gerbang itu langsung dibuka. Ternyata pasukan yang tadi ditugaskan untuk mengepung lewat hutan telah tiba lebih dulu. Mereka telah, tanpa perlawanan, menguasai kota.

Bahkan mereka juga telah menguasai sebuah kota yang letaknya tidak jauh dari situ, kondisinya sama seperti kota ini, yaitu dikelilingi hutan belantara dan tembok besar dan akan difungsikan untuk menampung tentara. Begitu Marino memasuki kota, penduduk menyambut dengan sorakan. Di hadapan Marino, banyak sekali pemuda yang berbaris. “Mereka sedang apa?” tanya Marino pada Jasmine.

“Mereka yang sukarela untuk bergabung dengan kita. Sepuluh menit yang lalu ada lima ratus. Dan kau lihat? Mereka masih bertambah,” kata Jasmine, menunjuk gerombolan pemuda yang datang dari rumah-rumah dari segala penjuru.

“Tak kusangka kota yang disebut ‘besar’ ini ternyata memang ‘besar’ begini. Berapa populasinya?” tanya Marino.

“Kota ini, populasinya 30.000 orang, dan 8000 dari jumlah itu adalah pria dewasa yang belum manula. Lima ratus pria bergabung dengan kita. Tadinya kota ini berisi jauh lebih banyak, ada 400.000 orang, tapi habis dibantai, dan banyak yang lari. Menurut kabar, yang lari ini membentuk pasukan kecil untuk memberontak. Kota sebelah berisi cuma tujuh ribu orang dan seribu pria dewasa. Makanya kami tidak merekrut,” lapor seorang tentara.

“Besar juga,” gumam Marino, “aku tidak menyangka ada kota sepadat ini, yang letaknya dikelilingi hutan seperti ini. Ini pasti ulah pembangunan yang tidak merata. Payah, tapi tidak apa-apa. Pasukan! Cari tempat tinggal di mana tidak merepotkan. Maksimal dua prajurit tempati satu rumah. Sisanya buat tenda. Jasmine, pasukanmu akan mengamankan keliling kota ini untuk mengantisipasi bala bantuan. Adin, kau minta juga pasukan hewan milikmu itu agar menjaga wilayah ini,” perintah Marino.

Tenda-tenda telah didirikan dan penduduk dengan sukarela mengantarkan makanan pada para prajurit. Sebetulnya tidak cukup, tapi logistik yang dibawa oleh kapal-kapal logistik tadi sangat membantu, dan akan datang lagi pada gelombang kedua. Tapi Marino tidak mengkhawatirkan itu terlalu banyak, tapi ia lebih mengkhawatirkan tempat. Kota ini mulai sangat penuh dengan prajurit dan sebentar lagi akan ada 100.000 orang lagi tiba di sini.

Untuk mendiskusikan masalah itu, Marino langsung bertemu dengan walikota. Meski sudah tengah malam lewat, tapi mereka tidak perduli.

Akhirnya Marino tahu bahwa ada beberapa kota lagi yang dekat dengan kota yang kini mereka tempati. Bahkan, ibukota Xenfod, yaitu Vatabia, letaknya cuma sekitar tiga belas kilometer dari situ. Kota yang amat besar tersebut memiliki kini populasinya sekitar 800.000. Sebelum Devilmare datang dan melakukan pembantaian, kota tersebut sangat padat dan memiliki populasi hingga empat juta jiwa. Menurut walikota, Vatabia itu tidak dijaga ketat. Sudah dua bulan berlalu sejak Rafdarov V meninggalkan Xenfod yang hanya menyisakan sedikit sekali pasukan karena menurutnya Xenfod itu tidak penting.

Kalau soal pembantaian, Xenfod sudah kehilangan berjuta-juta penduduk akibat ulah Rafdarov V. Karena itu Marino yakin ada banyak sekali orang yang akan mau bergabung dengannya, tapi harus bijak karena harus ada yang tetap di sana untuk bekerja dan mempertahankan daerah.

Untuk menguasai kota-kota tetangga, Marino memilih untuk merencanakannya besok. Dia butuh istirahat. Di dalam tendanya, Marino malah tidak bisa tidur. Dia memandang berkeliling dan tiga sahabatnya sudah tidur. Hanya Daisy yang belum, tapi dia tidak ada di situ. Memang Marino sengaja membuat tenda yang agak besar agar cukup untuk mereka berlima.

Di tengah gelapnya malam, Marino berjalan-jalan. Hanya beberapa prajurit saja yang masih bangun, walau Marino tahu bahwa Jasmine dan pasukannya sedang tidak tidur di luar sana. Seorang penduduk menghampirinya. “Anda tidak bisa tidur? Cobalah berjalan-jalan di tepi kota sebelah utara. Pemandangannya sangat indah.”

Marino mengikuti rekomendasi tersebut, dan selagi berjalan bertemu dengan Daisy yang ternyata mengikutinya. Mereka mengobrol sebentar, tetapi tiba-tiba menjadi senyap saat mulai menyinggung pernikahan Meissa Apilla.

Setelah beberapa saat terdiam, Daisy akhirnya tidak tahan juga dengan suasana yang ‘terlalu sepi’ seperti itu. Dia mendekati Marino. “Marino…” dan ia memeluknya. Marino membelai kepalanya.

“Tahukah kau mengapa aku belum mau menerima lamaranmu?” tanya Daisy. “Rasanya aku tahu. Kalau menurutku, kau takut punya anak di saat kita harus berjuang, karena itu akan menghambat,” dan Daisy tersenyum.

“Kau tepat. Kita memang cocok. Sebetulnya aku sudah ingin sekali menikah denganmu.”

Paginya, Marino dan Daisy buru-buru kembali ke tenda, dan menemukan bahwa Adin, Eko, dan Daffy sudah tidak ada. Mereka pergi ke kantor walikota, dan bertemu dengan para komandan.

“Dari mana saja? Kami mencari-carimu, Marino. Dasar panglima tidak bertanggung jawab,” gurau Jasmine.

“Melihat keadaan kota. Jadi begini. Pasukan Jasmine menemukan ada pasukan yang datang, tapi semuanya mengangkat tangan, sehingga dia tidak menyerang mereka. Ternyata mereka adalah pasukan pemberontak yang ingin bergabung. Ini komandannya,” kata Adin, menunjuk seorang pria brewokan yang kelihatan sangat tidak terawat.

“Selama perang, kami sudah kehilangan 6000 orang, dan tinggal 2000 saja. Kami bodoh. Kami kira pasukan Devilmare akan tinggal sedikit. Info yang kami dapat, adalah bahwa untuk seluruh Xenfod yang luas ini, mereka cuma menyisakan dua juta prajurit saja, dan tersebar.”

“Ternyata, tersebarnya sangat tidak rata. Ada yang dijaga amat ketat, dan ada yang dijaga sangat longgar. Karena salah info mengenai itu, kami malah menyerang kota yang dijaga oleh 15000 pasukan Devilmare. Kami habis dibantai. Maka dari itu, kami cuma segini, dan untungnya kalian datang. Kami ingin bergabung dengan kalian,” katanya.

“Bagaimana dengan kota-kota yang dekat dengan sini? Menurut Walikota, kota-kota tersebut tidak dijaga ketat?” tanya Marino.

“Memang. Bahkan Vatabia tidak dijaga ketat. Tapi kami trauma dengan pembantaian 6000 orang pasukan kami, jadi kami hindari saja kota-kota itu. Kami angkat tangan begitu mendekati kota ini. Kami tahu bahwa kota ini telah kalian kuasai dari seorang informan, dan kami yakin bahwa ada pasukan kalian yang menjaga di luar kota, makanya kami siap-siap saja angkat tangan agar tidak kalian serang.”

“Nah, kalau begitu, kita rencanakan untuk merebut kota-kota sekitar. Tepatnya ada berapa kota yang terdekat, dan apa saja?” tanya Marino pada Walikota.

“Ada empat kota. Lima kalau dihitung dengan Vatabia. Empat kota itu berada dalam satu garis lurus, kira-kira, jika kita menghadap tenggara. Dari yang paling kiri, ada Dambung, Gobor, Kebasi, dan Rubasaya. Vatabia terletak empat kilometer dari Kebasi.”

“Baiklah. Kalau menurutku, cukup satu pasukan ke tiap kota. Langsung kubagi saja. Adin, kau kuasai Dambung, Cremplin ke Gobor, Phalus ke Kebasi, dan Pandecca ke kota yang satu lagi. Jasmine, pasukanmu harus memberikan support gerilya. Ini akan langsung kita lakukan nanti siang. Sisanya, istirahat di sini. Aku sendiri akan ikut pasukan Phalus. Rapat bubar.”

“Daisy, apakah kau mau ikut?” tanya Marino. “Ya. Aku ikut denganmu. Ke Kebasi, bukan?” Daisy sedang mengasah tombaknya. Marino sendiri melirik senjatanya yang berkilauan emas. Pasukan Phalus telah siap, dan demikian pula dengan pasukan lainnya. Marino melakukan briefing dengan Phalus, Cremplin, Adin, dan Pandecca. “Ingat. Begitu kalian berhasil masuk, segera umumkan siapa kalian, dan buka perekrutan. Setelah selesai pendaftaran, lapor padaku. Aku akan berada di Kebasi,” mereka mengangguk paham.

Ketika Marino naik ke atas kudanya, Daisy memanggilnya. “Aku tidak dapat kuda. Bolehkah aku naik kudamu?”

Marino membantunya naik. Akhirnya, Daisy-lah yang mengemudi, dan Marino memeluknya dari belakang.

“Awas, nanti kau kena senjataku.” kata Marino, karena salah pegang sedikit saja, senjata Marino yang ada ditangannya, yang memeluk pinggang Daisy, bisa melukainya.

“Aku percaya padamu,” kata Daisy dan Marino tersenyum.

Setelah setengah hari perjalanan, kota tersebut telah tampak. Tim pengintai memberikan laporan bahwa Devilmare telah melarikan diri dari kota, lalu Marino tanpa buang waktu lagi melesat ke sana dengan pasukannya di belakangnya. Di sana, penduduk telah menunggu dan menyambut dengan sejuta sorakan.

“Mereka lihat kalian datang, lalu kabur!” teriak seorang penduduk. “Kau umumkan,” kata Marino pada Phalus.

“Perhatian! Tolong semuanya tenang! Kami datang dari Dark Land untuk membebaskan Zenton dari Devilmare!” teriak Phalus, tapi terdengar gumaman ribut dari penduduk.

“Dia adalah Phalus Light, yang mantan pemimpin Gallowmere.” bisik seseorang. “Iya, memang mirip. Aku pernah lihat.” bisik yang lain. “Masa? Kau salah lihat. Jelas-jelas dia dari Dark Land.” protes yang lain. “Semuanya tenang!” teriak Phalus lebih keras. “Saya memang Phalus Light! Mantan pemimpin Gallowmere yang kalian ketahui!” dan rakyat bersorak seru.

