Legend of Legends: Chapter XV – Lethifold

Finally, Chapter 15 is out!

 

Enjoooy!!!! ^_^ ^_^

 

—————————————————————————————————————————————————————–

CHAPTER 15

LETHIFOLD

                Marino membagi pasukannya menjadi empat bagian. Dari 400.000 prajurit, dia memisahkan 100.000 untuk menyerang Gallowmere dari utara, yaitu dari Grandminister, yang akan bertanggung jawab adalah Pandecca. 100.000 lain akan lakukan serangan dari wilayah Xenfod yaitu dari arah barat. Phalus yang bertanggung jawab di sini. 100.000 lagi akan didaratkan lewat laut di timur Gallowmere, mengingat saat Xenfod dikuasai, mereka berhasil mendapatkan banyak kapal perang, termasuk kapal transport. Black akan memimpin ini. Sedangkan sisanya, yang berjumlah 100.000 prajurit, akan menyerang dari arah selatan, yaitu hutan legendaris Faticia. Marino akan bertanggung jawab untuk area ini. Marino berencana menggempur dari empat arah.

Marino melakukan sebuah briefing singkat dengan Phalus dan Pandecca. Ia hanya mengingatkan kemungkinan akan serangan dari dalam Gallowmere. Menurut perkiraan, pasukan yang akan didaratkan dari laut diperkirakan akan tiba dalam dua hari (mengingat buruknya teknologi perkapalan Xenfod), maka dua hari lagi pula akan diadakan serangan dari arah barat, utara, dan selatan. Tapi Marino harus cepat berangkat ke hutan Faticia, sebab sebelumnya, belum pernah ada orang yang pernah masuk, lalu keluar lagi.

Meski begitu, tapi Marino telah mengetahui apa yang akan mereka hadapi. Saat rombongan pasukannya memasuki hutan Faticia, mereka sudah disambut oleh segerombolan pasukan wanita, yang… kau tahu lah. Tapi Marino langsung menyuruh konvoinya berhenti, lalu ia sendiri meminta menemui pemimpin Fatician. Setelah sedikit berdebat, akhirnya para Fatician itu mau mengantarnya. Jasmine pun ikut menemaninya.

Setelah lama melewati pepohonan, akhirnya mereka tiba di sebuah area yang mirip perkemahan, tapi amat sangat luas. “Inilah tempat tinggal kami. Pemimpin kami ada di tenda paling besar,” kata sang Fatician. Marino dan Jasmine berjalan dengan cepat menuju tenda yang dimaksud.

Marino kini paham mengapa tidak ada yang pernah keluar dari hutan ini. Mereka pasti tergoda oleh para pasukan wanita di sini. Saat Marino berjalan melewati mereka, memang mereka ‘meminta’. Dan kalau yang masuk adalah wanita? Kan mereka tidak tertarik pada wanita juga. Tapi Marino tahu. Para Fatician menatap Jasmine dengan tatapan tajam dan sangat tidak suka, tak sedikit yang menggenggam senjata mereka sedikit lebih erat. Jasmine sampai agak risih. Ia lebih mendekat dan menggenggam erat tangan Marino.

Mereka akhirnya tiba di tenda yang dimaksud. Di dalam, ada seorang wanita yang luar biasa cantik, dan, tidak memakai apapun selain rumbai. Tapi rumbainya memiliki bagian-bagian yang terbuat dari besi. Dia juga memakai helm dari besi hingga dahinya tidak kelihatan, tapi bagian belakang kepalanya terbuka. Ada sebuah tongkat besar yang ujungnya adalah sebuah bola hijau yang agak menyala.

“Ada apa sampai datang kemari?” tanya si pemimpin Fatician. “Kami dalam misi, dan membawa 100.000 prajurit untuk menyerang Gallowmere. Misinya adalah membebaskan Gallowmere,” kata Marino.

“Jadi kalian yang telah membebaskan Xenfod? Aku telah dengar tentang kalian,” kata si pemimpin yang bernama Azarep itu.

“Betul sekali. Dan kami ingin…,” tapi Azarep langsung memotong kata-kata Marino itu.

“Kalian mau agar pasukan kami tidak mengganggu kalian. Agar tidak menggoda kalian, bukan?” Marino mengangguk.

“Begitulah. Demi kelancaran misi kami,” Azarep diam sebentar.

“Kuizinkan. Akan kuperintahkan agar tidak mengganggu kalian. Dan akan kukirimkan bantuan. Pasukanku cuma sekitar 6.000 orang, tapi aku yakin akan sangat membantu misi kalian,” kata Azarep kemudian.

