Potensi Peran Computational Linguistics berupa “Author Discrimination” dalam Pengembangan Kajian Ilmu Hadits

image credit: https://thecustomizewindows.com/

Potensi Peran Computational Linguistics berupa “Author Discrimination” dalam Pengembangan Kajian Ilmu Hadits

Oleh: Fajri M. Muhammadin

.

Pada tahun 2012, sebuah artikel jurnal berjudul “Author discrimination between the Holy Quran and Prophet’s statements” yang ditulis oleh Prof Halim Sayoud diterbitkan di Jurnal Literary and Linguistic Computing Vol. 27(4) tahun 2012. Artikel luar biasa ini melakukan kajian stylometik terhadap gaya Bahasa dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits sahih, lalu membandingkan di antara keduanya (author discrimination).

Hasilnya adalah bahwa gaya Bahasa dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits sahih ternyata sangat jauh berbeda, sehingga membuktikan bahwa keduanya tidak diucapkan oleh penutur yang sama. Hal ini menjadi tambahan bukti saintifik bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak mengarang Al-Qur’an, di samping banyak bukti lain yang telah dimiliki oleh umat Islam.

Tapi, yang namanya penelitian itu seperti estafet. Seorang peneliti hanyalah membawa lari sebuah baton sekadar sejauh yang ia mampu, dan di ujungnya ia akan mengoper pada seorang peneliti lainnya untuk melanjutkan lari tersebut. Demikianlah hakikat penelitian dari generasi ke generasi lainnya.

Enam tahun kemudian yaitu tahun 2018, saya mencoba mengirimkan email kepada Prof Halim Sayoud yang merupakan pakar Elektronika dan Informatika dari  University Of Science And Technology Houari Boumediene, Aljazair. Saya bertanya pada beliau (modus saya ‘nanya’, maksud hati ‘gimana kalo anda meneliti lagi nanti saya baca lagi’ hehe), apakah mungkin melakukan kajian serupa untuk membandingkan antara Al-Qur’an dan Hadits Qudsi yang sahih? Karena Hadits Qudsi berisi kalam yang secara periwayatan dinisbatkan kepada Allah.

Alhamdulillah, selang dua hari beliau membalas email saya. Kata beliau penelitian tersebut nampaknya mustahil, sebab kajian stylometri memerlukan sampel data yang sangat besar (katanya memerlukan ribuan kata). Padahal, Hadits Qudsi (apalagi yang sahih) sangat sedikit sekali. Agak kecewa, tapi ya mau bagaimana. Setidaknya saya senang sekali beliau sudah sudi menjawab email saya.

Empat tahun kemudian, tahun 2022, tepatnya tanggal 14 Mei. Di tengah jeritan anak yang ngantuk tapi belum berhasil tidur karena sedang berusaha disapih, datanglah sebuah ilham yang tidak ada hubungannya dengan banyak penelitian dan amanah lain yang seharusnya saya pikirkan.

Bagaimana kalau dilakukan kajian perbandingan stylometri antara hadits-hadits shahih dan dan palsu? Sebab, jika ada orang yang memalsukan hadits, pastilah gaya berbahasanya akan berbeda dengan Nabi Muhammad ﷺ. Makanya di antara ciri hadits palsu menurut para ‘ulama adalah matannya berbahasa Arab yang tidak sempurna.

Masalah yang membentur peluang kajian dengan hadits qudsi dulu, insha’Allah kali ini tidak ada. Qadarullah, hadits-hadits palsu sangat melimpah jumlahnya. Bahkan ada kitab hadits yang khusus menghimpun hadits palsu, misalnya Kitab Al-Mawdu’at al-Kubra karya Imam Ibn al-Jawzi. Jadi, sampelnya banyak sekali.

Kalau kajiannya sukses, akan terlihat jelas dengan indikator-indikator yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah bahwa ada perbedaan gaya Bahasa antara hadits yang sahih dan palsu. Jika demikian, akan ada beberapa peluang prospek penerapan lebih lanjut lagi untuk penelitian ini, di antaranya:

  1. Ilmu ini bisa memperluas kajian kritik matan hadits atas hadits-hadits dha’if ringan dan berat (selain palsu).
  2. Bisa juga dilakukan kajian perbandingan hadits-hadits sahih dari ahlus sunnah dengn hadits hadits dari syi’ah
  3. Dan lain-lain

Sebagai catatan, pun kajiannya membawa hasil yang positif, tentunya bukan berarti metode ini bisa menjadi instrument tunggal dalam menetapkan status hadits. Semua kajian semodel ini pastilah punya confidence level yang tidak mencapai 100%, sedangkan pilihan-pilihan metodologis mungkin bisa memperkecil tapi tidak menghilangkan peluang kesalahan.

