Kisah Sang Raja Adil

Untuk menemani tidur Aafiq, ia selalu minta diceritai sesuatu. Terkadang saya menceritakan kisah Nabi, Sahabat, dan Ulama. Terkadang saya juga mengarang cerita untuknya. Berikut salah satu cerita yang saya karang untuk Aafiq (yang saya bacakan untuk dia dulu tentu versi yang lebih balita-friendly), tentang Sang Raja Adil. Alhamdulillah Aafiq, sebagai pecinta dinosaurus, sangat suka cerita ini. Berikut kisahnya, semoga antum juga suka:


Kisah Sang Raja Adil

Pada suatu hari, sekitar 67 juta tahun yang lalu, Sang Raja Adil berdiri tersembunyi di balik semak belukar memandangi sungai. Di tepi sungai tersebut, ada sekawanan Edmontosaurus yang sedang makan rumput dan minum di Sungai. Di samping Sang Raja Adil, ada anaknya yang masih kecil yaitu Putri Adil yang turut tersembunyi dan mengintip dari Semak-semak.

“Anakku, perhatikanlah yang kulakukan dan jangan menyusul kecuali kalau aku sudah berhasil. Semoga Allah berkehendak kita makan hari ini.” Kata Sang Raja Adil pada anaknya. Putri Adil mengangguk, perutnya keroncongan karena lapar.

“Coba perhatikan, yang mana yang kiranya paling baik untuk kita tangkap?” tanya Sang Raja Adil, dan Putri Adil pun dengan serius mengamati. “Yang itu paling besar! Yang sedang bermain dengan anaknya di dekat pepohonan!” kata Putri Adil setelah mempertimbangkan. Sang Raja Adil pun mengangguk, “Bagus, itu pilihan yang baik karena dagingnya banyak, kelihatannya dia juga agak sakit, dan kita bisa diam-diam mendekatinya.” Jawab Sang Raja Adil.

Setelah menyelinap sedekat mungkin, Sang Raja Adil pun menerjang dari pepohonan dan menyerang Edmontosaurus. Mangsanya itu berusaha lari, dan kawanannya pun berlari menjauh. Mujur bagi Sang Raja Adil, ketika mangsanya berbalik badan cepat untuk lari, ia terbentur sebuah batu besar yang tidak jauh dari sana. Sang Raja Adil pun berhasil melumpuhkan si Edmontosaurus.

Ayah dan anak pun menikmati santapan yang Allah rezekikan kepada mereka, sampai mereka pun kenyang. Mereka memuji Allah sebagai tanda syukur, dan baru mau beranjak pergi.

Tiba-tiba, mereka melihat seekor Edmontosaurus kecil. Sepertinya ia bingung, tidak melarikan diri, dan malah mendekati mereka. “Lho, ini kok malah ada di sini?” tanya Putri Adil. “Sepertinya ia bingung, karena masih kecil jadi harus belajar banyak.” Kata Sang Raja Adil.

Mata Putri Adil pun berbinar, dan bersiap untuk menyerangnya. “Aku mau Latihan berburu!” katanya. Tapi Sang Raja Adil melarangnya. “Jangan, anakku. Biarkan dia.” Di kejauhan tampak kawanan Edmontosaurus yang tadi melarikan diri. Sang Raja Adil meraung keras di depan wajah si Edmontosaurus kecil yang langsung ketakutan dan berlari. Sang Raja Adil memastikan ia meraung sedemikian rupa supaya si kecil lari ke arah kawanannya.

“Ayah, kenapa aku tidak boleh latihan berburu? Aku ingin mencoba berburu dan memakan hasil buruanku sendiri.” Protes Putri Adil. Sang Raja Adil pun tersenyum. Ia mengajak anaknya naik ke puncak gunung, yang darinya terlihat hamparan bumi Allah yang sangat luas dan subur.

“Apakah kamu masih lapar?” tanya Sang Raja Adil, dan Putri Adil pun menjawab, “Aku sudah kenyang, ayah. Tapi aku bisa makan lagi kalau aku mau.”

Sang Raja Adil pun memandang jauh ke depan. “Coba kamu lihat di sekeliling kita, apa yang kamu lihat?” Putri Adil melihat ke sekeliling dengan seksama. “Di sana aku melihat kawan Edmontosaurus yang tadi kita serang masih menelusuri tepi Sungai. Tapi, sepertinya di Semak-semak sana ada sekawanan Dakoraptor. Sepertinya para Edmontosaurus itu tidak bisa istirahat lama.”

“Di sana,” Putri Adil melihat ke arah lain, “ada hutan berisi pepohonan dan Semak belukar. Luas sekali, dan.. aku melihat banyak Alamosaurus tuh.. sedang melintasi hutan dan makan daun-daun di puncak pepohonan.”

“Aku meliat pegunungan, matahari, awan.” Putri Adil terus berceloteh.

Sang Raja Adil pun berkata. “Dengarkan, anakku. Allah yang menetapkan bahwa aku menguasai seluruh wilayah yang terpandang oleh mata ini. Suatu hari kamu yang akan menggantikan ayahmu dan, bersama suamimu nanti, akan gantian menguasai semua ini. Sebagai pemimpin, kamu harus tahu keadilan dan harus berbuat adil atas apa yang kamu kuasai ini.”

Putri Adil menyimak dengan seksama, dan bertanya “apa maksudnya adil, ayah?”

“Allah menciptakan matahari dan bulan bergerak sesuai ukurannya sendiri. Bintang-bintang dan pepohonan pun bersujud kepada Allah dengan cara mereka. Langit ini pun Allah tegakkan karena keadilan. Anakku, keadilan adalah ketika segala sesuatu ada pada tempat dan porsinya yang benar. Seimbang: tidak ada yang lebih dari semestinya, tidak pula ada yang kurang dari semestinya.” Sang Raja Adil menjelaskan.

“Kamu harus tahu, bahwa kamu tidak boleh merusak keseimbangan itu. Maka kamu harus berbuat adil, kenalilah keseimbangan di sekitarmu, supaya kamu tidak merusaknya.” Sang Raja Adil pun menoleh ke arah para Edmontosaurus, sepertinya kawanan Dakoraptor masih belum melakukan serangan tapi sudah tidak Nampak. Mungkin semakin tersembunyi.

“Allah sudah menjamin kecukupan rezeki kita. Jika kita mulai makan melebihi apa yang kita perlukan, maka kita harus siap menghadapi kehancuran. Kalau kita dan pemakan daging lainnya mulai memakan terlalu banyak, nanti para pemakan tumbuhan akan berkurang terlalu banyak dan merusak keseimbangan alam ini. Kita akan kelaparan, dan tanaman akan terlalu banyak tapi kegemburan tanah berkurang sehingga mereka rusak karena berebut nutrisi tanah yang sedikit.”   

“Tapi kalau kita dan para pemakan daging tidak makan yang cukup, nanti pemakan tumbuhan akan terlalu banyak dan juga menghabiskan tanaman di dunia sehingga juga berakibat kerusakan. Inilah akibatnya jika tidak adil, dan itu kita kenal sebagai dzalim!”

Putri Adil pun terkejut. “Menakutkan. Tapi aku kan Cuma mau makan satu saja?”

Sang Raja Adil pun tersenyum. “Perbuatan adil dimulai dari diri kita sendiri masing-masing, dan semua diri-diri yang lain menjalankannya. Demikian pula kedzaliman, ia dimulai dari seekor diri dan dijalankan oleh diri-diri yang lainnya. Membenarkan yang kecil akan memberi jalan untuk yang besar, baik keadilan maupun kedzaliman.”

Putri Adil pun termenung, “Berarti, kalau kita berbuat adil maka kita akan bisa hidup selamanya?”

Sang Raja Adil tertawa, sampai Putri Adil juga ikut tertawa. “Kita akan hidup, adil ataupun dzalim, sampai Allah menentukan kita mati. Tugas kita adalah berusaha. Jika ada keadilan maka kita harus berusaha menjadi bagiannya. Jika ada kedzaliman, maka kita harus berusaha untuk bukan menjadi bagian darinya, atau menjadi bagian dari upaya untuk menghilangkannya.”

Wajah Sang Raja Adil pun berubah serius, dan ia menyampaikan apa yang Allah ilhamkan padanya.

“Anakku, kamu harus memahami ini. Suatu hari akan tiba. Tempat ini sudah tidak seperti sekarang. Akan ada pepohonan tapi tidak seperti ini, ada gunung tapi tidak seperti ini. Dan ada pula berbagai hewan, tapi tidak seperti ini. Di zaman itu, Allah akan turunkan makhluk baru yang akan menguasai dunia ini. Allah perintahkan ia berbuat adil dan mengharamkan ia untuk berbuat dzalim, tapi kebanyakkannya memalingkan wajah dari-Nya.”

Putri Adil pun terkejut. “Lho, kok bisa begitu?”

“Mereka terlalu mencintai hidup, terlalu takut pada kematian, dan dzalim kepada Allah. Mereka akan menghancurkan alam ini untuk memuaskan perut-perut mereka, seakan-akan mereka akan hidup selamanya. Sehingga Allah pun mentakdirkan alam untuk membalas kedzaliman mereka, sebagiannya secara langsung dan sebagiannya secara perlahan. Dan kamu tahu apa yang paling buruk pada kalangan mereka ini?”

Putri Adil tidak tahu jawabannya, dan ia menggelengkan kepalanya.

Sang Raja Adil pun menjelaskan. “Mereka tidak tahu mereka berbuat dzalim dan tidak juga peduli. Mereka tuli, mereka bisu, mereka buta, sehingga mereka tidak bisa kembali pada kebenaran. Mereka terlalu biasa dengan kedzaliman, mereka fikir itulah yang baik.

Maka Putri Adil pun terkejut dan tidak bisa berbuat apa-apa, “Aku tidak mau seperti itu. Aku sekarang benar-benar faham kenapa ayah melarangku memakan anak Edmontosaurs.” Katanya.

“Pada akhirnya, yang dzalim akan mereka kira adil. Yang adil pun akan mereka kira dzalim.” Sang Raja Adil menjelaskan, dan ia menutup dengan sebuah doa, “Semoga Allah membimbing kita agar dapat selalu berbuat adil, dan menjauhkan kita dari berbuat dzalim.”

Putri Adil dengan lisan dan sepenuh hatinya pun mengucapkan “Amin.”

—–

ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ (٥) وَٱلنَّجْمُ وَٱلشَّجَرُ يَسْجُدَانِ (٦) وَٱلسَّمَآءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ ٱلْمِيزَانَ (٧) أَلَّا تَطْغَوْا۟ فِى ٱلْمِيزَانِ (٨) وَأَقِيمُوا۟ ٱلْوَزْنَ بِٱلْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا۟ ٱلْمِيزَانَ (٩)

“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. (5) Dan tumbuh-tumbuhan dan pepohonan tunduk (kepada-Nya). (6) Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia ciptakan keseimbangan, (7) agar kamu tidak melampaui batas dalam keseimbangan itu, (8) dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu. (9)”

(Sūrat al-Raḥmān, 55: 5-9)

—–

67 juta tahun kemudian, khususnya tahun 1902 Masehi, sekelompok manusia menggali di Hell Creek, Montana Timur (Amerika Serikat), dan menemukan Sang Raja Adil yang sudah lama dipanggil Allah. Yang ditemukan hanya beberapa potongan tengkoraknya, tulang punggungnya, dan beberapa tulang kakinya.

Tiga tahun kemudian, seorang ahli paleontologi bernama Henry Fairfield Osborn menetapkan nama bagi Sang Raja Adil.

Perlu diketahui bahwa Henry Fairfield Osborn berasal dari Amerika Serikat, sebuah bangsa yang saat itu telah menindas dan menyiksa keras ratusan ribu budak yang dibawa dari benua Afrika. Mereka juga sudah membunuh berjuta-juta warga suku asli, dan mendirikan sebuah negara di atas darah. Berpuluh tahun setelah Osborn wafat, Amerika Serikat akan menjadi negara paling kuat di dunia yang telah mengakibatkan serta mengambil keuntungan atas kematian dan penindasan dan kemiskinan milyaran orang di berbagai penjuru dunia.

Osborn tidak mengetahui masa depan, tapi mungkin tidak terlalu memikirkan masa lalunya. Ia tuli, ia bisu, ia buta, dan zahir nampaknya Allah tidak memberikan jalan kembali untuknya. Ilmu tentang keadilan dan hikmah Sang Raja Adil semasa hidupnya, tidak diberikan oleh Allah pada Osborn.

Osborn awalnya mengenali dengan tepat, bahwa ini tulang seorang RAJA. Bentuknya pun nampak seperti tulang reptil, tepatnya seekor KADAL. Tapi, Raja Kadal apa, ya?

“DZALIM,” pastilah predator sebesar ini bersifat dzalim, pikir Osborn. Ia pun puas dengan nama pilihannya. Sebagaimana ilmuan barat akan menamai dalam Bahasa Latin. Nama ini pun akhirnya terkenal dan menjadi salah satu favorit bagi para pecinta dinosaurus di seluruh penjuru dunia selama lebih seratus tahun sampai hari ini.

Raja: Rex, Kadal: Sauros, Dzalim: Tyrannos.

Raja Kadal yang Dzalim, Tyrannosaurus Rex.

—–

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

“Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.”

(Sūrat al-Baqarah, 2: 18)

Sang Raja Adil dan Putri Adil (Credit: Chat-GPT)

About Fajri Matahati Muhammadin
Lecturer at the International Law Department, Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada http://fajrimuhammadin.staff.ugm.ac.id/profile/

No Comments, Be The First!

Your email address will not be published.