Category Archives: Yak Heeeeeeeeh -____-

TULISAN SAYA DI REPUBLIKA: KISAH DI BALIK FOTO SAYA

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

 

Alhamdulillah, tanggal 24 April lalu artikel saya berjudul “Ekstremisme Islam pada Pilkada DKI” dimuat di Republika Online (tulisan dapat diakses dengan klik link ini). Alhamdulillah juga, saya mendapatkan banyak sekali feedback positif yang sebagian berbentuk penyemangat dan sebagian lainnya berupa kritik yang sangat membangun untuk saya perhatikan pada tulisan-tulisan mendatang.

Akan tetapi, ada satu aspek pada artikel ini yang ternyata dikomentari:

read more »

My Ex (Student) vs Petugas Bandara: So Proud of You Hahahaha

Baru pagi ini dapet info dari mantan saya. Bukan mantan pacar tapi mantan bimbingan skripsi. Untuk kepentingan keselamatan, kita samarkan saja namanya jadi Sherin Pakpahan. Ada peristiwa menarik di bandara Adisutjipto.

Nah nih anak saya juara banget menghadapi orang Bandara yang (menurutnya) mempersulit.

Jadi ceritanya dia mau bawa barbell 1 kg ke kabin. Nah, waktu discan kena lah sama petugas. Katanya si petugas itu barang berbahaya, dipake nonjok orang sakit. Well, gimana ya. Ini baru aja Kim Jong Nam dibunuh di Malaysia (diduga) oleh orang Indonesia. Dan si Sherin ini juga besarnya di Malaysia, minggu lalu baru aja ke Malaysia dan ketemuan kita. Mungkin ekstra hati hati?

Dan katanya harusnya dimasukkan ke bagasi barbell ini, dan ya kalo enggak ya disita.

Eh tapi si Sherin langsung full anak-hukum-nyolot-mode. Langsung dihajar pake yang aneh aneh:

bedanya nonjok pake barbel 1kg ama lempar rendang dibekuin 1kg ke muka orang kenapa rendang gak disita

Lalu

“kalau kamus gimana mas? 1 kamus nabok orang sakit loh. Heels saya? Enggak diambil sekalian mas? Pecah kepala orang saya lempar.

Dan katanya orangnya diem aja.

Katanya dia juga sempat bilang “yaaaa saya anak fakultas hukum mas, miris kalo diluar gak ada dipajang ketentuan di UU ttg barbel terus harta saya dirampas kayak gitu. Sedih ama kelemahan UU di indo

Agak protes sih saya, kok anak fakultas hukum mbok ngaku aja gue sarjana woy, dan dosen pembimbing skripsi gue keren banget lho (oke yang ini ga penting <3 ) but yeah, oke juga lah ya bawa kritik hukum ke petugas scan barang di bandara. hahaha

Akhirnya berhasil Barbelnya dikembalikan dan boleh dibawa. Tapi kemudian si petugasnya nekat betul bilang “jangan ngulangin lagi ya“. Eh nantangin dia. Dan kelihatannya Sherin ini pegang prinsip ‘loe minta, gue beri’.

Langsung dibales “saya mah ikut UU yang berlaku di indo aja mas. Kalo dilarang ya baru saya gak ngelakuin. Mas mungkin bisa jadi pelopornya di kantor mas buat bikin UU melarang barbel berlaku

Darrrrrr

Mungkin kita bisa dapatkan beberapa faedah di sini.

Pertama, inilah pentingnya kekuatan hujjah. Dan kekuatan hujjah yang baik akan sulit datang tanpa memiliki ilmunya.

Kedua, yah, sebenarnya saya kasihan juga kepada si petugas. Saya yakin ketika beliau masih kecil dan ditanya “apa cita citamu, nak?” bukan “mau nge-scan barang di bandara” jawabannya. Tapi kalau mempertahankan barang, mau gimana lagi?

Ketiga, di sinilah kita harus bijaksana. Okelah sang petugas belum tentu jago menafsirkan hukum. Emangnya anak sarjana hukum udah pasti jago juga? Diskursus lah. Kalo saya pribadi akan memilih ke bagasi saja, karena kasihanlah. Tapi setiap orang bisa punya prioritas masing-masing. Sherin sendiri malas ngantri dan malas menunggu bagasi, which is legitimate untuk convenience. Ini toh bukan perjuangan keadilan tentang hajat hidup orang banyak juga.