Bagaimanapun juga, metode yang sudah terpercaya dan digunakan oleh para ‘ulama hadits sepanjang zaman pun sulit untuk mencapai level yaqin yang 100% kecuali untuk teks Al-Qur’an dan beberapa hadits yang shahihnya mutawatir (yang jumlahnya sangat sedikit). Yang dapat dilakukan adalah terus mencoba mengurangi peluang kesalahan dengan mengkaji berbagai sudut dan senantiasa memperbaiki metodologi. Barangkali, ilmu computational linguistics bisa menjadi tambahan dalam upaya tersebut.

Walaupun demikian, sependek yang saya terfikir, mungkin akan ada beberapa peluang masalah:

Pertama, ‘ulama seringkali berbeda pendapat dalam menghukumi hadits. Dari sisi hadits shahih, dalam kajian sebelumnya Prof Halim Sayoud menggunakan sampel dari Kitab Shahih al-Jami’ atau lebih dikenal dengan Sahih Al-Bukhari yang cuma sedikit kontroversi atas kualitasnya. Masalahnya nanti adalah dari sisi hadits palsunya, sebab ada juga riwayat yang ulama berbeda menghukumi apakah ia dha’if berat atau palsu (termasuk terhadap isi Kitab Al-Mawdu’at al-Kubra). Konsekuensi hukumnya akan berbeda nantinya. Maka, untuk kajian ini akan memerlukan penetapan metode yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, sebagian hadits dihukumi palsu belum tentu karena si perawi mengarang matannya. Bisa jadi ia kebetulan sedang meriwayatkan hadits yang sahih tapi terlanjur dikenal sebagai pendusta jadi dianggap palsu juga, atau yang dipalsukan adalah sanadnya saja. Barangkali hal-hal seperti inilah yang diatasi dengan penggunaan sampel yang sangat besar.

Ketiga, tidak adanya penutur tunggal hadits-hadits palsu. Perawi pendusta itu banyak sekali. Kalau kajian Prof Halim Sayoud dulu, yang dibandingkan adalah dua kumpulan sampel yang masing-masingnya berasal dari satu penutur saja. Kalau kajian yang saya usulkan ini, dari sisi hadits shahih jelas penuturnya hanya satu. Sedangkan hadits-hadits palsu, penuturnya banyak sekali. Maka memaksakan kajian ini jangan-jangan akan keliru, sebab akan mengasumsikan satu gaya Bahasa atas beranekaragam penutur yang berbeda. Apakah ada pemilihan metode yang mungkin dapat mengatasi masalah ini?

Sebelum menulis ini, saya baru saja mengirimkan email ke Prof Halim Sayoud untuk ‘bertanya’ (modus) apa pendapat beliau tentang ide ini. Akan saya update tulisan ini ketika (kalau) beliau sudah membalas email saya.

Sayang sekali ini bidang ini bukan kepakaran saya, jadi saya tidak mampu melakukan kajian ini sendiri. Insha’Allah saya sedang melakukan kajian-kajian lain terkait Islam yang beririsan dengan bidang saya, tapi untuk ide penelitian yang saya tulis ini saya tidak bisa. Mudah-mudahan Prof Halim berhasil ter-moduskan dengan baik, tapi kalaupun tidak mudah-mudahan setidaknya beliau bisa memberikan masukan terkait ide tersebut.

Saya berdoa mudah-mudahan pakar ilmu computational linguistics Muslim Indonesia bisa bekerjasama dengan pakar-pakar ilmu hadits menyambut ide penelitian ini dan dieksekusi dengan baik.

.

.

===

PS: ide penelitian lain dengan metode serupa: membandingkan kalam sahabat Nabi dengan matan hadits yang ia riwayatkan. Untuk penelitian semacam ini, akan dibutuhkan sahabat yang memenuhi kriteria berikut: (a) banyak hadits sahih yang diriwayatkan melaluinya, dan (b) banyak pula kalam sahabat tersebut yang sahih. Sudah kita ketahui siapa saja sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, bisa dipilih siapa dari mereka yang kalam pribadinya banyak yang sahih terdokumentasi untuk kita akses.

Kajian ini mungkin akan bermanfaat untuk melihat sejauh mana para sahabat akurat dalam meriwayatkan hadits secar kata per kata, atau apakah mereka secara sengaja ataupun tidak memparafrase kalam Nabi dengan gaya Bahasa mereka sendiri. Kita ketahui bahwa nampaknya keakuratan mereka cukup tinggi, karena ada banyak hadits yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat sekaligus dan kata perkatanya sama persis. Tapi ada juga kasus beberapa hadits yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat yang kandungan matannya nyaris sama persis, tapi ada sedikit perbedaan redaksi. Mungkin penelitin berbasis author discrimination bisa memperkaya kajian-kajian ini.      

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *