Legend of Legends : Chapter XVIII – Oath of Prophecy?

Finally, here goes Chapter XVIII ! Witness the final battle! Enjooooy ^_^

 

 

——————————————————————————————————————————–

CHAPTER 18

OATH OR PROPHECY?

                Setelah memastikan bahwa tali-tali telah terikat dengan cukup kencang, mereka turun dengan perlahan-lahan. Entah mengapa, armor yang mereka pakai terasa begitu ringan, padahal terbuat dari bahan yang begitu kuat.

Lantai masih jauh. Kelimanya berusaha untuk tidak melihat ke bawah agar tidak jatuh, tapi sama saja hasilnya. Masih saja mereka terpancing untuk menoleh ke bawah beberapa kali. Untung mereka tidak sampai terjatuh ke bawah. Jika sampai terjatuh, tentu saja habislah mereka.

Mereka sudah setengah perjalanan ke bawah saat melihat kembali ke arah utara. Daffy mengeluarkan sebuah alat peneropong dan melihat ke ibukota Eleador. Ternyata kota tersebut dilindungi semacam pelindung transparan. Meski transparan, tapi masih samar-samar tampak. Kota tersebut kini dikelilingi oleh ribuan pasukan iblis. Ada yang di tanah, menanti dengan buas, dan ada pula yang beterbangan mengelilingi kota. Beruntung Marino tahu bahwa ia tidak perlu melawan mereka.

Berdasarkan mimpinya, ia akan menemukan sebuah segel yang jika dihancurkan, akan membawanya ke pusat kota.

Kelimanya telah turun. Begitu menyentuh tanah, mendadak langit menjadi mendung sehingga agak gelap bagaikan petang hari. Hamparan kuburan yang mengerikan terhampar luas. Entah di mana segelnya berada, tapi mereka harus mencarinya. Mereka menoleh lagi ke arah kota. Kini di atas kota tersebut muncul awan kelabu yang amat dekat dengan kota tersebut, tapi para iblis terbang kelihatannya tidak berhenti beterbangan, membentuk awan hitam sendiri.

“Teman-teman, tidak ada yang lupa, kan?” tanya Daisy.

Semuanya mengangguk. Kini mereka mulai mencari segel itu. Menurut mimpi dan kata Rido sebelum berangkat ke misi ini, sebuah segel akan muncul di kuburan masal dekat kota yang dikuasai sebagai syarat munculnya pelindung sihir tersebut. Jika ada yang berani menyentuh pelindung sihir itu, maka ia akan disengat api dari neraka yang paling dalam. Segel itu punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, adalah segel tersebut akan bisa memulihkan diri selama satu kali lagi jika dihancurkan. Kekurangannya, segel itu akan menteleport semua mahluk hidup yang berada dalam radius tiga meter dari segel, langsung ke area dimana pelindung dipasang.

Segel tersebut berbentuk tiang setinggi empat meter dan dipenuhi ukiran-ukiran iblis yang mengerikan, serta berwarna perak.

Tujuh ekor iblis muncul dari makam-makam yang ada di sekitar mereka, yang menyerang dengan ganas. Marino dan kawan-kawannya tidak terkejut lagi, dan membantai mereka dengan mudah.

Mereka melihat segel berada sekitar sepuluh meter dari situ. Ketika segel itu mendekat, mereka melakukan apa yang mereka lakukan di dalam mimpi mereka.

Setelah mereka mengelilingi segel tersebut, Marino memegang tangan Eko di sampingnya, yang memegang tangan Adin, Daffy, Daisy, lalu tangan Marino, dan membentuk lingkaran.

Menatap segel iblis itu, membuat semuanya makin bersemangat, dan menggenggam tangan teman di sebelahnya dengan makin erat. “Kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan. Ada pertanyaan?” tanya Marino, dan semua menggeleng. “Baiklah, kita mulai,”

“Demi cahaya yang menyinari kegelapan,” kata Marino, yang tubuhnya mulai bersinar. “Hilangkan kesengsaraan umat manusia,” lanjut seru Eko yang bersinar.

“Demi tugas mulia ini, hendaknya kami ingin melalui segel iblis,” kata Adin, “Segel iblis perusak umat dan juga penyengsara umat,” kata Daffy. “Hancurlah segel gelap dan jahat. Segel iblis,” seru Daisy, dan kelimanya bercahaya semakin terang.