Tapi bijaksana di sini adalah bagaimana kita menyikapi konflik. Terlepas dari kita setuju atau tidak dengan Sherin atau si petugas bandara, kita harus menyikapi konflik dengan arif dan mengambil hikmah darinya. Karena kalau hikmah yang didapat oleh Sherin cuma nggak jadi barbellnya disita, atau bagi saya cuma ketawa karena lucu, atau bagi si petugas bandara yang jadi kesal, kan sayang sekali.

Banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari peristiwa peristiwa kecil sekalipun. Minimal saya jadi tahu bahwa baiknya jangan bawa barbell ke bandara. Atau kalau misalnya sudah mentok, kita harus terus percaya diri dengan ilmu yang kita miliki untuk menyelesaikan masalah kita. Dan, mungkin penting juga untuk menjaga adab saat terjadinya konflik tersebut. Sherin, dalam ceritanya, mengatakan bahwa ia telah berbahasa dengan ramah dan tidak berteriak teriak (walaupun substansinya tajam sekali)

Atau bahwa Sherin dan si petugas bandara pun bisa meninjau lagi kebijakannya atau hujjahnya, karena ketika hampir semua benda bisa dikatakan berbahaya kalau dipaksakan, konsekuensi a contrario-nya adalah bahwa semua benda bisa dikatakan tidak berbahaya kalau dipaksakan. Di mana batasnya? Di sini memang sulit, dan terkadang memang harus sami’na wa atha’na kalau dengan petugas Negara. Kita tidak selalu setuju dengan hukum penguasa, tapi jika semua argument didengar dan setiap kasus terbuka untuk perdebatan langsung di tempat tanpa mekanisme review, akan terjadi disorder yang bertentangan dengan tujuan hukum yaitu membuat ketertiban. Semua orang hukum paham ini.

 

HAM dikenal dalam Islam, dan hukumnya HARAM! (Just Kidding)

Assalaamu’alaykum!

Dear all,

Ternyata HAM bukanlah hal yang tidak dikenal dalam dunia Islam. Bahkan, sebenarnya sudah jelas keharamannya. Pertama, mari kita simak definisinya:

Ham adalah bagian daging babi yang berasal dari bagian kaki belakang babi

Sumber: Wikipedia Indonesia

Kedua, mari kita lihat dalil haramnya ham:

Dari Al Qur’an, kita lihat Surah Al Baqarah ayat 173:
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.”

Hal senada bisa dilihat di Surah Al Maidah ayat 3, dan Surah An Nahl ayat 115.

Dari hadist juga dapat kita lihat hal serupa:
Dari Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr dan hasil penjualannya dan mengharamkan bangkai dan hasil penjualannya serta mengharamkan babi dan hasil penjualannya.” (HR. Abu Dawud)

Karena itu, jelaslah karena ham adalah daging babi, maka sangat jelas hitam di atas putih bahwa hukum memakannya adalah HARAM.

PS: maaf ya bosen banget ngerjain disertasi aduuuuh jadi begini deh

PPS: for you English people, let me explain. The Indonesian term for Human Rights is Hak Asasi Manusia, which is very commonly abbreviated to HAM. So, yeah. LoL

 

Wassalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakatuh

Everything is Haram

“Fajri, are you Sunni or Shi’a?” “Emm..”

Back then in early highschool, people used to ask that question. “Are you Sunni? Shi’a? Sufi? Salafi?” But they have absolutely no idea what those names mean (both questioner and the questioned).

Around the time of the Iraq invasion by USA et al, the question “hey are you Sunni or Shi’a?” Was somewhat popular at school, despite most of us having no clue what it meant.

When asked that question, I considered the following:
1. “Sunni”? What the heck is that? Sounds like “Sunny”, u know, NOT COOL. While “Shi’a”, whoaaa, sounds somehow more “islamic-ish”

2. The evil Saddam Hussain, from the Sunni political party of Iraq (Bath), persecuted the Shi’as. Nope, I don’t persecute.

