Pengantar
Ada mahasiswa yang menanyakan apa kiranya yang harus dipertimbangkan dalam persiapan studi doctoral. Saya fikir daripada menjawab secara personal, lebih baik saya tulis di blog ini saja. Insha Allah ini akan jadi postingan hidup, kalau ada pertanyaan tambahan nanti inshaAllah akan saya tambahkan. Jadi monggo kalau ada catatan atau komen silahkan.
DAFTAR ISSUE
Persiapan No. 1: Tahu Studi Doktoral Itu Seperti apa
Persiapan No. 2: Motivasi Kuliah Doktoral?
Persiapan No. 3: Persiapan Area Riset
Persiapan No. 4: Mencari Tempat Studi
Persiapan No. 5: Membangun Portfolio
Persiapan No. 6: Persiapan Mindset Belajar
.
.
PENJELASAN
Persiapan No. 1: Tahu Studi Doktoral Itu Seperti apa
Sebagian orang mengira bahwa studi doctoral sama seperti kuliah S1-S2, kuliah sekian mata kuliah kemudian lulus. Padahal tidak seperti itu. Karena itu, paling pertama yang perlu diketahui adalah kuliah Doktoral itu seperti apa.
Sederhananya, studi doctoral berpusat pada riset, dan kompetensi yang didapatkan adalah bahwa kamu sudah bisa melakukan riset tingkat tinggi dan inovasi. Bisa dikatakan bahwa kuliah S1 memberikan basic pada ilmu tertentu, kuliah S2 mempertajam pada sub-area yang lebih spesifik, dan S3 menuntut anda untuk menembus batas ilmu yang ada dan berinovasi pada sesuatu yang baru.
Karena itu, beda dengan S1 yang berpusat pada belajar di kelas dan skripsi Cuma sebentar sebagai klimaks, studi doctoral justru berpusat pada riset menyusun sebuah disertasi. Waktu tempuhnya biasanya 3-5 tahun yang mayoriitasnya adalah menyusun disertasi tersebut.
Sebagian program doctoral akan dimulai dengan perkuliahan kelas dulu, ada yang hanya mensyaratkan satu mata kuliah yaitu “metode penelitian,” ada pula yang harus mengambil beraneka mata kuliah lainnya sepanjang satu atau dua semester. Karena itu, jika anda ingin mendaftar program doctoral di kampus tertentu, harus dicek kurikulum setiap kampusnya. Antar negara, antar kampus, sangat mungkin berbeda jauh.
Persiapan No. 2: Motivasi Kuliah Doktoral?
Saya bukan orang yang akan mendorong semua orang untuk kuliah setinggi-tingginya, kalau kamu anak S1 saya akan bilang ayo S2, kalau anak S2 saya akan bilang ayo S3, nggak seperti itu. Menuntut ilmu setinggi-tingginya itu wajib, tapi jangan jatuh pada kesalahan bahwa menuntut ilmu sama dengan menempuh pendidikan formal. Banyak cara menuntut ilmu, dan Pendidikan formal hanya salah satu jalurnya. Apapun kuliah kalian, tidak mungkin juga kalian hanya mengandalkan ilmu yang kalian dapat di ruang kelas. Nasehat umum saya: menuntut ilmu itu harus dominannya di luar Pendidikan formal.
Karena itu, kenapa orang harus kuliah S3? Pertimbangkan dulu motivasi kamu, jangan sampai salah motivasi. Di antara beberapa motivasi yang menurut saya baik untuk lanjut S3:
Pertama, untuk mempertajam kemampuan melakukan riset dan inovasi. Sebagian dari kita memiliki misi untuk mengembangkan ilmu-ilmu tertentu. Nasehat bapak saya (beliau doktor bidang Engineering di Salford University tahun 1994): Jangan anggap lulus doktor adalah akhir, justru dia adalah awal karirmu sebagai peneliti!
Kedua, sebagai syarat mendapatkan atau naik pangkat di pekerjaan. Menjadi akademisi, peneliti (think tank, lembaga negara, ataupun industri), seringkali memerlukan studi doctoral either untuk naik pangkat atau bahkan sekadar mendapatkan pekerjaan tersebut.
Ketiga, untuk meningkatkan kredibilitas, untuk “pamer.” Gelar doktor adalah sebuah bentuk rekognisi yang keren sebagai sarana untuk “jual diri.” Informasi yang saya dapatkan, ini lumayan penting di berbagai industry (misalnya konsultan, sebagian law firm, dll). Terkadang, seorang pakar baru didengar orang kalau sudah sudah bergelar doktor. Padahal, konsekuensi paragraph awal di atas adalah bahwa pemegang gelar doktor itu belum tentu punya ilmu lebih banyak daripada yang tidak bergelar doktor.