“Dan hancurlah kau, segel Lucifer!” teriak semuanya bersamaan.

Bersamaan dengan bergaungnya kalimat itu, cahaya dari tubuh mereka melesat jauh ke atas, saling bergabung dan menjadi bola cahaya yang sangat menyilaukan. Setelah beberapa saat melayang-layang, bola cahaya itu menukik turun dan menghantam segelnya hingga lapisan perak yang tampak pada segel tersebut luluh, dan menampakkan warna dalam segel itu, hitam. Segel tersebut kini tampak lebih mengerikan, ditambah dengan suara hewan buas entah dimana.

Senjata kelimanya mulai bersinar lagi. Pedang Daffy menyala biru, tongkat Eko dikelilingi percikan-percikan listrik, mata kampak Adin dililit kobaran api, lalu senjata kembar Marino dan ujung tombak Daisy menyala dengan cahaya yang putih menyilaukan.

“Sekarang saatnya kita hancurkan segel ini. Serang!” seru Marino dan kelimanya bergantian mengeluarkan serangan-serangan terbaik mereka. Tiap serangan menghasilkan percikan api dasyat, tapi hanya menggores sedikit segel itu. Tapi lama-kelamaan segel tersebut mulai hancur, terkikis sedikit demi sedikit. Namun mereka tidak bisa senang dulu. Di hadapan mereka kini berdiri sesosok raksasa yang tidak asing lagi. Rafdarov V telah siap dengan pedang terhunus.

“Tahukah kalian, bahwa pedangku ini bisa membelah apapun dalam radius sepuluh meter?” Pedang itu diselimuti pancaran cahaya hitam saat Rafdarov berkata begitu dengan nada sok sopan.

Walau sudah tahu apa yang akan terjadi, tetap saja Marino memeluk Daisy, dan ia tahu bahwa semua temannya berharap bahwa memang semua bagian mimpinya akan terjadi.

“………..TAAAANNNNGGGG……!!!!!!!!” Bimo, seperti dalam mimpi, datang untuk membantu.

“Bimo!” seru Adin. “Hancurkan segelnya, dan akan kutahan dia di sini,” balas Bimo tanpa menoleh.

“Sembarangan saja! Aku mampu membelah besi terkuat sekalipun! Dan kekuatan iblis juga membantuku!” teriak Rafdarov, dan mulai menyerang. Tanpa ragu, Bimo menerjang juga

“Keluarkan kekuatan elemental kalian secara maksimum, dan kita serang bersama-sama!” kata Eko. Cahaya elemental pada senjata masing-masing semakin kuat menyala.

“SEKARANG!” teriak Marino, dan kelimanya menerjang segel tersebut bersamaan. Dengan sekali hantam, hancurlah segel itu. Sebuah bola cahaya terbentuk di tempat dimana tadi segelnya berdiri. Bola itu membesar dan meliputi semuanya, tapi seperti dalam mimpi Rafdarov ikut menerjang masuk.

“Habisi dia! Setan itu meninggalkan pedangnya di sini!” teriakan Bimo terdengar sesayup-sayup. Rafdarov berada di hadapan mereka.

“Kita bertarung sekarang….” kata Rafdarov.

Wajah Rafdarov yang dingin menunjukkan kerinduan yang amat mendalam, demikian juga Marino dan teman-temannya. Sayangnya kerinduan ini tidak romantis sama sekali (ya iyalaaaah).

Rafdarov mencabut sebuah pedang raksasa lain dari balik jubahnya, dan pertarungan pun pecah.

Begitu mereka sudah amat dekat, Adin menangkis dan mengaitkan pedang Rafdarov dengan kampaknya ke tanah. Di saat bersamaan, dengan kompak Daffy berkelit ke kiri, Eko ke kanan, lalu Marino dan Daisy melompat tinggi ke atas. Adin masih menahan pedang Rafdarov di bawah, saat empat temannya yang lain menerjang bersamaan. Rafdarov telah mengantisipasi ini. Dengan satu ayunan tangannya, yang dilapisi sarung tangan besi, ia menjatuhkan pedangnya dan menangkis semuanya. Tapi ia melupakan Adin yang kemudian menerjangnya dengan bahunya.

Tubuh raksasa Rafdarov terjungkal dan jatuh. Daisy melempar tombaknya lurus ke dada Rafdarov, tapi sekali kibas tombak tersebut terpental. Sambil melompat, Marino menangkap tombak yang terpental itu, dan masih melayang, ia melempar lagi tombak itu. Rafdarov yang sibuk menangkis serangan halilintar Eko tidak siap. Tombak itu menembus bahu Rafdarov. Dengan geram, Rafdarov mencabut saja tombak itu, dan menerjang maju. Tapi, bahunya yang luka membuat gerakannya terhenti. Kelimanya memanfaatkan saat ini untuk menerjangnya bersamaan.

Diterjang oleh lima serangan elemental sekaligus, Rafdarov terpental jauh, dan tubuhnya ditelan oleh lantai gelap tak berdasar di bawahnya.

“Sampai kapan kita akan terus berada di sini? Kapan kita akan tiba di Eleador?” gumam Eko. Tapi pertanyaannya segera terjawab. Tiba-tiba udara di sekitarnya berubah dari gelap, menjadi pemandangan sebuah kota. Mereka kini sudah berada di dalam ibukota Eleador.

Rumah-rumah terbakar, dan ada beberapa prajurit sedang bertempur dengan pasukan iblis. Marino dan teman-temannya membantu.

“Ada monster raksasa di pusat kota,” kata seorang prajurit ketika para iblis telah dihancurkan.

“Kalian cari saja tempat berlindung, biar kami yang mengatasinya,” kata Marino pada mereka.

Kelimanya terus berlari ke arah pusat kota. Beberapa kali mereka berpapasan dengan prajurit keok atau pasukan iblis dan harus bertarung. Di tengah kota, akhirnya Marino melihat sebuah area yang rumah-rumahnya sudah rata dengan tanah. Di situ ada sesosok monster raksasa yang wujudnya seperti ubur-ubur hitam terbuat dari kabut padat. Monster tersebut dikelilingi oleh para ksatria. Ada Marissa, Jasmine, Pavatov, Saphirre, Ullyta, Dalel, Meissa, Bathack, Yogin, Phalus, Isabel, Darpy, Kaine, Phaustine, dan lainnya.

Para prajurit tidak berani mendekat. Bahkan para ksatria juga tidak terlalu dekat. Hanya yang punya serangan jarak jauh, seperti Yogin, Jasmine, Phaustine dan Kaine saja yang menyerang, tapi tidak ada manfaatnya. Rido dan Black baru saja tiba.

“Pelindung dan pasukan iblis telah dikalahkan, lapor Black, tapi Rido terlihat berang yang berjalan mendekati monster tersebut dan merupakan Lucifer.

“Akhirnya kau datang juga. Sedikit saja kau terlambat, orang-orang ini akan kuhabisi dalam sekejap mata,” kata Lucifer dengan suara yang melengking tinggi dan amat mengerikan.

“Begitukah? Tapi sadarlah. ajalmu sudah dekat,” kata Rido. “Lima orang sesuai sumpahku telah datang. Kalau otak dungumu itu masih berfungsi, sudah tiga belas hari sejak kau bangkit.”

Marino dan yang lainnya baru sadar. Sebegitu lamakah sejak ia melihat kebangkitan Lucifer? Rasanya belum lama. Tapi itu tidak penting.

Lucifer bergerak. Warnanya bertambah hijau sedikit. “Sumpah sampahmu itu? Bagiku itu sama saja dengan ramalan orang bodoh,” kata Lucifer.

“Bukan ramalan. Sumpah. Dan aku bersumpah kalau kau akan hancur!” kata Rido, mengangkat pedangnya.

“Nah. Kalau begitu, cobalah hidangan pembuka ini. Ksatria yang lain tidak boleh ikut campur,” kata Lucifer dan dari tubuhnya melesat sebuah kilatan hitam ke arah Marissa.

“Tidak!” seru Marino, tapi Rido lebih sigap. Ia melompat, dan menangkis kilatan itu dengan pedangnya.

“Mau mencoba menangkisnya, ya? Bagaimana kalau begini?” cahaya tersebut bertambah besar sedikit. Rido terpaksa mundur. Bimo membantunya dengan cara menyilangkan pedangnya di belakang pedang Rido.

“Solidaritas… ini yang membuat manusia kadang-kadang menarik. Tapi manusia seperti kalian tidak berguna!” jerit Lucifer, kilatan hitam tadi bertambah besar. Dengan sigap, semuanya membantu menangkisnya. Bahkan Marino dan keempat kawannya pun ikut. “Luar biasa. tapi kalian akan mati saja sekaligus!” Sinar hitam tersebut bertambah lebih besar lagi.