“Kami butuh tempat untuk menampung tentara kami karena tentara kami sangat banyak!” para penduduk ribut menawarkan rumah mereka. “Tidak hanya itu. Kami menawarkan kerja sama. Kami membuka perekrutan untuk siapa saja yang ingin berperang bersama kami, dan menghabisi iblis Devilmare! Semuanya pindah ke sisi kiri saya. Bagi yang mau ikut berperang, pindah ke sisi kanan saya!” seru Phalus, dan sorakan bertambah ramai. Hampir semua penduduk pindah ke sisi kanan Phalus. “Saya membatasi dari usia lima belas hingga lima puluh! Yang usianya tidak termasuk, kembali ke sisi kiri Phalus! Jujur! Wanita juga tidak boleh ikut!” teriak Marino. Banyak orang yang pindah lagi ke sisi kiri Phalus. Kini, yang berdiri di sisi kanan, meski berkurang, tapi ada cukup banyak. Ada sekitar 6000 orang.

“Dari semuanya. Siapa yang sudah punya keahlian bela diri?” tanya Marino, semuanya mengangkat tangan.

“Seni bela diri adalah tradisi Xenfod selama berabad abad!” seru seseorang, semuanya bersorak riuh.

“Kenapa aku bisa lupa, ya?” pikir Marino.  “Baiklah, semuanya! Bagi kalian yang sudah memenuhi kualifikasi umur, daftarkan diri kalian padaku nanti sore!” seru Phalus.

Kota Kebasi lumayan besar, dan bisa menampung sekitar 200.000 orang walaupun penduduknya kini tinggal lima puluh ribuan. Saat pendaftaran usai pada keesokan siangnya, telah terdaftar sukarelawan yang tepatnya sejumlah 6770 orang. Lebih banyak dari yang diperkirakan. Sorenya, ada laporan dari kota-kota sekitar. Dari kota Dambung, berhasil merekrut 5030 orang. Rubasaya, 6200 orang, dan dari Gobor ada lima ribu orang sehingga total perekrutan dari perebutan empat kota ini ada 23.000 orang. Dengan demikian, berarti selama mereka telah tiba di Zenton, mereka telah berhasil merekrut 25.500 orang. Pasukan rekrutan baru itu dipecah dua, dan dipimpin oleh Eko dan Daisy. Daisy memimpin 12.000 orang, Eko memimpin sisanya.

Marino langsung merebut Vatabia dan mendapat perlawanan, yang sangat tidak berarti, dari pasukan Devilmare, dan berhasil merekrut banyak sekali orang di sana, yaitu sejumlah 40.000 orang penduduk, dan ada tambahan lagi dari pasukan negara Xenfod hingga jumlahnya secara total menjadi 55.000 personil.

Dengan kekuatan sebesar 180.500 orang, Marino akan menguasai seluruh Xenfod. Menurut perkiraannya, dia bisa menguasai Xenfod dalam waktu sebulan.

Begitu Marino selesai melakukan inspeksi kondisi dan jumlah pasukan, gelombang pasukan ke-dua tiba. Kini, Marino telah berada di Xenfod dengan kekuatan pasukan raksasa sebesar 280.500 personil. Seketika Marino langsung memberi perintah pada seseorang untuk membuat peta detail wilayah Xenfod, lengkap dengan kota-kotanya. Setelah itu, tiap komando pasukan diberi tanggung jawab untuk menguasai kota yang telah diperintahkan, dan memerintahkan diadakannya penyerangan akbar serentak.

Operasi ini memang berlangsung selama satu bulan penuh dan berjalan sangat mulus, mengingat di satu pihak ada Devilmare dengan pasukan yang sedikit, dan dihadapkan dengan Marino yang memiliki jumlah pasukan yang melimpah. Apalagi penduduk kota selalu memberikan dukungan. Dalam operasi ini, Marino dapat merekrut 350.000 prajurit yang berasal dari penduduk. Marino kehilangan pasukan juga, tapi tidak mengkhawatirkan sehingga jumlah bala tentaranya menjadi 575.000 orang.

Akhirnya seluruh Xenfod berhasil dikuasai oleh Marino dan bertemu kembali dengan pasukan Ratu Darpy yang menguasai Grandminister karena Xenfod dan Grandminister berbatasan.

Adapun mengenai kondisi Ratu Darpy, ia hampir menguasai Grandminister sepenuhnya. Belum semuanya, tapi sebuah pemerintahan independen Grandminister sudah dibentuk dan Republik Grandminister sudah berdiri lagi. Darpy juga kehilangan banyak sekali prajuritnya, tapi merekrut banyak pula, hingga berjumlah 650.000.

Ini pasti akan terjadi. Sekitar 150.000 orang prajurit mengundurkan diri dari komando Darpy untuk menjadi pasukan pemerintah Grandminister sehingga tinggal 400.000 personil. Karena mengetahui ini, Marino jadi tahu bahwa pasukannya akan berkurang kira-kira sejumlah itu.

Pemerintahan Xenfod dibangun lagi, dan Xalivander, seorang jendral, diangkat menjadi raja Xenfod yang baru. Saat itu, Marino menawarkan pada pasukan rekrutannya untuk pergi dan mengabdi di Xenfod. Akhirnya sekitar 120.000 prajurit mundur, sebagian pulang, dan sebagian mengabdi pada raja.

Awalnya Marino terkejut. Mengapa sedikit yang pulang untuk mengabdi pada negaranya? Ternyata karena kondisi negara. Jika mereka terus tinggal, mereka akan kelaparan. Toh jika mereka pergi, akan meringankan beban. Dengan demikian, maka Marino memiliki 260.000 personil prajurit asal Xenfod.

Dengan kekuatan 455.000 personil, Marino akan mencoba menguasai Gallowmere. Menurut beberapa informan, Gallowmere dijaga cukup ketat oleh Devilmare. Tadinya Ratu Darpy ingin ikut membantu menguasai Gallowmere, tapi dilarang oleh Marino. Mempertahankan Grandminister itu tidak mudah, meski pasukan dari pemerintah Grandminister ikut membantunya sekalipun. Apalagi Grandminister berbatasan dengan banyak negara jajahan Devilmare yang lain. Malahan Marino mengirimkan 55.000 prajurit tanpa komandan untuk membantu Darpy.

Sudah lebih dari sebulan mereka berada di Zenton dan belum mengalami pertempuran dasyat seperti yang dialami Ratu Darpy. Tapi kini Marino akan memasuki Gallowmere, di mana pertempuran besar yang dinanti-nanti akan dijumpai. Gallowmere. Tanah para ksatria.

 

 

[End of Chapter XIV]

[Coming up next, Chapter XV: Lethifold]

Legend of Legends: Chapter XIII – INVADE! ATTACK!

After a very long hiatus, here goes Chapter 13. Enjoooy!!!

^_^

————————————————————————————–

CHAPTER 13

INVADE! ATTACK!

                Mereka kini meninggalkan kuil itu dengan semangat baru. Apalagi Marino, Daffy, dan Adin. Adin sendiri agak heran, mengapa selama pengembaraannya di hutan ini dulu, dia tidak melihat ataupun mendengar mengenai kuil tersebut.

Beberapa lama mereka berjalan dan hanya menghadapi beberapa monster yang ringan saja. Misalnya lebah raksasa lagi atau kadang ada belalang raksasa. Apakah ini yang disebut oleh penduduk Dark Land ‘berbahaya’? Cuma begini saja. Tetapi ada yang mengganjal hatinya. Apakah ini sama seperti waktu dia pergi menyelamatkan Meissa? Sesuatu yang terlalu sepi memang amat mencurigakan. Mana gaaspirnnya?

Lalu mereka melihatnya. Seekor gaaspirn raksasa. Tapi ini lain. Rahangnya membuka lebar, tapi tubuhnya tersungkur ke tanah. Mahluk itu mati.

Tubuhnya penuh dengan luka-luka menganga, dan pada lehernya terdapat satu luka menganga yang luar biasa besar, hingga leher monster tersebut hampir putus. Kelihatannya dia habis dibantai oleh sesuatu yang berjumlah banyak, dan amat ganas.

“Kita memasuki area perburuan Rampart. Lakukan prosedur biasa,” perintah komandan pasukan pengawal.

“Apa itu Rampart?” tanya Marino.

“Sangat ganas. Serigala-serigala bersayap. Penerbang rendah, maksimal dua sampai tiga meter dari tanah. Ukuran yang dewasa relatif sebesar harimau dewasa dan hidup berkelompok, dengan jumlah hingga dua puluh ekor per kelompoknya. Tiap kelompok ada satu pejantan dan sisanya betina. Yang pejantan paling berbahaya. Bisa sebesar gajah yang sudah dewasa, err… lebih kecil sedikit, aku pernah lihat,… maka kita harus waspada. Lawan jika ketemu. Jangan lari,” kata sang komandan pasukan pengawal.

“Mereka memang amat berbahaya. Aku pernah lihat mereka membantai habis sekawanan gaaspirn sekaligus waktu aku di hutan dulu. Syukurlah aku belum pernah harus melawan mereka. Malahan aku pernah mengobrol dengan salah satunya. Untungnya mereka cuma memakan karnivora saja, dan hanya perlu makan dua bulan sekali, jika mereka sudah kenyang,” kata Adin. Tapi mereka harus menghadapi kenyataan sebaliknya. Di depan mereka kini berjajar sekitar sepuluh ekor Rampart betina sebesar harimau dan satu pejantan yang sebesar badak dewasa.

“Siaga! Formasi pagar!” seru komandan pasukan peng-awal dan pasukannya segera membentuk pagar menutupi Marino dan anggota tim lainnya.

“Tetap di belakang kami!” kata si komandan saat para rampart menyerang.

“Kau mau meremehkan kami, ya?” kata Daffy, seraya ikut menerjang. Marino, Adin, dan yang lainnya ikut menerjang, dan dalam waktu singkat, hanya sang pejantan yang masih bertahan hidup. Pejantan itu melarikan diri.

“Katamu dia cuma makan karnivora saja,.” protes Daffy pada Adin.

“Manusia juga karnivora, lho. Kita kan juga makan daging. Lagipula kalau sudah kepepet mau apa lagi?” jawab Adin. Perjalanan dilanjutkan, dan Marino lebih hati-hati dari sebelumnya. Melawan rampant tidak mudah. Untung saja tadi mereka telah tampak sebelum mendekat.

“Phaustine. Coba dong magic unikmu itu,” kata Daffy, yang baru saja ingat bahwa Phaustine ada di situ.

“Ke mana? Ke depan saja, ya?” tanyanya, lalu ia mengangkat kedua belah tangannya ke arah depan. Semuanya berhenti untuk menyaksikan, termasuk Amber. Kedua tangan Phaustine kini menyala biru tua, membuat gradasi warna yang indah dengan cahaya tubuh Amber. “Ini yang paling kuat yang aku bisa.” dan dari segala penjuru muncul bola-bola cahaya yang kecil-kecil mirip dan sebesar kunang-kunang, dan tak terhitung jumlahnya. Phaustine mendekapkan kedua tangannya itu ke dadanya, dan semua bola cahaya itu bergerak dan melesat ke arah kedua telapak tangannya yang bercahaya, dan cahaya itu makin terang, sedikit demi sedikit, saat bola-bola cahaya menyatu dengannya.

