Category Archives: My Poetry

The Farmer and the Red Rose Field

Once upon a time lived a farmer.
He wanted the best red rose
He wanted to grow it himself
“How do I find the best rose?”
He wondered to himself.

“I should grow a field of them,
And find the best among them”
So then the farmer went,
He planted his entire field,
With the best red rose seeds he could find

The farmer knows how to plant,
The farmer knows about roses,
The farmer has made his plans,
But this farmer believes in Allah
And Allah is The Best of Planners

One day the time has come,
His field of red roses is blooming!
Hastened is the farmer
Scouring one red rose after the other
The next always better than the previous
And Allah is The Best of Planners

Maybe it came from the wind,
Maybe it came from a product defect
Maybe it came from an insect
But surely Allah knows best,
And Allah is The Best of Planners

The farmer sat in his red rose field
Smiling, as he is a believer.
Every red rose better than the other
But one rose that stood out from the rest
And Allah is The Best of Planners

That one rose was white

(Edinburgh, April 14th, 2014)

A Poem of Allah’s Greatness: Miracle Miracle

Cherry Blossoms

Cherry Blossoms

Miracle Miracle

To open our eyes and watch the clouds

Transforming into rain and drops

Tears that wash down through earth’s cheeks

To sap through the ocean fulfilling the cycles

To name one among millions of miracles

The favours of which many have denied

.

One new miracle came by

Outstanding in the eyes of humanity

Ordinary in the Hands of The almighty

One at a time but with all certainty

Outstanding all the time, and you still deny?

Outstanding all the time, and you still deny?

.

Two new miracles came by

Transcending boundaries of expectation

The limits pushing further away and further away

True evidence from Allah, Master of creation

Truth so obvious even for those who are astray

.

Two new miracles came as reminder

Beauty which’s nature and reality transcends beyond comprehension

The reality of death has never been seen brighter

Both intertwine as one beautiful creation

The truth of one is that of the other

.

Allah is The Only! Master of All in Existence

.

All Praise to Allah, for these two miracles

All Praise to Allah, for all of Your miracles

.

Allah is The Greatest! I understand more how Your beauty is limitless

Allah is The Greatest! I understand more how Your power is limitless

.

Allah is The Merciful! You have always shown your Power, even when it seems impossible

Allah is The Merciful! You have shown more and more beauty, that I am always grateful

Allah is The Merciful! You have always reminded me, a son of Adam who is ever forgetful

.

Miracle Miracle, and all the blessings that comes with you

Blessed is the name of your Lord, Owner of Majesty and Honor

(Fajri, 13 March 2014)

(for complete tafseer of this poem, if you are interested, you can download it here. Wallaahi, its much deeper than it looks hahaha)

Only Allah Knows Best Who She is

 

I discarded all but one story of romance that has ever been written

In Words that cannot be prescribed even with the ink as vast as the ocean

In the Lauh Mahfuz where everything in existence has been written

I believe with all my faith that I have loved you since the start of creation

Bear witness that I marry you not because I love you

Allah has decreed that I love you because I marry you

Beyond any common sense of those who do not believe

Allah promises good men for good women for those who believe

By all in this world, I am not the best of all men

By all in the heavens, you cannot be the best of all women

But if Allah guides a path for us to be together

Bear witness that we are the best for each other

Allah promises 72 huris in jannah for men

All of them for men who believe in Allah and prostrate

But in jannah another figure will catch the eyes of men

Bear witness, it’s mere beauty takes forty years to contemplate

Allah knows best that this beauty is none other than you

It was Him who, in the mortal world, brought us together

Allah has decreed for such a story to eternally continue

In patience and shalat we will live this story together

(2 October 2013)

 

Aku Ingin (Oleh Sapardi Djoko Damono) : Renungan Makna Cinta Sederhana

Seorang murid saya menuliskan sebuah status di Facebook:

duhai aku, tau kah kamu bahwa mutiara muncul dari kerang yg dilukai
#think (again) 🙂

Saya tersentuh oleh status itu, dan langsung men-share-nya dengan tambahan:

…hanya untuk diambil orang. Tapi si Kerang tidak keberatan, dan malah berkata: “Take it. Its all yours.” Ternyata bukan cuma mutiaranya diambil. Dagingnya pun dimakan. Sebelum direbus, Si Kerang mengulangi kembali perkataannya.
(somehow jadi inget Puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono, dengan dua kemungkinan penafsirannya)

Ya, saya jadi ingat puisi ini.