“Menyingkirlah kalian!” teriak Rido, menghempaskan tubuh Marino beberapa meter ke belakang. Menyusul tubuh Daisy, Adin, Eko, dan Daffy terlempar.

Setelah itu, kilatan hitam tadi menimbulkan ledakan dasyat, dan asap menyelimuti seluruh kota. Saat asap mulai pudar, Marino melihat bahwa semua ksatria yang lain kecuali Rido, telah terkapar. Mereka semua kelihatan masih hidup, tapi semacam kekuatan gelap menahan agar mereka tidak bisa bergerak. Daffy membantunya berdiri, lalu ia membantu ketiga temannya yang lain untuk berdiri.

“Seranganmu tidak mempan padaku!” cemooh Rido.

“Tentu saja. Tanpamu, pertarungan tidak akan menarik sama sekali. Nah, aku mau melihat. Seperti apa kelima manusia yang katanya akan mengalahkanku,” geram Lucifer.

Rido tersenyum, “Kau tidak akan bisa menduganya.”

“Oh, dan kau, Rido Matius. Akan kubuat kau mati lagi. Tapi setelah aku mengurus kelima manusia itu!”dan monster itu meluncur ke arah Marino dan teman-temannya. Sosoknya yang seperti kabut berubah menjadi sisik. Menghadapi serangan seperti ini, Marino dan teman-temannya melakukan prosedur yang sama seperti melawan Rafdarov. Adin menangkis serangan, Eko mengelak ke kiri, Daffy ke kanan, dan Marino serta Daisy melompat ke atas, tapi wal hasil, kelimanya kena hantam sungut Lucifer.

“Segini sajakah? Rido, kuakui saja, teman-temanmu dulu lebih kuat daripada mereka. Huh, kuakhiri saja!” kata Lucifer sambil mengeluarkan serangan berputar. Tapi tiba-tiba senjata kelima bersahabat ini bercahaya putih, tapi putih ini lain dari yang biasa bersinar pada senjata Marino. Putih yang ini membuat hati mereka sangat sejuk….

“Apa itu?” geram Lucifer.

“Senjata kebenaran. Sumpahku telah menjadi kenyataan!!!” kata Rido sambil menerjang Lucifer.

Lucifer yang tidak siap terkena telak, sisi tubuhnya terbelah sedikit. Darah berwarna hijau mengalir keluar.

“Serangan yang sama sekali tidak ada artinya!” Luka itu lenyap, ia menyerang Rido secara bertubi-tubi dengan kilatan-kilatan cahaya dan hantaman sungut-sungutnya yang berjumlah tiga belas, tapi Rido mampu melindungi diri. Secara spontan, Marino dan teman-temannya ikut menyerangnya. Kerepotan karena dihujani serangan lincah Marino dan keempat sahabatnya, dan dari Rido juga, Lucifer benar-benar kesulitan.

Ada hujan panah mengguyur dari belakang Lucifer. Marino, keempat temannya, dan Rido melompat untuk menghindar. Ternyata ada kesatuan tempur dari benteng timur Eleador tiba. Panah-panah itu tidak melukai Lucifer sedikitpun. Dengan sekali tembak, Lucifer menghancurkan pasukan yang terdiri dari sekitar lima ratus orang itu.

“Kita lanjutkan pertarungan kita!” kata Lucifer dan ia menerjang lagi. Dalam pertarungan kali ini, Marino cuma berhasil menggores sedikit saja tubuh Lucifer, menyebabkannya meraung. Luka itu tidak sembuh. “Sial! Rupanya itu kekuatan Holy! Tapi kalian akan kubunuh!” Rido mundur, Marino beserta yang lainny menerjang.

Sementara itu, Rido mengangkat tangannya yang bersinar. “Gorulo!!!” teriaknya, seekor naga terbang melintas di atas mereka.

“Rupanya dia” batin Marino. Sang naga menembakkan semburan bola api yang sangat dasyat, menyebabkan Marino dan kawan-kawannya yang tidak dituju saja terpental karena radiasi kekuatannya. Lucifer menciptakan sebuah perisai hitam untuk menangkisnya.