3. Indonesia follows the Shafi’i madzhab, not only in practice but also in legal system through our religious courts as well as our national curriculum (where studying religion is compulsory. Christians must study christianity, Muslims study Islam, etc). So, ya’ni (haha), somehow “Shi’a” sounds more similar to Shafi’i, rather than “Sunni”. Not that we had any clue what “Shafi’i madzhab means, or even, what does “madzhab” mean.

Considering that: “Yep, I’m Shi’a”

Alhamdulillaah, I have more knowledge to understand now how stupid that was. Ask me again, this is my answer:

I am a Muslim, inshaaAllah an Ahlus Sunnah wal Jama’ah as understood by the Salaafus Shaaleh, mostly but not entirely following the madzhab of Imam Shafi’i.

Makes much more sense now? Hahahaha LoL

“Fajri, are you Sunni or Shi’a?” “Emm..”

Back then in early highschool, people used to ask that question. “Are you Sunni? Shi’a? Sufi? Salafi?” But they have absolutely no idea what those names mean (both questioner and the questioned).

Around the time of the Iraq invasion by USA et al, the question “hey are you Sunni or Shi’a?” Was somewhat popular at school, despite most of us having no clue what it meant.

When asked that question, I considered the following:
1. “Sunni”? What the heck is that? Sounds like “Sunny”, u know, NOT COOL. While “Shi’a”, whoaaa, sounds somehow more “islamic-ish”

2. The evil Saddam Hussain, from the Sunni political party of Iraq (Bath), persecuted the Shi’as. Nope, I don’t persecute.

3. Indonesia follows the Shafi’i madzhab, not only in practice but also in legal system through our religious courts as well as our national curriculum (where studying religion is compulsory. Christians must study christianity, Muslims study Islam, etc). So, ya’ni (haha), somehow “Shi’a” sounds more similar to Shafi’i, rather than “Sunni”. Not that we had any clue what “Shafi’i madzhab means, or even, what does “madzhab” mean.

Considering that: “Yep, I’m Shi’a”

Alhamdulillaah, I have more knowledge to understand now how stupid that was. Ask me again, this is my answer:

I am a Muslim, inshaaAllah an Ahlus Sunnah wal Jama’ah as understood by the Salaafus Shaaleh, mostly but not entirely following the madzhab of Imam Shafi’i.

Makes much more sense now? Hahahaha LoL

Pelajaran dari Lomba Debat: Suatu Kerinduan (Bocoran Tulisan untuk Kumpulan Cerita Penerima Beasiswa LPDP hahaha)

Dear all,

Teman-teman awardee LPDP sedang menyusun sebuah kumpulan cerita dari sesama awardee yang mendapatkan beasiswa ke luar negeri (S2 maupun S3). Ada yang menceritakan tentang suka duka mencari beasiswa, hal-hal positif yang bisa diambil dari negara tujuan untuk diimplementasi di Indonesia, bagaimana bertahan hidup di luar negeri, dan lain sebagainya, termasuk kategori “Lain-Lain”. Kumpulan cerita ini sekarang masih dalam tahap editing, tapi biarin deh, ini aku post tulisan yang aku kirim buat mereka, di bawah kategori “Lain-Lain” (walaupun nggak tau juga ya, siapa tau ada juga bagian dari kisah ini yang diedit, so you know inilah versi yang belom diedit).

Selamat menikmatiii ^_^

 

_________________________________________________________________________________________

 

Pelajaran dari Lomba Debat: Suatu Kerinduan

(Fajri Matahati Muhammadin, LLM in International Law, University of Edinburgh, United Kingdom, P.K. 2)

Kemenangan yang Ajaib

Pada tanggal 9-10 November 2013 di King’s College London, saya mengikuti lomba debat bahasa Inggris khusus WNI di United Kingdom (UK) yang diadakan oleh ISIC dan PPI-UK. Di lomba tersebut, saya berpartner dengan Omi Ongge (beasiswa DIKTI, di London Metropolitan University) atas nama Jogja Debating Forum (JDF). Setelah mengalahkan tiga tim di babak penyisihan (Newcastle, Indonesia Mengglobal, dan Edinburgh), tim kami lolos ke final untuk rematch melawan Indonesia Mengglobal.

