Category Archives: Train of Thought

Drama kata “Pakai”: Apakah Umat Islam Berlebihan?

 

nyapu

 

Perdebatan Penggunaan Kata

Walaupun bukan ahli bahasa, tapi sebagai seseorang yang berpengalaman dalam berbicara dalam bahasa Indonesia sejak tahun 1994 ketika ada yang mengatakan:

Ente ga tau perbedaan ‘Dikejar kuda’ dan ‘Dikejar pake kuda’?

Jawaban saya adalah:

Kalau ‘dikejar kuda’, yang mengejar adalah kuda. Kalau ‘dikejar pake kuda’, yang mengejar adalah kuda dan pengendaranya.”

Tapi ‘syubhat’ bisa diputar dengan makna tersembunyi, misalnya “dibohongi pake cinta“. Dengan asumsi “Cinta nggak akan bohong“, maka makna kata “cinta” tadi maksudnya adalah “dengan berkedok cinta” atau sejenisnya. Syubhat serupa dalam kasus Ahok ini adalah “itu penafsirannya maksudnya, bukan Al Qur’annya.”

Tapi ini tidak pas.

Pertama, saya ingin mengajak pembaca merenungkan beda makna antara “menafsirkan begitu adalah keliru” dengan  “menafsirkan begitu adalah bohong“. Kekeliruan bukanlah sesuatu yang hakikatnya jahat, tetapi kebohongan hakikatnya adalah jahat.

Kedua, kalimat “dibohongin pake Al Maidah ayat 51” menuduh bohong (bukan keliru) pada seluruh ulama –yang menurut hadits sahih adalah penerus Rasulullah—dari zaman Sahabat hingga sekarang, dan juga Allah karena penafsiran yang digunakan banyak ulama (lihat status FB Ust. Hasan Al Jaizy membandingkan 20 kitab tafsir sepanjang masa) menggunakan analisis linguistik alias kata-kata yang ada dalam Al Qur’an.

Ketiga, yang bagi saya adalah terutama, yang dikatakan sebagai bohong adalah perkara syariat yaitu “larangan mengangkat pemimpin kafir”. Kan dengan bahasa apapun, kan aturan syariat itu yang intinya dibilang merupakan kebohongan. Padahal ini adalah salah satu bagian Syariat yang mencakup masalah fiqih (pengangkatan pemimpin) hingga perkara aqidah (tawali dengan orang kafir).

 

Kelebay-an Respon Umat?

Sebagian membawa soal “ini khilafiyah ijtihadiyah”, tapi kalangan HAM paling fanatik pun tidak akan menerima HAM ala Rusia atau Korea Utara sebagai “khilafiyah ijtihadiyah”. Jangan bilang ini tidak apple to apple sebab “Korut dan Rusia kan melakukan kedzoliman yang konkrit”, karena HAM ini hanya bicara masalah muamalah saja sedangkan Islam mencakup aqidah juga. Hanya Ulama Suu yang mengatakan ini khilafiyah ijtihadiyah. Terlebih lagi, kalaupun ini khilafiyah, ya harusnya yang berkata demikian justru bertoleransi kepada umat Islam yang tersinggung.

Tapi ada yang berkata “Yang demo berlebihan, memang Ahok agak kurang pantas ucapannya tapi merespon dengan demonstrasi adalah overreacting.” Apakah demikian?

Saya katakan tidak.

Pertama, ada sebuah alasan penting kenapa hanya korban yang boleh lapor pada pasal pasal penghinaan atau pencemaran nama baik adalah bersifat delik aduan i.e. Pasal 310-321 KUHP dan Pasal 27[3] UU ITE sebagaimana dijelaskan oleh MK. Korbanlah yang lebih berhak menilai apakah sesuatu itu menghina atau tidak, terlepas dari penilaian orang lain.

Penghinaan bukanlah perkara empiris layaknya laba-rugi atau hidup mati atau lapar haus melainkan soalan imateril yang merupakan salah satu ciri khas manusia yang memiliki hati. Ingatlah “jika aku ada di posisimu” tidak dapat digunakan di semua situasi karena seringkali “…tapi aku bukan kamu dan kamu bukan aku”.

Karena itu, relativisme dalam hal ini bisa jadi adalah hal yang sewajarnya terjadi. Bukan pada tempatnya orang menyalahkan ketersinggungan orang lain dan hukum mengakomodasi itu.

Kedua, juga ada perbedaan titik toleransi. Bayangkan jika anda melihat seorang perempuan diteriaki “dasar!”. Bagaimana reaksi anda? Tentu agak sulit menjawab pertanyaan ini tanpa penjelasan lebih lanjut. Bagaimana kalau ditambah “Dasar perempuan!”? Atau mungkin “Dasar jelek!”? Atau “Dasar wanita rendah!” Atau mungkin “dasar pelacur!”?

Kalau perempuan tersebut tidak anda kenal, dan berpakaian biasa saja, bagaimana? Kalau perempuan tersebut memang pelacur, bagaimana? Kalau perempuan tersebut teman anda tapi tidak terlalu kenal, bagaimana? Kalau perempuan tersebut adalah sahabat anda, bagaimana? Kalau perempuan tersebut adalah istri anda, bagaimana? Kalau perempuan tersebut adalah ibu anda, bagaimana?

Mungkin orang yang berbeda akan mulai merasa ikut tersinggung pada kombinasi titik yang berbeda beda, betul?

Okelah, saya terima bahwa hinaan Ahok mungkin tidak separah hinaan Syiah kepada Ummul Mu’miniin. Tapi bagaimana kalau anda saya tampar lalu saya bilang “jangan marah, daripada saya pukul 10x lho ini kan cuma sekali”? Selalu ada hinaan yang lebih parah dari yang lainnya. prinsipnya adalah hinaan.

Makin parah hinaannya makin besar kemungkinan tersinggungnya, dan makin tinggi ghirah dan kecintaan kita pada sesuatu makin besar juga kemungkinan tersinggungnya. Jadi kalau ada sampai tidak tersinggung dengan statement Ahok, simpel saja bahwa ghirah dan kecintaan anda pada Islam lebih rendah dibandingkan para demonstran.

Bisa saja ada yang tersinggung malah dengan kesimpulan saya barusan. Maknanya simpel saja, berarti dia mencintai dirinya lebih daripada Islam. Macam Nusron Wahid yang terus membela Ahok, tapi ketika disebut Nusron Purnomo langsung marah. Biasa kok, orang kan bisa punya kecintaan pada hal yang beda-beda. Ada yang punya kecintaan pada tim sepakbola, ada yang pada negara, ada yang pada dirinya, dan lain sebagainya dan bisa saja lebih dari satu. Tulisan ini tidak bertujuan menghina orang yang “mencintai Islam lebih rendah daripada para demonstran”, hanya menunjukkan saja bahwa ini fenomenanya.

Jangan salahkan kami kalau kami mencintai deen kami.

Penutup

Jika ada seseorang yang mengaku merasa seseorang harusnya tidak perlu tersinggung (dengan alasan apapun) dan tidak bisa menyebutkan 10000 saja orang yang ia ketahui juga tidak tersinggung. Dia tidak boleh lupa bahwa ada massa yang turun ke jalan diperkirakan sampai dua juta dan belum lagi sekian juta atau bahkan puluhan juta yang tidak ikut turun ke jalan tapi memberikan doa dan dukungan. Ini termasuk sebagian kalangan yang mengharamkan demonstrasi, tapi mereka pun menganggap hal ini adalah penistaan. Siapa dia merasa bisa menilai bahwa yang berjuta-juta ini adalah salah?

Tidak bisa argumen “kebenaran adalah kebenaran, walaupun semua orang menolaknya” dipakai, karena perkara ketersinggungan bukanlah soal benar-salah melainkan soal rasa.

Syariat Islam menetapkan bahwa pengolok-olok agama adalah murtad (jika dia Muslim) dan hukumannya adalah mati. Sadar kok bahwa Indonesia bukan negara Islam makanya yang dituntut demonstran bukan bunuh melainkan proses hukum sesuai hukum apa yang berlaku di Indonesia. Terlebih lagi, pengajuan tuntutan ini adalah dengan demonstrasi yang sudah terlebih dahulu dimintakan izin kepada aparat yang berwenang, dan berjalan dengan damai dan tertib.

Masa iya berlebihan?

 

Kenapa Saya Memilih IIUM (Part IV of IV)

rue-and-False-Scholars-Ulama-e-Haq-and-Ulama-e-Soo

PERTANYAAN 4: KAMU KE MALAYSIA MAU MENGEJAR “SESEORANG”?

Nah ini dia yang sangat lucu. Pertama, yang ingin saya klarifikasi, adalah bahwa sekarang saya tidak punya pacar orang Malaysia atau orang manapun yang sedang berada di Malaysia. Mungkin ada yang akan berkata kok kebetulan saya beberapa kali dalam tahun 2016 ini ke Malaysia, tapi memang kepentingannya ada. Lah wong sekali karena conference, sekali karena kebetulan transit di sana untuk penelitian. Mungkin ada ‘seseorang’ yang anda fikir adalah ‘dia’. Saya tahu siapa yang anda fikirkan, dan saya beri tahu bahwa dia lulus tahun 2016 sedangkan saya baru akan memulai kuliah bulan Februari 2017!

Yang kedua, tolonglah. Objektiflah. Model penelitian saya yang makin mengadopsi Islamization of Knowledge ya sudah lama, dan sampai sekarang sudah lumayan publikasi saya (baik akademik maupun non akademik) yang menggunakan model ini. Salah satu yang mempengaruhi saya dalam keilmuan ini adalah bukunya Muhammad Iqbal The Reconstruction of Islamic Thought yang udah coklat buduk entah berapa tahun ada di lemari bapak saya. Dan sudah hampir setengah tahun ini saya aktif dalam kelompok kajian ilmiah multidisipliner yang berlandaskan Islamisasi Ilmu Al Attas. Di sana saya sudah mempresentasikan konsep islamisasi ilmu yang inshaaAllah adalah salah satu blueprint penelitian saya ke depan, yang sebelumnya juga pernah saya presentasikan di forum Kuala Lumpur International Islamic Studies and Civilization Conference.