“Arahkan senjata kalian pada naga itu!” seru Rido, dan mereka menurut. Seketika itu juga, cahaya memancar dari ujung senjata-senjata mereka dan melesat ke mulut sang naga. Bola-bola api yang keluar kini menjadi berwarna putih. Perisai sihir yang melindungi Lucifer hancur berantakan, tubuhnya dihujani bola-bola sinar putih. Saat ledakan sudah berhenti, Lucifer tidak tampak lagi, dan ada lubang yang sangat besar, dalam, dan gelap di tanah.

Saat sang naga raksasa terbang mendekat, sabuah pancaran cahaya hitam-hijau selang-seling meluncur ke arah si naga itu. Naga raksasa itu meledak dengan amat dasyat. Lucifer keluar lagi dari lubang itu dan melayang tinggi. Ia menembakkan sebongkah batu hitam yang tajam ke arah Rido. Rido menangkisnya, tapi disaat yang bersamaan, sebuah bongkahan yang serupa menembus tubuhnya dari belakang. Rido Matius langsung roboh.

“Boleh saja aku mati! Tapi sumpahku akan terlaksana!” teriaknya, lalu tidak bergerak lagi.

“Ya! Sumpahnya memang akan terlaksana!” teriak Marino, dan bersama keempat sahabatnya, ia menerjang ke arah Lucifer. Lucifer berusaha menangkis dengan sungut-sungutnya, tapi langsung putus terkena ujung-ujung senjata yang bercahaya putih ini.

Tak terelakkan lagi, lima senjata yang berbeda menebas Lucifer. Tubuh Lucifer yang penuh cahaya putih akhirnya hancur berkeping-keping, menyisakan semacam gumpalan hitam menjijikkan di tanah. “Apakah sudah selesai?” tanya Eko, tapi yang menjawab adalah orang lain.

 

 

“Kalian telah mengalahkan Lucifer, ya?” ternyata Rafdarov V.

“Kau masih hidup!” pekik Daisy yang terkejut, menyebabkan Rafdarov tertawa lagi. Ia berjalan mendekati gumpalan hitam yang ditinggalkan Lucifer. “Aku tidak akan mati semudah itu,” katanya, lalu mengangkat gumpalan itu. “Tapi kalianlah yang akan mati mudah! Kalian kira Lucifer sudah mati? Salah!” Gumpalan itu kini berubah jadi cairan hitam yang menyelimuti tubuh Rafdarov. Beberapa saat kemudian, Rafdarov telah berubah menjadi seekor monster mirip pasukan iblis.

Tubuhnya setinggi empat meter, kepalanya buruk sekali, seperti kepala ikan dicampur dengan singa dan kambing dicampur dengan jelek, badannya menjadi sangat kekar dan berbulu lebat seperti gorila. Tangannya ada enam, dan masing-masing memegang senjata yang berbeda.

Belum habis keterkejutan mereka, dari tanah muncul sepuluh ekor pasukan iblis, mirip seperti yang mereka temui di kuburan. Bedanya, mereka memegang senjata. Iblis-iblis itu maju, dua ekor melawan satu orang.

Marino berlari dan dua iblis mengejarnya. Ia berlari ke sebuah tembok, melompat ke tembok itu, lalu menggunakannya sebagai tumpuan untuk melompat dan menerjang salah seekor iblis itu. Iblis yang ditebas itu mengalami luka menganga yang besar di dadanya. Iblis yang kedua menerjang. Marino melompat untuk menghindarinya. Ia mengeluarkan serangan salto untuk membelah kepala iblis itu dan senjatanya membuat angin puyuh lagi yang melempar tubuh iblis tanpa kepala itu.

Iblis kedua diserangnya bertubi-tubi tanpa memberikan kesempatan membalas. Akhirnya ia berhasil menusuk iblis itu dengan senjatanya yang kanan dan saat itu ia mengeluarkan angin puyuh yang menjatuhkan tubuh iblis itu. Angin puyuh itu menghantam iblis yang tadi kepalanya ia penggal dan sedang berjalan-jalan tidak jelas (karena tidak ada otaknya lagi), membuatnya terpental lagi ke sebuah rumah yang terbakar.