Puisi ini adalah karya Sapardi Djoko Damono, yang pada tahun 1989 dinyanyikan oleh Ari Malibu dan Reda Gaudiamo dalam bentuk musikalisasi puisi yang indah, lalu belum lama ini juga digubah ulang oleh Dwiki Darmawan sebagai OST film Cinta Dalam Sepotong Roti.

Pertama, selamat menikmati musikalisasi aslinya, videonya courtesy of youtube.

Inilah syair puisinya:

Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat
Diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu..

Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat
Disampaikan awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada

MUNGKIN MAKSUDNYA INI?

Indah sekali kata-katanya, yang mungkin ditulis dengan makna sebuah cinta yang benar-benar sederhana.

Filsafat Yunani mengenal empat buah kata untuk menerjemahkan kata “Cinta”, yaitu “Eros”, “Philia”, “Storge”, dan “Agape”.

“Eros” adalah cinta romantis yang juga menyiratkan keinginan untuk memiliki dan dimiliki. “Philia” adalah cinta yang bukan berada dalam konteks romantis, melainkan cenderung kepada persahabatan. Tidak ada keinginan untuk saling memiliki, melainkan sudah tahu sama tahu bahwa saling bisa mengandalkan. “Storge” merujuk kepada sebuah kasih sayang yang alami datang akibat hubungan darah.

Sedangkan “Agape” adalah cinta yang bersifat lebih rohaniah dan sederhana. Altruistik. Tidak mengharapkan apapun untuk dirinya sendiri. Hanya ingin memberi.

“Ambillah. Semuanya untukmu” sesederhana itu.

Mungkin seperti itulah yang dimaksud oleh Sapardi Djoko Damono. Kayu hanya diam saja saat dilalap api sehingga kayu itupun habis dan hangus. Demikian pula awan, saat hujan turun dan sedikit demi sedikit mengikisnya menjadi habis.

Kata cinta apa yang tak sempat disampaikan oleh kayu dan awan itu ya?

“Ambillah. Semuanya untukmu.” barangkali itu.

TAPI MUNGKIN JUGA…?

Saya dulu memang suka berpuisi, tapi juga saya seorang debater. Hobi saya menganalisis secara logis. Seolah itu kurang buruk, saya pun dulu waktu SMA dan dua tahun pertama kuliah sangat mendalami matematika dan fisika –dan keduanya sangat mempengaruhi pola pikir saya secara filsafat keagamaan dalam memaknai hidup ini dan semua yang melintas di dalamnya.

Melihat puisi dari Sapardi Djoko Damono ini, mungkin saja memang yang di atas itulah yang dimaksud oleh beliau. Dan itu indah sekali dalam kesederhanaannya itu, dan sederhana sekali dalam keindahannya itu.

Akan tetapi, dengan latar belakang tersebut, saya kok menemukan makna lain ya dari puisi ini.

Api adalah sebuah hasil suatu reaksi oksidasi (pembakaran), dan hanya bisa terjadi jika ada bahan yang dibakar. Proses pembakaran menghasilkan cahaya (makanya bisa kita lihat), panas (makanya gak enak kalo diemut hehehe), dan lain sebagainya.

Satu hal yang saya sadari jika melihat api membakar kayu: Saat kayunya habis, apinya juga hilang.