“Bagaimana kalau mereka menggoda kami di jalan nanti?” tanya Marino.

“Akan kularang mereka,” kata Azarep.

“Apakah itu tidak akan mereka langgar?” tanya Marino lagi.

“Faticia. Faticia adalah suku yang komitmen. Jika aku bisa membuat mereka berjanji, mereka akan menepatinya. Apakah kau meragukan itu?” Marino menggeleng.

“Aku tidak akan mengirimnya sekarang, tapi akan menyusul dalam beberapa hari,” kata Azarep.

“Bisakah kuminta agar bala bantuan dari kalian agar memakai sesuatu? Pakaian?” Marino ragu Azarep akan menyetujuinya.

“Jika begitu, aku tidak bisa. Pasukanku tidak akan kuizinkan bertempur bila mereka merasa tidak nyaman,” kata Azarep.

“Kalau begitu saya berharap agar Faticia tidak usah mengirimkan bantuan, tapi penuhilah permintaan saya yang pertama.”

“Saya mengerti. Silahkan pergi, tapi saya pesan satu hal. Jika kau pergi dari tenda ini, jaga teman wanitamu ini baik-baik. Pasukanku sama sekali tidak menyukai wanita selain dari suku kami,” gumam Azarep pelan.

Marino meninggalkan tenda dan bergegas pergi. Saat menoleh ke belakang, Marino melihat bahwa Azarep keluar dari tendanya dan mengangkat tinggi tongkatnya. Saat tongkat itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan selama beberapa saat, pasukannya yang berada di area itu langsung berkumpul. Meski tidak dengar apa yang dikatakan, tapi Marino tahu bahwa Azarep sedang memerintahkan pasukannya untuk tidak mengganggu pasukan Marino.

Keduanya bertemu kembali dengan pasukannya di tepi hutan. “Bagaimana?” tanya Aisha Zuchry. “Apa mereka mau membantu?” Feizal menimpali. “Mereka tidak akan mengganggu kita. Ayo bergerak.” kata Marino. “Kita akan membuat kemah dekat tepi hutan. Semua yang merasa wanita, sampaikan juga pada wanita yang tidak mendengarkanku karena alasan apapun, kalian harus hati-hati, dan sebisa mungkin jangan sampai berkomunikasi dalam bentuk apapun dengan anggota suku Fatician. Bahaya.” Marino memperingatkan.

Akhirnya mereka tiba di dekat tepi hutan. Jika mereka keluar, mereka akan berhadapan dengan wilayah Gallowmere. Besok, mereka akan ke sana. Malam, tentunya. Beberapa mata-mata telah dikirim untuk meneliti kondisi area-area yang berbatasan dengan hutan Fatician tersebut.

Wal hasil, dari lima belas mata-mata, hanya enam yang berhasil kembali. Ternyata, jika mereka keluar dari hutan, mereka akan menemui dua alternatif kota. Salah satunya, dijaga dengan sangat ketat, dan bahkan ada sebuah pasukan besar di situ. Kota berikutnya, juga ditempati oleh sebuah pasukan besar Devilmare. Selain dua kota itu, ada juga beberapa desa kecil yang tidak dijaga terlalu ketat. Sembilan mata-mata yang tdiak kembali, ternyata tewas di dua kota tersebut. Malah, menurut mata-mata, sebuah pasukan sebesar 25.000 personil akan menyerang ke arah mereka dari salah satu kota itu, dan akan datang bala bantuan.

Untuk menghadapi serangan ini, Marino akan siap, sebab mereka akan kalah jumlah. Benar saja. Begitu mereka tampak di area terbuka luas yang memisahkan hutan dan wilayah Gallowmere, dan Marino memajukan semua pasukannya, pasukan Devilmare kabur lagi karena takut.

Beberapa mata-mata dikirim lagi, termasuk Eko. Saat sudah menjelang sore, semua mata-mata kembali dalam keadaan hidup, untuk melapor. Kota yang paling barat kini di perkuat oleh 40.000 prajurit. Desa-desa di timur kota tadi juga di isi prajurit yang total berjumlah 25.000 orang. Kota yang paling timur, yaitu yang tadi mengirimkan pasukan untuk kemudian kabur lagi, mendapatkan bala bantuan sejumlah 15.000 orang, dan kini telah mendapat kiriman lagi sebanyak 10.000, jadi di kota itu ada 50.000 prajurit. Marino kalah jumlah.

