Ketika Muslim, Yahudi, Palestina, dan Feminis Bekerjasama

 

Image may contain: 35 people

Image may contain: 31 people

 

Tahun 2014, saat itu saya masih jadi mahasiswa S2 di University of Edinburgh (UK) dan anggota Islamic Society. Banyak pengalaman yang saya dapat, tapi salah satu yang paling berkesan adalah di kala saya menyaksikan dan berpartisipasi dalam sebuah kerjasama antara Islamic Society, Jewish Society, Palestine Society, dan Feminist Society. Koalisi yang janggal, tapi sungguh terjadi!

Untuk menjelaskan kasusnya, ada beberapa latar belakang yang perlu dipahami.

Pertama, di kampus tersebut ada Student Council (lupa namanya) semacam BEM di mana ada sesi regular tempat mahasiswa bisa menyalurkan aspirasi untuk memodifikasi kebijakan BEM yang berdampak antara lain kepada komunitas-komunitas di bawah BEM, atau juga bahkan memodifikasi sebagian kebijakan universitas! Contohnya, alhamdulillah kami pernah berhasil membatalkan kontrak kerjasama antara kampus dengan sebuah kontraktor yang juga menyediakan jasa keamanan bagi Isra-hell di Tepi Barat.

 

Kedua, perkenalkan Humanist Society. Singkat cerita, mereka sering cari masalah dengan Islamic Society, tapi Allah selalu hinakan mereka. Salah satu kehinaan yang mereka alami adalah ketika mereka menantang Islamic Society untuk debat soal cadar, sempat saya tulis di Republika Online pada tautan ini.

 

 

Ketiga, sedang ada isu hangat. Di salah satu kampus di London (UCL atau LSE, lupa saya), Islamic Society kampus sana mengadakan debat Islam vs Atheist, tapi focus masalah adalah tempat duduk audience. Islamic society membuat tempat duduk laki-laki terpisah dengan perempuan dan dibatasi hijab. Kemudian ada seorang atheis yang diusir oleh panitia karena ‘hanya ingin duduk’, dan ini jadi menimbulkan perdebatan panas (nanti ada ceritanya ini). Nah, di sinilah Humanist Society di kampus saya ingin mengusili kami.

 

Jadi, tiba-tiba Humanist Society ingin mengajukan mosi kepada sidang Student Council untuk ‘melarang komunitas untuk mengatur pemisahan tempat duduk antara laki dan perempuan, kecuali untuk peribadatan’. Katanya ‘itu diskriminatif’, dan ‘sudah memakan korban’ (mengacu pada peristiwa di London tadi). Kami sendiri di Islamic society tidak pernah mengatur demikian, tapi antara laki dan perempuan pasti inisiatif memisah. Yang juga terdampak adalah Jewish Society (Komunitas Yahudi), mereka juga terseret di sini. Padahal katanya mereka ya tidak sesholeh itu juga sih (dan juga tidak duduk memisah kalau rapat), tapi hal tersebut kononnya adalah ajaran Yahudi dan disinggung jadi mereka terpaksa terseret.

Sebagian anggota Islamic society adalah juga anggota Palestine Society. Dan, sebagian anggota Islamic Society (yang liberal) adalah anggota feminist society. Maka akhirnya semua anggota Islamic society yang tergabung juga di komunitas lain turut memobilisasi komunitas-komunitas mereka itu, karena keputusan di Student Council adalah berdasarkan pemungutan suara.

Akhirnya, sesuai janjian, majulah aliansi yang sangat aneh ini: Komunitas Islam, Yahudi, Palestina, dan Feminis, masuk ke ruang sidang Student Council tersebut untuk melawan.

 

Andai para pembaca mengetahui betapa habis-habisan kami permalukan itu Humanist Society di muka sidang di hadapan hampir seribu hadirin. Sengaja kami memilih para akhwat untuk mewakili kami berbicara (karena humanist society mengesankan bahwa para perempuan di Islam dan Yahudi lemah), dan semua menyaksikan betapa garangnya para akhwat kami. Dan walaupun aliansi kami adalah 4 organisasi, tapi kami (Islamic Society) yang menjadi ujung tombak dan maju sebagai perwakillan.

Tidak terlalu focus pada ‘kenapa kami memisahkan laki dan perempuan’, tapi kami menyerang motif di balik kenapa Humanist Society mengajukan mosi ini. Mereka mengajukan kasus London, kami jelaskan kasus London. Jadi Islamic Society di kampus London itu, bukan hanya bikin tempat duduk khusus laki dan perempuan melainkan ada zona ketiga untuk duduk campur bagi hadirin yang ingin duduk campuran. Laki-laki yang diusir tadi, dia memaksa untuk duduk di zona khusus akhwat karena ‘saya ingin duduk semeja dengan perempuan perempuan Muslim’. Setelah ditegur berkali-kali akhirnya terpaksa diusir. Jadi itukah yang dibela oleh Humanist Society?

Kami juga melihat dalam paper pengajuan Humanist Society, ada beberapa data yang dikutip dari sebuah ‘lembaga studi’ yang dimiliki oleh ormas-ormas rasis ekstrim sayap kanan UK yang terafiliasi dengan parpol yang sangat rasis ekstrim juga. Lalu kami mencoba ‘menggiring’ hadirin untuk mencoba menemukan link tersebut, dan pancingan kami sukses. Beberapa hadirin mulai bertanya ‘oh, jadi humanist society terafiliasi dengan ormas dan parpol ini?’ dan akhirnya Humanist Society terpaksa berada dalam posisi bertahan dari serangan bertubi-tubi.

Akhirnya pengajuan mereka ditolak, dengan suara entah berapa ratus suara menolak vs 4 atau 5 suara menerima (itu ya anggota mereka sendiri yang hadir). Sekali lagi mereka harus pulang menanggung malu setelah mencoba mengusik kami.

Demikian kisah aliansi Muslim, Yahudi, Palestina, dan Feminis.