Saat kayunya ditambah, itu sudah oksidasi yang berbeda dengan yang sebelumnya. Ibaratnya meneguk air untuk menghilangkan haus, lalu kemudian haus lagi, dan minum air lagi. Haus yang kedua sudah beda dengan haus yang pertama, demikian pula airnya.

“..kayu…api yang menjadikannya abu.”

Kayunya menjadi abu.

Apinya kan mati tuh. Kemana apinya?

Juga menjadi abu.

Justru abu itu adalah hasil reaksi sempurna antara api dan kayu. Secara harafiah yang paling harafiah: menyatu

Sangat sederhana:  Bukan lagi “Aku” dan “Kamu”, tapi “Kita”.

Sangat sederhana: dua yang menyatu.

Lalu awan dan hujan. Awan itu adalah air berbentuk gas. Hujan adalah meluruhnya awan, sehingga dengan adanya hujan, awannya pun terus mengecil dan akhirnya hilang karena menjadi hujan. Tanpa terkikis dan menghilangnya awan, hujan tidak mungkin datang.

Bisa saja berarti “aku menjadi kamu”. Bisa jadi ini adalah sebuah siklus, layaknya sebuah rantai makanan. Rumput dimakan oleh rusa yang dimakan oleh singa yang akan mati dan dimakan cacing untuk menggemburkan tanah dan kembali menjadi rumput. Sederhana: the cycle of life.

Bisa juga berarti “biarlah aku mati agar kamu dapat hidup”. Mungkin saja seperti seorang ibu yang wafat saat melahirkan anaknya? Mengorbankan nyawanya sendiri supaya anaknya dapat bertahan hidup, padahal sang ibu bisa saja meminta bidan untuk melakukan sebaliknya. Sederhana: ambillah, dan milikilah nyawaku. Ambillah, semua untukmu.

Bisa juga berarti “biarlah aku pergi agar kamu mendapatkan rahmat”. Walaupun kalau berlangsung dengan sangat deras dan terus menerus akan dapat berujung bencana, tapi pada umumnya hujan identik dengan rizky bagi manusia. Banyak manfaat yang datang dari hujan, misalnya Rasulullah SAW bersabda bahwa saat hujan itulah salah satu saat di mana doa tidak akan tertolak (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi).

Terutama pada kemungkinan arti yang ketiga ini, saya sangat tertarik. Saya tekankan sebelumnya bahwa saya bukan mau menimbulkan perdebatan apalagi bermaksud menghina pemeluk Katolik atau Protestan, tapi saya hanya mengutip kitab suci yang diakui dalam Islam selain Al Quran, walaupun menurut Al Quran (dan dokumentasi sejarah) kitab-kitab suci selain Al Quran tersebut tidak dijamin keasliannya. Urusan perbedaan antara kepercayaan kita, mari perdebatkan besok saja, tetapi sesuai Surah Al Imron v.64, mari kita syukuri dulu apa apa saja yang kita sepaham 🙂

Dalam Alkitab Injil, Perjanjian Baru, Book of John (Yohanes) 16: 7 , dalam terjemahan bahasa Indonesia Yesus berkata : “Tetapi Aku mengatakan yang benar kepadamu: Lebih baik untuk kalian, kalau Aku pergi; sebab kalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu. Tetapi kalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”

Sedangkan dilanjutkan lagi pada bab yang sama ayat 12-14 (dengan beberapa penekanan): “Banyak lagi yang mau Kukatakan kepadamu, namun sekarang ini kalian belum sanggup menerimanya. Tetapi kalau Roh itu datang, yaitu Dia yang menyatakan kebenaran tentang Allah, kalian akan dibimbing-Nya untuk mengenal seluruh kebenaran. Ia tidak akan berbicara dari diri-Nya sendiri tetapi mengatakan apa yang sudah didengar-Nya, dan Ia akan memberitahukan kepadamu apa yang akan terjadi di kemudian hariIa akan mengagungkan Aku, sebab apa yang disampaikan-Nya kepadamu, diterima-Nya daripada-Ku.”

