Jonru dan menJonru: Sebuah Renungan Objektivitas

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Tulisan ini tidak ditujukan untuk membela ataupun memojokkan Jonru, melainkan untuk renungan kita semua. Menurut saya sangat menarik apa yang terjadi sejak sebelum pilpres 2014 lalu hingga sekarang, perang politik yang merambah ke grassroot yang entah baik atau buruk. Jonru adalah salah satu sosok anti-Jokowi yang sangat vokal dan kontroversial. Belum terlalu lama ini, masuklah kata ‘menjonru’ dalam kamus slang yang maknanya adalah ‘memfitnah’.

Saya sendiri tidak begitu mengikuti masalahnya, hanya sekali-sekali skimming saja kalau Jonru sedang posting sesuatu, atau kalau ada yang membalasnya, lalu saling mengirim surat terbuka, tapi tidak terlalu memperhatikan detailnya. Akan tetapi, satu hal yang saya perhatikan adalah bahwa kedua belah pihak dalam berargumen akan melemparkan bukti-bukti dan kesaksian-kesaksian dan hasil investigasi –dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Satu fenomena yang membuat saya penasaran. Dari sekian banyak yang meneriakkan ‘Jonru menJonru’, berapa yang betul-betul membandingkan fakta-fakta yang dilontarkan oleh kedua belah pihak, dan kemudian menyimpulkan bahwa ‘Jonru menJonru’?

Kita hidup di jaman yang membingungkan, karena semua media yang sudah jelas punya keberpihakan (karena dimiliki oleh stakeholder tertentu) melontarkan semua informasi yang bisa jadi betul tetapi dipoles untuk ‘diarahkan’, bercampur-campur sampai semuanya bingung. Pada akhirnya, ‘masyarakat yang menilai’. Padahal, tidak masuk akal masyarakat bisa betul-betul menilai sederet fakta dan asumsi yang disajikan di media dengan objektif. Jadi, bagaimana kita menilai?

Kalau saya, dengan pengalaman jalan 11 tahun sebagai adjudicator, berusaha sebisa mungkin (dan belum tentu berhasil) untuk tidak percaya dan skeptis dengan semuanya, lalu isu-isu yang penting saya observasi lebih lanjut dengan membandingkan semua data yang bisa saya temukan dengan memperhatikan ‘kesahihan sanad’ juga, dan itupun saya tidak selalu berani menyimpulkan secara definitif. Tetapi selama pengalaman saya sebagai debater, adjudicator, pendidik dalam kegiatan English Debate ya kebetulan sejak 11 tahun itu, saya mengamati bahwa –setidaknya di lingkar sosial saya—ada sebuah kecenderungan.

Bagi orang awam, English Debate adalah ajang adu kemampuan bahasa Inggris. Tapi bagi kami yang aktif di dunia ini, akan tahu bahwa kemampuan bahasa Inggris itu penting tetapi hanya nomor dua. English Debate menekankan aplikasi teori-teori argumentasi dan public speaking dalam meyakinkan masyarakat (dalam kompetisi diwakili oleh adjudicator). Banyak hal yang saya sadari. Salah satunya adalah ‘The Toothpaste Phenomenon™’[1]. Berapa banyak sih dari kita yang betul-betul melakukan perbandingan mana merk pasta gigi yang lebih efektif? Kalaupun mengkaji testimonial kenalan, apa betul si kenalan itu pun telah melakukan pengkajian komparatif merk yang baik?

Apa sih, Cuma pasta gigi kok repot. Tapi, yang saya ingin soroti ini adalah logikanya. Paling objektif, ya orang melihat mana yang paling murah. Akan tetapi, tidak butuh iklan untuk membandingkan harga. Salah satu tujuan advertising adalah membuat kita lebih sering melihat merk tertentu dan lebih familiar. Akhirnya kita lebih bias terhadap apa yang kita lebih familiar tersebut. Inilah The Toothpaste Phenomenon™.

Familiaritas hanya salah satu contoh faktor yang membuat kita bias, tetapi media pun melakukan hal yang sama. Karena berulang-ulang disiarkan, akhirnya kita menjadi percaya karena familiar dengan klaim tersebut.

Selain familiaritas, juga ada bias lainnya. Seseorang mencerna dan mempersepsikan suatu informasi berdasarkan sebuah prejudis. Karena inilah, dalam dunia English Debate, terkadang ada adjudicator yang memutus atas dasar prejudis. Misalnya ada seorang adjudicator yang gay (bukan saya!!), lalu ada debat bertajuk hak-hak kaum homosex dan salah satu tim bercanda menyinggung kaum homosex dalam debat. Dalam aturan English Debate, penghina semacam ini jelas akan dikurangi nilainya, dan memang bisa langsung kalah karena itu. Tetapi, sang adjudicator yang terserang prejudis akan langsung mencari-cari sendiri kesalahan pada tim tersebut (menetapkan standar yang lebih tinggi dari semestinya). Dia cenderung jadi tidak percaya pada argumen-argumen yang ditawarkan tim tersebut walaupun mungkin argumen tersebut lebih banyak analisis dan pembuktiannya dibandingkan lawannya. Sedangkan dia malah jadi cenderung lebih mudah menerima argumen lawannya padahal argumen tersebut lebih lemah dalam analisis dan pembuktiannya.

Berapa banyak massa pro-capres tertentu yang begitu mudah mengatakan “Itu fitnah! Itu Black Campaign!” saat jagonya diserang, dan ‘TUH KAN! EMANG PARAH TUH!’ saat jago lawan diserang. Padahal tidak mempelajari lebih lanjut serangan itu. Bahkan ada tiga tokoh agama yang saya hormati melakukan hal serupa, walaupun salah satunya mampu berbesar hati dengan meminta maaf di muka umum setelah menyadari kesalahannya.

Nah, bagaimana dengan kita sendiri?

Ingatlah:

“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan, jangan sampai kalian menimpakan kecelakaan pada suatu kaum dengan ketidaktahuan sehingga jadilah kalian menyesal dengan apa yang kalian lakukan.” (QS Al Hujurot 6).

Dari Abdulah ibn Mas’uud r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda (dengan terjemahan bebas): “Barangsiapa memiliki kesombongan sebesar dzarrah pun tidak akan masuk surga” … “Kesombongan maksudnya adalah menolak kebenaran (karena kesombongannya) dan merendahkan orang” (Riyaadus Shaaliheen, Hadist No. 612, Sahih Muslim)

Ini sudah jauh lebih besar dari urusan Jonru menjonru.

[1] Trade Mark istilah ini adalah milik Fajri Matahati Muhammadin LoL

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
33 ⁄ 11 =