Walau begitu, Marino tetap konsisten dan tidak berniat untuk meminta bantuan dari Fatician. Ia memecah pasukannya menjadi tiga bagian. 35.000 prajurit akan menyerang kota paling barat, 45.000 ke kota paling timur, dan sisanya, yang berjumlah 20.000 personil akan menggempur desa-desa kecil di antara kedua kota tersebut. Tiap sektor mereka memang kalah jumlah 5000 orang, tapi Marino merasa bahwa ini cukup adil.

Malam telah tiba, dan Marino memerintahkan pasukannya agar bergerak dan menyerang area yang telah ditentukan. Marino sendiri ikut menyerang kota yang terletak di sebelah timur. Kuda yang ditunggangi Marino melaju paling depan. Dekat di belakangnya ada Daisy, Feizal, dan Aisha Zuchry.

Kota tujuan mereka kian dekat dan mereka melaju di tengah area terbuka yang sangat luas yang amat cocok untuk area pembantaian. Dari jauh, tampak kalau kota tersebut dikelilingi tembok batu yang tinggi, sekitar tujuh meter.

“Penghancur gerbang siap!” teriak Marino, kira-kira seratus meter dari kota tersebut, dan ada sahutan semangat dari belakang yang diteriakkan oleh beberapa prajurit yang memiliki magic khusus untuk mendobrak batu. Tapi““` saat mereka berjarak sekitar tiga puluh meter dari kota, menyemburlah hujan panah dari balik tembok kota tersebut. Segera Marino mengangkat tangannya dan memberikan isyarat untuk berhenti, lalu keluar dari daerah jangkauan panah. Dia juga teriak, tapi tenggelam oleh seruan-seruan pasukannya.

Pasukannya memang melihat isyarat itu, lalu berhenti dan keluar dari jangkauan panah, tapi ada seseorang yang tidak melihatnya. Daisy.

Dengan lincah, ia mengendalikan kudanya, berkelit-kelit menghindari panah. “Daisy! Kembali! INI PERINTAH!!!” teriak Marino. Daisy menoleh dan terkejut bahwa ternyata dia seorang saja yang maju.  Saat itu, sebuah panah melesat dan menancap pada kaki kuda yang ia tunggangi. Kuda tersebut terguling jatuh. Kalau begitu, Daisy kini dalam bahaya besar. Tanpa pikir panjang, Marino melesat maju, dan dari belakang, Feizal Zuchry mengikuti juga.

Tiba-tiba sebuah panah melesat lurus ke arah Marino dan membuatnya terpaksa berkelit. Jalan Feizal lebih mulus, ia pun tiba lebih dulu. Tanpa mengurangi kecepatan kudanya, diraup saja tubuh mungil Daisy ke atas kudanya, dan Daisy duduk di belakangnya.

“Maaf, aku tidak lihat isyaratnya,” kata Daisy.

Feizal melakukan putar balik tajam dengan kudanya, yang tadi mengarah ke kota, untuk keluar lagi dari jangkauan panah. Tapi terjadi sesuatu yang sangat tidak diinginkan.

Saat melakukan putar balik tajam itu, sebuah panah menancap di perut Feizal. Segera saja Daisy mengambil alih kendali kudanya, lalu melaju keluar dari daerah jangkauan panah. Setelah tiba di luar jangkauan panah, Daisy segera membaringkan Feizal di rumput. Aisha langsung mendekatinya dan menangis. Perut Feizal mengeluarkan darah yang sangat banyak.

“Bisakah disembuhkan?” tanya Marino.

“Sulit. Ini adalah panah racun, tapi akan kuusahakan,” kata seorang prajurit.

Sementara sang prajurit mencoba mengutak-utik luka Feizal dan panahnya, Aisha terus menangis sambil mencium pipi suaminya itu.

Feizal membelai wajah Aisha dan berkata, “Sampaikan salamku pada Bismah… katakan bahwa aku sudah berjuang…. Maaf…aku belum bisa memberikan adik untuknya…selama ini…padahal…carilah orang yang lebih baik dariku…lalu berilah adik untuk Bismah…tolonglah…,” lalu Feizal tersedak.

“Tidak…kau katakan sendiri padanya! Dan…Bismah akan punya adik…dia sudah ada di sini…,” Aisha memegang perutnya sendiri. “Belum kelihatan…tapi dia akan punya adik,” kata Aisha, setetes air mata bergulir di pipinya.

Feizal membelai perut Aisha. “Betulkah? Akhirnya… Ceritakan kisahku padanya…katakan aku mencintainya, meski aku tidak akan bisa menunjukkannya….”

“Tidaaaaak! Kau akan mengatakannya sendiri! Kau akan menggendongnya…!” jerit Aisha, di saat yang bersamaan, sang prajurit yang berusaha menyembuhkan Feizal, menggeleng. Pandangan mata Feizal meredup.

“Aisha? Aku punya dua permintaan terakhir. Pertama, aku sudah bilang, ceritakan kisahku pada anakku, baik Bismah, maupun yang masih dalam kandunganmu. Kedua, aku ingin menciummu untuk terakhir kalinya…,” Aisha tidak protes lagi, mereka berciuman. Begitu Aisha melepaskannya, tubuh Feizal sudah tidak bernyawa lagi.

“Maaf… itu salahku. Andai saja…,” sesal Daisy, tapi Aisha memotongnya.

“Tidak. Kau memang tidak lihat isyaratnya. Kalau ada yang salah Devilmare. Aku bersumpah akan menghabisi mereka!” geram Aisha dan menatap tajam ke arah kota.

“Maaf, aku bukannya mau membuatmu tersinggung…tapi kau tidak akan ikut perang ini lagi. Sampai kandunganmu sudah lahir. Dengan ikut dari awal sudah bahaya. Mengapa kau ikut misi ini padahal kau sedang hamil?” tanya Marino. Aisha langsung menunduk.

“Feizal… Aku ingin berperang bersamanya….dan aku baru menyadari kehamilanku saat di hutan…kumohon… izinkan aku membalaskan dendamku!” pinta Aisha, tapi Marino tetap menggeleng.

“Aku tidak mau meresikokan dirimu. Kau harus menceritakan kisah Feizal pada anakmu.”

“Tapi…” Aisha tidak bisa membalasnya. Daisy menepuk bahunya dengan perlahan. “Aku bersumpah akan membalaskannya untukmu. Salahku juga dia tewas. Ini…,” Daisy mengambil sebilah belati, lalu ia akan menusuk lengannya sendiri. Dia akan melakukan ‘Sumpah Darah’.

Sumpah Darah adalah sebuah sumpah yang dilakukan dengan cara sang penyumpah melukai dirinya sendiri. Setelah itu, ia akan merapalkan sebuah mantera. Jika mantera tersebut selesai dirapalkan, luka tersebut tidak akan hilang, tapi darahnya berhenti. Jika ia gagal melaksanakan sumpah itu dengan tangannya sendiri, darah akan mengalir lagi. Tapi tidak cuma dari luka itu, melainkan dari seluruh tubuhnya, lalu ia akan mati. Jika ia berhasil, luka itu akan hilang. Dalam melaksanakannya, kadang-kadang ada yang akan mendapat kekuatan ajaib untuk mendukung sumpahnya, tapi ini sangat jarang terjadi.

Sedetik sebelum Daisy sempat menusukkan belati itu ke lengannya, Aisha menggenggam mata belati itu, dan tangannya berdarah. “Aku bersumpah akan memotong kepala pemanah yang membunuh suamiku itu. Hidup atau mati,” kata Aisha. Lalu merapalkan sebuah mantera yang panjang, tapi tidak terlalu sulit. Seketika darahnya langsung hilang, tapi meninggalkan sebuah bekas sayatan pada telapak tangannya. Setetes air mata bergulir lagi dari matanya.

Aldyan, dari fraksi militer Apocalypse, merangkulnya, dan membelai kepalanya. “Kita memang akan sangat kehilangan dia, akan tetapi perang akan terus berlanjut,” katanya.

“Sekarang…bagaimana caranya kita masuk ke kota itu dan melewati hujan panah?” tanya Marino pada seluruh komandan pasukan. Saat itu ada seseorang yang menarik-narik lengan Marino. Ternyata Yogin. Marino paham.

“Kita akan membuat benteng magic. Pasukan magic akan baris menyebar di sela-sela kita, lalu akan memberikan perlindungan untuk kita. Harus cepat. Begitu mendekat, mereka akan menghujani tembok dengan magic, lalu penghancur gerbang beraksi. Mengerti? Ayo laksanakan. Buat formasi rapat dan persiapkan perisai kalian untuk jaga-jaga.”

Saat para pasukan langsung maju, semburan panah kembali menghujani mereka. Tapi kali ini mereka lebih siap. Susul menyusul, meluncur kilatan-kilatan magic yang melesat dan meledak menjadi perisai-perisai kecil, yang menghanguskan panah-panah yang mau lewat. Kecil, hanya bertahan beberapa detik, tapi sangat banyak.

Phaustine menembakkan sinar putih raksasa yang bentuknya mirip naga. Naga cahaya itu melayang mondar-mandir menghancurkan panah-panah yang disentuhnya. Yogin dan Eko membalas semburan panah itu dengan semburan kilatan. Karena pagar perlindungan magic, tidak satupun panah yang berhasil lolos.

Gerbang sudah dekat. Sesuai rencana, pasukan magic menghunjam tembok dengan magic-magic halilintar dasyat untuk melumpuhkan pemanah untuk sesaat, dan pasukan penghancur gerbang beraksi.

Kilatan-kilatan biru menghantam gerbang, lima detik kemudian, gerbang itu sudah roboh. Di balik gerbang itu, telah menanti ribuan prajurit Devilmare, yang langsung membanjir keluar. Jarak antara kedua kubu itu ada sekitar sepuluh meter.

“Formasi menyebar agresif!” teriak Marino yang juga memberi isyarat tangan. Sebelum musuh terlalu dekat, pasukan magic melakukan semburan magic dasyat, dan menghabisi musuh dalam jumlah yang sangat banyak sehingga kelihatannya perang ini akan seimbang.

Pertempuran dasyat terjadi. Memang jumlah mereka kini kurang lebih seimbang, tapi pasukan Devilmare terlihat jauh lebih kesulitan. Mengapa? Karena armor pasukan Devilmare tidak sekuat dan sebanyak pasukan asal Dark Land. Dari segi teknik Devilmare juga kalah.

Hingga sebelum fajar, semua masih bertarung dengan semangat. Tapi begitu matahari mulai terbit, pasukan Devilmare mundur. Komandannya meneriakkan panggilan untuk mundur, mereka pun lari ke luar gerbang yang lain. Marino berhasil menawan 15.000 lebih prajurit Devilmare.

Entah dari mana, tiba-tiba Aisha tahu siapa prajurit yang memanah suaminya. Prajurit itu termasuk yang ikut bergabung dengan Marino. Aisha menyambar pedang peninggalan suaminya dan langsung saja menebas putus kepala sang prajurit. Luka pada tangan Aisha langsung hilang.

Kemenangan demi kemenangan dicapai. Keempat pasukan akhirnya bertemu di jantung Gallowmere, Greliord, setelah lebih dua ratus hari bertemur sengit sejak setelah pertama Marino tiba di Gallowmere. Gallowmere telah berhasil direbut lagi. Rakyat melalui sejumlah tokoh meminta Phalus untuk memimpin lagi dan ia pun setuju. Pemerintahan Gallowmere dibentuk lagi. Kini kembali ke bentuk kerajaan. Tapi setelah Phalus selesai membangun kembali angkatan perangnya, dia tetap ikut menuntaskan misi The Chain. Pasukan yang tadinya ia pimpin sejumlah 12.000 orang. Tapi setelah ia menjadi raja Gallowmere, ia memiliki 137.500 prajurit. Dia mengikutkan 50.000 pasukannya untuk kembali bertempur dan ia sendiri ikut berperang.

Pasukan Marino kini sejumlah 449.000 personil. Pasukan ini bergerak ke Grandminister. Mereka bergabung dengan pasukan Darpy untuk melakukan penyusunan strategi. Jika ditotal, mereka semua memiliki 73 komandan pasukan yang masing-masingnya mewakili satu pasukan, dan mereka disebar di sepanjang wilayah perbatasan Grandminister dan negara-negara tetangganya yang masih dikuasai oleh Devilmare; Talmis dan El-Peso.

Tak lama setelah pasukan disebar sepanjang perbatasan, tersiar kabar bahwa Armis dan Talmis telah bisa membebaskan diri dari Devilmare. Langsung saja Marino memimpin 400.000 prajuritnya untuk menuju ke Armis dan Talmis.

Ternyata kemenangan kedua negara itu dipicu oleh amuk rakyat saat Stuart Aross dibunuh oleh Devilmare dalam sebuah perundingan tipuan. Segera saja Donald Aross memimpin sisa-sisa pasukan pemberontak beserta rakyat yang marah, kemudian menghabisi Devilmare di wilayah mereka. Tapi mereka tidak akan bisa bertahan jika Devilmare melakukan serangan balik dan mencoba merebut kembali. Maka dari itu, Donald Aross menyambut baik pasukan Marino.

Pasukan Marino bersama pasukan kerajaan Armis dan Talmis ditempatkan di perbatasan wilayah Armis dan Talmis dengan wilayah negara-negara sekitar, yaitu El-Peso dan Lovenia. Seperti biasa, Marino menyebar sepasukan mata-mata ke El-Peso dan Lovenia.

Sementara itu, akhirnya diadakan perundingan antara tokoh-tokoh Armis dan Talmis. Tadinya Marino diundang, tapi Marino tidak dapat hadir karena sakit, dan sebagai gantinya, Black dan Aisha yang hadir. Saat perundingan usai, diputuskan bahwa Armis dan Talmis akan digabung menjadi New Belsampos dan Donald Aross sebagai rajanya yang baru.

Dua minggu telah lewat, musim salju tiba, dan Marino telah sembuh dari sakitnya. Saat seperti itulah para mata-mata memberikan laporan. Mata-mata dari El-Peso membawa kabar baik, yaitu bahwa Darpy sudah menguasai hampir setengah wilayah El-Peso. Kalau mata-mata dari Lovenia membawa kabar yang mengerikan. Pasukan iblis.

Pasukan iblis yang akan dipimpin oleh Lethifold akan tiba empat hari lagi. Mereka akan menyerang lewat area pegunungan salju, yang merupakan perbatasan Armis-Lovenia. Menurut mata-mata, pasukan iblis tersebut kira-kira sebanyak 75.000 iblis. Ini jelas malapetaka. Mungkin butuh pasukan lima kali lipatnya untuk mengalahkannya, mengingat pasukan ini bukan pasukan iblis biasa, dan dipimpin oleh iblis yang sangat kuat. Marino belum lupa mimpi yang dialaminya bersama teman-temannya, yaitu Rafdarov V memanggil Lethifold dan pasukannya. Marino tahu bahwa Lethifold sendiri mungkin bisa mewakili seratus ribu iblis biasa.

Tadinya Aisha berpendapat bahwa bertahan di dalam kota lebih baik, tapi Daisy tidak setuju. Karena jika mereka sampai kalah, hancurlah New Belsampos. Jadi Daisy mengusulkan agar pasukan Marino juga pergi ke pegunungan salju dan menghadapi pasukan Lethifold di sana.

Menurut mata-mata, pasukan iblis akan melewati rute perdagangan untuk tiba di Belsampos, yaitu sebuah jalan terbuka yang sangat sangat luas dan pegunungan tinggi di kiri dan kanannya. Menurut Phalus, area itu adalah area sempurna untuk bertempur dengan iblis. Pasukan magic akan disebar di pegunungan di kiri dan kanan area terbuka tersebut, dan dari situ, mereka bisa menghancurkan iblis dari jauh. Marino juga merencanakan sesuatu. Ia ingin menempatkan 50.000 prajurit di sisi kiri area terbuka (pasukan A), dan 50.000 lagi di sisi kanan (pasukan B), dan 50.000 akan berhadapan face to face dengan para iblis dengan formasi bertahan (pasukan C)

Bila pasukan iblis tiba, pasukan magic akan menghujani dengan magic, lalu begitu sudah dekat dengan pasukan C, maka pasukan A dan B akan menggempur dari kedua sisi. Mendengar strategi ini, semuanya sepakat, dan mereka akan berangkat sekarang.

Pasukan magic di bawah pimpinan Yogin dan Phaustine telah mengambil posisi di puncak-puncak pegunungan. Pasukan A dan B juga telah bersiap di kedua sisi area terbuka. Area terbuka yang dimaksud memang sangat luas dan dilapisi hamparan salju. Yang paling tegang adalah pasukan C. Marino dan Daisy ikut di pasukan ini. Adin bertanggung jawab atas pasukan A dan Cremplin di pasukan B.

Agak lebih cepat dari yang di duga. Saat pagi terakhir sebelum perkiraan serangan iblis, ternyata ada isyarat dari pasukan magic bahwa para iblis telah tiba. Dari kejauhan, memang tampak seperti ada sekawanan besar semut hitam, yang merupakan pasukan iblis. Mereka memang luar biasa banyak. Tampak bahwa pasukan iblis sedang bergerak di bawah bombardir pasukan magic. Sambaran-sambaran kilat dari puncak-puncak gunung tinggi menyambar-nyambar ke bawah menimbulkan ledakan-ledakan dasyat. Amber juga terbang mondar-mandir dan menyemburkan hujan api dasyat.

Kelihatannya memang mereka berkurang, tapi sangat sedikit. Pasukan iblis yang ini sangat tangguh. Marino menjadi semakin tegang. Menghadapi bombardir magic saja mereka hanya sedikit bergeming saja. Apalagi menghadapi pasukan manusia yang cuma dua kali lipat mereka? Mereka semakin dekat dan jika sampai mereka tiba, Marino dan pasukannya akan dibantai. Untuk menghabisi seekor iblis biasa saja, butuh sekitar lima prajurit. Dan kalau dihitung dari jumlah sekarang, tiap iblis akan dihadapi oleh hanya dua atau tiga orang saja. Apalagi kini iblis yang mereka hadapi adalah pasukan Lethifold, yang Marino tahu lebih kuat.