Yang ingin saya ceritakan adalah hikmah yang saya dapat di babak final lomba tersebut, saat melawan tim “Indonesia Mengglobal” yang terdiri dari Willy Limiyadi (Oxford University) dan Santi Nuri Darmawan (King’s College London). Di babak final tersebut, dewan juri terdiri dari empat orang akademisi bergelar Doktor, satu orang Inggris yang tidak saya kenal, dan Bapak Dubes RI untuk UK.

Tema mosi untuk babak tersebut adalah (diterjemahkan) “kurangnya cinta tanah air, yang berimbas pada kurangnya permintaan pasar, menghambat daya saing industri manufaktur Indonesia”, di mana tim kami berperan sebagai Tim PRO.

Objektif dari pengalaman saya sembilan tahun menjadi pengajar dan juri debat, kami kalah (walaupun barangkali tidak telak). Saya kuliah hukum perang dan partner saya politik, sedangkan lawan kami kuliah ekonomi. Tapi terjadi keajaiban. Tiga juri memihak kami, dan tiga memihak lawan. Karena seri, panitia meminta penonton menentukan pemenang.

Alhamdulillah, penonton memilih kami jadi juara!

Kenapa kami bisa menang? Banyak spekulasi. Memang saat menyampaikan argumentasi, saya setengah stand-up comedy sehingga menghibur banyak penonton. Mungkin penonton (mayoritas peserta presentasi paper ilmiah) sudah lelah dengan rangkaian acara yang panjang, sehingga agak kurang tertarik menyimak penjelasan yang relatif rumit tentang faktor-faktor daya saing industri manufaktur dan lebih senang dengan lawakan saya? Itu adalah salah satu alasannya. Namun, yang lebih penting lagi, adalah mendengar apa yang dikatakan oleh beberapa penonton yang saya tanya setelah acara selesai.

Agen Ind*mie

Terus terang saya agak muak membaca materi yang sudah kami unduh tentang topik tersebut. Begitu banyak yang harus dibaca, sedangkan waktu begitu sedikit, dan sebagian besarnya terlanjur kami habiskan dengan mengobrol. Omi maju pertama, menceritakan bagaimana industri garmen Indonesia jatuh bukan karena kualitas tetapi karena pembeli lebih suka label asing. Itu saja yang berhasil kami serap dari bahan bacaan, dan saya tentu harus bawa materi yang berbeda. Saya memutuskan untuk curhat saja.

Sebetulnya saya intinya menyampaikan bahwa kecintaan produk dalam negeri bisa menjadi ajang mouth-to-mouth advertising saat putri-putra tanah air sedang ada di luar negeri. Jenis advertising tersebut sangat efektif karena tidak memakan biaya, dan langsung berdampak pada grassroot society. Tapi, sambil curhat ternyata saya malah seakan menjadi agen mie instan terbaik dunia.

Saya bercerita bahwa saya begitu suka pada merk tersebut, tetapi kecewa dengan ‘Export Product’ yang dijual di UK karena rasanya agak lain (baca: kurang micin hehehe). Akhirnya, saya mencari pemesanan online untuk mencari produk yang lebih otentik. Dan karena biaya kirim yang lebih irit kalau memesan banyak, saya akhirnya memperdayai beberapa teman dari negara lain (misalnya Estonia, Hong Kong, Saudi Arabia, Palestina, dlsb) untuk ikut membeli. Mereka memang suka Ind*mie, tapi belum pernah merasakan produk ‘otentik’ (kecuali yang dari Hong Kong).

Kisah kawan dari Hong Kong menarik juga. Di sana, Ind*mie nomor satu diikuti Niss*n di nomor dua, karena Ind*mie jauh lebih murah walaupun Niss*n lebih enak. Sedangkan di Korea Selatan, Ind*mie nomor dua karena, walau Niss*n lebih mahal, tetapi warga Korsel lebih cinta produk tanah airnya. Tentu contoh ini saya ceritakan dalam argumentasi saya.