Setelah cahaya di tangannya berwarna putih menyilaukan, dan ada beberapa bola cahaya biru tua kecil mengitarinya dengan kecepatan tinggi (seperti model atom), ia mengarahkan kedua tangannya ke depan lagi, dan pancaran sinar menyilaukan yang amat besar dan dasyat menderu dan menerjang ke depan meratakan apa saja yang berada di depannya.

“Kau bisa merusak hutan ini!” teriak Cremplin, dan Phaustine segera membuat magic-nya itu berbelok tajam menuju langit. Sinar matahari kini bisa masuk, dan jalan mereka sedikit bertambah terang. “Luar biasa.” kata Hermady. Jelas bagi sang raja Crin’s Blade, yaitu Marino, bahwa Phaustine adalah sebuah senjata ampuh.

“Kapan kita tiba?” Olivia mulai tidak sabar setelah perjalanan sekitar enam hari, dan Adin mengatakan bahwa mereka akan tiba beberapa jam lagi saja, sebab mereka sudah memasuki area yang mulai terang.

Mereka tiba di sebuah area terbuka yang berupa padang rumput, yang tingginya selutut. Area itu sangat luas. Mereka semua berdiri di tepi hutan, dan dari kejauhan tampak tepi hutan lagi.

“Lebih cepat dari perkiraanku. Hutan sana sudah masuk ke wilayah suku Fraternite,” kata Adin. Tetapi, mereka tidak boleh bersenang hati dulu. Bahaya datang.

Seekor naga yang besar mendarat di hadapan mereka. Ini lebih besar dari gaaspirn terbesar yang pernah dilihat oleh Marino, tapi masih jauh lebih kecil daripada yang meluluh-lantakkan Gallowmere dulu. Naga tersebut bersayap.

“Awas! Kelihatannya yang ini bisa menyemburkan api yang dasyat!” kata Cremplin, dan benar saja. Sebuah bola api meluncur dari mulut naga itu tepat ke arah Adin, tapi dengan mudah ditangkis. Merasa serangannya gagal, sang naga lalu menyemburkan sederet bola api serupa secara beruntun ke arah yang acak. Semuanya kocar-kacir menghindari semburan itu.

Phaustine menembakkan sinar perak ke arah mulut naga itu tepat saat ada bola api yang akan keluar, menyebabkan ledakan yang amat dasyat. Naga tersebut marah dan menyemburkan deretan bola api beruntun, kali ini lebih besar, dan difokuskan ke arah Phaustine. Segera saja gadis cilik itu melakukan magic yang sama untuk menahannya. Rentetan bola api dasyat terus menerus mengguyur pancaran sinar perak, dan menyebabkan rentetan ledakan dasyat. Magic Phaustine mulai terdesak, tapi mata Phaustine menajam, dan dari permukaan tanah dan langit muncul bola-bola cahaya serupa yang dikeluar-kannya di hutan, hanya saja yang ini jauh lebih cepat menghampiri Phaustine, sehingga kelihatannya yang ini lebih lemah daripada yang tadi.

Sihir Phaustine menguat dan pancaran peraknya  bagai dikawal berkas-berkas cahaya biru. Keduanya seimbang. Para prajurit dan yang lainnya berusaha menyerang dari arah samping, tapi sang naga, tanpa mengubah konsentrasinya pada Phaustine, melayang sekitar enam meter dari tanah, di luar jangkauan serang. Para prajurit melemparkan tombak mereka, tapi semua itu ditangkis oleh kepakan-kepakan sayap sang naga yang amat besar. Malapetaka datang lagi.

Seekor naga lagi datang dari kejauhan, meluncur cepat dan menyemburkan ribuan bola api kecil-kecil ke arah Phaustine yang jelas tidak bisa menghindar karena tidak tahu. Segera saja Marino melompat dan menangkap Phaustine. Semburan bola api dari naga kedua mengenai tanah saja. Tapi demi menyambar si penyihir cilik, Marino harus merelakan punggungnya dihantam salah satu bola api dari naga pertama yang jauh lebih besar dari bola api naga kedua.

Terjadi ledakan dasyat, dan Marino terhempas ke tanah berumput tinggi dengan keras meski sudah terbantali oleh rumput tinggi sekalipun. Phaustine tidak terluka, tapi pandangan Marino mengabur. Sesaat sebelum pingsan, Marino masih bisa melihat Amber menerjang naga pertama hingga jatuh ke tanah, dan sesosok pria raksasa melompat tinggi dan menyerang naga kedua dengan pedang yang sangat besar hingga terbelah dua. Ia menoleh ke arah lain, dan melihat ratusan prajurit berjubah merah dan biru datang, lalu barulah ia pingsan.

                Saat tersadar, Marino berada di dalam sebuah ruangan, yang tampaknya berada di dalam sebuah tenda. Kepala dan badannya dibalut kain putih. Ia berada di atas sebuah ranjang kain. Ada sebuah meja penuh buah-buahan dan segelas air di sisinya. Tapi tidak ada seorang pun di situ. Marino bangun dan melangkah keluar dari ruangan itu, dan mendapati Adin, Daffy, Cremplin, Olivia, dan Phaustine sedang duduk di sebuah meja yang amat panjang. Rupanya ini sebuah tenda yang amat besar. Duduk di meja itu, ada puluhan orang yang belum dikenal oleh Marino, dan satu orang duduk di kepala meja. Orang ini tidak asing bagi Marino, karena pernah dilihatnya di dalam mimpinya. Bimo.

Sosok pria raksasa, kira-kira sebesar Rafdarov V juga, duduk di sana.

“Silahkan duduk,” kata Bimo sambil menunjuk ke arah sebuah kursi yang masih kosong.

“Kami telah lakukan inspeksi. Tanpa kau, maaf, karena kau sudah tidak sadar selama tiga hari,” kata Hermady.

“Yang benar saja?” Marino amat terkejut, dan perutnya berguncang. Ia merasa amat lapar.

“Kami sudah perkirakan kapan kau akan bangun. Tepat pada waktu makan malam. Ayo makan,” kata seorang pria muda di sebelah Bimo.

“Fraternite, telah kami nyatakan sah sebagai sebuah negara. Tinggal diproklamasikan saja,” kata Daffy, sambil makan kentang rebus dan gulai ayam.

“Sayangnya…,” tapi dia langsung dipotong oleh Bimo. “Memang, saya tidak setuju. Kami ini hanya sebuah suku saja, dan saya tidak mau dianggap negara yang berdiri sendiri. Oleh sebab itu, Tuan Cremplin dari Apocalypse akan membahas dengan ratunya, mengenai suku Fraternite sebagai negara persemakmuran.”

“Tapi aku bersedia ikut dalam The Chain sebagai negara persemakmuran, bukan negara sendiri, sehingga tidak punya anggota di fraksi ketua, politik, maupun peradilan. Hanya di fraksi militer saja. Empat orang, ya? Itu belum kupikirkan,

“Bimo berhenti makan, dan memandang langit-langit. “Baiklah, jadi aku putuskan… Fazhralimanda, Artha, Reynald, dan Pasha. Aku? Aku akan ikut saja di salah satu pasukan jika ada yang perang.”

“Bagaimana jika kau menunjukkan penemuan suku ini padanya?” minta Adin pada Bimo. “Baiklah, setelah kita makan. Reynald, kaulah yang akan mengurus peragaan itu. Dan… Pasha, kau urus proyek pembukaan jalan Apocalypse-Fraternite, seperti yang kita bahas kemarin,” kata Bimo.

Setelah makan, semuanya bergerak menuju arah selatan. Sambil jalan, Marino mengamati kehidupan suku tersebut. Berhubung sudah malam, tidak banyak yang bisa dilihat. Rumah para penduduk hanya berupa tenda-tenda sederhana saja.

Mereka tiba di sebuah area di mana ada bagian laut yang menjorok ke darat. Di sana Marino melihat ada ratusan kapal perang. Mereka menaiki salah satunya. Kapal mulai bergerak ke arah laut.

“Kita akan menguji-coba Ariel Cannon. Ada sebuah area di selatan pulau ini, yang merupakan hamparan luas berisi ribuan pulau kecil yang memiliki tebing-tebing yang amat tinggi,” kata Reynald. Tidak lama kemudian, meski di tengah kegelapan malam, mereka melihat gunung-gunung kecil namun tinggi dari kejauhan. Reynald menunjukkan sebuah meriam. Bentuknya mirip meriam magic api pada kapal-kapal Crin’s Blade, hanya saja yang ini lebih besar, tapi larasnya ada dua dan lebih kecil daripada meriam api Crin’s Blade. “Tiap kapal ada empat meriam semacam ini. Coba perhatikan,” kata Reynald saat mereka mulai mendekati sebuah gunung. Marino baru tersadar kalau di kiri dan kanan mereka terdapat gunung-gunung kecil yang sudah hancur.

Saat sudah kira-kira sepuluh meter dari sebuah gunung, Reynald mendekati salah satu Ariel Cannon. Dia menggenggam dua buah gagang yang berada di kiri dan kanan, lalu meremas sebuah gagang kecil di dekat tiap gagang. Dari ujung kedua laras, menyemburlah ribuan bola cahaya putih yang luar biasa kecil, kelihatannya, tapi bola-bola itu melesat sangat cepat hingga nyaris tidak terlihat. Terlihat pun karena saat itu sedang malam hari dan bola-bola cahaya itu bersinar. Kalau saja siang, pasti tidak terlihat.

Gunung yang ditembaki hancur sedikit demi sedikit, dan setelah sekitar dua atau tiga menit, gunung itu sudah hancur berantakan. “Ini satu kali tembak,” kata Reynald, lalu menembakkan satu tembakan ke langit. Sebuah titik putih bercahaya melesat dengan super-cepat ke arah langit. “Cukup untuk membunuh satu orang, tapi kalau sudah menyembur seperti tadi, akan jauh lebih kuat. Tiap detiknya, Ariel Cannon bisa menyemburkan lima tembakan seperti tadi. Ariel Cannon bertenaga matahari, dan bisa menyimpan tenaga untuk digunakan pada malam hari. Jika tenaganya diisi penuh pada siang hari, tiap Ariel Cannon bisa menembak terus menerus selama tiga puluh menit. Kami punya sekitar enam ratus kapal besar yang memiki empat Ariel Cannon pada tiap kapalnya, dan punya dua ribu lebih kapal kecil yang memiliki satu atau dua Ariel Cannon. Armada laut kami pasti akan sangat membantu jika Devilmare melakukan serangan laut, atau jika mau melakukan pendaratan. Kapal transportasi kami ada beberapa jenis, dari yang bermuatan dua puluh lima hingga 350 orang perkapalnya, dan kami sembunyikan di Goa Besar, yang letaknya di ujung barat pelabuhan ini. Kami punya puluhan buah. Ada lebih banyak lagi kapal macam begitu tapi lebih kecil. Banyak, karena selama berabad-abad kami terus membuat. Tapi mungkin perawatannya agak kurang, sehingga pertahanan terhadap serangannya agak kurang baik,” Reynald menjelaskan. Lalu mereka kembali ke darat dan istirahat sebelum memulai hari lagi.