Setelah semua yang telah saya lakukan, semua yang sedang saya lakukan, semua yang rencananya akan saya lakukan dengan arah keilmuan ini yang pusatnya memang di IIUM. Apa ya iya kesimpulannya adalah “saya mengejar seorang cewek”? Terus terang saya merasa sangat terzolimi dengan penarikan kesimpulan seperti ini.

 

KESIMPULAN

Sebetulnya ada satu pertanyaan lagi, yaitu “apakah IIUM itu cukup credible untuk masuk ke dalam list LPDP?”. Jawabannya jelas ya, untuk bidang Agama. Dan sudah saya jelaskan di mana keunggulannya, beserta penjelasan kenapa bidang saya adalah bidang Agama (sekaligus juga bidang hukum). Akan tetapi, rasanya sebagai penutup saya ingin menanggapi pertanyaan ini dengan mengutip langsung apa yang dikatakan Reviewer LPDP atas Draft Ph.D Research Proposal saya.

KUTIPAN

 

< Back to Part III>

Kenapa Saya Memilih IIUM (Part III of IV)

briged ezzuden al-qassam

 

PERTANYAAN 3: KAMU PINDAH JURUSAN LAGI?? KOK SEKARANG JADI STUDI AGAMA? HOBI BENER BERUBAH HALUAN?

Pindah Jurusan

Saya mau ketawa kalau mendengar pertanyaan ini. Memang track record saya dalam pindah-pindah agak kurang bagus. Saya dulu cita-cita mau masuk fakultas hukum, lalu malah kuliah fisika. Eh lalu pindah ke fakultas hukum. Setelah lulus saya ada cita-cita mau jadi dosen, eh malah masuk ke law firm, eh terus belum selesai kontrak malah kepingin keluar dan balik jadi dosen. Dan sekarang ini, kok saya katanya minat dengan hukum internasional eh malah kok sekarang jadi agama Islam?

Yang pertama ingin saya sampaikan adalah bahwa tidak semua orang diberkahi dengan rencana yang matang sejak awal dia akil baligh. Terkadang ia ingin coba-coba dulu sebelum kemudian kelak menetapkan arah. Terkadang juga ia memiliki rencana lalu galau di tengah jalan, dan di tengah kegalauan itu ia bisa memutuskan untuk tegas bisa juga memutuskan untuk mencoba belok.

Ketika dia pernah mengatakan “saya tahu apa yang saya lakukan”, tentunya ini jangan diartikan sebagai orang ini sombong dan merasa tahu segalanya. Pahamilah bahwa ia melihat ilmu pengetahuan sebagai puzzle, dan maksudnya “saya tahu apa yang saya lakukan” adalah bahwa dia sudah memilih di mana mencari potongan puzzle berikutnya.

Masalahnya tidak ada yang mengetahui masa depan. Saya punya rencana sejak lama, setidaknya sejak SMA. Saya sudah punya cita-cita. Tapi namanya manusia, tentu ketika dia bertambah ilmunya masa dia tidak bertambah wawasan dan kebijaksanaannya? Dan jika sudah bertambah wawasan dan kebijaksanaannya, bukankah dia akan melihat lebih banyak pilihan yang ada dan lebih banyak melihat ada apa di balik pilihan-pilihan ini?

Dan oleh karena itu, bukan sedikit kemungkinan untuk ia memutuskan untuk either konsisten dengan rencananya atau berbelok, dengan mempertimbangkan maslahat atau mudharat dalam perjalanan hidupnya?

Terus terang saya tidak melihat bahwa saya tidak konsisten. Sejak SMA, secara konsisten saya memang ingin kuliah hukum. Ketika saya kemudian kuliah di Fisika, justru itulah penyimpangan dari goal saya. Terus terang saya galau, karena diterima hukum tapi di kampus Swasta tapi diterima Fisika (pilihan kedua, pertamanya hukum tapi gagal) di universitas negeri yang –debatably- terbaik di Indonesia. Bukti konsistensi saya adalah bahwa saya menginginkan untuk pindah ke fakultas hukum sesuai cita-cita awal. Dan nyatanya Alhamdulillah saya masih konsisten dan berkarya di bidang saya ini.

Menjadi Dosen?

Menjadi guru dan mengembangkan ilmu pun ternyata ada di darah daging saya entah berapa generasi ke belakang. Sebelum lulus saya sudah kepingin menjadi guru atau dosen. Kenapa saya kerja di law firm? Silahkan tanya semua orang tempat curhat saya, niatnya Cuma mau magang supaya ada pengalaman kerja hukum. Karena kok sekian tahun kerja pengalaman kerja saya kok non hukum.

Sangat di luar kendali bahwa ternyata ketika saya wawancara magang, malah ternyata ditawari kerja full time dengan kontrak setahun. Kenapa saya tidak menolak saja kalau saya memang tidak mau? Mungkin sulit mendeskripsikan keadaan wawancara saat itu, apalagi saya mana tahu bahwa akan mendapat kesempatan mengajar di kampus sebelum saya mendapat S2? Akhirnya atas kebaikan hati atasan-atasan saya, saya pun keluar dari law firm untuk mengajar di kampus tercinta sambil menunggu berangkat S2.

Allah sangat baik kepada saya memberikan kesempatan saya mengajar walaupun belum S2 (sebenarnya kurang cocok dengan aturan) dan mendapatkan beasiswa LPDP dengan bisa dibilang tidak sengaja. Dengan cita-cita saya sebagai dosen, apakah masuk akal jika saya saat itu menyia-nyiakan kesempatan mengajar dan berangkat S2, hanya karena “harus konsisten”?

Pertama, tidak. Itu tidak worth it. Ini cita-cita saya. Sudah saatnya saya kembali on track, dan ini kesempatan yang sangat besar yang tidak datang pada setiap orang.

Kedua, tidak. Ini bukanlah inkonsistensi. Saya kerja di law firm itulah yang inkonsisten dengan tujuan saya di awal. Justru keluar dari law firm adalah harga mahal konsistensi saya.

Pindah Jurusan Lagi?

Keilmuan hukum internasional sangat luas dan abstrak. Begitu banyak cabang-cabang dari hukum internasional yang masing-masingnya adalah bidang ilmu sendiri. Misalnya, di fakultas hukum, ada hukum pidana. Ada department khusus hukum pidana. Ada juga hukum lingkungan, dan department khusus hukum lingkungan. Nah dalam hukum internasional ada hukum pidana internasional, hukum lingkungan internasional, terus saja ada hukum HAM internasional, ada hukum ekonomi internasional, hukum organisasi internasional, dan seterusnya tapi semuanya diampu di satu department saja. Tidak mungkin satu orang diminta mendalami semuanya.

Di sinilah saya memilih untuk mendalami hukum humaniter internasional sejak sekian tahun yang lalu. Tapi kemudian datangnya Daulah Khawarij (ISIS) pada awal tahun 2014 pada konflik Suriah di tengah studi saya di Inggris membuat saya terpaksa belajar hukum Islam tentang perang. Di sinilah kemudian tumbuhlah minat saya untuk mempelajari hukum Islam.

Apakah ini pindah jurusan? Jangan begitu. Jangan sampai kita terpengaruh oleh sekulerisme buta sehingga seolah-olah dianggap Agama Islam segitu irelevannya dengan hukum. Studi hukum Islam ada dalam berbagai universitas di dunia ini termasuk UGM dan bahkan universitas barat termasuk SOAS yang dalam namanya saja sudah “Oriental Studies”. Kadang dia dipelajari dengan jurusan dengan nama lain misalnya fiqih, ushul fiqih, syariah, Islamic jurisprudence, dan lain sebagainya. Erat sekali hubungan antara Islam dan Hukum Islam, buktinya antara lain di Surah Al Maidah ayat 44, 45, dan 47 (cari sendiri lah ya kalo nggak tau isinya).

Hukum humaniter internasional adalah salah satu disiplin hukum internasional yang sangat berkembang, dan interaksinya dengan fiqhul jihad atau hukum perang dalam Islam. Fiqhul jihad ini adalah termasuk dalam hukum internasional dalam Islam atau disebut Al Siyar, sebagaimana dituliskan dalam Kitab Siyaar Al Saghir oleh Imam Syaibani, Islamic Law of Nations oleh Prof Majid Khadduri, Muslim Conduct of State oleh Dr Muhammad Hamidullah, dan lain sebagainya. Dr Naheed Samour dari Humboldt University Berlin menulis di European Journal of International Law dan juga Jean Pictet salah satu tokoh besar International Committee of the Red Cross menulis dalam bukunya Development and Principles of International Humanitarian Law betapa hukum Islam sangat sarat kontribusinya dalam hukum internasional antara lain dalam hukum humaniter internasional.

Penelitian ke arah harmonisasi hukum sangat penting di sini, apalagi kita berbicara dua peradaban berbeda yang sedang “berbenturan”. Bagaimana caranya melakukan harmonisasi hukum? Harmonisasi inilah inti penelitian saya, dan alat yang saya pilih untuk pelajari adalah Islamisasi ilmu bukannya ilmuisasi Islam (hermeneutics). Makanya, nyambung kan?

Ini masih jurusan yang sama kok. Saya masih konsisten, dan dalam konsistensi ini saya terus memperkaya dan mempertajam arah keilmuan saya.

 

< Back to Part II ………………………….. Proceed to Part IV>

Kenapa Saya Memilih IIUM (Part II of IV)

Naquib Al Attas

 

PERTANYAAN 2: LANTAS KEUNGGULAN APA YANG SEGITUNYA DIMILIKI IIUM SAMPAI KAMU MEMILIHNYA?