Merujuk pada Alkitab versi King James, kata “Roh” pada ayat 13 di atas diterjemahkan dari kata “Spirit of truth”, di mana istilah “Spirit” merujuk pada Nabi (lihat First Epistle of John [atau Surat 1 Yohanes] 4: 1 ). Menurut berbagai ahli perbandingan agama, termasuk diantaranya Syeikh Ahmed Deedat dan Syekh Dzakir Naik, dan saya pun sepakat, yang dimaksud dengan “Sang Penolong”  dan “Roh” (atau dalam versi King James, berturut-turut “the Comforter” dan “the Spirit” alias “the Prophet”) adalah Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam.

Karena itulah, menurut kemungkinan pengertian “awan menjadi hujan” yang ketiga ini, bisa jadi dimaknai juga dengan sesederhana Isa ‘Alaihi Salaam, yang dengan cintanya kepada Allah SWT dan kaumnya, mengatakan: aku pergi, agar Muhammad SAW datang.

Ini cuma bagaimana saya memaknai puisi ini saja. Mungkin saja, bahkan sangat besar kemungkinannya, bukan seperti ini yang dimaksud oleh Sapardi Djoko Damono. Tapi saya sangat menikmati puisi beliau dengan pemaknaan seperti ini 🙂

SATU TAMBAHAN

Monggo didengarkan ini cover yang dilakukan oleh Karina Utami Dewi (Vokal) dan saya sendiri (Gitar) untuk puisi Aku Ingin.

https://docs.google.com/file/d/0B-7vIioLOo_2RVQwQTFVZFp4OEE/edit?usp=sharing

Selamat mendengarkan 🙂

And You Are A Million

 

1. Allah is indeed The One and Only in True #Perfection

2. But marking Him 10 out of the scale of 10 will not give Him justice #Perfection

3. But isn’t 10 out of the scale of 10 already #Perfection ?

4. Think of it this way. #Perfection

5. Us, humans, are failable. We are imperfect. #Perfection

6. If we are imperfect, our standards are also imperfect. #Perfection

7. And in such imperfection of standard, we come up with a maximum scale of 10. #Perfection

8. I cannot confine Him to an imperfect scale of 10. #Perfection

9. Contrary to public belief, there is no 11 out of the scale of 10. Cz a scale of 10 means 10 is the limit to our countability. #Perfection

10. (If we assume a scale of 10, that is. Works with any number, really) #Perfection

11. Anything beyond that scale is what we call ‘infinitive’, ‘unlimited’, or ‘beyond limit’. That is where Allah is. #Perfection

12. Stretch the scale to whatever, there will always be a ‘beyond limit’. Or, a ‘Beyond Limit’. #Perfection

13. Bearing in mind our imperfection, and that Allah is ‘beyond the scale of 10’. A 10 out of a scale of 10 is very human. #Perfection

14. For me, you are that 10 out of a scale of 10 🙂 #Perfection

15. And you are a million 🙂 #Perfection

 

Simple, Beautiful, and Clearly Outstanding

Simple, Beautiful, and Clearly Outstanding

Poetry: ATP

Oh kekasihku, kembalilah padaku

Jauhnya engkau dariku amat sakit

Demi Allah, engkaulah nafasku

Kian jauh engkau, kian sesak aku dalam gelap

Oh kekasihku, jangan tinggalkan aku

Tanpamu aku kian lemah

Engkaulah sumber api bagi jiwa dan ragaku

Engkaulah penghidup urat-urat nadiku

Oh kekasihku, aku makin dalam tenggelam

Bebasmu sangat jauh disana, dan dekatmu tiada melainkan terikat

Paru-paruku hampa, nadi-nadiku tak bernilai

Dengan sisa tenagaku yang nyaris tiada, lemah suaraku teriakkan namamu:

OXIGEN!!!!!!!!!