PS: banyak orang yang meremehkan motivasi ketiga di atas, tapi menurut saya itu sangat valid.
Kalau ada masukan lain, inshaAllah akan saya tambahkan lagi. Intinya, jangan sampai kita S3 karena motivasi yang salah. Misalnya, merasa ingin mulai mempelajari sebuah bidang baru. Kalau seperti itu, bisa (a) S2 lagi, atau (b) otodidak saja, atau (c) ikut kursus-kursus, dan lain sebagainya. Jangan sampai kita salah memilih sarana yang tidak sesuai dengan apa yang kita butuhkan.
Persiapan No. 3: Persiapan Area Riset
Jangan sampai kita buta tentang apa yang mau kita kembangkan pada riset doctoral nanti. Memang, ketika kita sudah mulai studi doctoral, bisa jadi akan berdiskusi lebih dalam dengan calon pembimbing atau malah ada mata kuliah yang diambil di semester awal (jangan lupa baca Persiapan No. 1 di atas ya). Tapi, kita tidak boleh sama sekali buta, justru harus punya gambaran.
Gambaran apa itu? Kita harus bisa memikirkan hal yang spesifik dari sebuah sub-bidang tertentu yang masih kurang terjamah atau belum dikembangkan. Dan kita hanya bisa mengetahui apa yang belum dikembangkan dengan cara mencari tahu apa yang sudah dikembangkan. Maka, harus banyak-banyak membaca literatur terkini (terutama jurnal ilmiah terbaru terkait tema yang ingin dikaji) dan berdiskusi dengan pakar-pakarnya, lama-lama inshaAllah akan kelihatan perspektif-perspektif atau hal-hal apa saja yang masih sangat kurang kajian.
Tapi, bagaimana cara memulainya? Kalau menurut saya, cara memulainya adalah dengan “mencari masalah.” Alhamdulillah (atau astaghfirullah?), dunia ini tidak kekurangan masalah di berbagai bidang. Saya sudah bilang kalau studi doctoral berpusat pada riset/penelitian, dan semua riset selalu berpusat pada sebuah masalah. Inti riset adalah mencari jawaban atas masalah tersebut. Dari sanalah, mulai cari bagaimana peneliti-peneliti dan ahli-ahli ilmu sebelumnya mencoba mendekati permasalahan tersebut. Nah, mulailah membaca dan berdiskusi untuk mengeksplorasi hal ini!
Selain itu, perlu dipahami (dan, sebagai orang hukum, saya melihat banyak mahasiswa tidak mengerti hal ini) bahwa sepertinya nyaris tidak ada permasalahan di dunia ini yang dapat selesai hanya dengan satu bidang ilmu saja. Jadi, semakin “advanced” riset kita, akan perlu irisan dari banyak disiplin ilmu. Sedangkan tidak semua disiplin ilmu tersebut kita pelajari di mata kuliah yang pernah kita ambil, kalaupun sudah pernah belum tentu dipelajari dengan kedalaman yang kita butuhkan.
Karena itu, setelah mengidentifikasi kiranya perlu ilmu apa saja untuk mendekati masalah yang kita pilih, mulailah membaca dan mempelajarinya secara mandiri dan/atau dengan cara-cara lainnya.
Pada akhirnya, sebagai output dari langkah persiapan ini, adalah sebuah Research Concept Note berisi ide riset yang spesifik (satu rumusan masalah yang utama) yang disertai dengan sebuah narasi ringkas tentang kontribusi ilmiah serta novelty-nya.
Kenapa bukan proposal riset? Itu step selanjutnya. Hanya saja, beda universitas akan punya beda format yang diinginkan dan bisa berbeda jauh sekali antar satu dengan yang lainnya. In any case, proposal riset akan relative mudah dibuat kalau sudah memiliki Research Concept Note di atas, Insha Allah.
Persiapan No. 4: Mencari Tempat Studi
Ada berbagai pertimbangan terkait tempat studi, antara lain soal biaya dan keluarga dan lain sebagainya. Saya tidak akan membahas itu dengan spesifik, tapi yang jelas tentulah itu harus dipertimbangkan.
Yang ingin saya pertimbangkan adalah perspektif yang lebih substantif terkait pemilihan tempat studi.