Sangat menyenangkan rasanya saat berargumentasi di podium, sambil tertawa terus menerus bersama penonton. Sayangnya, saya harus kemudian agak berkecil hati karena begitu pembicara kedua lawan kami maju (Santi), berlapis-lapis analisisnya menghantam argumen saya yang hanya didukung oleh curhat kangen mie instan tanah air. Karena itulah, saya fikir mungkin kebetulan saja juri memutuskan seri dan penonton sedang ingin dihibur saja.

Bukannya itu salah, karena bisa jadi itu memang benar. Tetapi saat saya tanya beberapa kawan di bangku penonton, mereka mengatakan hal yang sama.

Gue jadi pengen makan Ind*mie”

(Ada yang menambahkan “…padahal gue udah makan.”)

Santi pun memulai pidato argumentasinya dengan (terjemahan): “Fajri kok berani bilang Niss*n lebih enak daripada Ind*mie?

Setelah pidatonya selesai, kami bersalaman dengan lawan kami, dan topik pertama yang dibahas adalah tentang kurang otentiknya Ind*mie yang dijual di UK, dan kami sedikit berdebat lagi produksi Ind*mie mana yang lebih mendekati otentik (Santi: Produksi Saudi, saya: Impor dari Hong Kong yang dijual di Chinese Store). Diskusi senada dengan kawan-kawan lain terjadi setelah acara usai.

Cuma kebetulan saja yang saya bahas di lomba ini hanyalah mie instan. Pada kenyataannya, bukan cuma ind*mie saja yang dikangeni oleh para WNI yang menonton acara tersebut. Kisah Ind*mie ini hanya puncak gunung es dari apa yang ingin saya ceritakan (walaupun sudah menghabiskan setengah jatah kata hehehe).

Ind*mie cepat hilang dari pembahasan, karena beralih ke objek lain tapi dengan tema yang senada. Silih berganti kami bercerita tentang betapa kami rindu masakan tanah air. Ada yang rindu sambel terasi, dan yang lain pamer karena berhasil menemukannya di UK. Saya membagi betapa terharunya saat menemukan kecap dan sambal merek A*C di Chinese Store, dan betapa kecewanya saat mendapatkan informasi penjual tempe di Edinburgh tempat saya kuliah yang ternyata HOAX!

Sehari sebelum babak final, sebetulnya awalnya diumumkan bahwa di kompetisi tersebut tidak disediakan konsumsi. Kami juga kecewa karena katanya Gita Gutawa dan Maudy Ayunda akan tampil, tapi mereka tidak jadi. Tapi kemudian, ternyata dibagikan nasi rendang dengan kuah pedas khas Manado (iya bukan ya?). Saya kurang tahu asalnya persisnya dari mana, yang jelas kuahnya tidak murni beraroma Padang. Namun itu tidak penting, karena ada satu hal yang pasti: ini rasa INDONESIA!

Saya sudah makan karena mengira tidak akan diberi makan. Akan tetapi, dalam bus menuju pulang, saya melahap konsumsi dari panitia sampai habis, termasuk emping yang sebetulnya tidak boleh saya makan. Keesokan harinya, setelah babak final selesai, kotak makan tersebut juga menjadi topik hangat pembicaraan. Seorang kawan dari Nottingham bercerita bahwa dia sebetulnya tidak begitu tahan dengan makanan pedas, tapi tetap melahapnya sambil bercucuran keringat dan air mata. Saat itu, saya tidak malu mengatakan keras-keras bahwa saya rindu makanan Indonesia!

Tuh Kan, Kangen..

Sebelum saya berangkat ke UK, banyak teman-teman yang bertanya apakah saya akan kesulitan beradaptasi di luar negri. Salah satu kekhawatiran orang-orang adalah kesulitan mencari makanan Indonesia, karena takut seleranya tidak cocok. Teman-teman calon penerima beasiswa LPDP juga banyak yang yang khawatir hal yang sama. Apalagi, Edinburgh adalah kota di UK yang tidak banyak akses ke bahan-bahan makanan Indonesia.