————————————————

PS: ATP punya dua singkatan: Alay Tapi Proper, dan Adenosine Triphosphate (Scientifically disingkat ATP, and yes it is very related to pernapasan. For more info on Adenosine Triphosphate  http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/biology/atp.html )

A Life Plan: Last Memoir

When all else has failed,

When all else were mistakes,

One may need a plan,

One may need a certain plan,

It is not that the dream is so far from true

It is not that the reality is too difficult

It is a simplicity in a life’s plan

It is a simplicity to easen another’s pain

To smile back at life when it doesnt matter anymore

To smile at it, far away from it

I cherished it, so glorious

I missed it, but perhaps thats all

To ride north as far as full tank petrol can last

To ride north further, as far as stamina takes me

To ride north further, as far as medications permit

To ride north further, to join the line of my people back to the begining

the end, and the infinity

The light

Poetry: Unobtainable Dream

This is a poem I made early 2009, I can not remember when was it exactly because I have lost the sheet in which I wrote it on. It was not a story of me, but inspired from a friend who fell in love with someone she simply could not ever get: a very perfect man, who never even existed.

Here goes, I found it again 🙂

——————————————————-


“To you I can not have
I have told you everything
Though you will never know
And it doesnt matter

I have you well deep enough
But nowhere real enough for me to touch
You never knew
Damn, it does matter

To you whom I can not have
I thank you for those beautiful moments we had
which you were never really there
But I prefer to believe you were

Maybe you never knew my name
But yours is painfully beautifully etched in me
Maybe you see me as the same as everyone, or no one.
But your mere shadow brings out my deepest, yet painful, smile

To My Love, whom I can never have
To My Dearest, whom I can only dream of
Death will NEVER part us
Destiny already did…….”

(Fajri, somewhere in early 2009)

Poem collections: Love Poems

Now these are the lovey lovey ones

PS about this one and the ones in the previous category, they aint all. There is quite a big stack of them. YOu know, cant be stuffed by typing em all :p

Enjoy 😀

—————————————————

Untitled

As far as distance may define
Though within the same surface
Same heart, same will
But I never wish to fly
So that I will always be there

With me and you

As if death is as irrational as life
Throughout the age of men who think and live
So will good and foul borders start to dim
By the name of God or Satan
Shame on me, for I have forseen

With me and you

And perhaps life must continue without me
Though your star-filled eyes are too fare to meet mine
So is the beauty of your very self
But love is neither here nor there
Still it stays existing for me and you

With me and you

Fajri, March 2006

**************************************
Wish

If you see the stars
Indah, bukan?
Glittering, but far up there
Jauh………….

So they do it
They wish upon a star
Entah apa yang mereka fikirkan
Entah apa yang mereka mau

Bintang yang indah
Cahaya putih cermin qalbuku
I don’t wish upon stars
I HAVE ONE

Fajri, December 2004

**********************************

Past. Present, and Future

It was he,
Alone in the dark but moving on, and

It was she,
Suddenly shining bright upon his life, and

It was he,
Who fell in love with her, and

It was she,
Who loved him too, but then she said

Jiwaku sudah menjadi milikNya, hingga nafas terakhir
Tubuhku sudah jadi milikNya, hingga tetes darah terakhir
Hidupku, mimpiku, sudah jadi milikNya, hingga air mata terakhir
Aku tak punya hak apapun untuk kuberi padamu.

Dan dia berkata…

Ya Allah,
In lan amlikaha
Fa asta’dzinuka an asta’iraha ma dumtu hayyan
InsyaAllah

Fajri, September 2007

****************************************
Untitled

Aku tiada terkira olehnya
Saat jemarinya terulur lagi
Tanpa tersadar ku sambutnya
Dan tersenyumlah,
Di balik matamulah itu

Karena dirimu bak penyakit
Rasuki darah dagingku
Makin parah kau sisipi jiwaku
Namun Cuma indah saja yang kurasa
Batinku tenang denganmu