“Untuk konfirmasi, saya tanya lagi pada kalian,” kata Marino pada rapat keesokan paginya. “Apakah kalian bersedia memberikan support pada invasi kami ke tanah Zenton, yaitu transport laut?” Bimo mengiyakan. “Tentu saja. Kami akan membantu kalian. Menciptakan perdamaian adalah salah satu misi suku ini, tapi salahku-lah suku ini tidak tahu apa-apa selama berabad-abad. Katakan saja. Kapan kau butuh, kami sediakan.”

Marino menoleh pada teman-temannya, lalu berkata, “Kalau begitu, tolong labuhkan armada besar, yah, secukupnya, ke pelabuhan militer Eleador. Akan kami berikan arahnya pada kalian. Jika ingin memberikan dukungan berupa pasukan, kirimkan saja ke markas besar The Chain, akomodasi dan makan akan kami sediakan. Kami akan melakukan invasi sesegera mungkin. Harap keputusannya sebelum bulan depan.”

“Kami tidak bisa lama-lama di sini karena harus melakukan rapat-rapat untuk invasi,” kata Hermady.

“Baiklah, selamat tinggal. Untuk transportasi kalian… kalian kurang dari tiga puluh, bukan? Naik naga peliharaan kami saja. Prajurit, tolong antarkan mereka,” perintah Bimo. Seorang mengantar Marino, tim, dan pasukan pengawalnya menuju ke sebuah area di selatan.

“Marino. Kita belum pernah ngomong apa-apa tentang invasi, dan kau sudah minta persiapan. Bagaimana pula, sih, kau ini?” tanya Olivia sambil jalan.

“Tidak perlu. Inilah tujuan utama dibentuknya The Chain. Kita dibuat untuk memulai persiapan.” kata Marino tanpa menoleh. Olivia melirik sinis padanya.

Mereka sudah melewati area ini waktu melihat kapal perang, tapi mereka membelok di tempat yang semalam mereka lewati dengan lurus saja. Mereka tiba di sebuah peternakan yang berisi puluhan naga kecil. Ada satu ekor naga yang luar biasa besar. Pasti inilah yang bisa membawa tiga puluh orang. Panjangnya saja sampai lima puluh meter, mungkin.

“Ini naga paling tua yang kami miliki. Yang lain ini adalah hasil telurnya. Dia akan mati sekitar enam bulan lagi, tapi dia bisa megangkut kalian ke tujuan. Ayo, naiklah ke atas punggungnya. Biar saya yang akan mengemudikannya. Sebut saja arahnya,” kata prajurit tadi, dan semua mengikutinya.

Tak lama kemudian, semuanya telah berada di punggung naga raksasa yang terbang cepat. Hutan yang kemarin terasa amat luas kini singkat saja. Mereka melewati perkotaan, dan dalam waktu cuma hampir dua hari, mereka telah tiba di markas besar The Chain.

“Sampai jumpa. Terima kasih banyak,” ujar Marino pada sang prajurit yang mengantarnya tadi.

“Mari kita ke dalam, dan bahas masalah invasi. Kita hampir belum sama sekali membahas mengenai hal tersebut. Tentu kita akan istirahat, sambil suruh orang memanggil anggota lainnya,” kata Marino saat naga tadi telah kembali pergi menuju ke Fraternite.

Seminggu kemudian, rapat besar digelar. Ratu Darpy sebagai ketua umum telah membuka rapat tersebut. Marino, yang paling antusias dengan misi ini, langsung melakukan pembicaraan.

“Secara umum, yang akan kita lakukan adalah invasi. Kita akan menyerang dan mendaratkan pasukan di daratan pulau Zenton. Setelah itu, perlahan-lahan kita bantai pasukan Devilmare dan kuasai kota perkota, kemudian negara-negara, hingga akhirnya seluruh Zenton. Namun kita butuh strategi jitu. Saya punya usul yaitu dengan cara berlabuh di daerah yang penjagaannya lemah saja. Ada tanggapan lain?” dan seketika itu Tiza dari Apocalypse mengangkat tangannya.

“Ide bagus. Hanya saja untuk mendukungnya, kita daratkan juga di tempat lain sebagai pengalih perhatian,” katanya. Phalus juga berdiri. “Ya. Kita daratkan seperempat kekuatan gelombang awal di suatu daerah, dan saat perhatian Devilmare sedang teralih, kita daratkan sisanya di daerah lain.”

“Tapi, kita akan butuh tenaga yang sangat banyak. Jika begitu, Dark Land akan kosong, dan mereka bisa menginvasi balik!” teriak Bathack.

“Saya punya ide,” kata Adin. “Angkatan laut dari seluruh negara di sini akan melakukan patroli laut besar-besaran. Untuk pendaratan pasukan, yang bertanggung jawab adalah angkatan laut Fraternite.”

“Bagus juga. Tapi bagaimana kalau itu juga tidak cukup untuk melawan Devilmare?” tanya Eko.

“Begitu kita menguasai suatu kota atau negara, kita buka rekrutan. Pasti banyak sekali yang antusias ingin melakukan sesuatu untuk menghabisi Devilmare, tapi tidak mampu karena begitu kejinya mereka. Dan begitu ada yang membuka peluang untuk mereka berjuang, pasti akan ada banyak yang bersemangat,” usul Rido.

“Setujukah kalian?” tanya Darpy, yang disambut dengan sangat riuh.

“Sekarang kita bahas lokasi-lokasi pendaratan. Kalau usul saya, ada yang didaratkan di Grandminister, sebagai pengalih perhatian, lalu pasukan utamanya di Xenfod. Saya yakin penjagaan di sana akan kurang ketat,” kata Marino.

“Kau akan menempatkan pasukan pengalih perhatian, yang jumlahnya lebih sedikit, justru ke daerah yang dijaga ketat oleh Devilmare?” protes Chezzy dari Eleador.

“Dan ke daerah di mana banyak yang akan bersemangat jika dibuka perekrutan untuk melawan Devilmare. Jumlah mereka akan segera bertambah. Setuju?” tanya Marino, dan semuanya setuju. “Untuk pemilihan area pendaratan, kita bisa rundingkan besok. Sekarang, untuk pasukannya sendiri. Berapa yang kita miliki?” tanya Marino.

“Ditambah Fraternite, kita punya enam belas anggota fraksi militer yang masing-masingnya mewakili satu pasukan. Untuk fraksi-fraksi lainnya, ada tujuh anggota fraksi non-militer tetapi punya pasukan. Jumlah total sekitar 250.000 personil,” lapor Rido.

“Ada yang mau sumbang pasukan?” tanya Marino.

“Aku akan menyumbangkan 27.000 personil dari angkatan daratku,” lalu Meissa angkat bicara, “Aku bisa sumbangkan 30.000 orang. Mungkin bisa bertambah, karena aku bisa melakukan rekrut dari pos-pos pelatihan militer. Paling tidak ada 42.000 personil nantinya.”

“Dari Apocalypse, aku akan menyumbangkan pasukan sejumlah 21.000 personil. Maaf paling sedikit, tapi aku mementingkan keamanan dalam negeri juga,” kata Ratu Darpy.

“Tidak apa. Kami menghargainya, kok. Dengan demikian, kita memiliki… 340.000 personil secara total. Semoga ini cukup. Akan kuikutsertakan dua ribu penyihir bersama tiga ribu marinir,” kata Marino. “Akan kusumbangkan lima ribu pasukan sihir khusus milikku. Jadinya, kita punya 350.000 personil. Agar mudah, kita bagi berdasarkan komando.” Kata Darpy.

“Ada tiga puluh tiga komando, dan akan kita bagi jadi tiga belas-dua puluh. Setuju?” tanya Marino, dan semuanya langsung setuju. “Kita undi saja. bagi negara yang menyumbangkan pasukannya, daftarkan nama pasukannya padaku.”

Pendaftaran pasukan berlangsung selama lima belas menit, lalu undian untuk pasukan pengalih perhatian ditarik. Hasilnya adalah sebagai berikut: Sumbangan Crin’s Blade 1, Rido Matius, Marissa, Bathack, Hermady, Rozman, Arg, sumbangan Eleador 1, sumbangan Eleador 2, sumbangan Apocalypse 1, Reza, Pasha, dan Fazhralimanda. Yang akan menjadi komandan umum di sini adalah Ratu Darpy, dan Bimo akan ikut. Jumlah mereka kira-kira 150.000 personil.

Sisanya jelas menjadi pasukan inti dengan jumlah sekitar 200.000 personil. Marino akan bertanggung jawab dan Meissa akan istirahat sampai kelahiran anaknya. Kandungannya kini sudah berusia sekitar enam bulan.

Rapat berlangsung hingga malam dan sangat terbantu dengan inisiatif Eko untuk membuat peta Grandminister dan Xenfod, yang akan menjadi tempat pendaratan. Peta itu dibuat dalam waktu yang singkat mengingat ada beberapa prajurit asal Zenton yang mengetahui betul seperti apa itu negeri Xenfod dan Grandminister. Sidang dipecah dua yaitu sidang untuk pasukan inti, dan pasukan pengalih perhatian. Meski ada yang menjadi pengalih perhatian, namun telah disepakati, bahwa julukan ‘pasukan pengalih perhatian’, hanya sementara saja. Setelah berhasil, keduanya akan berusaha menguasai Zenton dengan terus mengembangkan jumlah pasukannya. Ini akan membuat konsentrasi Devilmare terbelah menjadi dua.

Marino memimpin rapat untuk pasukan inti. Isinya adalah pasukan Black, Adin, Daffy, Jasmine(sumbangan Crin’s Blade 2), Yogin(sumbangan Crin’s Blade 3), sumbangan Apocalypse 2 dan 3, Artha, Reynald, Pandecca, Cremplin, Aldyan, Phalus, Lothar, Isabela, Lovez, Ali, Tiza, Bona, dan Dania. Ksatria tanpa pasukan yang melebur juga ada, seperti misalnya Eko, Daisy, dan Phaustine, yang baru saja bergabung.

Dalam rapat, Adin baru dapat ide kalau ia dapat menambah jumlah pasukannya dengan pasukan monster. Jika saja dia bisa melakukan komunikasi dengan monster-monster Dark Forest yang ganas, akan menjadi bantuan yang sangat besar.

Mereka memutuskan akan melakukan pendaratan di sebuah kota di Xenfod, yang keadaannya amat menguntungkan. Secara fisik, kota itu sebetulnya kota besar, tapi oleh Xenfod tidak dikelola baik. Kota itu dikelilingi hutan belantara dan hanya dua jalan normal menuju kota tersebut. Yang pertama, adalah jalan dagang dari depan kota tersebut. Jalan belakangnya adalah pantai. Ada sebuah jalan yang cukup besar dari arah belakang kota yang akan berujung ke pantai. Inilah yang menguntungkan. Tinggal mendarat, dan masuki kota.

Bagi pasukan yang akan mendarat di Grandminister, kelihatannya agak mengalami kesulitan karena tampaknya tidak banyak lokasi yang menguntungkan. Tapi akhirnya mereka telah menemukan lokasi juga.

Hari kedua setelah rapat selesai, diadakan pemeriksaan kondisi transport, dan juga dibagi dua berdasarkan area pendaratan. Ada juga yang membahas soal patroli besar-besaran. Tentu yang membahas adalah para komandan-komandan angkatan laut. Pembahasan mereka tidak berlangsung lama karena mereka cukup yakin akan kemampuan mereka.

Untuk transport yang akan mendaratkan pasukan di Xenfod, sayangnya tidak bisa sekali angkut. Satu konvoi kapal transport hanya bisa memuat 100.000 personil sekaligus. Ini tak apa-apa, karena sisa transport ditujukan untuk pasukan pengalih perhatian. Mereka lebih diperlukan untuk tiba sekaligus karena pertahanan area tersebut jelas sangat kuat.

Yang jelas, 100.000 personil akan diturunkan dengan dua cara yang berbeda. 50.000 akan didaratkan dengan kapal tabrak langsung yang didesain oleh suku Fraternite agar bisa langsung ke pantai, menabrak, membuka pintu di depan, lalu menurunkan orang. Untuk kapal seperti ini, ada beberapa jenis. Ada yang hanya memuat dua puluh, ada yang memuat seratus, hingga tiga ratus lima puluh. Akan ada dua puluh kapal perang dari Fraternite yang akan mengawal konvoi raksasa ini. Diharapkan juga ada pasukan monster air yang akan diminta oleh Adin.

Pemeriksaan kondisi kapal-kapal berlangsung selama seminggu penuh, dan selama itu, patroli laut Crin’s Blade berhasil memergoki sebuah konvoi besar kapal transport pasukan Devilmare. Bodohnya, konvoi itu hanya dikawal oleh sedikit kapal perang.

Setelah pemeriksaan selesai, diadakan pemeriksaan pasukan. Baik jumlah, maupun kesehatan. Secara total, jumlah pasukan sebesar sekitar 350.000.

Menurut jadwal, perjalanan laut akan ditempuh selama sebulan. Pasukan pengalih perhatian akan berangkat lebih dulu, dan pasukan inti gelombang pertama berangkat sehari setelah itu. Begitu pasukan pengalih perhatian telah mendarat, mereka harus segera kembali untuk menjemput pasukan inti gelombang kedua dan mendaratkannya di Xenfod. Perkiraan waktu selesainya semua pendaratan adalah delapan hari.

Malam terakhir sebelum pasukan pengalih perhatian akan pergi, diadakan pesta besar-besaran di semua istana. Mereka merayakan hari dimulainya pembebasan tanah Zenton, yaitu besok.

Hari pemberangkatan telah tiba dan konvoi raksasa yang isinya pasukan pengalih telah siap berangkat. Ratu Darpy, yang memimpin pasukan itu bersalaman dengan Marino, demikian juga suami Darpy, yang sebetulnya ingin menemani istrinya, tapi dilarang karena menurut Darpy, Apocalypse membutuhkan seorang pemimpin selama ia pergi. Meissa juga hadir untuk mengucapkan selamat tinggal kepada suaminya, Bathack. Sebetulnya, pasukan laut dari seluruh negara di Dark Land, yang akan melakukan patroli besar-besaran juga diberangkatkan hari ini, tapi tidak diadakan upacara khusus.

Pemberangkatan konvoi tersebut diiringi dengan sorakan-sorakan semangat baik dari pasukan inti yang hadir, maupun dari rakyat setempat, berhubung rakyat diperbolehkan untuk menonton. Semua, dengan haru, menyaksikan berangkatnya kapal-kapal tersebut, yang bergerak amat cepat.

Setelah acara selesai, Marino memerintahkan seluruh prajurit yang akan menjadi pasukan inti untuk beristirahat. Sebab misi ini akan berlangsung lama. Kalaupun berhasil, akan tetap berlangsung sangat lama. Apel pemberangkatan akan dilakukan besok pagi.

Malam telah tiba, tapi Marino tidak bisa tidur. Lama sekali dia hanya memandangi langit-langit kamarnya di istana Eleador. Akhirnya dia menyerah, lalu keluar dari kamarnya. Ia akan menuju kamar Daisy. Di sana sudah ada Daffy yang tidur di kasur Daisy. Daisy sendiri sedang duduk di kasurnya dengan memakai gaun tidur biru transparan bermotif ringan yang membuatnya kelihatan sangat cantik, apalagi dipadukan dengan baju dalamnya yang berwarna biru tua tanpa lengan. Dia sedang makan. Sendirian, tapi ada satu piring lagi berisi makanan yang tidak ada pemiliknya, diletakkan begitu saja di sebuiah meja di sebelah tempat tidur.

Marino duduk di sebelah Daisy. “Sudah kutahu kau akan datang. Itu untukmu. Aku tahu tadi kau tidak makan.” katanya, dan Marino makan. Lama sekali mereka mengobrol, hingga Marino mengatakan sesuatu yang membuat suasana menjadi hening.

“Daisy?” tanyanya. “Apa?” Daisy mengangkat sebelah alisnya.

“Maukah… menikah denganku? Kau akan jadi ratu di kerajaan ini,” akhirnya Marino mengatakannya juga.

Suasana menjadi hening untuk sejenak. Mereka saling tatap selama beberapa saat, lalu Daisy memeluk Marino, yang membelai kepalanya, “Tunggulah. Tunggu sampai kita memenggal sang iblis itu. Kita akan menikah saat Rafdarov V sudah mati,” kata Daisy. “Sudah malam. Mari kita tidur.”

Ketiganya bangun tepat waktu, dan bersamaan pada keesokan paginya. Mereka cepat-cepat berganti pakaian, dan sarapan sambil jalan. Setelah rapat singkat dengan para komandan, mereka segera pergi ke pelabuhan dengan pasukannya.

Setelah secara simbolis menyerahkan tanggung jawab kepemimpinan Crin’s Blade kepada Ralph Gusrizant, yaitu salah seorang anggota parlemen, Marino melakukan apel pemberangkatan. Detik-detik sebelum apel selesai, barulah Aisha dan Feizal Zuchry datang untuk ikut. Rupanya mereka terlambat.

Diiringi dengan sorakan meriah dari rakyat yang menonton, akhirnya konvoi pertama pasukan inti berangkat juga. Marino ikut di kapal transport yang melaju paling depan, masih di belakang kapal tempur, sih, tapi paling depan dari kapal transport yang lain.

Sekali lagi, ia mengarungi laut ke arah Zenton, tapi kini dia pergi ke Zenton untuk menghabisi iblis dari muka bumi ini. Devilmare.

 

 

[End of Chapter XIII]

[Coming up next, Chapter XIV: Road to Victory]

 

Legend of Legends: Chapter XII – Past, Present, and Future

After quite a while, here goes Chapter XII!

Enjoy ^_^

———————————————————————————————————————————–

CHAPTER 12

PAST, PRESENT, AND FUTURE

                Kemanapun mata memandang, hanya kuburan saja yang tampak. Marino berada di kaki jurang yang amat dalam. Jauh depannya, di atas sebuah bukit nan jauh di sana, tampak ibukota Eleador. Langit senja yang mulai gelap menyelimuti angkasa. Akan tetapi cukup terang untuk memperlihatkan betapa kota tersebut sedang ditutupi awan hitam yang melayang amat rendah, hingga kota tersebut tampak seperti muffin rasa tinta. Marino, Eko, Adin, Daffy, dan Daisy terperanjat melihat kota itu. Mereka tahu bahwa Lucifer sudah menguasai kota tersebut, bahkan itulah awan hitam itu.

Kelimanya memakai armor yang amat aneh. Amat indah, sebetulnya. Terbuat dari platinum murni dan diukir dengan emas dan perak membentuk motif. Sekilas tampak berkilauan merah.

Meski mereka ingin sekali membebaskan kota itu, tapi mereka tahu bahwa di sekeliling kota tersebut telah dipasang jajaran iblis raksasa yang melingkari kota, dan tak terhitung jumlahnya. Kalaupun bisa melawan mereka semua, kota tersebut ditutupi semacam pelindung tak kelihatan yang mencegah mahluk hidup apapun masuk ke dalamnya dengan cara membakar dengan api langsung dari neraka yang paling dalam. Tapi entah dari mana, mereka sudah tahu cara mengatasinya.

Untuk membuat pelindung semacam itu, harus dibuat segel pada kuburan masal terdekat. Jika segel di hancurkan, segel tersebut punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, adalah segel tersebut akan bisa memulihkan diri selama satu kali lagi. Kekurangannya, segel itu akan menteleport semua mahluk hidup yang berada dalam radius tiga meter dari segel, langsung ke area dimana pelindung dipasang, atau dengan kata lain, tidak perlu melewati pelindung tersebut.

Kelimanya mendekati segel yang berbentuk seperti tiang setinggi empat meter dan selebar setengah meter itu. Sisi-sisinya diukir dengan gambar-gambar mengerikan. Sebelum kelimanya bisa mendekat, dari makam-makam sekitarnya, bangkit sekitar tujuh ekor iblis. Tanpa berhenti untuk wiro-wiri dulu, mereka langsung menerjang ke arah monster-monster tersebut. Marino, yang senjata kembarnya kini berwarna emas, dengan gerakan salto yang gesit nan indah, terbanglah kepala salah satu iblis tersebut. Daffy dengan mudah melucuti satu persatu alat gerak seekor iblis di hadapannya. Saat kedua tangan, kaki, dan sayap sang iblis telah rontok, ia langsung memenggal seekor lagi. Adin dengan kampaknya yang besar, membelah tubuh dua monster secara vertikal, dan masing-masing monster tersebut terbelah dua.

Percikan-percikan listrik mulai muncul di ujung tongkat Eko, dan terlontar mantap ke arah seekor iblis, membuatnya dibelit ratusan benang listrik hingga akhirnya terbakar. Ia tidak menyadari adanya seekor monster iblis lain yang mau menerjangnya dari belakang, tapi tidak sempat. Daisy melompat maju, dan dengan kecepatan tinggi, ia mengoyak-ngoyak tubuh sang iblis dengan tombaknya hingga hancur berantakan.

“Apakah kalian sudah siap?” tanya Marino, dan semuanya mengangguk. Mereka mendekati segel, dan mengelilinginya. “Kita lakukan,” kata Marino lagi, lalu entah dari mana, mereka telah tahu harus berbuat apa. Marino memegang tangan Eko di sampingnya, yang memegang tangan Adin, yang memegang tangan Daffy, yang memegang tangan Daisy, yang kemudian memegang tangan Marino, membentuk lingkaran mengelilingi segel iblis tersebut. “Demi cahaya yang menyinari kegelapan,” kata Marino yang tubuhnya mulai bersinar. Lagi. Entah dari mana, ia telah mengetahui apa yang harus ia katakan dan lakukan.

“Hilangkan kesengsaraan umat manusia,” kata Eko, lalu tubuhnya pun ikut bersinar.

“Demi tugas mulia ini, hendaknya kami ingin melalui segel iblis,” kata Adin, tubuhnya bersinar juga.

“Segel iblis perusak umat dan juga penyengsara umat,” kata Daffy, tubuhnya memancarkan sinar yang sama seperti temannya yang lain.

“Hancurlah segel gelap dan jahat. Segel iblis,” kata Daisy dan tubuhnya juga disinari cahaya mistik itu.

“Dan hancurlah kau, segel Lucifer!” teriak semuanya bersamaan.

Sinar dari tubuh mereka naik ke atas, bergabung, dan menjadi bola cahaya yang sangat menyilaukan. Bola cahaya itu menukik turun dan menghantam segelnya, hingga sebuah lapisan perak luluh, dan menampakkan warna dalam segel itu, yaitu hitam.

“Sudah waktunya. Serang!” mereka mulai menerjang segel itu. Belum lama mereka menerjang segel itu, dan belum hancur sepersepuluhnya sekalipun, mereka terhenti. Di hadapan mereka kini berdiri sosok raksasa Rafdarov V.

“Tahukah kalian bahwa pedangku ini bisa membelah apapun yang berada sepuluh meter dalam radius tebasannya?” tanyanya dengan suara sok sopan.

“Dan tahukah kau bahwa jika kau membelah kami, kau akan hancurkan segelnya juga?” jawab Daisy dengan ketus.

“Ya, aku tahu. Jika aku membelah kalian, segelnya akan ikut hancur dan mayat kalian akan terkirim ke sana!” bentak Rafdarov, dan mengayunkan pedang raksasanya. Reflek membuat Marino memeluk Daisy dan ketiga temannya yang lain bergerak untuk saling melindungi, akan tetapi, semua itu tidak perlu.

Suara besi beradu yang amat nyaring bergema hebat ke seluruh area pemakaman, dan gaungnya tiba kembali pula. Ada sebuah pedang raksasa unik pula yang menangkis pedang iblis Rafdarov, dan kelihatannya sakti juga, sebab serangan Rafdarov terhenti. Tidak memancar hingga sepuluh meter ke depan. Pedang raksasa itu dimiliki oleh seorang raksasa pula.

“Bimo!” seru Adin.

“Hancurkan segelnya, dan akan kutahan dia di sini,” kata orang bertubuh raksasa tersebut.

“Sembarangan saja! Aku bisa membelah besi terkuat sekalipun! Dan…,” Rafdarov tidak melanjutkan kata-katanya. Pedangnya kini memancarkan cahaya hitam-hijau tua yang menyelimuti mata pedangnya, “…kekuatan iblis juga membantuku!” teriak Rafdarov, dan menebas Bimo.

“Rasakan kekuatan Fraternite!” Bimo menyambut pedang iblis tersebut. Kedua pedang tersebut beradu. “Hebat juga kau. Aku amat merindukan lawan yang seimbang,” kedua raksasa itu bertarung, menciptakan gempa kecil tiap kali mereka saling menerjang.

Marino dan yang lainnya kembali menerjang segel itu. “Keluarkan kekuatan maskimum elemental senjata kalian!” kata Daffy dan sinar biru muda membelit pedangnya. Mata kapak Adin mulai mengeluarkan api. Ujung tongkat Eko penuh dengan percikan-percikan listrik. Pada kedua ujung senjata Marino memancar sinar putih yang berpusar cepat. Elemen angin. Ujung tombak Daisy memancarkan cahaya yang sama dengan Marino. Setelah itu, kelimanya menyerang sekaligus. Segel itu langsung hancur berantakan. Sebuah bola cahaya terbentuk di tempat dimana tadi segelnya berdiri. Bola itu membesar hingga memiliki diameter enam meter. Semua yang masuk ke bola ini akan ikut ter teleport, tapi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

Rafdarov melemparkan pedangnya yang berubah menjadi sosok iblis bersinar pada Bimo, memaksanya untuk menangkis dengan pedangnya. Saat itulah, Rafdarov mengambil kesempatan untuk melompat ke dalam bola cahaya segel tersebut tepat saat teleport akan terjadi. Bimo meraung marah saat ia menghilang bersama area pemakaman. Marino sadar bahwa yang menghilang bukan Bimo, melainkan dirinya dan keempat temannya.

“Habisi dia! Setan itu meninggalkan pedangnya di sini!” teriakan Bimo masih terdengar, tapi serasa dari kejauhan. Mereka menemukan diri mereka berdiri di atas… tidak ada apa-apa. Yang mereka pijak adalah udara kosong, dan di sekeliling mereka cuma hitam, tapi mereka bisa saling melihat. Rafdarov berada di hadapan mereka.

“Kita bertarung sekarang…,” kata Rafdarov.

“Kau tidak punya senjata iblismu lagi sekarang. Ajalmu akan tiba sebentar lagi!” seru Marino.

“Begitukah menurutmu? Kau yakin sekali. Tapi kukatakan saja. Aku selalu membawa senjata cadangan,” Rafdarov mencabut sebuah pedang yang tidak kalah besar dari pedang iblisnya. “Beruntunglah kalian, pedang ini tidak bisa menebas sepuluh meter ke depan, tapi aku akan tetap menghabisi kalian!” katanya senang. Tanpa aba-aba, kelima bersahabat ini menerjang maju, dan Rafdarov juga…

***

                Marino terbangun di lantai kamar Daffy, kaget. Tadi malam dia memang tidur di sana. Rupanya tadi itu mimpi, pikirnya. Daffy dan Daisy yang ada di situ juga kelihatan seperti baru bangun. Aneh. Mereka bermimpi hal yang sama.

Sinar matahari menerobos masuk lewat jendela, tanda tibanya pagi hari, hari yang baru. Eko masuk ke dalam. “Aku mimpi kita melawan Rafdarov,” katanya.

“Sama,” kata Marino, Daffy, dan Daisy bersamaan. “Taruhan. Pasti Adin juga,” dan memang benar. Kelimanya bermimpi hal yang sama.

“Tapi ini membuatku punya ide untuk memperkuat diri dan The Chain. Kita harus mengajak suku Fraternite untuk ikut menjadi anggota The Chain,” kata Marino.

“Kita perlu mengirim utusan untuk ke sana. Tetapi harus menggelar sidang dulu. Adin, kau ikut juga,” lalu Marino bergegas pergi menuju ke ruang pertemuan Crin’s Blade. Ia memerintahkan beberapa orang prajurit untuk mengirimkan surat pemberitahuan pengadaan rapat ke Eleador dan Crin’s Blade. Rapat akan diadakan besok.

Sementara itu, Marino pergi ke dapur untuk sarapan. Si koki bertanya padanya, mengapa tidak menunggu di kamar saja dan menunggu makanan diantarkan saja. Marino mengatakan bahwa ia lebih suka mencari makanan daripada makanan mencarinya. Toh ia tidak pernah bangun dari tidurnya untuk kemudian menguap-geliat dengan manja di kasur sambil menanti makanan datang padanya. Tidur di kamarnya sendiripun tidak begitu sering. Jarang, malahan. Ia lebih suka tidur di beranda, atau akhir-akhir ini dia selalu tidur di kamar salah satu teman baiknya. Entah itu Eko, Adin, Daffy, atau Daisy, dan mengundang yang lainnya untuk ikut, mengobrol lama hingga larut malam hingga akhirnya tidur. Para pejabat istana yang sudah berada di istana sejak sebelum Marino jadi Caliph sampai geleng-geleng melihat seorang Caliph yang begitu ugal-ugalan seperti ini. Tapi mereka tidak mampu bilang apa-apa. Toh Crin’s Blade berkembang pesat jauh sekali semenjak ia mulai memerintah.

Sembari kesibukannya di The Chain, Marino telah mengatur sistem negaranya menjadi lebih baik. Mulai dari perdagangan hingga sistem pertanian dia pantau, dan dioptimalkan. Contohnya saja, ia telah memerintahkan untuk dibuatnya penelitian penyilangan jenis ternak unggul dan hasil dari penyilangan itu ternyata jauh lebih baik dari yang diperkirakan. Dia juga merombak hukum pernikahan dan hukum mengenai kriminalitas. Salah satu yang ia lakukan di bidang hukum ialah meminta para ahli merumuskan dengan lebih jelas pengertian dan unsur-unsur setiap jenis kejahatan agar lebih pasti. Sejak ia berkuasa, angka kriminalitas di Crin’s Blade turun dari tiga kasus seminggu, menjadi tidak ada kasus sama sekali, setidaknya sejauh ini.

 

Saat untuk sidang The Chain telah tiba, dan semua fraksi telah berkumpul. Ratu Darpy yang kini adalah ketua umum The Chain membuka rapat, dan mempersilahkan Marino untuk memberikan masalah yang akan mereka bahas.

“Teman-teman, teman saya menemukan sesuatu. Sebuah negara yang selama ini tidak kita ketahui karena letaknya di pedalaman Dark Forest-hutan gelap, bahkan lebih dalam lagi. Negara ini bernama Fraternite. Menurut keterangan teman saya ini, negara ini begitu rapi dan memiliki sistem tata negara yang luar biasa. Rasanya, seperti yang saya katakan di awal pembentukan The Chain ini, semua negara berhak ikut dalam The Chain. Bagaimana menurut kalian mengenai hal ini?”

Lalu Tiza dari fraksi politik Apocalypse langsung mengangkat tangannya.

“Silahkan,” kata Marino.

“Tapi apakah ‘negara yang rapi’ dan ‘sistem tata negara yang luar biasa’ ini benar seperti yang dikatakan? Apa ini bukan melebihkan, atau setidaknya sesuai dengan standar yang bisa dikategorikan sebagai negara? Negara macam mana yang tinggal di pedalaman hutan yang luar biasa berbahaya dan tidak pernah berhubungan dengan negara-negara lain, dan selama berabad-abad tidak ada yang tahu?” tanyanya, yang langsung ditimpali oleh Argus dari Apocalypse juga.

“Tahu. Menurut sebuah buku di perpustakaan besar Apocalypse, pernah terjadi sebuah perang besar di Apocalypse antara dua kubu. Salah satunya sebetulnya lebih kuat, tapi akhirnya pemimpinnya bosan perang terus. Kubu ini mundur ke Dark Forest dan tidak pernah tampak lagi. Mungkin mereka mati di hutan ganas itu. Begitu menurut ceritanya.”

“Tapi kisah ini mengambil tempat dan waktu pasti ribuan tahun yang lalu. Sebab menurut penggambaran pada kisahnya, saat itu adalah zaman batu,” katanya.

“Kenapa aku tidak pernah membaca buku itu, ya?” tanya Ratu Darpy. “Tapi kini, pertanyaannya adalah apakah suku itu betul telah menjadi sebuah negara? Jelas kita perlu membuktikannya,” katanya lagi.

“Panggil teman Marino untuk menceritakannya,” kata Chezzy dari fraksi peradilan Eleador. Hampir semua orang bergumam setuju, tetapi ternyata Marino tidak setuju.