Saat itu saya tidak khawatir. Pertama, masa kecil saya dihabiskan di Manchester UK (usia 1-6 tahun). Setelah pulang, butuh bertahun-tahun untuk menyesuaikan lidah dengan tempe, tahu, dan bumbu khas Indonesia. Saya biasa kok makan makanan asing. Kedua, saya bukan orang yang “kalo bukan makanan Indonesia (atau malah, makanan daerah!) saya nggak bisa makan” seperti banyak teman dan anggota keluarga saya. Saya senang mencoba makanan baru. Ketiga, sekian lama hidup di Jogja, saya mulai bosan dengan makanan yang ada. Karena itulah, dengan tenang saya mengatakan “santai, saya tidak akan kangen makanan Indonesia!”

Minggu-minggu awal sampai di Edinburgh, UK, saya sangat puas makan beranekaragam masakan internasional. Mulai dari makanan India, Timur Tengah, Mediterania, hingga makanan lokal, baik racikan sendiri maupun sekali-sekali beli. “Tuhkan betul, saya baik-baik saja?” batin saya, saat teman-teman saya di Facebook atau Whatsapp entah mengeluh karena kesulitan menemukan tempe atau nasi, atau bersyukur karena menemukan teman-teman PPI dan bahan-bahan makanan Indonesia.

Tapi minggu-minggu terus berlalu, dan rasanya ada yang begitu hampa. Makin muak makan makanan dengan roti (kebanyakan yang saya beli selalu roti, karena paling murah), dan yang lebih memuaskan adalah makanan India atau Thailand. Itupun tidak bisa benar-benar memuaskan, sedangkan itupun tidak bisa sering karena mahal kalau makan di restoran. Sebetulnya kesimpulan sudah ada di kepala, tapi saya belum mau mengakuinya.

Suatu hari saat saya masuk Chinese Shop, barulah saya sadari kalau hati tidak bisa bohong. Begitu melihat botol botol kecap dan sambal merk A*C, meluaplah perasaan yang tertuang dalam wujud kalap. Saya beli masing-masing satu botol, lalu bahan-bahan lainnya termasuk nasi dan beberapa bungkus ind*mie.

Malam itu juga saya memasak nasi goreng ayam. Setelah kenyang makan (dengan bayangan ind*mie untuk sarapan besok), saya sudah tidak bisa menyangkal lagi. Makan bukan hanya dengan mulut, kerongkongan, lambung, dan usus, melainkan juga dengan hati.

Karena itulah, saat saya mengakhiri pidato babak final lomba debat ISIC, diiringi gemuruh tepuk tangan dan tawa, jelas sekali bahwa curhat saya bukan curhat biasa. Sampai sebegitunya hingga saya yang mestinya menganalisis industri manufaktur malah curhat kangen ind*mie, dan penonton yang merupakan akademisi atau mahasiswa Indonesia yang berkuliah di UK dan datang untuk karya ilmiah (dan semestinya menilai analisis kami) juga ikut merasakan kangen yang sama.

Saya memang petualang  makanan, dan juga petualang pendidikan. Banyak sekali teman-teman yang juga begitu, dan karena itulah kita dapat jumpai warga Indonesia di segala penjuru dunia. Semuanya ingin mendapatkan hal yang baru dan tidak bisa didapat di tanah air. Tapi walaupun demikian, kemanapun kita pergi, ada sebagian dari hati (lidah dan pencernaan) kami yang masih tertinggal di Indonesia.

The Media: An Evil Methodology (LoL)

I can publish this:

The Evil Karina Utami Dewi

The Evil Karina Utami Dewi

And then I write a whole long article about how Karin a.k.a. Ink is a very evil individual.

I have known her since 2004, we have been friends ever since, and became even closer friends since university where we started to live in the same cities. Even, we actually made some song covers together. One day, she decided to wear a hijab, because of her love for the deen of Islam, and her obedience to the commandment of Allah.

Yet what I did not know was that, behind all her kindness, she is a nasty individual just waiting for her moment to strike. Behind that veil, behind that beautiful voice, and all the kindness. She is perhaps the third most evil human being after Adolf Hitler and Darth Sidious. With her here alleged piety as displayed in the screenshot above, she unfortunately blew her cover!!! 

STAY AWAY FROM HER! SHE SECRETLY PRAYS FOR YOUR DESTRUCTION!!

.

.

.

————————————————————————————————————————————————-

.

