Ketika Pendapat Berdasarkan Agama ditolak karena “itu kan berbasis keyakinan, bukan kenyataan”

Pernahkah anda mendasari pendapat dengan ajaran agama, lalu dikritik “itu keyakinan, bukan kenyataan” lalu tidak bisa menjawab? Atau jangan-jangan anda yang pernah mengkritik orang lain dengan seperti itu? Maka artikel ini cocok untuk anda.

Kritik seperti itu adalah berdasarkan dua premis:

  1. “Apabila ia ‘cuma’ keyakinan, maka bukanlah kenyataan”
  2. “Sesuatu bisa diterima adalah hanya apabila ia berdasarkan kenyataan saja”

Premis-premis tersebut bermasalah karena banyak hal. Salah satunya, adalah karena membenturkan antara ‘keyakinan’ dan ‘kenyataan’, padahal keduanya bukan berhubungan seperti itu.

Di satu sisi, singkatnya, ‘kenyataan’ maksudnya sesuatu yang wujud, ada, dan nyata. Lawan katanya ‘tidak wujud’, ‘tidak ada’, dan ‘nyata’. ‘Kenyataan’ ini berbicara tentang objek yang dibicarakan.

Di sisi lain, singkatnya juga, ‘keyakinan’ adalah penerimaan seseorang atas sebuah informasi sebagai ‘benar’. Maka, ‘keyakinan’ adalah berbicara tentang subyek.

Maka, jika anda ditanya apakah Jerman berada di Eropa? Jika menjawab YA, maka anda menjawab dengan keyakinan anda bahwa Jerman berada di Eropa. Lah kan kenyataannya begitu? Ya betul begitu, tapi anda mengatakan hal tersebut karena anda meyakini hal tersebut merupakan kenyataan, ya kan?

Demikian pula apabila anda ditanya apa Bahasa Rusia-nya “saya suka makan kambing guling” (jawab spontan tanpa nyari!) anda akan mengatakan tidak tahu, karena tidak ada jawaban yang anda yakini kebenarannya. Atau, jika saya bilang “Indonesia ibukotanya Beijing” maka anda bilang itu benar karena Indonesia dikuasai aseeeeng tidak benar karena anda meyakini bahwa ibukota Indonesia adalah Jakarta, dan Beijing ibukotanya RRC.

Poin saya adalah: sekedar karena sesuatu itu bersifat ‘keyakinan’ itu tidaklah serta merta berarti ia ‘bukan kenyataan’. Suatu keyakinan bisa selaras dan bisa juga tidak selaras dengan kenyataan.

Maka apabila Farid berargumen berdasarkan agama lalu Alit mengkritiknya dengan argumen “itu keyakinan, bukan kenyataan”, maka ada dua kemungkinan:

  • Pertama, sebenarnya dalam hati si Alit berpendapat bahwa keyakinan Farid tidak sesuai dengan kenyataan. Artinya, pendapat Alit ya juga keyakinan kan nah lho katanya nggak boleh pake keyakinan? JENG
  • Kedua, dalam hati si Alit berpendapat bahwa semua keyakinan berbasis agama tidak ada satupun yang sesuai kenyataan. Eh balik lagi ke keyakinan Alit JENG JENG
  • Ketiga, sebenarnya dalam hati si Alit berpendapat bahwa agama kebenarannya tergantung keyakinan masing-masing. Eh lah lho balik lagi ke keyakinan Alit JREEENG

Jadi, kalau mau berdebat langsung to the point saja.

================

Beberapa catatan:

  1. Hal ini adalah pembahasan epistemology (salah satu cabang ilmu filsafat) yang tentunya sebenarnya jauh lebih panjang dan rumit karena orang filsafat itu hatinya ingin membuat rumit semua hal di muka bumi ini. Saya mencoba menyederhanakannya sedapat mungkin.
  2. Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada objective truth atau bahwa tidak bisa dicari. Juga, saya belum membuktikan otomatis berarti agama itu pasti benar (apalagi, bahas mana agama yang benar). Itu bahasan lain ya, mungkin kapan-kapan inshaAllah. Poin saya di sini cuma menjelaskan bahwa ‘keyakinan’ tidaklah serta merta tidak sesuai kenyataan.
  3. Orang yang bilang ‘kebenaran agama tergantung keyakinan masing-masing’ biasanya beralasan bahwa ‘semua agama mengklaim agamanya benar’ lalu menolak saja semuanya (mengatakan ‘terserah lu masing-masing percaya apa’ sama saja dengan mengatakan ‘terserah elu mau mengkhayal apa. Mungkin mereka tidak sadar bahwa logika di fikiran tersebut adalah “jika ada lebih dari satu klaim atas kenyataan, maka semuanya salah”. Tidak masuk akal kan? Ya begitulah, kadang orang bisa cerdas tapi tidak selalu menyadari implikasi ucapan mereka, atau memang mereka tidak secerdas itu.

.

.

Tidak setuju? Bring it on.