A Clash of Civilizations

Kebanyakan universitas di barat menggunakan hermeneutics dalam studi keagamaannya. Pada prinsipnya, teks agama dianggap sebagai sebuah dokumen sejarah yang memiliki keterbatasan sebagaimana karya manusia lainnya. Dulunya ini dipakai untuk mempelajari Alkitab (Nasrani). Dalam agama Nasrani, Alkitab itu adalah tulisan manusia yang terinspirasi oleh Tuhan (Divine Inspiration). Sehingga walaupun inspirasinya dari Tuhan, tapi kepala yang menuangkannya dalam teks Alkitab adalah manusia yang tidak bisa lepas dari bias konteks social budaya dan sejarahnya.

Masalahnya dalam Islam, posisi kitab suci Al Qur’an bukanlah Divine Inspiration melainkan The Literal Words of Allah. Sehingga teks Al Qur’an tidak akan memiliki bias social budaya dan sejarah sebagaimana jika teksnya dibuat oleh manusia. Keterikatan terhadap konteks social budaya dan sejarah tentu tidak dapat dikaji dengan cara yang sama dengan kita mengkaji alkitab.

Tulisan ini tidak dibuat untuk memperbandingkan agama, mana yang benar mana yang salah. Forumnya lain nanti. Tapi setidaknya, dengan landasan asumsi yang berbeda seperti ini, bukankah jadinya kedua agama ini tidak dapat dikaji dengan menggunakan alat yang sama?

Belum lagi kecenderungan metode ilmiah barat yang sarat materialisme yang hanya menerima objek kajian berupa apa-apa yang dapat diamati secara empiric alias 5 indera. Agama hanya dilihat sebagai sebuah kenyataan sosiologis yang ada di masyarakat. Bukannya saya mengatakan bahwa empirisme itu salah. Tergantung objek kajiannya, kita butuh pengkajian empirik. Yang salah adalah ketika kita mengkaji Islam secara empirik, padahal dalam hubungan manusia dengan Rabb-nya sarat dengan aspek aspek metafisis dan ghaib. Bukankah ciri pertama orang bertaqwa yang disebut dalam Al Qur’an adalah:

… ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib….”?

Doesn’t make sense?

Tidak bisa diamati? Betul demikian, jika kita menggunakan tools yang salah. Masa mau menggunakan metode empirik untuk mengamati perkara ghaib? Bahkan kita tidak bisa lho membuktikan bahwa 1 + 1 = 2 secara empirik, lah wong itu adalah berdasarkan konsensus. Orang hukum mengenal juga penelitian normative atau doctrinal yang mana alat analisisnya adalah deduksi, dan ini adalah salah satu bukti bahwa empirisme tidak bisa menjadi satu-satunya alat dalam mencari kebenaran.

Masalahnya, perbedaan dari kedua cara pandang ini begitu fundamental karena hidup akan dipandang dengan cara yang berbeda: scientification of Islam vs Islamization of science. Dan tolong jangan bilang “agama itu kan urusan masing-masing”, karena nyatanya bukannya tidak ada kajian-kajian agama yang secara ontologis dan epistemologis turut mempertimbangkan unsur-unsur metafisis dari ilmu. Jangan juga bilang “mengkaji agama harus objektif”, karena objektivitas macam apa namanya kalau agama punya unsur metafisis tapi ngotot maunya mengkaji secara empirik?

Lah wong di masa keemasan Islam yang banyak berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan, tidak sekuler kok nafas ilmu yang dikembangkan. Sayangnya dihancurkan secara fisik oleh pasukan Mongol, kemudian peradaban barat yang menjadi sekuler karena trauma dengan intervensi gereja yang mengembangkan ilmu.

Nah epistemology keilmuan Islam ini tidak mati, bahkan konsep Islamic World View makin berkembang pesat. Mungkin dia terasa sangat asing, barangkali karena kita yang terpuruk setelah ratusan tahun penjajahan yang mensekulerkan habis ilmu kita dan mereduksi agama menjadi sekedar ritual dan KTP saja. Mungkin juga karena kita begitu terpukau dengan “bule-isme” sehingga apapun yang berbau non-bule seakan kok lebih unggul, padahal kita nggak tau juga masalahnya apa.

Syed Naquib Al Attas

Tokoh besar abad ini untuk Islamic World View dan Islamization of Knowledge. Betapa besar karyanya dalam studi peradaban Islam, yang termaktub dalam banyak sekali buku dan bukan hanya itu.

Organisasi Kerjasama Islam pada tahun 1983 mendirikan sebuah universitas dengan tujuan Islamisasi ilmu sebagai penunjang peradaban Islam, dan Syed Naquib Al Attas langsung yang menginkorporasi konsep Islamisasi ilmu sekaligus menjadi direktur pusat studi peradaban Islam (ISTAC). Universitas ini adalah IIUM.

Ayah saya seorang peneliti senior di BPPT. Sudah banyak makan asam garam lah soal penelitian. Bukannya saya tidak tahu sebelumnya, tapi saat beliau yang mengatakannyalah yang membuat nempel di kepala. Beliau berkata pada saya bahwa dalam sebuah studi S3, yang penting adalah mengembangkan tools untuk kita meneliti.

Karena itulah. Jika saya ingin menggunakan Islamization of knowledge dan Islamic World View sebagai tools penelitian saya, tentu saya harus langsung mencari pusatnya di mana tools ini dikembangkan dan mengejarnya ke sana.

 

< Back to Part I ………………………….. Proceed to Part III>

Kenapa Saya Memilih IIUM (Part I of IV)

IIUM

 

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh

Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin, bersama dengan ini saya ingin menyampaikan sebuah kabar gembira. Bukan, bukan nikah, karena untuk satu itu masih jihad fi sabilillaah jadi mohon doanya ya. Mungkin sebagian dari anda sudah mengetahui bahwa saya telah diterima di program Doktoral Ilmu Hukum di International Islamic University of Malaysia (atau juga dikenal Universitas Islam Antarbangsa). Diterimanya ini sudah relative lama, barangkali April atau Mei 2016. Tapi saya tidak mampu kalau disuruh membiayai kuliah saya sendiri.

NAH, kabar bagusnya adalah bahwa saya berhasil lulus beasiswanya. Segala Puji hanya untuk Allah ‘Azza wa Jal, Rabb semesta alam! Alhamdulillah, saya inshaaAllah akan melanjutkan dengan beasiswa LPDP, yaitu yang dulu membiayai kuliah S2 saya.

Saya sangat berterima kasih atas doa dan dukungan dari semuanya. Terutama sekali Ibu, Bapak, Adik, dan Nenek saya. Juga tentu kucing kucing saya yang mungkin tidak berperan apapun tapi gemath. Barangkali khusus ingin saya sebutkan adalah mereka yang telah memberikan surat-surat rekomendasi yang memungkinkan saya mencapai semua ini:

Rekomendasi Untuk Aplikasi Ke Berbagai Universitas

  1. Prof. Dr. Sigit Riyanto, S.H., LL.M., (Fakultas Hukum UGM)
  2. Prof. Dr. Marsudi Triatmodjo, S.H., LL.M. (Fakultas Hukum UGM)
  3. Prof. Alan Boyle (Law School, Edinburgh University)
  4. Dr. Stephen Neff (Law School, Edinburgh University)
  5. Ustadz Ridwan Hamidi, Lc., M.PI., M.A. (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia Cabang Yogyakarta)

 

Rekomendasi Beasiswa Sheikh Humaid bin Rashid (walaupun tidak diterima)

  1. Prof. Dr. Sigit Riyanto, S.H., LL.M (Fakultas Hukum UGM)
  2. Dr. Syamsuddin Arif (INSISTS)

Rekomendasi Pengajuan Universitas Non-List LPDP

  1. Prof. Dr. Sigit Riyanto, S.H., LL.M (Fakultas Hukum UGM)
  2. Prof. Dr. Abdul Ghofur Anshori, S.H., M.H., (Fakultas Hukum UGM, Pensiun)
  3. Prof. Ir. Ari Purbayanto, M.Sc., Ph.D (beserta jajaran stafnya, Atdikbud RI di Kuala Lumpur)

 

Setelah saya mengucapkan terima kasih, saya juga ingin menyampaikan klarifikasi. Banyak sekali ternyata yang mempertanyakan pilihan saya untuk melanjutkan S3 di IIUM atau mempertanyakan bidang yang saya tekuni. Alhamdulillah, pertanyaan-pertanyaan ini semuanya adalah dari orang-orang yang mempercayai, menyayangi, dan menilai saya dengan sangat tinggi. Semoga Allah melindungi saya dari kekurangan-kekurangan saya yang belum ditampakkan kepada mereka.

Berikut ini adalah beberapa klarifikasi yang hendak saya sampaikan terhadap pertanyaan-pertanyaan ini.

PERTANYAAN 1: KAMU S2 DI INGGRIS, DI SALAH SATU UNIVERSITAS TOP DUNIA. KOK TURUN DERAJAT JAUH SEKALI?

Studi Banding?

Di Jepang sana ada sebuah universitas yang didirikan oleh PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) namanya United Nations University. Mereka menawarkan beberapa program studi master, doctoral, atau non-degree, untuk beberapa hal terkait ekonomi dan human development. Lalu di Costa Rica juga ada University for Peace. Walaupun namanya agak alay, tapi dia juga adalah universitas bentukan PBB yang menawarkan banyak program studi terkait konflik dan perdamaian serta hukum internasional.

Jika saya berkuliah di sana, feeling saya mengatakan bahwa tidak akan ada yang berkomentar “kok turun derajat?” Padahal, kedua universitas ini tidak ada di peringkat dunia manapun. Padahal mereka sudah lama sekali berdiri (UNU 1973 dan UPeace 1980). Tentu karena ada sebuah keunggulan besar yang yang dimiliki oleh universitas-universitas tersebut yang sangat worth it, terlepas dari perinkat dunianya.

