Kekeliruan Tentang Perujukan Terhadap Yurisprudensi: Apa Maksud “Kasus Yang Serupa”?

Semester lalu (genap 2019/2020) saya men survei ke mahasiswa saya di beberapa kelas, sebahagiannya junior dan sebahagian lainnya senior. Pertanyaannya simpel: jika seorang hakim sedang memeriksa perkara pidana pencurian, bolehkah ia merujuk yurisprudensi pada perkara pembunuhan? Semuanya menjawab “TIDAK”. Saya heran. Kok bisa keliru sebanyak ini sekaligus, apalagi untuk pertanyaan yang teramat mendasar?

[Terjemah] Hukum Perang dalam Islam dan Hukum Humaniter Internasional: ‘Pekerjaan Rumah’ bagi para Fuqaha

Beberapa waktu lalu, artikel saya berjudul “Islamic Laws of War and International Humanitarian Law: Big Homework for Islamic Jurists” dipublikasikan di Opinio Juris yang merupakan salah satu situs opini hukum internasional nomor 1 di dunia, alhamdulillah. Saya telah berjanji untuk menerjemahkannya ke bahasa Indonesia, dan sudah mendapat izin dari pihak Opinio Juris. Alhamdulillah, sudah selesai

HUKUM MENDOAKAN “TEMPAT TERBAIK DI SISI-NYA” ATAU “HUSNUL KHATIMAH” BAGI NON-MUSLIM YANG WAFAT

Ketika ada yang meninggal dunia, nampaknya sudah jadi kebiasaan untuk kita menyampaikan ucapan belasungkawa yang mencakupi doa kepada si mayyit, misalnya “semoga diberi tempat terbaik di sisi-Nya” atau “semoga husnul khotimah”. Tapi bagaimana kalau yang meninggal adalah non-Muslim? Bolehkah mengucapkan begitu? Berikut uraiannya. Sederhananya: tidak boleh Alasan-alasannya: firman Allah dalam Surah Al-Taubah (9) ayat 113: