Legend of Legends: Chapter IV – The Fire Spangled Banner

I now publish the 4th chapter of my novel. Enjoy! ^_^

_________________________________________________________________

CHAPTER 4

THE FIRE SPANGLED BANNER

                Seluruh pasukan El-Peso kini berbaris mengelilingi istana, tapi tetap mengambil jarak. Di puncak istana tersebut, telah berkibar bendera Devilmare. Prajurit Devilmare sudah jelas memenuhi seluruh wilayah istana.

“Apakah yang terjadi?” tanya Marino pada seorang prajurit setelah ia bergabung dengan yang lainnya.

“Entah. Tapi katanya tiba-tiba saja mereka ada di dalam istana. Dan…raja kita sudah dibunuh…,” katanya sedih. Marino mendekat sedikit, dan mendapati semua jendral yang tersisa, yaitu Marissa, Vargas, dan Pavatov ada di depan semuanya, memandang hampa ke arah pekarangan istana, tampak tubuh berpakaian mewah terkapar tak bernyawa. Saat itulah mendadak dari dalam istana menyalalah sinar biru, dan semua prajurit Devilmare yang tampak dari jauh lenyap begitu saja.

“Mereka membawa putra mahkota,” kata Marissa sedih. Tapi, kejutan utama belumlah tiba…

Tiba-tiba, istana yang amat besar, megah, dan fantastis itu meledak dan hancur berkeping keping, dan pasukan El-Peso yang tadi mengelilingi istana(kini reruntuhan), kini telah dikelilingi oleh ratusan ribu prajurit Devilmare. Mereka berada sekitar dua ratus meter dari pasukan El- Peso. “Perang yang terakhir! Kita pertahankan negara ini!” seru Vargas melihat musuh yang terbagi empat, yang masing-masing berada di tiap arah mata angin. Tapi tiba-tiba juga pasukan Devilmare yang berada di arah selatan, yang wilayahnya merupakan gurun pasir, terkena badai pasir, dan…

Habis. Ternyata itu merupakan debu pasir dari derap langkah ribuan prajurit berkuda. Setelah menghabisi Devilmare di selatan, sebagian dari mereka berjaga, dan sebagian menemui pasukan El-Peso.

“Mereka sudah menguasai seluruh El-Peso. Kami sarankan kalian ikut kami ke Gallowmere, di sana akan dipersiapkan segalanya untuk menghadapi Devilmare dengan strategi dan perencanaan yang lebih matang. Lebih baik tinggalkan saja dulu dan nanti akan kita rebut kembali. Di Gallowmere juga sudah berkumpul prajurit pelarian dari Roxis…,” kata seseorang dari atas kuda kepada Vargas. Tak seorangpun dari mereka menampakkan wajahnya, karena zirah mereka menutupi hingga wajah. Ada dua penunggang yang kelihatannya memimpin pasukan ini, dilihat dari armournya yang lain. Yaitu orang yang baru saja bicara, dan seorang lagi yang tampaknya wanita, dilihat dari desain armornya yang ‘khusus’. Selain itu, dari helmnya ada rambut keperakan mencuat.

Vargas berpikir sejenak. Ada yang berteriak ‘begitu lebih baik’ tapi ada pula yang berseru ‘pertahankan hingga mati!’, lalu Vargas menjawab. “Shark Batallion, Tiger Batallion, dan pasukan Kolonel III Scherduke pergilah ke Gallowmere. Sisanya, kita pertahankan semampu kita,” kata Vargas. Kolonel III Scherduke adalah pasukan Marino. “Yang bertanggung jawab atas pasukan El-Peso sementara ini adalah aku, jendral Scherduke El-Peso. Untuk pasukan kita yang ke Gallowmere, yang bertanggung jawab adalah Komandan Shark. Bergerak, sekarang!” si ksatria penunggang kuda tersebut membisikkan sesuatu pada sang ksatria yang tampaknya wanita tadi.

Wanita tersebut berseru, ”Komandan Shark Batallion harap kemari, lalu semua pasukan yang disebutkan tadi mengikuti,” semua bergerak ke arah selatan, sementara sisa pasukan yang akan tinggal membentuk formasi bertahan. Dengan berat hati, Marino, Marissa, dan Pavatov bersama pasukan mereka bergerak menuju selatan diiringi pasukan Gallowmere yang membawa bendera bergambar api. Ternyata, saat berjalan menuju selatan itulah Marino dapat dua kejutan.

Marino berjalan sejajar dengan si komandan yang pria, dia masih menunggangi kudanya. Sudah larut malam saat mereka tiba di perbatasan El-Peso-Grandminister. Si komandan mengucapkan salam pada beberapa penjaga perbatasan dan mereka membukakan jalan. Semuanya berkemah sebentar di balik perbatasan di mana wilayahnya masih gurun, tapi mereka telah mencapai sebuah oase-mata air di gurun pasir. Sang komandan turun dari kudanya dan dia terperanjat saat melihat Marino. “M….Marino? Kaukah itu?” tanya si komandan tanpa melepas helmnya.

“Ya. Ini aku, sobat.” jawab Marino, yang rupanya baru sadar dan mengenali suara tersebut. Si ksatria bertopeng itu melepas helmnya. Di balik helm itu ada sesosok anak muda jangkung dan kekar, berambut coklat tipis. Dia adalah Daffy.

Marino langsung menjabat tangan sahabatnya itu dan merangkul pundaknya. “Bagaimana kau bisa sampai begini?” tanya Marino.

“Aku? Saat tersadar aku sudah berada di tengah hutan, entah hutan mana, dan seorang pedagang Grandminister membawaku ke Grandminister. Dari sana, lama aku berobat dan pindah ke Gallowmere dan melamar kerja sebagai perwira. Ternyata, walau tesnya sulit, aku lulus. Tapi, melihat umurku yang baru lima belas, para jendral yang juga muda mentesku sebagai komandan kavileri-pasukan penunggang kuda, karena saat itu mereka masing-masing memimpin banyak sekali prajurit sehingga kontrolnya sulit, dan butuh komandan. Aku lulus dan mendapat sedikit-sedikit dari pasukan mereka, dan inilah, aku dapat enam ribu prajurit penunggang kuda. Kalau kau?”

Marino menceritakan kisahnya. Sampai malam mereka terus tertawa-tawa di pinggir mata air bersama beberapa prajurit lain, dan sisanya istirahat. Tadi, kejutan pertama sudah terjadi. Kini, kejutan kedua.

Seseorang baru saja bergabung dengan mereka. Ternyata si komandan yang lain. Kini dia tak memakai helmnya lagi. Dia seorang wanita yang amat sangat cantik. Rambutnya keperakan, lurus sepanjang punggung, hanya setinggi hidung Marino. Dia sangat cantik, sepintas Marino berpikir begitu, tetapi tiba-tiba pikiran lain terlintas di benaknya. Apakah betul pernah ada dan diciptakan seorang wanita manusia yang secantik dan sesempurna ini? Betulkah ini manusia. Wanita itu memakai armor dada yang tampak seperti bikini. Di kaki dan tangannya terdapat beberapa pelindung besi. Belum hilang keterkejutannya melihat adanya sesuatu yang diciptakan seindah ini, muncul sesuatu lagi di benaknya. Ini wanita yang pernah dia lihat dalam mimpinya!

Tapi mungkin cuma kebetulan saja. Hanya kebetulan, pikir Marino. Si wanita itu menjabat tangan Marino. “Gabriela Diggory, komandan Batallion III. Kalau kau?” tanya wanita itu.

“A…aku? Marino Obelos, Kolonel III Scherduke El-Peso,” jawab Marino. Dari cara memegang pedangnya tadi, tampak jelas kalau ia amat mahir. Semua yang sudah mahir memegang pedang, biasanya tangannya agak kasar atau kapalan karena memegang pedang, tapi tangan Gabriela sangat halus seakan seorang ratu.