Tiba-tiba seekor naga raksasa lewat. Naga itu masih awet di ingatan Marino. Naga itulah yang dulu menghancurkan Gallowmere. Tapi naga itu bukan mau menghancurkan Marino lagi, tapi membantunya. Naga itu melintas sekali di atas pasukan iblis dan menjatuhkan sederet bola api raksasa dasyat, yang kemudian menimbulkan ledakan-ledakan dasyat. Pasukan iblis jauh berkurang sekarang. Serangan naga itu mungkin telah menghabisi beberapa ribu ekor, dan naga tersebut berbalik dan menjatuhkan sederet bola api lagi.

Kini pasukan iblis itu sudah terlalu dekat, dan si naga tahu itu maka ia tidak menyerang lagi, melainkan mendarat di belakang pasukan iblis untuk membakar dua atau tiga iblis sekaligus. Langsung saja pasukan A dan B menyerbu. Pasukan C juga melaju kencang dan membabat tiap iblis yang ditemui. Bantuan lain datang. Seberkas cahaya ungu terang berbentuk elang melesat dari arah pegunungan. Marino sadar bahwa itu adalah hasil sihir Phaustine.

Elang cahaya itu melesat cepat, dan terbang menembus ilis-iblis dengan amat gesit. Tiap menembus iblis, iblis itu terbelah dua. Tapi lama kelamaan elang itu meredup dan akhirnya hilang. Amber juga terbang zig-zag di area pertempuran dan membakar iblis satu persatu dalam waktu yang relatif singkat.

Akhirnya Marino melihatnya. Lethifold sedang dikerumuni oleh delapan atau sembilan prajurit. Setelah menjatuhkan seekor iblis dengan ratusan luka, Marino melesat menuju Lethifold. Di sekelilingnya banyak mayat prajurit. Bahkan, saat Marino mendekat, lima dari delapan prajurit yang mengepungnya hancur kena cakar raksasanya. Marino kini bersama tiga prajurit lainnya berusaha menghadapinya.

Marino melompat tinggi dan melakukan jurus salto yang pernah ia pakai dulu, tapi Lethifold berhasil menangkisnya. Di tengah udara begitu, Lethifold menghantamkan cakarnya yang amat berbahaya, lurus ke arah Marino. Karena tidak bisa berkelit di tengah udara, Marino menangkisnya. Akibatnya ia terlempar sekitar lima meter ke belakang.

Segera saja ia bangun kembali dan menyerang Lethifold lagi. Dengan adanya Marino, Lethifold cukup kerepotan. Ia harus menangkis serangan-serangan Marino yang sangat lincah dan itu sangat merepotkan jika ditambah dengan tiga prajurit lain. “Lethifold! Kau tidak akan bertahan jika memaksa melawanku!” teriak Marino setelah berhasil menyayat sedikit tubuh Lethifold.

“Kaulah yang akan mati! Yang Mulia Lucifer telah memberikan banyak ilmunya padaku, dan kau tidak akan bisa menandingi itu,” balas Lethifold dengan suara serak dan amat berat. Pertarungan dilanjutkan lagi dengan amat dasyat.

Tiba-tiba Lethifold mengerang. Tubuhnya terhuyung, dan menunjukkan punggungnya. Ada sebuah luka besar yang menganga di sana. “Dasar iblis kelas tengik!” ternyata Adin baru saja bergabung dalam pertempuran ini.

“Aku ini adalah seorang jendral pasukan khusus Lucifer! Aku tidak akan kalah hanya oleh luka macam begini saja!” teriak Lethifold dengan sebuah erangan yang mengerikan, lalu menerjang ke arah Adin, yang menangkis serangan cakar Lethifold itu dengan kapaknya yang besar.

“Kau itu cuma pelayan! Dan kau berani mengaku sebagai jendral Lucifer?” tanya Marino. “Aku adalah salah satu panglimanya!” bantah Lethifold.

“Kau pelayan. Aku mendengar itu setelah kau dipanggil oleh Rafdarov,” kata Adin sambil menyengir dan menatap tajam.

“Bohong! Lucifer bilang sendiri bahwa aku adalah seorang jendral! Dan waktu aku dipanggil untuk membantu Rafdarov, Lucifer tidak bilang apa-apa padanya!” geram Lethifold.

“Kami tidak bohong. Lucifer mengatakan ‘Inilah Lethifold, dia adalah pelayanku. Yang paling lemah, sebetulnya, tapi dia sepuluh kali lebih kuat dari pasukanku yang biasa’. Dia bilang begitu. Apakah kau terlalu tolol untuk mendengar bahasa seperti itu?” tanya Marino.