Memahami Peringkat

Penelitian saya adalah berbidang Islamic law. Karena itu, tentu saja saya akan menginginkan sebuah universitas yang terkenal dalam studi keagamaan Islamnya walaupun peringkat dunianya rendah. Mungkin jadi pertanyaan: kenapa tidak bisa mendapat substansi yang bagus, DAN peringkat dunia yang tinggi sekaligus?

Jawabannya adalah sesuai yang diajarkan oleh ayah saya: harus open mind.

Apa sih tujuan peringkat dunia bagi kami-kami yang mencari tempat kuliah? Ya sebagai salah satu cara untuk membantu melihat mana perguruan tinggi yang baik dan mana yang kurang baik. Jika saya close minded, maka saya akan melihat peringkat ini mutlak saja. Untuk apa saya coba daftar selain universitas peringkat-peringkat tertinggi?

Tapi ternyata dunia ini begitu luas dan kaya. Banyak program studi yang sangat bagus di sebuah universitas yang peringkatnya rendah, dan bukan tidak mungkin ada program studi yang tidak recommended di sebuah universitas yang peringkatnya tinggi.

Saya sudah merasakan berada di sistem pendidikan yang menilai semuanya dengan angka dan peringkat (kuantitatif), yang saya rasakan sangat tidak adil. Dalam peringkat universitas juga sama ternyata. Apakah ada yang bisa menyangkal keunggulan studi aqidah, fiqih, dan ilmu hadits, di Madinah University atau Al Azhar Kairo? Tentu tidak, walaupun ternyata menurut webometrics dan lainnya peringkat dunia mereka rendah.

Apakah lantas saya mengatakan bahwa Islamic Studies di Oxford atau Harvard adalah jelek? Tidak juga. Mereka memiliki perspektif masing-masing, tentu.penelitian saya, tentu saya harus langsung mencari pusatnya di mana tools ini dikembangkan dan mengejarnya ke sana.

 

 

<To Be Continued to Part II>

King of the Hill

Every hill has a King.

Every King should have a Queen.

Every King should have a heir.

Every heir will become a Young King.

Every Young King will want to rule over a hill.

Every Young King starts weak, though.

Every Young King must learn from the Old King.

Every Old King has a headstart of knowledge.

But of the future? They are equally clueless.

The Old King can teach a lot, but not everything.

The Old King grows older and older.

The Young King is now ready to be a King.

But the hill is ruled by the Old King.

 

And there can only be one King of the Hill.

 

What choice does the Young King have, other than to leave the Old King’s hill and find and rule another hill?

And once the Young King has a new hill, he will rule it.

 

When a King rules a hill, he will defend it against attacks from other Kings.

 

Including attacks from the Old King.

 

The Young King shouts from the top of the hill,

“This is MY hill, and the Queen is MINE to choose.”

 

The Old King snarls,

“I have given you freedom in many other things. But I dont approve of this.”

The Young King brandishes his sword,

“I thank you for all you have done to prepare me.”

“But since I was ready, all my freedom was no longer yours to give.”

“I have taken this hill, and this hill is MINE.”

The Old King also brandished his sword,

“I should not have let you leave.”

The Young King smiled,

“If I did not leave, Old King, would we not find ourselves in this situation also, crossing swords?”

“I am now a King, whether you accept it or not, whether I leave or not.”

“And we both know that there can be only one king of the hill.”

The Old King snarls and clutches his sword tighter,

“So it will have to come to this, eh, your sword and mine.”

The Young King shakes his head, but grasp on sword no less tight,

“Not if you can just accept the reality and walk away.”

“This. Hill. Is. MINE.”

 

(Fajri, 2016)

Now its mine

Now its mine

MEMANGNYA KAMU ALLAH?

Kelihatannya banyak orang yang gagal paham beda antara (a) sok menempatkan diri sebagai Allah, dan (b) beriman pada sebuah kitab yang dipercaya turun dari Allah dan berusaha untuk sekedar menyampaikan isinya.

Mudah sekali ketika seseorang mengatakan “perbuatan X adalah perbuatan dosa!” atau “ajaran Y ini adalah ajaran kafir”, asal saja ada pihak lain yang bilang “kamu siapa, kok sok main Tuhan?”. Padahal seseorang itu sekedar menyampaikan apa yang eksplisit tertera dalam kitab suci, atau merupakan penafsiran yang mengikuti kaidah-kaidah yang dikenal dan diterima dalam kerangka agama tersebut. Bukan berarti penafsiran itu pasti benar. Tapi penafsiran (sesuai kaidah) bukan berarti main Tuhan, sebagaimana seorang hakim ketika menafsirkan hukum dia tidak dianggap sok menjadi legislatif. Orang hukum mestinya paling paham akan hal ini.

Masalahnya kita dihadapi dengan pendidikan campur campur antara lain kuliah Pengantar Ilmu Hukum yang menyebut Norma Agama dan Norma Hukum sebagai dua norma yang terpisah. Padahal ada beberapa agama yang menerapkan aturan hukum sebagai bagian integral dalam agamanya, antara lain Islam dan Yahudi. Apalagi, kita memahami teori-teori hukum tergeneralisir sebagai fenomena sosial yang berubah seiring zaman sehingga untuk memahami teori hukum harus mengamati juga keadaan si pembuat teori vs perkembangan zaman.

Bukannya hukum agama sekaku itu. Dalam Islam, tentu saja ada ruang ijtihad berdasarkan maslahat. After all, dalil dalil ahkam sebetulnya tidak mendominasi keseluruhan materi Al Qur’an dan As-Sunnah, dan sebagiannya pun ada yang terbuka untuk ijtihad sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Tapi jika kemudian jika pihak lain ini ketika mengaku Muslim lalu mendapati sebuah aturan yang dianggap bertentangan dengan norma dan keadaan yang ada sekarang, ini sangat menarik.

Saya kesampingkan dulu pertanyaan apakah si pihak lain ini betul-betul paham mana ranah yang terbuka untuk ijtihad, atau apakah mereka merasa bahwa Allah itu tidak mengetahui apa yang akan terjadi sekarang. Karena intinya, mau dibahasakan apapun, sebuah vonis umum “ajaran Islam yang nggak sesuai zaman harus direvisi” secara logis hanya dapat bermuara kepada satu pertanyaan dari saya:

MEMANGNYA KAMU ALLAH?

BALADA HARI TUA: KEMARIN OH KEMARIN

Sebut saja namanya X. Sejak kecil dia sudah memiliki passion terhadap matematika. Hidupnya selalu sulit. Selain kemiskinan dan orangtua yang kacau, dia tidak pernah punya teman. Di satu sisi ia sulit bergaul dan tidak ada juga orang yang suka pada geek matematika kecuali saat ujian. Di sisi lain, hatinya selalu kosong tanpa kawan.

Tahun demi tahun, akhirnya saat SMA ia gabung klub matematika. X mulai merasakan indahnya bersosialisasi dengan teman seminat, dan sebagai yang paling jago ia pun dihormati. Semua guru dan kawan selalu menyebutnya pertama jika ditanya siapa yang jago matematika. Tetap saja semua ini hanya atas dasar kebutuhan, tapi hati X mulai senang. Ia merasa dibutuhkan.

Ia mulai kuliah di jurusan matematika terbaik di negaranya, lalu ia langsung loncat ke Ph.D di universitas terbaik dunia. Ia dikenal karena mampu membuat model matematika tiada duanta untuk menyelesaikan beraneka ragam masalah manusia. Orang komputer, fisika, biologi, sosiologi, psikologi, semua mencarinya. Semua membutuhkannya.

Hanya ada satu masalah. Model matematika yang ia temukan ini amat sangat sulit untuk dipahami, bagi orang lain yang ingin belajar akan butuh waktu yang amat sangat lama. Akan tetapi, jika sudah dipelajari sempurna, model tersebut akan mudah dan akurat sekali memecahkan masalah masalah beraneka ragam disiplin ilmu lain. Tentu tiap masalah solusi matematisnya akan beda, tapi mengikuti model buatan X maka mudah sekali menyesuaikan. Andaikan berhasil dipahami.

Sayangnya selama puluhan tahun, hanya X yang paham betul model ini. Ratusan orang mempelajarinya tapi tidak bisa sesempurna buatan X. Karena itulah, banyak sekali orang yang bisa melakukan model X tapi versi kw. X sendiri tetap dicari cari orang bukan hanya untuk mengajarkan karyanya di berbagai kuliah maupun seminar, melainkan juga untuk mengaplikasikan model matematika tersebut dalam penelitian penelitian pihak lain. Pamornya sangat tinggi, dan ia sangat terkenal humble. Ia tidak mematok harga tinggi untuk jasanya. Ilmu pengetahuan berkembang pesat berkatnya.

Tahun demi tahun berlalu, X semakin tua. Masih belum ada yang bisa menirukan kesempurnaan model matematika X. Akan tetapi, orang orang mulai meninggalkan usaha mempelajari model X. Muncullah model Y yang jauh di bawah model X, tapi kualitasnya menyaingi model X kw 1 buatan murid-murid X –tapi lebih mudah dipelajari. Mudah sekali untuk pragmatis. Model X kw makin ditinggalkan, dan pasar pun meninggalkan model X juga. Mereka ingin investasi dengan model yang lebih terjangkau akal generasi mudanya, jadi jika X sudah tidak ada maka mereka sudah terbiasa tanpa X.

Satu persatu tawaran mengajar mulai menghilang, tawaran proyek pun mulai berkurang. Hati X yang selama ini diisi dan dihidupkan oleh “rasa dibutuhkan” kini mulai perlahan lahan kian kosong. Semakin sedikit yang membutuhkannya, dan semakin banyak yang tidak membutuhkannya. Hingga suatu hari, universitas tempatnya bekerja sudah mengurangi jatah mengajarnya dari satu mata kuliah menjadi satu kali kuliah umum per semester. Tiap kuliah itu, setidaknya separuhnya habis olehnya mencela model Y dan orang orang yang berhenti mempelajari model X. lalu tahun berikutnya, sekali per tahun. Itupun bukan khusus untuk membahas model X lagi. Dan X pun tahu bahwa ini pun hanya karena mereka merasa tidak enak kalau sama sekali tidak mengundang beliau.

Ia pun berhenti menerima telpon, email, atau bahkan kunjungan dari pihak universitas. Ia sakit hati.

Malang sekali sang ketua jurusan matematika. Ia ada di waktu dan tempat yang salah. Kemarahan X hanyalah buah frustasi saja. Rasanya baru kemarin sekretarisnya bingung mengaturkan jadwal karena begitu banyaknya permintaan. Rasanya baru kemarin ia sampai kebal jetlag karena begitu sering bepergian ke berbagai belahan dunia. Rasanya baru kemarin.
Kini sekretarisnya itu sudah bekerja di tempat lain. Dan sang ketua jurusan matematika berjalan pergi dari pintu rumah X, dengan kemeja ternoda kue yang tadinya ada di tangan X.

Dari jendela X memandangi beliau pergi, wajahnya juga sedih. Apa yang baru saja dilakukannya? Mantan mahasiswanya itu mungkin saja datang hanya karena tidak enak saja, tapi hati mahasiswanya itu masih terpanggil untuk datang dan ia malah mengusirnya. Padahal bisa jadi sang ketua jurusan itu adalah orang terakhir yang masih memperdulikannya.
Apa kesalahanku, pikirnya. Kenapa semua orang memperlakukanku seperti ini? Kenapa aku tidak diperdulikan lagi? Kenapa aku tidak diinginkan lagi?

Dua hari kemudian X masuk ke sebuah panti jompo. Tiga hari setelahnya ia masuk rumah sakit jiwa karena depresi berat. Seminggu kemudian ia ditemukan meninggal di kamarnya. Pergelangan tangannya tersayat, dan di tangannya ditemukan kertas berisi tulisan yang jelas sekali adalah tulisan tangannya sendiri.

Bunyinya:
“Rasa kehilangan hanya akan ada jika engkau pernah merasa memilikinya”

PS: kisah ini murni fiktif. Kesamaan plot atau nama adalah unsur ketidaksengajaan.

 

This Is My Manhaj

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

InshaaAllah, I am a Muslim. One of the ahlus sunnah wal jama’ah. I believe in Allah ‘Azza wa Jal as the Only One worthy of worship, one who revealed the Tawrah, Zaboor, and the Injeel. I believe that Adam ‘alayhis salaam, Ibrahim ‘alayhis salaam, Musa (Moses) ‘alayhis salaam Dawuud (David) ‘alayhis salaam, Sulayman (Solomon) ‘alayhis salaam, and ‘Isa (Jesus, putting aside the controversies in the translation of Aramaic) ‘alayhis salaam, are His messengers. And I believe that Muhammad bin Abdullah salallaahu ‘alayhi wa sallam is His final messenger, the one whom Allah revealed the Qur’an to.

I put the salaafus shaaleh as the next best persons after the anbiya. They are Abu Bakar ash-Shiddiq, ‘Aisha binti Abi Bakr, Umar ibn al-Khattab, Uthman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Fathima binti Muhammad, Abdullah ibn ‘Abbas, Bilal bin Rabbah, Mu’awiyah ibn Abi Sufyaan, and so many others who are too many to mention, radhiallaahu anhuma.

But what does this mean? What kind of ‘creed’ or ‘madzhab’ or ‘ideology’ do I follow? How do I see my religion? InshaaAllah these are a few pointers of how I understand my religion. I am still and will always be learning, so this may be updated throughout time.

Here goes.

Contents:

  1. Tawheed
  2. The Qur’an and Sunnah
  3. Marriage
  4. Frequently Asked Questions

=====TAWHEED=====

Allah is One in Creation (Rububiyah)

I believe that Allah is the One and Only who created and sustains his creation. All depend on Him and He depends on none. Nothing can come out of nothing, which is true both in Islam as Allah says in Surah at-Thuur, as well as in Greek philosophy of logic. When one reproduces or manufactures, usually the term ‘created’ is used. When one feeds the other, usually the term ‘sustain’ is used. However, these are socially meant to refer to utilizing what Allah has provided and even then is by permission of Allah.

Many atheists or other kafiruun are deluded. Many claim that there is no need to have a God or a religion. Such a statement implies that the existence of God and religion is subject to human necessity. The truth is that Allah exists and He has shown the rightful religion. The question is whether or not we want to accept this reality. Similar logic is used by atheists on the matter of hell and heaven. Is it good to use a concept of reward and punishment? Some criticize the concept of heaven and hell because it is not good to direct people to commit good deeds due to personal interests like this. However, the truth is that heaven and hell exist wherever you like it or not.

Allah is One in Deserving Worship (Uluhiyah)

This is a refutation towards the mushrikeen, and probably the main message of all the Messengers of Allah. We shall not worship anything other than Allah. However, sometime the problem of shirk (ascribing partners to Allah) is more subtle. It can be as obvious as worshiping a potato, it can also be in a very subtle way such as committing good deeds but as a ‘show-off’ to other people ‘mankind’. Therefore it is very essential for us to know Who to worship as well as to purify our intentions. We need to understand what ‘worship’ means in our religion, and how to do it.

Then there is this question of tawassul or using intermediaries in seeking prayers. Is this an act of shirk? Using living and pious persons as waseela is permissible, I have not found difference opinion on this. But how about making tawassul to Prophet Muhammad s.a.w. after he died? There does seem to be a difference of opinion on this matter. I incline more to follow the opinion that prohibits it, but I have hard time to believe that it is a blanket act of shirk because so many great scholars of Islam say that it is permissible. Some use Az-Zumar ayat 3 to convincingly argue that tawasul is an act of shirk, it is just too obvious to miss if this ayat is really meant to refer so.

 

Allah is One in His Names and Attributes (Asma wa Sifaat)

-Understanding the Names-

It is very important for us to understand Allah’s Names and Attributes. Rasulullah s.a.w. said that those who have memorized Allah’s Good Names (Asmaaul Husna) and lives by them will enter jannah. It is imperative that we do our best to learn them, and more than just knowing them and how they translate in our native language. We need to understand them deeper to fully understand it’s meaning. Because Ar-Rahman is not simply “The Most Merciful” (like, if that is how we translate Ar-Rahman, what is the difference with Al-Ghaffar then?) etc. There are deeper understandings of these Names and Attributes, and if we truly understand them then it would change the way we see life.

-Literalism and Metaphorism-

The Salafi and the Ash’ari scholars differ in understanding certain things attributed to Allah. When Allah says that He sits (istiwa) on The Throne, does it literally mean that He is sitting on a Throne? It is a long standing debate between the ‘Salafis’ and ‘Ash’aris’, and there are very strong arguments and great scholars on both sides.

I personally incline to follow the stance of the Salafis, as it seems closest to the proper understanding of the Salafush Shaaleh. In ayats pertaining to Allah’ attributes, I take them literal but in a way that is not similar to that of the creation. Like how Allah is Sitting on the Throne. I leave the word ‘istiwa’ as it is, because Allah chose that word. How? We dont know how exactly, but we know that it is in a way not similar to how the creation sits, and in a way that befits His Majesty. And, as Imam Malik r.a. says, to ask about it to others (to test them) is bid’ah.

Despite so, I simply cannot say that this makes the Ash’aris deviant. There are very great scholars on their side. I believe that this difference is just a small one in the very vast body of Islamic aqeedah, which should not make them break brotherhood. And, certainly, one cannot put the Ash’aris as “ahlul bid’ah” in the same way as we do the Shi’a, Khawarij, and the likes.

 

=====THE QUR’AN AND THE SUNNAH=====

Understanding the Message

It is my belief that the Qur’an is Allah’s Words, and that the authentic narrations from Rasulullah s.a.w. should be followed as it is Allah’s command that we should follow His Messenger’s words. How do we understand them, though?

I reject the hermeneutic method, which assumes that texts are tied to their historical context and may need to be reformed to adjust to modern needs. Hermeneutics is used in Christianity, for obvious reasons: Christians believe that the bible is written under divine inspiration. This means that the writer was inspired by God (according to their belief), but they write as a human being. Therefore the writings are to be analyzed like any other texts: cannot be free from the socio-historical context, therefore hermeneutics would fit them.

However, the Qur’an is a divine revelation. This is Allah’s Words, down to the letter. Allah, unlike a human, is not tied to socio-historical contexts. Hermeneutics would therefore strip the divine authority of the Qur’an and Sunnah, which are fundamental and paramount to the Islamic belief. This is not just wrong, it is also an insult to Allah!

It is my belief that whatever Allah and Rasulullah s.a.w. commands, we should follow to the letter. It does not make sense that we interpret in such a way that it (a) contradicts the apparent meaning of the text, or (b) defeats the general purpose of the texts. There is nothing wrong with literalism (this is a Christian problem, not Muslims’). What is wrong is when one does not understand the text holistically and with other sources.

It does not make sense that we infer meanings from any irrelevant sources. This is the mistake of people saying that, for example, Muslims can say merry christmas because “Islam teaches tolerance.” Or, as another example, “no need to keep the beard and avoid isbal” (putting aside the khilaf in fiqh), because “Islam should be taken moderately”. Yes Islam teaches “tolerance” and “moderation”, but of course those words are to be understood in Islamic terms. Not our own, which are imported from non-Islamic sources.

This is why the first thing we should look at would be text themselves. The Qur’an and Sunnah contains words, which in themselves have meanings. This is also why the Arabic language is essential because translations never do justice to any word. On many occasions, the Qur’an and Sunnah explain themselves in different parts, or also explain each other. We need to see them as one package. These are the primary tools to understand the Qur’an and Sunnah.