“Cerita orang itu agak kurang efektif. Alangkah baiknya jika kita mengirim sebuah tim ekspedisi untuk melihat kebenaran adanya negara semacam itu, dan sekaligus menginspeksinya. Layakkah disebut negara?” Ratu Darpy menyetujui, tapi ia berkata, “Apakah ada yang keberatan dengan usul ini?” dan semua menggeleng kecuali satu orang, Phalus.

“Rasanya itu tidak perlu, dan boros biaya. Masa kita tidak bisa mempercayai Adin? Dia jujur, dan kau tahu betul soal itu, Marino. Kau sahabatnya,” tak disangka, Marino tersenyum tenang.

“Hanya karena dia sahabat kita, apakah itu membuatnya serta merta dipercayai begitu saja tanpa bukti yang kongkrit? Dan kalau urusan biaya, sama saja. Toh jika kita mendengarkan Adin saja kita juga akan mengirim tim ekspedisi untuk mengajak pimpinan negara tersebut kemari. Apa kau mau bilang kita kirim seorang utusan saja? Untuk tawaran kerjasama ini masa kita cuma mengirim surat saja tanpa setidak-tidaknya salah seorang dari kita? Itu sama sekali tidak persuasif,” kata Marino dengan santai.

“Kita tentukan timnya dan pasukan pengawal dengan undian,” kata Meissa.

Setelah diundi, yang akan memimpin misi ini adalah Marino, dan yang akan ikut adalah Daffy, Hermady, Cremplin, dan Olivia. Kelompok ini akan dikawal oleh dua puluh prajurit pribadi Ratu Darpy. Misi akan dilaksanakan besok.

“Untuk masalah kedua, kita toh akan memanggil Adin juga, karena kita butuh pengganti Gabriela Diggory,” kata Marino.

Tetapi Darpy berkata, “Tidak usah.”

“Itu adalah fraksi militer negaramu, Marino. Kaulah yang berhak untuk memilih penggantinya. Kami merapatkan hal ini sewaktu kau pergi ke Zenton. Dia sudah bisa mengikuti rapat berikutnya,” kata Darpy.

“Baguslah,” kata Marino, “karena kita bisa bubar sekarang. Ingat. Besok, seluruh anggota tim yang ikut, kecuali yang berasal dari Apocalypse, akan berkumpul di sini untuk sarapan, lalu bergerak menuju Apocalypse untuk bertemu dengan konvoi dan istirahat, sebab akan dilakukan sebuah perjalanan yang berbahaya. Adin juga harus ikut sebagai penunjuk jalan.”

Setelah membubarkan rapat, Marino pulang ke istana ibukota Crin’s Blade, lalu pergi ke teras untuk bertemu Eko, Jasmine, dan Daisy di sana. Mereka sedang berbincang tentang ide-ide untuk menyerang Zenton saat Marino datang. Marino langsung menimbrung ngobrol. Hingga akhirnya larut malam, barulah mereka berhenti tidur. Jasmine kembali ke kamarnya, sementara Marino, Daisy, dan Eko tidur di teras.

Saat bangun keesokan paginya, Marino tersentak saat  menyadari bahwa ia belum memberi tahu Adin bahwa ia akan ikut misi untuk mencari suku Fraternite. Mumpung masih sangat pagi, ia langsung menjelajahi kastil untuk mencari Adin. Marino menemukannya dalam waktu singkat, karena Adin kebetulan berada di kamarnya. Segera saja ia menjelaskan mengenai misi tersebut dan Adin langsung bersiap-siap.

Tim yang terdiri dari Daffy dan Hermady, yang menginap di Crin’s Blade, telah siap menuju Apocalypse. Marino dan Adin akhirnya muncul juga. Setelah memilih kuda perang yang paling bagus, mereka melaju menuju Apocalypse.

Perjalanan yang seharusnya memakan waktu beberapa hari ini hanya ditempuh dalam waktu sehari berkat kuda-kuda yang mereka tunggangi yang telah dibiakkan dengan bibit sihir. Menjelang sore, mereka telah tiba di perbatasan Apocalypse.

Mereka sekarang bergerak lebih pelan karena kota-kota yang mereka lalui cukup padat. Mereka berhenti untuk makan dulu di sebuah pub. Keempatnya memesan makanan yang sama yaitu roti panggang dan keju cair panas. Marino sedang menikmati tegukan minumannya yang terakhir saat terdengar sebuah ledakan dan keributan dari luar.

Marino keluar dari pub dan mendapati sebuah bangunan yang terpisah dari bangunan lainnya, yang merupakan sebuah inn-penginapan, mulai terbakar. Orang-orang berkumpul di depan inn tersebut.

“Ada apa di dalam sana?” tanya Marino kepada seseorang yang berada di sebelahnya.

“Ada seorang anak kecil mengamuk di lantai dua. Dia penyihir! Tak ada yang bisa membujuknya. Api ini kelihatannya tidak bisa dipadamkan…,” Marino menyaksikan api yang menjilati inn tidak bisa tersentuh oleh air dari para penduduk, seakan-akan tidak disiram saja. Apinya memang kecil saat Marino datang, tapi perlahan-lahan mulai meningkat. Marino melesat masuk ke inn tersebut, diikuti oleh Daffy dan Adin.

Api di dalam tidak begitu besar, dan asap pun tidak banyak. Setelah berjuang melewati ruangan-ruangan yang kini terbakar, mereka tiba di depan sebuah pintu, dimana di baliknya terdengar suara tangis anak kecil. Pintu itu mulai terbakar, dan api di pintu itu berkobar dengan amat dasyat, kontras dengan dinding-dinding sekitarnya, yang hanya mengeluarkan sedikit lidah api. Marino mulai berusaha melakukan pendekatan pada si anak kecil di balik pintu itu.

“Hei, yang di dalam, namamu siapa?” Marino memulai.

“Huu… Namaku Phaustine…huuuuu… “ si anak kecil di dalam menyahut di sela-sela tangisnya.

“Kenapa kau menangis?”

“Aku diledek teman-temanku karena aku penyihir aneh. Tak ada yang tahu aku ini black mage elemen apa, makanya aku diledek. Aku tidak punya teman. Aku tidak punya keluarga… huuuu….”

“Memangnya seunik apa magic-mu itu?”

“Pokoknya aneh, deh. Semua penyihir di sini yang memeriksaku bilang kalau elemenku ini adalah penemuan baru.”

“Kau dapat dari mana?”

“Aku tidak tahu. Aku hanya ingat kalau aku terbangun di pinggir jalan dan tanganku bersinar biru. Mendadak aku tahu saja apa yang harus kulakukan. Aku bisa menyihir, deh. Tapi begitu aku tanya pada seorang mage, ia mengatakan bahwa elemenku ini belum pernah dimiliki siapapun sebelumku. Sejak itu, aku ditinggal teman-teman….”

“Kekuatan yang kau miliki… amat kuatkah?”

“Kalau menurutku sih kuat. Penyihir itu memintaku untuk melakukan sihir, apa saja, ke sebuah tembok di ruangan milik penyihir itu. Saat itu, dia memegangi kedua bahuku dari belakang. Setelah aku melakukan sihir terkuat yang aku bisa, dia bilang kalau itu lebih kuat dari sihir perpaduan tiga elemen sekalipun.”

“Kau mau jadi seorang jagoan tidak? Seperti Power Rangers?”

“Power Rangers belum ada.”

“Eh, maaf (J), maksudku, kau mau jadi pahlawan, seperti Pangeran Diponegoro, (JJJ) eh, maaf, errr.. maksudku… yah, aku ini dari kerajaan Crin’s Blade. Aku mau menjadikanmu seorang pendekar kehormatan istana. Kau mau?”

“Apa itu kehormatan istana?”

“Artinya, kau menjadi seorang pendekar yang terkenal dan dihormati oleh siapapun di kerajaan.”

“Mau, eh, nggak ah. Aku ini nggak punya teman…. nanti aku dibilang aneh lagi….”

“Nggak deh. Kamu akan terkenal hebat.”

“Bo’ong ah…”

“Bener kok.”

“Janji?”

“Janji.”

Pintu berdebam terbuka, dan api ayang menyelimuti inn langsung padam dan seolah-olah tidak pernah ada api. Di balik pintu yang sudah ambruk itu, berdiri seorang anak perempuan kecil, mungkin berusia sekitar enam atau tujuh tahun, yang amat mungil tapi matanya merah karena habis menangis. Ia menyeka matanya, yang langsung tidak merah lagi. “Ayo.”

Sambil keluar, Phaustine menjulur-julurkan lidahnya pada anak-anak dan orang-orang yang menonton, dan membuat mereka heran.

“Umurmu berapa tahun?” tanya Daffy saat mereka melakukan perjalanan menuju istana ibukota Apocalypse.

“Tujuh. Masih sebulan lagi, sih. Kalian mau ke mana?” Phaustine balik bertanya.

“Kami mau pergi ke istana besar Apocalypse, lalu ke Dark Forest. Kita akan mencari suku pedalaman,” kata Adin. “Seru sekali.”

Mereka tiba di istana besar Apocalypse keesokan paginya, dan tim dari Apocalypse sudah siap di depan gerbang bersama pasukan pengawal. “Istirahat dulu?” Darpy menawarkan, tapi Marino menolaknya.

“Sudah, kok,” lalu ia melirik ke arah Cremplin dan Olivia.

“Kami juga siap. Ayo kita berangkat… dan… anak kecil ini…?” Olivia memandang Phaustine dengan heran.

“Dia akan membantu, kok,” kata Marino, dan mereka mulai bergerak ke arah hutan gelap dan misterius. Dark Forest.

Mereka tiba di tepi hutan misterius itu yang dipagari dengan pagar tembok raksasa.

“Hutan ini memang sangat berbahaya,” kata seorang prajurit yang mengawal sambil membuka gerbang raksasa yang amat besar dengan sebuah kunci yang besar pula. Akhirnya mereka memasuki hutan. Memang saat itu pagi menjelang siang, tetapi begitu masuk ke hutan, cahaya matahari langsung lenyap.

“Kenapa tidak ada yang mengingatkanku untuk membawa obor?” tanya seorang prajurit pada prajurit lainnya.

“Tidak perlu. Amber!” teriak Adin, dan seberkas cahaya merah tampak dari kejauhan, yang kian mendekat dan kian terang.

“Apa itu?” tanya seorang prajurit, dan setelah mendekat, barulah semuanya tahu bahwa itu adalah seekor burung yang tubuhnya terselimut api yang sangat cantik.

“Tolong terangi jalan kami,” kata Adin, lalu Amber terbang rendah di paling depan, di depan Adin, dan pandangan mereka bertambah jauh, dan apapun yang berada sampai sepuluh meter di depan akan tampak, walau cahaya yang dipancarkan oleh Amber agak kemerah-merahan. Dengan hati-hati, semuanya melangkah ke dalam hutan, dan lebih dalam lagi, karena sewaktu-waktu bisa ada monster. sesekali terdengar suara Phaustine yang kelihatannya amat senang dan penasaran. Marino pernah kemari waktu pernikahan Meissa, tapi waktu itu belum ada pagarnya.