Bagi saya, yang paling pertama dan penting adalah pembimbing. Orang yang paling berperan dalam riset disertasi doctoral nantinya adalah pembimbing (supervisor, promotor, apapun bahasanya). Maka, kita harus mencari pakar yang tepat untuk membimbing kita, dan di mana ia bekerja. Ada dua cara di sini: (a) kita cari area riset yang kita inginkan sesuai poin Persiapan No. 3 di atas lalu kita mencari expert yang juga melakukan kajian yang sebidang dengan itu, dan (b) kita mencari expert yang kita suka kajiannya, lalu mencoba mencari area riset yang sejalan dengan beliau.
Ingat, kita harus berusaha mencari se-spesifik mungkin. Misalnya, kalau mau riset tentang wakaf tunai, jangan Cuma mencari “pakar hukum Islam.” Sedapat mungkin, carilah yang mengkaji wakaf tunai juga. Kalau tidak ketemu, cari yang mengkaji wakaf. Jadi kita perlu se-spesifik mungkin. Nama-nama ini bisa didapatkan dengan cara (i) melihat literatur yang penting di area riset kita, siapa nama yang sering kita temukan karyanya, (ii) meminta rekomendasi orang lain, atau (iii) coba kita lihat web universitas yang kita ingin tuju lalu kepo satu persatu dosennya.
Apa yang perlu kita investigasi lebih lanjut dari calon pembimbing? Berikut: (1) di mana dia jadi dosen, karena ke sanalah kita harus memprioritaskan mendaftar, (2) lihat Riwayat publikasi ilmiahnya di jurnal, apa betul dia mengkaji area yang kita kira dia kaji, dan (3) lihat apakah dia bisa menjadi pembimbing doctoral. Tidak ada salahnya, bahkan di sebagian kampus dianjurkan, untuk kita menghubungi langsung yang bersangkutan melalui email untuk menanyakan kesediaannya dan meminta nasehat terkait rencana penelitian. Ini sering dilakukan, saya pun melakukannya ke beberapa orang ketika mendaftar S3 dulu.
Sebagai catatan, untuk memulai menghubungi calon pembimbing, disarankan untuk sudah punya Research Concept Note (lihat Persiapan No. 3 di atas) untuk ditunjukkan kepada beliau. Di tahap ini biasanya itu lebih baik daripada full proposal, supaya ringkas dan lebih mudah dibaca oleh orang yang sibuk.
Selain itu, kita bisa melihat pusat-pusat studi yang tersedia di kampus tujuan. Studi doctoral intinya adalah riset, maka akan sangat baik kalau kita bisa menemukan sebuah pusat studi yang mengkaji wilayah riset yang kita inginkan. Akan sangat positif kalau kita bisa berada di lingkungan kelompok peneliti yang meneliti area yang kita inginkan secara fokus terukur, karena itu akan menjadi support system akademik yang sangat baik.
Bagaimanakah prestige dan peringkat universitas berdampak pada pilihan kita? To a large extent, bagi saya jawabannya tergantung kepentingan kita. Please jangan bilang “pilih yang pembimbing bagus, pusat studi bagus, dan peringkat tinggi juga kakak” karena nanya kodok juga dia tau chuy, tentu itu paling ideal. Tentu kita cari keseimbangan yang baik antara semuanya. Ini pertanyaannya tentu maksudnya kalau harus memilih antara dua pilihan ya.
Secara umum, terutama untuk kepentingan riset sebagai poros studi doctoral, adanya pembimbing yang cocok dan/atau pusat studi yang kuat di bidang kita jelas lebih penting daripada peringkat. Akan tetapi, terkadang issue lain perlu jadi factor. Misalnya ketika memang penjual prestige universitas adalah sesuatu yang integral dalam kepentingan studi kita.
Persiapan No. 5: Membangun Portfolio
Ketika mendaftar studi doctoral (atau studi jenjang manapun sih) kita harus memenuhi standar kelayakan untuk bisa diterima. Sederhananya, kita harus membuktikan bahwa kita memiliki bekal yang cukup untuk bisa menuntaskan studi doctoral dan mengalahkan pesaing lainnya. Tentu nilai IPK adalah salah satunya, jika anda sudah lulus S2 mungkin sudah terlambat untuk mengupayakan IPK bagus (kecuali kalau anda mau kuliah S2 lagi). Kalau anda masih sedang studi S2, semangat ya.