In their absence, we should resort to the understanding of the Salaafus Shaaleh. In the first place in this group are certainly the Sahabah. They understand the Qur’an and Sunnah from the Master himself, i.e. Rasulullah s.a.w.. Sometimes we know that some Sahabah rank higher than others in understanding, such as how we prefer Abdullah ibn Abbas r.a. than Abdullah ibn Umar r.a. when they differ in opinion. Then we go to the next generation, then the next. Yet, we know that it is not impossible that they make mistakes. The only human free from fault is Rasulullah s.a.w., so others may be very very competent but we must bear in mind that they are never perfect while we give our utmost regard and respect to them.

Only then, in absence of all the above, we move to the scholars that come after.

The Question on Madzhab of Fiqh

For many years of my life, I was educated with the basic fiqh of the Shafi’i madzhab. Indonesia, where I live, mostly (except for some cases) applies the Shafi’i madzhab. Therefore, by default I follow the teachings of the Shafi’i madzhab. Not necessarily following the rulings of Imam Shafi’i himself, but also rulings of medieval and contemporary scholars who follow the method of uhul al-fiqh developed by Imam Shafi’i.

However, I try my best to learn fiqh and ushul al-fiqh. So whenever I find another opinion which is stronger in its basis, I would try my best to leave the ruling I previously followed and prefer that stronger one. This is without any disrespect to the scholars who’s opinions I choose to not follow.

This is not to suggest that everyone should become a mujtahid, but it is to say that it is the duty of a Muslim to learn about her/his religion and act upon what has been learned. While nobody (except the Prophet s.a.w.) is free from flaw, but one must not speak beyond their knowledge. It is utterly stupid when some Muslims only learn Islam from their average school (1x a week, 90 minutes tops), then suddenly they criticize the great scholars because “as far as I know, that is not what Islam teaches”.

It is understood that although the Shari’ah is forever valid and not changeable, there are many parts of the Shari’ah that is not set in stone. Rather, there is room for masalahat (public necessity) consideration where only general guidelines are set so that mankind can adjust to their needs. This does not justify hermeneutics, or any interpretation that defeats the plain meaning of the text, except if there is another understanding that is very well justified also by the text.

 

The Question of Reduction and Innovation from the Sunnah

-Reducing the Sunnah-

In this sub-subsection this I speak of the ‘liberal muslims’. They claim to be Muslims but whatever they dislike from Islam they say “it’s a different time now, so this rule is irrelevant”. I have briefly mentioned the flaws of the hermeneutic method, but this part is about something else. Some people just have a thing using personal comfort and preferences to select what is right and wrong. Something that is unfamiliar to them is, by default, wrong, and no argument (despite correct) could deter them from it.

For example, the matter of jilbab for women. Many claim that “this is Arabic culture, and we are not Arabs. There is no need to adopt Arabic culture.” First of all, this is not true. When the ayat that commands women to use hijab was revealed, we find authentic hadeeth showing that immediately Muslim women find something to cover their heads. This means that women previously did not wear the jilbab. But second of all, its not about whether this is true or not. Very often I find that those who say “this is Arabic culture!” actually do not know! They just make a random assumption from thin air.

Rasulullah s.a.w. said that whoever dislikes the sunnah is not part of the ummah. Also, those who lie in his name will find a seat in hellfire.

I am strongly against this kind of mindset.

-Innovation of the Sunnah-

The question of bid’ah is a very difficult one. It is clear that Rasulullah s.a.w. mentions that all acts of innovation (for matters of worship) are prohibited. Therefore, for me, when someone tells me something about an act of worship, it is their burden to prove that it has authentic basis (so a dha’if hadeeth cannot be a good basis). Or at least, for starters, if there is a major scholar who says it (not that they are certainly correct, but they are more likely to have a basis or at least we know where to look).

All scholars agree that there are acts of bid’ah in worship that are prohibited, however they differ in the scope of ‘worship’ from which bid’ah may not be done. This is beyond my knowledge and understanding. I personally avoid acts of bid’ah as salafi scholars note (mawleed celebrations, ‘sayyidina’ in shalawat, etc) but I realize also that the debates are not as simple as it seems so these are different opinions that I will have to tolerate.

An important aspect to remember is that I cannot treat bid’ah in fiqh the same way as bid’ah in aqeedah. The “ahlul bid’ah” which must be avoided are those who are extremely deviant in their bid’ah in aqeedah, such as the Shi’ah and Khawarij. Bid’ah in fiqh is easier to tolerate in my eyes.

 

Culture and Nationalism

-Culture and the Sunnah-

Bearing in mind that culture is a reality in the society, and also that the Quraish worshiped statues also because of culture.

The maxim ‘al ‘adaatu muhakkamah‘ shows that customs can and must be respected, to the extent that it is not against the Shari’ah. It therefore makes no sense to say “I am a Muslim, but I am an Indonesian”, rather “I am an Indonesian, but I am a Muslim”. I hope the meaning of this is understood.

 

-Nationalism and Identity-

I cant help but wonder: what has a country given to us, that is not merely part of what the world as a whole has given us? What has a world given to us, that is not merely a fraction of what the galaxy has given us? What has a galaxy given to us, that is not merely a fraction of what The Creator of the galaxy has given us?

Who is most deserving of our gratitude?

Almost all nations in the world try to build unity and love for the nation by building nationalism. This is either a manifestation of real love of a people towards their identity as countrymen of that nation, or merely propaganda to support governance and social order.

Is this acceptable in Islam?

What I know is that Rasulullah s.a.w. says that a person dying fighting with ‘ash-habiyah’ will go to hell. Ash-habiyah is basically tribalism, culturalism, or identitygroup-ism. The qur’an also demands that we all stand united as Muslims, and that we should not be disunited.

Do we love our country more than our religion? Does the difference of nation interest make us dis-unite or even go in conflict with another Muslim state? When we see our Muslim brother/sister from Sudan, Saudi, Britain, Canada, or China, do you see more differences between you and them or more similarities?

I cannot say that nationalism is per se forbidden in Islam. However, I just see that it can potentially become something forbidden in Islam at a certain level.

One thing for sure, I am not a believer of “NKRI Harga Mati”. I do not condone rebellions, or anything. Its just that I believe that a State cannot be a purpose. A State is a tool from which to serve humanity under it. If the state system, at some point in time, proves incompatible with the society beliefs and/or needs, I see no reasons to keep such a system. Indonesia itself has changed systems a number of times. If NKRI seems to be the best option at the time, then fine. But to assume that it will forever be so is stretching things too far. After all, when I die, it is the Qur’an -not UUD 1945- that will be shafa’at for me!

=====MARRIAGE=====

Marriage, Family, and What it Means to Me

 A family is a safe zone. It is not a must that our work place is comfortable (although one that is would be very much preferable), but a family must be a comfort zone. A family member must be an eye soother for the other. Qurrata a’yun. However, I also believe that an Islamic family cannot only be a safe escape from life outside. There is so much more to a family than this.

Marriage, i.e. the start of a family, is an act of worship. Ibadat. The question is: what kind of ibadat is marriage? I am not speaking from a fiqh perspective at this point. Rather, I see it from an Islamic civilization perspective. After all, ‘religion’ in Arabic is Ad-Deen. Ad-Deen is a much more complex and holitic concept (way of life) compared to a mere ‘religion’ (i.e. theology). From the word Ad-Deen we can derive the word Madeenah (city) as well as Tamaddun (civilization). The Ummah is a global society of Muslims, and the smallest social unit is the family. This is where the strength of the Ummah is built from the bottom up, and it is more important than ever since we no longer have a strong leader from above.

Therefore, a Muslim family should aspire to strengthen the Ummah to the furthest extent within their abilities. It should be so much more than simply being a good career man/woman, working in their respective fieldss, with nothing Islamic except that they observe the daily rituals and have halal earnings. Not that this is wrong, but this is the lowest level possible for an Islamic family to be. I have greater dreams.

I believe an ideal family must always direct their conduct in a way that it directly contributes to the development of the Ummah of the Islamic civilization. This should be done in at least two levels. First, the husband and wife must make a good team in making their contributions in their respective areas or responsibilities. I myself, for example, in my duties as a lecturer and researcher, am trying to develop the knowledge of fiqh al jihad as well as reconstruction of thought (aqeedah) and educate people with it.

Second, it is important for a family to contribute a strong next generation whom will continue the struggle. A marriage should come with children, educated with a strong Islamic aqeedah and willpower to contribute to the Ummah.

 

Who Am I Looking For

Bearing in mind what I want for my marriage, I want wives who are strong and resilient in their aqeedah. To believe in Allah, observe the daily rituals and have at least some knowledge in the deen, is the very absolute minimum. But I want mine to also feel strongly about the deen at least as much as I do, making it the breath and blood of her actions. I do not require her to have the exact same understandings of Islam as I do but she must agree to most of it and have strong aqeedah of Al Walaa Wal Baraa and is not a follower of deviant sects (Shi’a, khawarij, etc).

I don’t want a person who merely does halal things, and “oh by the way Im a Muslim”, rather someone who is proud of being a Muslim and does things as and in the name of Islam. I want someone who proactively does things for the Ummah and exclusively so.

I would generally not prefer to have a housewife, but I am not having a wife who works just to explore things or enrich other people (in exchange for some salary). I want one who has passion to develop (not just obtaining) knowledge, especially in the Islamization of non-deeniyah sciences or the intersection between deeniyah and non-deeniyah ones. Is it possible to have a wife doing all this while also having enough time to educate my children? This is one to think later on. But at the very least, to have such a spirit is essential in educating children.

As the majority rules, I believe that the niqab is sunnah. But this is a sunnah that I want my wife to practice since before marriage. Some families are difficult, and I would understand this. So I would accept a compromise for her to only start wearing it after the akaad.