“Pagar ini baru, ya?” tanya Marino pada Cremplin.

“Betul. Minggu lalu ada delapan ekor gaaspirn keluar dari hutan, entah kenapa, tapi mereka menyerang desa-desa. Para prajurit berhasil membunuh sebagian, dan menggiring sisanya kembali ke hutan. Untung saja tidak sampai jatuh korban jiwa, tapi yang terluka cukup banyak. Maka dari itu, Ratu Darpy memerintahkan dibuatnya tembok ini. Memang aneh. Tidak pernah ada gaaspirn yang keluar hutan.”

Agak lama mereka berjalan tanpa hambatan yang berat, yaitu hanya serangan dari beberapa lebah raksasa. Kini di depan mereka tampak sebuah kuil yang sudah amat tua dan berlumut. Sesuatu membuat Marino ingin masuk, dan semuanya setuju. Di depan pintu masuk yang amat besar pada kuil itu, terpampang tahun pembuatan kuil tersebut, yang menunjukkan bahwa kuil itu dibuat sekitar seribu lima ratus tahun yang lalu. Mereka masuk, dan mendapati semacam museum kecil, yang terdapat empat monumen, tiga diantaranya berbentuk ksatria yang ukurannya kelihatan dibuat sekitar dua atau tiga kali lipat aslinya, dan satu lagi, tidak ada ksatrianya, tapi sesuatu memberitahu Marino bahwa harusnya ada sebuah patung ksatria juga di sana.

Di depan Marino ada sebuah monumen kecil, yang berisi tulisan yang berbunyi :

“Empat ksatria kegelapan(di sana tertulisnya: The Dark Knights) yang telah berjasa memusnahkan teror iblis di tanah Figgerwitz tercinta ini pada tahun rune ke-335, dan berhasil menang pada tahun rune ke-339. Summon iblis memang sebuah sumber kejahatan yang menjadi sumber kejahatan-kejahatan lainnya. Walaupun keempat ksatria terhormat ini berhasil menumpas pasukan iblis yang pernah merajalela, tapi summon iblis sendiri tidak pernah ditemukan. Meski berhasil mendamaikan Figgerwitz, tapi keempatnya gugur pada pertempuran terakhir saat memperebutkan bandul summon iblis di tangan Lucifer. Akan tetapi, sebelum gugur, keempatnya bersumpah dan mengaktifkan mantera, bahwa Lucifer tidak akan selamat lebih dari tiga belas hari jika berani keluar lagi. Dan Lucifer memang ketakutan dan menyegel dirinya sendiri dalam pedang dan summon iblis, lalu menghilang. Monumen ini didirikan untuk mengenang jasa keempat ksatria kegelapan ini. Terlaknat summon iblis dan Lucifer.”

Begitulah bunyinya. Di setiap monumen berisi patung pun tampak monumen kecil yang juga berisi tulisan. Marino mendekati monumen pertama yang patungnya berupa manusia setengah kuda dan setengah manusia, atau lebih dikenal sebagai centaurus. Centaurus itu berwajah brewokan dan memakai armor. Di tangannya memegang busur panah yang siap dilepaskan dan panahnya berbentuk aneh. Tulisan di depannya berbunyi:

“Choirnaghmoth (250-339 tahun rune)

Tiap kali panahnya menembus tubuh iblis, tamatlah iblis itu. Gugur pada tahun 339 rune di tangan Lucifer. Jasa-jasanya akan terus dikenang.”

Monumen kedua berbentuk manusia dengan jubah dan tudung hingga wajahnya tidak tampak. Persis seperti Kaine, hanya saja patung ini memegang senjata sabit jenis scythe mirip dewa kematian. Tulisannya berbunyi :

“Peshmaergha (125-339 tahun rune)

Killer scythe (scythe pembunuh) yang amat ampuh membantai iblis. Paling pertama dibunuh oleh Lucifer, tapi bukan berarti dia yang paling lemah. Dialah yang paling banyak membantai iblis pada masa kegelapan umat manusia itu. Gugur pada tahun 339 rune. Jasa-jasanya akan terus dikenang.”

                Marino lalu berlanjut ke monumen berikutnya. Bentuknya mirip ksatria berzirah dan brewokan pula. Tangannya meng-genggam tombak, dan di kepalanya ada sebuah mahkota.

“Raphaeleazar Morrainez (286-339 tahun rune)

Paling sulit dan paling terakhir dibunuh oleh Lucifer. Raja mulia dari kerajaan Morraine. Dialah yang pertama memulai pemberantasan iblis pada tahun 335 rune. Pada masa-masa kegelapan manusia itu, dia terobsesi sekali pada pembantaian iblis. Gugur pada tahun 339 rune di tangan Lucifer. Jasa-jasanya akan selalu dikenang.”

Begitu bunyi tulisannya. terakhir, Marino mendekati monumen yang tidak ada patungnya. Begitu melihat tulisannya, Marino tahu bahwa pendapatnya, bahwa seharusnya ada patung di situ, ternyata benar dan Marino tahu mengapa. Begini tulisannya:

“Rido Matius (302-339 rune)

Termuda diantara keempatnya, berasal dari kalangan ksatria Rhode Warriors. Keganasan pedangnya tidak akan pernah terlupakan. Paling terkenal dengan ‘Sumpah Abadi Rido Matius’-nya, yang diucapkan sedetik sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir di hadapan Lucifer. Gugur pada tahun 339 rune di tangan Lucifer. Jasa-jasanya akan selalu dikenang.”

Dari mana Marino tahu bahwa seharusnya di situ ada patung, dan tadinya memang ada? Ternyata di bawah tulisan tersebut ada tulisan lagi, yang berbunyi :

‘Sumpah Abadi Rido Matius’ (339 rune)

Amat terkenal pada akhir masa kegelapan, karena dia mengucapkannya tepat setelah memberikan mantera dan sumpahnya yang pertama, yaitu bahwa jika Lucifer sampai kembali, tidak akan bertahan lebih dari tiga belas hari, dan yang mendengar ‘Sumpah Abadi Rido Matius’ hanya tiga belas orang. Tiga orang diantaranya adalah dari pihak kerajaan, lima dari rakyat, dan lima dari prajurit. Kata mereka, sumpah itu menggema dengan amat dasyat, tapi tidak ada satu orang lain pun yang mendengarnya. Beberapa dari ketiga belas orang ini berada di daerah yang berjauhan, dan sumpah yang mereka dengar sama persis bunyinya, maka oleh raja Apocalypse Frederich Glarion XX, yang juga termasuk tiga belas orang yang mendengar sumpah itu, sumpah itu dinyatakan sah dan di rahasiakan untuk umum.

Sumpah Abadi Rido Matius berbunyi sebagai berikut:

“Aku bersumpah akan kembali jika ada yang memakai kekuatanmu, walau sedikit saja. Dan kau akan mati tiga belas hari jika kau bangkit. Sumpahku ini hanya untuk tiga belas orang dan itu termasuk Paduka Glarion, dan satu garis keturunannya. Lalu, hanya lima orang saja, yang mengetahui sumpahku ini,  yang merasakan masa lalu, masa kini, dan masa depan, bersama, yang akan menghabisimu, Lucifer.”

dan Rido Matius gugur seketika setelah mengucapkan sumpah itu.

Marino, Eko, Daffy, Adin, dan Daisy-lah kelima orang yang merasakan masa lalu, masa kini, dan masa depan tersebut. Atau mungkin kelihatannya begitu.

Marino memanggil yang lainnya untuk melihat monumen Rido Matius tersebut. “Wajar saja ia bisa memotong tangannya waktu itu.” kata Cremplin. Tapi keterkejutan Marino belum berakhir. Ternyata, yang bisa melihat ‘Sumpah Abadi Rido Matius’ hanya dirinya, Daffy, dan Adin. Memang, menurut sumpahnya, sumpah itu hanya bisa diketahui oleh tiga belas orang dulu dan satu garis keturunannya, dan lima orang yang merasakan masa lalu, masa kini, dan masa depan bersama. Yang lain melihatnya hanya sebagai batu kosong saja. Tapi mereka semua kini mengetahui asal Rido Matius yang kini bekerja di Crin’s Blade itu.

“Rido Matius memang aneh. Aku tahu saat ia pertama muncul di Crin’s Blade. Ia datang begitu saja ke Crin’s Blade. Dan kami terus mendapatkan informasi mengenai keadaan tanah Zenton. Kalau tidak salah, kemunculan Rido Matius itu sekitar masa pemerintahan Rafdarov IV, dan saat anaknya, Ludovic, terkenal sebagai pembantai manusia,” kata Hermady.

“Nah, menurut informasi dan kabar-kabar yang kudapat, itu adalah saat-saat dimana Ludovic Rafdarov, kini Rafdarov V, pertama mendapatkan kekuatan summon iblis, kekuatan Lucifer. Ayahnya, Rafdarov IV, tidak mengetahui hal ini. Meski haus darah, Rafdarov IV tidak menyukai pembantaian, dan membantah semua tuduhan pada anaknya itu. Saat Rafdarov V naik tahta, ia mengakui perbuatannya. Dan waktu aku dan ketiga temanku mengobrol dengannya secara langsung, ia menyatakan bahwa ia melakukan pembantaian itu untuk sesuatu yang amat jahat, dan aku tahu bahwa itu adalah salah satu syarat untuk membangkitkan Lucifer. Dan pastilah saat itu Rido Matius akan bangkit,” kata Adin.

Lengkaplah informasi. Berarti Rafdarov V dan Lucifer akan mati di tangan kelimanya. Masa lalu, masa kini, dan masa depan, bersama. Mengapa harus masa lalu, masa kini, dan masa depan? Apakah artinya?

Tapi satu hal yang jelas. Petualangan ini akan berakhir di tangannya. Dia, Eko, Daffy, Adin, dan juga Daisy. Marino semakin yakin bahwa ia akan mampu, dan ia akan berhasil menghabisi Rafdarov V dan summon iblisnya.

Rido Matius, yang ia ketahui sangat kuat, bahkan luar biasa kuat, tidak mampu melawannya, dan pernah dibunuh olehnya. Tapi para ksatria kegelapan yang berempat saja kalah, dan kelima anak muda ini mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemampuan dua diantara ksatria kegelapan itu. Ah, tidak. Ia tidak akan berjuang sendirian. Tidak sendiri, dan tidak pula berlima. Ia akan berjuang dengan ratusan bahkan ribuan. Ia tidak hanya punya empat orang teman. Semua pasti akan membantunya. Tidak ada satupun prajuritnya, prajurit Meissa, dan prajurit Darpy yang akan membiarkan iblis macam Lucifer muncul ke muka bumi ini.

Lucifer jelas akan menjadi musuh besarnya, tapi kini ia juga punya seorang musuh yang perlu dibantai. Musuh yang ia lihat di dalam mimpinya. Lethifold.

[End of Chapter XII]

[Coming up next, Chapter XIII: Invade! Attack!]