.

.

But then, here is the real story.

Ternyata :p

Ternyata :p

The real story is that she typed the “Aaamiiiinn” after the “Fajri SH, LLM, PhD” message, but hit “send” just a split second after I hit “send” on the next line. Realizing her mistake, she took back her “ameen”.

So, yeah, she is a genuine nice friend. One of those I would call my best ^_^

Plus, how can someone evil have such a sweet voice like this —->>>> view our cover of The Beatles Here!

I heard she plans to get  married soon! All the best Kariiin, and congratulations for your successful application as DOSEN HUBUNGAN INTERNASIONAL at UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA!!!!!

^______________^

 

PS: for you who dont know who Karin is, this is the makhluk—>

Bulad Bulad Berhadiah

Bulad Bulad Berhadiah

Education: England vs Indonesia

Assalaamu’alaikum everyone!

As requested by a dear friend Muhammad Firmansyah Kasim, S.T., D.Phil (cand), I will share some experiences I had in my early education.

read more »

Law Student vs Informatics Student: How To Choose Desks

Assalaamu’alaikum everyone!

this is a much lighter post of mine. InshaaAllah a recipe will come next. But for now, this is just a little story about me, my room mate, and our room.

So yes, I share a room with a guy called Chiraag Lala from India. He is taking a masters degree in the School of Informatics. In our room, there are two study desks that are almost the same but they have some distinct differences. I just realized that the choice of desks may be due to our educational background.

Check this out

 

Desks

Well, not exactly that funny or important. Just some interesting details I found out :p

Next up, Fajri Fried Chicken (FFC)!!

 

1995 Memories: Lunch Box Surprise

Ladies and Gentlemen,

today I have a story for you. Its a true story that happened around 1995, when I was in 3rd Grade of Elementary School. This year was a very significant year for me, because at that time I could finally attend a full academic year and able to speak in Bahasa Indonesia fluently. I just returned from England the year before, and was barely able to speak in Bahasa Indonesia.

So. Finally able to speak in Bahasa Indonesia, I socialized so much better than I used to do during the previous year. At the time, we talked about all sorts of things, most of which involves showing something off. Mainly, the kids showed off what cartoons they watch and how they can imitate the characters. Or, lying about having or being able to do something cool. We didnt have much games other than Sega and Nintendo at the time, and nobody even talked about them. So, yeah.

One of the things that I could be proud of and show off to my friends was my packed lunch. My momom was very VERY creative when it comes to making me awesome stuff to eat at school (although I also really loved the siomay that my canteen had). Among the things that my mom likes to make for me would be a sausage sandwich.This was pretty unique, because it is not too known for people to make sausages into sandwiches. Or, at least at that time. Sausages were either eaten with rice/french fries, or put in a hotdog bun. So when I told my friends that tomorrow I will bring a sausage sandwich, they went, like, OH MY GOD HOW DO YOU MAKE A SAUSAGE SANDWICH! IV NEVER SEEN IT BEFORE!!

Pinter

Pinter

The next day, early morning while preparing for school, I checked the dining table and there was my sausage sandwich sitting inside my lunchbox. The lid was off because it was still hot. The sight of it, was, Subhanallah

Yummy
Yummy

So I smiled, then prepared the other stuff I needed to bring. My red and white uniform, socks, shoes, bag, and all the other stuffs. Then I did this tradition that we still practice until today at home, which is to go upstairs and say goodbye to my grandma and grandpa (but that day, grandpa wasnt home because he was gone for some aerobics for people with heart disease), then to my mom and dad, before I go.

Then, I heard a horn honking infront. 6 am, thats my ride to school. I had to run so that it wouldn’t leave me. I passed by the table, finding that my lunch box has already been closed. I just grabbed it, tucked it in my bag, and ran outside.

I arrived at school around 30 minutes later after picking up other students. Passing my friends, I proudly announced that the Sausage Sandwich is in my bag. They asked to see it, and I said no –they had to wait until break time which was around 9.30-ish. All of us waited for break time enthusiastically for two different reasons. My friends were extremely curious of what a Sausage Sandwich would look like, and I really couldnt wait to show it off.