Tapi, IPK itu biasanya cuma titik awal untuk mulai dipertimbangkan dan bukan kunci pertimbangan. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membangun portfolio yang baik:
Pertama, riset! Bisa dengan mencoba menulis artikel jurnal, jika anda masih mahasiswa salah satu caranya bisa ajak join dosen (baca di sini tipsnya) atau sendiri atau dengan kawan-kawan boleh juga. Atau menulis buku. Intinya, upayakan untuk memiliki hasil riset yang terpublikasi.
Kedua, meningkatkan kemampuan bahasa menyesuaikan calon tempat studi. Jika universitas tujuan menggunakan medium Inggris, maka tingkatkanlah kemampuan academic English. Bukan hanya untuk memenuhi syarat IELTS/TOEFL untuk masuk, tapi juga agar bisa survive berkuliah di sana. Hal yang sama juga jika mau kuliah di kampus yang berbahasa Arab, Perancis, Jepang, dan lain-lain.
Ketiga, certificate course. Saya sudah tulis di atas bahwa kursus adalah salah satu cara mendapatkan ilmu yang kita butuhkan. Nah, selain untuk mendapatkan ilmu yang kita perlukan, ia juga bisa jadi tambahan poin jika melamar studi lanjut ke bidang ilmu yang relevan dengan kursus yang kita ambil.
Persiapan No. 6: Persiapan Mindset Belajar
Terutama bagi yang sudah lama tidak kuliah, misalnya yang sudah kerja selama sepuluh tahun lebih sejak Pendidikan formal terakhir, saya mendengar sebagian kasus “belum siap belajar.” Beda dengan dulu di mana SD hingga SMA lalu kuliah yang setiap harinya belajar di kelas sehingga relative terbiasa, kerja adalah dunia yang sama sekali berbeda. Karena itu, saya sering (tidak selalu) mendengar kasus orang yang sudah lama kerja agak gugup dan perlu waktu untuk menyesuaikan diri ketika kemudian mulai berkuliah lagi.
Untuk mencegah hal seperti ini terjadi, ada beberapa hal yang sangat disarankan.
Pertama, rajin membaca dan mulai riset. Persiapan No. 3 di atas akan cukup membantu. Sebagian item di persiapan No.5 juga akan membantu.
Kedua, rutinkan mendengarkan ceramah dengan seksama. Entah itu kuliah daring, khutbah shalat jumat, kajian agama, atau apapun itu, untuk melatih kembali attention span agar siap mendengarkan.
Ketiga, berlatih menurunkan ego dan berdoa minta kerendahan hati. Selalu ingatkan diri sendiri bahwa studi lanjut berarti kita kembali menjadi murid dan akan belajar. Kenapa ini penting sekali?
Banyak (tidak semua) orang yang mulai studi doctoral dalam kondisi sudah memiliki pengalaman mengajar, menulis, meneliti, dan sudah menjadi pakar di bidangnya. Di sini, pembimbing riset doktoral saya memberikan nasehat penting. Kata beliau, tidak sedikit mahasiswa S3 yang sulit berkembang dan sulit belajar karena sudah terbiasa mengajar orang dan menjadi figur otoritas ilmu di lingkungannya.
Di satu sisi, pengalaman itu bisa menjadi bekal yang baik untuk studi lanjut. Di sisi lain, dan beliau menyaksikan ini terjadi pada banyak orang, pengalaman kita juga berpotensi membuat kita sombong dan kurang nyaman “diajari” oleh orang lain. Akhirnya sulit belajar, sulit berkembang, bahkan berpotensi gagal studinya. Dan dia melihat potensi masalah itu di saya, yang saat mulai studi doktoral sudah beberapa tahun jadi dosen dengan beberapa publikasi jurnal dalam bidang yang saya jadikan riset doctoral juga.
“Kamu jangan sombong,” kata beliau, “ingat kamu di sini untuk belajar.” Ini bukan berarti kita harus menerima mentah apa yang disampaikan oleh dosen ya, justru studi doctoral adalah tempat yang bagus untuk dialektika yang “tinggi.” Bahkan, sepanjang studi doktoral, kami sering sekali saling kritik dan beliau tidak takut berubah pandangan. Maka dari sekian banyak ilmu yang Allah kasih ke saya dengan wasilah beliau, yang paling berharga adalah ketawadhu’an beliau terhadap ilmu bukan cuma dalam omongan tapi benar-benar beliau tunukkan.
Poin saya adalah bahwa kita harus menanamkan pada diri kita bahwa kita datang sebagai pelajar untuk belajar, bukan untuk sok-sokan. Jangan sampai ego kita menjadi penghalang datangnya ilmu pada kita.