Hati tiada pernah berdusta
Kalau kubilang cinta, itulah adanya
Meski pahit siap menyongsong
Aku tiada takut
Kau telah terjalin

Ku telah terjerat
Tiada mampu kulepas belitanmu
Tiada kehendakku tuk lakukan
Cuma indah saja yang kurasa
Tanpa sadar, maut pun tiba

Tapi syukurlah…
Mautku dipeluk hatimu…

October 2005

*******************************
Untitled

Sedih saja yang berlabuh
Padahal cintalah yang dulu berlayar
Semua anganan cinta impianku
Putus semuanya dari tali-tali asaku

Tinggallah diriku menyusun mimpi hampa
Aku tak pernah temukan siapa yang salah
Karena aku sendirilah yang tertelan kebodohan
Andai saja kau tak pergi dariku
Tetapi aku muak dengan andaian-andaianku

Apa gunanya cinta?
Indah Cuma sekejap mata
Apinya pun segera padam
Indah itu terpadamkan juga

Sisakan abu-abu hatiku saja
Semua cinta suci yang pernah ada
Semua itu rasanya begitu maya
Sesatkan aku dalam murtad cinta yang gelap

Mengapa aku terlahir dengan hati?
Apakah aku harus bangkit lagi?
Maafkan aku telah meragukanMu
Ajarkan aku ketabahan demiMu

Namun aku terlanjur hancur
Dalam kesendirian di tengah ramai dunia
Aku menatap hampa hati hampa
Dalam lubuk qalbuku yang nyaris tak tersisa
Nantikan perubahan nasib hidupku

Yah, ternyata aku mengandai lagi

Fajri, 2005

Poem collections: Miscellaneous

These are miscellaneous topics of poems I made.
I hope I wont lose them again o.O
Love poems coming up in next post

—————————————

Battle Chant of a Knight

I hide behind my shield, but I am no coward
I hold my blade firm, but I am no evil

Endless lines of them descend upon me
But a very few line with me
Weapons and warrior of all kinds lay ahead
But we have none but a shield and a blade

Then I smile, for glory is certain
All I need is three
One man on my left
One man on my right

And one dearest woman in my heart

(Fajri, August 2007)

*************************************

He who fears no fear

Far away the gray hound rides
He dreams of days of glory
A land with no blood
A land he dreamed for all times

He fights away the lioness terror
Peace may reign, but unrest he still suffers
He rules his people into prosperity
Smiles were everywhere, but not yet on himself

For a long time, he waited painfully
And after a long time, he found an answer

Far away the gray hound rides
He found that his dream land was nowhere else but in his own heart
Then he died, smiling

Fajri, 2007
********************************************

Ghuzulul Qalb

Three warriors set of to slay the Satan
Three warriors who bear might and valor

The first was distracted by a woman
They danced all night and ended up in bed
Just before sunrise, she killed him in his sleep
He lost his life, but lost more of his faith

The second was distracted by thirst
He found nothing but wine, and got drunk
Heavily wasted, he ran and attacked madly towards Satan
He lost his life, but lost more of his faith

The last one went on
Tempted by no woman, wine, but God’s promise alone
Weakened by thirst and hunger, Satan attacked
He lost his life, and Satan died with him

It was he who knew of where Satan truly was

Fajri, 2007
**********************************


Red Line

Release your mask
Upon golden tokens whom soar
Trample down the hill the big guy does
Straight ahead he goes
The underneath go scrapping, dying, burn!
Justice under the sky is no longer sure

Release your mask
For the sake of the copper medals of saviors
Trampled as if not there
Straight ahead we look
But don’t look what’s ahead

Release your mask
Upon the stains within pure faces
Trampled down though don’t know why
Straight ahead it goes
Unknown why, what, or for

Release your mask
Release your hammers upon pure hearts
The sky is reachable now but none
True love ends just by the thin layer of skin
The beauty, the passion, the spirit
All in a gun

Unknown why, what, or for
The best is worse under flags

Release your mask!!!!!

Fajri, 2000