It is my requirement also that my wife would not rule out the possibility of ta’adud. To begin with, it is my understanding that there is absolutely no problem for ta’adud (even marriage in general) for sake of lust, as long as the marriage is done to avoid zina due to taqwa, and that all rights and obligations are fulfilled. But I see that there are many strategic purposes of marriage and ta’adud, other than a typical Disney-type celebration of true love.

===== FREQUENTLY ASKED QUESTIONS=====

  1. Question 1: Do Your Support ISIS?

Answer: Mas Rangga is joking. No I do not support ISIS. I believe that their aqeedah is that of the khawarij and I do not condone them.

  1. Question 2: Are You Hizbut Tahrir Indonesia? Or do you agree with them?

Answer: I am not a member of HTI, but I support a lot of things they believe. For example, that there are 5 times faraaidh shalats in a day according to them and I agree that, as any Muslims should.

As for khilafah and Islamic Shari’ah? I believe that a type of governance is something subject to ijtihad (with so much terms and conditions). As for the Islamic Shari’ah, only a kafir would say that there is any better system (this is mentioned in the Qur’an).

However, to apply the Shari’ah is not simple and there are steps, requirements, and priorities.

  1. Question 3: What do you think about the Shi’a and Ahmadiyah?

Answer: Before anything else, I must clarify first that in Islam there is no such thing as “my religion is personal business, so it is up to me”. Islam is a deen revealed by Allah, and it is He who determines its boundaries of what is in and out of that religion. It is not by hatred or imagination that we make these boundaries, but by what is revealed in the Qur’an and Sunnah.

Also, there is a difference between takfeer mu’ayyin and takfeer mutlaq which is very complex. Essentially, there is no problem to say that Christianity is a kaafir belief and that a Christian is a kaafir, because they are obviously non-Muslims (kafir means non-Muslim) according to the Qur’an in blanket takfeer.

However, it is possible that there is a group of people calling themselves Muslims but they believe in such a way that makes them out of the fold of Islam like a person who claims to be a vegetarian but eats beef. The Shi’ah and Ahmadiyah are examples. Their aqeedah is that of riddah (apostates) therefore are kaafirs, but the persons –while they still claim to be Muslims—are by default Muslims until proven otherwise. This ‘proven otherwise’ is takfeer mu’ayyin, which applies individually, can only be done by the most knowledgeable people, and after a long procedure of investigation.

Although there are cases where some sub-sects of the Shi’ah are deviant but not kaafirs, such as the Zaidiyah.

  1. Question 4: What Do you think of “Islam Nusantara”?

Answer: “Islam Nusantara” is an idea of Indonesian-version of Islam that some are very anxious to promote. Here is a loose translation of the definition of Islam Nusantara by the Ministry of Religion:

Islam Nusantara is a model of Islamic teaching which suits a plural nation. Islam Nusantara is an Islamic teaching that puts emphasis on principles of moderation (wasatiyah), inclusive, tolerant (mutual respect), not claiming that only one’s own religion is correct, “Unity in Diversity”, based on the 1945 Constitution and Pancasila ideology…”

In general, I reject the idea of “Islam Nusantara”. I reject the idea of Islam Nusantara as an idea that constructs a separate identity of Islam in the world, because Islam should be united. This strengthens the ‘I am a Muslim, but…” as explained before.

However, I must further comment on the definition

  1. “…model of Islamic teaching which suits a plural nation.” And “…inclusive…” dan “…unity in diversity…”

Does this imply that Islam generally does not suit a plural society, or that only Islam Nusantara suits a plural society?

IF the answer is yes, then this is wrong. The message of Rasulullah s.a.w. is rahmah for all the worlds (Surah Anbiya ayat 107). After the death of Rasulullah s.a.w., Islam spread really fast to Persia, Sham, South Asia, China, and all that before the first century of Rasulullah’s death. Today, 5-10 thousands of people enter Islam in the UK per year.

IF the answer is no, then why claim this as a characteristic of Islam Nusantara?

Not to mention, I think this is hypocrisy. I do not find that this Islam Nusantara proponents are tolerant to plurality at all. For example, they easily reject the alleged ‘Arab culture’ (e.g. the jilbaab and gamees). Did they not know that we have quite a number of Arab descents, or people who traditionally wear these clothes? See Pangeran Diponegoro and Tuanku Imam Bonjol (they are our national heroes who used to fight in our wars against our colonizers). Check their pics, they wear gamises.

Did they not make an anti-salafi parade as well? Such hypocrites!

  1. “…emphasis on principles of moderation (wasatiyah)

First of all, is wasatiyah a principle only known to Islam Nusantara? Because it is not. Rasulullah s.a.w. in some hadeeth prohibit us to be excessive in worship, and in other hadeeth mention that Islam is a religion of the middle way (moderation). Since it is not, why is wasatiyah claimed to be a characteristic of Islam Nusantara?

Second of all is the most important issue. What is meant by ‘moderate’?

If moderate is understood as not making additions or reductions to the sunnah, then it is correct. If it is understood as to rejecting any part of the sunnah because ‘that’s Arab culture’ then no it is not correct.

 

  1. “…tolerant…”

This also depends on what it means.

If it means: being fair and kind to kafirs, not insulting their deities, not harming them, not forcing Islam to them, then this is correct. These are clear instructions from the Qur’an and Sunnah.

But if ‘tolerant’ means choosing kafirs as public leaders, assisting (or even joining) them in committing shirk, imitating their acts of worship and customs, then this is clearly wrong.

 

  1. “…not claiming that only one’s own religion is correct,…”

This is a statement that does not befit any Muslim. This statement, if said with knowledge, can make a person become an apostate.

This is a clear and direct breach of Surah Al Imran ayats 19 and 85.

Do not understand Surah Al Baqarah ayat 62 incorrectly. It does say that Christians, Jews, and Sabians, can go to heaven too. However, there are a few notes.

First, as explained by Abdullah ibn ‘Abbas as cited in Tafseer ibn Katheer, this refers to those who came before the message of Rasulullah s.a.w.

Second, not to mention that there are requirements for the Jews and Christians and Sabians in the above point to enter heaven. They must believe in Allah without associating partners to Him, making shalat, do good, and believe in judgment day. Don’t forget this one!

Third, see Surah Al Maidah ayat 82-84 to see what kind of Christian that could enter heaven at (and after) the time of Rasulullah s.a.w.

 

  1. “…based on the 1945 Constitution and Pancasila ideology …”

This also depends on what it means.

If it means literally ‘..Islamic teachings.. based on the 1945 constitution..” then this is also literally kufr. What freaky kind of person would replace the Qur’an and Sunnah with a constitution?

Surah An Nisa ayat 59 basically shows how the role of people in making laws is only when not contradictory to the Qur’an and Sunnah. And various ayats also mention how only Allah can make laws, so rulings by men may only be at least based on the understanding of the Qur’an and Sunnah.

What happens if we take a law other than from what Allah has revealed? It makes you either kafir (Surah Al Maidah ayat 44), dzalim (Surah Al Maidah ayat 45), or fasiq (Surah Al Maidah ayat 47). Make your choice.

But of course that’s not what it means. Hopefully not!

Rather, it might mean that the Constitution and Pancasila is a way of interpreting the Qur’an and Sunnah? If that is so, then, it will depend on every single article in the constitution.

 

Hukum Umum dan Hukum Islam: Beberapa Keserupaan dalam Kaidah

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh

Jadi saya ceritanya sedang iseng mencoba belajar Ushul Fiqih, dengan buku karya Shaykh al-Uthaymeen. Makin ke tengah saya makin nggak mudeng, rupanya memang butuh dibantu oleh orang yang paham. Akan tetapi, saat dipelajari, paling tidak ada yang masuk lah sedikit-sedikit. Ternyata, yang saya temukan adalah bahwa ada berbagai kesamaan asas antara kaidah hukum Islam dengan kaidah ilmu hukum umum yang saya pelajari dalam studi saya di Fakultas Hukum.

Berikut beberapa persamaan yang saya temui. InshaaAllah saya mulai dengan kaidah-kaidah untuk mengatasi konflik antar peraturan hukum:

  1. TINGGI-RENDAH

Hukum Umum

Dalam ilmu hukum umum, berlaku sebuah kaidah yang dikenal dalam bahasa latin yaitu lex superiori derogate legi inferiori.[1] Dalam bahasa Indonesia, maksudnya adalah hukum yang lebih tinggi mengalahkan hukum yang lebih rendah. Konteks ‘tinggi’ dan ‘rendah’ di sini adalah secara hierarkial tergantung bentuk peraturan hukumnya. Dalam hukum Indonesia, hierarki kekuatan hukum peraturan perundang-undangan dapat dilihat di Pasal 7, UU No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

Sebuah contoh adalah jika ada Undang Undang (UU) yang dianggap bertentangan dengan UUD 1945, misalnya UU Sumberdaya Air yang dianggap bertentangan dengan Pasal 33 UUD 1945. Jika memang terbukti keduanya bertentangan, maka yang akan dimenangkan dan diutamakan adalah UUD 45 sedangkan UU Sumberdaya Air tersebut akan dicabut.[2]

Hukum Islam

Dalam hukum Islam dipahami bahwa sumber hukum tertinggi adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Sunnah tidak mungkin bertentangan dengan Al-Qur’an (inshaaAllah nanti akan dibahas takhshish dan nasakh).[3] Akan tetapi, tidak hanya kedua itu saja sumber hukum Islam. Ulama berijtihad dan membuat fatwa-fatwa tentang masalah-masalah yang tidak secara langsung diatur dalam Al Qur’an dan Sunnah. Para pemimpin (ulil amri. Jokowi? Hahahaha) juga kemudian membuat aturan-aturan yang wajib dipatuhi kaumnya.

Akan tetapi, dari kesemua itu, dapat dilihat bahwa Al Qur’an dan Sunnah hierarkinya adalah yang paling tinggi. Karena itu, jika ada fatwa atau perintah yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah, haruslah ditinggalkan. Hal ini dapat dilihat di Surah An-Nisa ayat 59. Imam Shafi’i r.a. juga pernah menyuruh meninggalkan pendapatnya jika ditemukan hadist sahih yang menentangnya.