Sementara Daisy, mengungguli kedua iblis itu benar-benar dengan kecepatan dan strategi yang luar biasa. Ia berkelit dan menghindar melalui sela-sela kaki kedua iblis sehingga kedua iblis itu saling bertabrakan terus dan akhirnya tangan dan kaki kedua iblis tersebut saling tersangkut. Langsung saja Daisy mengeluarkan serangkaian serangan angin dasyat untuk merobek-robek tubuh salah satu iblis dengan tombaknya. Iblis yang lain, begitu terbebas dari sangkutan dengan iblis yang satu lagi, segera menyerang Daisy. Sekali lagi, Daisy menunjukkan kemampuannya dalam melakukan gerak tipu, dengan cara mengelak, dan mengait kaki sang iblis dengan tombaknya. Begitu sang iblis terjungkal, Daisy dengan mudah mengoyaknya.

Daffy sedang melakukan pertarungan yang cukup adil. Ia menggunakan pedangnya untuk menangkis serangan-serangan dari kedua iblis itu. Ia sudah melucuti kedua iblis itu dan memotong salah satu tangan iblis yang menyerangnya itu.  Saat itulah Daffy membuat pagar es yang membuat tangan-tangan para iblis itu tersangkut. Langsung saja Daffy melompat dan menghajar kepala salah satu iblis sampai hancur. Iblis yang lain berhasil mengeluarkan tangannya dari jeratan es, tapi dia juga langsung dipenggal oleh Daffy.

Senjata-senjata dua ekor iblis langsung hancur ketika beradu dengan kampak Adin. Dalam waktu yang singkat, satu iblis telah dihancurkan olehnya. Iblis yang lainnya menyerangnya dengan bertubi-tubi dan tidak memberikannya ruang untuk mengayunkan kampaknya. Setelah beberapa kali berkelit, Adin berhasil menendang iblis itu sehingga jarak di antara keduanya cukup besar. Dengan dua ayunan kampak yang diselimuti api itu, sang iblis terbelah menjadi dua, dan terbakar.

Eko juga tidak tampak kesulitan menghadapi dua iblis itu. Dengan tongkatnya yang bertaburan percikan listrik, ia menghajar habis kedua iblis itu dengan kecepatan tinggi, memaksa mereka menjatuhkan senjata mereka. Sambil melompat, ia meledakkan kepala salah satu iblis, dan membakar yang lainnya. Saat ia kembali mendarat di tanah, tubuh iblis yang terbakar diterjangnya dengan sihir halilintar yang dasyat tingga hancur.

“Tidak kuduga kalian bisa mengalahkan pasukanku itu. Tapi tidak apa-apa. Aku sendiri bisa mengalahkan kalian. Rasakan ini!” Rafdarov menerjang maju ke arah Marino, yang dengan lincah berkelit tajam ke kiri, dan di tempat ia tadi berdiri kini ditempati oleh Daisy yang menghantam Rafdarov dengan tombaknya.

“Kau mudah sekali dikalahkan! Kukira jika kalian bergabung, akan lebih kuat,” kata Adin yang berjalan mendekatinya.

“Tidak! A… aku lebih kuat dari Lucifer sendiri!” geram Rafdarov tergagap. Jelas ia pasti berbohong.

“Kau membantai jutaan orang yang tidak bersalah demi membangkitkan sampah yang namanya Lucifer itu, yang kini bersatu dengan tubuhmu yang kotor itu! Kau tidak bisa dimaafkan!” bentak Marino yang mendekat.

“Dengan sombong kau katakan bahwa dengan summon iblis, kau akan bisa menguasai dunia! Tapi… kau akan mati sebentar lagi. Sumpah Rido Matius akan terwujud!” kata Daisy. Rafdarov mundur sedikit. Meski wajahnya nyaris tidak bisa disebut wajah lagi, tapi jelas tampak ketakutan.

“Bertahun-tahun kau buat orang menderita demi kepuasanmu seorang. Tapi lihatlah sekarang! Devilmare sudah binasa! Tidak ada lagi! Bahkan pasukan iblis dan Lucifer yang selama ini kau bangga-banggakan, sudah hancur!” kata Daffy.

“Tidak! Aku belum kalah! Lucifer masih bersamaku dan pasukan iblis yang lebih besar sedang menuju kemari!” sembur Rafdarov sambil terus mundur.

“Tidak ada. Yang kau katakan itu tidak ada. Mungkin Lucifer yang busuk itu masih melekat pada tubuhmu, tapi kalian sudah sangat lemah! Kalian cuma sampah!” kata Eko.

“T… tu… tunggu saja! Pasukan iblis yang besar akan tiba di sini sebentar lagi! HA HA HA HA HA HA HA!!!” tawa Rafdarov menggema di seluruh angkasa. Memang benar ada pasukan besar datang, tapi bukan pasukan iblis, melainkan pasukan gabungan Crin’s Blade di bawah pimpinan Aisha Zuchry dan Doughlas Puruhita, pasukan Eleador dari benteng timur, selatan, dan barat, serta pasukan Apocalypse-Fraternite dibawah pimpinan Pasha. Ada juga pasukan The White Garda.

Kekuatan yang membuat ksatria-ksatria tadi tdiak bisa bergerak kini telah hilang. Marissa, Jasmine, Pavatov, Saphirre, Ullyta, Dalel,  Phaustine, Yogin, Phalus, Isabel, Kaine, Phaustine, dan Black telah mampu berdiri lagi. Meissa, Darpy, dan Bathack juga sudah bisa berdiri.

“Wah wah… ini dia makhluk yang selama ini selalu membuat onar. Takut, ya?” cemooh Marissa dengan nada sinis.

“Tak kusangka akan berakhir begini. Si pembuat onar dikelilingi musuh-musuhnya. Hah, mati saja kau,” gerutu Phalus.

“Benar-benar sampah. Kau sudah sendirian sekarang,” kata Isabel. Rafdarov sama sekali tidak mampu berbicara.

“Bisanya kok diam saja? Katanya kalau ada Lucifer kau bisa berani, ya? Sayang sekali,” ledek Yogin.

“Betul. Dasar iblis…,” oceh Phaustine. “Tapi Oom ini siapa, sih?” tanyanya polos. Pavatov maju, lalu membelai kepalanya. “Seperti yang kau bilang. Dia adalah iblis, yang membuat sengsara seluruh orang di tanah Zenton menjadi amat menderita.”

“Coba kau katakan. Apakah ada sesuatu yang bisa menyelamatkanmu?” tanya Kaine.

“Tidak ada. Kau sudah tamat,” kata Saphirre.

“Akhirnya cerita juga bisa berakhir bahagia,” kata Ullyta dengan penuh harap.

“Kemungkaran bisa juga dikalahkan, pada akhirnya,” gumam Dalel dengan nafas lega.

“Memang brengsek sekali orang ini,” kata Jasmine dengan sengit.

“Bunuh saja dia. Rasanya semua sudah muak dengannya,” kata Black.

“Orang ini yang menyebabkan kematian suamiku,” kata Aisha.

Suasana menjadi agak bising saat para prajurit saling berbisik, dan akhirnya bersorak, “BUNUH DIA!!!!!” Rafdarov terlompat dan menjadi semakin gemetaran dari sebelumnya.

“Baiklah. Kita harus membawanya ke pengadilan antar negara,” kata Darpy.

“Lho, kenapa tidak dibunuh saja di sini?” tanya Bathack.

“Meskipun begitu banyak yang telah ia perbuat, tapi ia berhak mendapatkan keadilan hukum. Secara pribadi, sih, aku ingin memotong kepalanya sekarang juga,” kata Meissa.

“Baiklah,” kata Marino, “kita akan…” tapi tiba-tiba Rafdarov mengeluarkan sebilah pisau yang menyala dengan cahaya hitam. “MATILAH KAU DASAR KEPARAAAAAAT!!!!!!”

Pisau tersebut berubah menjadi bola api hitam saat ia melemparnya ke arah Marino. Sebelum ada satupun yang sempat bereaksi, sebuah pedang melesat dan menghantam bola api itu. Bola api itu terlempar ke arah pasukan Eleador, dan meledak. Ada dua orang yang tewas dan beberapa lainnya terluka ringan. Ternyata Rido masih hidup dan telah melemparkan pedangnya untuk melindungi Marino.

“Bunuh saja dia!” teriak Rido.

“Takkan kumaafkan!” geram Marino. Daisy, Eko, Adin, dan Daffy mengangkat senjata bersamaan dengan Marino, lalu bersama-sama pula menerjang….

Rafdarov kini telah terkapar. Tidak bernyawa lagi.

 

 

 

[End of Chapter XVIII]

[Coming up next, Chapter XIX: Finally Over…]

 

2 Trackbacks

  1. […] – Chapter XVIII – Oath or Prophecy? […]

  2. […] – Chapter XVIII – Oath or Prophecy? […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*