“Dia baru empat belas, lho,” bisik Daffy setelah mengobrol selama beberapa lama. Marino kaget, sebab Gabriela sudah sangat feminim, dan tampak sudah dewasa sekali, baik fisik, maupun cara bicara. Dan baru empat belas tahun? Wah, seluruh penjuru Zenton pasti menginginkannya jika pernah melihatnya. Dia sangat sangat cantik, ramah, dan sangat cerdas, dilihat dari fakta bahwa anak seusia empat belas tahun sudah jadi seorang komandan.

Tapi, entah ini perasaan Marino saja atau apa, rasanya Gabriela sering curi-curi pandang ke arah Marino. Namun, Daffy juga melihat hal tersebut. Saat mau tidur, dan setelah shift jaga kedua siap, Daffy berbisik pada Marino sebab Gabriela tidur persis di sebelahnya, “Kelihatannya Gabriela tertarik padamu, sobat.” Ah, dia cuma meledek, pikir Marino, walau sebetulnya ia mau juga.

Keesokan paginya, mereka mulai bergerak lagi. Marino berjalan di sebelah Gabriela yang menuntun saja kudanya. Mereka mengobrol tentang berbagai hal. Dari semua cerita masa lalunya, Marino tahu bahwa Gabriela merupakan salah satu anggota perkumpulan anak-anak rahasia untuk menggulingkan imperial Gallowmere dulu, bersama Phalus Light, yang kini jadi ksatria kepala Gallowmere. Tahu jugalah ia betapa besar derita Gabriela dulu, sebab perkumpulan rahasia yang dinamai S.Y.R. (Secret Youth Rebelion-Kaum Muda Pemberontak Rahasia) harus tinggal di hutan-hutan karena diburu oleh pasukan imperial Gallowmere pada masa itu. Makan belum tentu tiap hari, dan mereka bisa berhari-hari tidak mandi sehingga sama baunya dengan kambing, dan sekali ada tempat mandi, harus cepat, sebab banyak mata air yang sudah diintai oleh pasukan imperial.

Mendengar cerita itu, Marino jadi menyesal, selain karena derita para anggota SYR, tapi karena Marino tak ingat persis masa lalunya. Yang ia ingat adalah saat berusia delapan tahun, ia, Eko, Daffy, Adin, pergi merantau dari Armis, dan tiba-tiba saja sudah kerja pada Devilmare. Ia betul-betul tidak ingat. Saat Daffy ikut dalam pembicaraan ini, ia juga tidak ingat sama sekali.

Menjelang tengah hari, mereka tiba di istana Gallowmere yang berada dekat pantai timur. Kastilnya lebih besar dari istana El-Peso dan di samping istana ada bangunan-bangunan yang sangat besar, bahkan lebih besar dari istananya. “Itu barak prajurit. Dari delapan barak, baru terisi empat, dan yang keempat belum penuh. Satu berkapasitas sekitar tiga ribu orang. Pasukan dari Roxis tinggal di sana juga. Ayo masuk,” kata Gabriela, dan semuanya masuk ke ruang utama istana Gallowmere. Di sana seorang anak muda berambut pendek pirang menyambut mereka. Dia adalah Phalus Light. “Selamat datang. Silahkan duduk,” katanya. Setelah semua duduk, ia memberi sedikit penjelasan.

“Kami dengar bahwa El-Peso diserang dan kami mengirim pasukan untuk membantu. Tapi sayangnya menurut informan, pasukan Devilmare tiba-tiba saja sudah ada di tiap kota dan desa. Jadi saya kira lebih baik jika kita mundur dulu bersama pasukan El-Peso untuk menyusun strategi lagi. Nah, sebelum kita mulai membahas rencana kita, sebaiknya kita saling berkenalan dulu. Dari pihak El-Peso dulu, jika tidak keberatan.”

Pavatov memperkenalkan diri, “Saya Mouschelle Pavatov, komandan Shark Batallion.” kata Pavatov. Dia Marino Obelos, Kolonel III Scherduke El-Peso. Lalu di sana, Marissa Obelos, komandan Tiger Batallion,” dan Marissa mengangguk. “Sisanya ada di El-Peso, masih mencoba melakukan sesuatu,” kata Pavatov.

“Begitu? Kalau begitu, sekarang giliran kami. Saya Phalus Light, komandan Batallion I sekaligus ksatria kepala. Para komandan di sini, yah, kalian tahu, rata-rata masih remaja. Tapi, mereka cukup handal, lho. Ini, Isabela, komandan Batallion II sekaligus istriku. Dia yang paling muda dari kami semua,” kata Phalus, dan seorang wanita yang sangat manis maju. Dia memang mungil, tapi secara fisik, jelas ia sudah dewasa. Gaun merah yang ia pakai membuatnya lebih cantik. Rambutnya cokelat terang berponi dan di ikat.

“Itu Daffy, kau sudah bertemu dengannya. Dia komandan Batallion V. Dan ini Gabriela Diggory yang juga sudah kalian lihat,” kata Phalus menunjuk ke arah Gabriela, yang melirik sekilas kepada Marino. “Ini yang paling tua dari kita semua, sebeb sudah tiga puluh enam tahun,” kata Phalus, dan datang seorang pria besar….

“ RAFDAROV!” Marino kaget sekali. Pria itu memang sangat mirip Rafdarov V, hanya saja, dia cuma sedikit lebih tinggi daripada Marino, dimana Rafdarov V itu hampir dua kali lipatnya.

“Yeah, aku Michael Rafdarov. Aku diusir dari istana Devilmare waktu kecil, dan pindah ke Gallowmere. Aku ini komandan Scherduke Gallowmere,” katanya. Lalu, muncul seorang wanita yang cantik sekali, meski jelas tak secantik Gabriela, berambut hitam seleher, mungkin berumur 30an, dan postur maupun bentuk tubuhnya mirip Gabriela.

“Aku adalah Saphirre Blaine. Komandan Batallion IV,” katanya. Dia mengungkap juga bahwa ninja yang dulu menerima informasi dari Marino dan kawan-kawan ternyata bekerja padanya.

Marino diantar ke sebuah kamar di barak. Kamar tersebut kecil, cuma berisi sebuah lemari kecil, kasur, dan sebuah meja kecil. Walau sempit, kamar tersebut nyaman. Ia merebahkan diri sebentar. Memejamkan mata, ia mau istirahat. Angin semilir berhembus lewat jendela kamarnya yang berada di lantai dua barak. Ia merasa bahwa keberadaannya di sini juga tidak akan lama. Gallowmere juga akan hancur, menurut perasaannya. Wajah Daffy dan kedua temannya yang belum berhasil ia temukan melayang-layang di benaknya. Wajah Gabriela juga terus terbayang, entah mengapa, rasanya ia akan begitu penting. Mengapa dia bisa ada di mimpinya? Oke, kebetulan saja. Tapi, ia tak pernah habis pikir. Apa benar itu sebuah kebetulan saja? Betul-betul persis. Mengapa? Dan ada seseorang yang ia tidak bisa ingat, entah siapa, dan bagaimana ia bisa kerja pada Rafdarov? Ia jadi tak bisa tenang, karena penasaran yang tidak habis-habisnya, dan membawanya ke alam tidur yang nyenyak.

Ia mimpi yang sama sekali tidak jelas. Seperti kilasan-kilasan kejadian, tapi terlalu sulit untuk ditangkap. Ia terbangun dengan sebuah tepukan perlahan di bahunya. Gabriela dan Michael Rafdarov berada di sebelahnya. “Sebaiknya kau turun. Ada yang terjadi barusan,” kata Gabriela, menatapnya penuh arti.

“Baiklah, tapi keberatan jika aku ganti baju dulu?” dan kedua orang yang baru saja membangunkannya itu keluar.

Ia keluar setelah selesai berganti pakaian. Di luar, Marissa dan Pavatov juga telah menanti bersama seorang pria yang belum dikenali Marino. Dia sudah tua dan berjanggut, rambut abu-abunya yang sepunggung diikat. Walau tua, tapi tinggi, lebih tinggi dari Marino, dan sangat kekar. “Lothar Night, Jendral Scherduke Roxis. Kau?” orang itu menjabat tangannya.

Wah, ini ksatria kepala Roxis, pikir Marino. “Marino Obelos,” lalu mereka pergi menuju istana. Sambil berjalan, Lothar menanyakan berbagai hal mengenai El-Peso dan Devilmare pada Marino.

Akhirnya mereka tiba di ruang strategi istana. Di luar, malam telah tiba, dan bulan setengah sudah bertahtakan di langit. Semua panglima telah menanti di sana.

“Kita baru dapat kabar, bahwa Andry Kaperpasky ditahan di sebuah benteng di dekat perbatasan timur dan selatan El-Peso. Tapi, Benteng itu diisi oleh banyak prajurit batallion tempur Devilmare inti, dan Rafdarov V sendiri ada di sana. Mungkin kita bisa serang mereka saja, tapi saya ada rencana yang lebih baik,” kata Phalus.

“Jangan di serang, sebab di sana jelas banyak prajurit El-Peso sendiri yang diperbudak oleh Rafdarov dengan ancaman rajanya dibunuh. Tapi apakah kau punya rencana lain?” tanya Saphirre.

“Alasanmu tepat. Nah, sebelum kukatakan rencanaku, ada yang punya usul, siapa tahu lebih baik?” tanya Phalus, dan semua menggeleng kecuali Marino.

“Kalau saran saya, kita kirim pasukan besar pengalih perhatian saja, agar memancing mereka keluar, dan saya jamin Rafdarov V pasti akan ikut perang di luar, si haus darah itu. Lalu, kirim tim kecil untuk menyelamatkan lewat dalam. Kalaupun di dalam ada musuh, pasti sedikit dan bisa kita tangani. Bagaimana?” dan mendengar itu, Phalus mengangguk.

“Persis yang akan kuusulkan. Jadi, kita kirim pasukan besar, dan tim panah dan magic untuk alihkan perhatian dengan teknik hit and run-serang, lalu lari. Dan pasukan besar untuk musuh lihat supaya lebih terpancing. Kita kirim dua tim kecil ke dalam, masing-masing enam orang, tiap tim masuk lewat dua sisi yang berbeda, karena ada dua ruang tahanan yang berbeda di sana di dua sisi yang berbeda. Betul?” tanya Phalus dan Marissa mengangguk.

“Jika satu tim tak temukan apa-apa di ruang tahanan yang mereka datangi, cepat keluar lagi. Kita butuh tim yang khusus, dan kupercayakan dari kita semua. Oh, aku lupa. Tahu siapa yang beri info ini?” tanya Phalus. Vargas muncul bersama beberapa prajurit. “Mereka terlalu banyak, dan kupikir mungkin memang lebih baik kalau kami mundur saja,” katanya.

“Nah, untuk pembagian tim, sudah kubuat. Tim satu, masuk lewat utara, isinya: Vargas, Pavatov, Saphirre, Isabela, Daffy, dan Albert-Kolonel II Scherduke El-Peso. Vargas yang pimpin. Keberatan? Baiklah. Tim dua, masuk lewat timur, berisi : Marissa, sebagai pemimpin, Marino, aku, Gabriela, Robert dan Grieg-dua prajurit scherduke. Setuju?” dan mereka setuju. “Kita akan bergerak besok pagi. Pasukan yang akan jadi pengalih perhatian adalah Scherduke Gallowmere dan Roxis. Kalau digabung, tenaga magic dan pemanah lebih dari dua ratus. Cukup baik. Kalau begitu, kita harus istirahat dulu. Bersiaplah untuk besok. Rapat bubar,” dan semuanya pergi.

Marino pergi mencari ruang makan. Mudah dicari, sebab ada di dekat pintu masuk ruang strategi. Dengan membayar dua keping emas dari kantung ajaibnya, ia mendapat roti, ayam panggang, dan jus apel. Setelah makan, tadinya ia mau tidur saja. Tapi saat menuju kamarnya di barak, ia melewati sebuah pintu yang bertuliskan ‘ruang mandi air hangat’. Ia jadi tergoda. Ia masuk. Ruangannya cukup besat, sekitar sepuluh kali lima meter persegi. Tidak gelap, karena diterangi sekitar seratus obor, dan airnya pas, tidak panas, dan tidak dingin. Hangat dan sangat menggoda. Dalamnya cuma sedikit di atas lutut, tapi sangat nyaman.

Ia duduk di air dan menyandar di sisi kolam. Dipandanginya kolam itu berkeliling. Airnya sangat bening dan jernih. Sejenak ia berusaha mencari ikan, tapi ia kemudian tersadar bahwa di pemandian tak mungkin ada ikannya. Akhirnya ia menyandar lagi dan memejamkan mata. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu dibuka. Ternyata Gabriela. Ia bergabung dengan Marino di kolam. Kelihatannya dia juga lelah. “Kenapa airnya bisa hangat?” Marino memulai pembicaraan.

“Di bawah kolam ada api hasil magic,” kata Gabriela, yang duduk memeluk lutut di dalam air.

Terpana melihat kecantikan Gabriela, ia nyaris kaget saat Gabriela mengajaknya bicara lagi. Mereka mengobrol hingga akhirnya tertidur. Saat bangun, langit masih amat gelap sewaktu Gabriela mengintip keluar lewat jendela. Ia membangunkan Marino. ”Sebaiknya kita siap-siap. Sebentar lagi pagi,” lalu mereka segera pergi. Cepat-cepat mereka berjalan menuju ruang strategi. Di sana, semua telah bersiap. Marino telah memakai armor dan senjatanya.

“Kau yakin mau pakai senjata macam begitu?” tanya Phalus. Marino mengangguk. “Semua berkumpul sesuai kelompok masing-masing,” perintah Phalus. Marino mendekat Marissa, Gabriela, Phalus, dan dua prajurit jangkung juga ikut. “Semua regu masuk. Regu satu menyusup ke teras atas utara, regu dua, kita ke serambi timur atas. Setelah di sana, kita lihat perkembangannya. Saat pasukan Devilmare menyerbu keluar, kita baru masuk. Paham?” dan semua bersorak tanda setuju.

Regu satu dan regu dua telah mulai menjelajahi belantara menuju sisi belakang kastil. Sekitar seratus meter dari sasaran, kedua tim berpencar menuju pos masing-masing. “Kini komando ada padamu, Nyonya Obelos.” kata Phalus. Marissa berpikir sejenak. “Kau, Gabriela dan… kau, Grieg, amankan rute ke atas sana. Sekarang,” perintahnya. Gabriela dan Grieg berjalan cepat ke sisi kastil yang nampaknya kurang terjaga itu. Grieg menembakkan kait berujung kait ke atas, dan berhasil, tapi sayangnya ujung bawah tali terlalu tinggi. Nampaknya keduanya berdiskusi, lalu Grieg mundur mengambil ancang-ancang. Ia berlari kencang, melompat dan seolah berjalan di tembok. Tali itu berhasil dicapainya. Ia terus memanjat dan tiba di atas. Tubuhnya menghilang setelah melewati pagar atas sana. Gabriela juga berusaha melakukan cara yang sama, tapi tubuhnya yang terbilang kurang tinggi tentu takkan bisa sampai. Grieg yang jauh lebih jangkung saja sulit. Akhirnya ia menyerah.

Setelah beberapa lama, Grieg tampak dan melambaikan tombaknya. Marissa memberi isyarat, dan semuanya berlari ke tembok yang ada talinya. “Marino, kau bantu kami naik. Aku duluan.” kata Marissa, dan Marino mengangkatnya ke atas hingga mencapai tali.

“Aku bisa sendiri.” kata Robert. Dia dan Phalus melakukan cara yang sama seperti Grieg. Tinggal Gabriela dan Marino yang belum naik. Ia mengangkat Gabriela untuk mencapai tali, dan setelah ia sampai, Marino menyusul. Di atas, ada beberapa tentara telah terkapar. “Biar aku lihat.” kata Phalus. Ia naik ke sebuah tiang bendera. Tampaknya area selatan kastil bisa terlihat dari sana. “Pasukan sudah keluar. Waktunya bergerak!” serunya.

Setelah itu, mereka masuk lewat sebuah pintu. “Kalau kita lewat jalan biasa, kita takkan sampai dengan cepat. Ikuti saya,” kata Marissa yang berlari ke sebuah tembok yang berisi lukisan naga raksasa. Saat tiba di depan lukisan, sekitar lima prajurit Devilmare menyerang. Pertarungan terjadi, tapi kelimanya dengan mudah dikalahkan. Marissa menempelkan telapak tangannya di lukisan besar tersebut, yang tiba-tiba bergeser sendiri. Di dalamnya ada ruangan kecil dengan sebuah tangga. “Jalur ini singkat, tapi dijaga oleh beberapa monster tangguh. Siap-siap saja,” kata Marissa. Benar saja, begitu turun tangga ke ruangan berikutnya, ada monster ular yang sangat besar. Kepalanya saja sebesar orang dewasa. “Satu orang saja yang tahan dia,” kata Marissa.

“Biar aku saja. Yang lain terus saja.” kata Phalus. Ia mencabut pedangnya dan menerjang ular itu. “Jangan buang waktu. Terus!” lalu semua berlari menuruni tangga berikutnya. Di lantai berikutnya ada beberapa ekor labah-labah besar. Grieg dan Robert yang menahan mereka. Sisanya terus. Berikutnya Marissa berhenti untuk menghadapi seekor ular lagi, tapi yang ini berkepala singa. Tinggal Marino dan Gabriela saja.

Mareka terus turun, dan tak menghadapi monster apapun. Akhirnya mereka tiba di depan ruang tahanan. Ternyata Andry benar di tahan di sana. Ada seorang ksatria berjubah serba hijau tua dan zirahnya menutupi wajah sepenuhnya. Tapi, ada rambut panjang merah mencuat dari belakang helmnya. Saat Gabriela dan Marino bersiap untuk bertarung, ksatria itu menyuruh mereka tenang. “Mau bebaskan mereka, ya? Nih, kuncinya. Tapi jangan bilang pada siapapun mengenai aku. Maaf ya, Paduka Andry,” ksatria itu menyerahkan kunci, melukai perutnya sendiri, lalu pura-pura pingsan.

“Dia mata-mata untuk kita, tapi entah kerja untuk negara mana. Dia tak mau bilang. Omong-omong terima kasih,” kata Andry.

Saat menaiki tangga ke atas, si ksatria melambai pada mereka. “Aku akan bertemu kalian nanti,” katanya. Ketiganya bertemu anggota regu yang lain di atas.

“Misi sukses. Waktunya keluar,” kata Marissa. Perjalanan keluar lebih mulus, tapi di teras tempat mereka tiba telah ada beberapa penjaga yang harus dilumpuhkan. “Kita kembali ke tempat dimana kita berpencar dengan regu dua,” lalu mereka kembali ke sebuah tempat di hutan yang ada pohon besar yang ditandai. Beberapa lama mereka menunggu dan mengobrol hingga regu satu tiba.

“Satu dari kita telah gugur,” kata Isabela. Ternyata yang dimaksud adalah Vargas. Dia kini terbaring sunyi di sebuah tandu buatan. Marissa menangis tanpa suara.

“Jalur yang kami lewati ternyata ada perangkap hujan panahnya. Kematiannya dalam rangka melindungi kami,” kata Saphirre yang lengannya juga terluka parah. “Ternyata regu kalian yang berhasil, ya?” tanya Isabela. “Mari pulang.”

Mereka berpapasan dengan pasukan Scherduke Gallowmere. “Kami sukses. Kami belum sempat kehilangan seorang pun. Tapi mereka pulang lebih cepat sedikit dari perkiraan. Rupanya mereka bosan mengejar kami. Jendral Vargas gugur, ya?” tanya Michael. Mereka tiba di istana waktu matahari akan tenggelam. Seketika itu juga upacara pemakaman Vargas dilaksanakan. Dia dimakamkan di pemakaman prajurit Gallowmere. Setelah acara pemakaman itu, dilanjutkan dengan pelantikan Marissa, Marino, dan Pavatov. Marissa dilantik sebagai seorang komandan, demikian juga Pavatov. Marino sendiri menjadi asst. 4 Scherduke Gallowmere, dan sisa pasukan Vargas dilebur ke pasukannya. Lain dari pelantikan lain yang biasanya diakhiri dengan pesta, acara berlangsung dalam suasana berkabung. Mendekati tengah malam, semua jendral berkumpul di ruang strategi.