Dengan demikian dapat kita lihat bahwa asas lex superiori derogate legi inferiori juga berlaku dalam hukum Islam, walaupun tidak tampak ada semacam hierarki yang panjang selayaknya peraturan perundang-undangan Indonesia.

  1. UMUM-KHUSUS

Hukum Umum

Dalam hukum umum, berlaku juga sebuah kaidah yang berlaku jika ada dua aturan hukum yang bertentangan tetapi secara hierarki ternyata sejajar. Kaidah ini adalah lex specialis derogate legi generalis, yaitu hukum yang lebih khusus akan mengalahkan hukum yang lebih umum.[4] Maksudnya adalah bahwa aturan hukum yang umum akan berlaku kecuali dalam area-area yang khusus diatur oleh si aturan hukum yang khusus tersebut.

Contohnya adalah dalam kasus Pidana Penggelapan (Pasal 372 KUHP) dan/atau Pidana Penipuan (Pasal 378 KUHP). Silahkan dibaca teks pasal-pasal tersebut, akan terlihat bahwa ada berbagai macam perbuatan criminal termasuk korupsi Korupsi yang bisa masuk ke salah satu atau kedua pasal tersebut. Akan tetapi, perbuatan Korupsi juga masuk ke dalam UU Tindak Pidana Korupsi. Yang manakah yang berlaku? Keduanya adalah berstatus UU, sehingga sejajar dan tidak bisa digunakan lex superiori derogate legi inferiori, padahal pelabelan dan juga ancaman sanksi pidana antara keduanya berbeda.

Jawabannya adalah bahwa pasal-pasal KUHP yang bersifat umum akan terus berlaku, kecuali dalam kasus khusus yakni Korupsi di mana kasus khusus ini harus ditindak dengan hukum yang khusus yakni UU Tindak Pidana Korupsi. Ini adalah akibat asas adalah lex specialis derogate legi generalis tadi.

Hukum Islam

Ternyata dalam hukum Islam dapat ditemukan kaidah yang serupa. Terkadang ada aturan-aturan yang bersifat umum (‘Am) dan ada juga yang bersifat khusus (Khash), yang terkadang di antara keduanya bertentangan sedangkan keduanya adalah dalil Al-Qur’an dan/atau Sunnah Dalam hal demikian, akan berlaku serupa dengan kaidah hukum umum yakni aturan hukum umum berlaku kecuali saat bertemu situasi yang memenuhi aturan hukum khusus (di mana yang khususlah yang akan berlaku). Ini dinamakan takhsish.[5]

Contoh dari takhsish ini adalah potongan Surah An Nisa ayat 11:

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِىٓ أَوۡلَـٰدِڪُمۡ‌ۖ لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِ‌ۚ

Allah menshari’atkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan…

Ini berlaku umum kecuali saat salah satu atau lebih dari si anak adalah kafir sedangkan pewaris Muslim, atau si pewaris adalah kafir sedangkan anak-anaknya Muslim, sesuai hadist riwayat Usamah bin Zaid r.a.:

لاَ يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ، وَلاَ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ

“Tidak boleh orang Muslim mewarisi harta orang kafir, dan tidak boleh orang kafir mewarisi harta orang Muslim” (Sahih Al-Bukhari, No. 6764, Sahih Muslim, No. 1614, dan Sunan Abu Dawud, No. 2909 disahihkan Albani)

  1. LAMA-BARU

Hukum Umum

Saat ada dua aturan hukum yang bertentangan, padahal keduanya secara hierarki bersifat sejajar dan juga tidak bersifat umum-khusus alias mengatur materi yang sama, maka akan berlaku asas lex posteriori derogate legi priori atau hukum yang lebih baru mengalahkan hukum yang lebih lampau.[6]

Sebetulnya saat sebuah UU baru diberlakukan sedangkan isinya sebagian atau seluruhnya menggantikan suatu UU yang lama, UU yang baru tersebut bisa saja mencantumkan pasal yang secara khusus mencabut UU yang lama. Misalnya pada UU No. 12 tahun 2011 yang tadi sempat disinggung. Cobalah tengok pasal 102, yang menyatakan bahwa sejak berlakunya UU No. 12 tahun 2011 tersebut, UU No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan[7] dinyatakan tidak berlaku lagi.

Akan tetapi, tidak semua UU baru mencantumkan pasal pencabutan UU yang lama. Misalnya Staatsblad 1875 No. 179 yang mengatur tentang hukum pertanahan,[8] dan kemudian muncullah UU No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) yang intinya mengatur tentang pertanahan ini. Nah, UUPA ini tidak menyatakan mencabut Staatsblad 1875 No. 179 tadi, tetapi karena materinya sama, UUPA yang dianggap berlaku karena merupakan hukum yang lebih baru atas dasar asas lex posteriori derogate legi priori tadi.

Hukum Islam

Ternyata dalam hukum Islam dapat terjadi juga pencabutan hukum lama oleh hukum yang baru, dan hal ini dinamakan nasakh atau abrogasi. Hal ini dapat dilakukan jika dua dalil tidak dapat digabungkan, dan diketahui bahwa dalil yang mengabrogasi datang setelah dalil yang diabrogasi.[9]

Contoh nasakh[10] adalah pada Surah Al Baqarah ayat 184:

أَيَّامً۬ا مَّعۡدُودَٲتٍ۬‌ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ۬ فَعِدَّةٌ۬ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ‌ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُ ۥ فِدۡيَةٌ۬ طَعَامُ مِسۡكِينٍ۬‌ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيۡرً۬ا فَهُوَ خَيۡرٌ۬ لَّهُ ۥ‌ۚ وَأَن تَصُومُواْ خَيۡرٌ۬ لَّڪُمۡ‌ۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Dan aturan tersebut telah diabrogasi oleh Surah Al Baqarah ayat 185:

شَہۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدً۬ى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ‌ۚ فَمَن شَہِدَ مِنكُمُ ٱلشَّہۡرَ فَلۡيَصُمۡهُ‌ۖ وَمَن ڪَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ۬ فَعِدَّةٌ۬ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ‌ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِڪُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِڪُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُڪۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُڪَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَٮٰكُمۡ وَلَعَلَّڪُمۡ تَشۡكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Dengan demikian dapat dilihat bahwa asas lex posteriori derogate legi priori ternyata berlaku juga dalam hukum Islam.

PENUTUP

Demikian beberapa persamaan yang saya temukan antara hukum Islam dan hukum umum. Sementara mungkin ini saja, bisa jadi tulisan ini saya ralat lagi kalau ada kesalahan atau tambahan. Mohon masukannya juga kalau ada yang salah. InshaaAllah kalau sedang ada senggang dan mood, saya akan buat bagian kedua dari tulisan ini yang membicarakan tentang beberapa keserupaan dan perbedaan pada metode tafsir hukum Islam dan hukum umum.

Hanya saja, timbul satu pertanyaan. Ketika banyak persamaan-persamaan kaidah, kenapa tidak pernah kita diajarkan atau diperkenalkan bahwa kaidah-kaidah ini ada di hukum Islam juga? Sampai-sampai, mayoritas dari sarjana hukum akan lulus dalam keadaan tidak mengenal bahwa ada kaidah-kaidah semacam ini dalam hukum Islam. Bahkan, ketika kemudian diperkenalkan setelahnya, responnya “oh Hukum Islam ada beginiannya juga toh?” Bahkan, sampai seorang doktor hukum lulusan USA pun bertanya, “memangnya Islam ada hukumnya?”

Tentu bagi seorang pelajar ilmu hukum yang beragama Islam harusnya menyadari bahwa ada yang salah, atau setidaknya kurang, dalam cara ia belajar hukum.

 

PS: sebelum temen-temen takfiri mengkafirkan saya (lagi) karena ‘mentasyabuhkan hukum umum kepada hukum islam’, ini saya cuma mencari beberapa persamaan saja untuk memudahkan pemahaman. Tidak ada niatan untuk menyebutkan satu lebih baik dari yang lain, karena kita sama-sama tahu hukum mana yang lebih sempurna.

 

REFERENSI

[1] Sudikno Mertokusumo. 1991. Mengenal Hukum (Suatu Pengantar). Penerbit: Liberty Yogyakarta, Hlm. 74

[2] Dan ini memang terjadi, silahkan lihat Putusan Mahkamah Konstitusi No. 85/PUU-XI/2013

[3] bahkan ada yang mengatakan bahwa jika ada hadist yang mattan-nya bertentangan dengan Al-Qur’an maka hadist tersebut tidak mungkin sahih. Tapi pendapat ini tidak tepat. Yang tepat adalah pendapat Imam Shafi’i r.a. dan Shaykh Albani r.a., hadist sahih tidak mungkin bertentangan dengan Al Qur’an. Harus dilihat bersama-sama sesuai dengan penafsiran yang tepat.

[4] Loc. Cit., Mertokusumo,

[5] Shaykh Muhammad bin Shalih al ‘Uthaymeen. 2008. Ushul Fiqih (Edisi Bahasa Indonesia). Penerbit: Media Hidayah, hlm. 60-70

[6] Loc. Cit., Mertokusumo

[7] Lihatlah kedua UU tersebut sama-sama berjudul “…tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.”

[8] dari namanya kelihatan sekali buatan pemerintah colonial, tapi saat Indonesia merdeka, banyak hukum-hukum Belanda tetap diberlakukan agar tidak terjadi kekosongan hukum, sampai dengan ada hukum baru yang dibuat untuk menggantikannya.

[9] Op. Cit., al-Uthaymeen, hlm. 82-90

[10] Contoh ini nyomot dari web Shaykh Shalih al-Munajjid, fatwa No. 105746 http://islamqa.info/en/105746