“Aku tidak bisa mendengar bahasa raja iblis jika aku sudah turun ke bumi. Tapi aku tahu kalian cuma mempermainkanku!” kemudian Lethifold menyerang salah satu prajurit yang mengepungnya, namun prajurit itu berhasil menghindar.

“Terserah kau saja. Kau memang terlalu bodoh untuk menerima kenyataan,” celetuk Marino, lalu ia berhasil melukai lengan Lethifold.

“Akan kubuktikan,” kata Lethifold, lalu matanya bersinar biru.

Tiba-tiba Marino tidak bisa berpikir. Ia lupa ia siapa, di mana, dan sedang apa. Yang ia rasakan cuma satu. Hampa. Ia bingung. Tidak tahu membingungkan apa, dan tidak tahu harus apa. Ia dalam keadaan begitu selama sekitar sepuluh detik, lalu akhirnya tersadar lagi.

“Kau tidak bohong. Aku dikhianati! Kau, hancurkan aku! Sekarang!” Tanpa perlu disuruh dua kali, Marino, Adin, dan ketiga prajurit lainnya menerjang Lethifold dan menyerangnya secara bersamaan. Begitu tubuh Lethifold jatuh ke tanah dalam keadaan hancur tersayat-sayat, tubuh itu menyala, dan meledak. Seketika itu, Marino memperhatikan sekitar. Ia menyadari sebuah perubahan. Semua pasukan iblis melambat.

Setelah gerakan mereka melambat, pasukan iblis dengan mudah dibantai habis. Habis tidak bersisa. Marino menang, tapi kerugiannya cukup banyak. Pihaknya kehilangan 55000 prajurit setia. Marino berusaha mencari tahu siapa yang telah memanggil naga raksasa itu, namun tidak berhasil menemukannya.

Pasukan telah memulai perjalanan pulang. Meski para pasukan sudah memulai perjalanan menuju pulang, tapi Marino dan Daisy tinggal di belakang, memastikan tidak ada jenasah pasukan Marino yang tertinggal. Saat itu, sesuatu membuat Marino ingin memandang ke arah di mana pasukan iblis tadi datang. Ternyata….

Puluhan ribu prajurit kavileri tak dikenal sedang menderu ke arahnya. Masih sekitar ratusan meter, hanya tampak samar dari kejauhan. Pasukan Marino segera mendekat kembali dan siap tempur, membuat formasi pagar tombak bertahan. Tapi Marino melihat sesuatu yang membuatnya tahu bahwa ia pasti akan mati. Kuda musuh yang paling depan ditunggangi oleh Rafdarov yang telah menghunus pedang raksasanya.

Aku pasti mati, pikir Marino. Tapi ia tidak ingin mati melarikan diri. Ia bersiap untuk bertarung. Ia mengangkat senjata kembarnya, serta menatap tajam ke arah Rafdarov.

Akhirnya bantuan datang lagi. Langit menjadi gelap, sesuatu yang kelihatan seperti kubah cahaya raksasa muncul dan mengurung Rafdarov V dan sebagian pasukannya. Tiba-tiba kubah itu menghilang beserta isinya. Sebuah raungan yang tidak asing bagi Marino menggema di udara. Raungan Lethifold.

“Hanya ini yang bisa aku lakukan. Mereka akan muncul lagi di sini dalam waktu 666 hari lagi. Selamat tinggal, dan semoga kau berhasil membantai Lucifer,” begitu suara itu berhenti, langit cerah lagi. Seketika itu, pasukan Marino menyerbu lurus ke arah pasukan Devilmare yang panik karena rajanya hilang. Tanpa ampun, hampir semua prajurit Devilmare dibantai, dan sisanya ditawan. Tidak sampai dua ratus prajurit dari pihak Marino yang tewas.

Ramalan telah terpenuhi. Marino adalah yang memberikan debu Crin ke jenasah Gabriela. Ia baru saja nyaris mati, namun ditolong oleh musuhnya sendiri. Lethifold.

Tapi, lupakan saja ramalan tersebut. Ramalan itu tidak penting sama sekali. Ada ramalan yang jauh lebih penting lagi. Ramalan itu terkandung dalam Sumpah Abadi Rido Matius.

“………masa lalu, masa kini, dan masa depan………”

“…………bersama…………..”

[End of Chapter XV]

[Coming up next, Chapter XVI: Fall of Devilmare]

One Trackback

  1. […] – Chapter XV: Lethifold […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*