“Dengan serangan pancingan kita dan menghilangnya Andry Kaperpaski dari ruang tahanan mereka, jelas membuat mereka mencurigai Gallowmere. Jika demikian, berarti mereka akan bersiap menyerbu kita. Tidak semua yang akan menangani ini. Batallion III dan Scherduke rencanakan dan persiapkan pertahanan antisipasi. Michael, ingat. Jangan semuanya. Cukup dua regimen saja yang kerja. Tentukan siapa.” kata Phalus. “Kurasa Regimen 1 dan 4. Nanti malam, istirahat dan besok pagi setelah sarapan,  Kolonel 1 dan 4 Scherduke, dan komandan Batallion III harap kumpul lagi di sini,” kata Michael.

“Nah, pertemuan selesai. Silakan istirahat,” kata Phalus dan semuanya bubar.

Belum lelah, Marino berjalan-jalan di kastil saja. Ia melewati beberapa lorong yang belum pernah ia lewati sebelumnya berdua dengan Gabriela yang kebetulan bertemu dengannya di jalan.

Mereka sudah tiba di aula, dimana sedang terjadi keributan di luar. Mereka berjalan keluar. Ada seseorang yang mau masuk, dan dikerubungi oleh penjaga. Jelas saja membuat ribut. Ternyata dia seorang wanita yang sangat cantik. Lebih cantik dari manusia biasa…seperti Gabriela… tapi bedanya, dia sama sekali tak berpakaian kecuali rumbai di punggungnya. Kaget melihat pemandangan ini, ia mau mendekat, tapi Gabriela mencegahnya.

“Jangan!” Daffy datang. “Biar aku yang tanga…” ucapannya terpotong melihat siapa yang datang.

“Ayo, kuceritakan nanti.” kata Gabriela, yang menarik Marino ke barak. Mereka tiba di depan kamar Gabriela, lalu masuk.

“Ada apa?” tanya Marino yang duduk di atas kasur. Gabriela duduk di sebelahnya. “Orang tadi. Tahukah kau kenapa dia sangat cantik, lebih dari manusia biasa, dan juga… juga…” Gabriela ragu. “…seperti kau.” kata Marino enteng dan Gabriela memerah.

“Yah begitulah. Nah, kau tahu legenda Fatician? Legenda itu benar. Di hutan Faticia, suku Fatician hidup. Semuanya berbusana seperti yang tadi itu, kalaupun itu masih bisa dibilang busana. Kenapa tak ada orang yang keluar dari hutan itu? Karena semua yang masuk adalah lelaki. Selain kemampuan tempur mereka yang begitu luar biasa, mereka amat menggairahkan, seperti yang telah kau lihat. Busana yang vulgar itu ternyata merupakan perpaduan yang bagus dengan sifat alami mereka, yang senang diajak berhubungan intim oleh manusia pria…,”

Marino memotongnya, ”Seperti kau?”

Dia menjawab lagi, ”Enak saja kau. Aku ini, meski seorang fatician, tapi aku sangat selektif dalam memilih pasangan. Apalagi untuk menikah. Nah, ternyata ini jelas menarik minat para pria. Tapi kenikmatan yang diperoleh begitu luar biasa, dan meningkat terus, bahkan sampai di luar batas kemampuan manusia. Itu akan menyebabkan kematian saking nikmatnya. Padahal butuh ritual khusus jika Fatician mau menikah dengan manusia. Maka dari itu tidak ada yang keluar dari hutan itu. Kelihatannya mereka ada perlu yang amat penting sampai harus datang kemari,” kata Gabriela.

Obrolan semakin larut tetapi sekali lagi, malapetaka tiba…

[End of Chapter IV]

[Coming up next, Chapter V: New Lands]

One Trackback

  1. […] – Chapter IV: The Fire Spangled Banner […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*