At last, break time came. Around ten kids came around me to look at what I had for lunch. They always expect something special, because my mom on many occasions makes me stuff that they have never seen before. And now, Sausage Sandwich. Before opening my lunch box, I looked around to see whether everyone who is curious enough has gathered around. After making sure that I had as much attention that I could gather (most of the other kids weren’t too interested, but around ten was good enough for me).

Moving slowly for the suspense, took out my lunchbox, smiled, then opened it. And inside it, I found this:

Sausage Sandwich

Sausage Sandwich

For a few split seconds, my mind tried to process what just happened. Then for the next few seconds, my entire life was played in front of me. All the things I have done, all the things that I have not done, all the things that I should have done, all the things that I should not have done. Wasnt really much, though, because I was only 8 years old at the time anyway.

But nevertheless, I do not dare to see or even listen to the reactions of my friends, but I just know that its a mixture of laughter and disappointment.

Me no find=no exist

Me no find=no exist

I spent the rest of the day in shame. Everyone was like “mana gak ada sandwich sosis” or “iih Fajri bekal mpeng!” and other stuffs. They didn’t matter. All particles of my brains were, at that time, allocated to figure out what has happened. What have I done to deserve this??!!

WHYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY ???????????????????!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

My instinct as a future lecturer of law brought me to start wondering, who the hell did this to me???!!!!!

I had only one piece of evidence, which was the mPeng. Grandpa wasnt home, so he was not on my list. My lawyer-detective instincts took over me, and my mind was racing. I listed the potential suspects.

Candidate Suspect 1

Suspect 1

Birth Name : Dini Elfiah

Titles : Mrs/Dra

Ethnicity : Cino-Suroboyo

Age : 32

Relation to Me : Mother (allegedly)

Occupation : Farmer (Judging from photo, might be a cover up)

Alibi : was in kitchen at the time, which was next to the crime scene. But claimed that she had no knowledge of the crime.

Comments:

This woman was the one who prepared my lunch. Had all the accessibility to my lunch box, contents, and has resources to buy and mPeng.

Likeliness to Commit: VERY HIGH

Candidate Suspect 2

Suspect 2

Suspect 2

Birth Name : Muhammad Amirullah Makmunsyah Oktaufik

Titles : Mr/Ir., Ph.D.,

Ethnicity : African

Age : 35

Relation to Me : Father (allegedly)

Occupation : Something to do with the government

Alibi : claimed to be getting ready for “work” at the time of the crime. Claimed to not have knowledge of the crime.

Comments:

Has a job, seems to work for longer hours than the woman, so perhaps more money, thus more resources to buy an mPeng.

Most inner-city violent crimes are perpetrated by black men (for reference, check here).

Has a Ph.D., very intelligent.

Likeliness to Commit: VERY HIGH

Candidate Suspect 3

Suspect 3

Suspect 3

Birth Name : Siti Maemunah

Titles : Mrs/Sarjana Hukum

Ethnicity : Unknown

Age : 500

Relation to Me : Mother of Suspect 2

Occupation : Lawyer

Comments:

She is a lawyer. LAWYER. Enuf said. Your argument is invalid.

Alibi: claimed to be on the second level of the building when the crime allegedly took place on the first floor.

Likeliness to Commit: VERY VERY HIGH

Candidate Suspect 4

Suspect 4

Suspect 4

Birth Name : Maulia Pijarhati Muhammadin

Titles : Liun

Ethnicity : Lalat

Age : 3

Relation to Me : Sister (Still awaiting results of DNA test as evidence)

Occupation : self-employed

Comments:

Intellectual level unknown, motivation unknown, skills unknown.

Known to have a profound interest on chocolate cookies

Alibi: Suspect refused to answer any questions other than with the following statement “apiechu” (the Intelligence Bureau cooperating with Oxford University Professors of Symbology and Freemasonry are currently trying to decrypt this statement)

Bear in mind the principle of “Presumption of Innocence”

(General Explanation Point 3(c) of Law No. 8 of 1981 on Criminal Procedures, and Article 8[1] of Law No. 48 of 2009 on the Judiciary)

Likeliness to Commit: VERY LOW

 

CONCLUSION OF INVESTIGATION : INCONCLUSIVE